You are on page 1of 28

KOMUNIKAASI PERSONAL TASK DAN RUBRIK

Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Asesmen Alternative dalam Pembelajaran IPA

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Hj. Nuryani Rustaman, M.Pd.

Oleh:
Fadil Fitra Kamil (1802957)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan kasih-Nyalah makalah ini dapat penulis selesaikan. Ada pun makalah ini
disusun, untuk dapat memenuhi tugas mata kuliah Asesmen Alternative dalam
Pembelajaran IPA. Makalah ini diberi judul “Komunikasi Personal Task dan Rubrik”.
Penulis berharap dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat mengetahui
pengetahuan tentang komunikasi personal task dan rubrik serta dampaknya bagi
pendidikan dalam kehidupan .

Kami menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna, karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih
kepada Ibu Prof. Dr. Hj. Nuryani Rustaman, M.Pd selaku dosen "Asesmen alternatif dalam
pembelajaran IPA" yang telah membimbing penulis, serta pihak yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.

Bandung, Desember 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i

BAB I ........................................................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang......................................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2

1.3 Tujuan ..................................................................................................................................... 2

BAB II ....................................................................................................................................................... 3

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................................................ 3

2.1 Pengertian Komunikasi Personal ............................................................................................ 3

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Komunikasi Personal ........................................... 4

2.3 Sasaran Asesmen Komunikasi Personal .................................................................................. 8

2.4 Berbagai Bentuk Komunikasi Personal sebagai Asesmen ....................................................... 9

2.5 Mengintegrasikan Asesmen Komunikasi Personal ke Dalam Pembelajaran ........................ 13

2.6 Penilaian Otentik................................................................................................................... 13

2.7 Perubahan Penilaian Tradisional ke Penilaian Autentik ....................................................... 14

2.8 Model Penilaian Autentik dan Penilaian Tradisional ............................................................ 16

2.9 Tugas (Tasks) dan Kriteria Penilaian atau Rubrik (Rubrics) ................................................... 16

2.10 Deskriptor dan Level Kinerja ................................................................................................. 18

2.11 Menyiapkan Penilaian otentik............................................................................................... 18

2.11.1 Langkah-langkah Menciptakan Penilaian Otentik .......................................................... 19

BAB III .................................................................................................................................................... 23

KESIMPULAN ......................................................................................................................................... 23

PERTANYAAN DISKUSI........................................................................................................................... 24

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Standar penilaian memberikan kriteria untuk menilai kemajuan menuju visi


pendidikan sains. Standar ini menggambarkan kualitas praktek penilaian yang digunakan oleh
guru dan lembaga pendidikan untuk mengukur prestasi siswa dan kesempatan yang diberikan
siswa untuk belajar. Dengan mengidentifikasi karakteristik penting dari praktek penilaian,
standar berfungsi sebagai panduan untuk mengembangkan penilaian tugas, praktek, dan
kebijakan. Standar ini dapat diterapkan sama untuk penilaian siswa, guru, dan program; untuk
penilaian sumatif dan praktek penilaian formatif; dan untuk penilaian kelas serta skala besar
serta penilaian eksternal.(NSES, 1996)

Dalam visi dijelaskan oleh National Science Education Standards , penilaian adalah
mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains. Sebagai contoh, data
penilaian memberikan para siswa dengan umpan balik tentang seberapa baik mereka
memenuhi harapan guru dan orang tua mereka, guru dengan umpan balik tentang seberapa
baik siswa belajar, umpan balik tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat
kebijakan dengan umpan balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik
menyebabkan perubahan dalam sistem pendidikan sains dengan merangsang perubahan
kebijakan, membimbing pengembangan profesi guru, dan mendorong siswa untuk
meningkatkan pemahaman mereka.

Penilaian tugas Kinerja menggunakan rubrik penilaian untuk menunjukkan


kemampuan dalam mengerjakan tugas yang diamati dan diberi skor sesuai dengan indikator
gradasi kualitas tampilan dari butir rubrik untuk keterampilan tersebut. asesmen atau
penilaian yang mengharuskan siswa mempertunjukkan kinerja, bukan menjawab atau
memilih jawaban yang tersedia. Semuanya itu diberikan dalam bentuk tugas atau task.
Dalam menilai pencapaian tugas yang diberikan kepada mahasiswa tersebut, perlu ditetapkan

1
kriteria yang disepakati terlebih dahulu, yang disebut rubrik. Dengan demikian maka asesmen
kinerja yang utama ialah tugas (tasks) dan rubrik (rubrics) sebagai kriteria penilaian.

Asesmen kinerja (performance asesment) disebut juga dengan asesmen perbuatan


(unjuk kerja). Asesmen kinerja dilakukan untuk menilai tugas-tugas yang dilakukan oleh
peserta didik, sehingga guru dapat memiliki informasi yang lengkap tentang peserta didik.
Asesmen kinerja (Performance Assessment) pada dasarnya adalah asesmen autentik, karena
dalam asesmen ini peserta didik dituntut untuk mendemonstrasikan inkuiri ilmiah mereka,
melakukan penalaran dan keterampilan dalam menyelesaikan berbagai tugas menarik dan
menantang dalam konteks kehidupan nyata.

Asesmen komunikasi personal merupakan salah satu contoh dari asesmen alternatif.
Asesmen komunikasi personal digunakan untuk memperoleh informasi penting tentang
prestasi siswa dengan cara berkomunikasi dengan siswa. Dalam hal ini, prestasi siswa tidak
hanya meliputi prestasi belajar semata tetapi juga prestasi siswa dalam proses pembelajaran.
Dalam personal communication asesmen (penilaian komunikasi diri atau pribadi), aspek-
aspek perilaku yang dinilai meliputi aspek kelakuan, aspek kerajinan, aspek kebersihan,
aspek kerapian, dan aspek kedisiplinan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana metode asesmen (performance asesmen dan personal communication


asesmen)?
2. Bagaimana karakteristik dan kriteria dalam penilaian tugas otentik?
3. Bagaimana langkah-langkah menyiapakan penilaian tugas otentik?
4. Bagaimana Rubrik penilaian pada tugas otentik?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui bagaimana metode komunikasi personal dalam asesmen


2. Mengetahui karakteristikdan kriteria penilaian dalam tugas otentik
3. Mengetahui langkah-langkah menyiapkan penilaian tugas otentik
4. Mengetahui rubrik penilaian tugas otentik

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi Personal

Komunikasi personal merupakan salah satu bentuk asesmen alternatif yang


dilakukan dengan komunikasi melalaui siswa atau antar siswa. Manfaat asesmen ini
dapat digunakan sebagai : (1) alat cek ganda asesmen lain. (2) memantau apakah
kelas/individu berjalan sebagaimana mestinya, (3) mendorong dan mengevaluasi
penalaran dan pemecahan masalah siswa, dan (4) menilai prestasi siswa dalam partisipasinya
dalam diskusi kelas.

