You are on page 1of 14

MAKALAH

KROMATOGRAFI ADSORPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Instrumentasi

Dosen Pengampu :

Meti Kusmiati, SKM

Disusun Oleh :

Ade Aip Solihuddin
Rina Susilawati

Prodi : DIII Analis Kesehatan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS
Jln. K. H. Ahmad Dahlan No. 20 Ciamis 46216 Telp. / Fax (0265) 773052
e-mail : mucis06@yahoo.com

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahnya kami bisa
menyelesaikan tugas makalah ini. Walaupun kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih
banyak kekurangan.
Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari dukungan orang – orang sekitar. Oleh karena itu,
dalam kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu Meti Kusmiati, SKM sebagai dosen pengampu dari Mata Kuliah Instrumentasi yang
membimbing kami.
2. Teman – teman sekalian yang telah memberikan dukungan dan berpartisipasi.
Dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini penulis menyadari banyak sekali kekurangan.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, agar pembuatan makalah
berikutnya bisa lebih baik lagi.
Besar harapan penulis, makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi
rekan-rekan semua. Semoga Allah SWT membalas semua amal baik dan melimpahkan hidayah-Nya
pada kita semua.
Amin Ya Robbal Alamin.

Ciamis, Desember 2009

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2. Tujuan ............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kromatografi Adsorpsi ............................................. 2
2.2. Contoh– contoh yang termasuk kromatografi adsorpsi ........... 2
2.2.1. Kromatografi Kolom Adsorpsi ........................................... 2
2.2.2. Kromatografi Gas ................................................................ 5
2.2.3. Kromatografi Lapis Tipis .................................................... 6
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ................................................................................... 8
3.2. Saran ............................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kromatografi adsorpsi atau Adsorpsi kromatografi merupakan gejala yang timbulnya konsentrasi zat
yang lebih besar pada perbatasan antara dua fasa dari pada dalam masing- masing fasa, diakibatkan
gaya tarik fasa stationer yang kuat terhadap komponen- komponen yang harus dipisahkan.
Melihat kondisi mahasiswa yang ada keinginan untuk mengetahui suatu materi khususnya tentang
Kromatatografi (kromatografi Adsorpsi), serta sangat sedikit sekali referensi tentang Kromatografi
(kromatografi Adsorpsi). Oleh karena itu, kiranya perlu ada suatu makalah yang bisa membantu
mahasiswa dalam memahami materi tersebut.

1.2 Tujuan
Selainn untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Instrumentasi, ada tujuan lainya,
diantaranya :
 Menetahui pengertian Kromatografi khususnya Kromatografi Adsorpsi.
 Menambah wawasan tentang Kromatografi khususnya Kromatografi Adsorpsi.
 Menjadi referensi tambahan yang menunjang keberhasilan pembelajaran mata kuliah
Instrumentasi.
 Menjadi Pegangan bagi Mahasiswa yang ingin memahami tentang Kromatografi khususnya
Kromatografi adsorpsi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian kromatografi adsorpsi

Adsorpsi ialah gejala timbulnya konsentrasi zat yang lebih besar pada bidang perbatasan antara dua
fasa daripada dalam masing-masing fasa. Terjadinya pemisahan ialah akibat gaya tarik fasa stasioner
yang kuat terhadap komponen – komponen yang harus dipisahkan. Gaya tarik yang kuat ini
disebabkan oleh interaksi kimiawi dan atau interaksi Van Der Walls
Kromatografi adsorpsi adalah teknik kromatografi tertua dioperasikan berdasarkan retensi terlarut
pada permukaan adsorben. Adsorben yang umum digunakan adalah silika gel dan alumina karena
mereka dimiliki daerah yang besar permukaan dan banyak situs aktif. Terlarut dan pelarut dalam
cairan dapat bersaing satu sama lain untuk mendapatkan situs yang aktif. Karena ini, memilih pelarut
yang tepat sangat penting untuk mendapatkan adsorpsi maksimum zat terlarut pada situs aktif
permukaan.
Pada kromatografi adsorpsi, fasa stasionernya terdiri atas zat padat dan fasa mobilnya terdiri atas
zat gas atau zat cair.

