You are on page 1of 12

A.

Pendahuluan
a. Latar Belakang

Ketika membahas masalah perceraian tidak akan lepas dari masalah perkawinan. Perkawinan
merupakan suatu praktik ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Salah satu tujuan Islam menganjurkan
pernikahan yaitu melestraikan umat. Hakikat perkawinan adalah mewujudkan kesejahteraan lahir
batin atau kesejahteraan materil maupun immateril bagi segenap anggota keluarga yang terdiri dari
suami, isteri, anak dan segenap keluarga besar suami isteri.

Dalam hubungan pernikahan tidak jarang ditimpa suatu masalah yang menyebabkan
perpecahan dan hilangnya rasa cinta kasih dalam rumah tangga. Apabila dalam perkawinan sudah
tidak ditemukan kecocokan maka al-Qur‟an sebagai pedoman umat Islam memberikan solusi
terhadap permasalahan tersebut, yaitu dengan diberikannya pilihan untuk bercerai. Dalam Islam
perceraian boleh dilakukan tindakannya hanya dalam keadaan terpaksa, ketika tidak ada jalan lain
untuk menyelesaikan perselisihan diantara suami isteri. Walaupun demikian, perceraian tetap saja
merupakan perkara yang sangat tidak disukai oleh Allah karena dapat menimbulkan perpecahan baik
bagi pribadi dua belah pihak, maupun keluarga.

b. Rumusan Masalah
1) Bagaimana pengertian talak?
2) Bagaimana hukum talak?
3) Bagaimana macam macam talak?
4) Bagaimana prosedur talak?
5) Bagaimana etika talak?
6) Bagaimana dampak talak?

1
1. Talak
a. Pengertian Talak
Talak merupakan suatu hal yang dihalalkan namun dibenci oleh Allah. Ia merupakan
tindakan merugikan yang tidak mungkin dilakukan kecuali ketika semua upaya penyelesaian
telah menemui jalan. Sebagaimana yang dikatakan di atas jika, di tengah-tengah masa iddah
itu tampak bagi mereka untuk memulai kehidupan kembali masih memungkinkan, maka jalan
untuk ishlah masih terbuka, “dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti
itu, jika mereka

‫ان ۗ او اَل ياحِ ُّل لا ُك ْم أ ا ْن ت اأ ْ ُخذُوا مِ َّما آت ا ْيت ُ ُموه َُّن ا‬


‫ش ْيئًا إِ ََّل أ ا ْن ياخاافاا أ ا ََّل يُقِي اما ُحدُودا‬ ٍ ‫س‬‫ساكٌ بِ ام ْع ُروفٍ أ ا ْو تاس ِْري ٌح بِإِحْ ا‬ ِ ‫الط اَل ُق ام َّرت‬
‫اان ۖ فاإ ِ ْم ا‬ َّ
َٰ ُ
‫َّللاِ فاأولائِكا ُه ُم‬
َّ ‫َّللاِ فا اَل ت ا ْعتادُوهاا ۚ او ام ْن يات ا اعدَّ ُحدُودا‬ َّ ُ‫علا ْي ِه اما فِي اما ا ْفتاداتْ ِب ِه ۗ ت ِْلكا ُحد ُود‬ َّ ‫َّللاِ ۖ فاإ ِ ْن خِ ْفت ُ ْم أ ا ََّل يُقِي اما ُحدُودا‬
‫َّللاِ فا اَل ُجناا اح ا‬ َّ
‫الظا ِل ُمونا‬ َّ

