You are on page 1of 15

Bab 2.

Kondisi Geologi
2.1.Fisiografi Daerah
Gambar 1. Fisiografi daerah
Papua Nugini
Beberapa peneliti
terdahulu yang telah
melakukan studi terhadap
geologi Papua berpendapat
bahwa orogenesis
(pengangkatan) pada Kala
Oligosen merupakan awal
mulainya proses tektonik Papua hingga terbentuk fisiografi yang terlihat pada saat ini yang
dikenal sebagao Orogen Melanesia. Orogenesis tersebut menghasilkan 3 mandala geologi,
dimana Dow et al. (1986) membagi geologi Papua menjadi 3 lajur berdasarkan stratigrafi,
magmatic, dan tektoniknya yaitu:
1. Kawasan Samudera Utara yang dicirikan oleh ofiolit dan busur vulkanik kepulauan
(Oceanic Province) sebagai bagian dari Lempeng Pasifik. Batuan-batuan ofiolit pada
umumnya tersingkap di sayap utara Pegunungan Tengah Papua Nugini.
2. Kawasan Benua yang terdiri dari batuan sedimen yang menutupi batuan dasar kontinen
yang relative stabil dan tebal yang terpisah dari Kraton Australia.
3. Lajur peralihan yang terdiri atas batuan termalihkan (metamorf) dan terdeformasi
sangat kuat secara regional. Lajur ini terletak di tengah (Central Range).

Fisiografi Papua secara umum juga dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
bagian Kepala Burung, Leher dan Badan. Bagian utara Kepala Burung merupakan
pegunungan dengan relief kasar, terjal, sampai sangat terjal. Batuan yang tersusun berupa
batuan gunung api, batuan ubahan, dan batuan intrusif asam sampai menengah. Morfologi
ini berangsur berubah ke arah barat sampai selatan berupa dataran rendah aluvial, rawa
dan plateau batugamping.
Kenampakan fisiografi dari Papua ini merupakan kenampakan dari keadaan
geologi dan tektonik yang pernah terjadi di tempat tersebut. Menurut Visser dan Hermes
(1962) kerak kontinen Lempeng Australia yang berada di bawah laut Arafura dan meluas
ke arah utara merupakan dasar bagian selatan dari Pegunungan Tengah Papua, batuan
dasarnya tersusun oleh batuan sedimen paparan berumur Paleozoik sampai Kuarter
Tengah.
Kompresi, deformasi dan pengangkatan dari Pegunungan Tengah yang disebut
sebagai Orogenesa Melanesia dimulai pada awal Miosen hingga Miosen Akhir dan
mencapai puncaknya selama Pliosen Akhir hingga Awal Plistosen. Batuan dasar dan
sedimen paparan terangkat secara bersamaan sepajang komplek sistem struktur yang
mengarah ke barat laut. Di Papua bagian utara atau bagian ke dua dari Mobile Belt New
Guinea tersusun oleh batuan vulkanik afanitik yang merupakan bagian tepi utara lempeng
Australia yang terjadi selama periode tumbukan kontinen dengan busur kepulauan pada
waktu Oligosen. Bagian dari Mobile Belt ini tersusun oleh batuan ultramafik Mesozoik
sampai Tersier dan mendasari batuan intrusi dari Sabuk Ophiolit Papua dibagian utara
yang dibatasi oleh suatu endapan gunung api bawah laut yang berumur Tersier. Pergerakan
dari kerak samudera Pasifik sekarang mempunyai batas di sebelah utara pantai Pulau New
Gunea. Formasi stratigrafi yang menyusun daerah ini diterobos oleh suatu grup magma
intermediate berumur Pliosen berupa kalk alkali stock dan batholit yang menempati
sepanjang jalur struktur regional utama.
A. Stratigrafi Regional
Kawasan Kepala Burung yang terdiri dari Cekungan Salawati dan Cekungan
Bintuni memiliki tatanan stratigrafi regional yang saling berhubungan antara kedua
cekungan tersebut. Secara keseluruhan, kawasan ini tersusun oleh 12 formasi batuan
dengan batuan tertua mulai dari umur Paleozoikum.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Gambar 1. Kolom stratigrafi daerah Papua
Formasi batuan yang menyusun kawasan Kepala Burung ini, berdasarkan umur
batuan dari yang tertua hingga yang paling muda dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Paleozoic Basement
a) Formasi Kemum
Pada kawasan Kepala Burung, formasi batuan yang tertua yaitu Formasi
Kemum yang tersingkap di sebelah timur Kepala Burung yang dikenal dengan
Tinggian Kemum, serta di sekitar Gunung Bijih Mining Access (GBMA) di
sebelah Barat Daya Pegunungan Tengah. Formasi ini didominasi oleh batuan
metamorf low grade dan tersusun oleh beberapa jenis batuan seperti batusabak
(slate), serpih mengersik, argilit, metaarenit, meta konglomerat, phyllitic dan minor
quartzite. Di kawasan ini, Formasi Kemum diintrusi oleh batuan beku granitik
(Granit Anggi) berumur Karboniferous akhir hingga Permian-Trias, serta oleh dike
dengan komposisi basaltik dan andesitik selama kala Pliosen.
b) Formasi Aifam 3

