You are on page 1of 59

GAMBARAN NYERI DISMENORE PADA REMAJA PUTRI

DI SMK NU 01 SLAWI

Disusun Oleh

WULAN SUCI .R
C1014065

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI MANDALA HUSADA
2018

i
SKRIPSI

GAMBARAN NYERI DISMENORE PADA REMAJA PUTRI


DI SMK NU 01 SLAWI

Disusun Oleh
WULAN SUCI .R
C1014065

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI MANDALA HUSADA
2018

ii
PENGESAHAN SKRIPSI

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi penelitian yang


berjudul :

GAMBARAN NYERI DISMENORE PADA REMAJA PUTRI


DI SMK NU 01 SLAWI

Dipersiapkan dan disusun oleh


WULAN SUCI .R
C1014065

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing proposal penelitian untuk


dipertahankan di hadapan penguji skripsi pada bulan Agustus 2018

Pembimbing I, Pembimbing II,

Deni Irawan, S.Kp. Ns.,M.Kep Arifin Dwi Atmaja, M.Kep.,Ns.


NIPY : 1985.03.10.09.050 NIPY: 1975.07.04.03.032

iii
PERNYATAAN
STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA
KEASLIAN KARYA
SLAWI
ILMIAH

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Wulan Suci Rahayu
NIM : C1014065

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:


1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan
dan mempertanggung jawabkan.
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber
asli atau tanpa izin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini.
Jika dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah
melalui pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap
dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di STIKes Bhakti Mandala
Husada Slawi.
Demikian penyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Slawi, Agustus 2018


Yang Menyatakan

Wulan Suci R

iv
v
GAMBARAN RENYI DISMENORE PADA REMAJA PUTRI DI SMK NU
01 SLAWI
Wulan Suci Rahayu1), Deni Irawan2), Arifin Dwi Atmaja3)

1)
Prodi Sarjana Keperawatan dan Ners, STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi
52416, Tegal, Indonesia
2),3)
Dosen STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal, Indonesia
Email: wulansuci466@gmail.com

ABSTRAK

Dismenore adalah nyeri kram yang terjadi pada daerah peru, mulai terjadi 24 jam
sebelum terjadinya perdarahan haid dan dapat bertahan 24, 36 jam meskipun
berlangsung hanya 24 jam pertama. Jenis penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif retrospektif non analitik. Penelitian dilakukan tanggal 06 Agustus 2018
Di SMK NU 01 Slawi dengan alat penelitian menggunakan kuesioner. Besar
sampel pada penelitian ini menggunakan teknik rendom sampling yaitu teknik
pengambilan hanya pertama yang dipilih yang berjumlah 60 populai. distribusi
frekuensi nyeri dismenore pada siswa SMK NU 01 Slawi bahwa drajat dismenore
yang dialami yaitu sebanyak 2 (3,3%) siswa yang mengalami tidak nyeri, 23
(38,3%) siswa yang mengalami nyeri ringan, 11 (18,3%) siswa yang mengalami
nyeri sedang, 20 (33,3%) siswa yang mengalami nyeri berat, dan 4 (6,7%) siswa
yang mengalami nyeri tak tertahankan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
penulis menyarankan siswi yang mengalami dismenore berat untuk melakukan
pemeriksaan pada tenaga kesehatan dan meningkatan perhatian pada masalah
kesehatan reproduksi dengan memberikan penyuluhan mengenai upaya
penanganan dismenore.

Kata Kunci : Dismenore, Nyeri Dismenore, Remaja Putri

vi
DESCRIPTION OF RENYI DISMENORE IN ADOLESCENT PRIVATE
VOCATIONAL SCHOOL IN SMK NU 01 SLAWI

Wulan Suci Rahayu1), Deni Irawan2), Arifin Dwi Atmaja3)

1) Bachelor of Nursing and Ners Study Program, STIKes Bhakti Mandala Husada
Slawi 52416, Tegal, Indonesia
2), 3) Lecturers of Bhakti Mandala Husada Slawi 52416 STIKes, Tegal, Indonesia

Email: wulansuci466@gmail.com

ABSTRACT

Dysmenorrhea is cramping pain that occurs in the peruvian region, starting 24


hours before menstrual bleeding and can last 24, 36 hours even though it lasts
only the first 24 hours. This type of research is a non-analytic retrospective
descriptive study. The study was conducted on August 6, 2018 at SMK NU 01
Slawi with a research tool using a questionnaire. The sample size in this study
uses the rendom sampling technique, which is the only first chosen technique
which amounts to 60 popula- tions. the frequency distribution of dysmenorrhea
pain in students of NU 01 Slawi Vocational School that the degree of
dysmenorrhea experienced were 2 (3.3%) students who experienced no pain, 23
(38.3%) students who experienced mild pain, 11 (18.3%) students who experience
moderate pain, 20 (33.3%) students who experience severe pain, and 4 (6.7%)
students who experience unbearable pain. Based on the results of the study, the
authors suggested female students who had severe dysmenorrhea to check health
professionals and increase attention to reproductive health problems by providing
counseling about efforts to treat dysmenorrhea.

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan skripsi ini
dengan judul “Gambaran Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri di SMK NU 01
Slawi ”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana
keperawatan pada program Studi Pendidikan S1 Ilmu Keperawatan di STIKes
BHAMADA Slawi. Selama penyusunan skripsi ini saya banyak mendapatkan
bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya
menyampaikan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang
membantu dalam menyelesaikan proposal skripsi ini, khususnya kepada:
1. Dr. Maufur selaku Penanggungjawab Sementara Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Bhakti Mandala Husada Slawi yang telah memberikan izin
kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
2. Tri Agustina, SST., M. Kes selaku Ketua STIKes Bhamada Slawi.
3. Firman Hidayat, M. Kep., Ns., Sp. Kep. J selaku Ketua Program Studi
Sarjana Keperawatan dan Ners STIKes Bhamada Slawi.
4. Deni Irawan, M. Kep., Ns selaku dosen pembimbing I yang telah banyak
memberikan bimbingan, kritik, saran dan memberi arahan dalam
penyusunan proposal ini demi kelancaran dan hasil yang baik dalam
penelitian yang akan dilakukan.
5. Arifin Dwi Atmaja, M. Kep., Ns selaku dosen pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan, kritik, saran dan memberi arahan dalam
penyusunan proposal ini demi kelancaran dan hasil yang baik dalam
penelitian yang akan dilakukan.
6. Susi Muryani, MNS selaku koordinator Metodologi Penelitian yang telah
memberikan arahan yang bermanfaat.
7. dr. Titis Cahyaningsih, MMR selaku direktur RSUD dr. Seselo yang telah
memberikan izin penelitian.
8. Seluruh dosen Program Studi Sarjana Keperawatan dan Ners STIKes
Bhamada Slawi yang telah banyak memberikan ilmu teori maupun praktik

viii
lapangan dan telah memberikan pendidikan moral serta selalu memberikan
nasihat selama perkuliahan.
9. Terimakasih saya ucapkan untuk kedua orang tua saya tercinta Bapak
durajak, dan Ibu sutyah yang telah banyak memberi fasilitas, dukungan
moral, doa, semangat dan motivasi yang tiada henti, serta keluarga saya
yang sangat saya cintai dan sayangi.
10. Sahabat seperjuangan tersayang Dewi sulastri, lili nur indah sari, nita
yuliana, rofiatul atiqoh, deasi amelina,dan riskiana lutfi yang telah
memberikan semangat dan dukungan serta selalu ada setiap dibutuhkan.
11. Untuk teman-teman seperjuangan Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
STIKes Bhamada Slawi angkatan tahun 2014 yang selalu memotivasi
selama pembuatan skripsi ini berlangsung, mudah-mudahan Allah SWT
dapat membalas semuanya.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat
akan kemampuan yang dimiliki saya sebagai peneliti. Untuk itu kritik dan saran
dari semua pihak sangat saya harapkan demi penyempurnaan pembuatan tugas ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan,
khususnya di bidang kesehatan dan juga dapat berguna bagi pembacanya,
khususnya para mahasiswa mendatang yang melakukan penelitian pada kajian
yang sama.