‫َّللاِ اوت ِْلكا‬


ۗ ّٰ ‫ظنَّا أ ا ْن يُّ ِق ْي اما ُحد ُْودا‬
‫علا ْي ِه اما أ ا ْن َّيت اارا اجعاا إِ ْن ا‬ ‫غي اْر ٗ ۗه فاإ ِ ْن ا‬
‫طلَّقا اها فا اَل ُجناا اح ا‬ ‫طلَّقا اها فا اَل تاحِ ُّل لاهٗ مِ ْن با ْعدُ احتّٰى ت ا ْن ِك اح زا ْو ًجا ا‬ ‫فاإ ِ ْن ا‬
‫ا‬ ‫ا‬ ُ
‫َّللاِ يُبايِن اها ِلق ْو ٍم يَّ ْعل ُم ْونا‬ ّٰ ُ‫ُحد ُْود‬
‫ارا ِلت ا ْعتاد ُْو ۚا او ام ْن‬ ‫ر‬
ً ‫ِ ا‬ ‫ض‬ َّ
‫ُن‬ ‫ه‬ ‫و‬ ُ
‫ك‬
ْ ْ ‫س‬
ِ ‫م‬ ُ ‫ت‬ ‫َل‬‫ا‬ ‫و‬ ٍۗ‫ف‬
‫ِا ُْْ ا‬ ‫و‬‫ر‬ ‫ع‬‫م‬‫ب‬ َّ
‫ُن‬ ‫ه‬‫و‬ ‫ح‬
ُ
ْ ِ‫ْ ا‬‫ر‬ ‫س‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫أ‬ ٍ‫ف‬ ‫و‬ ‫ر‬ ‫ع‬‫م‬
ُْْ ‫ِا‬ ‫ب‬ َّ
‫ُن‬ ‫ه‬ ‫و‬ ُ
‫ك‬
ْ ْ ‫س‬ ِ ‫م‬‫ا‬ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫ف‬ َّ
‫ن‬ ‫ه‬
ُ ‫ا‬‫ا‬ ‫ل‬‫ج‬‫ا‬ ‫أ‬ ‫نا‬ ْ
‫غ‬ ‫ا‬ ‫ل‬‫طلَّ ُ ا ا ا‬
‫ب‬‫ا‬ ‫ف‬ ‫ء‬ ‫ا‬‫س‬ ‫الن‬
ِ ‫م‬ُ ‫ت‬ ْ
‫ق‬ ‫او ِإذاا ا‬
ُ ْ
‫ب اوالحِ ْك ام ِة يا ِعظ ُك ْم بِ ۗه‬ َٰ ْ
ِ ‫علا ْي ُك ْم مِ نا ال ِكت‬ ‫ا‬
‫علا ْي ُك ْم او اما أ ْنزا ال ا‬ ْ
ّٰ ‫َّللاِ ه ُُز ًوا َّواذ ُك ُر ْوا نِ ْع امةا‬
‫َّللاِ ا‬ ّٰ ‫ت‬ َٰ ُ
ِ ‫سهٗ او اَل تاتَّخِ ذ ْوا ا َٰي‬ ۗ ‫ظلا ام نا ْف ا‬ ‫يَّ ْفعا ْل َٰذلِكا فاقا ْد ا‬
ؑ ‫ع ِل ْي ٌم‬‫ش ْيءٍ ا‬ ّٰ ‫َّللاا اوا ْعلا ُم ْوا أ ا َّن‬
‫َّللاا بِ ُك ِل ا‬ ّٰ ‫اواتَّقُوا‬
Artinya : “Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan
baik atau melepaskan dengan baik. Tiga hal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang
telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu
menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu
menjalankan hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus)
diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah
kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-
orang yang dzolim. (229) Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua),
maka perempuan itu tidak halal baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain.
Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya
(suami pertama dan bekas istri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan
dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yag diterangkan-
Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan. (230) Dan apabila kamu menceraikan isteri-
isteri (kamu), lalu sampai (akhir) ‘iddahnya, maka tahanlah mereka dengan jalan yang baik,
atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula). Dan janganlah kamu tahan mereka
dengan maksud jahat untuk mendzolimi mereka. Barangsiapa melakukan demikian, maka dia
telah mendzolimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai
bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah
kepada kamu, yaitu kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah), untuk memberi pengajaran
kepada kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah maha Mengetahui
segala sesuatu.(231)
 Kosakata

‫الطَلق‬ : Secara bahasa, at-thalaq berarti lepas atau berpisah. Dalam ayat ini, harta
tersebut diartikan kepada “ terlepasnya ikatan perkawinan seorang laki-laki
dari istrinya, dengan sebab suatu lafal yang diungkapkan oleh laki-laki
tersebut, seperti “aku menceraikan kamu.” Dan perempuan yang diceraikan
itu disebut dengan al-muthallaqah (perempuan yang telah diceraikan
suaminya).
‫تسريح‬ : Melepaskan sesuatu bukan untuk mengembalikannya

2
‫احسان‬ : Memberi lebih banyak dari pada yang harus diberikan
‫اجلهن بلغن‬ : Telah mencapai masa akhir waktunya
‫معروف‬ : Batas Minimal dari perlakuan yang wajib
‫عضل‬ : Menghalangi, Menahan
‫يتر بصن‬ : Kata ini berarti menunggu, yaitu wanita yang diceraikan suaminya harus
melalui masa menunggu dalam batas tertentu. Sebelum masa itu habis, dia
tidak boleh mencari pengganti laki-laki yang telah menceraikannya. Masa
menunggu itu disebut dengan ‘iddah.
‫قروء‬ : Secara harfiah, kata ini mempunyai 2 arti, yaitu suci dan haid. Para ulama
tidak sepakat memaknai kata ‫ قروء‬dalam ayat tersebut ; ada yang mengartikan
kepada suci dan ada pula yang mengartikan kepada haid.
‫المعروف‬ : Kata ini berasal dari ‘arafa, yang berarti mengetahui. Dan ‫المعروف‬
merupakan isim maf’ulnya, yang diartikan kepada “sesuatu yang diketahui.”
Dalam ayat ini, kata tersebut berarti “sesuatu yang biasa,” karena yangbiasa
itu telah diketahui di tengah masyarakat. Ia juga diartikan kepada “kebaikan”,
karena kebaikan itu adalah sesuatu yang telah dikenal atau dimaklumi.
Talak secara bahasa memiliki pengertian melepas ikatan1 dan memisahkan Adapun
secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisinya. Dalam
ensiklopedi Islam disebutkan bahwa menurut mazhab Hanafi dan Hambali talak ialah
pelepasan ikatan perkawinan secara langsung atau pelepasan ikatan perkawinan di masa yang
akan datang. Secara langsung maksudnya adalah tanpa terkait dengan sesuatu dan hukumnya
langsung berlaku ketika ucapan talak tersebut dinyatakan oleh suami. Sedangkan “di masa
yang akan datang” maksudnya adalah berlakunya hukum talak tersebut tertunda oleh suatu
hal.Kemungkinan talak seperti itu adalah talak yang dijatuhkan dengan syarat. Menurut
mazhab Syafi’i talak ialah pelepasan akad nikah dengan lafal talak atau yang semakna dengan
lafal itu. Sedangkan menurut mazhab Maliki talak ialah suatu sifat hukum yang menyebabkan
gugurnya kehalalan hubungan suami istri.
Menurut hemat pemakalah dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa secara
sederhana talak ialah perbuatan yang menyebabkan putusnya ikatan perkawinan yang dengan
itu pula gugurlah kehalalan hubungan antara suami istri2.
b. Tafsir Ayat
a) Al-Baqarah Ayat 229-230
Dalam kitab ringkasan Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan bahwa, QS. Al-Baqarah 229-
230 menerangkan penghapusan tradisi yang berlaku pada permulaan Islam, yaitu seorang
suami berhak merujuk istrinya meskipun dia sudah menceraikannya seratus kali, selama si
istri berada pada masa iddah. Namun, tatkala tradisi ini banyak merugikan istri, maka
Allah membatasi talak hinga tiga. Dia memperbolehkan rujuk pada talak pertama dan
kedua, tapi sama sekali cerai pada talak ketiga. Maka Allah Ta’ala berfirman “Talak itu
dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan
cara yang baik”.
Tujuan diperbolehkannya talak adalah demi kebaikan suami istri , jika upaya damai tidak
bisa diwujudkan lagi. Demikianlah maksut ayat ‫ان‬ ‫ساكٌ ِب ام ْع ُروفٍ أ ا ْو تاس ِْري ٌح ِبإِحْ ا‬
ٍ ‫س‬ ‫اان ۖ فاإ ِ ْم ا‬ َّ
ِ ‫الط اَل ُق ام َّرت‬
Setelah dijatuhkannya talak pertama dan kedua, maka wanita harus menjalani masa iddah
yaitu menunggu selama tga kali masa haidh atau dengan hitungan bulan. Namun