Formasi ini menumpang secara tidak selaras di atas Formasi Kemum.


Formasi Aifam dijumpai di bagian utara dari Kepala Burung, pada Sungai Aifam

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


yang berada di bagian tengah kepala burung. Di kawasan Kepala Burung, formasi
ini merupakan batuan sedimen yang tidak termetamorfkan. Sedangkan di cekungan
Bintuni, Formasi Aifam dibagi menjadi 3 formasi yaitu Formasi Aimau, Aifat, dan
Ainim.
Formasi Aimau terdiri dari basal conglomerate, batupasir dan batulempung
dengan sisa-sisa silicified wood, dan berumur Karbon akhir. Setelah itu diendapkan
Formasi Aifat dengan litologi penyusun berupa batulempung yang memiliki
komposisi karbonat dengan konkresi yang melimpah, sedikit batugamping, serta
lapisan batupasir kuarsa yang sangat tipis. Formasi Aifat yang berumur awal
hingga akhir Permian. Sebelum pengendapan Formasi Aifat selesai, secara menjari
pengendapan disusul oleh Formasi Ainim. Formasi ini tersusun oleh batulempung
lanauan, batupasir kuarsa, greywacke dan batulanau, serta seam batubara dengan
ketebalan + 1 meter. Setelah itu, terjadi intrusi batuan beku granitik (Granit Anggi)
hingga menembus lapisan anggota Formasi Kemum selama akhir Permian hingga
Triasik.
2. Mesozoic to Cenozoic Sedimentation
a) Formasi Tipuma
Formasi Tipuma dicirikan oleh lapisan batuan berwarna merah yang
menyebar secara luas dari Barat Laut Kepala Burung hingga batas Timur Kepala
Burung. Warna merah pada lapisan batuan tersebut diakibatkan adanya kandungan
oksida besi (hematite) yang terbentuk mulai dari Triassic hingga awal Jura.
Formasi Tipuma diendapkan pada lingkungan fluvial dimana ketebalan formasi ini
berubah secara signifikan yang merepresentasikan topografi berupa horst dan
graben akibat proses ekstensi yang aktif. Pada Cekungan Bintuni, terdapat kontak
yang tidak terpisahkan antara Formasi Tipuma dengan Grup Kembelangan yang
menumpang di atasnya secara tidak selaras.
b) Kembelangan Group
Pada kawasan Kepala Burung, Formasi Tipuma ke arah atas berubah menjadi
Grup Kembelangan yang berumur Cretaceous akhir. Grup Kembelangan
tersingkap sepanjang sisi timur kepala burung, bagian leher, dan bagian tengah.
Pada bagian kepala burung, Grup Kembelangan memiliki anggota Formasi Jass. 4
Formasi Jass dengan ketebalan maksimum 400 meter terdiri dari batulempung dan
batuan karbonat pasiran berwarna hitam hingga cokelat, batupasir litik, dan
batugamping dengan sedikit sisipan batupasir kuarsa, serta konglomerat kuarsa

