You are on page 1of 20

Bambang Widiyahseno, Inovasi Bupati di Ruang Demokrasi: Upaya Membangun Kesadaran Inovasi Birokrasi

DAFTAR ISI

Inovasi Bupati di Ruang Demokrasi: Upaya Membangun Kesadaran Inovasi Birokrasi
Bambang Widiyahseno_________193

Pers Mengawal Demokrasi Daerah: Analisis Pemberitaan Implementasi
Dana Keistimewaan di Harian Tribun Jogja
Niti Bayu Indrakrista_________212

Disorientasi Politik dan Peran Intermediary Kelas Menengah To Pulo:
Politik Lokal di Kepulauan Selayar Pasca Orde Baru
Abu Bakar_________226

Konflik Internasional Abad ke-21? Benturan Antarnegara Demokrasi
dan Masa Depan Politik Dunia
Mohamad Rosyidin_________239

Zonasi Konservasi untuk Siapa? Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng_________253

Studi Ecological Fiscal Transfer sebagai Potensi Pendanaan Lingkungan di Daerah
Joko Tri Haryanto_________268

i
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi
Jurnal Ilmu Konservasi
Sosial untukPolitik
dan Ilmu Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali
Volume 18, Nomor 3, Maret 2015 (253-267) Barat
ISSN 1410-4946

Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

Amir Mahmud1
Arif Satria, Rilus A. Kinseng2

Abstract
The zoning is not as usual and natural issues but complicated processes that determines allowed and
prohibited activities of resources user. From economic views, zonation could potentially take advantages
and disadvantages, and socially it create a conflict as consequence of limited accesses. This research as
qualitative research aims to observe zones utilization and it impacts to marine resource users in Bali Barat
National Parks (BBNP). The results show that utilization of marine zoning in BBNP is to ecology-biology
protection, tourist and fisheries with resources user namely Boarding of BBNP, tourist company and fishers.
Zoning results in regulating user activities including limited activities.

Keywords:
zones; marine of national park; tourist; fishers.

Abstrak
Pembuatan zonasi bukanlah persoalan biasa dan alami melainkan proses yang rumit, yang
menentukan diperbolehkan atau dilarangnya kegiatan para pengguna sumber daya alam. Secara
ekonomi, zonasi dapat berpotensi mendatangkan keuntungan dan kerugian, dan secara sosial
menimbulkan konflik akibat pembatasan akses. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
untuk mengulas pemanfaatan zonasi dan akibatnya bagi pengguna sumber daya laut di Taman
Nasional Bali Barat (TNBB). Hasilnya, pemanfaatan zonasi di laut TNBB dapat digunakan untuk
perlindungan ekologi-biologi, pariwisata, dan perikanan dengan para pengguna yaitu Balai
TNBB, perusahaan pariwisata dan nelayan. Zonasi berakibat pada pengaturan kegiatan para
pengguna termasuk pembatasan.

Kata Kunci:
zonasi; perairan laut taman nasional; pariwisata; nelayan.
Pendahuluan & Wilson, 2009; Fiske, 1992; Sowman et al., 2011).
Pembentukan dan pengelolaan kawasan Pengelolaan kawasan konservasi dianggap
konservasi tidak hanya mempertimbangkan sukses dalam aspek ekologi tapi menemui
aspek ekologi-biologi tapi juga memperhatikan kegagalan pada aspek sosial (Christie, 2004;
dimensi manusia dan sosiokulturalnya (Charles Jennings, 2009). Pada aspek sosial dan ekonomi,

1
Peneliti di Sajogyo Institute (SAINS) Bogor, e-mail: mahmudamir1003@gmail.com. Peneliti berterima kasih kepada
Ni Made Indrawati, pihak TNBB dan semua pihak yang telah membantu penelitian ini.
2
Dosen Program Studi Sosiologi Pedesaan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat,
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

253
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

salah satu dampak yang ditemukan pada nasional. Masyarakat diikutsertakan pula
nelayan adalah persoalan mata pencaharian dalam konsultasi publik untuk penyusunan
(Bavinck & Vivekanandan, 2011; Bennett & rencana zonasi.
Dearden, 2014; Oracion et al., 2005). Persoalan- Tulisan ini membahas sistem zonasi yang
persoalan muncul sebagian besar dimulai dari diterapkan di TNBB khususnya di kawasan
pemberlakuan kawasan konservasi beserta perairan laut. UU 5/1990 Pasal 32 menyebutkan
sistem zonasinya atau adanya zona larang bahwa kawasan taman nasional dikelola
ambil (no-take-zone) sehingga berdampak pada dengan sistem zonasi, dan menurut PP 68/1998
pembatasan untuk pemanfaatan sumber daya zonasi sebagai upaya pengawetan kawasan.
terhadap masyarakat. Tiap zona dibedakan menurut fungsi dan
Sebelum menjadi bagian dari Taman kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya
Nasional Bali Barat (TNBB,) perairan laut masyarakat (Permenhut P.56/2006). Akan tetapi,
Bali Barat dan Pulau Menjangan serta laut penerapan sistem zonasi memiliki dampak luar
sekitarnya rencananya akan dijadikan cagar biasa terhadap masyarakat, misalnya akses
alam laut (marine nature reserves) atau taman (Ribot & Peluso, 2003).
nasional laut (marine national park) (Polunin et Secara historis, sebelum berdirinya
al., 1983; Robinson et al., 1981). TNBB berdiri TNBB, laut di sekitar taman nasional bersifat
tahun 1984, meskipun penetapan secara open access. Nelayan dari Bali maupun Jawa
definitif pada tahun 1995, berdasarkan Surat dapat memanfaatkan dan menangkap ikan di
Keputusan Menteri Kehutanan No 493/Kpts- sekitar perairan laut, misalnya penangkapan
II/1995. Kawasan konservasi ini terbentang di bibit ikan bandeng (nyotok nener) di pesisir
dua kabupaten di Provinsi Bali yaitu Buleleng oleh nelayan. Namun pada tahun 1970-an
seluas 12.814,89 ha dan Jembrana seluas diterbitkan pengaturan izin penangkapan oleh
6.188,00 ha. TNBB berasal dari gabungan pemerintah daerah Provinsi Bali. Rezim open
kawasan suaka margasatwa dan hutan lindung access kemudian berubah menjadi rezim state
yaitu Suaka Margasatwa Bali Barat, Suaka property, terutama ketika pemerintah mengatur
Margasatwa Pulau Menjangan dan sekitarnya pesisir dan laut melalui penerbitan izin
(laut), dan Hutan Lindung Bali Barat. Kawasan penangkapan bibit ikan bandeng dan penertiban
konservasi TNBB memiliki luas 19.002,89 ha pengkavlingan lokasi penangkapannya, dan
terdiri atas laut 3.415 ha dan daratan/hutan ketika laut menjadi bagian dari taman nasional.
15.587,89 ha. Pembentukan taman nasional berakibat
Taman nasional dikelola oleh pemerintah langsung terutama pada pembatasan akses
pusat berdasarkan UU 5/1990, PP 68/1998 dan PP nelayan di kawasan konservasi, kecuali
28/2011. Pengelolaan TNBB dilakukan dengan mendapatkan izin atau masuk dalam sistem
pendekatan terpusat di bawah Kementerian zonasi yang diperuntukkan bagi nelayan.
Kehutanan (Kemenhut). Pendekatan terpusat
dilakukan melalui pembentukan Balai Taman Metode Penelitian
Nasional sebagai unit pelaksana teknis Penelitian ini bertujuan mengetahui
di tiap-tiap taman nasional di Indonesia. lebih dalam tentang pemanfaatan zonasi dan
Sekalipun dikelola secara terpusat, peran perubahannya, terutama zonasi perairan
pemerintah provinsi dan kabupaten/kota laut TNBB serta dampak penerapan zonasi
masih diperhatikan walaupun terbatas di terhadap aktivitas masyarakat. Demi mencapai
dalam PP No. 28/2011, contohnya seperti tujuan tersebut, data yang dikumpulkan
konsultasi publik penyusunan rencana zonasi berupa data primer dan sekunder. Data
dan pemberdayaan masyarakat sekitar taman primer diperoleh dari informan melalui teknik

