You are on page 1of 115

LAPORAN AKHIR

BAB V
ANALISA DATA

5.1 Umum
Menurut KepMenKes No. 907/MENKES/SK/VII/2002, bahwa setiap pengelola
sumber daya air diwajibkan melakukan pengelolaan dan pengawasan sumber mata
air, dengan cara :
1. Menjamin air yang diproduksi memenuhi syarat-syarat kesehatan, dengan
melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kualitas air yang diproduksi
2. Melakukan pengamanan terhadap sumber air bersih yang dikelola dari segala
bentuk pencemaran sesuai denga peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Dalam melakukan pengelolaan terhadap sumber air yang
memperoleh pengawasan dari pemerintah dan instansi terkait (Dinas
Kesehatan).
5.2 Analisa Data Pengamatan Berdasarkan KepMenKes
No.
907/MENKES/SKVII/2002
Hasil analisis data yang diperoleh dari hasil survey di lapangan, kualitas air dari
mata air di 7 Kecamatan, yaitu Kecamatan Bakung, Kecamatan Kecamatan
Wonotirto, Kecamatan Panggungrejo, Kecamatan Wates, Kecamatan Binangun,
Kecamatan Sutojayan, dan Kecamatan Kademangan dapat dilihat pada Tabel V-1
sampai dengan Tabel V-40.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-1


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.2.1. Kecamatan Bakung


 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Satir menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,3 °C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar
terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air
bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,76 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masih
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 663 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil
pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 10,6 NTU, nilai ini jauh lebih
tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut
menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah
sebesar 6,25 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat baku mutu air. Semakin besar nilai DO maka semakin banyak
kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS sebesar 424 mg/L. Nilai tersebut masih dalam kategori
baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama
tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu
indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan
zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak
diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak
mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). Hasil
pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0.012 mg/L, tidak melebihi standard nilai
maksimum dari KepMenkes. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus
sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0.878 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-2


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar 0.002 mg/L.


Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu KepMenKes,
sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai kadar ion krom
sebesar 0.002 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05 mg/L. Hasil pengukuran
untuk kadar sulfat dalam air sebesar 37.33 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk
kadar Besi sebesar 0.025 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 180,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-1.
Tabel V-1. Hasil Pengukuran di Mata Air Satir
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak memenuhi baku
27.3
(°C) 3°C (20-26) °C mutu air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu
7.76 6.5-8.5
air bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu
663 -
(µS/cm) air bersih
4. KEKERUHAN Tidak memenuhi baku
10.6 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu
6.25 6
(mg/L) air bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu
424 500
(mg/L) air bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu
0.3 -
(ppt) air bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu
0 100
(mg/L) air bersih
9. NO2 (Nitrit) 0.012 3 Memenuhi baku mutu
air bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu
10. NO3 (Nitrat) 0.878
air bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu
11. Mn 0.429
air bersih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-3


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu
12. Cr6+ 0.002
air bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu
13. SO4 37.33
air bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu
14. Fe 0.025
air bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu
15. Kesadahan 180.8 air bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Umbul menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,7 °C, nilai ini
sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi,
untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan
untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,13 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masih
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 552 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil
pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 10,2 NTU, nilai ini jauh lebih
tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Hasil pengukuran
nilai DO adalah sebesar 6,33 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut
berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO
maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil
pengukuran TDS sebesar 442 mg/L. Nilai tersebut masih dalam kategori baik.
TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi
sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-4


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan


zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak
diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak
mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 1 mg/L. Nilai
ini masih sangat jauh dari batas ambang standard KepMenKes yang sebesar
100 mg/L. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut masih sangat jernih
dan dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-2.
Tabel V-2. Hasil Pengukuran di Mata Air Umbul
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26.7
(°C) 3°C (20-26) °C mutu air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu
7.13 6.5-8.5
air bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu
552 -
(µS/cm) air bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
10.2 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu
6.33 6
(mg/L) air bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu
442 500
(mg/L) air bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu
0.3 -
(ppt) air bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu
1 100
(mg/L) air bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Seri menunjukkan bahwa air tidak berbau
dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,4 °C, nilai ini lebih tinggi
dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen Kesehatan
907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar terhadap
tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci
ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air bersih adalah
pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran menunjukkan nilai 7,31
yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi memenuhi syarat untuk
air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter konduktivitas, menunjukkan
nilai sebesar 452 µS/cm. Nilai tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-5


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

terlarut yang dapat terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal ,
dan semakin besar pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus
listrik. Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter
konduktivitas tidak diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan
sebesar 6.3 NTU, nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang
ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh.
Hasil pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,52 mg/L. Berdasarkan KepMenKes,
air tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 464 mg/L. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai
suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-
kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt).
Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter
salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut
tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 1
mg/L. Nilai ini masih sangat jauh dari batas ambang standard KepMenKes yang
sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai
TSS sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil
pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-3.
Tabel V-3. Hasil Pengukuran di Mata Air Seri
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
Tidak Memenuhi baku
1. SUHU Suhu ruang
27.4 mutu air bersih
3°C (20-26) °C
(°C)
2. Ph Memenuhi baku mutu
7.31 6.5-8.5
air bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu
452 -
(µS/cm) air bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
6.3 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu
6.52 6
(mg/L) air bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu
464 500
(mg/L) air bersih
7. SALINITAS 0.3 - Memenuhi baku mutu

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-6


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
(ppt) air bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu
1 100
(mg/L) air bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Taman (baru) menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,42 °C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar
terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air
bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,13 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 656 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil
pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 7,2 NTU. Nilai ini jauh lebih
tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut
menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah
sebesar 6,43 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil pengukuran TDS
sebesar 317 mg/L . Nilai tersebut masih dalam kategori baik. TDS secara umum
tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi sebagai satu
petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu indikator agregat
dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai
pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin
rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-7


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 2 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
dari batas ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS
menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka
air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat
pada Tabel V-4.
Tabel V-4. Hasil Pengukuran di Mata Air Taman (baru)
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
27.2 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu
7.13 6.5-8.5
air bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu
656 -
(µS/cm) air bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
7.2 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu
6.43 6
(mg/L) air bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu
317 500
(mg/L) air bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu
0.3 -
(ppt) air bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu
2 100
(mg/L) air bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Juruk menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,1°C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar
terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air
bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,13 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 652 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-8


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil


pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 7,7 NTU. Nilai ini jauh lebih
tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut
menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah
sebesar 6,23 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil pengukuran TDS
(mg/L) sebesar 417. Nilai tersebut masih dalam kategori baik. TDS secara
umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi sebagai satu
petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu indikator agregat
dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai
pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin
rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral
garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 1 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
dari batas ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS
menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka
air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat
pada Tabel V-5.
Tabel V-5. Hasil Pengukuran di Mata Air Juruk
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
Tidak Memenuhi baku
1. SUHU Suhu ruang
27.1 mutu air bersih
3°C (20-26) °C
(°C)
Memenuhi baku mutu
2. Ph
7.13 6.5-8.5 air bersih

Memenuhi baku mutu


3. KONDUKTIVITAS
652 - air bersih
(µS/cm)
Tidak Memenuhi baku
4. KEKERUHAN
7.7 5 mutu air bersih
(NTU)
Memenuhi baku mutu
5. DO
6.23 6 air bersih
(mg/L)
Memenuhi baku mutu
6. TDS
417 500 air bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-9


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
Memenuhi baku mutu
7. SALINITAS air bersih
0.3 -
(ppt)
Memenuhi baku mutu
8. TSS
1 100 air bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran
5.2.2. Kecamatan Wonotirto
 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,1°C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,13 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 652 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 7,7 NTU. Nilai ini jauh
lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,23 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil pengukuran
TDS (mg/L) sebesar 417. Nilai tersebut masih dalam kategori baik. TDS
secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi
sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu
indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan
zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-10


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak


diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak
mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 1 mg/L. Nilai
ini masih sangat jauh dari batas ambang standard KepMenKes yang sebesar
100 mg/L. TSS menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS
sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil
pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-6.
Tabel V-6. Hasil Pengukuran di Mata Air Kedung Dele
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
Tidak Memenuhi baku
1. SUHU Suhu ruang
27.1 mutu air bersih
3°C (20-26) °C
(°C)
Memenuhi baku mutu
2. Ph
6.13 6.5-8.5 air bersih

Memenuhi baku mutu


3. KONDUKTIVITAS
652 - air bersih
(µS/cm)
Tidak Memenuhi baku
4. KEKERUHAN
7.7 5 mutu air bersih
(NTU)
Memenuhi baku mutu
5. DO
6.23 6 air bersih
(mg/L)
Memenuhi baku mutu
6. TDS
417 500 air bersih
(mg/L)
Memenuhi baku mutu
7. SALINITAS
0.3 - air bersih
(ppt)
Memenuhi baku mutu
8. TSS
1 100 air bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Pulorejo (baru) menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,06 °C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar
terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air
bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-11


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

menunjukkan nilai 6,61. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang baik
berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 741 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil
pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 11.3 NTU, nilai ini jauh lebih
tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut
menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah
sebesar 6,22 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 474. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai
suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-
kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.4 (ppt).
Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter
salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut
tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 2
(mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas ambang standard KepMenKes
yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena
nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan untuk air bersih Hasil
pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0.008, tidak melebihi standard nilai
maksimum dari KepMenkes. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit
yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil pengukuran . NO3
(Nitrat) sebesar 0.608 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih
rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran
parameter Mn sebesar 0.381. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard
baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran
untuk nllai kadar ion krom sebesar 0.002 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-12