1
Wahbah az-Zuhailī, Fiqih Imam Syafi’i Jilid 2, alih bahasa; Muhammad Afifi dan Abdul Hafiz, Cet 1, Jakarta: Almahira,
2010, h. 579. Lihat juga; Abu Malik Kamal, Fikih Sunnah
2 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid 5, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001, h. 53.

3
terkadang para suami merasa menyesal dan ingin kembali lagi kepada istrinya, maka itu
diperbolehkan dengan izin istrinya. Tetapi, jika setelah usaha damai itu, kemudian terjadi
perrcekcokan yang mengakibatkan jatuhnya talak ketiga, maka runtuhlah rumah tangga
mereka. Dengan kata lain, keduanya tidak bisa rujuk kembali.
‫ او اَل ياحِ ُّل لا ُك ْم أ ا ْن ت اأ ْ ُخذُوا مِ َّما آت ا ْيت ُ ُموه َُّن ا‬yakni kamu tidak boleh membuat
Firman Allah ‫ش ْيئًا‬
mereka jemu menunggu dan menyulitkannya dengan harapan agar mereka menebus
dirinya dari tanganmu dengan seluruh atau sebagian mahar yang telah kamu berikan
kepada mereka.
Apabila suami istri berselisih, istri tidak memberikan hak suami, istri membencinya,
dan tidak mampu menggaulinya, maka si istri harus menebus suaminya dengan maskawin
yang dulu diberikan oleh suaminya, dan penyerahan itu boleh dilakukan si istri.
Menurut satu riwayat, ayat ini diturunkan mengenai Jamilah bin Abdullah bin Ubay
dan suaminya Tsabit bin Qaiys bin Syamasy. Suatu saat Jamilah mendatangi rasulullah
dan berkata “Wahai Rasulullah ceraikanlah saya dari nya(Tsabit bin Qaiys), karena saya
sangat membencinya”. Mendengar pengaduan istrinya, maka Tsabit bin Qays berkata
kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah! (kalau begitu) maka perintahkanlah dia agar
mengembalikan kebun yang telah aku berikan kepadanya” Istrinya berkata: “Baik, saya
akan mengembalikan kebun itu dan dan saya akan menambahkannya” maka Rasulullah
bersabda: “tidak, kembalikan saja kebunnya” Lalu Rasulullah bersabda kepada Tsabit:
“Ambillah darinya kebun yang telah kamu berikan kepadanya dan biarkanlah dia bebas”
Maka Tsabit pun melaksanakan titah Rasulullah Saw itu. Dan inilah kasus gugatan
cerai pertama (khulu’) dalam Islam.
Selanjtnya dalam penghujung ayat 229 diahiri dengan ancaman kepada orang-orang
yang menyalahi hukum-hukum diatas, baik yang berupa perintah-perintah maupn
larangan-larangan, yang merupakan ketentuan Allah dalam rangka mengatur kehidupan
rumah tangga. Karena itu kaum muslim di larang melanggar hukum-hukum tersebut,
sehingga mereka terbebas dari perbuatan-perbuatan dzalim dari jiwa mereka.
Pada ayat 230 disebutkan setelah jatuhnya talak ke tiga atau talak ba’in sang suami
tidak dapat menikahi istrinya kembali kecuali telah melewati beberapa proses. Pertama,
habis masa iddah, kedua, menikah dengan lelaki lain, ketiga bersetubuh dengan lelaki
yang kedua, keempat bercerai dengan lelaki yang kedua, kelima habis masa iddah dengan
lelaki yang kedua. Setelah melewati masa itu (satu sampai lima) di lewati, baru dihalalkan
menikah dengan suami yang pertama. Inilah maksud firman Allah
b) Al-Baqarah Ayat 231-232

Setelah menjelaskan ayat sebelumnya (al-Baqrah 229-230) bahwa suami istri diberi
pilihan untuk rujuk atau cerai, dijelaskan-Nya pada ayat ini batas ahir pilihan itu, sambil
mengisyaratkan bahwa rujuk adalah pilihan terbaik.

Redaksi yang digunakan pada ayat 231 adalah ‫ بلغن اجلهن‬balagna ajalahunna yang
secara harfiah berarti “telah mencapai masa ahir iddahnya”. Karena jika telah mencapai
masa akhir iddah, suami tidak lagi mempunyai hak untuk mamaksa istrinya rujuk.

