You are on page 1of 19

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. A
Usia : 40 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Agama : Islam
Status Pernikahan : Menikah
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal Masuk : 9 Desember 2018
Tanggal Periksa : 10 Desember 2018
No. RM : 917632

II. ANAMNESA
Autoanamnesa pada tanggal 10 Desember 2018 pukul 08.00 WIB di RSPAD Gatot
Soebroto Unit Stroke.

KELUHAN UTAMA
Kebas pada anggota gerak kiri

KELUHAN TAMBAHAN
Mual dan bicara pelo

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Sejak 9 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) pasien merasakan kebas pada
anggota gerak bagian kiri dan kemudian merasakan lemah saat sedang bekerja di kantor
mendadak terjatuh. Riwayat mual dan muntah lebih dari 4 kali tanpa disertai penurunan
kesadaran selama berada di RS dan saat masih di kantor pasien. Pasien merasakan
bicaranya menjadi pelo. Pasien merasakan mual dan perasaan berputar yang diperburuk
bila pasien dalam kondisi duduk atau berubah posisi tiba-tiba. Pasien diantar ke RS Mitra

1
Keluarga Kelapa Gading dan saat diperiksa tekanan darah sistol pasien lebih dari 200
mmHg. Kemudian pasien dipindahkan ke RS Hermina Kemayoran agar dapat menerima
BPJS dan dirawat selama 6 hari. Pasien kemudian meminta untuk di rujuk ke RSPAD
Gatot Soebroto tanggal 9 Desember 2018.

Keluhan lain seperti kejang tidak ada. Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala,
penyakit diabetes mellitus dan jantung.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien mengatakan kebas bagian kiri anggota gerak ini baru dirasakan pertama kali.
Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu dan sempat
mengkonsumsi obat Amlodipin 10 mg selama 2 tahun, menurut istri pasien 1 tahun
terakhir pasien mengaku tidak mengkonsumsi obat dan beralih mengkonsumsi jus seledri
serta timun untuk mengontrol hipertensinya. Seminggu terakhir sebelum serangan pertama
terjadi pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan maupun jus seledri.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Pasien menyangkal di keluarga ada yang mempunyai keluhan serupa. Mendiang
bapak pasien memiliki riwayat Hipertensi.

RIWAYAT KELAHIRAN/ PERTUMBUHAN/ PERKEMBANGAN


Pasien lahir normal cukup bulan. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan tidak
terhambat, pasien dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.

III. PEMERIKSAAN FISIK


STATUS INTERNUS
 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, berbaring di bed.
 BB : 78 kg
 TB : 178 cm
 Gizi : Normal (IMT = 24 kg/m2)
 Tanda Vital
Tekanan Darah Kanan : 185/110 mmHg

2
Tekanan Darah Kiri : Tidak dapat diperiksa
Nadi Kanan : 68 x/menit
Nadi Kiri : 70 x/menit
Pernafasan : 17 x/menit
Suhu : 36,7 ºC
 Mata : Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik +/+,
 Leher : Tidak didapatkan pembesaran KGB
 Jantung : BJ I-II, regular, Gallop (-), Murmur(-)
 Paru : SN vesikuler kedua lapang paru, Rhonki (-)/(-),
Wheezing(-)/(-)
 Hepar : Tidak teraba membesar
 Lien : Tidak teraba membesar
 Ekstemitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-), CRT <2’

STATUS PSIKIATRI
 Tingkah Laku : Wajar
 Perasaan Hati : Euthym
 Orientasi : Baik
 Jalan Pikiran : Koheren
 Daya Ingat : Baik

STATUS NEUROLOGIS
 Kesadaran : Compos Mentis, E4M6V5, GCS 15
 Sikap Tubuh : Berbaring
 Cara Berjalan : Tidak diperiksa
 Gerakan Abnormal : Tidak ada

KEPALA
 Bentuk : Normosefalik
 Simetris : Simetris
 Pulsasi : Teraba pulsasi A. Temporalis dextra dan sinistra
 Nyeri tekan : Tidak ada

3
LEHER
 Sikap : Lurus, simetris
 Gerakan : Bebas
 Vertebra : Normal
 Nyeri tekan : Tidak ada

GEJALA RANGSANG MENINGEAL


Kanan Kiri
 Kaku kuduk :- -
 Laseque :- -
 Kerniq :- -
 Brudzinsky I :- -
 Brudzinsky II :- -
 Babinski :- -

