You are on page 1of 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang bertujuan meningkatkan

kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan kemajuan teknologi, kesadaran

manusia akan pendidikanpun meningkat sehingga dorongan untuk memperbaiki

sistem dan kualitas semakin giat dilakukan. Berdasarkan UU No.20 Tahun 2003

Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pembelajaran merupakan proses interaksi

antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan

belajar. Terdapat pola kesinambungan antara murid dengan guru dalam suatu

proses pembelajaran yang ditunjang dengan adanya sumber belajar. Untuk

menghasilkan pembelajaran yang baik maka proses interaksi yang terjadi antara

peserta didik dan pendidik harus berjalan kondusif. Menurut Sardiman (2005)

dengan adanya komunikasi yang baik maka akan terjaminlah kelanjutan hidup

masyarakat dan terjamin pula kehidupan manusia. Secara tidak langsung maka

penyampaian materi dari guru terhadap peserta didik berjalan multiarah dan sesuai

dengan usia penerima informasi agar mudah dipahami dan untuk kelancaran

proses belajar mengajar itu sendiri.

Ilmu penngetahuan alam sebagai mata pelajaran yang memberikan

pengalaman belajar cara berpikir dari struktur pengetahuan yang utuh. Ilmu

pengetahuan alam menggunakan pendekatan empiris yang sistematis dalam

mencari penjelasan fenomena alam. Prinsip fenomena alam adalah mencari fakta-

fakta sehingga siswa dapat merespon informasi baru dan dapat melakukan
eksperimen dalam menguji suatu hipotesis. Prinsip iti memberikan kesempatan

kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan siswa tidak hanya kemampuan

pemahaman saja tetapi juga kemampuan menganalisis dan mengevaluasi serta

sikap ilmiah.

Ilmu kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA). Mata

pelajaran kimia dipelajari disekolah menenga atas membahas tentang sifat,

struktur materi, komposisi materi, perubahan materi serta energi yang menyertai

perubahan materi dan dan diperoleh melalui hasil-hasil penelitian dn penalaran.

Belajar kimia adalah belajar tentang segala perubahan yang terjadi di alam yang

ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang semuanya menyebakan manusia

dapat mengambil segala manfaat dari perubahan tersebut. Didalamnya terdapat

berbagai pokok pembahasan yang ymemiliki kekhasan masing-masing serta

konsep-konsep yang baru dipahami.

Pembelajaran kimia dibangu melalui penekanan pada pemberian

pengalaman belajar scara langsung melalui penggunaan dan penggambangan

keterampilan proses dan sikap ilmiah. Siswa dharapkan menemukan fakta-fakta

menbangun konsep, teori dan sikap ilmiah. Meskipun begitu, bagi sebagian siswa

kimia dipanang sebagai mata pelajaran yang sulit karena didalamnya terdapat

konsep-konsep yang abstrak sehingga siswa kurang mampu untuk memahaminya.

Untuk dapat mengkonstruk pengetahuan siswa dengan baik, maka tugas seorang

guru bukan hanya menyampaikan materi dikelas saja, akan tetapi seorang guru

haruslah dapat merancang pembelajaran yang efektif, mengevaluasi pembelajaran

yang telah dilakukan, serta membuat instrumen pembelajaran yang diperlkan.


Jika kegiatan pembelajaran kimia dilakukan hanya dengan metode

ceramah saja (teacher centered), maka menyebabkan siswa kurang aktif dalam

proses pembelajaran tersebut. Sehingga siswa tidak dapat membangun

kemampuan berpikir dan memecahkan masalahnya. Pada akhirnya ketika siswa

dihadapkan pada suatu masalah, siswa tidk dapa menyelesaikan masalah tersebut

dengan baik. Keadaan tersebut harus segera diantisipasi dengan tidak lagi

pemelajaran berpusat pada guru namun harus berpusat pada siswa (student

centered). Dalam hal ini model pembelajaran yang mengintegrasikan dengan

masalah salah satunya adalah model problem based learning (PBL) PBI

merupakan model pembelajaran dimana siswanya dihadapkan pada simulasi,

masalah nyata atau kehidupan sehari-hari, dan merupakan strategi pembelajaran

yang menarik yang berperan untuk transfer pengetahuan, karena dalam PBI siswa

dilatih untuk menjawab suatu permasalahan nyata yang berkaitan dengan

kehidupan sehari-hari.

Pemberian masalah terhadap siswa dala kegiatan belajar, akan membuat

siswa lebih tertarik sehingg dapat merangsang siswa lebih aktif. Karena dalam

pembelajaran siswa dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan

melakukan investigasi dan penyelidikan.