2.2 Contoh– contoh yang termasuk kromatografi adsorpsi
• Kromatografi kolom Adsorpsi
• Kromatografi gas
• Kromatografi lapis tipis

2.2.1. Kolom kromatografi Adsorpsi

a. Prinsip
Prinsip yang mendasari kromatografi kolom adsorpsi ialah bahwa komponen – komponen dalam zat
contoh yang harus diperiksa mempunyai afinitas yang berbeda-beda terhadap adsorben dalam
kolom. Apabila kita mengalirkan cairan ( elutor ) secara kontinyu melalui kolom yang berisi zat
contoh yang telah diadsorpsikan oleh penyarat kolom, maka yang pertama – tama dihanyutkan
elutor ialah komponen yang paling lemah terikat kepada adsorben. Komponen –komponen lainnya
akan dihanyutkan menurut urutan afinitasnya terhadap adsorben, sehingga terjadi pemisahan
daripada komponen – komponen tersebut.

b. Penyarat kolom
Pola kecepatan arus elutor pada tiap irisan kolom yang dipilih di sembarang tempat suddah tentu
sedapat mungkin harus sama. Keseragaman ini dapat dicapai dengan memilih adsorben yang ukuran
butir – butirnya sama ( diayak ) dan dengan cara penyaratan yang baik.
Makin kecil ukuran butir adsorben, makin cepat keseimbangan adsorpsi akan tercapai, dan makin
besar pula kecepatan elusi yang boleh dipergunakan. Tetapi dilain pihak, makin kecil butir adsorben,
makin besar hambatan bagi cairan yang harus mengalir melalui kolom. Apabila kecepatan lintas bagi
cairan elutor terlalu kecil, dapat dipergunakan pompa vakum yang menimbulkan tekanan rendah
dalam ruang di bawah kolom sehingga cairan dapat mengalir lebih cepat melalui kolom. Cara yang
lain ialah menambahkan tekanan dalam ruang di atas kolom dengan menggunakan pompa
pneumatic.

c. Bentuk kolom
penempatan adsorben dalam kolom secara uniform betul sangat sukar dilaksanakan. Sebagai
akibatnya, zona – zona komponen yang dipisahkan menjadi kurang teratur bentuknya. Bagi kolom
yang lebar hal ini dapat menyebabkan pembauran. Tetapi bagi kolom kecil bahaya ini seberapa
besar. Namun di lain pihak, kolom yang lebar dan pendek itu lebih memudahkan dalam
pemakaiannya.
Oleh karena itu, tinggi kebanyakan kolom ialah ± 20 kali diameternya. Di bawah tabung yang
umumnya terbuat dari gelas terdapat lempengan meduk yang terbuat dari porselen atau dari serbuk
gelas yang dipanaskan hingga melengket jadi satu. Lempengan yang berbentuk cakram ini bergawai
sebagai penahan fasa yang stasioner. Di bagian tabung yang paling bawah terdapat kapiler penyulur
dilengkapi dengan pancur. Kapiler beserta pancur dirakitkan dengan kolom memakai suku asah
sehingga mudah dilepaskan guna membersihkan kolom dan untuk meniup kolom sehingga menjadi
bersih dari cairan. Ruang antara pancur dan cakram penyaring harus sekecil mungkin supaya tidak
terjadi pembauran antara cairan – cairan yang keluar dari kolom.

d. Kecepatan arus
Semakin rendah kecepatan arus cairan, semakin baik akibatnya bagi tercapainya keseimbangan
adsorpsi dan akan semakin baik pula pemisahannya. Bentuk zona pun menjadi lebih teratur. Tetapi
kecepatan arus yang terlalu rendah dapat menimbulkan efek difusi axial dalam fasa mobil yang harus
dihindarkan sejauh mungkin.