NERVUS CRANIALIS
N I. Olfaktorius
Daya Penghidu : Normosmia / Normosmia

N II. Optikus
Ketajaman Penglihatan : Baik / Baik
Pengenalan Warna : Baik / Baik
Lapang Pandang : Baik / Baik
Fundus : Tidak dilakukan

N III. Occulomotorius/ N IV. Trochlearis /N VI. Abduscen


Ptosis : (-) (-)
Strabismus : (-) (-)
Nistagmus : (-) (-)
Exopthalmus : (-) (-)
Enopthalmus : (-) (-)
Gerakan Bola Mata

4
Lateral : (+) (+)
Medial : (+) (+)
Atas Medial : (+) (+)
Bawah Medial : (+) (+)
Atas Lateral : (+) (+)
Bawah Lateral : (+) (+)

Pupil
Ukuran : Ǿ3 mm Ǿ3 mm
Bentuk : Bulat Bulat
Iso/anisokor : Isokor
Posisi : Sentral Sentral
Reflek Cahaya Langsung : (+) (+)
Reflek Cahaya Tidak Langsung : (+) (+)

N V. Trigeminus
Menggigit : (+)
Membuka Mulut : Simetris
Sensibilitas Atas : (+) (+)
Tengah : (+) (+)
Bawah : (+) (+)
Reflek Masseter : Baik
Reflek Zigomatikus : Baik
Reflek Kornea : Baik
Reflek Bersin : Tidak dilakukan

N VII. Fasialis
Pasif
 Kerutan kulit dahi : Simetris kanan kiri
 Kedipan mata : Simetris kanan kiri
 Lipatan nasolabial : Simetris kanan kiri
 Sudut mulut : Simetris kanan kiri
Aktif

5
 Mengerutkan dahi : Simetris kanan kiri
 Mengerutkan alis : Simetris kanan kiri
 Menutup mata : Simetris kanan kiri
 Meringis : Simetris kanan kiri
 Menggembungkan pipi : Simetris kanan kiri
 Gerakan bersiul : Dapat dilakukan
 Daya pengecapan lidah 2/3 depan : Baik
 Hiperlakrimasi : (-)
 Lidah kering : (-)

N VIII. Vestibulocochlearis
Mendengan suara gesekan jari tangan : (+) / (+)
Mendengar detik jam arloji : (+) / (+)
Tes swabach : Tidak dilakukan
Tes rinne : Tidak dilakukan
Tes webber : Tidak dilakukan

N IX. Glosopharingeus
Arcus pharynx : Simetris
Posisi uvula : Ditengah
Daya pengecapan lidah 1/3 belakang : Tidak dilakukan
Reflek muntah : Tidak dilakukan

N X. Vagus
Denyut nadi : Kuat angkat, reguler
Arcus pharynx : Simetris
Bersuara : Baik
Menelan : Baik

N XI. Accesorius
Memalingkan kepala : Bebas
Sikap bahu : Simetris kanan kiri
Mengangkat bahu : Bebas

6
N XII. Hipoglosus
Menjulurkan lidah : Baik
Kekuatan lidah : Cukup
Atrofi lidah : (-)
Artikulasi : Kurang Jelas
Tremor lidah : (-)

SISTEM MOTORIK
Trofi : Eutrofi Eutrofi
Eutrofi Eutrofii
Gerakan : Bebas Bebas
Bebas Bebas
Kekuatan : 5555 5555
5555 5555
Tonus : Normotonus Normotonus
Normotonus Normotonus

SISTEM REFLEKS
REFLEKS FISIOLOGIS
Refleks Tendon : Kanan Kiri
 Refleks Biseps : (+) (+)
 Refleks Triseps : (+) (+)
 Refleks Patella : (+) (+)
 Refleks Archilles : (+) (+)
Refleks Periosteum : Tidak dilakukan
Refleks Permukaan :
 Dinding perut : Simetris
 Cremaster : Tidak dilakukan
 Spinchter Anii : Tidak dilakukan

REFLEKS PATOLOGIS : kanan kiri


 Hoffman Trommer : (-) (-)

7
 Babinski : (-) (-)
 Chaddock : (-) (-)
 Oppenheim : () (-)
 Gordon : (-) (-)
 Schaefer : (-) (-)
 Rosolimo : (-) (-)
 Mendel Bechterew : (-) (-)
 Klonus paha : (-) (-)
 Klonus kaki : (-) (-)