254
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

wawancara mendalam dengan alat bantu merupakan desa enclave dan desa penyangga
pedoman wawancara. Wawancara berlangsung di TNBB; b) TNBB ditetapkan berdasarkan
secara tatap-mukadengan informan seperti Keputusan Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-
nelayan, pihak TNBB, tokoh masyarakat desa II/1995. TNBB terdiri atas laut dan darat/hutan
Pakraman/Adat dan desa Dinas, Lembaga yang dikelola melalui zonasi, sistem zonasi
Swadaya Masyarakat dan lain sebagainya. tersebut mengalami tiga kali perubahan; c)
Untuk memperkaya data, selain diskusi Berkembangnya pariwisata di kawasan TNBB,
kelompok dengan pihak Balai TNBB, juga terutama perairan laut, dan terdapat aktivitas
dilakukan pengamatan terlibat terhadap perikanan tradisional skala kecil, di dua desa,
perairan laut TNBB untuk melihat seperti garis khususnya di Teluk Terima (Sumberklampok)
batas zonasi dan pemanfaatannya. Sementara dan Teluk Banyuwedang (Pejarakan). Penelitian
data sekunder didapatkan dari kantor Balai dilaksanakan pada bulan Februari sampai
TNBB, kantor desa (Sumber klampok dan dengan awal Maret 2013, dan pertengahan Juni
Pejarakan) dan desa Adat/Pakraman, Dinas hingga akhir Juli 2013.
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng, Zonasi atau zona merupakan istilah
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut yang umum disebut, terutama dalam PP
Gondol, perusahaan pariwisata, Kelompok 68/1998, PP 28/2011 dan Permenhut No. P.56/
Nelayan, Kelompok Masyarakat Pengawas Menhut-II/2006. Kedua istilah dibuat dalam
(Pokmaswas), Forum Komunikasi Masyarakat rangka pengelolaan dan pemanfaatan kawasan
Peduli Pesisir (FKMPP) dan LSM Pilang. Data- konservasi taman nasional. Keduanya memiliki
data sekunder lain berbentuk laporan, arsip, arti berbeda berdasarkan Permenhut No. P.56/
buku, tesis, jurnal, website dan data lainnya Menhut-II/2006. Zonasi merupakan suatu
yang relevan dengan fokus penelitian. proses pengaturan ruang dalam taman nasional
Data-data penelitian dianalisis melalui menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan
tahapan pengumpulan data, analisis data, tahap persiapan, pengumpulan dan analisis
reduksi data, penyajian data, dan penarikan data, penyusunan draft rancangan zonasi,
kesimpulan, yang berlangsung terus menerus konsultasi publik, perancangan, tata batas,
dan dilakukan sejak perencanaan penelitian, dan penetapan, dengan mempertimbangkan
tahap di lapangan sampai pembuatan kajian dari aspek ekologis, sosial, ekonomi dan
laporan penelitian. Pemeriksaan keabsahan budaya masyarakat. Wilayah di dalam kawasan
data menggunakan triangulasi di dalam taman nasional, yang dibedakan menurut
pengumpulan data dan informan. Dalam fungsi dan kondisi ekologis, sosial, ekonomi
mengulas zonasi, sangat penting pengumpulan dan budaya masyarakat disebut sebagai zona.
data berupa peta zonasi dan perubahannya Taman nasional minimal mempunyai tiga zona
sekalipun peta tersebut tidak lengkap. Peta yaitu inti, rimba, dan pemanfaatan.
zonasi dan pemanfaatannya selanjutnya Keberadaan zonasi taman nasional
menjadi semacam panduan untuk dicocokkan berakibat pada akses, terutama masyarakat
dengan kondisi, kejadian dan aktivitas di sekitar, berupa pembatasan, larangan atau
lapangan. kegiatan yang hanya diperbolehkan jika telah
Penelitian dilakukan di perairan laut memperoleh izin. Akses dimaknai Ribot
Taman Nasional Bali Barat terutama di & Peluso (2003: 154) sebagai “kemampuan
Desa Sumberklampok dan Desa Pejarakan untuk memperoleh manfaat dari sesuatu”.
Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Mekanisme akses, menurut Ribot & Peluso
Provinsi Bali. Lokasi ini sengaja dipilih dengan (2003) terbagi dua yaitu: hak/aturan legal,
beberapa alasan yaitu a) Masing-masing desa serta struktural dan relasional. Mekanisme

255
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

akses yang pertama berdasarkan hukum, jenis aves, 120 jenis ikan, dan lain-lain. Jenis-
kebiasaan atau konvensi termasuk illegal access, jenis fauna yang dilindungi di TNBB antara
sedangkan mekanisme akses yang kedua lain: Trenggiling, Kesih (Bali) (Manis javanica),
melalui teknologi, modal, pasar, pekerjaan, Jelarang, Kapan-kapan (Bali) (Ratufa bicolor),
pengetahuan, kewenangan, identitas sosial, Landak (Hystrix brachyura), Kueuk (Felis
negosiasi dari relasi sosial. Dengan begitu, marmorata), Menjangan (Cervus timorensis),
pembuatan zonasi serta pembagiannya tidak Banteng (Bos javanicus), Pelanduk, Kancil (Bali)
hanya menentukan pemanfaatan kawasan, (Tragulus javanicus), Biawak (Varanus salvator),
tapi berakibat pada akses para pengguna, baik Penyu rider (Lepidochelys olivceae), dan Jalak
kegiatan yang dilarang maupun tidak. Bali (Leucopsar rothschildi) (Pengembangan
Proses zonasi menyerupai istilah yang Pariwisata Alam di TNBB, 2005). TNBB pun
digunakan Vandergeest (1995) dan Vandergeest sering diidentikkan dengan perlindungan
& Peluso (1996) yaitu teritorialisasi. Teritorialisasi bagi kelangsungan hidup atau keberadaan
didefinisikan Vandergeest sebagai proses yang Jalak Bali.
dibuat negara untuk mengontrol orang dan Flora di TNBB terdiri atas dua ekosistem,
tindakannya dengan menarik batas di sekeliling yaitu tipe ekosistem darat seperti hutan
suatu ruang geografis, yang melarang beberapa mangrove, hutan pantai, hutan musim, hutan
kategori orang untuk masuk ke dalam ruang hujan dataran rendah, evergreen, savanna,
tersebut, dan memperbolehkan atau melarang river rain forest dan tipe ekosistem laut seperti
kegiatan-kegiatan tertentu dalam batas tersebut. terumbu karang, padang lamun, pantai
Teritorialisasi dibagi tiga tahap (Vandergeest, berpasir, perairan laut dangkal dan perairan
1995; Vandergeest & Peluso, 1996) yaitu: (1) laut dalam. Jenis flora yang dilindungi di TNBB
Menegaskan kedaulatan teritorial dan kontrol antara lain: Bayur (Pterospermum diversifolium),
hasil dengan menegaskan bahwa semua Buni (Antidesma bunius), Bungun (Lagerstroemia
tanah “tak bertuan” atau “bukan milik siapa- speciosa), Burahol (Stelechocarpus burahol),
siapa” adalah milik negara. (2) Pembuatan Cendana (Santalum album), Kemiri (Aleurites
batas demarkasi wilayah yang jelas seperti moluccana), Kepah, Kepuh (Bali) (Sterculia
antara “kawasan hutan” dan nonhutan. (3) foetida), Kesambi (Schleichera oleosa), Kruing
“Teritorialisasi fungsional” dengan pembagian bunga (Diptercocaus hasseltii), Mundu (Garcinia
berbagai fungsi kawasan berdasarkan kriteria dulcis), Pulai (Alstonia scholaris), Sawo kecik
ilmiah seperti hutan produksi, hutan lindung (Manilkara kauki), Sono kering (Dalbergia
dan cagar alam. Dalam konteks taman nasional, latifolia) dan Trengguli (Cassia fistula) (TNBB,
zonasi dan pembagiannya dibentuk dengan 2005). Aneka jenis flora tersebut berada di
mengacu pada fungsi tiap zona, seperti inti, lahan TNBB seluas 19.002,89 ha. Melimpahnya
rimba dan pemanfaatan, berdasarkan kriteria potensi biologi dan luasan kawasan tersebut
ilmiah seperti kajian ekologi. Pembagian menjadi salah satu alasan dibentuknya TNBB,
zona menurut fungsinya bertujuan mengatur demi melindungi keasliannya.
kegiatan pemanfaatan yang dilarang dan yang Disamping potensi biologi, ada beberapa
diperbolehkan. desa yang berbatasan dengan TNBB, terdapat
pula desa enclave (daerah kantong). Desa/
Sistem Zonasi TNBB dan Perubahannya kelurahan penyangga di Kecamatan Melaya
Dari segi potensi biologi, TNBB Kabupaten Jembrana terdiri atas Gilimanuk,
mempunyai potensi kekayaan fauna dan Blimbingsari, Ekasari dan Melaya. Di
flora. Berdasarkan jenisnya, fauna di TNBB Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng,
terdiri atas 7 jenis mamalia, 2 jenis reptilia, 105 Pejarakan adalah desa penyangga sedangkan