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


(polimiktik). Pada akhir Cretaceous, terjadi intrusi batuan beku granitik di
Cekungan Salawati. Kemudian selama pertengahan Jura hingga sebelum
ditemukan Formasi Jass, pada bagian utara Kepala Burung tidak ditemukan
rekaman stratigrafi, yang berarti terjadinya fase non-deposisional dimana tidak
terjadi pengendapan.
c) New Guinea Limestone Group
Selama masa Cenozoic, kurang lebih pada batas Cretaceous hingga Cenozoic
terjadi pengendapan karbonat yang dikenal sebagai New Guinea Limestone Group
(NGLG) yang menumpang di atas Grup Kembelangan. Secara umum NGLG ini
dikelompokkan menjadi 4 formasi yaitu Formasi Waripi, Faumai, Sirga, dan Kais.
Formasi Waripi tersingkap di pegunungan sebelah barat Central Range
(bagian tengah) dan memanjang ke arah barat hingga mencapai ujung selatan dari
Kepala Burung. Formasi ini terdiri dari kalkarenit oolitik pasiran dan biokalkarenit,
batupasir kuarsa kalkareous, serta biokalkarenit oolitik berwarna merah hingga
cokelat. Batugamping yang ditemui umumnya bersifat dolomitik dan mengandung
foraminifera. Ketebalan maksimum dari Formasi Waripi ini diperkirakan mencapai
700 meter pada bagian atas sungai Baupo dan mencapai 380 meter pada bagian
ujung barat, tetapi akan menghilang pada bagian timur. Formasi tersebut
kemungkinan berumur Paleosen.
Formasi Faumai terdiri dari basal conglomerate yang mencirikan
ketidakselarasan dengan lapisan di bawahnya. Konglomerat tersebut berkembang
ke arah atas menjadi shelf carbonate. Batugamping tersebut tersingkap di bagian
timur Kepala Burung, dimana di atasnya terendapkan batuan klastik dari Formasi
Sirga dan dipisahkan oleh New Guinea Limestone Group yang terbentuk setelahnya
(kala Miosen). Batugamping yang menyusunnya mengandung banyak jenis
foraminifera dengan ukuran yang lebih besar, yang berumur Ta sampai Tb, yaitu
pertengahan Eosen hingga Oligosen.
Formasi Sirga terendapkan secara selaras di atas Formasi Faumai. Litologi
yang menyusun formasi ini berupa batulanau dan batulempung di sebelah barat dan
selatan, hingga menjadi batupasir kuarsa dan konglomerat di bagian utara dan
timur. Formasi ini dibentuk oleh proses transgresif dan diendapkan pada 5
lingkungan laut dangkal pada akhir Oligosen.
Formasi Kais tersusun oleh batugamping foraminifera, napal, batulanau, dan
batubara. Formasi ini diendapkan pada shelf karbonat energy rendah. Formasi Kais

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


merepresentasikan kompleks fasies terumbu yang ekivalen dengan Formasi
Klamogun di Cekungan Salawati. Formasi ini memiliki kisaran umur Miosen Awal
hingga Miosen Tengah.
3. Late Cenozoic Sedimentation
a) Formasi Klasafet
Formasi Klasafet terendapkan secara menjari dengan Formasi Kais dan
menutupi Formasi Kais yang berada di bawahnya, dimana ketebalannya mencapai
1.925 meter. Formasi ini tersingkap secara lokal (tidak menerus) sepanjang barat
hingga timur Kepala Burung. Litologi yang menyusun formasi ini berupa batupasir
karbonatan, napal yang masif maupun berlapis, batulanau mikaan atau karbonatan,
dan sedikit sisipan batugamping. Umur Formasi Klasafet ini sendiri ialah Miosen
awal hingga tengah. Formasi Klasafet secara selaras ditumpangi oleh Formasi
Klasaman pada cekungan Salawati dan Formasi Steenkool pada Cekungan Bintuni.
Sedangkan kedua Formasi Klasaman dan Steenkool tersebut memiliki hubungan
yang saling menjari.
b) Formasi Klasaman
Formasi Klasaman beranggotakan interbedding batulempung dan batupasir
argilaseous dengan sedikit sisipan konglomerat dan lignit. Formasi ini memiliki
ketebalan 4.500 meter dan tersingkap di sejumlah area yang cukup luas pada Pulau
Salawati di sebelah barat kepala burung dan sepanjang bagian selatan dataran tinggi
Ayamaru. Formasi Klasaman ini terbentuk pada akhir Pliosen. Pada Formasi
Klasaman yang berada di Cekungan Salawati ini terendapkan Konglomerat Sele
dengan ketebalan sekitar 120 meter. Lapisan ini tersusun atas konglomerat
polimiktik dengan lapisan-lapisan tipis batulempung dan batupasir. Lapisan ini
terbentuk selama Zaman Kuarter.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Gambar 2. Kolom Stratigrafi Regional Papua menurut Sapiie (2000)