Slawi, Agustus 2018

Peneliti

ix
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................. i
DAFTAR TABEL .......................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... iv
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Tujuan Penelitian......................................................................... 5
1.3 Manfaat Penelitian....................................................................... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 7
2.1 Konsep Remaja ......................................................................... 7
2.1.1 Pengertian Remaja ............................................................. 7
2.1.2 Tahap Perkembangan ........................................................ 7
2.1.3 Masa Pubertas Remaja ...................................................... 9
2.1.4 Penyebab Perubahan pada masa Pubertas ........................ 10
2.2 Konsep Dismenore ..................................................................... 11
2.2.1 Pengertian Dismenore ........................................................ 11
2.2.2 Etiologi Dismenore ........................................................... 12
2.2.3 Tanda dan Gejala Dismenore ............................................ 13
2.2.4 Klasifikasi Dismenore ...................................................... 13
2.2.5 Derajat Nyeri Dismenore .................................................. 14
2.2.6 Penatalaksanaan Dismenore ............................................. 14
2.2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi Dismenore .................. 16
2.3 Konsep Nyeri .............................................................................. 17
2.3.1 Pengertian Nyeri ............................................................... 17
2.3.2 Klasifikasi nyeri ................................................................ 17
2.3.3 Pengukuran skala nyeri ..................................................... 18
2.4 Kerangka Teori ............................................................................ 19
2.5 Kerangka konsep ......................................................................... 19

x
BAB 3 METODE PENELITIAN................................................................... 20
3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ......................................................... 20
3.2 Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data ..................................... 21
3.3 Populasi dan sampel ........................................................................... 22
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 23
3.5 Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengkuruan ....................... 24
3.6 Tekhnik pengolahan Data dan Analisa Data ...................................... 25
3.7 Etika penulisan ................................................................................... 26
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian ................................................................................... 28
4.2 Pembahasan ........................................................................................ 29
BAB 5 PENUTUP
5.1 Simpulan ............................................................................................. 33
5.2 Saran ................................................................................................... 33
Jadwal Penelitian...................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 37
LAMPIRAN
Lampiran 1 (Lembar Kuesioner Nyeri Dismenore) ...................................... 39
Lampiran 2 (Lembar Permohonan Menjadi Responden) ............................... 40
Lampiran 3 (Lembar Persetujuan Penelitian / Inform Consent) .................... 41
Lampiran 4 (Lembar konsultasi) .................................................................... 42
CURICULUM VITAE ................................................................................... 45

xi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel
3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran ............ 33
3.2 Jadwal Penelitian ...................................................................................... 36

xii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar
2.1 Numerical Ranting Scale .......................................................................... 18
2.2 Kerangka Teori .......................................................................................... 27
2.3 Kerangka Konsep....................................................................................... 28

xiii
DAFTAR SINGKATAN

WHO : World Health Organization


LMR : Locus minoris resstance
Depkes : Departemen Kesehatan
Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan
NRS : Numeric Rating Scale
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Remaja merupakan masa dimana individu mengalami perubahan dalam aspek
kognitif, emosi, sosial, dan moral, diantara masa anak-anak menuju masa dewasa
(Kusmiran, 2014). Menurut World Health Organization (WHO), mendefinisikan
remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun. Masa remaja merupakan
masa perkembangan pada diri remaja yang sangat penting, diawali dengan
matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga nantinya mampu bereproduksi.
Pada masa remaja terdapat perubahan-perubahan yang terjadi seperti perubahan
hormonal, fisik, psikologis maupun sosial, dimana kondisi tersebut dinamakan
dengan masa pubertas. Salah satu tanda pubertas pada remaja putri yaitu
terjadinya menstruasi (Batubara, 2012).

Menstruasi adalah bagian normal dari proses siklus alami yang terjadi pada wanita
sehat di antara masa pubertas hingga akhir tahun - tahun reproduksi (Verawaty &
Rahayu, 2012). Menstruasi datang setiap bulan pada usia reproduksi, banyak
wanita yang mengalami ketidaknyamanan fisik, atau merasa tersiksa saat
menjelang atau selama haid berlangsung. Dismenore adalah rasa sakit pada masa
menstruasi yang cukup parah hingga bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa
sakit dismenore bisa bermacam-macam, mulai dari rasa sakit yang tajam, tumpul,
berdenyut, mual, terbakar atau menusuk dan biasanya bersamaan dengan
menorragia (Verawaty & Rahayu, 2012). Dismenorea adalah kondisi medis yang
terjadi sewaktu haid atau menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas dan
memerlukan pengobatan yang ditandai dengan nyeri atau rasa sakit di daerah
perut maupun panggul (Judha dkk, 2012).

Prevelensi dismenore dalam beberapa penelitian menunjukan frekuensi yang


cukup tinggi. Review WHO, rata rata insidensi terjadinya dismenore pada wanita
muda antara 16,8 – 81%. Dalam penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa

15
pravelensi disminore mencapai 45 – 97% kebanyakan wanita di inggris mengeluh
dismenore, dimana prevelensi hampir sama di temui di negara – negara Eropa.
Prevalensi terendah di bulgaria (8,8%) dan prevalensi tertinggi di negara
Finlandia (WHO, 2015). Angka kejadian dismenore di indonesia terdiri dari
54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder menurut Journal and
enviromental (2010). Sedangkan di daerah jakarta yang mengalami disminore
terdapat 83,5%. Gejala dismenore primer baiasanya terjadi pada wanita usia
produktif 3 sampai 5 tahun setelah mengalami haid pertama dan wanita yang
belum pernah hamil (Calis AK,2015). Penelitian yang dilakukan oleh yuliatum
(2013) menyimpulkan bahwa karateristik usia yang sering mengalami nyeri haid
adalah usia 15 – 17 tahun (91,5%) dan berdasarkan frekuensi dismenore selama 2
hari pertama menstruasi. Penelitian dari Utami (2014) Menunjukan hasil bahwa
dari 232 orang diperoleh 87,1% responden mengalami dismenore.

Setiap wanita memiliki pengalaman menstruasi yang berbeda-beda.Sebagian


wanita mendapatkan menstruasi tanpa keluhan, namun tidak sedikit dari mereka
yang mendapatkan menstruasi disertai keluhan sehingga mengakibatkan rasa
ketidaknyamanan berupa dismenorea (Badziad, 2009). Nyeri haid dapat
menyerang perempuan yang mengalami haid pada usia berapapun. Tidak ada
batasan usia dan sering disertai dengan kondisi-kondisi yang memperberat, seperti
pusing, berkeringat dingin, bahkan hingga pingsan. Jika sudah seperti ini,
tentunya nyeri haid tidak boleh dibiarkan begitu saja. Nyeri harus diatasi dengan
benar (Anurogo & Wulandari, 2011).

Penanganan atau pengobatan dismenorea ini cukup bervariasi mulai dari cara
sederhana dengan menggunakan kompres air hangat di bagian perut,
menggunakan obat-obatan analgesik, cara lain yang dapat dilakukan adalah
dengan obat-obatan hormonal, obat - obatan nonsteroid anti prostaglandin sesuai
dengan resep dokter (Prawirohardjo, 20010). Dismenorea dapat menyerang
perempuan yang mengalami haid pada usia berapapun. Tidak ada batasan usia dan
sering disertai dengan kondisi yang memperberat, seperti pusing, berkeringat

16
dingin, bahkan hingga pingsan. Jika sudah seperti ini, tentunya nyeri haid tidak
boleh dibiarkan begitu saja. Nyeri harus diatasi dengan benar (Anurogo &
Wulandari, 2011).

Siswi yang mengalami disminore rata-rata berumur 15,9 tahun, usia pertama kali
menstruasi rata-rata berumur 11, 88 tahun, siklus menstruasi rata - rata 29, 27 hari
dan 20 siswi mengalami menstruasi yang tidak teratur. Sebagian besar siswa
mengalami derajat disminore nyeri ringan. Sedangkan upaya penanganan yang
dilakukan yaitu dengan cara non farmakologi yaitu dengan teknik distraksi,
minum obat anti nyeri di warung (Rakhma, 2012). Hasil penelitian Widiyanti
(2013), menunjukkan sebagian besar remaja mengalami nyeri haid (dismenorea)
kategori ringan (63,2%), dan aktifitasnya tidak terganggu (77,6%).

Selain itu juga, penelitian yang dilakukan oleh Hartati, et all (2012) mekanisme
koping menghadapi dismenorea menunjukkan bahwa ada berbagai macam
mekanisme koping yang dilakukan partisipan dalam mengatasi dismenorea sesuai
dengan pengetahuan, pengalaman, dan kepercayaan masing-masing. Mekanisme
koping yang dilakukan meliputi istirahat atau tiduran, pengalihan, kompres
hangat, minum air hangat, mandi air hangat,memberikan minyak kayu putih atau
koyo pada bagian yang nyeri, minum air putih, minum obat-obatan, serta minum
jamu. Selanjutnya faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme koping saat
dismenorea yang diungkapkan partisipan meliputi fisik, psikologis, dan dukungan
sosial. Faktor fisik antara lain kondisi fisik dan tingkat atau skala nyeri. Kemudian
faktor psikologis antara lain pikiran positif, stres, dan diri pribadi. Selain fisik dan
psikologis adalah dukungan sosial meliputi keluarga, lingkungan, dan budaya.
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan secara langsung pada tanggal 13
Maret 2018 di SMK NU 01 Slawi Kabupaten Tegal. Didapatkan informasi dari
salah satu guru BK bahwa siswa kelas IX A dan B berjumlah 60. Waawancara
yang dilakukan pada 20 siswa yang menderita dismenore, ada 2 siswa yang
mengatakan pernah pingsan saat mengalami disminore, yang meminum obat/jamu
pereda nyeri sebanyak 4, tidur sebanyak 2. Yang Mengoles minyak kayu putih

17
sebanyak 8, dan yang tidak melakukan apa- apa sebanyak 4 Berdasarkan dengan
fenomena di atas saya tertarik untuk mengambil masalah penelitian ” Gambaran
Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri diSMK NU 01 Slawi.