Yang dimaksud dengan sampainya waktu disini ialah mendekati ahir iddahnya
sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya apabila telah mendekati masa ahir
iddahnya, maka boleh jadi dilakukan rujuk dengan niat untuk mengedepankan
perdamaian dan bergaul dengan cra yang ma’ruf. Atau membiarkan masa iddahnya habis
menjadikan si istri tertalak ba’in. Ini yang dimaksud tasrih bi ihsan melepaskan dengan
cara yang baik. Tidak menyakiti dan tidak meminta tebusan dari istri, juga tidak

4
menghalang-halanginya untuk kawin dengan lelaki lain yang disukainya. Betapapun baik
ruju’ maupun cerai semua harus dilakukan dengan ma’ruf.

Pada ahir ayat 231 Allah mengingatkan tentang nikmat Allah yang telah diberikan.
Nikmat Allah yang dimaksud adalah petunjuk-petunjuk-Nya, yang berkaitan dengan
kehidupan rumah tangga. Ingat dan camkanlah petunjuk-petunjuk Allah menyangkut
perkawinan. Bandingkan keadaan kamu sebelum datangnya petunjuk pada masa
Jahiliyah, dan keadaan kamu masa kini setelah datangnya petunjuk.

Demikian Allah memberi pengajaran menyangkut berbagai hal dalam kitab suci dan
melalui sunnah Nabi Muhammad saw, dan karena itu bertakwalah kepada Allah dengan
melaksanakan petunjuk itu sambil meyakini bahwa itu adalah petunjuk yang sempurna.

c. Hukum Talak
Talak merupakan suatu yang disyariatkan dalam Islam berdasarkan nash-nash yang
terdapat dalam Alquran maupun Alhadis. Adapun nash-nash di dalam Alquran dan Alhadis
yang menjadi dasar hukum talak yaitu; Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk bercerai,
ada baiknya jika pasangan suami isteri berpikir lebih panjang lagi, terutama tentang
bagaimana kehidupan dan masa depan anak-anak mereka.
ّٰ ‫صوا ْال ِعدَّ ۚة ا اواتَّقُوا‬
‫َّللاا اربَّ ُك ۚ ْم اَل ت ُ ْخ ِر ُج ْوه َُّن مِ ْن بُي ُْوتِ ِه َّن او اَل يا ْخ ُرجْ نا‬ ُ ْ‫ط ِلقُ ْوه َُّن ِل ِعدَّتِ ِه َّن اوأاح‬
‫سا اء فا ا‬ ‫طلَّ ْقت ُ ُم النِ ا‬ ُّ ِ‫يَٰ أايُّ اها ال َّنب‬
‫ي إِذاا ا‬
‫ِث اب ْعدا َٰذلِكا أ ا ْم ًرا‬
ُ ‫َّللاا يُحْ د‬
ّٰ ‫ي لاعا َّل‬ْ ‫سهٗ اَل تاد ِْر‬ ۗ ‫ظلا ام نا ْف ا‬
‫َّللاِ فاقا ْد ا‬ ۗ ّٰ ُ‫ش ٍة ُّم اب ِينا ٍۗة اوتِ ْلكا ُحد ُْود‬
ّٰ ‫َّللاِ او ام ْن يَّت ا اعدَّ ُحد ُْودا‬ ‫ِإ ََّل أ ا ْن يَّأْتِيْنا ِبفااحِ ا‬

Artinya;

Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka
pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta
bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah
diizinkan keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum
Allah, dan barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah berbuat zalim
terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu
ketentuan yang baru.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdul Yazid (Abu
Rukanah) metalak istrinya (ummu Rukanah), kemudian ia menikah lagi dengan seorang wanita
Madinah. Istrinya mengadu kepada Rasulullah Saw dengan berkata: “Ya Rasulullah, tidak akan
terjadi hal seperti ini kecuali karena si rambut pirang.” Ayat ini (ath-Thalaaq: 1) turun berkenaan
dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa kewajiban seorang suami terhadap istrinya yang
ditalak tetap harus ditunaikan sampai habis masa idah, tapi dilarang tidur bersama. As-Shabuni dalam
tafsirnya menyebutkan bahwa al-Kalabi berkata sebab turunnya ayat ini ialah, bahwa Rasulullah Saw
marah kepada Hafsah karena Nabi merahasiakan suatu perkara kepadanya tetapi kemudian ia
bocorkan kepada Aisyah lalu ia ditalak kemudian turun ayat ini.62 As-Suda berkata ayat ini
diturunkan berkenaan dengan kasus Abdullah bin Umar yang mentalak istrinya dalam keadaan haid.
Kemudian ia disuruh oleh Rasulullah Saw merujuknya kemudian menahannya sampai ia suci dari
haidnya lalu haid lagi kemudian suci lagi. Setelah itu apabila ia hendak mentalaknya maka talaklah
ketika dalam keadaan suci dan belum dicampuri; itulah masa yang oleh Allah diperintahkan supaya
wanita ditalak pada masa itu. Maka sebagian ulama telah mengharamkan pada suami tidak
menceraikan istrinya dalam keadaan haid. Suami itu harus mencerainya ketika suci dan suci pula dari
perbuatan senggama. Sebab jika telah terjadi senggama lalu timbul kehamilan maka berarti idahnya

5
menjadi panjang, sebab harus menunggu kandungan itu lahir yang menunjukkan berakhirnya idah
tersebut.