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

0.05 mg/L. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar 30,35 mg/L.
Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak
dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan.
Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0.054 mg/L. Nilai ini masih jauh di
bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan
untuk hasil pengukuran nilai kesadahan sebesar 190,8 mg/L. Nilai ini masih
sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes
yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai
kadar rendah, sehingg layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-7.
Tabel V-7. Hasil Pengukuran di Mata Air Pulorejo (baru)
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
27.06
(°C) 3°C (20-26) °C mutu air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu
6.61 6.6-8.5
air bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu
741 -
(µS/cm) air bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
11.3 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu
6.22 6
(mg/L) air bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu
474 500
(mg/L) air bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu
0.4 -
(ppt) air bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu
2 100
(mg/L) air bersih
3 Memenuhi baku mutu
9. NO2 0.008
air bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu
10. NO3 0.608
air bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu
11. Mn 0.381
air bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu
12. Cr6+ 0.002
air bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu
13. SO4 30.35
air bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-13


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
14. Fe 0.054 0.3 Air bersih
(mg/L)
15. 500 Memenuhi baku mutu
Kesadahan 190.8 air bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Ngembul menunjukkan bahwa
air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,38 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi,
untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan
untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,64. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang baik
berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 748 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil
pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 11,7 NTU, nilai ini jauh lebih
tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut
menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah
sebesar 6,67 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 479. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai
suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-
kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.4 (ppt).
Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-14


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut
tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 2
(mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat
kecil, maka air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran.
NO2 (Nitrit) sebesar 0.01, tidak melebihi standard nilai maksimum dari
KepMenkes. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan
masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil pengukuran . NO3 (Nitrat)
sebesar 0,703 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah
dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn
sebesar 0,619. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu
KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai
kadar ion krom sebesar 0.005 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di
bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05 mg/L.
Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar 43.61 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak
dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan.
Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0.076 mg/L. Nilai ini masih jauh di
bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan
untuk hasil pengukuran nilai kesadahan sebesar 200 mg/L. Nilai ini masih
sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes
yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai
kadar rendah, sehingg layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-8.
Tabel V-8. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Ngembul
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
27.38
(°C) 3°C (20-26) °C mutu air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.64 6.5-8.5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
748 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Memenuhi baku mutu air
11.7 5
(NTU) bersih
5. DO 6.67 6 Memenuhi baku mutu air

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-15


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
(mg/L) bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu air
479 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.4 -
(ppt) bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu air
2 100
(mg/L) bersih
9. NO2 0.01 3 Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
10. NO3 0.703 50 Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
11. 0.5 Memenuhi baku mutu air
Mn 0.619
bersih
(mg/L)
12. 0.05 Memenuhi baku mutu air
Cr6+ 0.005
bersih
(mg/L)
13. 2250 Memenuhi baku mutu air
SO4 43.61
bersih
(mg/L)
14. 0.3 Memenuhi baku mutu air
Fe 0.076
bersih
(mg/L)
15. 500 Memenuhi baku mutu air
Kesadahan 200 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Jeding menunjukkan bahwa Sifat-sifat
fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,85°C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,67 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 676 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-16


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.


Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 24,3 NTU. Nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,1 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil pengukuran
TDS (mg/L) sebesar 432. Nilai tersebut masih dalam kategori baik. TDS
secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi
sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu
indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan
zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak
diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak
mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 2 mg/L. Nilai
ini masih sangat jauh dari batas ambang standard KepMenKes yang sebesar
100 mg/L. TSS menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS
sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil
pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-9.
Tabel V-9. Hasil Pengukuran di Mata Air Jeding
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
27.85
(°C) 3°C (20-26) °C mutu air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.67 6.5-8.5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
676 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
24.3 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.1 6
(mg/L) bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu air
432 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 -
(ppt) bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu air
2 100
(mg/L) bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-17


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Dayangan Embul Semon menunjukkan
bahwa Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan
bahwa air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar
28,81°C, nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum
berdasarkan Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh
suhu tidak begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 6,68 yang berarti air bersifat sedikit basa,
namun air masi memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran
terhadap parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 656 µS/cm.
Nilai tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 12,5 NTU.
Nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,22 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya. Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 420. Nilai tersebut masih
dalam kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat
cemar yang utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air
bersih dan sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-18


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-10.
Tabel V-10. Hasil Pengukuran di Mata Air Dayangan Embul Semon
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
28.18
(°C) 3°C (20-26) °C air bersih
Memenuhi baku mutu air
2. Ph
6.68 6.5-8.5 bersih

3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air


656 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
12.5 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.22 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
420 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Embul Simo menunjukkan bahwa Sifat-
sifat fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,96°C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 6,71, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,68 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 571 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 15,5 NTU. Nilai ini

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-19


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,08 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil pengukuran
TDS (mg/L) sebesar 365. Nilai tersebut masih dalam kategori baik. TDS
secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi
sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu
indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan
zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak
diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak
mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 1 mg/L. Nilai
ini masih sangat jauh dari batas ambang standard KepMenKes yang sebesar
100 mg/L. TSS menggambarkan zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS
sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan untuk air bersih. Hasil
pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-11.
Tabel V-11. Hasil Pengukuran di Mata Air Embul Simo
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.96 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.71 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
571 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
15.5 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.08 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
365 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100
(mg/L) bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-20


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.2.3. Kecamatan Panggungrejo


 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Umbul Mawar menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,03 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,29. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 580 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 29,4 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,63 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya. Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 371 Nilai tersebut masih
dalam kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat
cemar yang utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air
bersih dan sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0.014, tidak melebihi standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut
berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus
sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,419 mg/L.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-21


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai


maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar
0,264 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu
KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai
kadar ion krom sebesar 0 mg/L. Hasil ini menunjukkan bahwa air tidak
mengandung kadar krom. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air
sebesar 7,558 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas
ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat
dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut
dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar
0,624 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard KepMenKes. Sehingga air
bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan
sebesar 152 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah, sehingga layak di
konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-12.
Tabel V-12. Hasil Pengukuran di Mata Air Umbul Mawar
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.03 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.29 6.5 – 8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
580 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
29.4 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.63 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
371 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100 bersih
(mg/L)
9. NO2 0.014 3 Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.419
bersih
(mg/L)
11. Mn 0.264 0.5 Memenuhi baku mutu air

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-22


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 7.558
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.624
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 152
bersih
(mg/L)

Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Umbul Baros menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,4 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,33. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 586 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 25,6 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,44 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 375 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-23


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,006, tidak melebihi
standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut berarti dapat
dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat
rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,689 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah
di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar 0,524 mg/L. Nilai ini
masih di bawah batas ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air
ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai kadar ion krom sebesar
0,001mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05 mg/L. Hasil pengukuran
untuk kadar sulfat dalam air sebesar 2,674 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk
kadar Besi sebesar 0,028 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 158 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-13.
Tabel V-13. Hasil Pengukuran di Mata Air Umbul Baros
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
27.4 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.33 6,5 – 8,5 bersih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-24


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
586 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
25.6 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.44 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
375 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100 bersih
(mg/L)
9. NO2 0.006 3 Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
10. NO3 0.689 50 Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
11. 0.5 Memenuhi baku mutu air
Mn 0.524
bersih
(mg/L)
12. 0.05 Memenuhi baku mutu air
Cr6+ 0.001
bersih
(mg/L)
13. 250 Memenuhi baku mutu air
SO4 2.674
bersih
(mg/L)
14. 0.3 Memenuhi baku mutu air
Fe 0.028
bersih
(mg/L)
15. 500 Memenuhi baku mutu air
Kesadahan 158 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Loksongo menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,1 °C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 4,99. Nilai jauh lebih rendah dari batas ambang
KepMenKes. Air terlalu bersifat asam, sebaiknya tidak dikonsumsi. Hasil
pengukuran terhadap parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar
556 µS/cm. Nilai tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-25


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

yang dapat terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan
semakin besar pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus
listrik. Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk
parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter
kekeruhan sebesar 12,2 NTU, nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan
standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam
keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,23 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk
air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar
oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 356 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,002, tidak melebihi
standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut berarti dapat
dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat
rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,338 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah
di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar 0,19 mg/L. Nilai ini
masih di bawah batas ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air
ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai kadar ion krom sebesar
0,01mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar
baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05 mg/L.. Hasil pengukuran untuk
kadar sulfat dalam air sebesar 9,651 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada
di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 250
mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-26


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

kadar Besi sebesar 0,035 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 152,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-14.
Tabel V-14. Hasil Pengukuran di Mata Air Loksongo
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
27.1 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
4.99 6,5 – 8,5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
556 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN
12.2 5
(NTU) Tidak Memenuhi baku mutu
5. DO air bersih
6.23 6
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
356 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.002
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.338
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.19
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.01
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 9.651
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.035
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 152.8
bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-27


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kucur, Air Terjun Bidadari
menunjukkan bahwa air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata
dilokasi sebesar 26,2 °C, nilai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
suhu maksimum berdasarkan Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002.
Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar terhadap tingkat pencemaran,
penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan
yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat
netral yaitu pH 7, hasil pengukuran menunjukkan nilai 7,51. Nilai ini sudah
masuk ke dalam kategori air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil
pengukuran terhadap parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar
491 µS/cm. Nilai tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut
yang dapat terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan
semakin besar pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus
listrik. Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk
parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter
kekeruhan sebesar 55,7 NTU, nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan
standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam
keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,92 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk
air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar
oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 319 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,2 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 8 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan
untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,004, tidak melebihi
standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut berarti dapat

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-28


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat
rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,986 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah
di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar 0,381 mg/L. Nilai ini
masih di bawah batas ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air
ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai kadar ion krom sebesar
0,001mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05 mg/L. Hasil pengukuran
untuk kadar sulfat dalam air sebesar 62,442 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk
kadar Besi sebesar 0,012 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 188,4 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-15.