Jadi dapat dikatakan bahwa pemisahan yang terbaik dapat dicapai dengan mempergunakan kolom
yang panjang dan sempit, diisi dengan adsorben yang berbutir halus, dan arus yang lambat. Elusi
dapat dimulai apabila campuran yang harus dipisahkan sudah dimasukan dalam kolom. Elusi ini
dilakukan dengan memasukan cairan elutor berenyai – renyai melalui kolom dan harus dijaga supaya
arusnya tidak berhenti. Komponen – komponen yang telah diadsorpsikan oleh adsorben akan
bergerak dalam bentuk gelang – gelang atau zona dengan kecepatan yang berbeda – beda melalui
kolom dan ditampung di bawah kolom secara terpisah memakai beberapa tabung yang dibubuhi
tanda – tanda. Tabung – tabung ini ditempatkan dalam sebuah fraksikolektor. Setelah itu fraksi –
fraksi yang diperoleh mulai dapat diselidiki.

2.2.2. Kromatografi gas

Kromatografi Gas adalah metode kromatografi pertama yang dikembangkan pada jaman instrument
dan elektronika yang telah merevolusikan keilmuan selama lebih dari 30 tahun. Sekarang
kromatografi gas dipakai secara rutin di sebagian besar laboratorium industri dan perguruan inggi.
kromatografi gas dapat dipakai untuk setiap campuran yang komponennya atau akan lebih baik lagi
jika semua komponennya mempunyai tekanan uap yang berarti pada suhu yang dipakai untuk
pemisahan.
Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa padatan
(kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair).
Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi,
alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang
panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan
disebut gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida dan
karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini.
Dalam kasus kromatografi gas-cair, ester seperti ftalil dodesilsulfat yang diadsorbsi di permukaan
alumina teraktivasi, silika gel atau penyaring molekular, digunakan sebagai fasa diam dan diisikan ke
dalam kolom. Campuran senyawa yang mudah menguap dicampur dengan gas pembawa
disuntikkan ke dalam kolom, dan setiap senyawa akan dipartisi antara fasa gas (mobil) dan fasa cair
(diam) mengikuti hukum partisi. Senyawa yang kurang larut dalam fasa diam akan keluar lebih
dahulu.
Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti
hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses
dilakukan dengan teknik ini.
Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya. Disarankan
untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil
ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi
kesensitifan teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau
preparatif.
2.2.3. Kromatografi lapis tipis
Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi adsorpsi dan adsorben (silika gel (asam silikat),
alumina (aluminium oxide), kieselguhr (diatomeous earth), dan selulosa) bertindak sebagai fase
stasioner. Dalam kromatografi lapis tipis, bahan penyalut yang digunakan beraneka macam. Silika gel
yang paling banyak dipakai (Djide , 2003).
Teknik ini dikembangkan tahun 1938 oleh Ismailoff dan Schraiber. Adsorbent dilapiskan pada
lempeng kaca yang bertindak sebagai fase diam. Fase bergerak (Untuk senyawa organik yang polar
akan lebih mudah larut dengan air dari pada pelarut organik, dan hendaknya untuk senyawa-
senyawa tertentu menggunakan pelarut sesuai dengan kepolaran pelarut yang digunakan dan
pembuatan fase mobil harus hati-hati karena sulitnya keterulangan dalam campuran serta pelarut
jangan digunakan dalam selang yang lama) akan merayap sepanjang fase diam dan terbentuklah
kromatogram.
Dikenal juga sebagai kromatografi kolom terbuka. Metode ini sederhana, cepat dalam pemisahan
dan sensitif. Kecepatan pemisahan tinggi dan mudah untuk memperoleh kembali senyawa-senyawa
yang dipisahkan (Petrucci, 1987).
Pelarut-pelarut yang digunakan biasanya berupa campuran satu komponen organik yang utama, air
dan berbagai tambahan seperti asam-asam, basa-basa atau pereaksi komplek, utk memperbesar
atau mengurangi kelarutan untuk zat-zat tertentu (Ganiswarna, 1995). Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam teknik kromatografi adalah metode (penaikan, penurunan, mendatar), macam
kertas, pemilihan dan pembuatan eluen (fase mobil), kesetimbangan dari bejana yang dipilih,
pembuatan cuplikan, waktu pengembangan, metode deteksi dan identifikasi (Petrucci, 1987)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kromatografi adsorpsi adalah teknik kromatografi tertua dioperasikan berdasarkan retensi terlarut
pada permukaan adsorben. Adsorben yang umum digunakan adalah silika gel dan alumina karena
mereka dimiliki daerah yang besar permukaan dan banyak situs aktif. Pada kromatografi adsorpsi,
fasa stasionernya terdiri atas zat padat dan fasa mobilnya terdiri atas zat gas atau zat cair.
Yang termasuk pada kromatografi adsorpsi diantaranya :
• Kromatografi kolom Adsorpsi
• Kromatografi gas
• Kromatografi lapis tipis