Sayyid Quthb berpendapat bahwa pada ayat ini terdapat hikmah yang terkandung di
dalamnya. Di antaranya dapat menenangkan jiwa seseorang yang sedang tidak stabil, maksudnya di
sini yaitu ketika seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya pada waktu tersebut akan dapat
meredakan hasrat si suami yang menggebu-gebu untuk menjatuhkan talak, karna harus menuggu
sampai pada waktu yang telah ditentukan. Sebagaimana di dalamnya terdapat hikmah umtuk
mengecek ada atau tidaknya kehamilan sebelum terjadinya perceraian. Namun bila suami tetap dan
terus berkeinginan untuk menjatuhkan talak kepada istrinya, walaupun istrinya telah jelas-jelas hamil,
berarti ia telah benar-benar ingin menceraikan istrinya. Jadi, pensyaratan istri dalam keadaan suci
tanpa terjadi jima’ pada saat itu, untuk memastikan kekosongan rahim dan tidak adanya kehamilan.
Sedangkan, pensyaratan kejelasan terjadinya kehamilan dimaksudkan agar urusan ini terang dan
jelas3.

Hal ini bukanlah dimaksudkan bahwa talak itu tidak boleh terjadi melainkan hanya dalam
priode waktu yang ditetapkan itu. Talak itu terjadi kapan saja ketika seorang menceraikan istrinya.
Namun, jatuhnya talak pada waktu tersebut yang telah ditetapkan di atas adalah sesuatu yang dibenci
Allah dan RasulNya. Ini merupakan peringatan pertama dari Allah dan pengutamaan ketakwaan
terhadapNya, sebelum urusan larangan mengeluarkan istri-istri dari rumah-rumah mereka. Sedangkan
tentang persaksian dalam hal rujuk dan perceraian pada ayat selanjutnya, Sayyid mengemukakan
pendapat bahwa dalam hal itu dibutuhkannya dua orang saksi yang adil. Sebagaimana ijmak ulama‟
yang mengharuskan adanya dua orang saksi yang adil dalam hal tersebut. Sayyid menghubungkan
makna ayat ini dengan takdir Allah‟. Mengikatkan dengan takdirNya tentang talak dan masa
berlakunya, tentang iddah dan priode berakhirnya, serta tentang persaksian dan penegakannya. Allah
menentukan karakter hukum-hukum talak ini dengan karakter sunnahNya yang pasti terlaksana dan
hukumNya yang umum. Juga meletakkan dalam gambaran perasaan bahwa urusan talak ini adalah
urusan yang serius dan sungguh-sungguh yang terambil dari sistem alam semesta yang ditentukan
dalam ciptaan Allah.

Menurut Wahbah Zuhaily hukum talaq ada empat perkara:


1) Wajib, yaitu apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri, sedangkan untuk bersatu kembali
sangat jauh dari kemungkinan, ataupun kedua hakim yang mengurus perkara keduanya sudah
memandang perlu supaya keduanya bercerai.
2) Sunnah, yaitu apabila suami sudah tidak sanggup lagi membayar kewajibannya (memberi nafkah)
kepada istrinya, nafkah lahir maupun nafkah batin, atau si istri tidak menjaga kehormatannya
secara sempurna.
3) Haram, yaitu dalam dua keadaan: pertama menjatuhkan talaq ketika istri dala keadaan haid, kedua
menjatuhkan talaq ketika istri dalam keadaan suci dan telah melakukan persetubuhan dengannya.
4) Makruh, asal dari hukum talaq yang sebenarnya4.

d. Macam-macam Talak
Talak dapat terbagi menjadi beberapa macam, yakni :5
1. Talak Sunni

3 Sayyid Quthb, Fi Zilal al-Qur’an, h. 292/I


4
Dr. Kadar M. Yusuf, M.Ag, Tafsir Ayat Ahkam, ( Jakarta, 2011, Amzah). h 248-252
5
Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqh Wanita, (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1998), hlm. 438

6
Talak yang terjadi sebagaimana telah disyariatkan dalam agama, baik itu bersumber dari
Allah maupun Rasul-Nya. Contoh seorang suami yang menjatuhkan talak pada istrinya
sebanyak 1 kali dan isteri tersebut dalam keadaan suci dan belum digauli.
2. Talak Bid’i
Ialah talak yang terjadi dalam kondisi yang diharamkan. Contohnya seorang suami
menjatuhkan talak pertama kali dalam lafadz 3 kali atau menceraikan isterinya yamg
sedang haid atau nifas dan menceraikam isterinya dalam keadaan suci dan telah
digaulinya, sedangkan kondisi perempuan itu belum jelas hamil atau tidaknya.
3. Talak Raj’i
Yaitu talak dimana suami masih mempunyai hak untuk merujuk kembali isterinya, setelah
talak itu dijatuhkan dengan lafadz-lafadz tertentu, dan isteri benar-benar sudah digauli.
Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat at-Thalaq ayat 1
ّٰ ‫صوا ْال ِعدَّ ۚة ا اواتَّقُوا‬
‫َّللاا اربَّ ُك ۚ ْم اَل ت ُ ْخ ِر ُج ْوه َُّن مِ ْن بُي ُْوتِ ِه َّن او اَل يا ْخ ُرجْ نا‬ ُ ْ‫ط ِلقُ ْوه َُّن ِل ِعدَّتِ ِه َّن اوأاح‬
‫سا اء فا ا‬ ‫طلَّ ْقت ُ ُم النِ ا‬ ُّ ِ‫يَٰ أايُّ اها ال َّنب‬
‫ي إِذاا ا‬
‫ِث اب ْعدا َٰذلِكا أ ا ْم ًرا‬
ُ ‫َّللاا يُحْ د‬
ّٰ ‫ي لاعا َّل‬ْ ‫سهٗ اَل تاد ِْر‬ ۗ ‫ظلا ام نا ْف ا‬
‫َّللاِ فاقا ْد ا‬
ّٰ ‫َّللاِ او ام ْن يَّت ا اعدَّ ُحد ُْودا‬ ۗ ‫ِإ ََّل أ ا ْن يَّأْتِيْنا ِبفااحِ ا‬
ۗ ّٰ ُ‫ش ٍة ُّم اب ِينا ٍة اوت ِْلكا ُحد ُْود‬
Artinya : “Hai Nabi. Apabila kamu menceraikan isteri-isteri mu maka hendaklah kamu
menceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar)
dan hitunglah waktu ‘iddah itu serta bertaqwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah
kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar
kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah,
maka sesungguhnya dia telah berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak
mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu yang baru.”
Yang dimaksud dengan “menghadap” ‘iddah yang wajar dalam ayat tersebut adalah isteri-
isteri itu hendaknya ditalak dalam keadaan suci dan belum dicampuri. Sedangkan yang
dimaksud dengan perbuatan keji adalah apabila isteri melakukan perbuatan-perbuatan
pidana, berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, ipar, dan sebagainya. Adapun yangg
dimaksud dengan sesuatu yang baru adalah keinginan dari suami untuk rujuk kembali
apabila talaknya baru dijatuhkan sekali atau dua kali.
4. Talak Ba’in
Ialah suami tidak sah rujuk lagi tetapi boleh kawin kembali, baik dalam iddah ataupun
sesudah habis masa ‘iddah, dengan ketentuan harus mengulangi akad nikah yang baru.
e. Prosedur Talak
Rukun talak ada 3 yaitu :
- Suami yang metalak, dengan syarat baligh, berakal, dan atas kehendaknya sendiri.
- Isteri yang ditalak.
- Ucapan yang digunakan untuk mentalak.