1.2. Tujuan penelitian


1.2.1. Tujuan umum
Mengetahui Gambaran Nyeri Dismenore Pada Remaja Di SMK NU 01
SLAWI
1.2.2. Tujuan khusus
1.2.2.1. Mengidentifikasi karakteristik responden pada Remaja Putri Usia 17-20
DI SMK NU 01 SLAWI
1.2.2.3. Mengidetifikasi Nyeri Dismenore pada Remaja Putri DI SMK NU 01
SLAWI
1.3. Manfaat Penelitian
1.3.1. Manfaat aplikatif
Menambah pengetahuan dan informasi perawat mengenai gambaran nyeri
dismenore pada remaja di SMK NU 01 SLAWI
1.3.2. Manfaat keilmuan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu informasi dan masukan
terkait dengan gambaran nyeri dismenore pada remaja di SMK NU 01
SLAWI
1.3.3. Manfaat metodologi
Bagi peneliti berikutny hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber
referensi dan informasi terutama dalam bidang keperawatan.

BAB 2

18
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Remaja
2.1.1 Pengertian Remaja
Menurut World Health Organization (WHO) (2014) remaja atau dalam istilah
asing yaitu adolescence yang berarti tumbuh kearah kematangan. Remaja adalah
seseorang yang memiliki rentang usia 10-19 tahun. Remaja adalah masa dimana
tanda-tanda seksual sekunder seseorang sudah berkembang dan mencapai
kematangan seksual. Remaja juga mengalami kematangan secara fisik, psikologis,
maupun sosial. Remaja merupakan proses seseorang mengalami perkembangan
semua aspek dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Peralihan masa kanak-
kanak menjadi dewasa sering disebut dengan masa pubertas. Masa pubertas
merupakan masa dimana remaja mengalami kematangan seksual dan organ
reproduksi yang sudah mulai berfungsi. Masa pematangan fisik pada remaja
wanita ditandai dengan mulainya haid, sedangkan pada remaja laki-laki ditandai
dengan mengalami mimpi basah (Sarwono, 2011). Remaja memiliki artian yang
sangat luas dari segi fisik, psikologi, dan sosial. Secara psikologis remaja adalah
usia seseorang yang memasuki proses menuju usia dewasa. Masa remaja
merupakan masa dimana remaja tidak merasa bahwa dirinya tidak seperti anak-
anak lagi dan merasa bahwa dirinya sudah sejajar dengan orang lain di sekitarnya
walaupun orang tersebut lebih tua (Hurlock, 2011).

2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja


Menurut Sarwono (2011) masa perkembangan remaja di bagi menjadi tiga tahap
yaitu
2.1.2.1 Masa remaja awal (11-13)
Remaja awal sering dikenal dalam istilah asing yaitu early adolescence memiliki
rentang usia antara 11-13 tahun. Pada tahap ini mereka masih heran dan belum
mengerti akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnhya dan dorongan-
dorongan yang menyertai perubahan tersebut. Mereka juga mengembangkan
pikiran-pikiran baru, mudah tertarik pada lawan jenis, dan juga mudah terangsang
secara erotis.

19
2.1.2.2 Masa Remaja Tengah (14 – 16)
Remaja yang dikenal dalam istilah asing yaitu middle adolescence memiliki
rentang usia antara 14-16 tahun. Tahap remaja madya atau pertengahan sangat
mebutuhkan temannya. Masa ini remaja lebih cenderung memiliki sifat yang
mencintai dirinya sendiri (narcistic). Remaja pada tahap ini juga masih bingung
dalam mengambil keputusan atau masih labil dalam berperilaku.
2.1.2.3 Remaja Akhir (17 – 20)
Remaja akhir atau istilah asing yaitu late adolescence merupakan remaja yang
berusia antara 17-20 tahun. Masa ini merupakan masa menuju dewasa dengan
sifat egois yaitu mementingkan diri sendiri dan mencari pengalaman baru. Remaja
akhir juga sudah terbentuk identitas seksualnya. Mereka biasanya sudah berpikir
secara matang dan intelek dalam mengambil keputusan.
Menurut Wong, et al (2009 p.585) perkembangan remaja terlihat pada
2.1.2.4 Perkembangan biologis
Perubahan fisik pada pubertas merupakan hasil aktivitas hormonal di bawah
pengaruh sistem saraf pusat. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak pada
pertumbuhan peningkatan fisik dan pada penampakan serta perkembangan
karakteristik seks sekunder.
2.1.2.5 Perkembangan psikologis
Teori psikososial tradisional menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa
remaja menghasilkan terbentuknya identitas. Pada masa remaja mereka mulai
melihat dirinya sebagai individu yang lain.
2.1.2.6 Perkembangan kognitif
Berfikir kognitif mencapai puncaknya pada kemampuan berfikir abstrak.
Remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual yang merupakan ciri
periode berfikir konkret, remaja juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang
akan terjadi.

2.1.2.7 Perkembangan moral

20
Anak yang lebih muda hanya dapat menerima keputusan atau sudut pandang orang
dewasa,sedangkan remaja,untuk memperoleh autonomi dari orang dewasa mereka
harus menggantikan seperangkat moral dan nilai mereka sendiri.
2.1.2.8 Perkembangan spiritual
Konsep abstrak dan mengintepretasikan analogi serta simbol - simbol. Mereka
mampu berempati, berfilosofi dan berfikir secara logis.
2.1.2.9 Perkembangan sosial
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka
dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari
kewenangan keluarga. Masa remaja adalah masa dengan kemampuan bersosialisasi
yang kuat terhadap temen dekat dan teman sebaya

2.1.3 Masa Pubertas Pada Remaja


Pubertas adalah proses kematangan dan pertumbuhan yang terjadi ketika organ-
organ reproduksi mulai berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai muncul
(Wong, et al. 2009 p.585). Masa puber merupakan masa transisi dan
tumpang tindih. Dikatakan transisi karena pubertas berada dalam peralihan antara
masa kanak-kanak dengan masa remajadan dikatakan tumpang tindih karena
beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanak masih dimilikinya, sementara
beberapa ciri remaja juga dimilikinya. Jadi masa puber meliputi tahun-tahun akhir
masa kanak-kanak dan awal masa remaja.Menjelan anak matang secara seksual, ia
masih disebut “anak puber”, begitu matang secara seksual ia disebut “remaja” atau
“remaja muda” (Al Mighwar, 2006, p.70).Masa pubertas disebut sebagai masa
bangkitnya kepribadian ketika minatnya lebih ditujukan kepada perkembangan
pribadi sendiri. Pribadi itulah yang menjadi pusat pikirannya (Zulkifli, 2005, p.70).
Al-Mighwar (2006, p.20) menjelaskan masa puber terjadi secara bertahap, yaitu :
2.1.4.1 Tahap Prapubertas
Tahap ini disebut juga tahap pematangan yaitu pada satu atau dua terakhir masa
kanak-kanak. Pada masa ini anak dianggap sebagai ”prapuber”, sehingga ia
tidak disebut seorang anak dan tidak pula seorang remaja. Pada tahap ini, ciri-ciri

21
seks sekunder mulai tampak, namun organ-organ reproduksinya belum berkembang
secara sempurna.
2.1.4.2 Tahap Puber
Tahap ini disebut juga tahap matang, yaitu terjadi pada garis antara masa kanak-
kanak dan masa remaja. Pada tahap ini, kriteria kematangan seksual mulai muncul.
Pada anak perempuan terjadi haid pertama dan pada anak laki-laki terjadi mimpi
basah pertama kali. Dan mulai berkembang ciri-ciri seks sekunder dan sel-sel
diproduksi dalam organ-organ seks.
2.1.4.2 Tahap Pascapuber
Pada tahap ini menyatu dengan tahun pertama dan kedua masa remaja. Pada tahap
ini ciri-ciri seks sekunder sudah berkembang dengan baik dan organ-organ seks
juga berfungsi secara matang. Wong, et al (2009 p.585) mengatakan bahwa
pubertas dibagi atas tiga tahap meliputi. Prapubertas merupakan periode sekitar 2
tahun sebelum pubertas ketika anak pertama kali mengalami perubahan fisik yang
menandakan kematangan seksual. Pubertas merupakan titik pencapaian kematangan
seksual, ditandai dengan keluarnya darah menstruasi pertama kali pada remaja putri
sedangkan pada remaja putra indikasi seksualitasnya kurang jelas. Pascapubertas
merupakan periode 1 sampai 2 tahun setelah pubertas, ketika pertumbuhan
tulang telah lengkap dan fungsi reproduksinya terbentuk dengan cukup baik.