3.2 Saran
Makalah ini sifatnya hanya membantu memudahkan mahasiswa untuk memahami tentang
kromatografi adsorpsi yang tentunya sangat terbatas baik contoh maupun penjelasannya. Oleh
karena itu, kami harapkan bagi para pembaca bisa menambah dari referensi lain karena jika hanya
menggunakan makalah ini sangat sedikit yang bisa didapatkan. Semoga anda tidak puas dengan
membaca makalah ini, sebab jika anda puas niscaya anda tidak akan menambah pengetahuan anda,
Seorang yang dalam keadaan haus, meminum air laut, niscaya ia akan semakin haus, semoga
andapun demikian.

DAFTAR PUSTAKA
 Dasar- dasar Ilmu Instrumentasi, O.G Brink, R.J Flink dan Ir. Sobandi Sachri ; Jakarta 1984
 Day. RA, JR dan AL Underwood, Analisa Kimia Kuantitatif edisi 6, Penerbit Erlangga ; Jakarta 2002
 http://journal.um.ac.id/index.php/media-komunikasi-kimia/article/view/2183 Endang Budiasih
 Id. Wikipedia. Org/ Wiki/ Kromatografi, Sabtu 09 Januari 2010.
MAKALAH MIKROTEKNIK
“MIKROTOM”

OLEH
NAMA : MASAYU FARAH DIBA
NIM : 08111004068

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikroteknik merupakan ilmu kajian yang banyak digunakan dalam bidang
pendidikan, kesehatan dan penelitian. Masing- masing bidang memiliki peranan sesuai
dengan hal- hal yang dibahas di bidangnya. Pengetahuan dasar mikroteknik diperlukan guna
menghasilkan suatu kajian- kajian yang bersifat membantu dan mengembangkan keahlian
dalam penemuan hal- hal penting yang berhubungan dengan peran pendidikan, kesehatan dan
penelitian dalam pengetahuan histologi.
mikroteknik yakni teknik pembuatan sediaan atau preparat secara mikroskopis,
tentunya pendekatan teoritis tidaklah memadai untuk memahami secara menyeluruh
mengenai mikroteknik, sebab yang namanya teknik lebih menekankan pemahaman pada
wilayah aplikatifnya meskipun pada dasarnya landasan teoritis juga diperlukan dalam rangka
memberikan beberapa petunjuk yang harus dilalui agar proses pembuatan sediaan sesuai
dengan prosedural kerja dan alasan penggunaan ataupun pemilihan bahan yang akan
digunakan dalam pembuatan sediaan mikroskopis. Penelaahan umumnya dilakukan dengan
bantuan mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci pada galibnya terlalu kecil
untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Ruang lingkup yang mencakup materi
mikroteknik dapat diperoleh dari sejumlah definisi dan peristilahan yang bisa dipakai, hanya
saja sebaiknya kita mencamkan dalam pikiran kita bahwa suatu spesimen mikroteknik dapat
merupakan sebagian atau seluruhan dari struktur yang ditetapkan.
Mikrotom adalah Instrumen Ilmiah yang memotong iris tipis sesuatu untuk
pemeriksaan mikroskopis. Alat untuk membuat bagian yang sangat tipis untuk pemeriksaan
mikroskopis. Alat mekanis yang digunakan untuk memotong spesimen biologi menjadi
bagian tipis transparan untuk pemeriksaan mikroskopis. Mikrotom menggunakan baja, kaca
atau berlian pisau tergantung pada spesimen yang sedang diiris dan ketebalan yang
diinginkan dari bagian yang dipotong.
1.1 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan mikrotom ?
2. Apa saja jenis-jenis mikrotom?
3. Bagaimana kegunaan dan mekanisme kerja mikrotom ?