SISTEM SENSIBILITAS
Eksteroseptif Lengan Tungkai Badan

Nyeri Normotesia Normotesia Normotesia

Suhu Normotesia Normotesia Normotesia

Taktil Normotesia Normotesia Normotesia

Proprioseptif
Vibrasi : Tidak dilakukan
Posisi : (+) / (+)
Tekan dalam : Tidak dilakukan

KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN


Tes Romberg : Tidak dilakukan
Tes Tandem : Tidak dilakukan
Tes Fukuda : Tidak dilakukan
Disdiadokinesis : Dilakukan dengan baik
Rebound phenomenon : Dilakukan dengan baik
Tes telunjuk hidung : Dilakukan dengan baik
Tes telunjuk telunjuk : Dilakukan dengan baik
Tes tumit lutut : Dilakukan dengan baik

8
FUNGSI OTONOM
Miksi
Inkontinensia : (-)
Retensi : (-)
Anuria : (-)
Defekasi
Inkontinensia : (-)
Retensi : (-)

FUNGSI LUHUR
Fungsi bahasa : Baik
Fungsi emosi : Baik
Fungsi orientasi : Baik
Fungsi memori : Baik
Fungsi kognisi : Baik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium klinik tanggal 9 Desember 2018
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi Rutin
Hemoglobin 13.0 13.0 – 18.0 g/dL
Hematokrit 35 * 40 – 52 %
Eritrosit 4.5 4.3 – 6.0 juta/uL
Leukosit 8610 4.800 – 10.800 /uL
Trombosit 201000 150.000 – 400.000 /uL
MCV 79 * 80 – 96 fL
MCH 29 27 – 32 g/dL
MCHC 37 * 32 – 36 g/dL
Kimia Klinik
Ureum 17 20 – 50 mg/dL
Kreatinin 0.8 0.5 – 1.5 mg/dL
Glukosa Darah (Sewaktu) 96 70 – 140 mg/dL
Natrium (Na) 139 135 – 147 mmol/L

9
Kalium (K) 2.4 ** 3.5 – 5.0 mmol/L
Klorida (Cl) 90 * 95 – 105 mmol/L

Pemeriksaan laboratorium tanggal 10 Desember 2018


Hasil pemeriksaan laboratorium klinik
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Kimia Klinik
SGOT (AST) 24 < 35 U/L
SGPT (ALT) 15 < 40 U/L
Kolestrol Total 188 < 200 mg/dL
Trigliserida 83 < 160 mg/dL
Kolestrol HDL 41 > 35 mg/dL
Kolestrol LDL 130 * < 100 mg/dL
Ureum 34 20 – 50 mg/dL
Kreatinin 0.9 0.5 – 1.5 mg/dL
Glukosa Darah (Puasa) 90 70 – 100 mg/dL
Glukosa Darah (2 jam PP) 104 70 – 140 mg/dL
Natrium (Na) 140 135 – 147 mmol/L
Kalium (K) 2.6 ** 3.5 – 5.0 mmol/L
Klorida (Cl) 93 95 – 105 mmol/L

Pemeriksaan Radiologi
Tanggal 9 Desember 2018

10
CT SCAN Kepala

Pada pemeriksaan ct scan kepala potongan aksial, tanpa pemberian kontras media, dengan
hasil sebagai berikut:

11
 Tampak lesi hiperdens kecil berdensitas perdarahan di medulla oblongata, estimasi
volume 0,7 ml dengan edema perifokal.
 Tampak pula lesi hipodens multiple kecil di sentrum semiovale kanan kiri, korona
radiate kanan, kapsula eksterna kanan kiri, thalamus kiri, basal ganglia kanan kiri dan
pons.
 Tampak area hipodens samar di periventrikel lateralis kornu anterior dan posterior
kanan kiri.
 Sulci sulci kortikal kedua hemisfer serebri dan gyri baik.
 Sistem ventrikel dan sisterna tidak melebar.
 Tidak tampak midline shift.
 Kalsifikasi fisiologis di pleksus koroideus dan pineal body.
 Tidak tampak kelainan di daerah CPA dan serebelli.
 Mastoid aircells dan sinus paranasal baik
 Orbita dan bulbus okuli kanan-kiri baik.
 Tulang kepala intak.
Kesan :
- Perdarahan intraparenkim di medulla oblongata estimasi volume 0,7 ml dengan edema
perifokal.
- Infark lacunar multiple di sentrum semiovale kanan kiri, korona radiata kanan, kapsula
eksterna kanan kiri, thalamus kiri, basal ganglia kanan kiri dan pons.
- Leukoariosis periventrikel lateralis bilateral.