256
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

desa enclanve-nya adalah Sumberklampok pemanfaatannya diatur agar tidak menggangu
yang berada di dalam TNBB. Nelayan skala atau merusak tujuan utama konservasi.
kecil di sebagian desa mata pencahariannya Secara umum pengelolaan dan
bergantung pada perairan laut TNBB. Namun pemanfaatan kawasan konservasi, termasuk
demikian, potensi biologi dan kawasan TNBB ini taman nasional, merujuk pada UU 5/1990,

Tabel 1.
Fungsi Zona di Taman Nasional
Zona Fungsi Kegiatan yang dapat dilakukan
Inti perlindungan ekosistem, pengawetan flora Perlindungan dan pengamanan; Inventarisasi dan
dan fauna khas beserta habitatnya yang monitoring sumber daya alam hayati dengan ekosistemnya;
peka terhadap gangguan dan perubahan, Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan,
sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan pendidikan, dan atau penunjang budidaya; Dapat
dan satwa liar, untuk kepentingan dibangun sarana dan prasarana tidak permanen, terbatas
penelitian dan pengembangan ilmu untuk kegiatan penelitian dan pengelolaan.
pengetahuan, pendidikan, penunjang
budidaya.
Rimba/ perlin- kegiatan pengawetan dan pemanfaatan Perlindungan dan pengamanan; lnventarisasi dan
dungan bahari sumber daya alam dan lingkungan alam monitoring sumber daya alam hayati dengan ekosistemnya;
bagi kepentingan penelitian, pendidikan Pengembangan penelitian, pendidikan, wisata alam
konservasi, wisata terbatas, habitat satwa terbatas, pemanfaatan jasa lingkungan dan kegiatan
migran dan menunjang budidaya serta penunjang budidaya; Pembinaan habitat dan populasi
mendukung zona inti. dalam rangka meningkatkan keberadaan populasi hidupan
liar; Pembangunan sarana dan prasarana sepanjang masih
dalam kepentingan penelitian, pendidikan, dan wisata
alam terbatas.
Pemanfaatan pengembangan pariwisata alam dan Pe r l i n d u n g a n d a n p e n g a m a n a n ; I n ve n t a r i s a s i
rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, dan monitoring sumber daya alam hayati dengan
penelitian dan pengembangan yang ekosistemnya; Penelitian dan pengembangan pendidikan,
menunjang pemanfaatan, dan kegiatan serta penunjang budidaya; Pengembangan potensi dan
penunjang budidaya. daya tarik wisata alam; Pembinaan habitat dan populasi;
Pengusahaan pariwisata alam dan pemanfatan kondisi/
jasa lingkungan; Pembangunan sarana dan prasarana
pengelolaan, penelitian, pendidikan, wisata alam dan
pemanfatan kondisi/jasa Iingkungan.
Tradisional pemanfaatan potensi tertentu taman Perlindungan dan pengamanan; Inventarisasi dan
nasional oleh masyarakat setempat secara monitoring potensi jenis yang dimanfaatkan oleh
lestari, melalui pengaturan pemanfaatan masyarakat; Pembinaan habitat dan populasi; Penelitian
dalam rangka memenuhi kebutuhan dan pengembangan; Pemanfaatan potensi dan kondisi
hidupnya. sumber daya alam sesuai dengan kesepakatan dan
ketentuan yang berlaku.
Religi, budaya memperlihatkan dan melindungi Perlindungan dan pengamanan; Pemanfaatan pariwisata
dan sejarah nilai-nilai hasiI karya, budaya, sejarah, alam, penelitian, pendidikan dan religi; Penyelenggaraan
arkeologi maupun keagamaan, sebagai upacara adat; Pemeliharaan situs budaya dan sejarah,
wahana penelitian; pendidikan dan serta keberlangsungan upacara-upacara ritual
wisata alam sejarah, arkeologi, dan keagamaan/adat yang ada
religius
Khusus kepentingan aktivitas kelompok Perlindungan dan pengamanan; Pemanfaatan untuk
masyarakat yang tinggal di wilayah menunjang kehidupan masyarakat, rehabilitasi dan
tersebut sebelum ditunjuk dan monitoring populasi dan aktivitas masyarakat, serta daya
ditetapkan sebagai taman nasional dan dukung wilayah
sarana penunjang kehidupannya, serta
kepentingan yang tidak dapat dihindari
berupa sarana telekomunikasi, fasilitas
transportasi dan Iistrik
Sumber: Peraturan Menteri Kehutanan No.: P. 56 /Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman
Nasional

257
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

PP 28/2011 dan PP 68/1998. Dalam konteks yang melatarbelakangi dan zonasi baru yang
taman nasional, dua peraturan pemerintah dihasilkan daripada zonasi sebelumnya.
sebagai peraturan turunan dari UU 5/1990
menjadi pedoman dalam pengelolaan dan Zonasi 1987
pemanfaatan, misalnya tujuan, kriteria Dua tahun setelah dicalonkan menjadi
kawasan dan penyelenggaraannya. Sementara taman nasional pada Kongres Taman Nasional
Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006 penting Sedunia yang ke III di Bali, TNBB akhirnya
diuraikan untuk menganalisis pembuatan berdiri pada tahun 1984 dengan penetapan
zonasi dan pembagian zona. Berdasarkan PP organisasi, tata kerja, dan wilayah kerjanya. Tiga
28/2011 taman nasional bertujuan: (1) Penelitian tahun kemudian kawasan TNBB seluas 77.727
dan pengembangan ilmu pengetahuan; (2) ha dibuat mintakat atau zonasi tahun 1987.
Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan Zonasi pertama yang dibuat ini mempunyai
konservasi alam; (3) Penyimpanan dan/atau empat zona yaitu inti, rimba, pemanfaatan,
penyerapan karbon, pemanfaatan air serta dan penyangga.
energi air, panas, dan angin serta wisata alam;
(4) Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar; (5) Tabel 2.
Pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk Mintakat atau Zonasi TNBB Tahun 1987
penunjang budidaya; dan (6) Pemanfaatan Mintakat 1987 Luas (77.727 ha)
tradisional oleh masyarakat setempat. Inti Darat: 40.650 ha. Laut: 3.670 ha
Tujuan pemanfaatan dalam PP tersebut Rimba 25.732 ha.
Pemanfaatan Darat: 1.125 ha. Laut: 850 ha
diatur lagi secara rinci melalui kegiatan-
Penyangga Darat: 4.000 ha. Laut: 1.700 ha
kegiatan pemanfaatan dan sistem zonasi.
Sumber: SK Dirjen PHPA No. 49/Kpts/DJ-
Kawasan taman nasional dikelola dengan
VI/1987
sistem zonasi sehingga beberapa kegiatannya,
disesuaikan dengan pembagian zonasi, seperti
Kawasan TNBB seluas 77.727 ha ini terdiri
diatur dalam PP 68/1998. Penerapan sistem
atas darat/hutan 71.507 ha dan laut 6.220 ha.
zonasi ini membedakan taman nasional dengan
Munculnya sistem zonasi di kawasan konservasi
kawasan konservasi lainnya yaitu cagar alam
TNBB khususnya di perairan laut, mengakibatkan
dan taman hutan raya. Berdasarkan Permenhut
kegiatan penangkapan ikan konsumsi, ikan hias,
No. P.56/Menhut-II/2006, kegiatan yang
dan pengambilan terumbu karang menjadi
diperbolehkan di zona-zona taman nasional
dilarang, kecuali telah mendapatkan izin dari
adalah sebagai berikut:
taman nasional seperti penangkapan bibit ikan
Demi mengontrol kegiatan pemanfaatan
bandeng. Izin penangkapan bibit ikan bandeng
agar tidak destruktif, dibutuhkan sistem zonasi
pernah diterbitkan oleh Balai TNBB sekalipun
di TNBB. Zonasi di kawasan konservasi TNBB
tidak berjalan lama.
dibuat pertama kali pada tahun 1987, dan
selanjutnya berubah berturut-turut dengan
Zonasi 1996
zonasi 1996, zonasi 1999 dan zonasi 2010.
Perubahan zonasi merupakan proses yang Luas kawasan TNBB menyusut, yang
dijamin dalam peraturan, melalui sebuah awalnya seluas 77.727 ha menjadi 19.002,89
evaluasi zonasi yang dilakukan secara periodik ha karena perubahan fungsi kawasan pada
yaitu paling lama 3 tahun, jika merujuk tahun 1995, berdasarkan Keputusan Menteri
pada Permenhut No P.56/Menhut-II/2006. Kehutanan No 493/Kpts-II/1995. Keputusan
Terjadinya tiga kali perubahan zonasi TNBB tersebut membuat hutan lindung (265,30 ha),
perlu dilihat dari masing-masing peristiwa suaka margasatwa (15.322,59 ha) dan perairan