Asesmen melalui komunikasi personal merupakan bentuk asesmen yang bersifat


subjektif, oleh karena itu perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan baik sehingga
mampu menjadi jaminan mutu.

Beberapa pedoman penilaian profesional pada asesmen komunikasi personla sebagai


berikut:

 Target pencapaian yang kita rencanakan terhadap siswa


 Pertanyaan yang kita ajukan
 Kriteria yang kita terapkan dalam mengevaluasi jawaban-jawaban. Record
performans yang kita simpan
 Cara kita di dalam mendapatkan kembali hasil yang baru digunakan.
 Membuat interpretasi-interpretasi dari hasil tersebut.
 Berbagai cara di dalam kita menggunakan hasil tersebut.

Beberapa hal yang spesifik mengenai alasan yang tidak menerima komunikasi
personal sebagai asesmen juga menganggap enteng sebagai sumber informasi dan sebagai
strategi pengajaran antara lain:

3
 Masalah lupa, bahwa kemungkinan kekeliruan pikiran manusia sebagai alat
pencatat. Kadang hal-hal yang disimpan dalam otak berubah sejalan dengan
waktu karena alasan.

 Masalah penyeleksian. Penyeleksian (saringan personal dan profesional) telah


terbentuk selama bertahun-tahun pengalaman yang sangat lama, mewakili
norma-norma atau standar-standar untuk menginterpretasi dan bertindak.

 Tantangan sampling, diantaranya (1) terlalu sedikit mengumpulkan


informasi untuk menuntun kesimpulan yang meyakinkan tentang kemampuan
siswa. Di dalam contoh diskusi skor di atas, problema ini dapat muncul jika
diskusi terlalu pendek untuk setiap orang untuk mendemonstrasikan kemampuan
mengkonstribusi secara produktif. (2) tidak efisien, misalnya menghabiskan terlalu
banyak waktu untuk mengumpulkan terlalu banyak informasi.

 Menghindari masalah-masalah yang bersifat subyektif. Menyadari


subyektifitasnya, maka perlu dilakukan pengontrolan sehingga perlu dikontrol
sehingga asesmen komunikasi personal mampu memberikan hasil yang dapat
digunakan sebagai jaminan mutu. Biasnya asesmen ini lebih banyak disebabkan
karena kekeliruan pikiran manusia, maka perlu dirumuskan atribut dasar diataranya
(1) target pencapaian yang jelas dan khusus, (2) tujuan yang jelas, (3) representasi
yang jelas mengenai target, (4) contoh kinerja yang sesuai, dan (5)
pengendalian terhadap gangguan yang tidak diinginkan.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Komunikasi Personal


Kemampuan guru dalam menggunakan asesmen ini sangatlah bervariasi,
sehingga diperlukan latihan dan pengalaman yang memadai. Implementasi asesmen
komunikasi personal bagi yang berpengalaman mempunyai banyak keuntungan untuk
memberikan teknik-teknik asesmen antara lain:

4
1. Dapat menempa keterkaitan yang jelas dan lengkap antara strategi bertanya
dan fokus pembelajaran. Meski proses pembelajaran sedang berjalan, beberapa
pertanyaan dapat diberikan untuk membantu guru memonitor dan menyesuaikan

2. Tidak seperti bentuk asesmen lain, kuesioner yang mengejutkan atau


membingungkan siswa dapat diikuti pertanyaan lanjutan untuk menggali lebih dalam
ke dalam pemikiran siswa. Jika ditemukan miskonsepsi, guru dapat mengambil
tindakan untuk segera membetulkannya.

3. Komunikasi personal dapat spontan, memungkinkan guru mengambil keuntungan


dari peluang tak terduga untuk menilai dan meningkatkan pencapaian.

4. Komunikasi personal hampir tidak terbatas fleksibilitasnya dalam penerapan


sebagai asesmen kelas. Dapat difokuskan pada kisaran outcome dicanangkan
baik pada siswa individual, atau siswa sebagai kelompok.

5. Untuk pengguna yang sungguh-sungguh, reaksi nonverbal siswa dapat memberikan


pandangan ke dalam yang berharga dalam pencapaian dan perasaan mengenai
material yang dipelajari (atau tidak dipelajari). Indikator keyakinan,
ketidakpastian, kegembiraan, kebosanan, kenyamanan atau kecemasan dapat
berperan sebagai pemicu yang menuntun guru untuk memeriksa lebih dalam
ke dalam penyebab mendasar. Pemeriksaan persepsi seperti ini dapat dihasilkan
dalam komunikasi siswa/guru, dan tidak dihasilkan melalui alat asesmen lain.

Komunikasi personal dapat bersifat spontan dan individual, namun demikian


dalam pengembangannya perlu perencanaan yang baik. Dalam menggunakan asesmen
ini yang harus dilakukan oleh guru adalah (1) memulai dengan visi yang jelas mengenai
outcome yang ingin dicapai, (2) menterjemahkan visi ke dalam pertanyaan yang jelas dan
terfokus, (3) menggunakan bahasa yang sama dan membuka saluran komunikasi dengan
siswa, dan (4) mengambil sampel performa secara representatif.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menggunakan asesmen


komunikasi personal diataranya

1. Bahasa yang sama. Guru dan siswa harus mempunyai bahasa yang sama. Etnis dan
kultur dapat berbeda antara guru dan siswa, guru dapat membuat makna dalam
bahasa dan kultur siswanya. Jika tidak, maka terjadi kesalahan pengukuran.

2. Kefasihan verbal yang memadai. Bahaya salah pengukuran terletak dua arah. Jika
siswa tidak fasih, guru dapat salah interpretasi dan menarik inferensi yang salah, dan
jika siswa ”terlalu fasih”, guru dapat dibodohi siswa.
5
3. Karakteristik personal yang sesuai. Siswa yang pemalu tidak dapat menunjukkan
performa yang baik dalam konteks asesmen ini, dengan mengabaikan pencapaian
mereka sebenarnya. Sebaliknya siswa yang agresif dapat mengecoh guru akan aspek
pencapaian yang sebenarnya. Hal tersebut akan berlaku untuk asesor yang tidak
mempersiapkan diri dengan hati-hati, dan mereka yang tidak dapat tetap fokus.

