You are on page 1of 8

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup
pengkajian satu unit penelitian secara intensif. Sangat penting untuk
mengetahui variabel yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Rancangan dari suatu studi kasus bergantung pada keadaan kasus namun
tetap mempertimbangkan faktor penelitian waktu. Riwayat dan pola
perilaku sebelumnya biasanya dikaji secara rinci. Keuntungan yang
paling besar dari rancangan ini adalah pengkajian secara rinci meskipun
jumlah respondennya sedikit, sehingga akan didapatkan gambaran satu
unit subjek secara jelas (Nursalam, 2016)
Peneliti melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Penglihatan di Puskesmas daerah
Ponorogo.
3.2 Batasan istilah
Batasan istilah dalam studi kasus ini adalah Asuhan Keperawatan
pada Pasien Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Penglihatan di
Puskesmas daerah Ponorogo, maka penyusunan studi kasus harus
menjabarkan tentang konsep halusinasi penglihatan. Batasan istilah
disusun secara naratif dan apabila diperlukan ditambahkan informasi
kualitatif sebagai penciri dari batasan yang dibuat oleh penulis.
3.3 Partisipan
Partisipan pada syudi kasus ini adalah klien dengan gangguan jiwa
persepsi sensori halusinasi penglihatan. Subjek yang digunakan adalah 1
klien. Kriteria subjek adalah :
a. Penderita gangguan jiwa halusinasi penglihatan dalam rentang
usia remaja hingga dewasa
b. Klien dengan perawatan di rumah
c. Klien sadar dan kooperatif
d. Tanpa ada komplikasi penyakit tertentu
3.4 Lokasi dan waktu
a. Lokasi studi kasus ini dilaksanakan di Puskesmas daerah
Ponorogo
b. Waktu penelitian
Jadwal kegiatan penyususnan proposal sampai dengan ujian
proposal dilaksanakan pada bulan ... sampai ... Kemudian
dilanjutkan dengan pengambilan data pada bulan ... selama satu
minggu. Setelah itu dilanjutkan pengolahan data pada bulan ...
sampai terselesaikannya KTI dan dilaksanakan sidang KTI.
3.5 Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek
dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam
suatu penelitian. Langkah-langkah dalam pengumpulan data bergantung
pada rancangan penelitian dan teknik instrument yang digunakan.
Selama proses pengumpulan data, peneliti memfokuskan pada
penyediaan subjek, melatih tenaga pengumpulan data ( jika diperlukan),
memerhatikan prinsip-prinsip validitas dan reliabilitas, serta
menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi agar data dapat terkumpul
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan ( Nursalam, 2016).
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk
mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau
informasi secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden),
atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut ( face
to face ). Jadi data tersebut diperoleh langsung dari responden
melalui suatu pertemuan atau percakapan. Wawancara sebagai
pembantu utama dari metode observasi. Gejala-gejala social yang
tidak dapat terlihat atau diperoleh melalui observasi dapat digali dari
wawancara.
Wawancara bukanlah sekadar memperoleh angka lisan saja,
sebab dengan wawancara peneliti akan dapat :
a. Memperoleh kesan langsung dari responden.
b. Menilai kebenaran yang dikatakan oleh responden.
c. Membaca air muka ( mimik ) dari responden.
a. Memberikan penjelasan bila pertanyaan tidak dimengerti
responden.
d. Memancing jawaban bila jawaban macet.

Wawancara ini dilakukan secara pada klien dan keluarga


klien untuk mengetahui keluhan utama yang dialami oleh klien, tanda
dan gejala penyakit, kebiasaan pola hidup, serta riwayat penyakit
sekarang dan riwayat penyakit dahulu. Wawancara ini juga dapat
dilakukan pada perawat yang ada di ruangan tersebut untuk
mendapatkan data yang lebih akurat. Dalam wawancara, peneliti bisa
mendapatkan data secara verbal yang meliputi : keluhan utama,
riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, tingkat
pengetahuan pasien dan keluarga