258
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

sekitarnya (3.415 ha) menjadi kawasan TNBB. Tabel 4.
Perubahan fungsi kawasan sekaligus menuntut Zonasi TNBB Tahun 1999
perubahan zonasi sehingga muncullah zonasi Zonasi 1999 Luas (19.002,89 ha)
1996. Inti Darat: 7.567,85 ha., Laut: +
455,37 ha
Tabel 3. Rimba Darat: + 6.099,46 ha., Laut:
Zonasi TNBB Tahun 1996 243,96 ha
Zonasi 1996 Luas (19.002,89 ha) Pemanfaatan Intensif Darat: + 1.645,33 ha., Laut: +
Inti Total (darat dan laut 970,00 ha 2.745,66 ha
Rimba Darat: 6.281,00 ha., Laut: 515,00 ha Pemanfaatan Budaya Darat: 245,26 ha
Pemanfaatan Darat: 1.613,00 ha., Laut: 1.960,00 ha Sumber: Keputusan Dirjen PKA No. 186/Kpts/
Sumber: SK Dirjen PHPA No. 38/Kpts/DJ- DJ-V/1999
VI/1996
Perbedaan zonasi tahun 1999 dengan
Kawasan TNBB seluas 19.002,89 ha zonasi sebelumnya terletak pada munculnya
dibagi menjadi tiga zona yaitu inti, rimba, dan zona pemanfaatan intensif dan zona
pemanfaatan. Perbedaan signifikan antara pemanfaatan budaya. Di samping itu, luasan
zonasi 1996 dengan zonasi sebelumnya terletak masing-masing zona dengan zona sebelumnya
pada penyusutan luas kawasan darat/hutan tidak sama. Salah satu penyebab munculnya
dan laut, serta berkurangnya jumlah zona zona pemanfaatan intensif adalah makin
dari empat zona menjadi tiga zona (tanpa intensifnya pengembangan pariwisata dengan
zona penyangga). Pada zonasi 1987 luas darat/ masuknya perusahaan yang bergerak di bidang
hutan 71.507 ha dan laut 6.220 ha sedangkan pariwisata dalam kurun 1997-2003. Lokasi
zonasi 1996 luas 15.587,89 ha dan laut 3.415 ha. perusahaan ini terlihat jelas dalam peta zonasi
Dengan penyusutan luas kawasan TNBB ini 1999. Tiga perusahaan di bidang pariwisata
dapat memudahkan dalam memaksimalkan mendapatkan Izin Pemanfaatan Pariwisata
pengelolaan TNBB. Alam (IPPA) di TNBB. Ketiga perusahaan itu
dapat dilihat pada Tabel 5.
Zonasi 1999 Perusahaan pariwisata mendirikan
Zonasi tahun 1999 terdiri atas empat bangunan seperti hotel/resort atau kantor,
zona yaitu inti, rimba, pemanfaatan intensif sebagian besar didirikan berdekatan dengan
dan pemanfaatan budaya. Keempat zona dan pantai. Melalui perusahaan tersebut, sarana
luasannya sebagai berikut: pengembangan pariwisata diharapkan semakin

Tabel 5.
Tiga Perusahaan di TNBB
Perusahaan
No pengelola/ Jenis usaha/ kegiatan wisata yang dikembangkan Lokasi dan luas
pelaksana
1 SBW Pengusahaan Pariwisata Alam (Resort): Wisata bahari Labuhan Lalang, Tanjung Kotal, dan
(diving, snorkeling, canoing), bird watching dan jungle Gilimanuk.
tracking Luas 251,5 Ha
2 TSS Pengusahaan Pariwisata Alam (Resort): Wisata bahari Tanjung Gelap dan Banyuwedang.
(diving, snorkeling, canoing), bird watching, jungle Luas 284 Ha
tracking dan wisata berkuda
3 DKB Pengusahaan Pariwisata Alam (Budidaya Mutiara): Teluk Terima, Tanjung Kotal dan
Wisata bahari dengan minat khusus seperti tiram Cekik.
mutiara) Luas 40,05 Ha
Sumber: Pengembangan Pariwisata Alam di TNBB (2005) dan dari sumber lain.

259
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

meningkat dan potensi pariwisata dapat Pembatasan akses nelayan tradisional terhadap
dimanfaatkan secara intensif di kawasan sumber daya laut ini menimbulkan konflik
konservasi. Sedangkan keberadaan zona antara nelayan dengan Balai TNBB. Konflik
pemanfaatan budaya dalam zonasi 1999 juga terjadi antara pengelola pariwisata dengan
dikarenakan adanya kegiatan spiritual- nelayan dalam pemanfaatan perairan laut.
keagamaan penganut Hindu di pura yang Merujuk pada Gambar 1, zona tradisional
terletak di kawasan TNBB. Kegiatan spiritual- berwarna coklat. Masing-masing zona memiliki
keagamaan ini telah dilakukan dari sebelum warna berbeda yaitu: merah (zona inti), kuning
kawasan konservasi dibuat sehingga perlu (zona rimba), biru tua (zona perlindungan
diakomodasi dalam sistem zonasi. Terlebih lagi bahari), hijau (zona pemanfaatan), ungu tua
adanya Perda Provinsi Bali No 3/2005 tentang (zona religi budaya dan sejarah), dan abu-abu
Rencana Tata Ruang Wilayah Prov. Bali, dan tua (zona khusus).
keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia Sistem zonasi yang diterapkan di sebuah
(PHDI) Pusat No. 11/Kep./I/PHDI/1994 tentang taman nasional memiliki batasan antarzona
Bihisma Kesucian Pura. yang jelas, tujuannya agar potensi dan fungsi
masing-masing zona tetap terpelihara dengan
Zonasi 2010 baik. Misalnya, tanda batas di wilayan daratan
Pada tahun 2010 TNBB menetapkan tujuh ditandai dengan plat seng, papan kayu atau
zona yaitu zona inti, rimba, perlindungan bahan lain sedangkan tanda mooring buoys
bahari, pemanfaatan, budaya, religi dan sejarah, untuk menandai batas antarzona di perairan
khusus, dan zona tradisional. Hal menarik laut.
dari ketujuh zona ini adalah munculnya Setiap zona baik di daratan maupun
zona tradisional di perairan laut. Zona ini di perairan laut memiliki warna dan kode
diperuntukkan bagi kegiatan penangkapan pada tanda batas sesuai dengan zonanya. Di
ikan konsumsi oleh nelayan tradisional. kawasan konservasi TNBB khususnya perairan
Untuk menampung kebutuhan nelayan, laut, tanda batas di lapangan tidak tersedia,
maka dibentuk zona tradisional di dua sekalipun garis batas antarzonasi terdapat
lokasi yaitu Teluk Terima (+ 51,905 ha) dan jelas secara imajiner dalam peta. Ketiadaan
Teluk Gilimanuk (+ 259,038 ha). Sebelum batas ini menyulitkan para pengguna dalam
adanya zonasi 2010, kegiatan di perairan menentukan batas antarzonasi untuk kegiatan
laut kawasan konservasi TNBB dilarang, pemanfaatan perairan laut karena antara
contohnya penangkapan ikan konsumsi dan wilayah yang dilarang dan diperbolehkan
pengembangan budidaya seperti rumput laut menjadi kabur. Konsekuensinya, dapat
dan ikan kerapu oleh masyarakat setempat. menghambat upaya perlindungan kawasan