4. Waktu yang cukup. Harus tersedia waktu yang cukup untuk melakukan bentuk
asesmen ini. Ketika terget ruang lingkupnya sempit dan hanya sedikit siswa yang
diases, waktu mungkin tidak menjadi faktor, satu atau dua pertanyaan bisa cukup
untuk memberikan gambaran cepat mengenai pencapaian. Tetapi, ketika target
melebar dan jumlah siswa meningkat, dua dimensi menjadi lebih penting

a. Pertama, harus ada waktu yang cukup yang memungkinkan guru untuk
berinteraksi dengan setiap siswa yang akan dinilai pencapaiannya.

b. Kedua, harus ada cukup waktu untuk guru mengambil sampel pencapaian
yang memadai untuk setiap siswa. Jika waktu tidak tersedia, lebih baik untuk
mengganti dengan strategi lain yang tidak membutuhkan kontak satu-satu
secara intens.

5. Lingkungan yang aman. Komunikasi personal akan bekerja paling baik ketika siswa
merasa mereka belajar dalam lingkungan yang aman.

6. Siswa memahami kebutuhan akan kejujuran. Komunikasi personal bekerja paling


baik sebagai asesmen ketika siswa memahami bahwa guru memerlukan jawaban
jujur, kuncinya adalah kepercayaan.

7. Alat untuk menyimpan record yang akurat. Karena tidak ada hasil kasat mata,
catatan asesmen dapat hilang. Jika melibatkan banyak siswa, target kompleks, dan
persyaratan akan penyimpanan yang luas, guru harus membuat catatan yang lebih
baik misalnya dengan tertulis atau rekaman tape.

Proses pelaksanaan di kelas, ada tiga tahapan yang dilakukan yaitu tahap persiapan,
diskusi dan proses asesmen, dan umpan balik. Dalam tahap persiapan dilakukan
pembuatan indikator kegiatan dan skornya. Tahap ini dapat dilakukan dengan curah
pendapat tentang perilaku positif yang memberikan sumbangan pada diskusi kelas yang
produktif. Misalnya hasil curah pendapat tersebut adalah:

6
1. Membuat konstribusi yang berkualitas tinggi yang sesuai dengan topic

2. Mendengarkan secara intensif ketika yang lain memberikan konstribusi

3. Bertindak untuk membawa temannya dalam diskusi

4. Mengklarifikasi pertanyaan

5. Tidak takut (berani) berdebat dan mempertahankannya

6. Membuat pernyataan-pernyataannya jelas dan ringkas

Selanjutnya siswa diminta mengidentifikasi tiga atau empat kecakapan interaksi


tersebut yang dinilai lebih penting untuk mencapai diskusi yang produktif dan memberinya
skor dua (2). Sisanya diseleksi kembali untuk menentukan kecakapan yang dianggap
penting, tetapi tidak cukup penting dibandingkan kelompok pertama dan memberinya skor
satu (1). Siswa juga diminta curah pendapat mengenai pola interaksi yang kontraproduktif
dalam sebuah diskusi. Misalnya dihasilkan perilaku kontraproduktif diantaranya:

1. Menyebabkan peserta diskusi lain tidak mengemukakan ide-idenya

2. Tidak berpartisipasi

3. Tidak mendengarkan dengan penuh perhatian

4. Menginterupsi ketika yang lain berbicara

5. Mendominasi dalam diskusi

6. Memberikan konstribusi di luar topik

Seperti halnya pada perilaku produktif, siswa diminta menentukan prioritas diantara
perilaku kontraproduktif serta memberi skor dengan nilai poin minus dua (-2) dan minus satu
(-1).

Diskusi dan Proses asesmen. Pada tahap ini siswa dibagi dalam dua kelompok
secara random dan diberi nama, misalnya satu kelompok diberi nama “innie”, yang lain
diberi nama “outie”. Para siswa duduk dalam lingkaran, outies duduk di sisi kanan innie
partnernya, lembar skor di pegang. Innies membaca sepenggal pada topic kontroversial
(mungkin editorial suratkabar pada isu politik) dan mendiskusikannya diantara mereka

7
sendiri. Setiap waktu partnernya menunjukkan satu dari perilaku yang didaftar pada lembar
skor, outies mencatatnya (tally). Nantinya hasil catatan dihitung untuk menemukan
frekuensi kemunculan berbagai target, hasilnya dikalikan dengan point untuk mengasilkan
skor. Innies dan outies kemudian berganti peran.

Umpan balik – melalui komunikasi personal. Setelah diskusi, para partner bertemu
untuk berbagi dan mendiskusikan hasil. Tugasnya adalah membicarakan satu sama lain
tentang kualitas dan pengaruh konstribusinya kepada interaksi kelompok. Mereka
mengindentifikasi perilaku positif dan pola produktif sebagai cara untuk
meningkatkan/perbaikan. Partner diminta memberikan contoh-contoh khusus dari sesuatu
hal-hal yang tampaknya untuk kerja baik dan tidak. Jika terjadi misinterpretasi, peserta
diberi kesempatan untuk menjelaskan apa mereka lakukan. Pendeknya, partner
memberikan umpan balik pada hasil, tidak hanya sebagai skor, tetapi sebagai komunikasi
personal mengenai asesmen dan hasilnya.

Berikutnya, kelas secara keseluruhan mendiskusikan implikasi aktivitas ini untuk


mencapai tujuan-tujuan tanggungjawab sebagai peserta diskusi. Ketika selesai dari
aktivitas ini mereka berusaha untuk mematuhi/mengikuti teknik-teknik diskusi yang baik.

2.3 Sasaran Asesmen Komunikasi Personal


Seperti hanya jenis asesmen lain, komunikasi personal juga dapat mengukur
beberapa target, diataranya pengetahuan, penalaran, keterampilan dan produk, serta
afektif (Tabel 2.3.1). Namun asesmen ini paling kuat untuk mengukur penalaran dan sikap
siswa.

8
Tabel 2.3.1 Target Komukasi Personal

Target Hal-hal yang perhatian

 Perlu hati-hati, berpatokan pada batasan-batasan dan isi domain pengetahuan


Pengetahuan  Tidak dapat menanyakan semua pertanyaan karena waktu yang terbatas
untuk jumlah materi yang banyak

 Merupakan kekuatan yang sebenarnya dari komunikasi personal.


Penalaran  Guru dapat menggunakan pertanyaan untuk membantu siswa memahami
dan meningkatkan penalaran serta pemecahan masalah

Skill dan  Dapat dilakukan dengan tepat jika guru memiliki kemampuan “melakukan
dan menciptakan” sehingga dapat mengukur kemampuan siswa hanya dengan
produk. meminta siswa berbicara melalui kinerja hipotetik.
 Perlu diingat bahwa, bicara bukanlah melakukan.

Pengukuran  Merupakan kekuatan lain dari komunikasi personal mampu


mengungkap sikap, minat, nilai, atau watak emosional.
sikap  Kunci keberhasilan asesmen ini adalah kepercayaan dan keterbukaan dalam
komunikasi.