2.1.4 Penyebab Perubahan Pada Masa Pubertas


Usia mulainya pubertas dan perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai faktor
biologis, psikososial dan lingkungan. Faktor terpenting tampaknya adalah kesehatan
umum individu (Henderson, 2005 p.3). Santrock (2003, p.84) mengemukakan
berbagai riset menemukan bahwa sebelum anak matang secara seksual, pengeluaran
hormon seks jarang terjadi. Akan tetapi, dengan semakin meningkatnya jumlah
hormon yang dikeluarkan, struktur dan fungsi organ-organ seks akan semakin
matang. Hubungan yang erat antara kelenjar pituitary yang ada pada dasar otak
telah terbentuk dengan gonad atau kelenjar seks. Jadi ada tiga hal yang menjadi
penyebab masa puber, yaitu :
2.1.5.1 Peran kelenjar pituitary

22
Kelenjar pituitary memproduksi dua hormon, yaitu hormon pertumbuhan yang
berpengaruh dalam menentukan besarnya individu, hormon gonadotropik yang
merangsang gonad untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebelum datangnya masa
puber, jumlah hormon gonadotropik bertambah secara bertahap, demikian pula
kepekaan gonad terhadap hormon gonadotropik. Dalam keadaan itulah
terjadinya perubahan-perubahan masa puber.
2.1.5.2 Peranan Gonad
Seiring pertumbuhan dan perkembangan gonad, bertambah besarlah organ-organ
seks, yaitu ciri-ciri seks primer dan fungsinyapun menjadi matang. Begitu pula
ciri-ciri seks sekunder seperti berkembangnya rambut kemaluan.
2.1.5.3 Interaksi kelenjar pituitary dan gonad
Hormon yang telah diproduksi gonad, yang telah dirangsang oleh hormon
gonadotropik yang diproduksi oleh kelenjar pituitary, kemudian bereaksi terhadap
kelenjar ini dan secara berangsur-angsur mengakibatkan penurunan jumlah
kromosom hormon pertumbuhan yang diproduksi sehingga menjadikan proses
pertumbuhan terhenti. Interaksi antara hormon gonadotropik dan gonad terus
berlangsung sepanjang kehidupan reproduksi individu, kemudian berkurang secara
perlahan saat wanita mendekati menopause.Wong, et al (2009 p.585) mengatakan
bahwa secara umum peristiwa pubertas disebabkan oleh pengaruh hormon dan
dikendalikan oleh kelenjar hipofisis anterior (adenohiposis) sebagai respons
terhadap stimulasi dari hipotala

2.2 Konsep Menstruasi


2.2.1 Pengertian Menstruasi
Menstruasi merupakan siklus yang kompleks dan berkaitan dengan psikologi-
pancaindra, korteks serebri, aksis hipotalamus-hifofisis-ovarial, dan endrogen
(uterus-endometrium dan alat seks sekunder). Dalam ovarium terjadi tumbuh
kembang folikel primordial tanpa disertai ovulasi sehingga terdapat peningkatan
“estrogen” untuk merangsang nukleus supra optikal (praoptikus), sehingga
hipotalamus-hipofisis mengeluarkan luteinizing hormone surge (tinggi), yang
berperan untuk ovulasi. Pada umumnya menstruasi akan berlangsung setiap 28

23
hari ditambah atau dikurangi sampai 7 hari. Lama perdarahannya sekitar 3-5 hari,
dan tidak terasa nyeri. Jumlah darah yang hilang sekitar 30-40 cc. Puncaknya hari
ke-2 atau 3 dengan jumlah pemakaian pembalut sekitar 2-3 buah (Manuaba 2008).

Pada masa reproduksi dan dalam keadaan tidak hamil, selaput lendir uterus
mengalami perubahan-perubahan siklik yang berkaitan erat dengan aktivitas
ovarium. Dalam siklus haid dibedakan fase endometrium, yaitu (Wiknjosastro
2007) :
2.2.1.1 Fase menstruasi atau deskuamasi
Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai perdarahan.
Fase ini berlangsung 3-4 hari.
2.3.1.2 Fase pascahaid atau fase regenerasi
Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan sebagian besar berangsur-angsur
sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang tumbuh dari sel-sel
epitel endometrium. Pada waktu ini tebal endometrium + 0,5 mm. Fase ini telah
mulai sejak fase menstruasi dan berlangsung + 4 hari.
2.3.1.3 Fase intermenstruum atau fase proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal + 3,5 mm. Fase ini
berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid. Fase proliferasi
dapat dibagi atas 3 subfase, meliputi Fase proliferasi dini (early proliferation
phase) Fase proliferasi dini berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase
ini dapat dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel,
terutama dari mulut kelenjar. Kelenjar-kelenjar kebanyakan lurus, pendek, dan
sempit. Bentuk kelenjar ini merupakan ciri khas fase proliferasi. Fase proliferasi
madya (midproliferation phase)
Fase ini berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan
bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan
tinggi. Kelenjar berkeluk-keluk dan bervariasi. Dan Fase proliferasi akhir (late
proliferation phase) Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase
ini dapat
dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis.

24
2.3.1.3 Fase prahaid atau fase sekresi
Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28.
Pada fase ini endometrium kira-kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah
menjadi panjang, berkeluk-keluk, dan mengeluarkan getah, yang makin lama
makin nyata. Fase sekresi dibagi menjadi dua fase
2.3.1.3.1 Fase sekresi dini
Dalam fase ini endometrium lebih tipis daripada fase sebelumnya karena
kehilangan cairan. Pada saat fase sekresi dini dapat dibedakan beberapa lapisan,
meliputi Stratum basale, yaitu lapisan endometrium dalam yang berbatasan
dengan lapisan miometrium. Stratum spingosum, yaitu lapisan tengah yang
berbentuk anyaman
seperti spons. Dan Stratum kompaktum, yaitu lapisan atas yang padat.
2.3.1.3.2 Fase sekresi lanjut
Endometrium dalam fase ini tebalnya 5-6 mm. Dalam fase ini terdapat
peningkatan dari fase sekresi dini, dengan endometrium sangat banyak
mengandung pembuluh darah yang berkeluk-keluk dan kaya dengan glikogen.
Fase ini sangat ideal untuk nutrisi dan perkembangan ovum.

2.3.2 Gangguan haid


Gangguan haid dan siklusnya khususnya dalam masa reproduksi dapat
digolongkan dalam (Wiknjosastro 2009): Kelainan dalam banyaknya darah dan
lamanya perdarahan pada haid meliputi Hipermenorea atau menoragia
Hipermenorea ialah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih
lama dari normal (lebih dari 8 hari). Hipomenorea Hipomenorea ialah perdarahan
haid yang lebih pendek dan/atau lebih kurang dari biasa. Adanya hipomenorea
tidak mengganggu fertilitas.
2.3.4 Kelainan siklus
2.3.4.1 Polimenorea
Pada polimenore siklus haid lebih pendek dari biasa (kurang dari 21 hari).
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan

25
gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain ialah kongesti
ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya.
2.3.4.2 Oligomenorea
Pada oligomenorea siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada
oligomenorea biasanya berkurang. Kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan
wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Dan Amenorea Amenorea
adalah terlambatnya menstruasi minimal selama 3 bulan. Amenorea dibagi
menjadi dua bagian besar (Manuaba 2008)
2.3.4.3 Amenorea
2.3.4.3.1 Amenorea primer artinya, tidak pernah mendapatkan menstruasi
sampai umur 18 tahun. Terutama gangguan poros hipotalamus, hipofisis, ovarium,
dan tidak terbentuknya alat genetalia.
2.3.4.3.2 Amenorea sekunder artinya, pernah beberapa kali mendapatkan
menstruasi sampai umur 18 tahun dan diikuti oleh kegagalan menstruasi dengan
melewati waktu tiga bulan atau lebih. Penyebabnya sebagian besar bersumber dari
penyebab yang
mungkin dapat ditegakkan diagnosisnya.

2.3.5 Perdarahan diluar haid


Metroragia adalah siklus menstruasi yang tidak teratur dengan aliran darah serta
durasi yang berlebihan (Sinclair 2009).
2.3.6 Gangguan lain yang ada hubungannya dengan haid
2.3.6.1 Premenstrual tension (ketegangan prahaid)
Premenstrual tension merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu
minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah
haid datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.
2.3.6.2 Mastodinia atau mastalgia
Gejala mastalgia adalah rasa nyeri dan pembesaran mamma sebelum haid.
2.3.6.3 Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi)
Mittelschmerz atau nyeri diantara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus
haid, pada saat ovulasi. Rasa nyeri yang terjadi mungkin ringan, tetapi mungkin

26
juga berat. Lamanya mungkin hanya beberapa jam, tetapi beberapa kasus sampai
2-3 hari. Rasa nyeri dapat disertai atau tidak disertai dengan perdarahan, yang
kadang-kadang
sangat sedikit berupa getah berwarna coklat, sedang pada kasus lain
dapat merupakan perdarahan seperti haid biasa.

2.3 Konsep Dismenore


2.3.1 Pengertian Dismenore
Dismenore adalah nyeri kram yang terjadi pada daerah peru, mulai terjadi 24 jam
sebelum terjadinya perdarahan haid dan dapat bertahan 24, 36 jam meskipun
berlangsung hanya 24 jam pertama. Kram dapat dirasakan bagian perut bawah dan
dapat menjalar ke punggung atau ke permukaan dalam paha, yang terkadang
menyebabkan penderita tidak berdaya dalam menahan nyeri. Dalam kondisi yang
parah, dismenore juga dapat menyebabkan penderita tidak dapat bekerja dan harus
beristirahat, datangnya nyeri selalu bersmaan dengan mual, sakit kepala, perasaan
mau pingsan dan mudah marah (Sukarni & Wahyu, 2013).

2.3.2 Etiologi Disminore


Penelitian dalam tahun-tahun terakhir menunjukan bahwa peningkatan kadar
prosgtagladin penting peranannya sebagai penyebab terjadinya dismenore. Atas
dasar itu bahwa dapat simpulkan prostagladin yang dihasilkan uterus dapat
menimbulkan hiperaktivitas miometrium. Selanjutnya kontraksi miometrium yang
dapat di sebabkan oleh prostagladin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi
iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri. Jika prostagladin
dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam predaran darah, maka selain
disminore, timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare, mual, muntah
(Saifudin, 2015).