Tabel V-15. Hasil Pengukuran di Mata Air Kucur/Air Terjun Bidadari


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26.2 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.51 6,5 – 8,5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
491 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
55.7 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.92 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
319 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.2 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
8 100
(mg/L) bersih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-29


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.004
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.986
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.381
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.001
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 62.442
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.012
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 188.4 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Belik Kembar menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,8 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,32. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 661 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 23,5 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-30


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,82 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air


tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 423 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,012, tidak melebihi
standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut berarti dapat
dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat
rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,878 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah
di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar 0,429 mg/L. Nilai ini
masih di bawah batas ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air
ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai kadar ion krom sebesar
0,002mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05 mg/L. Hasil pengukuran
untuk kadar sulfat dalam air sebesar 39,535 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk
kadar Besi sebesar 0,039 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 150,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-16.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-31


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Tabel V-16. Hasil Pengukuran di Mata Air Belik Kembar


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.8
(°C) 3°C (20-26) °C air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.32 6,5 – 8,5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
661 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
23.5 5
(NTU) air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.82 6 bersih
(mg/L)
Memenuhi baku mutu air
6. TDS
423 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100
(mg/L) bersih
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.012
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.878
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.429
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.002
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 39.535
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.039
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 150.8
bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Belik Kembang menunjukkan bahwa
Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,8°C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-32


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk


mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,45 yang berarti air bersifat sedikit basa, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 595 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,9 NTU. Nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,6 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil pengukuran
TDS (mg/L) sebesar 381. Nilai tersebut masih dalam kategori baik. TDS
secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama tetapi
sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai suatu
indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-kontaminan
zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0.3 (ppt). Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter salinitas tidak
diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air tersebut tidak banyak
mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai TSS adalah 0 mg/L. TSS
menggambarkan zat-zat yang mengendap. Hasil pengukuran dapat dilihat
pada Tabel V-17.
Tabel V-17. Hasil Pengukuran di Mata Air Belik Kembang
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Memenuhi baku
27.8 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku
7.45 6.5-8.5 mutu air bersih
3. KONDUKTIVITAS 595 - Memenuhi baku

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-33


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
(µS/cm) mutu air bersih
4. KEKERUHAN Memenuhi baku
13.9 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku
6.6 6 mutu air bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku
381 500 mutu air bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku
0.3 - mutu air bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku
0 100
(mg/L) mutu air bersih
Sumber: Hasil Pengukuran
5.2.4. Kecamatan Wates
 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Kucur menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26 °C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,72. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang
baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 702 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 16,4 NTU, nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,06 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 450 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-34


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 13 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-18.
Tabel V-18. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Kucur
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.72 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
702 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
16.4 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.06 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
450 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
13 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Belik Gamping menunjukkan bahwa
Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,4°C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-35


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 6,56, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,56 yang berarti air bersifat asam, namun air masi
memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 753 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 17,5 NTU. Nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,082 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti
telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka
semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya. Hasil
pengukuran TDS (mg/L) sebesar 482. Nilai tersebut masih dalam kategori
baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang utama
tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan sebagai
suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas kontaminan-
kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter Salinitas 0,4 (ppt).
Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter
salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya, maka air
tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil pengukuran nilai
TSS adalah 9 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh dari batas ambang standard
KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut dapat digunakan
untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-19.

Tabel V-19. Hasil Pengukuran di Mata Air Belik Gamping


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.4 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.56 6.5-8.5 bersih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-36


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

3. KONDUKTIVITAS
753 -
(µS/cm) Memenuhi baku mutu air
bersih
4. KEKERUHAN
17.5 5
(NTU) Tidak Memenuhi baku mutu
air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.82 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
482 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.4 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
9 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Belik Saman menunjukkan bahwa Sifat-
sifat fisik air di sumber mata air Kedung Dele menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 25,3°C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,65 yang berarti air bersifat sedikit asam, namun air
masi memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 566 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 14,6 NTU.
Nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,65 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya. Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 363. Nilai tersebut masih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-37


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

dalam kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat
cemar yang utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air
bersih dan sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 3 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-20.
Tabel V-20. Hasil Pengukuran di Mata Air Belik Saman
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
25.3 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.65 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
566 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
14.6 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.65 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
363 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
3 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Embul menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26 °C,
Berdasarkan Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002, nilai tersebut
sudah masuk ke dalam baku mutu air. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-38


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran


menunjukkan nilai 7,09. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang
baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 488 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 20,1 NTU, nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,85 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 317 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,2 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 4 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,006, tidak melebihi standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut
berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus
sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,311 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar
0,143 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu
KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-39


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

kadar ion krom sebesar 0,001 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di
bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 0.05
mg/L.. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar 20,116 mg/L.
Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak
dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan.
Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0,049 mg/L. Nilai ini masih jauh
di bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi.
Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan sebesar 122,8 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut
mempunyai kadar rendah, sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran
dapat dilihat pada Tabel V-21.

Tabel V-21. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Embul


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.09 6,5 – 8,5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
488 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
20.1 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.85 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
317 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.2 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
4 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.006
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.311
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.143
bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-40


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.001
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 20.116
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.049
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 122.8 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Belik Dawung menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 25,2°C, nilai
tersebut sudah masuk ke dalam baku mutu air berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,67 yang berarti air bersifat sedikit asam, namun air
masi memenuhi syarat untuk air bersih. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 560 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,3 NTU.
Nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,57 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya. Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 358. Nilai tersebut masih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-41


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

dalam kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat
cemar yang utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air
bersih dan sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-22.

Tabel V-22. Hasil Pengukuran di Mata Air Belik Dawung


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
25.2 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.67 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
560 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
13.3 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.57 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
358 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0.8 100
(mg/L) bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Jambe menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 25,9 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-42


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang


dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 6,7. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 527 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 25 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,2 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 337 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 3 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,004, tidak melebihi standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut
berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus
sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,338 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-43


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

0,143 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu
KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nilai
kadar ion krom sebesar 0,002 mg/L. Nilai tersebut jauh lebih rendah dari
batas ambang KepMenKes. Air masih sangat aman untuk dikonsumsi. Hasil
pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar 15,581 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak
dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan.
Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0,046 mg/L. Nilai ini masih jauh
di bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi.
Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan sebesar 140,8 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut
mempunyai kadar rendah, sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran
dapat dilihat pada Tabel V-23.
Tabel V-23. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Jambe
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
25.9 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.7 6,5 – 8,5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
527 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
25 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.2 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
337 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
3 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.004
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.338
bersih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-44


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.143
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.002
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 15.581
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.046
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 140.8 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Agung Mojorejo menunjukkan
bahwa air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar
26,4 °C, nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum
berdasarkan Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh
suhu tidak begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,24. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 555 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 18,4 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,86 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-45
Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di


dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 355 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,004, tidak melebihi standard nilai maksimum dari KepMenkes. Air tersebut
berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus
sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,581 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar
0,143 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu
KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nllai
kadar ion krom sebesar 0 mg/L. Hasil ini menunjukkan bahwa air tidak
mengandung kadar krom. Air aman untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran
untuk kadar sulfat dalam air sebesar 37,326 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk
kadar Besi sebesar 0,046 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 140,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-24.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-46


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Tabel V-24. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Agung Mojorejo


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi
26.4 baku mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku
7.24 6,5 – 8,5 mutu air bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku
555 - mutu air bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi
18.4 5 baku mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku
6.86 6 mutu air bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku
355 500 mutu air bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku
0.3 - mutu air bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku
1 100 mutu air bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku
9. NO2 0.004
mutu air bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku
10. NO3 0.581
mutu air bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku
11. Mn 0.143
mutu air bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku
12. Cr6+ 0
mutu air bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku
13. SO4 37.326
mutu air bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku
14. Fe 0.035
mutu air bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku
15. Kesadahan 144.8
mutu air bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Kembar Banyu Urip 1
menunjukkan bahwa air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata
dilokasi sebesar 26 °C, nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-47


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

maksimum berdasarkan Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002.


Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar terhadap tingkat pencemaran,
penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan
yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat
netral yaitu pH 7, hasil pengukuran menunjukkan nilai 7,06. Nilai ini sudah
masuk ke dalam kategori air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil
pengukuran terhadap parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar
635 µS/cm. Nilai tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut
yang dapat terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan
semakin besar pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus
listrik. Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk
parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter
kekeruhan sebesar 14,4 NTU, nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan
standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam
keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,91 mg/L.
Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk
air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar
oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 406 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,
tidak terdapat kandungan nitrit pada sumber kembar banyu urip 1. Air
tersebut berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam
tubuh harus sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,514

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-48


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn sebesar
0,333 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku mutu
KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nilai
kadar ion krom sebesar 0,005 mg/L. Nilai tersebut jauh lebih rendah dari
batas ambang KepMenKes. Air masih sangat aman untuk dikonsumsi. Hasil
pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar 32,791 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak
dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan.
Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0,032 mg/L. Nilai ini masih jauh
di bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi.
Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan sebesar 163,2 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut
mempunyai kadar rendah, sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran
dapat dilihat pada Tabel V-25.

Tabel V-25. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 1
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu
7.06 6,5 – 8,5 air bersih

3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu


635 - air bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
14.4 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu
6.91 6 air bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu
406 500 air bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu
0.3 - air bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu
1 100 air bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-49


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
3 Memenuhi baku mutu
9. NO2 0
air bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu
10. NO3 0.514
air bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu
11. Mn 0.333
air bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu
12. Cr6+ 0.005
air bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu
13. SO4 32.791
air bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu
14. Fe 0.032
air bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu
15. Kesadahan 163.2
air bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Kembar Banyu Urip 2
menunjukkan bahwa air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata
dilokasi sebesar 26,6 °C, nilai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
suhu maksimum berdasarkan Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002.
Tetapi pengaruh suhu tidak begitu besar terhadap tingkat pencemaran,
penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan
yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat
netral yaitu pH 7, hasil pengukuran menunjukkan nilai 4,77. Nilai jauh lebih
rendah dari batas ambang KepMenKes. Air terlalu bersifat asam, sebaiknya
tidak dikonsumsi. Hasil pengukuran terhadap parameter konduktivitas,
menunjukkan nilai sebesar 637 µS/cm. Nilai tersebut menunjukkan
banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada mata ini air,
dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan air tersebut
untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan Menteri
Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan. Hasil
pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 17,3 NTU, nilai ini jauh
Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-50
Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai


tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,4 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 407 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 3 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-26.
Tabel V-26. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 2
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26.6 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
4.77 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
637 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
17.3 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.4 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
407 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
Memenuhi baku mutu air
8. TSS 3 100
bersih

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-51


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
Memenuhi baku mutu air
(mg/L)
bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

5.2.5. Kecamatan Binangun


 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Dawe menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,3 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,76. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 663 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 10,6 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,25 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 424 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-52


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,


maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,006. Nilai tersebut
masih lebih rendah dari batas ambang KepMenKes. Nilai nitrit yang akan
masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat)
sebesar 0,635 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih
rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran
parameter Mn sebesar 0,333 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang
standard baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil
pengukuran untuk nilai kadar ion krom sebesar 0. Air tidak mengandung
kadar krom. Air masih sangat aman untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran
untuk kadar sulfat dalam air sebesar 8,488 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena
kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk
kadar Besi sebesar 0,035 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard
KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil
pengukuran nilai kesadahan sebesar 171,6 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh
berada di bawah batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar
500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar rendah,
sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-27.