2.4 Berbagai Bentuk Komunikasi Personal sebagai Asesmen


Ada lima format komunikasi personal yang dapat digunakan untuk meng-akses
pencapaian siswa yaitu bertanya, konferensi dan interviu, diskusi kelas, ujian lisan, dan
percakapan dengan yang lainnya.

1. Pengajaran Bertanya dan Menjawab (Instructional Question and


Answer)
Ketika pembelajaran, guru dan siswa saling bertanya dan menjawab. Kegiatan
ini selain meningkatkan proses berfikir dan belajar juga memberikan informasi
mengenai pencapaian. Guru mendengar jawaban siswa, menginterpretasikan dalam
standar internal, dan mengambil inferensi pada level perolehan siswa.
Kunci keberhasilan penggunaan metoda asesmen ini, sementara meminimalisasi
pengaruh kelemahan potensialnya antara lain :
a. Merencanakan pertanyaan kunci di awal pembelajaran untuk
memastikan kesesuaian dengan target dan kemampuan siswa
b. Menanyakan pertanyaan yang jelas dan singkat yang membantu siswa
memfokus pada kisaran yang relatif sempit dari respon yang diterima.
c. Memeriksa variasi penalaran, tidak hanya recall fakta dan informasi
d. Menanyakan pertanyaan pertama dan kemudian menunjuk siswa yang akan
menjawab, hal ini akan menjaga siswa tetap fokus.
9
e. Memanggil siswa yang sukarela atau tidak sukarela. Hal ini juga akan menjaga
siswa tetap melakukan tugasnya.
f. Menyimpan mental record mengenai performa hanya untuk sedikit siswa pada
waktu pendek. Catatan tertulis sangat esensial untuk sejumlah besar siswa
dalam periode waktu yang lebih lama.
g. Pengakuan akan respon benar atau bermutu tinggi; memeriksa respon yang
tidak
h. Benar untuk alasan yang mendasarinya.
i. Setelah pertanyaan diajukan, tunggu tiga sampai lima detik untuk respon.

Menurut Rowe dalam Stiggins (1994) ada beberapa keuntungan dalam penggunaan
asesmen jenis ini diantaranya

a. Lama waktu respon siswa meningkat


b. Jumlah dari respon yang tidak diminta tapi sesuai meningkat
c. Kegagalan untuk merespon penurunan
d. Kepercayaan diri siswa meningkat
e. Kejadian respon kreatif, spekulatif meningkat
f. Interaksi berpusat pada siswa meningkat, sementara pembelajaran berpusat
pada guru menurun
g. Siswa mempertahankan inferensi lebih baik
h. Jumlah pertanyaan yang diajukan siswa meningkat
i. Siswa yang lamban berkontribusi lebih banyak
j. Masalah disiplin menurun
k. Guru cenderung untuk melihat kelas dengan jumlah siswa
bekemampuan akademik rendah hanya sedikit
l. Guru tidak lagi mengharap siswa pandai saja yang memberikan respon

2. Konferensi dan Interviu(Conferences and Interviews)


Konferensi siswa-guru berperan sebagai audit terstruktur atau tidak terstruktur
mengenai pencapaian siswa, sasarannya adalah membicarakan apa yang sudah dan
apa yang belum dipelajari siswa.
Guru dan siswa berbicara langsung dan terbuka mengenai level perolehan
siswa, nyaman dengan materi yang dikuasai, kebutuhan khusus, minat, harapan
dan/atau topik lain yang berkaitan dengan pencapaian, yang berkonstribusi dengan
lingkungan pembelajaran yang efektif. Efeknya, guru dan siswa berbicara bersama-
sama dalam usaha memahami bagaimana bekerja bersama secara efektif.
Fokus interviu atau konferensi dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan siswa.
Kunci keberhasilan penggunaan konferensi antara lain:

10
a. Kedua partisipan harus terbuka, jujur dan berkeinginan untuk
mengamati aspek nyata dan penting dari pembelajaran
b. Pertanyaan interview harus terfokus pada target pencapaian dan tujuan
akan pertemuan
c. Pertanyaan dipikirkan dan direncanakan dengan baik di awal
d. Merencanakan waktu yang cukup untuk melakukan interiviu atau
konferensi keseluruhan.
e. Memastikan untuk memasukkan interviu dengan ringkasan pelajaran yang
telah dipelajari dan implikasinya dalam bagaimana guru dan siswa akan
bekerja sama di masa depan.

3. Diskusi Kelas(Class Discussions)

Ketika siswa berpartisipasi dalam diskusi kelas, guru mendengarkan interaksi,


mengevaluasi kualitas kontribusi siswa, dan mengambil inferensi mengenai
pencapaian siswa individual atau kelompok. Secara jelas, diskusi kelas mempunyai
efek simultan dengan meningkatkan baik pembelajaran siswa ataupun kemampuan
mereka menggunakan apa yang mereka tahu.
Untuk memperoleh keuntungan dari kekuatan metoda asesmen ini,sementara
meminimalisasi pengaruh kelemahan potensialnya, ikuti kunci di bawah ini :

a. Menyiapkan pertanyaan atau masalah diskusi di awal untuk


memfokuskan dengan tajam target pencapaian yang diinginkan
b. Melibatkan siswa dalam proses persiapan, memastikan pertanyaan
mereka dan isu kunci merupakan bagian dari campuran
c. Bertumpu pada format debat atau format tim lainnya untuk
memaksimalkan jumlah siswa yang dapat terlibat langsung. Berikan perhatian
khusus untuk melibatkan siswa berkemampuan rendah.
d. Formalkan format diskusi sampai pada tahap teridentifikasinya
perbedaan peran, seperti moderator, tim leader, pembicara, pencatat, dll, untuk
memaksimalkan jumlah siswa yang mempunyai peluang untuk menyajikan
bukti pencapaian mereka
e. Perlu diingat bahwa publik akan mengaitkan pencapaian siswa dengan konsep
diri.
f. Berikan alat sesuai dengan karakteristik siswa.