V. RESUME
Seorang laki-laki usia 40 tahun datang dengan kebas pada anggota gerak kiri dan bicara
pelo disertai mual dan muntah lebih dari 4 kali tanpa penurunan kesadaran. Keluhan
lain yang dirasakan adalah rasa berputar yang diperburuk ketika berubah posisi dari
berbaring ke duduk. Rasa kebas diawali dengan nyeri pada leher bagian belakang. Pada
pemeriksaan fisik: TD 185/110 mmHg, tanda vital lain dalam batas normal. Bentuk
pupil bulat, ukuran pupil 3mm/3mm, isokor. Pada pemeriksaan neurologis didapatkan
gangguan artikulasi saat bicara, lain-lain dalam batas normal. Pada pemeriksaan
laboratorium klinik didapatkan penurunan kalium, penurunan hematokrit, MCV dan
MCHC dan peningkatan Kolestrol LDL. Pada pemeriksaan ct scan didapatkan kesan
berupa perdarahan intraparenkim di medulla oblongata estimasi volume 0,7 ml dengan

12
edema perifokal, infark lacunar multiple di sentrum semiovale kanan kiri, korona
radiata kanan, kapsula eksterna kanan kiri, thalamus kiri, basal ganglia kanan kiri dan
pons, leukoariosis periventrikel lateralis bilateral.

VI. DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis : Hemihipestesi Sinistra
Diagnosis Topis : Medulla Oblongata
Diagnosis Etiologi : Stroke Hemoragik

VII. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
- Tirah baring 20 - 30o
- Makan dan minum yang teratur dan bergizi
- Teratur dan rutin minum obat setiap hari
Medikamentosa
- Asering 24 tpm
- RL + KCL 25 meq 14 tpm tiap 12 jam
- Citicolin 2 x 500 mg IV
- NB 5000 1 x 1 drip IV
- Amlodipin 1 x 10 mg
- KSR 3 x 1
- Betahistine 3 x 8 mg (jika perlu)

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam

13
BAB II
DISKUSI KASUS

Pasien laki-laki usia 40 tahun datang dengan keluhan rasa kebas dan lemah di anggota
gerak kiri dan mual muntah sebanyak lebih dari 4 kali, dan diikuti dengan kesulitan
berkomunikasi yang dapat saja disebabkan oleh karena defisit neurologis. Pasien memiliki
riwayat hipertensi selama 3 tahun terakhir. Tekanan darah sistolik pasien pada awal serangan
> 200 mmHg. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik umum maupun neurologis secara
komprehensif didapatkan tekanan darah 185/110 mmHg, tanda-tanda vital lain dan status
internus dalam batas normal, sedangkan pada pemeriksaan neurologis didapatkan kelainan
diantaranya disartria dan hemihipestesi. Pada gejala yang ditunjukan oleh pasien seperti TD >
200 mmHg, riwayat mual muntah lebih dari 4 kali, serta adanya kesulitan berbicara mengacu
kuat kepada stroke hemoragik.

Stroke hemoragik dapat terjadi apabila lesi vascular intraserebrum mengalami rupture
sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subarachnoid atau langsung ke dalam jaringan
otak. beberapa penyebab perdarahan intraserebrum: perdarahan intraserebrum, hipertensif;
perdarahan subarachnoid (PSA) pada rupture aneurisma sakular (Berry), rupture malormasi
arteriovena (MAV), trauma penyalahgunaan kokain, ametamin; perdarahan akibat tumor otak
infark hemoragik; penyakit perdarahan sistemik termasuk terapi antikoagulan (Price, 2005).

Pasien ini memiliki riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu namun telah putus obat
dan beralih ke konsumsi jus seledri dan juga timun. Anti-hipertensi sejak 3 tahun yang lalu
berupa Amlodipin 10 mg. Pasien jarang mengontrol tekanan darah sehingga terjadi gejala
klinis yang terdapat pada pasien. Perdarahan intracerebrum ke dalam jaringan otak (parenkim)
paling sering terjadi akibat cedera vascular yang dipicu oleh hipertensi dan rupture salah satu
dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam jaringan otak. Hipertensi juga berperan
penting untuk terjadinya infark dan perdarahan otak yang terjadi pada pembuluh darah kecil.
hipertensi mempercepat arteriosclerosis sehingga mudah terjadi oklusi atau emboli pada/dari
pembuluh darah besar. Hipertensi secara langsung dapat menyebabkan arteriosclerosis
obstruktif, lalu terjadi infark lakuner dan mikroaneurisma, hal ini dapat menjadi penyebab
utama PIS. Baik hipertensi sistolik maupun diastolik, keduanya merupakan faktor resiko
terjadinya stroke. Biasanya perdarahan di bagian dalam jaringan otak menyebabkan defisit
neurologik fokal yang cepat dan memburuk secara progresif dalam beberapa menit sampai