Tabel V-27. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Dawe


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.3 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.76 6,5 – 8,5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
663 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
10.6 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.25 6 bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-53


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
6. TDS Memenuhi baku mutu air
424 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100 bersih
(mg/L)
9. 3 Memenuhi baku mutu air
NO2 0.006
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3
0.635 bersih
(mg/L) Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.333 0.5 bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0 bersih
Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 bersih
8.488
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe
0.035 bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan
171.6 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kanoman menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,1 °C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,05. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang
baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 602 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-54


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.


Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,3 NTU, nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,99 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 385 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,5 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,008. Berdasarkan
KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah
di tetapkan. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan
masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat)
sebesar 0,757mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah
dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran parameter Mn
sebesar 0,143 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang standard baku
mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk
nilai kadar ion krom sebesar 0,003 mg/L. Nilai tersebut jauh lebih rendah
dari batas ambang KepMenKes. Air masih sangat aman untuk dikonsumsi.
Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar 38,02 mg/L. Nilai ini
masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang tinggi tidak
dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat mengganggu kesehatan.
Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0,097 mg/L. Nilai ini masih jauh
di bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi.
Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan sebesar 157,2 mg/L. Nilai ini

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-55


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar baku mutu
KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut
mempunyai kadar rendah, sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran
dapat dilihat pada Tabel V-28.
Tabel V-28. Hasil Pengukuran di Mata Air Kanoman
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.1 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.05 6,5 – 8,5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
602 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
13.3 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.99 6 bersih
(mg/L)
6. TDS
385 500 Memenuhi baku mutu air
(mg/L)
bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.5 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.008
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.757
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.143
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.003
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 38.02
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.097
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 157.2
bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-56


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sewu Suko menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,8 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 6,44. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 627 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 14,4 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,51 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 401 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). TSS menggambarkan zat-zat yang
mengendap. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar 0,006. Berdasarkan
KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah
di tetapkan. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi. Nilai nitrit yang akan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-57


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil pengukuran. NO3 (Nitrat)
sebesar 0,473 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih
rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil pengukuran
parameter Mn sebesar 0,238 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas ambang
standard baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi. Hasil
pengukuran untuk nilai kadar ion krom sebesar 0,003 mg/L. Nilai tersebut
jauh lebih rendah dari batas ambang KepMenKes. Air masih sangat aman
untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air sebesar
14,3 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang standar
baku mutu KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat dalam air yang
tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut dapat
mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar 0,007
mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard KepMenKes. Sehingga air bisa
tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan
sebesar 172 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar kesadahan rendah, sehingga
layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-29.
Tabel V-29. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Sewu Suko
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.8 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.44 6,5 – 8,5 bersih
Memenuhi baku mutu air
3. KONDUKTIVITAS
bersih
627 -
Memenuhi baku mutu air
(µS/cm)
bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
14.4 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.51 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
401 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100 bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-58


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.006
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.473
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.238
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.003
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 14.3
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.007
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 172 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Danyang menunjukkan bahwa
air tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,8 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,26. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 342 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 26,6 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-59


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,5 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air


tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 222 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,2 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-30.

Tabel V-30. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Danyang (baru)


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.8 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.26 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
342 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
26.6 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.5 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
222 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.2 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100
(mg/L) bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Kiron menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,1 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-60


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk


dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,61. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 608 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,2 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 8,02 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 389 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-31.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-61


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Tabel V-31. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Kiron


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.1 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.61 6.5-8.5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
608 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
13.2 5
(NTU) air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
8.02 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
389 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Umbul Songo menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,96 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,62. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 620 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,5 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-62


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,46 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air


tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 397 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 0 (mg/L). Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-32.

Tabel V-32. Hasil Pengukuran di Mata Air Umbul Songo


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.96 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.62 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
620 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
13.5 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.46 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
397 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
0 100
(mg/L) bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sumber Besole menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,8 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-63


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak


begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 7,36. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 606 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,5 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,43 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar
nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di
dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 388. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-33.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-64


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Tabel V-33. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Besole


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26.8 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.36 6.5-8.5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
606 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
13.5 5
(NTU) mutu air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.43 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
388 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran
5.2.6. Kecamatan Sutojayan
 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Sewu Suko menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27,61 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 6,76. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 577 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 14,5pkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,29 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-65


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di


dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 370 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 2 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,006. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi.
Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil
pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,378 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai
tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil
pengukuran parameter Mn sebesar 0,19 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas
ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi.
Hasil pengukuran untuk nilai kadar ion krom sebesar 0,001 mg/L. Nilai
tersebut jauh lebih rendah dari batas ambang KepMenKes. Air masih sangat
aman untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air
sebesar 7,326 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas
ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat
dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut
dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar
0,044 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard KepMenKes. Sehingga air
bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan
sebesar 148,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas
ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-66


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar kesadahan rendah, sehingga


layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-34.
Tabel V-34. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumberan
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
27.61 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.76 6,5 – 8,5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
577 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
14.5 5
(NTU) air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.29 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
370 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
2 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.006
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.378
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.19
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.001
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 7.326
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.044
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 148.8
bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Jontani menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,86 °C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-67


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk


mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,77. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang
baik berdasarkan KepMenKes.. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 578 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 13,1 NTU, nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 7,78 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 370 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 2 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,008. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi.
Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil
pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,311 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai
tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-68


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

pengukuran parameter Mn sebesar 0,19 mg/L. Nilai ini masih di bawah batas
ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat dikonsumsi.
Hasil pengukuran untuk nilai kadar ion krom sebesar 0,004 mg/L. Nilai
tersebut jauh lebih rendah dari batas ambang KepMenKes. Air masih sangat
aman untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat dalam air
sebesar 2,907 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas
ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat
dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut
dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar
0,039 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard KepMenKes. Sehingga air
bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan
sebesar 164 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar kesadahan rendah, sehingga
layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-35.

Tabel V-35. Hasil Pengukuran di Mata Air Jontani


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.86 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.77 6,5 – 8,5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
578 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
13.1 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
7.78 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
370 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
2 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.008
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.311
bersih
(mg/L) Memenuhi baku mutu air

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-69


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
bersih
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.19
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.004
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 2.907
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.039
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 164 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran
5.2.7. Kecamatan Kademangan
 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Jambar Melati menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 25,42 °C,
nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 6,56. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 710 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 11,3 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,19 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-70


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di


dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 455. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 2 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-36.
Tabel V-36. Hasil Pengukuran di Mata Air Jambar Melati
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
25.42 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.56 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
710 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
11.3 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.19 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
455 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
2 100
(mg/L) bersih
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Jontani menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,22 °C, nilai ini
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-71


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu


besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,6. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang baik
berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 670 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 12,3 NTU, nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,19 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 425 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,008. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi.
Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil
pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,649 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-72


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil
pengukuran parameter Mn sebesar 0,571 mg/L. Nilai ini masih di bawah
batas ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat
dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nilai kadar ion krom sebesar 0,002
mg/L. Nilai tersebut jauh lebih rendah dari batas ambang KepMenKes. Air
masih sangat aman untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat
dalam air sebesar 20 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas
ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar sulfat
dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena kandungan tersebut
dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk kadar Besi sebesar
0,063 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard KepMenKes. Sehingga air
bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil pengukuran nilai kesadahan
sebesar 164 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah batas ambang
standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 500 mg/L. Berdasarkan
KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar kesadahan rendah, sehingga
layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-37.
Tabel V-37. Hasil Pengukuran di Mata Air Sumber Waru
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku
26.22 mutu air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.6 6,5 – 8,5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
670 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku
12.3 5 mutu air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.19 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
425 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100 bersih
(mg/L)
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.008
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.649
bersih
(mg/L)

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-73


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
11. Mn 0.571 0.5 Memenuhi baku mutu air
(mg/L) bersih
12. 0.05 Memenuhi baku mutu air
Cr6+ 0.002
bersih
(mg/L)
13. 250 Memenuhi baku mutu air
SO4 20
bersih
(mg/L)
14. 0.3 Memenuhi baku mutu air
Fe 0.063
bersih
(mg/L)
15. 500 Memenuhi baku mutu air
Kesadahan 164 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Kali Tengah menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,42 °C,
nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan
Kepmen Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak
begitu besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk
dikonsumsi, untuk mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang
dianjurkan untuk air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil
pengukuran menunjukkan nilai 6,67. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori
air yang baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap
parameter konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 730 µS/cm. Nilai
tersebut menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat
terionisasi pada mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar
pula kemampuan air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan
hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak
diberikan. Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 10,3 NTU,
nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan
Kemenkes. Nilai tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil
pengukuran nilai DO adalah sebesar 6,29 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air
tersebut berarti telah memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-74


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

nilai DO maka semakin banyak kandungan kadar oksigen terlarut di


dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 435. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Tabel V-38.