1.2 Tujuan Makalah
Makalah ini dibuat bertujuan untuk mengetahui jenis, mekanisme kerja serta kegunaan
mikrotom.

1.4 Manfaat Makalah
Makalah ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai mikrotom dan jenisnya.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mikrotom
Pada awal kemunculan mikroskop cahaya , bagian dari tanaman dan hewan yang
secara manual disayat dengan menggunakan pisau cukur. Timbul suatu masalah dimana hasil
sayatan yang dihasilkan sering mendapatkan sayatan yang beragam ketebalannya sehingga
mengganggu penglihatan di bawah mikroskop. Maka hasil yang didapat juga kurang akurat.
Selanjutnya masalah ini dapat dipecahkan dengan kehadirannya mikrotom sebagai alat
berpresisi tinggi yang dapat menyayat jaringan dengan ketebalan yang diatur sesuai dengan
keinginan. Perkembangan terbaru selanjutnya adalah mikrotom laser , yang memotong
dengan laser femtosecond dusamping pisau mekanis. Metode ini adalah kontak-bebas dan
tidak memerlukan teknik persiapan sampel teknik. Mikrotom laser memiliki kemampuan
untuk mengiris hampir setiap jaringan di tubuh hewan aslinya. Tergantung pada materi yang
sedang diproses, ketebalan irisan dari 10 sampai 100 μm.
Mikrotom adalah mesin untuk mengiris spesimen biologi menjadi bagian yang sangat
tipis untuk pemeriksaan mikroskop. Beberapa mikrotom menggunakan
pisau baja dan digunakan untuk mempersiapkan
sayatan jaringan hewan atau tumbuhan dalam histologi.
komponen mikrotom yang paling berperan dalam produksi sayatan yang sempurna
adalah pisau yang digunakan untuk menyayat. Oleh karena itu untuk dapat berkerja optimal
maka terdapat tipe dan struktur pisau mikrotom pabrikan yang sama dengan pabrikan
mikrotom. Tiga tipe pisau mikrotom, yaitu 1) Pisau Plane-adge (siple wedge razor), biasanya
digunakan untuk senyatan beku dan blok paraffin. 2) Pisau bikonkaf (flat –or half-groud
razor), digunakan untuk senyatan blok celoidin dan plastik. 3) Pisau bikonkaf (hollow-groud
razor), digunakan untuk menyayat blok paraffin.
Pemanfaatan mikroteknik dalam bidang penelitian tidaklah asing lagi bagi para ahli-
ahli yang ingin melakukan suatu percobaan mengenai suatu sel dan jaringan tertentu sesuai
tujuan dan keperluan yang diharapkan. Bahkan bisa dikatakan menjadi hal yang penting
untuk memudahkan pengamatan mengenai fungsi fisiologis sel seperti siklus sel, pembelahan
sel, dan lain- lain.Untuk itu perlu pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang
pembuatan sediaan histologi.
Untuk mempelajari sifat- sifat sel dan membedakan sel- sel yang mengalami
perlakuan atau tidak mengalami perlakuan dalam percobaan tertentu maka sangat diperlukan
penelitian yang lebih spesifik untuk tujuan diagnose, pewarnaan biologis, dan prosedur
pewarnaan di dalam hubungannya dengan cahaya mikroskopis yang telah menjadi alat utama
dalam pengamatan kondisi histologis organ yang diamati yang tentunya telah diambil dan
dibuat dalam bentuk preparat histologi.
Secara umum, suatu mikrotom memilki bagian-bagian terpenting sebagai
berikut:
1. Skala pengatur ketebalan sayatan biasanya terdapat di bagian kanan atas badan mikrotom,
skala ini dapat digeser ke kiri dan ke kanan sesuai dengan ketebalan sayatan yang diinginkan.
2. Pisau mikrotom, merupaka komponen yang bisa menentukan kualitas sayatan.
3. Pegangan blok jaringan, merupakan komponen yang menghubungkan mikrotom dengan
blok jaringan yang hendak disayat.
4. Pengatur jarak berfungsi untuk mengatur blok jaringan dengan mata pisau.