Pada wanita perokok dan wanita yang mengkonsumsi alkohol juga rentan terhadap
dismenore, merokok dapat meningkatkan lamanya menstruasi dan meningkatkan
lamanya disminore. Sedangkan alkohol merupakan racun bagi tubuh kita, dan hati

27
bertanggung jawab terhadap penghancur estrogen untuk disekresi tubuh. Fungsi hati
terganggu karena adannya konsumsi alkohol yang terus menerus, makan estrogen
tidak bisa disereksi oleh tubuh, akibatnya estrogen dalam tubuh meningkatkan dan
dapat menimbulkan gangguan pada pelvis (Sukarni & Wahyu, 2013)

Selain pada perokok, dismenore juga rentan terjadi pada wanita dengan obesitas.
Kelebihan berat badan dapat mengakibatkan dimenore primer karena didalam tubuh
seseorang yang mempunyai kelbihan berat bedan terdapat jaringan lemak yang
berlebihan dapat mengakibatkan hiperplasi pembuluh darah (terdesaknya pembuluh
darah oleh jaringan lemak) pada organ reproduksi wanita sehingga darah yang
seharusnya mengalir pda proses menstruasi terganggu dan timbul dismenore primer
(Widya, 2009)

2.3.3 Tanda dan Gejala Dismenore


Gejala dismenore yang paling umum adalah nyeri seperti kram di bagian bawah
perut yang menyebar ke punggung dan kaki. Gejala terkait lainnya adalah muntah,
sekait kepala, cemas, kelelaha, diare, bahkan beberapa wanita mengalami nyeri
sebelum menstruasi dimulai dan bisa berlangsung hingga beberapa hari. Gejala –
gejala klinis biasanya dimulai sehari sebelum haid berlangsung, selama hari
pertama haid dan jarang terjadi pada hari keempat dan sampai haid berakhir. Nyeri
biasanya di garis tengah perut atau pada abdomen bawah, punggung, dan tulang
kemaluan ( Atikah, 2008)

2.2.4 Klasifikasi Dismenore


Dismenore di bagi menjadi 2 yaitu dismenore primer dan dismenore skunder
(Mitayani, 2012):
Dismenore primer terjadi sesudah 12 bulan atau lebih pasca menarke. Hal itu karena
siklus menstruasi pada bulan-bulan pertama setelah menarkebiasanya bersifat
anovulatoir yang tidak disertai nyeri. Rasa nyeri timbul sebelum atau bersama-sama
dengan menstruasi dan berlangsung untuk beberapa hari (Judha dkk, 2012).
Dismenorea primer biasanya terjadi akibat adanya kelainan pada gangguan fisik

28
yang mendasarinya, sebagian besar dialami oleh wanita yang telah mendapatkan
haid. Lokasi nyeri dapat terjadi di daerah suprapubik, terasa tajam, menusuk, terasa
diremas, atau sangat sakit. Biasanya terjadi terbatas pada daerah perut bagian
bawah, tapi dapat menjalar sampai daerah paha dan pinggang. Selain rasa nyeri,
dapat disertai dengan gejala sistematik, yaitu berupa mual, diare, sakit kepala, dan
gangguan emosional. Menstruasi yang menimbulkan rasa nyeri pada remaja
sebagian besar disebabkan oleh dismenorea primer (Mitayani, 2012).

Dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan kongenital atau kelainan


organik di pelvis yang terjadi pada masa remaja. Rasa nyeri yang timbul disebabkan
karena adanya kelainan pelvis, misalnya endometriosis, mioma uteri (tumor jinak
kandungan), stenosis serviks, dan malposisi uterus juga disebabkan oleh fibroid,
penyakit radang panggul, IUD, tumor pada tuba fallopi, usus atau vesika urinaria,
polip uteri, inflamatory bowel desease. Dismenore merupakan nyeri bersifat kolik
dan dianggap disebabkan oleh kontraksi uterus oleh progesteron yang dilepaskan
saat pelepasan endometrium. Nyeri yang hebat dapat menyebar dari panggul ke
punggung dan paha, seringkali disertai mual pada sebagian perempuan (Judha dkk,
2012). Biasanya terjadi selama 2-3 hari selama siklus dan wanita yang mengalami
dismenorea sekunder ini biasanya mempunyai
siklus haid yang tidak teratur atau tidak normal. Pemeriksaan dengan laparaskopi
sangat diperlukan untuk menemukan penyebab jelas dismenorea sekunder ini
(Mitayani, 2012).
2.3.5 Derajat Nyeri Dismenore Setiap menstruasi menyebabkan rasa nyeri,
terutama pada awal menstruasi namun dengan kadar yang berbeda – beda. Menurut
Sukarni & Wahyu (2013) mengatakn bahwa derajat nyeri dismenore di bagi
menjadi tiga :
2.3.5.1 Derajat ringan
Seseorang akan mengalami nyeri atau nyeri dapat ditoleransi karena masih dalam
ambang rangsang, berlangsung bebrapa saat dan dapat melanjutkan aktivitasnya.
2.3.5.2 Derajat sedang

29
Seseorang mulai merespon nyerinya dengan merintih dan menekan – menekan
bagian yang nyeri, diperlukan obat menghilang rasa nyeri tanpa meninggalkan
aktivitasnya
2.3.5.3 Derajat berat
Seseorang mengeluh karena adanya rasa tak tertahankan dan ada kemungkinan
seseorang tidak bisa melakukan aktivitasnya dan perlu istirahat, dapat disertai
dengan sakit kepala, migrain, pingsan, diare, rasa tertekan, mual, dan sakit perut.

2.3.6 Penatalaksanaan Dismenore


Terdapat beberapa cara dalam menangani dismenorea, untuk membantu
mengurangi rasa nyeri menstruasi dapat dilakukan dengan cara farmakologi dan
non farmakologi, yaitu (Nugroho & Utama, 2014):
2.3.6.1 Farmakologi
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid
(misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif
jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2
menstruasi (Nugroho & Utama, 2014).
2.3.6.2 Non farmakologi
Beberapa cara farmakologi di atas, ada cara pengobatan lain secara non farmakologi
yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi rasa nyeri haid antara lain
memberikan kompres hangat di perut bagian bawah, mengoles bagian nyeri dengan
balsem, mengoleskan minyak telon hangat. Respon fisiologi yang di timbulkan dari
tekin ini adalah vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah, sehingga dapat
meningkatkan aliran darah kebagian tubuh yang sakit dan mampu menurunkan
ketegangan otot dengan respon tersebut dapat meningkatkan relaksasi otot dan
dapat menurunkan nyeri (Atikah, 2008).

2.3.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dismenore


Penyebab terjadinaya dismenore yaitu keadaan psikis dan fisik seperti stres,
shock, penyempitan pembuluh darah, penyakit menahun, kurang darah, dan

30
kondisi tubuh yang menurun (Diyan, 2013). Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi dismenore menurut (Arulkumaran, 2006) antara lain:
2.3.7.1 faktor Menstruasi
Menarche dini, gadis remaja dengan usia menarche dini isiden dismenorenya
lebih tinggi. Masa menstruasi yang panjang, terlihat bahwa perempuan dengan
siklusi yang panjang mengalami dismenore yang lebih parah.
2.3.7.2 paritas, insiden dismenore lebih rendah pada wanita multiparitas. Hal ini
menunjukan bahwa insiden dismenore primer menurun setelah pertama kali
melahirkan juga akan menurun dalam hal tingkat keperahan.
2.3.7.3 Olahraga, berbagai jenis olahraga dapat mengurangi dismenore. Hal itu
juga terlihat bahwa kejadian dismenore pada pada atlet lebih rendah,
kemungkinan karena yang anovulasi. Akan tetapi, bukti untuk penjelasan itu
masih kurang.
2.3.7.4 Pemilihan metode kontrasepsi, jika menggunakan kontrasepsi oral
sebaiknya dapat menentukan efeknya untuk menghilangkan atau memperperburuk
kondisi. Selain itu penggunaan jenis konrasepsi lainnya dapat mempengaruhi
nyeri dismenore.
2.3.7.5 Riwayat keluarga, mungkin dapat membantu untuk membedakan
endometriosis dengan dismenore primer
2.3.7.6 Faktor psikologis (stress)
Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak
mendapat penjelasan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenore.
Selain itu, stres emosional dan ketegangan yang dihubungkan dengan sekolah atau
pekerjaan memperjelas beratnya nyeri.

2.4 Konsep Nyeri


2.3.1 Pengertian Nyeri
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
sebagai akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial, yang
menyakitkan tubuh serta diungkapkan oleh individu yang mengalaminya. Ketika
suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya

31
bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin,
ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan
respon nyeri (Kozier dkk, 2009).
2.3.2 Klasifikasi Nyeri
2.3.2.1 Nyeri Akut
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit, atau intervensi
bedah dan memiliki proses yang cepat dengan intensitas yang bervariasi (ringan
sampai berat), dan berlangsung untuk waktu yang singkat (Andarmoyo, 2013).
Nyeri akut berdurasi (kurang lebih 6 bulan) dan akan menghilang tanpa
pengobatan setelah area yang rusak pulih kembali (Praasetyo, 2010).
2.3.2.2 Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan yang intermiten yang menetap sepanjang suatu
priode waktu, nyeri ini berlangsung lama dengan intensitas yang bervariasi dan
biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan (Potter & Perry,2007)
ntensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh
individu. Pengukuran intensitas nyeri bersifat sangat sabjektif dan nyeri dalam
intensitas yang sama dirasakan berbeda oleh dua orang yang berbeda (Andarmoyo,
2013). Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mugkin adalah
menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri, namun pengukuran
dengan pendekatan objektif juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang
nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007 dalam Andarmoyo, 2013)
2.3.3 Pengukuran Skala Nyeri
Dalam penelittian ini Numerical Ranting Scal (NRS) akan digunakan pedoman
skala nyeri dia anggap sederhan dan mudah dimengerti, namun namun keluarganya
adalah keterbatasan pilihan kata untuk menggambarkan rasa nyeri, skala ini lebih
digunakan untuk alat pendeskripsi kata. dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan
menggunakan skala 1 – 10. Skala paling efektif sigunakan saat mengkaji intensitas
nyeri sebelum dan sesudah intervensi nyeri untuk mengefaluasi keefektifannya.
Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka di rekomendasi patokan 10 cm
(Kezier & Berman 2016).