Lafaz talaq
Lafaz talaq yang di pakai untuk perceraian ada dua macam:
1) Sharih (secara terang), yaitu lafaz yang tidak diragu-ragukan lagi ucapannya dan yang
dimaksud adalah memutuskan ikatan perkawinan, seperti kata suami “aku ceraikan
engkau” atau “aku talaq”. Lafaz yang secara terang ini tidak perlu dengan niat, berarti
apabila si suami telah melafazkan demikian maka jatuhlah talaq.
2) Kinayah (secara sindiran) yaitu lafaz yang masih ragu-ragu, boleh diartikan untuk
perceraian atau boleh diartikan kepada yang lain seperti “pergilah engkau kerumah orang
tuamu atau pergilah dari sini”. Lafaz ini tergantung kepada niat, artinya apabila tidak
diniatkan untuk perceraian tidaklah jatuh talaq akan tetapi kalau diniatkan di dalam hati si
suami untuk menjatuhkan talaq barulah ia menjadi talaq.
Orang- orang yang tidak sah menjatuhkan talaq.

7
a) Orang gila.
b) Orang dalam keadaan tidur.
c) Orang yang dipaksa.
d) Orang yang mabuk.
e) Orang yang sedang marah.

f. Etika Talak
‫ش ْيئ ً ۗا أات اأ ْ ُخذُ ْوناهٗ بُ ْهت اانًا َّو ِإثْ ًما ُّم ِب ْينًا‬‫ارا فا اَل ت اأ ْ ُخذُ ْوا مِ ْنهُ ا‬ ً ‫ط‬ ‫ج َّو َٰات ا ْيت ُ ْم ِإحْ َٰده َُّن قِ ْن ا‬ ٍ ٍۙ ‫ج َّم اكانا زا ْو‬ ٍ ‫او ِإ ْن أ ا ار ْدت ُّ ُم ا ْستِ ْبداا ال زا ْو‬
ً‫غ ِل ْيظا‬ ً ‫ا‬ ُ ْ
‫ض َّوأ اخذنا مِ نك ْم مِ ْيثاقا ا‬ْ ‫ا‬ ٍ ‫ضك ْم إِلى با ْع‬ َٰ ُ ُ ‫ْف ت اأ ْ ُخذُ ْوناهٗ اوقا ْد أ ا ْفضَٰ ى با ْع‬ ‫او اكي ا‬
Artinya : “Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu
telah memberikan kepada seorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah
kamu mengambil kembali sedikitpun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya dengan jalan
tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? Dan bagaimana kamu akan
mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul dengan satu sama lain (sebagai suami
isteri). Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan
yang kuat)”
 Kosakata
‫استبدال زوج‬ : Secara harfiah, kata ini berarti mengganti isteri. Maksudnya, menceraikan
isteri kemudian menikah dengan perempuan lain yang disukai.
‫قنطارا‬ : Harta yang banyak (mal katsir)
‫ افضى بعضكم‬: Secara harfiah, afdha berarti sampai. Maka kata ‫قد افضى بعضكم الى بعض‬
bermakna sebagian kamu telah sampai kepada sebagian yang lain.
Maksudnya, masing-masing suami dan isteri telah saling menyerahkan; suami
menyerahkan mas kawin dan isteri telah menyerahkan isterinya untuk
dipergauli. Jadi, kata afdha dalam kata ini merupakan kinayah.6
 Syarah Ayat
Pada ayat ‫ش ْيئ ً ۗا أات اأ ْ ُخذُ ْوناهٗ بُ ْهت اانًا َّو ِإثْ ًما ُّم ِب ْينًا‬
‫ارا فا اَل ت اأ ْ ُخذُ ْوا مِ ْنهُ ا‬ ً ‫ط‬ ‫ج َّو َٰات ا ْيت ُ ْم ِإحْ َٰده َُّن قِ ْن ا‬ ٍ ‫او ِإ ْن أ ا ار ْدت ُّ ُم ا ْستِ ْبداا ال زا ْو‬
ٍ ٍۙ ‫ج َّم اكانا زا ْو‬
Apabila seorang laki-laki tidak lagi menyenangi isterinya, kemudian menceraikannya, maka
dia tidak boleh mengambil harta yang telah idberikan kepada isterinya itu, baik harta itu
berupa mas kawin atau harta lainnya yang memang telah diberikan kepadanya. Segala usaha
seorang laki-laki sebagai siasat agar dia dapat mengambil harta yang telah diberikannya itu
merupakan perbuatan dosa, seperti menuduhnya berbuat maksiat padahal isterinya itu tidak
pernah melakukan hal tersebut.
Hal ini Allah larang karena suami telah mempergaulinya. Pada suatu ketika Rasulullah
berkata kepada 2 orang suami isteri yang telah melakukan li’an :
“Allah mengetahui bahwa satu diantara kamu ada yang berbohong, maka adakah diantara
kamu yang ingin bertaubat?” Rasulullah mengucapkan hal ini sampai 3 kali. Kemudian
laki-laki itu berkata, ‘Ya Rasulullah, harta ku yaitu harta yang telah aku berikan
kepadanya’ Rasulullah menjawab, “Tidak ada harta untukmu, kalau kamu benar maka hak
itu telah terimbangi oleh pergaulan mu dengannya dan jika kamu bohong maka berarti
kamu telah menjauhkan milikmu.”7