2.2 Jenis Mikrotom
Jenis mikrotom yang paling umum digunakan adalah:
Mikrotom putar (rotary microtome)
Disebut juga mikrotom spencer,jenis mikrotom ini paling umum digunakan di
laboratorium ,tersedia baik untuk sayatan paraffin maupun teknik kriostat.khusus untuk
keperluan pembuatan sayatan dengan teknik kriostat,mikritom ini dibuat tahan karat.
Mikrotom geser (sliding microtome)
Tersedia baik untuk sayatan nitrroselulose atau palstik.jenis ini bukan selalu
merupakan alat yang paling praktis,lamnat dan mahal tetapi juga sering tidak bisa
menhasilkan sayatan yang bagus untuk jaringan keras dan besar,sepeti mata,tulang dan
kartilago.

Mikrotom klinis beku (freezing microtome)
Jenis mikrotom ini banyak digunakan di laboratorium klinis untuuk keperluan
diagnosis yang bersifat segera.mikrotom ini sangat murah dan dibutuhkan untuk berbagai
proses yang ditujujukan untuk mendiagnosis komponen sel tertentu seperti lemak dan enzim.
Mikrotom sayatan ultra tipis (ultra-thin microtome)
Mikrotom ini biasa digunakan untuk menghasilkan sayatan dengan ketebalan 1Џm
(untuk mikroskop elektron),hanya untuk teknik khusus dan sangat jarang ditemukan idalam
laboratorium dalam praktikum mahasiswa.

Mikrotom base sledge
Hanya digunakan untuk teknik – teknik tertentu saja dan sangat jarang ditemukan di
laboratorium praktikum mahasiswa,biasa digunakan untuk menyayat jaringan dengan ukuran
yang sangat besar seperti otak.
Mikrotom faust
Instrument ini berukuran kecil sehingga biasa dtiempelkan diatas meja
praktikum.ketipisan maksimum sayatan yang dihsilkan maksimum 25Џm.
Mikrotom smith dan Farquhar
Instrument ini sering digunakan untuk menyayat jaringan segar (yang tidak difiksasi
atau dibekukan) dengan tingkat kerusakan struktur halus dan kehilangan aktivitas enzimatik
yang sangat minimal.kisaran ketebalan sayatan yang dapat dihasilkan adalah 5 -230 Џm dan
dengan kecepatan antara 50 sampai 200 sayatan permenit.

Perawatan Mikrotom
Mikrotom sebaiknya ditutup dengan plastik, atau dimasukkan ke kotaknya jika tidak sedang
digunakan. Jangan memindahkan mikrotom dengan cara memegang bagian yang dapat
bergerak, karena dapat menggangu akurasinya. Sebelum dan sesudah digunakan, sebaiknya
mikrotom dibersihkan dari serpihan parafin dengan cara melap dengan kain lap yang telah
dibasahi dengan xilol. Mikrotom harus selalu diminyaki untuk mencegah keausan dan
kemacetan.
Penggunaan Mikrotom
Beberapa penggunaan mikrotom :
1. Untuk mikroskop cahaya, material pertama-tama difiksasi dan dibekukan atau
dibenamkan ke dalam parafin. Bagian-bagian setebal 3 – 20 mm biasanya diiris dengan pisau
baja.
2. Untuk mikroskop elektron, fiksasi diikuti dengan pembenaman dalam resin seperti
Araldine , bagian-bagian diiris dengan pisau gelas atau pisau intan ultramikrotom setebal 2 –
100 nm.