11
g. Jika informasi pencapaian berasal dari partisipasi diskusi maka
dibutuhkan nilai dan catatan tertulis

4. Ujian Lisan (Oral Examination)

Dalam tradisi pendidikan Eropa dan praktek asesmen sekarang, ujian lisan
masih memainkan peranan kuat. Guru merencanakan dan memiliki latihan untuk
siswa yang merefleksikan dan memberikan respon lisan. Guru mendengarkan dan
menginterpretasi respon tersebut dan mengevaluasi mutu dan menarik inferensi
mengenai level pencapaian.
Keuntungan dari ujian lisan adalah memberikan peningkatan kompleksitas dari
outcome pendidikan, kompleksitas, dan biaya dari penyusunan asesmen performa
yang lebih meyakinkan.
Berikut ini beberapa hal kunci yang harus diperhatikan agar asesmen berhasil :

a. Mengembangkan latihan singkat yang fokus pada outcome yang


diharapkan
b. Bertumpu pada latihan yang mengidentifikasi pengetahuan yang harus dimiliki,
menspesifikan jenis pemikiran yang digunakan, dan mengidentifikasi standar
yang akan diterapkan pada proses evaluasi
c. Mengembangkan kriteria penskoran tertulis di awal asesmen
d. Membuat kriteria yang memisahkan antara konten dan outcome
e. Menyiapkan di awal untuk mengakomodasi siswa-siswa yang
mempunyai hambatan dalam kemampuan bahasa
f. Mempunyai ceklis, skala tingkat, atau metoda pencatatan hasil lain yang siap
digunakan saat asesmen
g. Jika memungkinkan, respon direkam untuk evaluasi kembali kemudian

5. Percakapan dengan lainnya (Conversation with Others)

Guru dapat menemukan informasi berguna mengenai pencapaian siswa dengan bicara
dengan orang lain (siswa lain, guru lain, staf sekolah lain, orangtua, dan saudara)
mengenai pencapaian siswa dalam bentuk pertanyaan. Tetapi, bentuk seperti ini
harus digunakan sangat hati-hati untuk menghasilkan informasi kualitatif.
Beberapa kunci keberhasilan :

a. Jadilah konsumer kritis: periksa asal-usul dan kualitas bukti yang


diberikan oleh pemberi informasi. Pastikan anda mempunyai pemahaman yang
sama mengenai target pencapaian. Pastikan bahwa mereka menggunakan

12
metoda asesmen yang jelas, mengambil sampel dengan tepat, dan
mengendalikan bias mereka. Tanyalah mereka yang berada dalam posisi
mengetahui akan pencapaian siswa anda.
b. Dalam konteks dimana keputusan kritis ada dalam kesetimbangan, ambil
informasi lebih dari 1 orang, untuk menjaga dari bias.

2.5 Mengintegrasikan Asesmen Komunikasi Personal ke Dalam


Pembelajaran
Pengintegrasian asesmen komunikasi personal dalam pembelajaran perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Minimalisasi jumlah pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak.


Cari respon lebih kompleks sebagai materi rutin, maka siswa menjadi terbiasa
2. Uraikan rentangan jenis penalaran, tidak hanya recall untuk fakta
3. Tunggu respon. Biarkan siswa anda tahu anda mengharap jawaban dan tidak akan
membiarkan mereka tetap diam. Sekali mereka bicara, saluran komunikasi terbuka.
4. Jagalah seluruh kelas teribat dengan memanggil non sukarelawan,
5. menanyakan siswa untuk menambah apa yang sudah dikatakan seseorang,
dan menanyakan pada mereka jika mereka setuju atau tidak setuju.
6. Mengubah tanggung jawab untuk saling menanyakan pada siswa, mereka dapat
bertanya satu sama lain atau anda.
7. Meminta siswa untuk membuat parafrase pertanyaan masing-masing dan jawabannya
8. Meminta siswa untuk memberikan pertanyaan kunci dalam kelompok kecil, maka
lebih banyak siswa terlibat
9. Menawarkan kesempatan pada siswa untuk menjadi pemimpin diskusi, mempunyai
pertanyaan mereka sendiri
10. Meminta siswa untuk tetap pada jalur akan performa mereka, seperti penggunaan
lembar pentollian dan diari

2.6 Penilaian Otentik

Penilaian yang dalam bahasa inggris yaitu Evaluation atau Assesment. Pada akhir
suatu program dalam dunia pendidikan biasanya diadakan penilaian. Hal ini dilakukan tidak
lain untuk mengetahui seberapa siswa/peserta didik memahami pelajaran yang sudah
diberikan.

Dalam dunia pendidikan, penilaian adalah proses memberikan atau menentukan


kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Penilaian hasil proses belajar

13
adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria
tertentu (Sudjana, 2012).

Sejalan dengan Nana Sudjana, Gronlund & Linn mendefinisikan penilaian sebagai
suatu proses yang sistematis dan mencakup kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan
menginterpretasi informasi untuk menentukan seberapa jauh seorang siswa atau sekelompok
siswa menccapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, baik aspek pengetahuan,
sikap maupun keterampilan (Suprananto, 2012).

Dalam dunia pendidikan seperti pada lembaga sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA.
Pada umumnya, sebagian guru terbiasa menilai kemampuan siswa menggunakan tes tulis.
Padahal sebaik apapun tes tulis yang digunakan untuk menilaian kemampuan siswa, tidak
akan mampu menilai seluruh kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Penilaian yang seperti ini
biasa disebut penilaian tradisional. Dimana penilaian yang dilakukan oleh guru
menggunakan intrumen tes tulis atau sejenisnya.

Seperti yang dikatakan oleh Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian
tradisional untuk mengukur prestasi, seperti tes pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan,
dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Tes semacam
ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau
masyarakat (Sigit, 2014).

Dari berbagai kekurangan yang ada pada penilaian tradisional, maka dunia
pendidikan memerlukan jenis penilaian yang mampu menilai kompetensi siwa dari berbagai
aspek. Dalam hal ini adalah penilaian autentik. Autentik adalah keadaan yang sebenanya,
keadaan dimana siswa dinilai berdasarkan kompetensi yang benar-benar dimiliki oleh siswa.

Sehubungan dengan penilaian autentik, Gulikers mengungkapkan bahwa


penilaian otentik merupakan penilaian yang mampu memfasilitasi siswanya untuk
menggunakan kombinasi dari kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya untuk
mengaplikasikan sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupannya (Dahlan, 2014)

2.7 Perubahan Penilaian Tradisional ke Penilaian Autentik


Perbandingan berikut ini sangat disederhanakan tetapi diharapkan dapat
menggambarkan perbedaan pandagan dan asumsi dari kedua pendekatan penilaian tersebut.
Penilaian Tradisional merujuk pada ukuran-ukuran yang dipaksakan seperti tes pilihan ganda,
14
isian, benar salah, menjodohkan dan bentuk-bentuk serupa lainnya yang biasa digunakan
dalam pendidikan. Biasanya siswa memilih satu jawaban atau memanggil informasi untuk
dilengkapi. Bentuk-bentuk semacam itu mungkin yang dibakukan atau buatan guru, dan
dilaksanakan pada tingkat lokal, regional, nasional atau bahkan internasional.

Dibalik penilaian tradisional dan penilaian otentik ada suatu keyakinan bahwa misi
utama sekolah membantu warga negara produktif. Esensi dari keduaa pandangan tersebut
berbeda. Berikut akan disampaikan perbedaannya yang esensi.

