You are on page 1of 17

1.

PENGERTIAN
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui
suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2009).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &
Wiknjosastro, 2006).
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer, 2002)
.
2. ANATOMI DAN FISIOLOGI
1) Anatomi Sistem Reproduksi Wanita

a) Anatomi sistem reproduksi wanita

Organ reproduksi wanita terbagi atas 2 bagian yaitu organ reproduksi eksterna wanita
(organ bagian luar ) dan organ reproduksi interna wanita (organ bagian dalam)

b) Organ reproduksi eksterna wanita

(1) Vulva atau pudenda, meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat mulai
dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora dan labia minora,
klitoris, selaput darah (hymen), vestibulum, muara uretra, berbagai kelenjar, dan
struktur vaskular.

(2) Mons veneris atau mons pubis adalah bagian yang menonjol di atas simfisis dan
pada perempuan setelah pubertas ditutup oleh rambut kemaluan. Pada perempuan
umumnya batas atas rambut melintang sampai pinggir atas simfisis, sedangkan ke
bawah sampai ke sekitar anus dan paha.

(3) Labia mayora (bibir-bibir besar) terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong
mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemak yang serupa dengan yang ada di mons
veneris.

(4) Labia minora (bibir-bibir kecil atau nymphae) adalah suatu lipatan tipis dan kulit
sebelah dalam bibir besar. Kulit yang meliputi bibir kecil mengandung banyak
glandula sebasea (kelenjar-kelenjar lemak) dan juga ujung-ujung saraf yang
menyebabkan bibir kecil sangat sensitif. Jaringan ikatnya mengandung banyak
pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan bibir kecil ini dapat
mengembang.

(5) Klitoris kira-kira sebesar kacang ijo, tertutup oleh preputium klitoridis dan terdiri
atas glans klitoridis, korpus klitoridis, dan dua krura yang menggantungkan klitoris ke
os pubis. Glans klitoridis terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh dengan
urat saraf, sehingga sangat sensitif.

(6) Vestibulum berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dan depan ke belakang dan
dibatasi di depan oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua bibir kecil dan di belakang
oleh perineum (fourchette).

(7) Bulbus Vestibuli sinistra et dekstra merupakan pengumpulan vena terletak di


bawah selaput lendir vestibulum, dekat namus ossis pubis. Panjangnya 3-4 cm,
lebarnya 1-2 cm dan tebalnya 0,5-1 cm. Bulbus vestibuli mengandung banyak
pembuluh darah, sebagian tertutup oleh muskulus iskio kavernosus dan muskulus
konstriktor vagina.

(8) Introitus Vagina mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Pada seorang
Virgo selalu dilindungi oleh labia minora yang baru dapat dilihat jika bibir kecil ini
dibuka. Introitus vagina ditutupi oleh selaput dara (himen). Himen ini mempunyai
bentuk berbeda-beda, dan yang semilunar (bulan sabit) sampai yang berlubang-
lubang atau yang bersekat (septum).

(9) Perineum terletak antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm. Jaringan yang
mendukung perineum terutama ialah diafragma pelvis dan diafragma urogenitalis
(Prawirohardjo, 2009).

c) Organ reproduksi interna wanita

(1) Vagina (Liang Kemaluan/Liang Senggama)

Setelah melewati introitus vagina, terdapat liang kemaluan (vagina) yang merupakan
suatu penghubung antara. introitus vagina dan uterus. Dinding depan dan belakang
vagina berdekatan satu sama lain, masing- masing panjangnya berkisar antara 6-8 cm
dan 7-10 cm. Bentuk vagina sebelah dalam yang berlipat-lipat disebut rugae.

(2) Uterus

Uterus berbentuk seperti buah avokad atau buah pir yang sedikit gepeng ke arah
depan belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga. Dindingnya
terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5 cm, lebar di atas 5,25
cm, tebal 2,5 cm, dan tebal dinding 1,25 cm. Letak uterus dalam keadaan fisiologis
adalah anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina,
sedangkan korpus uteri ke depan dan membentuk sudut dengan serviks uteri).