Tabel V-38. Hasil Pengukuran di Mata Air Kali Tengah


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.42 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.67 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
730 - bersih
(µS/cm)
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
10.3 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.29 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
435 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Umbul menunjukkan bahwa air tidak
berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 26,42 °C, nilai ini

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-75


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen


Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 7,21. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang
baik berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 660 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 9,3 NTU, nilai ini jauh
lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,79 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah
memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 555. Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 2 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel
V-39.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-76


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Tabel V-39. Hasil Pengukuran di Mata Air Umbul


PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak Memenuhi baku mutu
26.42 air bersih
(°C) 3°C (20-26) °C
2. Ph Memenuhi baku mutu air
7.21 6.5-8.5 bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
660 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Tidak Memenuhi baku mutu
9.3 5 air bersih
(NTU)
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.79 6 bersih
(mg/L)
6. TDS Memenuhi baku mutu air
555 500 bersih
(mg/L)
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 - bersih
(ppt)
Memenuhi baku mutu air
8. TSS
2 100 bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

 Sifat-sifat fisik air di sumber mata air Belik Gajah menunjukkan bahwa air
tidak berbau dan tidak berwarna. Suhu rata-rata dilokasi sebesar 27 °C, nilai
ini lebih tinggi dibandingkan dengan suhu maksimum berdasarkan Kepmen
Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Tetapi pengaruh suhu tidak begitu
besar terhadap tingkat pencemaran, penggunaan air untuk dikonsumsi, untuk
mandi,/mencuci ataupun keperluan yang lainnya. Ph yang dianjurkan untuk
air bersih adalah pH yang bersifat netral yaitu pH 7, hasil pengukuran
menunjukkan nilai 6,7. Nilai ini sudah masuk ke dalam kategori air yang baik
berdasarkan KepMenKes. Hasil pengukuran terhadap parameter
konduktivitas, menunjukkan nilai sebesar 666 µS/cm. Nilai tersebut
menunjukkan banyaknya garam-garam terlarut yang dapat terionisasi pada
mata ini air, dan kondisi air masih ideal , dan semakin besar pula kemampuan
air tersebut untuk menghantarkan arus listrik. Berdasarkan hasil Keputusan
Menteri Kesehatan nilai untuk parameter konduktivitas tidak diberikan.
Hasil pengukuran untuk parameter kekeruhan sebesar 12,5 NTU, nilai ini
jauh lebih tinggi dibanding dengan standar yang ditetapkan Kemenkes. Nilai
tersebut menunjukkan air dalam keadaan keruh. Hasil pengukuran nilai DO
adalah sebesar 6,47 mg/L. Berdasarkan KepMenKes, air tersebut berarti telah

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-77


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

memenuhi syarat untuk air yang baik. Semakin besar nilai DO maka semakin
banyak kandungan kadar oksigen terlarut di dalamnya.
Hasil pengukuran TDS (mg/L) sebesar 426 Nilai tersebut masih dalam
kategori baik. TDS secara umum tidak dianggap sebagai suatu zat cemar yang
utama tetapi sebagai satu petunjuk estetika karakteristik air bersih dan
sebagai suatu indikator agregat dari adanya pengukuran yang luas
kontaminan-kontaminan zat kimia. Nilai pengukuran untuk parameter
Salinitas 0,3 (ppt). Berdasarkan hasil Keputusan Menteri Kesehatan nilai
untuk parameter salinitas tidak diberikan. Semakin rendah nilai salinitasnya,
maka air tersebut tidak banyak mengandung mineral garam. Hasil
pengukuran nilai TSS adalah 1 (mg/L). Nilai ini masih sangat jauh dari batas
ambang standard KepMenKes yang sebesar 100 mg/L. TSS menggambarkan
zat-zat yang mengendap. Karena nilai TSS sangat kecil, maka air tersebut
dapat digunakan untuk air bersih. Hasil pengukuran. NO2 (Nitrit) sebesar
0,006. Berdasarkan KepMenKes nilai tersebut jauh lebih rendah dari nilai
maksimum yang telah di tetapkan. Air tersebut berarti dapat dikonsumsi.
Nilai nitrit yang akan masuk ke dalam tubuh harus sangat rendah, Hasil
pengukuran. NO3 (Nitrat) sebesar 0,784 mg/L. Berdasarkan KepMenKes nilai
tersebut jauh lebih rendah dari nilai maksimum yang telah di tetapkan. Hasil
pengukuran parameter Mn sebesar 0,286 mg/L. Nilai ini masih di bawah
batas ambang standard baku mutu KepMenKes, sehingga air ini dapat
dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk nilai kadar ion krom sebesar 0,003
mg/L. Nilai tersebut jauh lebih rendah dari batas ambang KepMenKes. Air
masih sangat aman untuk dikonsumsi. Hasil pengukuran untuk kadar sulfat
dalam air sebesar 8,721 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah
batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 250 mg/L. Kadar
sulfat dalam air yang tinggi tidak dapat dikonsumsi, karena kandungan
tersebut dapat mengganggu kesehatan. Hasil pengukuran untuk kadar Besi
sebesar 0,037 mg/L. Nilai ini masih jauh di bawah standard KepMenKes.
Sehingga air bisa tersebut bisa dikonsumsi. Dan untuk hasil pengukuran nilai
kesadahan sebesar 156,8 mg/L. Nilai ini masih sangat jauh berada di bawah
batas ambang standar baku mutu KepMenkes yang sebesar 500 mg/L.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-78


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Berdasarkan KepMenKes, air tersebut mempunyai kadar kesadahan rendah,


sehingga layak di konsumsi. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel V-40.
Tabel V-40. Hasil Pengukuran di Belik Gajah
PARAMETER Kadar
Maksimum
HASIL Ket
(SATUAN) Yang
Diperbolehkan
1. SUHU Suhu ruang Tidak memenuhi baku mutu
27
(°C) 3°C (20-26) °C air bersih
2. Ph Memenuhi baku mutu air
6.7 6,5 – 8,5
bersih
3. KONDUKTIVITAS Memenuhi baku mutu air
666 -
(µS/cm) bersih
4. KEKERUHAN Tidak memenuhi baku mutu
12.5 5
(NTU) air bersih
5. DO Memenuhi baku mutu air
6.47 6
(mg/L) bersih
6. TDS Memenuhi baku mutu air
426 500
(mg/L) bersih
7. SALINITAS Memenuhi baku mutu air
0.3 -
(ppt) bersih
8. TSS Memenuhi baku mutu air
1 100
(mg/L) bersih
3 Memenuhi baku mutu air
9. NO2 0.006
bersih
(mg/L)
50 Memenuhi baku mutu air
10. NO3 0.784
bersih
(mg/L)
0.5 Memenuhi baku mutu air
11. Mn 0.286
bersih
(mg/L)
0.05 Memenuhi baku mutu air
12. Cr6+ 0.003
bersih
(mg/L)
250 Memenuhi baku mutu air
13. SO4 8.721
bersih
(mg/L)
0.3 Memenuhi baku mutu air
14. Fe 0.037
bersih
(mg/L)
500 Memenuhi baku mutu air
15. Kesadahan 156.8
bersih
(mg/L)
Sumber: Hasil Pengukuran

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-79


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3 Peta Zonasi Perlindungan Mata Air


Zonasi perlindungan mata air, dibedakan menjadi 3 zona, yaitu:
• Zona Perlindungan 1 berfungsi untuk daerah perlindungan yang bertujuan
untuk melindungi air dari semua zat pencemar yang secara langsung atau
tidak langsung menyebabkan degradasi kualitas air, dengan radius
ditentukan sejauh 10 – 15 meter dari sumber air.
• Zona Perlindungan 2 : daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi
sumber air baku dari bahaya pencemaran bakteri pathogen yang dapat
menyebabkan degradasi kualitas air, dengan luas yang diperhitungkan
berdasarkan jarak tempuh bakteri colli selama 50 (lima puluh) hari kesumber
air baku.
• Zona Perlindungan 3 : daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi
sumber air baku dari pencemaran kimiawi dan radioaktif yang tidak dapat
mengalami degradasi dalam waktu singkat, dengan luas yang ditentukan
berdasarkan luas tangkapan air.

5.3.1. Zonasi Mata Air Satir

Gambar 5.1 Peta Zonasi Mata Air Satir

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-80


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.2. Zonasi Mata Air Umbul

Gambar 5.2 Peta Zonasi Mata Air Umbul


5.3.3.Zonasi Mata Air Seri

Gambar 5.3 Peta Zonasi Mata Air Seri

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-81


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.4.Zonasi Mata Air Taman

Gambar 5.4 Peta Zonasi Mata Air Taman


5.3.5.Zonasi Mata Air Juruk

Gambar 5.5 Peta Zonasi Mata Air Juruk

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-82


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.6.Zonasi Mata Air Kedung Dele

Gambar 5.6 Peta Zonasi Mata Air Kedung Dele


5.3.7.Zonasi Mata Air Pulorejo

Gambar 5.7 Peta Zonasi Mata Air Pulorejo

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-83


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.8.Zonasi Mata Air Sumber Ngembul

Gambar 5.8 Peta Zonasi Mata Air Sumber Ngembul


5.3.9.Zonasi Mata Air Jeding

Gambar 5.9 Peta Zonasi Mata Air Jeding

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-84


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.10. Zonasi Mata Air Dayangan Embul

Gambar 5.10 Peta Zonasi Mata Air Dayangan Embul


5.3.11. Zonasi Mata Air Embul Simo

Gambar 5.11 Peta Zonasi Mata Air Embul Simo

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-85


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.12. Zonasi Mata Air Umbul Mawar

Gambar 5.12 Peta Zonasi Mata Air Umbul Mawar


5.3.13. Zonasi Mata Air Umbul Baros

Gambar 5.13 Peta Zonasi Mata Air Umbul Baros

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-86


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.14. Zonasi Mata Air Loksongo

Gambar 5.14 Peta Zonasi Mata Air Loksongo


5.3.15. Zonasi Mata Air Kucur/Air Terjun Bidadari

Gambar 5.15 Peta Zonasi Mata Air Kucur/Air Terjun bidadari

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-87


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.16. Zonasi Mata Air Belik Kembar