14
kurang dari 2 jam. Hemiparesis di sisi yang berlawanan dari letak perdarahan merupakan tanda
khas pertama pada keterlibatan kapsula interna (H, Soetjipto & M, Sholihul, 2007).

HIPERTENSI

Kerusakan vaskuler

Perubahan struktur dalam


arteri kecil & arteriola

Aterosklerosis Aneurisma

Trombus
Ruptur arteri serebri

Emboli

Oklusi/sumbatan Pecah pembuluh darah


alirah darah otak otak

Non Hemoragik Hemoragik


(75%)
(25%)

STROKE

Gold standard pemeriksaan pada stroke hemoragik ialah CT Scan Kepala, oleh karena
itu pasien ini dilakukan pemeriksaan CT Scan Kepala. Pemeriksaan CT Scan relative non-
invasif. Gambaran CT Scan pada stroke hemoragik terlihat adanya gambaran hiperdens pada
substansia alba atau grisea, dengan atau tanpa terkenanya permukaan kortikal (40 – 90
Houndsfield Units). Petekial adalah titik hiperdens yang terletak secara acak, dan berbentuk
irregular. Hematoma adalah gambaran hiperdens yang solid dan homogen. Gambaran
kalsifikasi terlihat hiperdens dalam atau menempel pada dinding pembuluh darah (> 120 HU).

15
CT scan tanpa kontras dapat dengan cepat membedakan pada stroke akut untuk membedakan
merupakan stroke hemoragik atau non hemoragik, namun tidak sensitif untuk perdarahan lama.
Pada pasien ini ditemukan adanya perdarahan intraparenkim di medulla oblongata estimasi
volume 0,7 ml dengan edema perifokal, infark lacunar multiple di sentrum semiovale kanan
kiri, korona radiata kanan, kapsula eksterna kanan kiri, thalamus kiri, basal ganglia kanan kiri
dan pons, leukoariosis periventrikel lateralis bilateral. Data tersebut memberikan kesan adanya
stroke hemoragik pada medulla oblongata atau stroke non hemoragik yang menjadi diagnosis
bandingnya.

Pada pasien dengan kecurigaan stroke, segera lakukan CT scan otak (ESO, Class I) atau
pilihan alternative dengan MRI otak (AHA/ASA, Class II, Level of Evidence A) Pemeriksaan
CT Scan merupakan strategi utama yang efektif pada pencitraan pasien stroke akut tetapi tidak
sensitive untuk perdarahan lama. Secara umum, CT scan kurang sensitif dibanding MRI, tetapi
keduanya sama-sama spesifik untuk mendeteksi adanya perdarahan atau tidak (PERDOSSI,
2011).

Penatalaksanaan pasien ini berupa non-medikamentosa dan medikamentosa. Manajemen


non-medikamentosa pada pasien ini dianjurkan untuk tirah baring 20-30o, makan dan minum
yang teratur dan bergizi dan teratur dan rutin minum obat setiap hari. Sedangkan manajemen
medikamentosa pada pasien ini diberikan infus Asering 24 tpm, RL + KCL 25 mEq 14 tpm
tiap 12 jam, Manitol 20% 3 x 100 cc, Citicolin 2 x 500 mg IV, Amlodipin 1 x 10 mg, NB 5000
1 x 1 drip IV, KSR 3 x 1 dan Betahistine 3 x 8 mg (jika perlu).
Penatalaksanaan awal secara umum untuk stroke hemoragik meliputi diagnosis yang
tepat dan melakukan tindakan osmoterapi sesuai indikasi yaitu untuk pasien dengan kecurigaan
terhadap adanya peningkatan tekanan intrakranial dengan diberikan Manitol 0.25 – 0.50
gr/kgBB, selama 20 menit, diulangi setiap 4 – 6 jam dengan target ≤ 310 mOsm/L. Pada pasien
ini diberikan Manitol 20% 3 x 100 cc.