Diterapkannya metode pembelajaran berbasis masalah, dapat melatih

siswa berpikir kritis, menganalisis dan memecahkan masalah komplek, dapat

bekerja secara kooperatif dalam tim kecil, meningkatkan kemampuan

berkomunikasi dengan efektif baik verbal maupun tertulis. Berdasarkan uryan

diatas dalam penelitin ini mengangkat judul Efektivitas Model Problem Based
Leasning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa SMA N 2 Kaledupa pada

Materi Reaksi Redoks.

1.2 Identiffikasi Masala

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis

mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Adanya konsep-konsep yang abstrak menjadikan kimia sebagai mata

pelajarannyang sulit bagi siswa

2. Lemahnya peran guru dalam mengaplikasikan model, metode atau strategi

pembelajaran untuk menunjang keberhasilan kegiatan pembelajaran

3. Penggunakan model pembelajran yang kuran tepat dapat monoton

menyebapkan siswa kurang dapat menguasai informasi yang dierikan oleh

guru sehigga dapat mempengaruhi hasil alajar siswa

4. Pemahaman siswa terhadap materi tidak dibarangi dengan kemampuan

untuk menginvestigasi dan memecahkan suatu masalah.

1.3 Pembatasan Masalah

Dari beberapa pernyataan yang timbul dari identifikasi masalah maka

penelitian dibatasi pada:

1. Penelitian ditekankan pada kemampuan kognitif terhadap hasil belajar kimia

siswa.

2. Penyajian masalah dalam kimia menggunakan model problem based learning

(PBL).

3. Penelitian dilakukan pada konsep embahasan reaksi redoks.


1.4 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan diteliti pada praktikum ini adalah

“apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based

Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia siswa ?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan operasional pada penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah

penerapan Problem Based Learning (PBL) memberikan hasil belajar yang lebih

baik dibandingan pada pembelajaran konvensional dalam pembelajaran kimia.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi siswa, untuk menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah,

kemampuan bekerja sama, dan berkomunikasi sehingga melatih dan

merangsang kreativitas siswa.

2. Untuk memberikan alternatif kepada guru dalam mengerjakan pelajaran kimia

dan mengikut sertakan siswa dalamproses pembelajaran sehingga siswa lebih

muda memahami materi pelajaran serta terciptanya proses belajar yang efektif

dan berakna

3. Bagi peneliti untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan dan dapat

memotifasi para peneliti melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan

dengan penelitian ini.


BAB II
TNJAWAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran dan Model Pembelajaran

Menurut saptorini (2011) pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan

pendidik dalam membentuk terjadinya kegiatan belajar. Sedangkan Hamdani

(2011), menyatakan pembelajaran merupakan proses belajar yang dibangun oleh

guru guna mengembangkan kreativitas berfikir agar dapat meningkatkan

kemampuan berpikir siswa serta mengkonstruk pengetahuan baru sebagai upaya

peningkatan penguasaan terhadap materi pembelajaran.

Dari pernyataan di atas mengenai makna pembelajaran, dapat dikatakan

bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang atau

direncanakan oleh guru untuk mengadakan, membantu, dan mendukung proses

berpikir siswa sehingga diperlukan suatu model pembelajaran agar dapat

mewujudkan proses belajar menjadi terarah dan efektif.

Model mengajar atau model pembelajaran adalah suatu cara atau prosedur

yang digunakan untuk mengorganisir unsur-unsur dalam belajar guna memperoleh

hasil belajar yang lebih efektif (Sugandi, 2005). Jadi dapat dikatakan, bahwa

model pembelajaran adalah suatu konsep yang digunakan untuk mewujudkan

proses belajar mengajar sehingga suatu rencana pembelajaran dapat terlaksana

dalam hal ini adalah dapat memperoleh hasil belajar yang efektif.
2.1 Model Pembelajaran

Pembelajaran secara umum adalah segala kegiatan yang dilakukan guru

dalam kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk membimbing tingkah laku

peserta didik ke arah yang lebih baik (Hamdani, 2010). Kegiatan pembelajaran ini

dilakukan atas dasar kesadaran setiap individu dari tidak tahu menjadi tahu

tentang segala hal yang akan menjadi bekal di kehidupan. Pembelajaran

merupakan bagian proses pendidikan yang berlangsung seumur hidup (life long

education). Hal ini berarti bahwa usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia

itu lahir sampai tutup usia, sepanjang manusia itu mampu menerima pengaruh dan

dapat mengembangkan dirinya (Munib, 2011).

Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran ini, guru membutuhkan

model-model dalam pembelajaran. Santyasa (2007) menerangkan bahwa model

pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang

sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan

belajar. Model-model pembelajaran akan mengalami perkembangan seiring

dengan kemajuan kurikulum yang diterapkan. Penerapan kurikulum 2013 terjadi

perubahan dan atau pergeseran mind set, peserta didik diharapkan dapat secara

aktif untuk belajar karena yang ditekankan adalah keterampilan proses.

Perubahan penekanan dari subject oriented ke process oriented dengan

memperhatikan empat pilar pembelajaran menurut UNESCO yaitu learning to

know, to do, to be and to live together sebagai modal intelektual (Saptorini, 2011).
2.3 Model Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Masalah

adalah strategi pembelajaran peserta didik melalui permasalahan-permasalahan

praktis dalam kehidupan nyata (Rubi & Zamtimah, 2010). Model pembelajaran

PBL ini melatih peserta didik untuk dapat memberi solusi dari permasalahan yang

muncul dengan mencari informasi data yang dapat mereka peroleh dari berbagai

sumber. PBL ini dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang

menyatakan bahwa belajar suatu proses dalam mana pembelajar secara aktif

mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan belajar

yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran. (Suci, 2008). Teori yang

dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu (1) belajar adalah suatu

proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process), (2) belajar

dipengaruhi oleh faktor interaksi social dan sifat kontektual dari pelajaran

(Gisjelairs, 1996).

Barrows (1996) menjelaskan bahwa model pembelajaran berbasis masalah

memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran

yang lainnya yaitu (1) pembelajaran bersifat student centered, (2) pembelajaran

terjadi pada kelompok-kelompok kecil, (3) dosen atau guru berperan sebagai

fasilitator dan moderator, (4) masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk

mengembangkan keterampilan problem solving, (5) informasi-informasi baru

diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).

Hafismuaddab (2011) mengungkapkan bahwa ada lima strategi untuk

menerapkan pembelajaran berbasis masalah yaitu : (1) permasalahan sebagai


kajian; (2) permasalahan sebagai penjajakan pemahaman; (3) permasalahan

sebagai contoh; (4) permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses

2.4 Tinjauan Tentang Konsep Redoks

Reaksi redoks (reduksi-oksidasi) banyak ditemukan dikehidupan

sehari- hari, maupun dalam industri. Beberapa contohnya yaitu perkaratan logam,

reaksi pembakaran, reaksi respirasi, dan proses pengolahan logam dari bijihnya.

Pengertian oksidasi dan reduksi sendiri telah mengalami perkembangan, seiring

dengan kemajuan ilmu kimia. Pada awalnya, reaksi oksidasi-reduksi dikaitkan

dengan pengikatan dan pelepasan oksigen, kemudian dikembangkan menjadi

proses serah-terima elektron dan perubahan bilangan oksidasi.

2.4.1 Konsep Reaksi Reduksi Oksidasi Berdasarkan Reaksi Terhadap


Oksigen

Reaksi antara Mg dan O2 merupakan contoh reaksi

penerimaan/pengikatan oksigen disebut reaksi oksidasi. Ini berarti bahwa zat yang

mengalami oksidasi adalah Mg. Reaksi ini dapat ditulis sebagai berikut :

2Mg (s) + O2(g) 2MgO (s)

Sebaliknya reaksi yang mengalami pelepasan oksigen disebut reaksi


reduksi. Contohnya
PbO (s) + CO (g) Pb (s) + CO2 (g)

2.4.2 Konsep Reaksi Reduksi Oksidasi Berdasarkan Transfer Elektron

Tidak semua reaksi kimia melibatkan oksigen, sehingga butuh konsep

lain untuk menjelaskan salah satunya dengan serah-terima elektron. Berdasarkan

konsep ini, reduksi adalah proses penangkapan electron. Sedangkan oksidasi


adalah proses pembebasan electron. Contoh :

Penangkapan elektron (reduksi) Zn2+ + 2e-  Zn


Pembebasan electron (oksidasi) Cu  Cu2+ + 2e-

2.4.3 Konsep Reaksi Reduksi Oksidasi Berdasarkan Perubahan Bilangan


Oksidasi

Bilangan oksidasi adalah besarnya muatan yang diemban oleh sutu atom

dalam suatu senyawa, jika semua electron ikatan didistribusikan kepada unsur

yang lebih elektronegatif. Berdasarkan konsep ini, reduksi adalah peristiwa

penurunan bilangan oksidasi. Sedangkan oksidasi adalah persitiwa naiknya

bilangan oksidasi.