Gambar 5.16 Peta Zonasi Belik Kembar


5.3.17. Zonasi Mata Air Belik Kembang

Gambar 5.17 Peta Zonasi Mata Air Belik Kembang

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-88


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.18. Zonasi Mata Air Sumber Kucur

Gambar 5.18 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kucur


5.3.19. Zonasi Mata Air Belik Gamping

Gambar 5.19 Peta Zonasi Mata Air Belik Gamping

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-89


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.20. Zonasi Mata Air Belik Saman

Gambar 5.20 Peta Zonasi Mata Air Belik Saman


5.3.21. Zonasi Mata Air Sumber Embul

Gambar 5.21 Peta Zonasi Mata Air Sumber Embul

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-90


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.22. Zonasi Mata Air Belik Dawung

Gambar 5.22 Peta Zonasi Mata Air Belik Dawung


5.3.23. Zonasi Mata Air Sumber Jambe

Gambar 5.23 Peta Zonasi Mata Air Sumber Jambe

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-91


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.24. Zonasi Mata Air Sumber Mojorejo

Gambar 5.24 Peta Zonasi Mata Air Sumber Mojorejo


5.3.25. Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 1

Gambar 5.25 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 1

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-92


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.26. Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 2

Gambar 5.26 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 2
5.3.27. Zonasi Mata Air Sumber Dawe

Gambar 5.27 Peta Zonasi Mata Air Sumber Dawe

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-93


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.28. Zonasi Mata Air Kanoman

Gambar 5.28 Peta Zonasi Mata Air Kanoman


5.3.29. Zonasi Mata Air Sewu Suko

Gambar 5.29 Peta Zonasi Mata Air Sewu Suko

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-94


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.30. Zonasi Mata Danyang

Gambar 5.30 Peta Zonasi Mata Air Danyang


5.3.31. Zonasi Mata Air Sumber Kiron

Gambar 5.31 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kiron

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-95


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.32. Zonasi Mata Air Umbul Songo

Gambar 5.32 Peta Zonasi Mata Air Umbul Songo


5.3.33. Zonasi Mata Air Sumber Besole

Gambar 5.33 Peta Zonasi Mata Air Sumber Besole

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-96


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.34. Zonasi Mata Air Sumberan

Gambar 5.34 Peta Zonasi Mata Air Sumberan


5.3.35. Zonasi Mata Air Jontani

Gambar 5.35 Peta Zonasi Mata Air Jontani

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-97


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.36. Zonasi Mata Air Jambar Melati

Gambar 5.36 Peta Zonasi Mata Air Jambar Melati


5.3.37. Zonasi Mata Air Sumber Waru

Gambar 5.37 Peta Zonasi Mata Air Sumber Waru

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-98


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.38. Zonasi Mata Air Kali Tengah

Gambar 5.38 Peta Zonasi Mata Air Kali Tengah


5.3.39. Zonasi Mata Air Sumber Umbul

Gambar 5.39 Peta Zonasi Mata Air Sumber Umbul

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-99


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.40. Zonasi Mata Air Belik Gajah

Gambar 5.40 Peta Zonasi Mata Air Belik Gajah


5.4 Rekapitulasi Hasil
Dari hasi survey langsung dilapagnan dan analisa teknis, dapat dibuat sutu
tabel ringkas. Rekapitulasi hasil kajian dapat dilihat pada Tabel V-41.

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-100


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Tabel V-41. Tabel Rekapitulasi


Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Dapat
BAK PENAMPUNG, Ditengah ladang dikembangkan,
1 Satir KRAJAN, LOREJO POMPA DAN PIPANISASI AIR BAKU 13,697 m3 warga, sudah ada penghijauan dan
(PROGRAM WSLIC) tampungan pemeliharaan
berkala
Dibawah 6 pohon
Dibuatkan tandon,
AIR BAKU, IRIGASI besar, suber berada
KEDUNGANTI, BAK PENAMPUNG DAN penghijauan dan
2 Umbul DAN MANDI CUCI 0,001 m3/dt di tepi sungai, ladang,
LOREJO POMPA pemeliharaan
KAKUS (MCK) dan sawah yang
berkala
melalui celah batuan
BAK Ditengah ladang tebu,
Penghijauan dan
PENAMPUNG,PIPANISASI pernah diturap,
3 Seri LOREJO AIR BAKU 0,0025 m3/dt pemeliharaan
PROGRAM WSLIC, DAN berada dilahan
berkala
POMPA pribadi warga
Penghijauan dan
BAK PENAMPUNG, AIR BAKU DAN Ditengah ladang tebu,
adanya rencana
4 Taman NGEBRUK, LOREJO POMPA, DAN PIPANISASI IRIGASI 0,0025 m3/dt pompa beroperasi 18
PAMSIMAS dari
PROGRAM WSLIC (OVERFLOW) jam per hari.
Cipta Karya PU
Diantara bebatuan,
dihilir tebing,
kemiringan agak
BRONCAPTERING, curam, terletak di Penghijauan dan
AIR BAKU DAN
5 Juruk LOREJO PIPANISASI (PROGRAM 0,0025 m3/dt aliran sungai pemeliharaan
IRIGASI
WSLIC) DAN TANDON musiman, telah berkala
dilakukan
pengecekan secara
berkala

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-101


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan

BAK PENAMPUNG, Diantara dua tebing,


Penghijauan dan
BRONCAPTERING, DAN dikelilingi tanaman
6 Kedung Dele PASIRAMAN AIR BAKU 0,0025 m3/dt pemeliharaan
POMPA DAN PIPANISASI keras seperti, jati,
berkala
(PROGRAM WSLIC) sengon, kelapa sawit

Dapat
Disamping jalan,
dikembangkan,
BAK PENAMPUNG DAN AIR BAKU, MANDI diantara rumah
7 Pulorejo PASIRAMAN 7 m3 penghijauan dan
POMPA DAN CUCI warga, dibawah
pemeliharaan
pohon
berkala
Ditepi jalan, sawah,
Dapat
BAK PENAMPUNG, dan ladang, sudah
dikembangkan,
PULEREJO, POMPA, diberi broncaptering
8 Sumber Ngembul AIR BAKU 47,52 m3 penghijauan dan
PASIRAMAN BRONCAPTERING, lalu disalurkan
pemeliharaan
TANDON, PIPANISASI menuju dua tandon
berkala
besar
Dapat
BAK PENAMPUNG, dikembangkan,
AIR BAKU, MCK, Di lembah, ditengah
9 Jeding KALIGRENJENG POMPA, DAN PIPANISASI 373,6 m3 penghijauan dan
DAN IRIGASI sawah
(PROGRAM WSLIC) pemeliharaan
berkala
Dibawah pohon Dapat
ringin besar, diantara dikembangkan,
AIR BAKU DAN
10 Dayangan Embul TAMBAKREJO BAK PENAMPUNG 0,018 m3/dt rumah warga, penghijauan dan
MCK
sumber berasal dari pemeliharaan
rembesan berkala

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-102


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Dibawah pohon
besar, ditepi sawah,
tampungan masih
sederhana. Kurang
dimanfaatkan karen Dapat
debit cukup besar dikembangkan,
11 Embul Simo TAMBAKREJO BAK PENAMPUNG IRIGASI 0,0576 m3/dt namun hanya penghijauan dan
digunakan sebagai pemeliharaan
irigasi, kemiringan berkala
sekitar 45° sehingga
rawan longsor, serta
rawan pencemaran
dari pertanian
Rerumputan, sumber
berasal dari bawah Dapat
tanah, terdapat 3 dikembangkan,
PANGGUNGPUCUNG, IRIGASI DAN AIR sanyo, terdapat penghijauan dan
12 Umbul Mawar PINTU AIR 0,065 m3/dt
KALIGAMBIR BERSIH pohon besar, pemeliharaan
kemiringan landai, berkala serta
berada di lokasi pengaturan pipa
batuan kapur.
Daerah rerumputan,
Dapat
sumber di bawah
dikembangkan,
PANGGUNGPUCUNG, batu kapur, masih
13 Umbul baros - IRIGASI 0,033 m3/dt penghijauan dan
KALIGAMBIR terdapat lahan
pemeliharaan
pertanian, terdapat
berkala
satu mesin pompa
Di tengah hutan
dengan kemiringan
AIR BERSIH DAN sekitar 45°, terjadi Penghijauan dan
DUA BUAH BAK
14 Loksongo KALIGAMBIR TEMPAT CUCI 0,0006 m3/dt rembesan di bawah pemeliharaan
PENAMPUNG
MOTOR tebing dengan spot berkala
sumber yang berbeda
titik. Rawan longsor

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-103


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
dan dibuatkan
saluran untuk
limpasan
Terdapat bambu dan
Dapat
batu kapur yang
LOKASI WISATA dikembangkan,
terletak dibawah
15 Kucur, Air Bidadari PANGGUNGREJO - DAN 0,376 m3/dt penghijauan dan
tebing, dan terdapat
PENGOBATAN pemeliharaan
air terjun, rawan
berkala
longsor
Di tengah sawah dan
disekitarnya terdapat Dapat
pohon sengon dan dikembangkan,
AIR BAKU WARGA
16 Belik Kembar PANGGUNGREJO TAMPUNGAN 18,4 m3 jati, sudah memiliki penghijauan dan
SETEMPAT
tampungan, rawan pemeliharaan
pencemaran berkala
pertanian
Di tengah sawah,
disekelililngnya Dapat
terdapat tanaman dikembangkan,
MANDI DAN
17 Belik Kembang KALIGAMBANG TAMPUNGAN 9,32 m3 padi dan cabai, penghijauan dan
IRIGASI
disebelahnya pemeliharaan
terdapat pohon berkala
kembang
Ditengah kebun,
sudah diberi
tampungan, sumber Dapat
berasal dari dikembangkan,
AIR BAKU, MANDI,
18 Sumber Kucur BEJI TAMPUNGAN 35,244 m3 rembesan, tanaman penghijauan dan
DAN CUCI WARGA
disekitar ada tebu pemeliharaan
dan pohon lainnya, berkala
kemiringan landai,
terdapat satu pompa