Penatalaksanaan umum pada pasien ini diberikan cairan berupa RL +KCL mEq 14
tetes per menit tiap 12 jam. Tujuan pemberian Ringer Laktat adalah untuk menjaga euvolemi.
Menurut literatur kebutuhan cairan 30 ml/kgBB/hari (parenteral maupun enteral).
Keseimbangan cairan diperhitungkan dengan mengukur produksi urin sehari ditambah dengan
pengeluaran cairan yang tidak dirasakan (produksi urin sehari ditambah 500 ml untuk
kehilangan cairan yang tidak tampak dan ditambah lagi 300 ml per derajat Celcius pada

16
penderita demam). Pada pasien ini dikarenakan adanya kondisi hipokalemia pada pemeriksaan
laboratorium maka adanya pemberian KSR serta KCL yang dilarutkan pada RL serta Asering
yang memiliki kandungan Na 130 meq, K 4 meq, CL 109 meq, Ca 3 meq, Acetate 28 meq dan
Anhydrous dextrose 50 gr yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan elektrolit (natrium,
kalium, kalsium dan magnesium) yang harus selalu diperiksa dan diganti bila terjadi
kekurangan sampai tercapai nilai normal.

Selain osmoterapi pasien ini juga diberikan antihipertensi. Sebagian besar (70-94%)
pasien stroke akut mengalami peningkatan tekanan darah sistolik > 140 mmHg. Penelitian di
Indonesia didapatkan kejadian hipertensi pada pasien stroke akut sekitar 73.9%. Hubungan
tingginya tekanan darah pada level tertentu berkaitan dengan tingginya kematian dan kecacatan
pada pasien stroke akut (iskemik maupun hemoragik). Penurunan tekanan darah pada stroke
perdarahan intraserebral akut, apabila tekanan darah sistolik (TDS) >200 mmHg atau Mean
Arterial Pressure (MAP) > 150 mmHg, tekanan darah diturunkan dengan menggunakan obat
antihipertensi intravena secara kontinu. Pada pasien ini diberikan antihipertensi berupa
Amlodipin 1 x 10 mg yaitu golongan Calcium Channel Blocker. (PERDOSSI, 2011)

Menurut literatur pemakaian obat-obatan neuroprotektor dapat memberikan manfaat


pada stroke akut seperti pada contoh pasien diberikan Citicolin. Penggunaan citicolin pada
stroke iskemik akut dengan dosis 2 x 1000 mg intravena 3 hari dan dilanjutkan dengan oral 2
x 1000 mg selama 3 minggu dilakukan dalam penelitian ICTUS (International Citicholin Trial
in Acute Stroke, ongoing). Pada pasien ini diberikan dosis Citicolin sebanyak 2 x 500 mg
intravena. Pada pasien ini juga diberikan NB 5000 1 x 1 drip IV dengan kandungan Vitamin
B1 100 mg, B6 100 mg dan B12 5000 mcg yang merupakan Vitamin B Kompleks dikenal
sebagai vitamin neurotropik, artinya berfungsi untuk melindungi sel-sel saraf.

Pada pasien ini diberikan pula Betahistine 3 x 8 mg jika perlu dikarenakan pasien
mengeluhkan adanya perasaan berputar dan disertai mual, diperburuk dengan adanya
perubahan posisi dari berbaring ke duduk yang mengindikasikan adanya kelainan berupa
vertigo sentral akibat dari adanya stroke hemoragik pada Medulla Oblongata maka dari itu
diberikan obat tersebut hanya jika perlu untuk mengurangi gejalanya.

Prognosis ad vitam pasien ini dubia ad bonam, namun ad functionam dan ad


sanactionam yaitu dubia ad malam. Namun, pada prinsipnya prognosis dari stroke dapat dilihat

17
dari 6 aspek yakni: death, disease, disability, discomfort, dissatisfaction, dan destination.
Keenam aspek prognosis tersebutterajdi pada stroke fase awal atau pasca stroke. Prognosis
jangka panjang setelah TIA dan stroke batang otak/serebelum ringan secara signifikan
dipengaruhi oleh usia, diabetes, hipertensi, stroke sebelumnya dan penyakit arteri karotis yang
menyertai.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. PERDOSSI. 2011. Guideline Stroke Tahun 2011. Hal 21-27. Surabaya: Pusat Penerbitan
dan Percetakan Unair.
2. Soetjipto dan Muhibbi, S. 2007. STROKE: Pengenalan dan Penatalaksanaan Kasus-Kasus.
Departemen Saraf RSPAD Gatot Soebroto.

19