6
Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam (Jakarta : AMZAH, 2011), hlm. 262
7
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Jilid II, hlm. 467

8
Dengan keterangan hadits ini sangat jelas bahwa apa yang telah diberikan seorang suami
kepada isterinya tidak boleh diambil kembali. Hal ini sesuai pula dengan apa yang telah
dijelaskan ayat berikutnya,8
ً ‫غ ِل ْي‬
‫ظا‬ ‫ض َّوأ ا اخ ْذنا مِ ْن ُك ْم مِ ْيثااقًا ا‬ ُ ‫ْف ت اأ ْ ُخذُ ْوناهٗ اوقا ْد أ ا ْفضَٰ ى با ْع‬
ٍ ‫ض ُك ْم إِ َٰلى با ْع‬ ‫او اكي ا‬
Adapun QS. an-Nisā ayat 21 secara umum Allah ingin menyadarkan orang-orang beriman
dengan sebuah pertanyaan: bagaimana kalian tega mengambil kembali mahar yang telah
kalian berikan kepada istri-istri kalian, padahal kalian sudah saling berhubungan suami istri,
tak ada rahasia lagi di antara kalian, kalian tahu detil tentang dirinya dan dirinya pun begitu?
Sungguh tidak pantas dan tidak dapat dinalar bila kalian mengambil kembali apa yang
digunakan untuk menghalalkan farjinya (mas kawin) dan kalian juga sudah dijanji dengan
janji yang kuat saat kalian mengatakan “Qabiltu nikahaha wa tazwiijaha bi mahrin kadza wa
kadza (telah aku terima nikahnya dan kawinnya dengan mahar begini dan begini...)”. Maka
dengan alasan apapun, suami tidak boleh berbuat zalim terhadap istri, baik dalam kondisi
dipertahankan sebagai istri atau dilepas.

g. Dampak Talak

Tidak diragukan lagi bahwa perceraian memang memiliki dampak negatif yang sangat serius
terhadap kehidupan seseorang, juga masyarakat secara umum, antara lain:

1. Hilangnya kesempatan bagi suami istri untuk berbuat ihsan dalam bersabar menghadapi
beragam masalah rumah tangga, padahal setiap perbuatan ihsan dan kesabaran itu akan
mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.
2. Hancurnya mahligai rumah tangga yang telah dibangun suami dan terpecah belahnya anggota
keluarga. Ibarat seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan
kuat, menjadi tercerai berai kembali.
3. Berbagai perasaan cemas dan takut dapat menimpa suami manakala berkeinginan untuk
menikah lagi. Tidak mustahil dia akan merasa kesulitan mengumpulkan biaya untuk menikah
kembali, bahkan kesulitan untuk menikah lagi, dikarenakan banyak orang tua yang merasa
khawatir untuk menikahkan putri mereka dengan seorang lelaki yang pernah bercerai.
Akibatnya dia beresiko tetap membujang selamanya.
4. Kembalinya para wanita yang telah dicerai ke rumah orang tua atau wali mereka; bahkan ke
rumah orang lain. Hal ini tentu akan menjadi beban mental bagi mereka maupun para wali.
Sebab, menetap di rumah orang tua maupun para wali setelah diceraikan suami, tentulah tidak
sama kondisinya bila dibandingkan ketika masih gadis. Ini adalah satu hal yang sangat
dipahami wanita.
5. Kecil kemungkinan bagi para lelaki untuk menikahi wanita yang telah menjadi janda karena
diceraikan oleh suaminya. Tidak mustahil, setelah bercerai, sang wanita tetap menjadi janda,
tidak bersuami. Tentu hal ini mendatangkan berbagai kerusakan dan tekanan batin bagi wanita
tersebut sepanjang hayatnya.
6. Jika ternyata wanita yang diceraikan memiliki anak, maka persoalan menjadi semakin rumit.
Sebab, tidak jarang anak-anaknya yang tinggal bersama di rumah para wali wanita akan
mengalami berbagai macam permasalahan dalam berinteraksi dengan anak-anak kerabat atau
wali wanita tersebut.
7. Tidak jarang sang ayah mengambil anak dari ibunya dengan paksa, hingga ibu tidak pernah
lagi dapat melihatnya; apalagi jika bapak dari anak-anak ini bertemperamen keras, pasti
berpisah dengan anaknya akan sangat menyakitkan hati seorang ibu.
8
Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam, hlm. 263

