You are on page 1of 1

ANAK USIA SEKOLAH TIDAK SEKOLAH (AUSTS) DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI INDIKATOR PENENTU

KUALITAS PENDIDIKAN

Sebelum membahas anak usia sekolah tidak sekolah, terlebih yang perlu kita ketahui bahwa ada 2
faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan khusunya di Indonesia

Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu dapartemen pendidikan nasional,
dapartemen pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini kerjasama
dari masing2 pihak sangatlah diperlukan agar pendidikan itu sendiri dapat seimbang dan terjaga dengan
baik.

Faktor eksternal, yang mana masyarakat pada umumnya merupakan ikon penting pada tujuan
pendidikan agar dapat mencapai tujuan pendidikan dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Dari faktor eksternal inilah kita dapat mengerucutkan bahwa sangatlah diperlukan peran masyarakat
terutama pada anak usia sekolah dalam peningkatan kualitas pendidikan. Sedangkan pada
kenyataannya, kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data
dari dapartemen pendidikan nasional dan direktorat dapartemen agama tahun 2000 menunjukan
bahwa angka partisipasi murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 99,4 % atau sekitar
28, 3 juta siswa. Pencapaia APM ini termasuk tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih
rendah yaitu sekitar 9, 4 juta siswa. Sementara itu, layanan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan
pembinaan dalam usia dini tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara
keseluruhan. Oleh karena itu, sangatlah diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang
tepat guna mengatasi ketidak merataan tersebut.

Mengapa anak usia sekolah tidak sekolah dapat dijadikan sebagai indikator penentu kualitas
pendidikan?

Membahas terkait anak usia sekolah berarti termasuk pada sumber daya manusia. Dimana dengan anak
yang seharusnya sekolah tetapi karena berbagai faktor ia tak mengenyam pendidikan. Sehingga anak
akan tertinggal terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat.
Dan itu sangatlah berpengaruh pada penentu kualitas pendidikan.

Tidak dapat dipungkiri pula bahwa kualitas sumber daya manusia sangatlah erat kaitannya dengan
kualitas pendidikan, yang mana melalui pendidikan manusia dapat tumbuh dan berkembang sehingga
siap melaksanakan tugas sebagai manusia yang seutuhnya terutama dalam menghadapi tantangan
dalam kehidupan. Dan dengan pendidikan yang berkualitas akan melahirkan sumberdaya manusia yang
berkualitas pula.

Jadi, pendiidkan yang berkualitas sangat memerlukan sistem pengaturan pelaksanaan pendidikan yang
jika kita mengarah pada kualitas sumberdaya manusianya bukan hanya ditekankan pada pendidikannya
saja namun juga diperlukan moral. Percuma saja pendidikannya bagus namun moralnya bubrag, perlu
penyeimbangan antara keduanya.