Tabel 6.
Zonasi TNBB Tahun 2010
Zonasi 2010 Luas (19.002,89 ha)
Inti Darat: + 7.567,850 ha., Laut: + 455,370 ha.
Rimba + 6.174,756 ha
Perlindungan Bahari + 221,741 ha
Pemanfaatan Darat:+ 1.800,682 ha., Laut: + 2.417,011 ha
Budaya Religi dan Sejarah + 50,570 ha
Khusus + 3,967 ha
Tradisional + 310,943
Sumber: Keputusan Dirjen PHKA No. SK. 143/ VI-KK/2010

260
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

Gambar 1.
Zonasi TNBB Tahun 2010

Sumber: Balai TNBB

Tabel 7.
Zonasi dan Kode/Inisial
No Nama zonasi daratan dan kode/inisial Nama zonasi perairan laut dan kode/inisial
1 Inti = ZI Inti = ZI
2 Rimba = Zri Perlindungan Bahari = ZB
3 Pemanfaatan = ZP Pemanfaatan = ZB
4 Tradisional = ZTr Tradisional = ZTr
5 Rehabilitasi = Zre Khusus = ZKh
6 Religi, Budaya dan Sejarah = ZBS Rehabilitasi = Zre
7 Khusus = ZKh Religi, Budaya dan Sejarah = ZBS
Sumber: Permenhut No. P. 56/Menhut-II/2006

konservasi secara keseluruhan; potensi yang dilarang beserta sanksi yang diberlakukan.
pelanggaran oleh pengguna seperti nelayan Jenis pelanggaran dan sanksinya dapat dilihat
dan wisatawan; dan sulitnya petugas dalam pada Tabel 8.
menegakkan aturan. Kondisi ini menegaskan Aturan ini diterapkan dengan konsisten
bahwa kinerja pengelolaan kelembagaan TNBB dalam setiap kegiatan patroli. Misalnya,
di laut dinilai masih rapuh (failure). Laporan Tahunan Kegiatan Penyidikan dan
Di kawasan konservasi TNBB terdapat Perlindungan Hutan TNBB 2011 dan 2012
para pengguna seperti nelayan dan wisatawan, menyebutkan bahwa 1 orang ditemukan
yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam menangkap ikan hias dengan menggunakan
terutama perairan laut, sehingga dibuatlah cairan potasium pada tahun 2011, divonis 4
aturan yang lebih terperinci selain berdasarkan bulan penjara dan denda Rp 300.000, dengan
sistem zonasi yang diterapkan. Aturan bersifat ketentuan apabila denda tidak dibayar maka
teknis dan terperinci ini mengatur kegiatan diganti dengan hukum kurungan selama

261
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

Tabel 8.
Jenis Pelanggaran dan Sanksi
Jenis Pelanggaran Jenis Sanksi
Memberi makan ikan oleh pelaku wisata; Pengarahan, pembinaan dan pembuatan surat
Membuang sampah sembarangan maupun limbah pernyataan;
domestik;
Menjaring ikan konsumsi di atas karang.
Menaruh jangkar di atas karang untuk menambatkan Penahanan untuk sementara, pembuatan surat
perahu; pernyataan, serta menjalani wajib lapor selama
Mencari ikan hias; minimal satu minggu semenjak tertangkap tangan;
Mencari ikan dengan menggunakan panah (speargun).
Penggunaan racun seperti potasium untuk mencari ikan; Pidana penjara selama-lamanya antara 6-10 tahun dan
Menangkap ikan secara destruktif, contohnya atau denda paling banyak antara Rp 1,2 M-Rp 2 M.
menggunakan dinamit atau bom.
Sumber: Petunjuk Teknis Penanganan Terpadu Tindak Pidana Kehutanan dan Perairan TNBB (2005)

1 bulan. Sementara tahun 2012, 14 orang of Conduct diberikan peringatan I, II, dan III; 2)
terbukti mencari dan menangkap biota laut Pelanggar yang telah memperoleh peringatan
seperti gurita, ikan hias dan karang hidup, sampai tiga kali akan dihentikan pelayanan
dan dikenakan sanksi. Seiring perkembangan administrasinya; dan 3) Sanksi Code of Conduct
pariwisata perairan laut, aturan baru dibuat tidak menghilangkann atau menghapus sanksi
seperti tertuang dalam Code of Conduct pelanggaran pidana. Pembahasan butir-butir
berdasarkan SK Kepala Balai TNBB No. 513/ tersebut dilaksanakan oleh para pihak pada
IV-BTNBB/2002 tanggal 29 April 2002. Code lokakarya Friends of the Reef pada tanggal
of Conduct bertujuan untuk mengembangkan 5-7 Februari 2002 sedangkan sosialisasinya
wisata alam dengan memanfaatkan kawasan dilakukan di kantor TNBB pada 16 April
perairan laut TNBB, khususnya perairan laut 2002.
Pulau Menjangan dan sekitarnya. Butir-butir
Code of Conduct sebagai berikut: Pembagian Zona Untuk Apa dan Siapa?
1. Dilarang membuang dan meninggalkan Perubahan zonasi dapat dilakukan secara
sampah serta bahan pencemar lain; periodik, namun penataan zona taman nasional
2. Dilarang berjalan di atas karang atau harus didasarkan pada potensi dan fungsi
menyentuh karang; kawasan, dengan memerhatikan aspek ekologi,
3. Dilarang merusak dan mengambil biota sosial, ekonomi dan budaya masyarakat
laut; seperti terurai dalam Permenhut No P.56 /
4. Dilarang memancing ikan di areal Menhut-II/2006. Beberapa hal yang menjadi
penyelaman radius + 500 meter dari garis pertimbangan dalam menentukan potensi dan
pantai Pulau Menjangan; fungsi suatu kawasan konservasi diantaranya
5. Dilarang memberi makan ikan; adalah keanekaragaman hayati, nilai arkeologi,
6. Dilarang membuang jangkar; nilai objek wisata dan nilai jasa lingkungan.
7. Pastikan peralatan dengan baik. Aspek ekologi yang diperhatikan seperti tanah,
geologi, iklim, topografi, geomorfologi dan
Sanksi atas pelanggaran Code of Conduct penggunaan lahan, serta oseanografi pada
ditentukan secara kolektif oleh pengelola wilayah perairan. Begitu pula, tak kalah penting
TNBB dan para pihak pengguna, sanksi- diperhatikan adalah aspek sosial, ekonomi dan
sanksi tersebut adalah: 1) Para pihak yang budaya masyarakat seperti jumlah pengguna
ditemukan atau diindikasikan melanggar Code

262
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

Tabel 9.
Pemanfaatan Zonasi TNBB
Pemanfaatan Mintakat 1987 Zonasi 1996 Zonasi 1999 Zonasi 2010
Perlindungan ekologi-biologi V V V V
Pariwisata V V V V
Budaya religi dan sejarah X V V V
Perikanan X X X V
Keterangan: (v) tersedia, (x) tidak tersedia
Sumber: Data diolah dari zonasi