2.3 Mekanisme Kerja Mikrotom
Proses pemotongan blok preparat dengan menggunakan mikrotom. Sebelum
melakukan pemotongan serangkaian persiapan yang harus dilakukan adalah :
1. Persiapan pisau mikrotom Pisau mikrotom harus diasah sebelum dipakai agar jaringan
dapat dipotong dengan baik dan tidak koyak sehingga didapatkan jaringan yang baik. Pisau
mikrotom kemudian diletakan pada tempatnya di mikrotom dengan sudut tertentu. Rekatkan
blok parafin pada holder dengan menggunakan spatula atau scalpel. Letakkan tempat duduk
blok parafin beserta blok preparat pada tempatnya pada mikrotom.
2. Persiapan Kaca Objek Kaca objek yang akan direkatkan preparat harus telah dicoated
(disalut) dengan zat perekat seperti albumin (putih telur), gelatin atau tespa 3. Persiapan
Waterbath atau wadah berisi air hangat dengan temperatur 37-400C 4. Persiapan sengkelit
atau kuas.
Tehnik pemotongan parafin yang mengandung preparat adalah sebagai berikut:
1. Rekatkan blok parafin yang mengandung preparat pada tempat duduknya di mikrotom.
Tempat duduk blok parafin beserta blok parafinnya kemudian diletakkan pada pemegangnya
(holder) pada mikrotom dan dikunci dengan kuat.
2. Letak pisau mikrotom pada tempatnya dan atur sudut kemiringannya. Biasanya sudut
kemiringan berkisar 20-30 derajat.
3. Atur ketebalan potongan yang diinginkan, biasanya dipakai ketebalan antara 5-7
mikrometer.
4. gerakkan blok preparat ke arah pisau sedekat mungkin dan potonglah blok preparat secara
teratur dan ritmis. Buang pita-pita parafin yang awal tanpa jaringan hingga kita mendapatkan
potongan yang mengandung preparat jaringan.
5. Pita parafin yang mengandung jaringan lalu dipindahkan secara hati-hati menggunakan
sengkelit atau kuas kedalam waterbath yang temperaturnya diatur 37-40C dan biarkan
beberapa saat hingga poita parafin tersebut mengembang.
6. Setelah pita parafin terkembang dengan baik, tempelkan pita parafin tersebut pada kaca
objek yang telah dicoated dengan cara memasukkan kaca objek itu kedalam waterbath dan
menggerakkannya ke arah pita parafin. Dengan menggunakan sengkelit atau kuas pita parafin
ditempelkan pada kaca objek. Setelah melekat kaca objek digerakkan keluar dari waterbath
dengan hati-hati agar pita parafin tidak melipat.
7. Letakkan kaca objek yang berisi pita parafin di atas hotplate dengan temperatur 40-45C,
biarkan selama beberapa jam. Cara lainnya adalah dengan melewatkan kaca objek di atas api
sehingga pita parafin melekat erat di atas kaca objek.
8. Setelah air kering dan pita parafin telah melekat dengan kuat, simpan kaca objek berisi
potongan parafin dan jaringan sampai saatnya untuk diwarnai.

DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2013. Mikrotom. http://id.wikipedia.org/wiki/Mikrotom. Diakses pada tanggal 30
oktober 2013. Pukul 20.36 WIB.
Anonimb. 2013. Laporan praktikum teknik laboratorium “mikrotom”. http://masharmoko.
blogspot.com/. Diakses pada tanggal 30 oktober 2013. Pukul 20.46 WIB.
Anonimc. 2013. MIKROTEK. http://vesagala.blogspot.com/2012/01/mikrotek.html.
Diakses pada tanggal 30 oktober 2013. Pukul 21.16 WIB.
Anonimd. 2013. Manfaat mikroteknik dalam bidang kesehatan dan pendidikan. http://lilya
yu3.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 30 oktober 2013. Pukul 21.55 WIB.
Anonime. 2013. Mikroteknik.http://rahmi nazliah.blogspot.com/2011/10/miroteknik.html.
Diakses pada tanggal 30 oktober 2013. Pukul 22.05 WIB.