Bab 3. Proses Geologi


III.1 Sejarah Geologi (Umur batuan,)
Sejarah pengendapan daerah Kepala Burung dimulai dengan batuan dasar kontinental,
yang kemudian diikuti dengan pembentukan batulempung dan endapan turbidit berumur
Silurian – Devonian. Kedua jenis litologi ini dikelompokkan sebagai Formasi Kemum.
Formasi Kemum ini juga mengalami intrusi oleh batuan beku granitik (Granit Anggi) berumur
Karboniferous akhir hingga Permian-Trias, serta oleh dike dengan komposisi basaltik dan
andesitik selama kala Pliosen. Setelah Formasi Kemum terbentuk, maka selanjutnya
terendapkan sedimen sin-orogenik yang merupakan bagian dari Formasi Aisajur yang berumur
awal Karbon. Selanjutnya terbentuk kelompok Aifam (di dalamnya terdapat Formasi Aimau,
Aifat, dan Ainim) yang memiliki hubungan tidak selaras dengan Formasi Aisajur di bawahnya.
7
Kelompok Aifam terbentuk selama pertengahan zaman Karbon hingga akhir Perm. Formasi
selanjutnya ialah Formasi Tipuma yang diwujudkan oleh sikuen red bed yang terbentuk selama
Triasik hingga awal Jura.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Pada bagian kepala burung, Formasi Tipuma ke arah atas berubah menjadi kelompok
Kembelangan yang berumur Cretaceous akhir (Pigram dan Sukanta, 1982, dalam Charlton,
1996). Di atas Formasi tersebut, diendapkan batulempung Yefbie secara tidak selaras. Secara
vertikal, batulempung Yefbie berkembang menjadi Formasi Ligu yang beranggotakan shelf
carbonate berumur akhir Jura serta batulempung dari Formasi Lelinta. Secara selaras,
pengendapan kemudian dilanjutkan dengan batugamping yang terbentuk pada lingkungan
pengendapan bathyal berumur Cretaceous. Batugamping tersebut merupakan bagian dari
kelompok Batugamping Facet (yang beranggotakan Formasi Batugamping Gamta dan
Waaf). Litologi penyusun stratigrafi yang terakhir dari Kala Tersier ini ialah batulempung yang
merupakan anggota dari Formasi Fafanlap berumur Cretaceous akhir.
Stratigrafi Tersier dipelopori oleh Formasi Faumai yang berumur Eosen awal hingga
akhir. Formasi Sirga ditemukan melalui survei bawah permukaan di Cekungan Salawati,
tepatnya pada bagian barat dataran tinggi Ayamaru. Formasi ini dibentuk oleh proses
transgresif dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal, seiring dengan naiknya muka air laut
setelah penurunan global pada akhir Oligosen (Vail dan Mitchem, 1979). Bagian tertua dari
suksesi cekungan (terdiri dari tiga formasi di atas) berkembang menjadi litofasies batugamping
berumur Miosen awal hingga tengah, dengan lingkungan pengendapan berkisar antara shelf
(paparan) yang berkembang ke arah laut dalam yang merupakan anggota dari Formasi Kais.
Singkapan dari batugamping Formasi Kais yang berumur Eosen (Visser dan Hermes, 1962).
Secara lateral, formasi ini lazimnya disetarakan dengan Formasi Klamogun, Sekau, dan
Klasafet. Batuan yang terendapkan pada lingkungan laut dalam ialah anggota dari Formasi
Klamogun dengan ketebalan 1.159 meter. Di atas Formasi Klamogun, pada Miosen tengah
hingga akhir diendapkan Formasi Klasafet yang beranggotakan batupasir karbonatan, napal
yang masif maupun berlapis, batulanau mikaan atau karbonatan, dan sedikit sisipan
batugamping.
Setelah kala Miosen habis, dimulailah pengendapan yang didominasi material klastik.
Pada awal hingga akhir Pliosen, terbentuk Formasi Klasaman yang beranggotakan
interbedding batulempung dan batupasir argilaseous dengan sedikit sisipan konglomerat dan
lignit. Formasi Klasaman diperkirakan berumur akhir Miosen hingga Pliosen. Di atas Formasi
Klasaman, terendapkan secara tidak selaras Konglomerat Sele yang berumur Kuarter. Lapisan
ini diperkirakan berumur lebih muda dari Pliosen. 8