Contoh :

Reaksi autoredoks adalah reaksi redoks yang oksidator dan reduktornya

merupakan zat yang sama. Jadi, sebagian dari zat itu mengalami oksidasi dan

sebagian lagi mengalami reduksi.

Contoh :

Pada reaksi ini I2 mengalami penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi.

sehingga reaksi ini disebut reaksi autoredoks. Kebalikan reaksi disproporsionasi

adalah reaksi konproporsionasi, yaitu reaksi redoks yang mana hasil reduksi dan
oksidasinya sama.

Contoh :

Pada rekasi ini, H2S berfungsi sebagai reduktor, sedangkan SO2 sebagai

oksidator. Sedangkan untuk unsur S merupakan hasil reaksi oksidasi dan reduksi.

(Purba, 2007)

2.4.4 Penerapan Reaksi Redoks Dalam Kehidupan Sehari-hari

Reaksi redoks memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari,

seperti di bawah ini :

a. Reaksi redoks dalam pengolahan logam

Reaksi redoks ini diterapkan pada proses setelah dipisahkan dari batu reja

(karang) baik secara kimia maupun fisika yang kemudian dipekatkan menjadi

bijih pekat. Bijih pekat tersebut direduksi dengan zat pereduksi yang paling tepat.

Contoh :

b. Reaksi redoks pada sel aki

Pada saat aki digunakan terjadi reaksi redoks, di mana Pb mengalami reaksi

oksidasi membentuk PbSO4 dan PbO2 mengalami reaksi reduksi membentuk

PbSO4. Reaksi penggunaan sel aki adalah sebagai berikut :


c. Reaksi redoks pada pengolahan air limbah

Konsep reaksi redoks sering dimanfaatkan dalam proses pengolahan air

limbah. Di dalam suatu tempat pengolahan, limbah dilewatkan pada serangkaian

sekat dan ruangan yang di dalamnya dilakukan beberapa proses, termasuk proses

kimia untuk mengurangi kotoran dan zat racun. Pada umumnya, proses

pengolahan air limbah terdiri dari tiga fase pengolahan utama, yaitu primer,

sekunder, dan tersier.

2.5 Kerangka Berpikir

Upaya untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah peserta

didik dalam kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh model yang diterapkan oleh

guru. Model pembelajaran yang tepat akan menarik minat peserta didik untuk

berperan aktif dan membuat pembelajaran menjadi berfokus pada peserta didik

atau students centered. Hal inilah yang menjadi indikator penting dalam

menunjang keberhasilan proses.

Pengembangan cara berpikir peserta didik ini perlu dilatih dalam suatu

pembelajaran dengan memberikan masalah-masalah yang dipecahkan dengan

membentuk group investigation. Penerapan metode tersebut maka peserta didik

akan melakukan proses dinamika untuk memberikan respon terhadap masalah dan
memecahkan masalah tersebut (Ulfah, 2014).

2.6 Rumusan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian, yang mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru

didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta- fakta empiris

yang diperoleh dari pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan

sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban

yang empirik dengan data. Hipotesis yang digunakan untuk menjawab rumusan

masalah yaitu Terdapat pengaruh hasil belajar kimia menggunakan PBL pada

materi reaksi reduksi oksidasi.


BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2018/2019

di SMA Negeri 2 Kaledupa, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi,

Sulawesi Tenggara.

3.2 Subyek Penelitian

3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi juga dapat

diartikan sebagai kumpulan menyeluruh dari objek yang diteliti. Populasi target

dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 kaledupa, sedangkan

populasi terjangkaunya adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 kaledupa

3.2.2 Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara menggunakan

nonprobability sampling pengambilan sampel tersebut dengan tidak memberi

peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk

dipilih menjadi sampel. Teknik yang digunakan dengan cara purposive sampling.

Teknik ini merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Adapun yang menjadi sampel adalah kelas X-A sebagai kelas eksperimen yang

dalam pembelajarannya diterapkan model PBL, dan kelas X-B sebagai kelas

kontrol yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional.


3.3 Teknik Pengumpulan Data

3.3.1 Variabel Penelitian

Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (independen)

dan variabel terikat ( dependen) variabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Variabel bebas (X): model problem based learning (PBL)

Variabel terikat (Y): hasil belajar kimia siswa

3.3.2 Sumber Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini berasal dari dua kelas yaitu kelas

eksperimen dan kelas kontrol. Hasil dari pretest dan posttes pada kelas

eksperimen dan kontrol digunakan sebagai data.