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-104


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Dibawah tebing batu
yang berasal dari
rembesan batuan,
Dapat
tinggi tebing sekitar
dikembangkan,
5 m, tanaman bambu
19 Belik Gamping WONOSARI - IRIGASI 9,6 m3 penghijauan dan
dan jati. Pembersihan
pemeliharaan
lokasi karena lumpur
berkala
cukup tebal, tidak
ditemukan limpasan
air
Dibawah dua pohon
besar, terdapat
sawah dan ladang,
Dapat
berasal dari
dikembangkan,
IRIGASI, MANDI, rembesan, posisi di
20 Belik Saman WONOSARI BAK PENAMPUNG 10,064 m3 penghijauan dan
DAN CUCI lembah, sudah diberi
pemeliharaan
tampungan, resiko
berkala
pencemaran
pertanian, tidak
ditemukan limpasan
Dibawah pohon
besar, ditengah
sawah dan ladang,
terdapat tampungan
dan pompa, berasal
Dapat
dari rembesan,
BAK TAMPUNGAN, dikembangkan,
adanya lapisan
21 Sumber Embul WONOREJO BRONCAPTERING, AIR BAKU 11,4 m3 penghijauan dan
minyak pada
PROGRAM WSLIC pemeliharaan
permukaan air.
berkala
Minyak pompa
mencemari
tampungan air
sehingga perlu
diperbaiki atau

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-105


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
dibuatkan saluran
untuk mencegah
minyak masuk dalam
air, tidak ditemukan
limpasan
Dibawah pohon
Dapat
besar, dipinggir
dikembangkan,
sawah dan ladang,
22 Belik Dawung WONOREJO - IRIGASI 9,258 m3 penghijauan dan
berasal dari
pemeliharaan
rembesan, sudah ada
berkala
tampungan
Dibawah pohon
Dapat
besar, ada 2
dikembangkan,
AIR BAKU DAN tampungan, terletak
23 Sumber Jambe WONOREJO PINTU AIR DAN MCK 13 m3 penghijauan dan
IRIGASI dipinggir jalan,
pemeliharaan
kemiringan landai,
berkala
ditengah sawah
Barat Panti asuhan,
dibawah pohon
besar, belakang Dapat
rumah warga dan dikembangkan,
Sumber Agung AIR BAKU DAN
24 MOJOREJO - 0,288 m3/dt disamping ladang, penghijauan dan
Mojorejo IRIGASI
terdapat tampungan, pemeliharaan
perawatan seminggu berkala
sekali, dikuras 1
tahun sekali
Dapat
Dibawah pohon dikembangkan,
S.Kembar Banyu Urip AIR BAKU, AIR
25 MOJOREJO PINTU AIR RUSAK 0,053 m3/dt besar, ditengah penghijauan dan
1 MINUM DAN MCK
sawah dan kebun, pemeliharaan
berkala

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-106


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Dapat
Dibawah pohon dikembangkan,
S.Kembar Banyu Urip AIR BAKU, AIR
26 MOJOREJO BAK PENAMPUNG 0,00081 m3/dt besar, ditengah penghijauan dan
2 MINUM DAN MCK
sawah dan kebun, pemeliharaan
berkala
Dibawah pohon
besar, dipinggir
sawah, pinggir jalan,
Dapat
di tampung pada
dikembangkan,
IRIGASI DAN kolam, ada bilik MC,
27 Sumber Dawe SAMBIGEDE BAK PENAMPUNG 0,1274 m3/dt penghijauan dan
MANDI CUCI termasuk jenis
pemeliharaan
arthesis karena
berkala
menyembur, rawan
pencemaran
pertanian
Dibawah pohon
besar, dipinggir Dapat
BAK PENAMPUNG, AIR BAKU, IRIGASI sawah, termasuk dikembangkan,
28 Kanoman SAMBIGEDE PROGRAM WSLIC, DAN MANDI CUCI 0,0328 m3/dt jenis arthesis. rawan penghijauan dan
POMPA KAKUS (MCK) terjadi pencemaran pemeliharaan
akibat pertanian dan berkala
sabun/detergent
DItengah ladang,
jenis sumber
Dapat
asthesis, berada di
IRIGASI, AIR dikembangkan,
aliran sungai, sudah
29 Sewu Suko NGEMBUL TANDON AIR, PDAM BAKU, DAN AIR 0,1696 m3/dt penghijauan dan
terdapat tampungan
MINUM pemeliharaan
dan tendon, rawan
berkala
terkena banjir ketika
sungai meluap

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-107


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Dibawah pohon
besar, dipinggir
IRIGASI DAN sungai, sawah, dan Penghijauan dan
30 Danyang NGEMBUL BAK PENAMPUNG MANDI CUCI 0,00076 m3/dt ladang, sudah ada pemeliharaan
KAKUS (MCK) tampungan, berkala
kemiringan sekitar
45°
Dibawah pohon
Dapat
besar, disamping
dikembangkan,
sungai, kotor, banyak
31 Sumber Kiron UMBUL DAMAR TAMPUNGAN IRIGASI 0,02669 m3/dt penghijauan dan
lumut dan eceng
pemeliharaan
gondok, sudah ada
berkala
tampungan
Diantara ladang tebu,
Dapat
pohon jati, dan
dikembangkan,
AIR BAKU, bambu, dibawah
32 Umbul Songo UMBUL DAMAR TANDON 0,0605 m3/dt penghijauan dan
IRIGASI, DAN MCK pohon besar,
pemeliharaan
terdapat tandon dan
berkala
pompa
Rusak diterjang
Dapat
banjir sehingga debit
dikembangkan,
mengecil dan
33 S Besole UMBUL DAMAR - - 0,00735 m3/dt penghijauan dan
mengalir ke sungai.
pemeliharaan
Rawan terkena banjir
berkala
ketika sungai meluap
Ditengah sawah,
Penghijauan dan
TAMPUNGAN DAN dibawah pohon,
34 Sumberan JINGGLONG IRIGASI PALAWIJA 0,0032 m3/dt pemeliharaan
BANGUNAN BAGI berasal dari
berkala
rembesan
Dapat
Dibawah pohon
dikembangkan,
DSN. SUMBER, AIR BERSIH DAN beringin, ditepi
35 Jontani - 0,0768 m3/dt penghijauan dan
KAULON IRIGASI PALAWIJA hutan, kemiringan
pemeliharaan
landai
berkala

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-108


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Dibawah pohon
besar, bambu,
dibelakang rumah
warga, disamping
ladang, terdapat tiga
Dapat
tampungan, dan
BAK PENAMPUNG, dikembangkan,
AIR BAKU, MANDI beberapa sumur bor
36 Jambar Melati MARON SUMUR BOR, DAN 0,0217 m3/dt penghijauan dan
DAN CUCI warga. Perlunya
POMPA pemeliharaan
pembagian air secara
berkala
komunal karena
masih banyak bor
pribadi, serta
kebersihan dari
sampah masyarakat
Mengalir sepanjang
sungai kecil, dibawah
pohon bambu,
berasal dari
rembesan tebing. Penghijauan dan
BAK PENAMPUNG DAN AIR BAKU DAN
37 Sumber Waru MARON 0,0001 m3/dt Kurang perawatan pemeliharaan
SUMUR BOR PRIBADI IRIGASI PALAWIJA
dan penataan, rawan berkala
longsor karena
pohon bambu
akarnya tidak terlalu
kuat

Dibawah pohon Dapat


BAK PENAMPUNG, AIR BAKU, besar dan tanaman dikembangkan,
38 Kali Tengah MARON POMPA, DAN SUMUR IRIGASI, MANDI, 13,4 m3 keras, banyak sumur penghijauan dan
BOR DAN CUCI bor pribadi, pemeliharaan
kemiringan landai. berkala

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-109


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Rekomendasi
No. Sumber Mata Air Lokasi INFRASTRUKTUR Manfaat Debit/Tampungan Kondisi
Pengelolaan
Ditepi jalan, disekitar
ladang, dibawah
Dapat
pohon besar, sumber
BAK PENAMPUNG, dikembangkan,
DSN. GENTUNGAN, AIR BAKU, MCK, berasal dari
39 S Umbul POMPA, DAN TANDON 15,6 m3 penghijauan dan
KEBONSARI DAN IRIGASI rembesan, pompa
KOMUNAL pemeliharaan
beroperasi 4-6 jam
berkala
per hari. Lahan masih
milik pribadi
Dibawah pohon
Penghijauan dan
DSN. KRAJAN, BAK PENAMPUNG, AIR BAKU, MANDI, besar, disekitar
40 Belik Gajah 0,00234 m3/dt pemeliharaan
KEBONSARI PIPANISASI DAN POMPA DAN CUCI bambu dan tanaman
berkala
keras