Menurut pandangan Penilaian Tradisional (biasa) untuk menjadi warga yang poduktif
seseorang harus memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan tertentu. Oleh sebab itu,
sekolah harus membekali siswa sejumlah keterampilan dan pengetahuan tersebut. Untuk
menetapkan berhasil tidaknya, sekolah seyogianya mengetes para siswanya apakah mereka
menguasai pengetahuan dan keterampilan tersebut. Jadi, dalam Penilaian Tradisional
“sejumlah pengetahuan ditetapkan terlebih dahulu”. Dengan demikian, jadilahpengetahuan
tersebutsesuaidengan kurikulum yang perlu dicapai atau disampaikan. Akibatnya penilaian
(asesmen) dikembangkan dan dilaksanakan untuk menentukan apakah terjadi pencapaian
kurikulum tersebut atau tidak.

Sebaliknya penilaian otentik berangkat dari alasan dan praksis sebagai berikut. Salah
satu misi sekolah adalah mengembangkan warga negara produktif. Untuk menjadi seorang
warga negara produktif, seseorang harus menampilkan sejumlah task yang bermakna di
dunia sesungguhnya. Akibatnya, sekolah harus membantu para siswanya menjadi mahir
dalam menampilkan tugas-tugas bermakna yang menyerupai tantangan dunia sesungguhnya
untuk melihat apakah siswa-siswa tersebut mampu melakukannya.

Jadi, dalam penilaian otentik, penilaian yang menggiringmenujuke kurikulum yang


berarti bahwa guru pertama-tama menetapkan sejumlah tugas yang harus ditampilkan oleh
para siswa tentang hal-hal yang harus dikuasainya. Selanjutnyadikembangkan sebuah
kurikulum yang memungkinkan siswa menampilkan kinerjanya dengan baik, yang dengan
sendirinya melibatkan penguasaan pengetahuan dan keteraampilam-keterampilan yang
esensi. Hal ini berarti merancang dengan langkah mundur.

Penilaian otentik merupakan pelengkap dari penilaian tradisional. Dengan demikian,


mestinya perlu ditetapkan atribut-atribut yang cocok untuk keduan bentuk penilaian yang
saling melengkapi tersebut.

15
2.8 Model Penilaian Autentik dan Penilaian Tradisional
Assesmen tradisional (AT) ni mengacu pada forced choice ukuran tes pilihan ganda,
fill-in-the-blank, true-false, menjodohkan dan semacamnya yang telah digunakan dalam
pendidikan umumnya. Tes ini memungkinkan distandarisasi atau dikreasi oleh guru. mereka
dapat mengatur setingkat lokal, nasional atau secara internasional. Latar belakang assesmen
autentik dan tradisional adalah adalah suatu kepercayaan bahwa misi utama sekolah adalah
untuk membantu mengembangkan warga negara yang produktif. Itu adalah intisari dari misi
yang seringkali kita baca. Dari permulaan umum ini, muncul dua perspektif pada penilaian
yang berbeda atau menyimpang.

Esensi assesmen tradisional didasarkan pada filosofi bidang pendidikan yang


mengadopsi pemikiran antara lain: (1) suatu misi sekolah adalah untuk mengembangkan
warga negara produktif, (2) menjadikan warga negara produktif setiap orang harus memiliki
suatu kompetensi tertentu dari pengetahuan dan keterampilan, (3) sekolah harus mengajarkan
kompetensi pengetahuan dan keterampilan ini, (4) menentukan kompetensi itu sukses,
kemudian sekolah menguji para siswa, untuk melihat apakah mereka memperoleh
pengetahuan dan keterampilan.

2.9 Tugas (Tasks) dan Kriteria Penilaian atau Rubrik (Rubrics)


1. Tugas Otentik

Tugas otentik atau authentic tasks: is an assignment given to students designed to


assess their ability to apply standard-driven knowledge and skills to real-world
challenges. Dengan kata lain, suatu tugas yang meminta siswa melakukan atau
menampilkannya dianggap otentik apabila: (i) siswa diminta untuk mengkonstruk
respons mereka sendiri, bukan sekedar memilih dari yang tersedia; (ii) tugas
merupakan tantangan yang mirip (serupa) yang dihadapkan dalam (dunia) kenyataan
sesungguhnya. Mungkin saja ada definisi yang lain.

Baron’s (Marzano, 1993) mengemukakan lima kriteria task untuk penilaian otentik,
yaitu: 1) tugas tersebut bermakna baik bagi siswa maupun bagi guru; 2) tugas disusun
bersama atau melibatkan siswa; 3) tugas tersebut menuntut siswa menemukan dan
menganalisis informasi sama baiknya dengan menarik kesimpulan tentang hal
tersebut; 4) tugas tersebut meminta siswa untuk mengkomunikasikan hasil dengan
jelas; 5) tugas tersebut mengharuskan siswa untuk bekerja atau melakukan.

16
Anonymous (2005) mengemukakan dua hal yang perlu dipilih dalam menyiapkan
tugas dalam penilaian otentik, yaitu keterampilan (skills) dan kemampuan (abilities).
Selanjutnya anonymous mengungkapkan lima dimensi yang perlu dipertimbangkan
pada saat menyiapkan task yang otentik pada pembelajaran sains. Pertama, length
atau lama waktu pengerjaan tugas. Kedua, jumlah tugas terstruktur yang perlu dilalui
siswa. Ketiga, partisipasi individu, kelompok atau kombinasi keduanya. Keempat,
fokus evaluasi: pada produk atau pada proses. Kelima, keragaman cara-cara
komunatif yang dapat digunakan siswa untuk menunjukan kinerjanya.

2. Tipe Tugas Otentik


Tugas-tugas penilaian kinerja dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk.
a. Computer Adaptive testing (tidak berbentuk tes obyektif) yang menuntut peserta
tes dapat mengekspresikan diri untuk dapat menunjukan tingkat kemampuan
yang nyata;
b. Tes pilihan ganda diperluas, dengan memberikan alasan terhadap jawaban yang
dipilih;
c. extended response atau open ended question juga dapat digunakan;
d. group performance assessment (tugas-tugas kelompok) atau individual
performance assessment (tugas perseorangan);
e. interview berupa pertanyaan lisan dari asesor;
f. portofolio sebagai kumpulan hasil karya siswa;
g. observasi partisipasif;
h. projek, expo atau demonstrasi;
i. constructed response, yang siswa perlu mengkonstruk sendiri jawabannya.

3. Kriteria Penilaian (Rubrics)

Sebagaimana telah diungkapkan bahwa penilaian otentik atau penilaian berbasis


kinerja terdiri dari tasks + rubrics. Selanjutnya akan diuraikan tentang “rubrics”.
Rubrics merupakan alat pemberi skor yang berisi daftar kriteria untuk sebuah
pekerjaan atau tugas (Andrade dalam Zainul, 2001:19). Secara singkat scoring rubrics
terdiri dari beberapa komponen, yaitu dimensi, definisi dan contoh, skala, serta
standar. Dimensi akan dijadikan dasar menilai kinerja siswa. Definisi dan contoh
merupakan penjelasan mengenai setiap dimensi. Skala ditetapkan karena akan

17
digunakan untuk menilai dimensi, sedangkan standar ditentukan untuk setiap kategori
kinerja.