32
Dimasukan kata-kata penjals pada skala dapat membantu beberapa klien yang
mengalami kesulitan dalam menentukan skala nyeri yang dirsakan jika klien
mengerti dalam penggunaan skala dan dapat menjawab serta gambaran – gambaran
yang diungkapkan atau di tunjukan tersebut diseleksi dengan hati – hati. Setiap
instrumen tersebut dapat menjadi valid dan dapat dipercaya. Perbahan intensitas
nyeri : nyeri berkurang (skala 1 seikit bekurang , skala 2 cukup berkurang, skala 3
berkurang dan skala 4 sangat berkurang), nyeri tetap, nyeri bertambah (skala +1
sedikit meningkat , skala +2 cukup meningkat, skala +3 meningkat dan skala +4
sangat meningkat) (Waris, 2008).

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Gambar 2.1 Numerical Ranting Scale (Kezier & Berman 2016).

33
2.5 Kerangka Teor

faktor – faktor yang


Drajat dismenore
mempengaruhi
- Drajat ringan
dismenore Dismenore - Drajat sedang
1. Stres - Drajat berat
2. Menstruasi
3. Olahraga
4. Riwayat
keluargga Dismenore di bagi
Sekala nyeri dengan
menjadi yaitu
NRS
1. Sekunder
2. Primer 0 Tidak ada Nyeri
1 – 3 nyeri ringan
4 – 6 nyeri sedang
7 – 10 nyeri berat

Gambar 2.3 Kerangka teori


Menurut Sukarni & Wahyu (2013) ,(Mitayani, 2012), Numerical Ranting Scale
(Kezier & Berman 2016).

2.6 Kerangka Konsep

Dismenore Nyeri

Karakteristik

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

34
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1.Jenis Dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif non analitik yaitu
suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran
atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif dengan melihat ke belakang
(Notoadmojo. 2010).

3.2. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data


3.2.1. Alat Penelitian
Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada kuesioner tentang
gambaran nyeri dismenore peneliti sebelunya yaitu sonnya (2017) yang disusun
berdasarkan modifiksi dari. kuesioner terdiri dari data identitas responden yang
berisi inisial nama dan usia. Skala nyeri yang di gunakan pada lembar kuesione
adalah skala nyeri NRS, skala 1-3 atau skala ringan (masih bisa ditahan, aktifitas
tak terganggu ), skala 4 – 6 atau nyeri sedang (masih bisa dikontro, aktifitas
sedikit terganggu), skala 7 – 9 atau nyeri berat (sangat nyeri, tapi masih dapat
terkontrol dengan aktifitas yang biasa dilakukan), skala 10 atau tak terhankan
(tidak dapat melakukan aktifitas secara mandiri). Kuesioner Gambaran nyeri
dismenore pada remaja di SMK NU 01 Slawi akan dilakukan uji validitas dan uji
reliabilitas oleh peneliti di SMK BPT kabupaten Tegal dengan 15 responden yang
memiliki kriteria sama dengan responden penelitian.

3.2.2. Cara pengumpulan data


Cara pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu
tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan dimulai dari peneliti
menyusun proposal kemudian melakukan sidang proposal. Setelah proposal
disetujui, peneliti mendapat surat ijin untuk melakukan penelitian dari Ketua
Prodi S1 Ilmu Keperawatan STIKes Bhamada Slawi. Surat ijin tersebut digunakan
peneliti untuk melakukan penelitian di SMK NU 01 Slawi. Pada tahap

35
pelaksanaan, peneliti membagi undangan pemberitahuan kepada masing-masing
kelas XII yang berjumlah 2 kelas.

Langkah selanjutnya setelah mendapatkan ijin dari kepala sekolah pada tanggal
peneliti bertemu kepala bidang kesiswaan agar ditunjukan lahan penelitian kelas
XII, peneliti mengumpulkan siswi di auditorium sekolah, siswi yang memenuhi
kriteria inklusi seperti siswi kelas XII di SMK NU 01 Slawi, memiliki riwayat
dismenore, dan bersedia bersedia menandatangi lembar perstujuana menjadi
responden, mendapat penjelasan tentang informasi yang berkaitan dengan
penelitian seperti tujuan dan manfaat penelitian, beberapa siswi mengajukan
pertanyaan mengenai jadwal penelitian, responden diminta menandatangani surat
pernyataan kesediaan menjadi responden penelitian.

Selanjutnya peneliti memberikan lembar permohonan menjadi responden dan


lembar persetujuan responden kepada responden. Apabila ada yang menolak
menjadi responden, peneliti meyakinkan responden tentang manfaat penelitian
dan etika penelitian, namun jika responden tetap menolak, peneliti menghormati
hak responden. Peneliti memberikan lembar persetujuan kepada responden yang
telah menyetujui mengikuti kegiatan ini. Selanjutnya peneliti memberikan
kuesioner dan menjelaskan cara pengisiannya. Setelah kuesioner dibagikan dan
responden menjawab semua pertanyaan yang ada dalam kuesioner, peneliti
mengecek kembali kuesioner untuk memastikan kuesioner terisi semua.

Pada saat pengambilan data penelitian di SMK NU 01 Slawi, jika responden tidak
hadir semua. Maka untuk memenuhi sampel yaitu dengan total sampling peneliti
melakukan mengumpulkan data dengan cara mendatangi kelas satu persatu .
Peneliti dalam melakukan penelitian dibantu oleh 3 asisten, 2 untuk menbantu
menjelaskan isi kuesioner apabila ada yang bertanya dan 1 asisten sebagai seksi
dokumentasi. Waktu pengisian kuesioner 10-15 menit .

36
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
(Notoatmodjo, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah remaja SMK NU 01
Slawi kelas A dan B dengan jumlah 60 orang. Sample merupakan bagian yang
diteliti atau sebagian dari karakteristik yang dimiliki populasi. Dalam melakukan
penelitian dapat menggunakan seluruh objek atau dapat juga hanya mengambil
sebagian dari seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Besar sampel pada penelitian
ini menggunakan teknik total sampling yaitu teknik pengambilan sampel
berdasarkan jumlah seluruh populasi (Sugiyono, 2012). Adapun kriteria dalam
pengambilan penelitian ini adalah kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria
inklusi adalah kriteria yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang
dapat diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2012). sedangkan Kriteria eksklusi
adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi tidak
dapat diikut sertakan dalam penelitian (Notoadmodjo, 2010).

3.3.1 Kriteria inklusi


3.3.1.1 Remaja kelas A dan B di SMK NU 01 Slawi
3.3.1.2 Bersedia Menjadi Responden
3.3.2 Kriteria ekslusi
3.3.2.1 Remaja kelas A dan B di SMK NU 01 Slawi yang tidak hadir
3.3.2.2 Remaja kelas A dan B di SMK NU 01 Slawi yang tidak bersedia
berpatisipasi

3.4 Tempat dan waktu penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMK NU 0l Slawi. Waktu penelitian ini dilakukan
pada tanggal 06 agustus 2018.

37
3.5 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran
Table 3.1. Definisi Operasional, Variabel, Alat Ukur, Hasil Ukur dan Skala
Alat Hasil
Variabel Definisi Operasional Skala
Ukur Ukur
Variabel Tingkat nyeri menstru- Lembar skala 1-3 (nyeri ringan) Ordinal
Gambarn nyeri asi beradasarkan skala kuesioner skala 4-6 (nyeri sedang)
dismenore NRS (Numerical Rating Skala nyeri skala 7-10 (nyeri berat)
Scale) NRS (nyeri tak terhankan)
(Numerical
Rating
Scale)
Karakteristik Usia remaja yang - Usia Ordinal
Responden mengalami nyeri Remaja Akhir umur
Umur dismenore (17 – 20)

3.6 Teknik Pengolahan Data


- Menurut Notoatmodjo (2012), teknik pengumpulan data meliputi editing, coding,
processing dan cleaning. Petama, editing yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan
makna jawaban, konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner.
Peneliti melakukan pengecekkan kelengkapan kuesioner. Kuesioner yang tidak
lengkap dikembalikan ke responden untuk dilengkapi. Kedua, coding yaitu
memberikan kode-kode untuk memudahkan proses pengolahan data. Pada kode
pengetahuan baik (13-20) cukup (7-12) rendah (0-6)
Ketiga, processing yaitu semua jawaban responden yang sudah dibentuk kode
dimasukkan kedalam program aplikasi SPPS pada komputer untuk dianalisis.
Keempat, cleaning yaitu penghapusan data-data yang tidak sesuai dan mencek
kembali apabila ada kesalahan penulisan kode dan ketidaklengkapan data.