3) Tuba Falloppi

Tuba Falloppi terdiri atas :

(a) Pars irterstisialis, yaitu bagian yang terdapat di dinding uterus.


(b) Pars ismika merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya. Pars
ampullaris, yaitu bagian yang berbentuk sebagai saluran agak lebar, tempat konsepsi
terjadi.

(c) Infundibulum, yaitu bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan
mempunyai fimbriae. Fimbriae penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur dan
selanjutnya menyalurkan telur ke dalam tuba. Bentuk infundibulum seperti anemon
(sejenis binatang laut).

(d) Ovarium (Indung Telur) Perempuan pada umumnya mempunyai 2 indung telur
kanan dan kiri. Mesovarium menggantung ovanium di bagian belakang ligamentum
latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan
ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm (Prawirohardjo, 2009).

d) Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita

Secara garis besar berfungsi sebagai sistem reproduksi dapat digolongkan sebagai
berikut:

(1) Genetalia eksterna Fungsi dari genetalia eksterna adalah dikhususkan untuk
kopulasi (koitus)

(2) Genetalia interna

(3) Vagina berfungsi sebagai saluran keluar untuk mengeluarkan darah haid dan
secret lain dari rahim, alat untuk bersenggama, jalan lahir pada waktu persalinan.

(4) Uterus setiap bulan berfungsi dalam siklus haid, tempat janin tumbuh dan
berkembang, berkontraksi terutama sewaktu bersalin.

(5) Tuba fallopi berfungsi untuk menyalurkan telur atau hasil konsepsi kearah kavum
uteri dengan arus yang ditimbulkan oleh gertaran rambut getar tersebut.

(6) Ovarium berfungsi sabagai saluran telur, menangkap dan membawa ovum yang
dilepaskan oleh indung telur, yempat terjadinya pembuahan (Prawirohardjo, 2006).
3. ETIOLOGI
Manuaba (2002) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres
dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat
diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
1. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai
dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan
secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk
rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara
alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat
menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan
operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi asimetris
dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal.
2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan
oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-
eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting
dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali
dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan
ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil
aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.
4. Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran
kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi.
Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit
untuk dilahirkan secara normal.
5. Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan
adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek
dan ibu sulit bernafas.
6. Kelainan Letak Janin
a. Kelainan pada letak kepala
1) Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling
rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati,
kerusakan dasar panggul.
2) Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah ialah
muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %.
3) Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling
depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka
atau letak belakang kepala.
b. Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala
difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak
sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong
kaki tidak sempurna dan presentasi kaki (Saifuddin, 2002).

4. TANDA DAN GEJALA


Pada post operasi maka akan didapatkan tanda gejala :

1. Pasien mengeluh nyeri pada perut akibat luka operasi.


2. Pasien mengeluh sulit untuk tidur.
3. Pasien mengeluh sulit untuk bergerak / beraktivitas.
4. Pasien mengeluh badannya panas.
5. Terjadi takikardi.
6. Terdapat lingkaran hitam di mata.
7. Terdapat tanda - tanda infeksi.
8. Pasien tampak gelisah (Prawirohardjo, 2008).
5. KOMPLIKASI

Yang sering terjadi pada ibu SC adalah :


1. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas dibagi menjadi:
a. Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
b. Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung
c. Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik
3. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan cabang-cabang arteri
uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
4. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing, embolisme paru yang
sangat jarang terjadi.
5. Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi
ruptur uteri.
Yang sering terjadi pada ibu bayi : Kematian perinatal