kawasan, mata pencaharian dan kearifan lokal Hindu di Pura yang terletak di TNBB. Zonasi
sebelum dibentuknya kawasan taman nasional, tersebut tidak ada pada tahun 1987 dan tahun
agar pengelolaan mendapat dukungan dari 1996. Meski terkesan terlambat, ketersediaan
masyarakat setempat. zona ini adalah bentuk pengakuan sekaligus
Dari keempat zonasi yang pernah penghormatan terhadap sejarah, budaya dan
dibuat dan tiga kali perubahan, terdapat tiga keagamaan penganut Hindu, yang telah ada
hal menarik yang perlu diperhatikan dari sebelum berdirinya TNBB. Hal tersebut salah
perubahan tersebut. Tiga hal menarik tersebut satunya disebabkan karena di kawasan TNBB
muncul seiring dibuatnya zona pemanfaatan terdapat beberapa pura yang memiliki akar
intensif, zona pemanfaatan budaya (dan sejarah, budaya dan keagamaan bagi penganut
zona budaya, religi, dan sejarah), dan zona Hindu. Sesuai dengan Permenhut No: P. 56 /
tradisional. Menhut-II/2006 Pasal 6, zona ini berfungsi
D i k a wa s a n T N B B , p e m a n f a a t a n untuk memperlihatkan dan melindungi nilai-
pariwisata semakin meningkat ketika tiga nilai hasil karya, budaya, sejarah, arkeologi
perusahaan mendapatkan Izin Pemanfaatan maupun keagamaan. Selain itu juga sebagai
Pariwisata Alam (IPPA). Masing-masing wahana penelitian, pendidikan dan wisata
memiliki daerah pemanfaatan seluas 251,5 alam sejarah, serta arkeologi dan religius. Jika
ha, 284 ha, dan 40,05 ha. Hal itu terlihat dari ditelusuri, mekanisme akses awalnya diperoleh
ketersediaan zona pemanfaatan intensif dalam oleh penganut Hindu melalui struktural dan
zonasi 1999. Sebagian besar perusahaan relasional, yaitu identitas sosial dan negosiasi,
ber-IPPA tersebut mendirikan bangunan kemudian memasuki mekanisme aturan legal
berupa kantor dan resort/hotel di sekitar karena tersedia dalam sistem zonasi.
laut untuk menunjang kegiatan pariwisata. Aktivitas nelayan tradisional diakomodasi
Mekanisme akses perusahaan ini melalui pada zonasi tahun 2010 melalui zona
atura legal seperti dalam PP 36/2010 tentang tradisional. Letak zona ini berdekatan dengan
Pengusahaan Pariwisata Alam. Sementara itu, Kelurahan Gilimanuk (Teluk Gilimanuk)
keberadaan zona inti dan zona rimba (dan dan Desa Sumberklampok (Teluk Terima).
zona perlindungan bahari) memang selalu Zona tradisional merupakan akses sekaligus
tersedia dalam tiap perubahan zonasi sebagai memberi manfaat bagi nelayan melalui
zona perlindungan utama sekalipun dari segi mekanisme aturan legal, meski terkadang
jumlah luas ketiga zona tersebut terkadang akses tersebut diperoleh dari mekanisme
mengalami perubahan. struktural dan relasional. Secara sosio-historis,
Zona pemanfaatan budaya dan zona nelayan tradisional telah beraktivitas sebelum
budaya religi dan sejarah masing-masing TNBB dibentuk. Jalan negosiasi ditempuh
disediakan pada zonasi tahun 1999 dan tahun untuk mendapatkan beberapa kelonggaran
2010 untuk kegiatan ritual keagamaan penganut beraktivitas di wilayah yang tidak diizinkan

263
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

seperti waktu tangkap, alat tangkap dan Artinya, siapa saja yang diperbolehkan terlibat
wilayah tangkap. Zona tradisional berfungsi dan sejauh mana keterlibatannya dalam penataan
untuk memanfaatkan potensi tertentu taman atau evaluasi sistem zonasi, akan menentukan
nasional oleh masyarakat setempat secara besar-kecilnya akses para pengguna dan jenis
lestari, melalui pengaturan pemanfaatan kegiatan yang diperbolehkan dan dilarang dalam
dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, kawasan konservasi.
seperti yang tercantum di pasal 6 Permenhut Bagi pengguna sumber daya di
No. P. 56/2006. TNBB seperti nelayan, ketiadaan zona
Ketiga perubahan zonasi di atas tradisional berakibat pada larangan kegiatan
memperlihatkan bahwa masing-masing penangkapan ikan di kawasan konservasi.
perubahan tidak terjadi dalam ruang hampa. Secara sosial, bersamaan dengan hadirnya
Terdapat kepentingan yang menyertai seperti kawasan konservasi, aktivitas penangkapan
kebutuhan masyarakat atau pengembangan ikan tersingkir sehingga berdampak pada
potensi kawasan konservasi, seperti yang munculnya konflik sosial seperti pembakaran
terlihat jelas jika membandingkan zonasi awal gubuk nelayan nyotok nener, pencabutan alat
dengan zonasi hasil perubahan. Misalnya, budidaya rumput laut dan larangan lainnya.
kebutuhan nelayan yang tidak muncul dalam Penghentian penangkapan ikan pun berpotensi
sistem zonasi awal, baru diakomodasi di merugikan mata pencaharian nelayan.
zonasi 2010, padahal nelayan tradisional telah
ada jauh sebelum dibentuknya TNBB. Fakta Kesimpulan
ini menegaskan perlunya meningkatkan level Merujuk pada konteks pengelolaannya,
keterlibatan para pihak yang berkepentingan, tujuan dibentuknya kawasan TNBB tak hanya
terutama masyarakat setempat, dalam sebagai upaya perlindungan ekologi-biologi.
pembuatan atau perubahan zonasi agar Dalam proses perkembangannya, pembentukan
kebutuhannya terakomodasi. tersebut mendorong peningkatan pemanfaatan
Meski selama ini konsultasi publik pariwisata dan tersedianya lokasi pemanfaatan
telah diagendakan dalam tata cara penataan perikanan nelayan serta sejarah budaya
zonasi, namun keterlibatan masyarakat keagamaan penganut Hindu. Pemanfaatan
dibatasi hanya pada memberi saran, informasi pariwisata semakin tumbuh dengan hadirnya
dan pertimbangan, sebagaimana terurai perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata
dalam Permenhut No P.56/Menhut-II/2006. melalui IPPA. Pemanfaatan budaya diciptakan
Keterlibatan yang lemah dalam pembuatan untuk mengakomodasi aktivitas ritual-
keputusan publik membuat masyarakat perlu keagamaan dan budaya penganut Hindu di
didorong dan ditingkatkan partisipasinya. pura, sedangkan perikanan disediakan sebagai
Sistem zonasi mengatur kegiatan yang mata pencaharian nelayan. Jika merujuk
diperbolehkan dan yang dilarang, sehingga pada perencanaan kawasan ini, lokasi untuk
akan berdampak baik positif maupun negatif konservasi di perairan laut Bali Barat diprediksi
pada kegiatan masyarakat. menghasilkan nilai ekonomi dari ekoturisme.
Kenyataan ini mengungkapkan bahwa Kegiatan pemanfaatan seperti tradisional
zonasi bukan hanya persoalan teknis-instrumental use, wilderness, dan sanctuary di kawasan ini
tapi juga politik (Satria, 2014). Perubahan sistem rencananya akan diatur, meskipun berpotensi
zonasi bukan proses yang berjalan biasa dan menimbulkan konflik nelayan (Polunin et al.,
alami namun berkaitan dengan kehadiran para 1983; Robinson et al., 1981).
pihak yang memperjuangkan akses atau tipe Berdasarkan studi kasus di atas, beberapa
hak kepemilikan terhadap sumber daya alam. hal dapat dijadikan catatan penting. Pertama,