3.3.3 Instrumen Penilayan

instrumen penilayan yang digunakan untukmengumpulkan data penelitian

ini adalah tes. Tes tersebut berbentuk pilihan ganda dan esay.

3.3.4 Uji Validasi

Validasi adalah suatu konsep untk mengetahui kemampuan instrumen

yang digunakan dapat di ukur apa yang seharusnya di ukur. Validasi yang

digunakan dalam penelitian ini adalah validasi isi (content validity) yag berarti tes

tesebut dapat mewakili secara reprensentatif terhadapkeseluruhan materi atau

bahan pembelajaran yang seharusnya diteskan. Untuk itu instrumen tes diujikan

untuk mendapatkan validasi butir soal atau validasi item, untuk mengetahui

validasi butir soal, dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus product

moment sebagai berikut.


Keterangan:

:koefisien korelasi antara variabel X dan Y

N : banyaknya peserta tes

∑X : jumlah skor item

∑Y : jumlah skor total item

∑XY : hasil perkalian antara skor item dengan skor total

∑X2 : jumlah skor item kuadrat

∑Y2 : jumlah skor total

3.3.5 Analisis Reliabilitas

Reliabilitas digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu instrumen cukup

dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen

tersebut sudah baik. Untuk perhitungan reliabilitas dalam penelitian ini digunakan

rumus sebagai berikut:

Keterangan:
: Koefisien reliabilitas tes
: Banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes
1 : Bilangan konstan
3.3.6 Analisis Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran adalah angka yang menjadi indikator mudah sukarnya

soal. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar.

Rumus yang digunakan adalah:

Keterangan:
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu
dengan betul JS = jumlah seluruh siswa peserta tes.

Klasifikasi indeks kesukaran adalah pada tabel berikut:

3.3.7 Analisis Daya Beda

Daya pembeda soal merupakan kemampuan suatu soal untuk

membedakan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dan peserta didik

yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda

disebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan adalah:

dan
Keterangan:
D = daya pembeda soal
BA = jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar
BB = jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab benar
JA = jumlah peserta kelompok atas
JB = jumlah peserta kelompok bawah
Daya beda yang baik adalah D>0,3
Untuk uji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya beda tersebut ditentukan
dengan menggunakan perhitungan komputer yang tersedia dalam software ANATES V4

3.4 Teknik Analisis Data

3.4.1 Uji normalitas data

Uji ini digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang akan

dianalisis. Rumus yang digunakan untuk menguju kenormalan data ini adalah

dengan Chi-Kuadrat.

Keterangan:
χ2 = Chi kuadrat
Oi = Frekuensi hasil pengamatan

Ei = Frekuensi harapan
k = Banyaknya kelas interval
Kriteria : Tolak Ho jika χ2 data ≥ χ2 (0,95)(k-3) atau χ2 dengan taraf konfidensi 0,95

derajat kebebasan k-3. Ho diterima artinya data yang diuji berdistribusi normal

(Sudjana, 2005).
3.4.2 U ji homogenitas

Uji hipotesis dilakukan dengan statistik satu pihak, yaitu pihak kanan

dengan rumus uji t. Uji ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan

peningkatan kemampuan pemecahan masalah antara kelas eksperimen dan kelas

kontrol (Sudjana, 1996).

Pengujian hipotesis menggunakan uji-t pada taraf signifikan dengan rumus

sebagai berikut:

Keterangan :
x1= rata-rata post test kelas eksperimen

x2= rata-rata post test kelas kontrol

n1= jumlah peserta didik kelas eksperimen

n2 = jumlah peserta didik kelas kontrol

s1 = simpangan baku kelas eksperimen

s2 = simpangan baku kelas kontrol

s = simpangan baku gabungan


persyaratan uji parametrik yang kedua adalah homogenitas data. Populasi-

populasi dengan variens yang sama besar dinamakan populasi dengan varians

yang homogen. Ujihomoginitas yang digunakan adalah uji fisher,

denganlangkah langkah sebagai berikut:

1) Tentukan hipotesis:
H0 data memiliki varians homogen
Ha data tidak memiliki varians homogen
2) Bagi data menjadi dua kelompok
3) Tentukan simpangan baku dari masing masing kelompok
4) Tentukan F hitung dengan rumus:
TUGAS PROPOAL

“EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEASNING (PBL)


TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA NEGERI 2
KALEDUPA PADA MATERI REAKSI REDOKS”

OLEH

NAMA : SITTI NUR SAFITRI

NIM : A1L1 15 044

KELAS : B (GENAP)

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018