2. Observasi dan pemeriksaan fisik


Observasi atau pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa
secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya
rangsangan. Mula-mula rangsangan dari luar mengenai indra dan
terjadilah pengindraan, kemudian apabila rangsangan tersebut
menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan.
Dalam penelitian, pengamatan adalah prosedur yang berencana,
meliputi melihat, mendengar, dan mencatat sejumlah dan taraf
aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang berhubungan dengan
masalah yang diteliti. Dalam melakukan observasi, bukan hanya
“melihat”, atau “menonton” , tetapi keaktifan jiwa atau perhatian
khusus dan pencatatan. Ahli lain mengatakan bahwa observasi adalah
studi yang disengaja dan sistemik tentang fenomena sosial dan
gejala-gejala psychis dengan jalan “mengamati” dan “mencatat”
(Notoatmojdo, 2010)
Peneliti menggunakan metode wawancara untuk mengetahui
sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga mengenai stroke.
Pemeriksaan Fisik dalam pengkajian keperawatan dipergunakan
untuk memperoleh data obyektif dari klien. Tujuan dari pemeriksaan
fisik untuk menentukan status kesehatan klien, mengidentifikasi
masalah, dan data dasar guna mneyusun rencana asuhan
keperawatan. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan melalui empat
teknik yaitu inspeksi, palapasi, perkusi dan auskultasi (Nursalam,
2008) Pada pemeriksaan fisik pasien stroke dengan gangguan
Defisiensi Pengetahuan berfokuskan pada pemeriksaan comfort atau
kenyamanan, juga pada pemeriksaan koping, serta status pendidikan,
dan social, karena pada pemeriksaan itu kita dapat hasil subjektif
maupun objektif tentang bagaimana pasien mempunyai pengetahuan
dari sumber informasi yang klien dapatkan selain itu kita juga dapat
menilai bagaimana penerimaan dirinya selama sakit selain itu juga
harus melakukan pemeriksaan fisik lainnya seperti pemeriksaan
kepala, dada terdiri dari paru-paru dan jantung , kemudian
pemeriksaan fisik abdomen apakah ada gangguan pada sistem
pencernaan akibat bedrest atau gangguan eliminasi serta pemeriksaan
ekstremitas pada pasien.
3. Studi dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan kegiatan untuk memperoleh
dukungan teoritis terhadap masalah peneliti yang dipilih, maka
peneliti perlu banyak membaca buku – buku literatur (Notoatmodjo,
2010). Peneliti mengumpulkan data dengan cara mengambildata yang
berasal dari dokumen asli. Dokumen asli tersebut dapat berupa
gambar, table atau daftar periksa, hasil laboratorium, status pasien
dan lembar observasi yang dibuat.

3.6 Analisis data


Pengolahan dan analisa data penelitian (data mentah) harus diolah
berdasarkan prinsip-prinsip pengolahan data secara profesional.
Ketidakakuratan dalam pengolahan dan analisis data akan berakibat
kesimpulan hasil penelitian yang “bias” yang dapat membahayakan
kesehatan masyarakat. Hasil dari pengolahan dan analisis data tersebut
terwujud dalam “data penelitian” yang terekam dalam berbagai bentuk
(Notoatmodjo, 2010).
Analisa dan penelitian studi kasus keperawatan yang sigunakan adalah
analisa deret waktu. Analisa deret waktu adalah serangkaian nilai
pengamatan yang diambil selama kurun waktu tertentu dan studi
literature dituangkan secara diskriptif dan naratif.

Untuk cara penilaian Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi


Penglihatan melalui wawancara dan observasi setiap hari yang
dilakukan dengan acuan NOC, yaitu :

a. Mengetahui halusinasi secara umum


b. Mengetahui halusinasi penglihatan
c. Mengetahui Faktor-faktor penyebab
d. Mengetahui Durasi penyakit yang terjadi
e. Mengetahui Tanda dan gejala
f. Mengetahui Efek psikososial penyakit
g. Mengetahui bagaimana hubungan stress fidik dan emosional
h. Mengetahui Pilihan pengobatan yang tersedia
i. Menegtahui Efek terapeutik obat
j. Mengetahui Efek samping obat
k. Menjelaskan Komplikasi
Dengan skala pengukuran likert lima poin Nursing Outcomes
Classification (NOC) :
1 : Tidak ada pengetahuan
2 : Pengetahuan terbatas
3 : Pengetahuan sedang
4 : Pengetahuan banyak
5 : Pengetahuan sangat banyak

3.7 Etika penelitian


Agar studi alamiah benar-benar dapat terjadi dan peneliti tidak
mendapat persoalan masalah etik maka ada beberapa yang harus di
persiapkan oleh peneliti antara lain yaitu :
1. Meminta izin pada penguasa setempat dimana peneliti akan di
laksanakan sekaligus memberikan penjelasan tentang maksud dan
tujuan penelitian.
2. Menempatkan orang-orang yang diteliti bukan sebagai “objek”
melainkan orang yang derajatnya sama dengan peneliti.
3. Menghargai, menghormati dan patuh terhadap semua peratuaran,
norma, nilai masyarakat, kepercayaan, adat istiadat dan
kebudayaan yang hidup di dalam masyarakat tempat penelitian di
lakukan.
4. Memegang segala rahasia yang berkaitan dengan dengan
informasi yang diberikan.
5. Informasi tengang subjek tidak di publikasikan bilas ubjek tidak
menghendaki, termasuk nama subjek tidakakan di cantumkan
dalam laporan penelitian.
6. Peneliti dalam merekrut terlebih dahulu, memberikan imformed
consent, yaitu memberitahu secara jujur maksud dan tujuan terkait
dengan tujuan penelitian pada sampel dengan sejelas-jelasnya.
7. Selama dan sesudah penelitian (privacy) tetap dijaga, semua
partisipan diperlakukan sama, nama partisipan di ganti dengan
nomor (anonymity). Peneliti akan menjaga kerahasian informasi
yang diberikan dan hanya di gunakan untuk kegiatan penelitian
serta tidakan di publikasi akan tanpa izin partisipan.
8. Selama pengambilan data peneliti memberi kenyamanan pada
partisipan dengan mengambil tempat wawancara sesuai dengan
keinginan partisipan. Sehingga partisipan dapat leluasa tanpa ada
pengaruh lingkungan untuk mengungkapkan masalah yang di
alami (Saryono & Mekar , 2013)

DAFTAR PUSTAKA

Notoatmojdo, D. S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. (2008). Proses dan Dokumentasi Keperawatan . Jakarta: Salemba Medika.

Saryono, & Mekar , A. D. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam bidang
kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.