38
3.7 Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan menggunakan rumus distribusi frekwensi
sebagai berikut (Notoadmodjo, 2010)
P = f / n x 100%
P : Persentase
f : Frekwensi variabel
n : Jumlah sampel
3.8 Etika penelitian
Prinsip etika penelitian merupakan standar etika dalam melakukan penelitian
(Notoatmojo, 2010). Etika dalam penelitian antara lain:
3.8.1 Menghormati harkat dan martabat manusia (Respect for human dignty)
Penelitian perlu mempertimbangkan hak-hak subjek penelitian untuk
mendapatkan informasi tentang tujuan melakukan penelitian tersebut.
Disamping itu, peneliti juga memberikan kebebasan kepada subjek untuk
mendapatkan informasi atau tidak memberikan informasi (berpartisipasi).
Sebagai ungkapan, peneliti menghormati harkat dan martabat subjek
penelitian. Sebelum melakukan penelitian, peneliti menghormati tempat
penelitian dengan menggunakan surat izin yang sudah dibuat melalui
berbagai proses.
3.8.2 Menghormati privasi dan kerahasian subjek penelitian (respet for privacy
and confidentiality). Setiap orang mempunyai hak-hak individu termasuk
privasi dan kebiasaan individu dalam memberikan informasi. Setiap orang
berhak untuk tidak memberikan apa yang diketahuinya kepada orang lain.
Oleh sebab itu, peneliti tidak boleh menyampaikan informasi mengenai
identitas dan kerahasian identitas subjek. Peneliti tidak memberikan nama
responden pada lembar alat ukur, hanya menuliskan kode dan inisial nama
responden.
3.8.3 Keadilan dan inklusivitas / keterbukaan (respect for justice an
inclusiveness). Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti
dengan kejujuran, keterbukaan, dan kehati-hatian. Untuk itu, lingkungan
penelitian perlu dikondisikan sehingga memenuhi prinsip keterbukaan,

39
yakni dengan menjelaskan prosedur penelitian. Prinsip keadilan ini
menjamin bahwa semua subjek penelitian memperoleh perlakuan dan
keuntungan yang sama, tanpa membedakan gender, agama, etnis, dan
sebagainya. Peneliti harus bersikap adil pada semua responden.
3.8.4 Memperhitungkan manfaat kerugian yang ditimbulkan (balancing harms
and benefis)
Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin
bagi masyarakat pada umumnya, dan subjek penelitian pada khususnya.
Penelitian hendaknya berusaha meminimlisasi dampak yang merugikan bagi
subjek. Dalam penelitian ini responden diharapkan bisa mengambil manfaat
dari penelitian.

40
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Pada bab ini akan dijelaskan hasi penelitiian tentang Gambaran Nyeri dismenore
pada Remaja Putri di SMK NU 01 Slawi, Penelitian ini dilaksanakan Pada tanggal
06 Agustus 2018 dengan jumlah responden remaja sebanyak 60 orang, seluruh
data yang terkumpul telah memenuhi syarat selanjutnya dilakukan analisis. Hasil
penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil
analisis

4.1.1 Karakteristik Responden


Karakteristik responden pada penelitian ini yaitu usia remaja di SMK NU 01
Slawi. Karakteristik responden disediakan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
prosentase sebagai berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Remaja
Putri di SMK NU 01 Slawi

Karakteristik Usia Frekuensi Persentase


17 Tahun 22 36,7%
18 Tahun 32 53,3%
19 Tahun 6 10,0%
Total 60 100 %

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa karakteristik responden pada siswa


kelas 2 yang mengalami dismenore di SMK NU 01 Slawi bahwa distribusi usia
responden adalah usia 14 tahun sebanyak 22 (36,7%) siswa, usia 18 tahun
sebanyak 32 (53,3%) siswa, 19 tahun sebanyak 6 (30,2%) siswa. Mayoritas usia
siswi kelas 2 di smk nu 01 Slawi yaitu berusia 18 tahun sebanyak 32 siswi.

41
Tabel 4.2 Nyeri dismenore berdistribusi frekuensi dan presentase

Gambaran Nyeri Frekuensi Persentase


0 ( Tidak Nyeri ) 2 3,3 %
1 – 3 ( Nyeri Ringan ) 23 38,3 %
4 – 6 ( Nyeri Sedang ) 11 18,3 %
7 – 9 ( Nyeri Berat ) 20 33,3 %
10 ( Tidak Tertahankan ) 4 6,7 %
Total 60 100 %

Berdasarkan tabel 4.2 distribusi frekuensi nyeri dismenore pada siswa SMK NU
01 Slawi bahwa drajat dismenore yang dialami yaitu sebanyak 2 (3,3%) siswa
yang mengalami tidak nyeri, 23 (38,3%) siswa yang mengalami nyeri ringan, 11
(18,3%) siswa yang mengalami nyeri sedang, 20 (33,3%) siswa yang mengalami
nyeri berat, dan 4 (6,7%) siswa yang mengalami nyeri tak tertahankan.

4.2 PEMBHASAN
4.2.1 Karakteristik Responden
4.2.1 Gambaran data demografi SMK NU 01 Slawi yang mengalami
dismenore
Karakteristik responden pada penelitian ini yaitu usia. Usia merupakan satuan
waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk. Usia orang
diukur dari lahir hingga masa kini (Depkes 2009). Gambaran usia rata – rata yang
mengalami dismenore pada SMK NU 01 Slawi yaitu berumur 18 tahun. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan yani (2012) yang menunjukan
dismenore dialami lebih banyak pada tingkat usia enambelas tahun keatas.
Penelitian thing (2014) pada remaja yang mengalami menstruasi rata 16 tahun.
Dismenore akan bertambah berat setelah beberapa tahun setelah menstruasi
pertama sampai usia 23 – 27 tahun kemudian dismenore akan mulai mereda (
Hamilton, dalam Shabinaya, 2011).

42
Usia pertama kali menstruasi pada siswa yang mengalami dismenore di SMK NU
01 Slawi yaitu rata – rata berumur 18 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan Novia (2011) bahwa sebagian besar usia pertama kali menstruasi
berumur 11 sampai 13 tahun dan yang paling sedikit berumur kurang dari 16
tahun. Penelitian shabinaya (2011) pada siswi SMPN 18 Jakarta bahwa dari 103
siswi diantaranya 66 siswi yang mengalami usia pertama kali menstruasi pada
umur sebelas sampai duabelas tahun dan 37 siswi berumur 13 tahun.

4.2.2 Gambaran Nyeri Dismenore pada siswi SMK NU 01 Slawi


Nyeri dismenore dalam peneliti ini terbagi dalam nyeri dismenore yaitu tidak
nyeri, nyeri dismenore nyeri ringan, nyeri dismenore nyeri sedang, nyeri
dismenore nyeri sedang, nyeri dismenore nyeri berat dan dan nyeri dismenore
tidak tertahankan. Siswa yang mengalami dismenore tidak nyeri 2, siswa yang
mengalami nyeri ringan 23, siswa yang mengalami nyeri sedang 11, siswa yang
mengalami nyeri berat 20, siswa yany mengalami nyeri tidak tertahankan 4 ,
maka sebagian besar siswa SMK NU 01 Slawi mengalami dismenore dengan
derajat nyeri ringan sebanyak 23 siswa dan sebagian kecil siswa mengalami
dismenore nyeri tak tertahankan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan paramita (2010)
frekuensi tingkat skala nyeri dismenore pada remaja di SMK YPKK I Sleman
Yogyakarta menunjukan dari jumlah sampel sebanyak 16 siswi diantaranya 11
siswi mengalami nyeri ringan, 4 siswa mengalami nyeri sedang dan tidak ada satu
pun siswi yang mengalami nyeri berat. Penelitian shabinaya pada siswa SMPN 87
jakarta (2011) menunjukan dari jumlah sampel sampel 103 siswa diantaranya 47
siswa mengalami nyeri ringan, 43 siswi mengalami nyeri sedang dan 13 siswi
mengalami nyeri berat. Penelitian istiqomah pada siswi di SMUN 5 Semarang
(2009) menunjukkan dari jumlah sampel 15 siswi diantranya 11 siswi mengalami
nyeri ringan, 4 siswi mengalami nyeri sedang dan tidak ada satupun siswi yang
mengalami nyeri berat

43
Intensitas nyeri setiap individu berbeda dipengaruhi oleh diskripsi individu
tentang nyeri, persepsi dan pengalaman nyeri. Nyeri dismenore terjadi karena ada
peningkatan produksi prostaglandin. Peningkatan ini akan mengakibatkan
kontraksi uterus dan vasokontraksi pembuluh darah maka aliran darah yang
menunju ke uterus sehingga uterus tidak mendapat suplai oksigen yang adekuat
sehingga menyebabkan nyeri ( kelly, 2010).