9
8. Semakin jauhnya ayah dari anak-anaknya. Bisa jadi disebabkan anak-anak tinggal bersama ibu
mereka, ataupun disebabkan kesibukan ayahnya dengan istri baru, sehingga menjadi tidak
begitu memperhatikan anak-anaknya. Akibatnya, sang bapak menuai dosa besar karena
menyia-nyiakan anaknya. Padahal, Rasulullah bersabda, ”Setiap kalian adalah pemimpin, dan
tiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya terhadap yang dipimpinnya. Seorang
lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggung jawabannya.
Seorang wanita adalah pemimpin rumah suaminya dan akan dimintai
pertanggungjawabannya… ” (HR Bukhari, Kitabun Nikah no 5188)
9. Terlantarnya anak-anak karena terpisah dengan ayah mereka, dan sang ibu kesulitan untuk
mendidik mereka sendirian. Hal ini akan menjerumuskan anak-anak ke dalam pergaulan yang
buruk. Apalagi pada zaman yang penuh dengan fitnah dan tipu daya ini, tidak jarang anak-
anak yang terlantar ini terjerumus ke lembah syahwat dan perzinaan, ataupun mengkonsumsi
obat-obat terlarang, sehingga rakhirnya mereka menjadi sampah masyarakat. Tentulah hal ini
sangat tidak diinginkan oleh setiap orang tua yang masih memiliki akal sehat dan kehormatan,
sebab akan mencoreng arang di muka mereka.
10. Banyaknya kasus perceraian dimasyarakat akan menghalangi banyak pemuda dan pemudi
untuk menikah, karena ketakutan mereka terhadap kegagalan dan prahara dalam berumah
tangga, yang akhirnya melahirkan sikap traumatis. Tentu hal ini akan mendatangkan bahaya
besar bagi masyarakat ketika mereka (para pemuda) terpaksa menyalurkan kebutuhan
biologisnya kepada hal-hal yang diharamkan syariat, semisal seks bebas, homoseks, lesbi dan
penyimpangan seks lainnya. Na'udubillahi min dzaalik.

10
2. KESIMPULAN
Talak adalah terlepasnya ikatan perkawinan seorang laki-laki dari istrinya, dengan sebab
suatu lafal yang diungkapkan oleh laki-laki tersebut.
Ibnu Hajar berpendapat, bahwa hukum talak itu ada beberapa macam, yaitu :

a. Adakalanya wajib, seperti talaknya orang yangbersumpah ila’ sesudah tempo 4 bulan
dan menceraikan oleh 2 juru damai (hakamain) dalam kasus syiqaq antara suami isteri
manakala jalan damai sudah tidak ditemukan.
b. Atau sunnah, seperti keadaan suami yang tidak mampu memenuhi kewajibannya atau
karena isteri tidak terpelihara kehormatannya.
c. Atau haram, yaitu talak bid’i.
d. Atau makruh, kalau tanpa sebab.
Talak dapat terbagi menjadi beberapa macam, yakni :
a. Talak Sunni
b. Talak Bid’i
c. Talak Raj’i
d. Talak Ba’in
Rukun talak ada 3 yaitu :
- Suami yang metalak, dengan syarat baligh, berakal, dan atas kehendaknya sendiri.
- Isteri yang ditalak.
- Ucapan yang digunakan untuk mentalak.

Ucapan talak untuk mentalak isteri ada 2 yaitu ;

- Ucapan sharih yaitu ucapan yang tegas maksudnya untuk menalak. Talak itu jatuh jika
seseorang telah mengucapkan dengan sengaja walaupun hatinya tidak ada ucapan. Talak
sharih ada 3 :
1. Talak artinya mencerai
2. Firak artinya memisahkan diri
3. Sarah artinya lepas
- Ucapan kinayah yaitu tidak jelas maksudnya, mungkin ucapan itu maksudnya telah lain,
ucapan talak kinayah memerlukan adanya niat, artinya jika ucapan talak itu dengan niat,
sah talaknya dan jika tidak disertai dengan niat, maka talaknya belum jatuh. Ucapan
kinayah antara lain misalnya :
a. Pulanglah engkau kepada ibu bapakmu
b. Kawinlah engkau dengan orang lain
c. Saya tidak hajat lagi kepadamu

Apabila seorang laki-laki tidak lagi menyenangi isterinya, kemudian menceraikannya,


maka dia tidak boleh mengambil harta yang telah diberikan kepada isterinya itu, baik
harta itu berupa mas kawin atau harta lainnya yang memang telah diberikan kepadanya.
Segala usaha seorang laki-laki sebagai siasat agar dia dapat mengambil harta yang telah
diberikannya itu merupakan perbuatan dosa, seperti menuduhnya berbuat maksiat padahal
isterinya itu tidak pernah melakukan hal tersebut.

11
3. Daftar Pustaka

Wahbah az-Zuhailī, Fiqih Imam Syafi’i Jilid 2, alih bahasa; Muhammad Afifi dan Abdul Hafiz,
Cet 1,Jakarta: Almahira, 2010
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid 5, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
2001
Sayyid Quthb, Fi Zilal al-Qur’an
Mu’ammal Hamidy dan Drs. Imron A. Manan, Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni,
Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqh Wanita, (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1998)
Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam (Jakarta : AMZAH, 2011)
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Jilid II,
Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam,

12