6. PATOFISIOLOGI
Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan
bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis,
panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus
tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut
menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan klien
mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya
kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan klien tidak mampu
melakukan aktivitas perawatan diri klien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit
perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan
post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada klien. Selain itu, dalam proses
pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga
menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di
sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang
akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah
insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan
menimbulkan masalah risiko infeksi.
8. PENATALAKSANAAN MEDIS POST SC
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi
hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang
biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan
jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi
darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca
operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini
mungkin setelah sadar
3) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
5) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, klien dianjurkan belajar
duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada
hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
b. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita.
c. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik. Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda
setiap institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
3) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit. C
d. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah
harus dibuka dan diganti
e. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah,
nadi,dan pernafasan.
f. Perawatan payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak
menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara
tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
(Manuaba, 1999)
9.PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Elektroensefalogram ( EEG )
Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
b. Pemindaian CT
Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
c. Magneti resonance imaging (MRI)
Menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dan gelombang
radio, berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht
bila menggunakan pemindaian CT.
d. Pemindaian positron emission tomography ( PET )
Untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi
lesi, perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak.
e. Uji laboratorium
1) Fungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
2) Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
3) Panel elektrolit
4) Skrining toksik dari serum dan urin
5) AGD
6) Kadar kalsium darah
7) Kadar natrium darah
Kadar magnesium darah
10. RENCANA TINDAKAN
a. Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin,
prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Tujuan:Klien akan mengungkapkan penurunan nyeri
Kriteria hasil:
- Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang
- Skala nyeri 0-1 ( dari 0 – 10 )
- Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri
- Kooperatif dengan tindakan yang dilakukan
- TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37°C, TD : 120/80 mmHg, RR : 18-
20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit

Tindakan Rasional
1) Kaji lokasi, sifat dan durasi nyeri, Menandakan ketepatan pilihan
khususnya saat berhubungan tindakan. Klien yang menunggu
dengan indikasi kelahiran sesaris. kelahiran sesaria iminen dapat
mengalami berbagai derajat
ketidaknyamanan, tergantung pada
indikasi terhadap prosedur.
2) Hilangkan factor-faktor yang Tingkat toleransi ansietas adalah
menghasilkan ansietas (mis; individual dan dipengaruhi oleh
kehilangan control), berikan berbagai faktor. Ansietas berlebihan
informasi akurat, dan anjurkan pada respon terhadap situasi darurat
keberadaan pasangan. dapat meningkatkan ketidaknyamanan
karena rasa takut, tegang, dan nyeri
yang saling berhubungan dan merubah
kemampuan klien untuk mengatasi.

3) Instruksikan teknik relaksasi; Dapat membantu dalam reduksi


posisikan senyaman mungkin. ansietas dan ketegangan dan

Gunakan sentuhan terapeutik. meningkatkan kenyamanan.


b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen post
operasi SC
Tujuan: Dalam 3 x 24 jam gangguan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria
hasil klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri

Tindakan Rasional
1) Kaji tingkat mobilitas dari klien 1) Diharapkan dapat mempermudah
pemberian tindakan pengobatan
selanjutnya
2) Motivasi klien untuk 2) Diharapkan dapat meningkatkan
melakukan mobilitas secara kenyamanan dan ambulasi.
bertahap
3) Pertahankan posisi tubuh yang 3) Dapatkan meningkatkan posisi
tepat fungsional pada tubuh klien.
4) berikandukungan dan bantuan kelu 4) Memampukan keluarga/orang
arga/orang terdekat pada terdekat untuk aktifitas
latihan gerak klien. dalam perawatan klien
perasaan senang dan nyaman pada
klien.

c. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan,


luka post operasi
Tujuan umum : Sel darah putih, suhu, nadi, tetap dalam batas normal.
Penyembuhan insisi terjadi dengan tujuan pertama ; uterus tetap lembut dan
tidak empuk dan lochia bebas dari bau.