2.10 Deskriptor dan Level Kinerja


Rubric di atas melibatkan komponen lain yang umun digunakan dalam penilaian
otentik atau penilaian berbasis kinerja, yaitu descriptor. Descriptor mengeksplisitkan tingkat
kinerja siswa pada masing-masing level dari suatu penampilan. Contohnya rumusan standar
minimal dalam perumusan tujuan pembelajaran khusus. Descriptor digunakan untuk
memperjelas harapan atau aspek yang dinilai. Selain itu descriptor juga membantu penilaian
(rater) lebih konsisten dan lebih objektif. Bagi guru yang melaksanakan penilaian otentik,
descriptor membantu memperoleh umpan balik yang lebih baik.

2.11 Menyiapkan Penilaian otentik


Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa dalam penilaian otentik siswa
diminta menampilkan sejumlah tugas dalam dunia sesungguhnya yang
memperlihatkan aplikasi keterampilan dan pengetahuan yang esensial. Dengan
demikian sebenarnya kita beruntung karena kita tidak usah mengembangkan suatu
penilaian otentik yang baru. Kita dapat menggunakan tugas-tugas otentik

STANDA
R

TUGAS-TUGAS OTENTIK

KRITERI
A

RUBR
IK

Skor Rujukan Penyesuaia


atau n
Benchmark pembelajara
n
Gambar 2. Diagram Alur Menyiapkan Penilaian Otentik

di kelas kita sendiri. Mungkin juga kita sudah siap dengan sejumlah standar tertulis,
yang pertama-tama dan langkah-langkah penting dalam prosedurnya. Dalam suatu
tugas kita perlu menyatakan kriteria terlebih dahulu untuk menilai kinerja siswa

18
berkenaan dengan tugas tersebut. Dengan kata lain kita mengem- bangkan sebuah
rubrik untuk tugas tersebut.
2.11.1 Langkah-langkah Menciptakan Penilaian Otentik
1. Mengidentifikasi standar

Seperti tujuan umum (goal), standar merupakan pernyataan yang harus diketahui
dan dapat dilakukan siswa, tetapi ruang lingkupnya lebih sempit dan lebih
mudah dicapai daripada tujuan umum. Biasanya standar merupakan satu
pernyataan singkat yang harus diketahui atau mampu dilakukan siswa pada poin
tertentu. Agar operasional, rumusan standar hendaknya dapat diobservasi dan
dapat diukur. Contoh: siswa mampu menjumlah dua digit angka dengan benar;
menjelaskan proses fotosintesis; mengidentifikasi sebab dan akibat perang
mikroba; menggunakan pinhole camera untuk menciptakan “kertas” positif dan
“kertas” negatif. Jadi, standar harus ditulis dengan jelas, operasional, tidak
ambigu dan tidak rancu, tidak terlalu luas atau terlalu sempit, mengarahkan
pembelajaran dan melakukan penilaian.

2. Memilih suatu tugas otentik

Dalam memilih tugas otentik, pertama-tama kita perlu mengkaji standar yang
kita buat, dan mengkaji kenyataan (dunia) sesungguhnya. Misalnya daripada
meminta siswa menyelesaikan soal pecahan, lebih baik kita siapkan tugas
memecahkan masalah pembagian martabak untuk suatu keluarga beranak
tujuh agar setiap anggota keluarga mempunyai bagian yang sama.

3. Mengidentifikasi Kriteria untuk tugas (tasks)

Kriteria tidak lain adalah indikator-indikator dari kinerja yang baik pada
sebuah tugas. Apabila terdapat sejumlah indikator, sebaiknya diperhatikan
apakah indikator-indikator tersebut sekuensial (memerlukan urutan) atau
tidak.
a. Contoh-contoh kriteria

Contoh sejumlah indikator dalam urutan (mengamat dengan mikroskop):


- Mengatur pencahayaan melalui penggunaan cermin
- Menempatkan obyek di atas lubang pada meja mikroskop;

19
- Mengatur posisi lensa obyektif (perbesaran rendah) tepat di atas
lubang dengan obyek tersebut dengan jarak kira-kira setengah
sentimeter di atasnya;
- Menempatkan salah satu mata (dengan kedua mata terbuka) pada
lensa okuler sambil memutar pengatur kasar ke belakang;
- Mengatur penempatan obyek sambil tetap melihat di bawah mikroskop;
- Memutar revolver yang merupakan tempat melekatnya lensa
obyektif sehingga lensa obyek berukuran lebih tinggi tepat di atas
obyek yang sedang diamati;
- Memutar pengatur halus perlahan-lahan dengan mata tetap
mengamati melalui lensa okuler;
- Memperlihatkan obyek yang sudah ditemukan (atau menggambar
obyek yang ditemukan).
Contoh sejumlah indikator tidak dalam ururtan (dalam matematika):
- ketepatan kalkulasi;
- ketepatan pengukuran pada model skala;
- label-label pada model skala;
- organisasi kalkulus;
- kerapihan menggambar;
- kejelasan keterangan/eksplanasi.

b. Karakteristik suatu kriteria yang baik

Kriteria yang baik antara lain adalah sebagai berikut.


1) dinyatakan dengan jelas, singkat;
2) pernyataan tingkah laku, dapat diamati;
3) ditulis dalam bahasa yang dipahami siswa.

c. Jumlah Kriteria untuk sebuah task

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.


1) batasi jumlah kriteria, hanya pada unsur-unsur yang esensial dari
suatu tugas (antara 3-4, di bawah 10);
2) tidak perlu mengukur setiap detil tugas;
3) Kriteria yang lebih sedikit untuk tugas-tugas yang lebih kecil
atau sederhana.
20
4. Menciptakan standar kriteria atau rubrik (rubrics)

a. Menyiapkan suatu rubrik analitis


Dalam rubrik tidak selalu diperlukan descriptor. Deskriptor merupakan
karakteristik perilaku yang terkait dengan level-level tertentu, seperti
observasi mendalam, prediksinya beralasan, kesimpulannya berdasarkan
hasil observasi.
b. Menyiapkan suatu rubrik yang holistic