264
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

berdasarkan IUCN (International Union for Kedua, zonasi bertujuan untuk mengatur
Conservation of Nature) kawasan perlindungan kegiatan pemanfaatan agar daerah utama tidak
kategori II konservasi dan perlindungan terpengaruh (Agardy, 1993). Namun secara
ekosistem merujuk pada taman nasional, umum pembuatan zonasi bukanlah tugas yang
sekalipun pemakaian nama ‘Taman Nasional’ sederhana (Day, 2002). Menentukan zonasi
terkadang digunakan oleh pelbagai kategori, yang dapat diterima secara sosial terhadap
mulai kategori I-VI (Dudley, 2008: 11). zonasi larang ambil merupakan proses yang
Tujuan utama kategori II adalah melindungi sulit (Grantham, 2013). Begitu pula dalam
keanekaragaman hayati dengan struktur mengakomodasi kegiatan nelayan melalui
ekologi yang mendasarinya, mendukung zona tradisional, sehingga zonasi baru tersedia
proses lingkungan, dan mempromosikan tahun 2010. Kesulitan tersebut diperkirakan
pendidikan dan rekreasi. Desain pengelolaan karena pemerintah hanya fokus pada tujuan
taman nasional juga diperlukan, misalnya utama taman nasional, sehingga kegiatan
dengan memasukkan tujuan sosial, budaya perikanan yang relatif eksploitatif dianggap
dan ekonomi masyarakat setempat. bertentangan dengan kaidah ‘konservasi’ dan
Sebab, kawasan konservasi hanya akan nelayan yang terlibat pun jumlahnya minim.
berkelanjutan jika ada keseimbangan tujuan Pembuatan dan perubahan zonasi
seperti meningkatkan mata pencaharian berdampak pada boleh-tidaknya aktivitas
masyarakat lokal sekaligus melindungi tertentu dilaksanakan di kawasan konservasi,
ekosistem melalui pengurangan kemiskinan, termasuk aktivitas perikanan oleh nelayan
peningkatan rehabilitasi, serta perlindungan tradisional. Dengan begitu, sistem zonasi bukan
budaya dan keanekaragaman hayati (Wang, hanya persoalan teknis-instrumental seperti
2012). Dalam tahap perkembangan pengelolaan membatasi luas wilayah laut yang ditandai
TNBB selama kurang lebih 20 tahun, mooring buoys, tapi secara sosial dan ekonomi
kebutuhan masyarakat relatif terakomodasi berpotensi menimbulkan konflik dan mengurangi
walau membutuhkan waktu lama. Misalnya, akses nelayan. Oleh karenanya diperlukan proses
mengakomodasi nilai-nilai sejarah budaya politik zonasi, yang harus melibatkan para pihak
keagamaan penganut Hindu seperti ritual berkepentingan terutama masyarakat setempat,
keagamaan di pura, kebutuhan nelayan dan dengan level keterlibatan yang tinggi.
pemanfaatan ekoturisme. Ketiga, meningkatkan keterlibatan
Melihat perkembangan ini, Kalamandeen masyarakat setempat menjadi penting untuk
& Gillson (2007) menyatakan bahwa sejarah dikedepankan, karena kesuksesan sebuah
pendekatan konservasi mengalami perubahan kawasan konservasi dapat dilihat dari pihak-
pemahaman, yaitu hubungan antara manusia pihak yang terlibat dalam proses zonasi (Agardy,
dengan alam dan reintegrasi sistem ekologi 1993; Day, 2002). Keterlibatan juga harus didorong
dengan sistem sosial. Hubungan sistem ekologi dalam pengelolaan kawasan konservasi, supaya
dan sosial akan terpusat dalam pengembangan kepentingannya dapat diperjuangkan dan
strategi konservasi, yaitu melalui rekonsiliasi diakomodasi, sehingga tidak ada yang merasa
kebutuhan sosial, budaya, dan ekonomi yang dirugikan. Paling tidak, persoalan seperti
bertujuan konservasi dengan batasan intrinsik memarjinalkan masyarakat setempat, konflik
sistem ekologi. Artinya, kawasan konservasi sosial, dan kerugian ekonomi karena dampak
tidak hanya fokus pada perlindungan biologi- zonasi dapat diminimalisir. Kesimpulannya,
ekologi, tapi juga pada kebutuhan manusia zonasi di laut TNBB dimanfaatkan untuk
dalam pemanfaatannya seperti sosial, budaya perlindungan ekologi-biologi, pariwisata dan
dan ekonomi. perikanan yang dilakukan oleh Balai TNBB,

265
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

perusahaan pariwisata dan nelayan. Zonasi Dudley, N. Ed/(2008). Guidelines for Applying
berdampak pada peluang akses para pihak, Protected Area Management Categories. Gland,
terutama masyarakat setempat, terhadap Switzerland: IUCN.
sumber daya di kawasan konservasi karena Fiske, Shirley J. (1992). Sociocultural Aspects of
mengatur kegiatan yang dilarang maupun yang Estabfishing Marine Protected Areas. Ocean
diizinkan. Pihak-pihak tersebut perlu dilibatkan & Coastal Management, 18, 25-46.
dalam proses zonasi melalui peningkatan level Grantham, Hedley S.; Agostini, Vera N.;
partisipasi masyarakat, tujuannya agar zonasi Wilson, Joanne; Mangubhai, Sangeeta;
dapat dipahami dan dapat diterima. Keterlibatan Hidayat, Nur; Muljadi, Andreas; Muhajir;
masyarakat dalam pengelolaan kawasan Rotinsulu, Chris; Mongdong, Meity; Beck,
konservasi seperti pengelolaan kolaboratif taman Michael W., & Possingham, Hugh P. (2013).
nasional juga harus mendapat perhatian serius. A Comparision of Zoning Analyses to
Inform The Planning of A Marine Protected
Daftar Pustaka Area Network in Raja Ampat, Indonesia.
Agardy, M.Tundi. (1993). Accommodating Marine Policy 38, 184–194.
Ecotourism in Multiple Use Planning of Jennings, Simon. (2009). The Role of Marine
Coastal and Marine Protected Areas. Ocean Protected Areas in Environmental
& Coastal Management 20, 219-239. Management. ICES Journal of Marine Science,
Bavinck, Maarten & Vivekanandan, Vriddagiri. 66: 16 – 21.
(2011). Conservation, Conflict and The Kalamandeen, Michelle & Gillson, Lindsey. (2007).
Governance of Fisher Wellbeing: Analysis Demything ‘‘Wilderness’’: Implications for
of The Establishment of The Gulf of Mannar Protected Area Designation and Management.
National Park and Biosphere Reserve. Biodivers Conserv, 16:165–182.
Environmental Management, 47:593–602. Oracion, Enrique G.; Miller, Marc L.; & Christie,
Bennett, Nathan James & Dearden, Philip. Patrick. (2005). Marine Protected Areas for
(2014). Why Local People Do Not Support Whom? Fisheries, Tourism, and Solidarity
Conservation: Community Perceptions of in a Philippine Community. Ocean & Coastal
Marine Protected Area Livelihood Impacts, Management, 48, 393 – 410.
Governance and Management in Thailand. Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut)
Marine Policy, 44, 107–116. No. P.56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman
Charles, Anthony & Wilson, Lisette. (2009). Zonasi Taman Nasional.
Human Dimensions of Marine Protected Peraturan Pemerintah (PP) No. 28/2011 tentang
Areas. ICES Journal of Marine Science, 66: Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan
6 – 15. Kawasan Pelestarian Alam.
Charnley, Susan. (2005). From Nature Tourism Peraturan Pemerintah (PP) No. 68/1998 tentang
to Ecotourism? The Case of The Ngorongoro Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Conservation Area, Tanzania. Human Pelestarian Alam
Organization, vol. 64, No. 1. Polunin, Nicholas V.C.; Halim, Matheus K.; &
Christie, Patrick. (2004). Marine Protected Areas Kvalvtgnaes, Knut. (1983). Bali Barat: An
as Biological Successes and Social Failures Indonesian Marine Protected Area and
in Southeast Asia. American Fisheries Society Its Resources. Biological Conservation, 25,
Symposium 42:155–164. 171-191.
Day, Jon C. (2002). Zoning — Lessons from The Ribot, Jesse C. & Peluso, Nancy Lee. (2003). A
Great Barrier Reef Marine Park. Ocean & Theory of Access. Rural Sociology, 68 (2) pp.
Coastal Management, Vol 45, 139 – 156. 153-181.

266
Amir Mahmud, Arif Satria, Rilus A. Kinseng, Zonasi Konservasi untuk Siapa?
Pengaturan Perairan Laut Taman Nasional Bali Barat

Robinson, Alan; Polunin, Nicholas; Kvalvagnaes, Hutan 2011. Bali: Taman Nasional Bali
Knut, & Halim, Matheus. (1981). Progress Barat
in Creating a Marine Reserve System in Taman Nasional Bali Barat. (2013). Laporan
Indonesia. Bulletin of Marine Science, 31(3): Tahunan Kegiatan Penyidikan dan Perlindungan
774-785. Hutan BTNBB 2012. Bali: Taman Nasional
Satria, Arif. (2014). Editorial “Politik Pengelolaan Bali Barat.
Pesisir”. Majalah Samudra Edisi 129 Th. XII Undang-Undang No 5/1990 tentang Konservasi
Januari. Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya.
Sowman, Marle; Hauck, Maria; Sittert, Lance Vandergeest, Peter. (1996). Mapping Nature:
van, & Sunde, Jackie. (2011). Marine Territorialization of Forest Rights in
Protected Area Management in South Thailand. Society & Natural Resources: An
Africa: New Policies, Old Paradigms. International Journal, 9:2, 159-175.
Environmental Management, 47:573–583. Vandergeest, Peter & Peluso, Nancy Lee.
Taman Nasional Bali Barat. (2005). Pengembangan (1995). Territorialization and State Power in
Pariwisata Alam di Taman Nasional Bali Barat. Thailand. Theory and Society, 24:385-426.
Bali: Taman Nasional Bali Barat. Wang, Guangyu; Innes, John L.; Wu, Sara W.;
Taman Nasional Bali Barat. (2005). Petunjuk Krzyzanowski, Judi; Yin, Yongyuan, Dai,
Teknis Penanganan Terpadu Tindak Pidana Shuanyou; Zhang, Xiaopin & Liu, Sihui,.
Kehutanan dan Perairan TNBB. Bali: TNBB (2012). National Park Development in
Taman Nasional Bali Barat. (2012). Laporan China: Conservation or Commercialization?,
Tahunan Kegiatan Penyidikan dan Perlindungan Ambio, 41:247–261.