Pada penelitian ini terdaapat sebagian kecil siswi mengalami dismenore berat
dismenore berat terjadi karena adanya peningkatan prostaglandin berlebih
sehingga menyababkan sangat nyeri dan kemungkinan dapat terjadi karena adanya
kelainan pada organ genitalia dalam rongga pelvis sehingga seseorang yang
mengalami dismenore nyeri berat sebaiknya melakukan pemeriksaan pada tenaga
kesehatan agar diketahui penyebab dari terjadinya dismenore berat (Badziad,
2010). Penelitian Poureslami (2011) hampir 10 persen remaja yang dismenore
mengalami absece rate satu sampai tiga hari perbulan atau katidakmampuan
remaja dalam melakukan tugasnya sehari – hari akibat nyeri hebat.sulastri (2009)
bahwa akibat keluhaan dismenore berdampak pada ganngguan aktivitas sehari –
hari sehingga menyebabkan absen < 3 hari.
Berdasarkan hasil crosstabulation bahwa siswi yang mengalami dismenore nyeri
dismenore nyeri ringan sebagian besar melakukan itirahat total atau tidur dalam
menangani dismenore, siswi yang mengalami nyeri dismenore nyeri sedang
sebagian besar menggunakan teknik distraksi dan yang mengalami nreri
dismenore nyeri berat sebagian besar menggunakan kompres air hangat

4.3 Keterbatasan Penelitian


Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu :
4.3.1 Dalam penelitian ini ditemukan keterbatasan dan kekurangan penelitian.
Terdapat keterbatasan – keterbatasan yang peneliti lakasanakan, pertama adalah
waktu peneltian yang terbatas dikarenaken proses perizinan yang membutuhkan
waktu serta waktu penelitian dilakukan disaat sekolah sudah mendakati Waktu
PKL sehingga sulit untuk mengumpulkan. Sebaiknya untuk penelitian

44
selanjutnya pertimbangkan waktu penelitian sebaik mungkin dengan jadwal
belajar siswa disekolah agar peneliti lebih mudah mengumpulkan remaja
disekolah dalam kelas

45
BAB 5
PENUTUP
5.1 SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut
5.1.1 Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sisiwi SMK NU 01 Slawi yang
mengalami dismenore rata - rata berumur 18 tahun
5.1.2 Siswi SMK NU 01 Slawi sebagian besar mengalami nyeri dismenore
ringan, yaitu 23 dan yang mengalami nyeri taktertahankan ada 4 siswi

5.2 SARAN
5.2.1 Aplikatif
Hasil penelitian diharapkan petugas kesehatan mampu berkerjasama dengan dinas
pendidikan dalam memberikan penyuluhan kesehatan kepada remaja putri dalam
hal kesehatan reproduksi dan penanganannya
5.2.2 Keilmuan
Bagi ilmu keperawatan agar lebih memperdalam lagi materi tentang nyeri
dismenore
5.2.3 Metodologi
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan variabel –
variabel lainnya yang berkaitan dengan dismenore, seperti status gizi pada anak
yang mengalami dismenore. Sehingga penelitian – penelitian yang dilakukan
dapat bermanfaat bagi remaja putri.

Lampiran 1 ( Jadwal Kegiatan )

46
LEMBAR
STIKES BHAMADA SLAWI
JADWAL
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN
PENELITIAN

Maret April Mei Juni Juli Agustus


NO KEGIATAN
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penentuan topik dan
judul
Bimbingan Proposal
2 BAB I Pendahuluan
3 BAB II Tinjauan
Pustaka
4 BAB III Metodologi
Penelitian
5 Sidang Proposal
6 Revisi Proposal
7 Penelitian
8 Penulisan Laporan
penelitian
Bimbingan Skripsi
9 BAB IV
Analisis dan
Pembahasan
10 BAB V Simpulan
dan Saran
11 Sidang Skripsi
12 Revisi Skripsi
13 Pengumpulan
Skripsi

47
Lampiran 2
LEMBAR
STIKES BHAMADA SLAWI
PERMOHONAN
PROGRAM STUDI SARJANA
MENJADI
KEPERAWATAN DAN NERS
RESPONDEN

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth:
Calon Responden Penelitian
Di Tempat

Dengan hormat,
Saya yang bertandatangan dibawah ini adalah Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Mandala Husada
Slawi.
Nama : Wulan Suci .R
Nim : C1014045
Akan mengadakan penelitian dengan judul “Gambaran nyeri dismenore pada
remaja kelas XII di SMK NU 01 Slawi ”. Penelitian ini tidak menimbulkan
kerugian pada responden penelitian, semua informasi yang diberikan bersifat
rahasia dan akan dijaga hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Jika
terjadi hal-hal yang merugikan selama penelitian ini maka responden
diperbolehkan mengundurkan diri untuk tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.
Apabila menyetujui, maka saya mohon kesediaannya untuk menandatangani
lembar persetujuan yang telah disediakan. Atas kesediaan dan kerjasamanya saya
ucapkan terima kasi

48
Lampiran 3 (Inform Consent)
STIKES BHAMADA SLAWI LEMBAR
PRODI SARJANA KEPERAWATAN DAN PERSETUJUAN
PENDIDIKAN PROFESI NERS PENELITIAN

LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN


(INFORM CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Usia :
Alamat :
Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang “Gambaran Nyeri Dismenore
pada Remaja Putri di SMK NU 01 Slawi”. Maka dengan ini saya secara sukarela
dan tanpa paksaan bersedia untuk ikut dalam penelitian.
Demikianlah surat persetujuan bersedia berpartisipasi penelitian ini saya buat
untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Slawi, 2018

(..........................................

49
Lampiran 4

STIKES BHAMADA SLAWI LEMBAR


PRODI SARJANA KUESIONER
KEPERAWATAN DAN PENELITIAN
PENDIDIKAN PROFESI NERS

LEMBAR KUESIONER TENTANG GAMBARAN NYERI DISMENORE


PADA REMAJA DI SMK NU 01 SLAWI

A. Identitas Pasien
Nama Responden insial :
Usia :
Isilah titik-titik dibawah ini sesuai dengan kondisi anak. (Diisi peneliti)
Kode Responden :

B. Derajat Nyeri Dismenore


1. Perhatikan gambar di bawah. Jika nyeri di kategorikan seperti pada
gambar tersebut pada angka berapa nyeri yang anda rasakan ? . . . . . .

50
Keterangan :
0 : Tidak nyeri
1–3 : Nyeri ringan : Secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik,
Nyeri seperti ditusuk-tusuk
4-6 :Nyeri sedang: Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, dan dapat mendeskripsikannya dapat
mengikuti perintah dengan baik. Nyeri seperti ditusuk-tusuk bahkan terasa
panas.
7-9 :Nyeri berat :Secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi
nyeri tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan
posisi nafas panjang dan distraksi.
10 :Nyeri tidak tertahankan : klien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi
dengan baik, Merintih sampai tidak terkontrol.

51
Lampiran 5
TABEL HASIL PENELITIAN
GAMBARAN NYERI DISMENORE PADA REMA PUTRI DI SMK NU 01
SLAWI
No Inisial Nama Usia Tingkat Nyeri
1 L 17 1
2 D 17 3
3 L 19 2
4 R 18 2
5 A 18 5
6 A 17 2
7 H 17 2
8 R 18 2
9 I 17 1
10 A 18 1
11 N 18 1
12 A 17 1
13 E 17 1
14 E 18 1
15 M 17 3
16 S 18 3
17 Y 18 1
18 F 18 2
19 M 17 1
20 M 19 3
21 W 18 1
22 E 17 2
23 R 18 3
24 R 17 3
25 F 18 2
26 W 18 2
27 H 18 2
28 S 18 3
29 R 17 2
30 S 18 3
31 R 17 2
32 U 18 1
33 A 18 1
34 D 17 3
35 R 18 3
36 S 19 2
37 S 16 8
38 R 18 6

52
39 L 18 8
40 M 18 9
41 F 17 7
42 B 18 5
43 T 17 8
44 K 18 5
45 L 19 5
46 O 18 9
47 P 17 8
48 N 18 7
49 H 19 9
50 J 18 7
51 R 17 6
52 G 18 9
53 D 17 8
54 F 17 9
55 W 18 8
56 E 19 7
57 R 17 7
58 S 18 8
59 D 17 8
60 H 18 8

53
Hasil pengolahan data frekuesi prosentase usia dan nyeri dismenore
Frequencies

Statistics
usia

N Valid 60

Missing 0
Mean 1,73
Std. Error of Mean ,082
Median 2,00
Mode 2
Std. Deviation ,634
Variance ,402
Range 2
Minimum 1
Maximum 3
Sum 104

usia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 17 tahun 22 36,7 36,7 36,7

18 tahun 32 53,3 53,3 90,0

19 tahun 6 10,0 10,0 100,0

Total 60 100,0 100,0

54
Frequencies

Statistics
nyeri

N Valid 60

Missing 0
Mean 3,02
Std. Error of Mean ,138
Median 3,00
Mode 2
Std. Deviation 1,066
Variance 1,135
Range 4
Minimum 1
Maximum 5
Sum 181

nyeri

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 (tidak nyeri) 2 3,3 3,3 3,3

1-3 (Nyeri ringan) 23 38,3 38,3 41,7

4-6(Nyeri sedang) 11 18,3 18,3 60,0

7-9(Nyeri berat) 20 33,3 33,3 93,3

10 (Tidak tertahankan) 4 6,7 6,7 100,0


Total 60 100,0 100,0

55
Lampiran 8

STIKES BHAMADA SLAWI LEMBAR


PRODI SARJANA KEPERAWATAN DAN DOKUMENTASI
PENDIDIKAN PROFESI NERS PENELITIAN

56
57
58
59