Tindakan Rasional
1) Angkat balutan verban abdomen 1) Memudahkan insisi untuk kering
sesuai indikasi dan meningkatkan penyembuhan
setelah 24 jam pertama menjalani
prosedur pembedahan.
2) Bantu sesuai keperluan dengan 2) Insisi biasanya sudah cukup
mengangkat benang kulit sembuh untuk pengangkatan
benang pada 4-5 hari setelah
prosedur pembedahan.
3) Anjurkan klien untuk mandi air 3) Mandi sering diijinkan setelah hari
hangat setiap hari. ke-2 menjalani prosedur kelahiran
caesarea dapat meningkatkan
kebersihan dan dapat merangsang
sirkulasi dan penyembuhan luka
4) Mempertahankan kontraksi
miometrial oleh karena menurunya
4) Berikan oxytoksin atau preparat penyebaran bakteri melalui dinding
ergometrium, beri infuse oksitoksin uterus, membantu dalam
yang sering dianjurkan secara rutin pengeluaran bekuan dan selaput.
untuk 4 jam setelah prosedur 5) Bekterimial lebih sering pada ibu
pembedahan. yang mengalami ruptur membrane
5) Ambil darah vaginal dan kultur untuk 6 jam atau lebih lama dari
urine bila infeksi dicurigai. pada klien yang mempunyai
membran tetap utuh sebelum
menjalani kelahiran caesarea,
pemasangan kateter tidak tetap,
mempredisposisi klien untuk
kemungkinan infeksi.
6) Menurunkan / mengurangi
kemungkinan endometritis post
6. Berikan infus antibiotik profilaksis. partum sebagaimana halnya dengan
komplikasi seperti abses insisi atau
trombophlebitis pelvis.
d. Diagnosa : Cemas b/d koping yang tidak efektif.
Tujuan :
Klien akan ;
 Mengungkapkan rasa takut pada keselamat klien dan janin
 Mendiskusikan perasaan tentang kelahiran sesaria
 Tampak benar-benar rileks
 Menggunakan sumber atau sistem pendukung secara efektif

Tindakan Rasional
1) Kaji respons psikologis pada Makin klien merasakan ancaman,
kejadian dan ketersediaan system makin besar tingkat ansietas.
pendukung.
2) Pastikan apakah prosedur Pada kelahiran sesaria yang tidak
direncanakan atau tidak direncanakan, klien/pasangan biasanya
direncanakan. tidak mempunyai waktu untuk
persiapan secara psikologis maupun
fisiologis. Bahkan bila direncanakan,
kelahiran sesaria dapat membuat
ketakutan klien/pasangan karena
ancaman fisik aktual atau dirasakan
pada ibu dan bayi yang berhubungan
dengan prosedur dan pembedahan itu
sendiri.
3) Tetap bersama klien dan tetap Membantu membatasi transmisi
tenang. Bicara perlahan. ansietas interpersonal, dan
Tunjukkan empati. mendemonstrasikan perhatian terhadap
klien/pasangan.
4) Beri penguatan aspek positif dari Memfokuskan pada kemungkinan
ibu dan kondisi janin. keberhasilan hasil akhir dan membantu
membawa ancaman yang dirasakan /
aktual ke dalam perspektif.
Mendukung mekanisme koping dasar
5) Dukung/arahkan kembali dan otomatik, meningkatkan
mekanisme koping yang kepercayaan diri dan penerimaan, dan
diekspresikan menurunkan ansietas
Klien dapat mengalami penyimpangan
6) Diskusikan pengalaman / harapan memori dari melahirkan masa lalu atau
kelahiran anak pada masa lalu, bila persepsi tidak realistis dari
tepat. abnormalitas kelahiran sesaria yang
akan meningkatkan ansietas.

Memungkinkan kesempatan bagi


klien/pasangan untuk
7) Berikan masa privasi. Kurangi menginternalisasi informasi.
rangsang lingkungan, seperti Menyusun sumber-sumber, dan
jumlah orang yang ada, sesuai mengatasi dengan efektif
indikasi keinginan klien.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul bari, Saifuddin. 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.YBPSP. Jakarta

Aria wibawa dept obstetri dan ginekologi FKUI-RSUPN CM

Cunningham, F.G., Et all. 2005. William Obstetrics, 22nd edition. Chapter 21 Disorders of
Aminic Fluid Volume. Pages 525-533. USA: McGRAW-HILL

Chandranita Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri . Jakarta. EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. . Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal . Jakarta: YBP-SP
LAPORAN PENDAHULUAN
IBU POST PARTUM SC
RUANG ANGREK RSUD BANYUMAS

Disusun oleh
Nama : Nurul Ramadhani
NIM : 1611010048
Kelompok :6

PROGAM STUDY KEPERAWATAN DII


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018