267
Joko Tri Haryanto, Studi Ecological Fiscal Transfer sebagai Potensi Pendanaan Lingkungan di Daerah

PERSYARATAN NASKAH UNTUK
JURNAL ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (JSP)

1. Naskah yang ditulis untuk JSP meliputi hasil penelitian, baik penelitian lapangan maupun penelitian pustaka
dan artikel refleksi anaisis fenomena sosial politik.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris. Sistematika naskah hasil penelitian adalah judul, nama
penulis, abstrak disertai kata kunci, pendahuluan, metode, pembahasan atau analisis, simpulan, serta
daftar rujukan.
3. Naskah diketik dengan program Microsoft Word di atas kertas HVS Kuarto sekitar 5000-6000 kata dengan
huruf Palatino Linotype ukuran 12 pts.
4. Naskah diserahkan langsung kepada redaksi atau juga dapat melalui attachment e-mail ke alamat:
jspugm@gmail.com.
5. Judul artikel dalam Bahasa Indonesia tidak boleh lebih dari 14 kata, sedangkan judul dalam Bahasa Inggris
tidak boleh lebih dari 12 kata. Judul dicetak ukuran huruf 14 poin.
6. Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik, disertai lembaga asal, dan ditempatkan di bawah
judul artikel. Dalam hal naskah ditulis oleh tim, penyunting hanya berhubungan dengan penulis utama atau
penulis yang namanya tercantum dalam urutan pertama. Penulis utama harus mencantumkan alamat
korespodensi atau e-mail.
7. Abstrak dan kata kunci ditulis dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Panjang masing-masing abstrak
75-100 kata, sedangkan jumlah kata kunci 3-5 kata. Abstrak minimal berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian.
8. Tabel dan gambar harus diberi judul, berspasi tunggal, nomor dan sumber harus jelas. Jika terdapat foto
atau gambar, sebaiknya dalam format hitam putih.
9. Daftar rujukan hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk, dan semua sumber yang dirujuk harus
tercantum dalam daftar rujukan. Sumber rujukan minimal 80% berupa pustaka terbitan 10 tahun terakhir.
Rujukan yang digunakan adalah sumber-sumber berupa artikel-artikel penelitian dalam jurnal atau laporan
penelitian (termasuk skripsi, tesis, disertasi, buku, dab publikasi lainnya yang relevan). Artikel yang dimuat
di JSP disarankan untuk digunakan sebagai rujukan.
10. Perujukan dan pengutipan menggunakan teknik rujukan berkurung (nama akhir, tahun). Pencantuman
sumber pada kutipan langsung hendaknya disertai keterangan tentang nomor halaman tempat asal kutipan.
Contoh: (Laclau, 1989: 81).
11. Cek setiap rujukan artikel untuk akurasi dan pastikan setiap karya yang dikutip dalam artikel ditulis dalam
Daftar Pustaka atau Rujukan. Karya-karya yang tidak dikutip, tetapi tercantum dalam Daftar Pustaka atau
Rujukan akan dihilangkan oleh penyunting.
12. Daftar rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan
kronologis.

Buku:
Anderson, B. (1983). Imagined Communities. London: Verso.

Buku kumpulan artikel:
Saukah, A. & Waseso, M.G. (Eds)/ 2002. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah (Edisi ke-4, cetakan ke-1). Malang:
UM Press

Artikel dalam buku kumpulan artikel:
Curran, J. (1991). Rethinking the Media as a Public Sphere 4.

Artikel dalam jurnal atau majalah:
Haryanto, Ignatius. (2008). Industri media membesar, bagus untuk bisnis, tapi untuk demokrasi?. Jurnal
Sosial Demokrasi. Vol. 3 No. 1 Edisi Juli-September.

315
283
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 17, Nomor 3, Maret 2014

Artikel dalam Koran:
Pramono, Sidik. 12 Desember 2011. Menagih Hanji (De)sentralisasi. Kompas, hlm. 6.

Tulisan/berita dalam Koran (tanpa nama pengarang):
Kompas. 8 Desember, 2011. Pemilihan Pimpinan KPK: Antara Pakta Integritas dan Independensi, hlm. 3.

Dokumen resmi:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Depdikbud.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: PT. Armas
Duta Jaya.

Buku terjemahan:
Hennesssy, Bernard. (1989). Pendapat Umum. Edisi keempat, terjemahan Amiruddin Nasution. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian:
Dhakidae, D. (1991). The State, The Rise of Capital and the fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesia
News Industry. Disertasi PhD tidak diterbitkan, Ithaca, New York: Cornell University.
Suwannathat-Pian, K. (2004, 5-7 Februari). Question of Identity of the Muslims in Southern Thailand, A Comparative
Examination of Responses of the Sam-Sams in Satun and of the Thai Malay Muslim in the Three Provinces of
Yala, Narathiwat, and Pattani to Thailand’s Quest for National Identity. Paper presented at the A Plural
Peninsula: Historical Interaction among the Thai, Malays, Chinese and Others, Nakhon Si Thammarat.

Internet (karya individual):
Clancy, Robert. (2011). Etnics of Democracy. (Online). (http://www.cooperativeindividualism.org/clancy-
robert_ethics-of-democracy.html, diakses 14 Juni 2011).

Internet (artikel dalam jurnal online):
Kuncoro, Mudrajad. (2011). The Global Economic Crisis and Its Impact on Indonesia’s Education. Journal of
Indonesian Economy and Business (Online), Volume 26, No.1, 2011 (http://jebi.feb.ugm.ac.id/, diakses
29 Desember 2011).

Internet (bahan diskusi):
Wilson, D. 20 November 2005. Summary of Citing Internet Sites. NETTRAIN Discussion List. (Online),
(NETRAIN@ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22 November 1995)

13. Semua naskah ditelaah secara anonim oleh mitra bebestari (reviewers) yang ditunjuk oleh penyunting
menurut bidang kepakarannya. Penulis diberi kesempatan untuk melakukan perbaikan (revisi) naskah
atas dasar rekomendasi/saran dari mitra bebestari atau penyunting. Kepastian pemuatan atau penolakan
akan diberitahu melalui alamat e-mail Penulis.
14. Penyunting mempunyai hak untuk mengubah dan memperbaiki ejaan, tata tulis, dan tata bahasa naskah
yang dimuat.
15. Segala sesuatu yang menyangkut perizinan pengutipan atau penggunaan software komputer untuk
pembuatan naskah atau ihwal lain yang terkait dengan HaKI yang dilakukan oleh penulis, berikut konsekuensi
hukum yang mungkin timbul karenanya, menjadi tanggung jawab penuh penulis.
16. Penulis yang artikelnya dimuat akan mendapatkan bukti pemuatan sebanyak 3 (tiga) eksemplar dan cetak
lepas sebanyak 5 (lima) eksemplar. Artikel yang tidak dimuat tidak akan dikembalikan, kecuali atas permintaan
penulis.

316
284
Joko Tri Haryanto, Studi Ecological Fiscal Transfer sebagai Potensi Pendanaan Lingkungan di Daerah

PERMINTAAN
Gunting dan kirim ke alamat Redaksi JSP atau Fax ke 0274 563362

LANGGANAN

Kepada:
Redaksi Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio-Justisia, Bulaksumur, Yogyakarta, 55281
Telp./Fax: 0274 563362

285
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 18, Nomor 3, Maret 2015

Mohon dicatat sebagai pelanggan JSP
Nama : ...........................................................................................................................
Alamat : ...........................................................................................................................
Kode Pos : ...........................................................................................................................
Telepon/Hp : ...........................................................................................................................
E-mail : ...........................................................................................................................
Harap dikirim .............. eksemplar JSP mulai volume ....... nomor ................ tahun ...........

Dengan ini saya kirim uang sebesar Rp............................
Melalui: Bank Mandiri 137-00-1134476-5 a.n. Bevaola Kusumasari, M.Si

Harga:
• Harga Langganan (3 edisi) untuk satu tahun termasuk ongkos kirim 125.000,-
(kilat khusus) untuk seluruh wilayah di Indonesia
• Harga satu edisi JSP 50.000,- (kilat khusus) untuk seluruh wilayah Indonesia

........................, .......................... 201...........

( ............................................. )

FORMULIR INI BOLEH DI FOTO KOPI

286