Dalam rubrik holistic, dilakukan pertimbangan seberapa baik seseorang


telah menampilkan tugasnya dengan mempertimbangkan kriteria secara
kese- luruhan. Sebagai contoh, dalam presentasi dapat disiapkan rubrik
keseluruhan sebagai berikut.
Aspek Presentasi oral Kriteria penilaian presentasi oral
Penguasaan (Mastery)  selalu melakukan kontak pandangan
 volume selalu sesuai
 antusiasme hadir selama presentasi
 rangkuman sangat akurat
Kemahiran (Proficiency) - biasanya melakukan kontak pandangan;
- volume biasanya sesuai;
- antusiasme muncul pada kebanyakan
presentasi
- hanya 1-2 kesalahan dalam rangkuman
Pengembangan + kadang-kadang melakukan kontak pandangan
+ volume kadanag-kadang memadai
+ sewaktu2 antusiasme dalam presentasi
+ beberapa kesalahan dalam rangkuman
Ketidak akuratan = tak pernah atau jarang melakukan
kontak pandangan
= volume tidak memadai
= jarang tampak antusiasme dalam presentasi
= banyak kekeliruan dalam rangkuman

1. Mencek rubrik yang telah dibuat

Untuk keperluan pengecekan rubrik yang telah dibuat sebaiknya kita


meminta kepada rekan kerja sesama guru untuk mereviunya, atau meminta
siswa mengenai kejelasannya. Masukan dari mereka dapat digunakan untuk
memperbaiki standar yang telah kita siapkan. Ada baiknya kita juga memeriksa

21
atau mencek apakah rubrik tersebut dapat dikelola dengan mudah. Bayangkan
penampilan atau kinerja siswa ketika sedang melakukannya.

22
BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Asesmen komunikasi personal merupakan jenis asesmen yang fleksibel, yang


dapat digunakan untuk mengukur target pengetahuan, penalaran, skill dan
produk, serta sikap
2. Dalam prosedur penggunaan asesmen komunikasi personal adalah visi yang
jelas mengenai outcome yang ingin dicapai, menterjemahkan visi ke dalam
pertanyaan yang jelas dan terfokus, menggunakan bahasa yang sama dan
membuka saluran komunikasi dengan siswa, dan mengambil sampel performa
secara representatif. Faktor yang perlu dipertimbangkan bahasa yang sama,
kefasihan verbal yang memadai, karakteristik personal yang sesuai, waktu
yang cukup, lingkungan yang aman, siswa memahami kebutuhan akan
kejujuran, (7) alat untuk menjadi catatan yang akurat.
3. Beberapa macam bentuk asesmen komunikasi personal yang umum
digunakan antara lain: pertanyaan dan jawaban instruksional, konferensi dan
insterviu, diskusi kelas, ujian lisan, dan percakapan dengan lainnya
4. Dalam hubungannya dengan kurikulum, dasar pandangan yang digunakan
penilaian otentik berbeda dengan penilaian tradisional. Penilaian otentik
lebih menekankan pada performansi yang dituntut dalam dunia kerja atau
kenyataan sesungguhnya yang ditentukan terlebih dahulu, baru
kurikulumnya, sementara prnilaian tradisional menekankan pengetahuan apa
yang dibutuhkan dinyatakan dalam konten kurikulum
5. Penilaian otentik tidak sulit atau menyita waktu, karena terintegrasi dengan
pembelajaran. Penilaian otentik berpihak pada siswa dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruk responsnya,
mengekspresikan pendapatnya, bukan sekedar memilih.

23
PERTANYAAN DISKUSI

1. Toni Hidayat

Pertanyan: Mengapa ada gradasi atau interval skor pada rubric?

Jawab: Perbedaan gradasi atau interval skala pada rubric bergantung kepada tujuan
seorang peneliti. Terkadang seorang peneliti ingin responden memilih arah suatu pilihan
misalnya ke arah setuju ataupun tidak setuju, meskipun tersedia pilihan sangat atau
sangat tidak setuju. Sebagian besar rubric yang menggunakan ini merupakan jenis rubric
yang kontennya berupa pemilihan faktor-faktor masalah tertentu

2. Mutia Vernanda

Pertanyaan: Kapan menggunakan rubric holistic dan analitik ?

Jawab: Rubrik holistic biasanya digunakan apabila kesalahan pada bagian dari proses
masih dapat ditolerir, asalkan kualitas keseluruhannya cukup tinggi. Penggunaan rubric
holistic mungkin tidak sesuai bagi suatu tugas penampilan yang mengharuskan
mahasiswa untuk menciptakan respons tertentu, atau tidak terdapat jawaban benar secara
pasti. Fokus dari suatu skor yang menggunakan rubrik holistik ialah terhadap kualitas
secara keseluruhan, kemahiran atau pemahaman terhadap isi dan ketrampilan spesifik,
jadi meliputi asesmen yang bertaraf unidimensi. Penggunaan rubrik holistic dapat
menghasilkan proses scoring yang lebih cepat dibanding rubrik analitik. Pada dasarnya
hal ini disebabkan oleh karena si penilai atau pemeriksa diharapkan untuk membaca ,
memeriksa produk atau penampilan mahasiswa hanya sekali dalam rangka memperoleh
kesan yang menyeluruh tentang hasil pekerjaan mahasiswa. Karena intinya ialah
asesmen keseluruhan penampilan, maka rubrik holistik digunakan secara khas, meskipun
tidak eksklusif apabila tujuan asesmen penampilan itu bersifat sumatif. Pada umumnya,
hanya dapat diberikan kepada mahasiswa umpan balik yang sangat terbatas sebagai hasil
penskoran tugas penampilan menggunakan cara ini.
Rubrik Analitik biasanya dipilih apabila dinginkan tipe respons yang cukup terfokus,
yaitu untuk tugas penampilan yang mungkin mempunyai 1 atau 2 jawaban, dan
kreativitas tidak terlalu esensial dalam jawaban mahasiswa. Lagipula, pada mulanya
rubric analitik terdiri atas beberapa skor, yang diikuti dengan penjumlahan untuk skor
24
akhir. Penggunaannya mewakili asesmen pada tingkatan multidimensi. Seperti telah
dikatakan semula bahwa penggunaan rubric analitik dapat mengakibatkan proses
penskoran itu sangat lambat, sebagai akibat dari pengukuran berbagai ketrampilan atau
karakteristik yang sangat berbeda, yang masing-masing memerlukan pemeriksaan
berulang kali. Baik pengkonstruksiannya maupun pada penggunaannya memerlukan
waktu yang lama. Ketentuan umumnya ialah bahwa pemeriksaan pekerjaan seseorang itu
memerlukan waktu tersendiri untuk setiap tugas penampilan yang spesifik atau criteria
penskoran. Namun demikian, keuntungan penggunaan rubric analitik itu sangat berarti.
Derajat umpanbalik yang diberikan kepada mahasiswa (dan dosen) sangatlah bermakna.
Mahasiswa menerima umpanbalik spesifik terhadap setiap kriteria penskoran individual
dari penampilannya, dan hal ini tidak terjadi pada penggunaan rubrik holistic.

25