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-110


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.5 Skala Prioritas


Hasil survey lapangan terhadap mata air dilakukan di 7 (tujuh) Kecamatan,
yaitu Kecamatan Bakung, Kecamatan Wonotirto, Kecamatan Panggungrejo,
Kecamatan Wates, Kecamatan Binangun, Kecamatan Sutojayan, dan Kecamatan
Kademangan tentunya menunjukkan hasil yang beragam tergantung kondisi daerah
tangkapan air masing-masing. Sehingga dengan demikian bisa diambil analisa lebih
lanjut terkait kualitas air dan kuantitasnya, dan tentunya dapat dibuat suatu solusi
alternatif sumber air yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan untuk
kemaslahatan hajat hidup orang banyak.
Dari hasil analisa visual dan juga hasil uji laboratorium (hasil uji terlampir),
beberapa lokasi yang dapat direkomendasikan untuk dikembangkan dan
dimanfaatkan adalah sebagai berikut.
Tabel V-42. Matrik Skala Prioritas Pengembangan Sumber Air
NO KECAMATAN DESA DUSUN NAMA SUMBER DEBIT /
TAMPUNGAN
1 Panggungrejo Kali Gambir Panggung Umbul Mawar
0,065 m3/dt
Pucung
2 Panggungrejo Kali Gambir Panggung Umbul Baros
0,033 m3/dt
Pucung
3 Panggungrejo Kali Gambir Kali Gambir Loksongo 0,0006 m3/dt
4 Panggungrejo Panggungrejo Panggungrejo Sbr. Kucur / Air
0,376 m3/dt
Terjun Bidadari
5 Panggungrejo Panggungrejo Panggungrejo Belik Kembar 18,4 m3
6 Binangun Sambigede Sambigede Sumber Dawe 0,1274 m3/dt
8 Binangun Sambigede Sambigede Sumber
0,0328 m3/dt
Kanoman
9 Binangun Sambigede Sambigede Sumber Sewu
0,1696 m3/dt
Suko
10 Wates Beji Beji Sumber Kucur 35,244 m3
11 Wates Wonorejo Wonorejo Sumber Embul 11,4 m3
12 Wates Wonorejo Wonorejo Sumber Jambe 13 m3
13 Wates Mojorejo Mojorejo Sumber Agung 0,288 m3/dt
14 Wates Mojorejo Mojorejo Sumber Kembar
0,053 m3/dt
Banyu Urip 1
15 Bakung Lorejo Krajan Sumber Satir 13,697 m3

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-111


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

16 Wonotirto Pasiraman Pasiraman Belik Pulorejo 7 m3


17 Wonotirto Pasiraman Pasiraman Sumber
47,52 m3
Ngembul
18 Kademangan Maron Maron Sumber Waru 0,0001 m3/dt
19 Kademangan Kebonsari Krajan Belik Gajah 0,00234 m3/dt
20 Sutojayan Jingglong Jingglong Sumberan 0,0032 m3/dt
21 Sutojayan Kaulon Sumber Sumber Jontani 0,0768 m3/dt
Sumber : Hasil Analisa Uji Laboratorium, 2017

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-112


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Contents
5.1 Umum ....................................................................................................................... 1
5.2 Analisa Data Pengamatan Berdasarkan KepMenKes No.
907/MENKES/SKVII/2002 ............................................................................................. 1
5.3 Peta Zonasi Perlindungan Mata Air.................................................................. 80
Zonasi perlindungan mata air, dibedakan menjadi 3 zona, yaitu: ................................. 80
• Zona Perlindungan 1 berfungsi untuk daerah perlindungan yang bertujuan
untuk melindungi air dari semua zat pencemar yang secara langsung atau tidak
langsung menyebabkan degradasi kualitas air, dengan radius ditentukan sejauh 10 –
15 meter dari sumber air. ................................................................................................ 80
• Zona Perlindungan 2 : daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi
sumber air baku dari bahaya pencemaran bakteri pathogen yang dapat
menyebabkan degradasi kualitas air, dengan luas yang diperhitungkan berdasarkan
jarak tempuh bakteri colli selama 50 (lima puluh) hari kesumber air baku. .............. 80
• Zona Perlindungan 3 : daerah perlindungan yang bertujuan untuk melindungi
sumber air baku dari pencemaran kimiawi dan radioaktif yang tidak dapat
mengalami degradasi dalam waktu singkat, dengan luas yang ditentukan
berdasarkan luas tangkapan air. ..................................................................................... 80
5.3.1. Zonasi Mata Air Satir ....................................................................................... 80
Gambar 5.1 Peta Zonasi Mata Air Satir ................................................................... 80
5.3.2. Zonasi Mata Air Umbul .................................................................................... 81
Gambar 5.2 Peta Zonasi Mata Air Umbul ................................................................ 81
5.3.3. Zonasi Mata Air Seri ......................................................................................... 81
Gambar 5.3 Peta Zonasi Mata Air Seri ..................................................................... 81
5.3.4. Zonasi Mata Air Taman ................................................................................... 82
Gambar 5.4 Peta Zonasi Mata Air Taman ............................................................... 82
5.3.5. Zonasi Mata Air Juruk ...................................................................................... 82
Gambar 5.5 Peta Zonasi Mata Air Juruk.................................................................. 82
5.3.6. Zonasi Mata Air Kedung Dele ......................................................................... 83
Gambar 5.6 Peta Zonasi Mata Air Kedung Dele ..................................................... 83
5.3.7. Zonasi Mata Air Pulorejo ................................................................................ 83
Gambar 5.7 Peta Zonasi Mata Air Pulorejo ............................................................ 83
5.3.8. Zonasi Mata Air Sumber Ngembul ................................................................ 84
Gambar 5.8 Peta Zonasi Mata Air Sumber Ngembul ............................................ 84
5.3.9. Zonasi Mata Air Jeding .................................................................................... 84
Gambar 5.9 Peta Zonasi Mata Air Jeding ................................................................ 84
5.3.10. Zonasi Mata Air Dayangan Embul ............................................................. 85
Gambar 5.10 Peta Zonasi Mata Air Dayangan Embul ......................................... 85
5.3.11. Zonasi Mata Air Embul Simo....................................................................... 85
Gambar 5.11 Peta Zonasi Mata Air Embul Simo................................................... 85
5.3.12. Zonasi Mata Air Umbul Mawar................................................................... 86
Gambar 5.12 Peta Zonasi Mata Air Umbul Mawar............................................... 86
5.3.13. Zonasi Mata Air Umbul Baros..................................................................... 86
Gambar 5.13 Peta Zonasi Mata Air Umbul Baros................................................. 86
5.3.14. Zonasi Mata Air Loksongo ........................................................................... 87
Gambar 5.14 Peta Zonasi Mata Air Loksongo....................................................... 87

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-113


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

5.3.15. Zonasi Mata Air Kucur/Air Terjun Bidadari ........................................... 87


Gambar 5.15 Peta Zonasi Mata Air Kucur/Air Terjun bidadari ....................... 87
5.3.16. Zonasi Mata Air Belik Kembar ................................................................... 88
Gambar 5.16 Peta Zonasi Belik Kembar ................................................................ 88
5.3.17. Zonasi Mata Air Belik Kembang................................................................. 88
Gambar 5.17 Peta Zonasi Mata Air Belik Kembang............................................. 88
5.3.18. Zonasi Mata Air Sumber Kucur .................................................................. 89
Gambar 5.18 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kucur .............................................. 89
5.3.19. Zonasi Mata Air Belik Gamping ................................................................. 89
Gambar 5.19 Peta Zonasi Mata Air Belik Gamping ............................................. 89
5.3.20. Zonasi Mata Air Belik Saman...................................................................... 90
Gambar 5.20 Peta Zonasi Mata Air Belik Saman.................................................. 90
5.3.21. Zonasi Mata Air Sumber Embul ................................................................. 90
Gambar 5.21 Peta Zonasi Mata Air Sumber Embul ............................................. 90
5.3.22. Zonasi Mata Air Belik Dawung ................................................................... 91
Gambar 5.22 Peta Zonasi Mata Air Belik Dawung ............................................... 91
5.3.23. Zonasi Mata Air Sumber Jambe .................................................................. 91
Gambar 5.23 Peta Zonasi Mata Air Sumber Jambe.............................................. 91
5.3.24. Zonasi Mata Air Sumber Mojorejo............................................................. 92
Gambar 5.24 Peta Zonasi Mata Air Sumber Mojorejo......................................... 92
5.3.25. Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 1...................................... 92
Gambar 5.25 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 1 ................. 92
5.3.26. Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 2...................................... 93
Gambar 5.26 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kembar Banyu Urip 2 ................. 93
5.3.27. Zonasi Mata Air Sumber Dawe ................................................................... 93
Gambar 5.27 Peta Zonasi Mata Air Sumber Dawe ............................................... 93
5.3.28. Zonasi Mata Air Kanoman ........................................................................... 94
Gambar 5.28 Peta Zonasi Mata Air Kanoman....................................................... 94
5.3.29. Zonasi Mata Air Sewu Suko ......................................................................... 94
Gambar 5.29 Peta Zonasi Mata Air Sewu Suko..................................................... 94
5.3.30. Zonasi Mata Danyang ................................................................................... 95
Gambar 5.30 Peta Zonasi Mata Air Danyang ........................................................ 95
5.3.31. Zonasi Mata Air Sumber Kiron ................................................................... 95
Gambar 5.31 Peta Zonasi Mata Air Sumber Kiron............................................... 95
5.3.32. Zonasi Mata Air Umbul Songo .................................................................... 96
Gambar 5.32 Peta Zonasi Mata Air Umbul Songo ................................................ 96
5.3.33. Zonasi Mata Air Sumber Besole ................................................................. 96
Gambar 5.33 Peta Zonasi Mata Air Sumber Besole ............................................. 96
5.3.34. Zonasi Mata Air Sumberan ......................................................................... 97
Gambar 5.34 Peta Zonasi Mata Air Sumberan ..................................................... 97
5.3.35. Zonasi Mata Air Jontani ............................................................................... 97
Gambar 5.35 Peta Zonasi Mata Air Jontani .......................................................... 97
5.3.36. Zonasi Mata Air Jambar Melati................................................................... 98
Gambar 5.36 Peta Zonasi Mata Air Jambar Melati .............................................. 98
5.3.37. Zonasi Mata Air Sumber Waru ................................................................... 98
Gambar 5.37 Peta Zonasi Mata Air Sumber Waru ............................................... 98
5.3.38. Zonasi Mata Air Kali Tengah ...................................................................... 99
Gambar 5.38 Peta Zonasi Mata Air Kali Tengah .................................................. 99
5.3.39. Zonasi Mata Air Sumber Umbul ................................................................. 99

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-114


Di Kabupaten Blitar
LAPORAN AKHIR

Gambar 5.39 Peta Zonasi Mata Air Sumber Umbul ............................................. 99


5.3.40. Zonasi Mata Air Belik Gajah ..................................................................... 100
Gambar 5.40 Peta Zonasi Mata Air Belik Gajah ................................................. 100
5.4 Rekapitulasi Hasil .............................................................................................. 100
5.5 Skala Prioritas .................................................................................................... 111

Kajian Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Mata Air V-115


Di Kabupaten Blitar