3.2. Proses Tektonik Yang Terjadi (Evolusi Tektonik, Fase Tektonik)

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Periode tektonik utama daerah Papua dan bagian utara Benua Indo-Australia dijelaskan
dalam empat periode (Henage, 1993) yaitu
- Periode rifting awal Jura di sepanjang batas utara Lempeng Benua Indo-Australia,
- Periode rifting awal Jura di Paparan Baratlaut Indo-Australia (sekitar Palung Aru),
- Periode tumbukan Tersier antara Lempeng Samudera Pasifik-Caroline dan Indo-
Australia, zona subduksi berada di Palung New Guinea, dan
- Periode tumbukan Tersier antara Busur Banda dan Lempeng Benua Indo-Australia.
Periode tektonik Tersier ini menghasilkan kompleks-kompleks struktur seperti Jalur Lipatan
Anjakan Papua dan Lengguru, serta Antiklin Misool-Onin-Kumawa.
Pada Kala Oligosen terjadi aktivitas tektonik besar pertama di Papua, yang merupakan
akibat dari tumbukan Lempeng Australia dengan busur kepulauan berumur Eosen pada
Lempeng Pasifik. Hal ini menyebabkan deformasi dan metamorfosa fasies sekis hijau berbutir
halus, turbidit karbonan pada sisii benua membentuk Jalur “Metamorf Rouffae” yang dikenal
sebagai “Metamorf Dorewo”. Akibat lebih lanjut tektonik ini adalah terjadinya sekresi
(penciutan) Lempeng Pasifik ke tas jalur malihan dan membentuk Jalur Ofiolit Papua.
Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia
yang berawal dipertengahan Miosen yang diakibatkan oleh adanya tumbukan Kraton Australia
dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat batuan
sedimen Karbon-Miosen (CT), dan membentuk Jalur Aktif Papua. Kelompok Batugamping
New Guinea kini terletak pada Pegunungan Tengah. Jalur ini dicirikan oleh sistem yang
komplek dengan kemiringan ke arah utara, sesar naik yang mengarah ke Selatan, lipatan kuat
atau rebah dengan kemiringan sayap ke arah selatan Orogenesa Melanesia ini diperkirakan
mencapai puncaknya pada Pliosen Tengah. Dari pertengahan Miosen sampai Plistosen,
cekungan molase berkembang baik ke Utara maupun Selatan. Erosi yang kuat dalam
pembentukan pegunungan menghasilkan detritus yang diendapkan di cekungan-cekungan
sehingga mencapai ketebalan 3.000 – 12.000 meter.
Tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik yang terus berlangsung hingga
sekarang menyebabkan deformasi batuan dalam cekungan molase tersebut.
3.3. Proses Sedimentasi (Lingkungan Pengendapan, Evolusi Basin)
Evolusi cekungan di daerah Kepala Burung, dapat dijelaskan dari adanya 2 cekungan
utama di daerah Papua, yaitu Cekungan Salawati dan Cekungna Bintuni. 9
a. Cekungan Salawati

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Berdasarkan genesa dan evolusi pembentukan cekungan, cekungan Salawati dapat dipisahkan
menjadi 3 kelompok sikuen yang berbeda berdasarkan stratigrafi dan episode umbukan
tektoniknya,
1. Sikuen pre collision meliputi batuan pre-rifting, syn rifting, transgressive, dan drifting.
- Kelompok batuan pre-rifting berlangsung selama Silur-Devon, diendapkan didalamnya
Formasi Kemun dan Formasi Aifam.
- Kelompok batuan syn-rift berlangsung selama Trias-Jura diikuti oleh pemusatan termal pada
tepian Utara Benua Australia, mengakibatkan Kepala Burung menjadi terpisah dan bergerak
ke arah Utara. Pada cekungan sedimenasi ini diendapkan Formasi Tipuma. Selama fase syn-
rifting, terbentuk ketidakselarasan akibat pengangkatan selama Jura.
- Kelompok batuan transgersive berlangsung selama Kapur-Eosen, menghasilkan sedimentasi
Formasi Kembelangan dan Formasi Waripi. Ketidakselarasan terbentuk pada fase transgersive
pada Kapur Akhir menjelang pengendapan Formasi Waripi.
- Kelompok batuan drifitng berlangsung selama Eosen-Miosen Akhir dan diendapkan Formasi
Faumai, Formasi Sirga, Formasi Klamogun, dan Formasi Kais.
2. Sikuen syn-collision berlangsung Miosen Akhir-Pliosen menghasilkan Formasi Klasafet.
3. Sikuen post-collision berlangsung selama Pliosen menghasilkan Formasi Klsaman.
b. Cekungan Bintuni
Berdasarkan stratigrafi Cekungan Bintuni, dapat dibagi evolusi cekungn Bituni dalam
beberapa tahapan yaitu :
1. Tahapan Pemisahan Gondwana dan Asia
Tahapan pemisahan Gondwana dan Asia berlangsung pada umur Paleozoikum Akhir,
dibagi menjadi 3 periode pengendapan pre-rift, syn-rift, post-rift.
a. Pre- Rift(Paleozoikum)
Batuan dasar dari daerah Kerak Benua terdiri dari sedimen pada umur Silur–Devon
yang kemudian terlipat dan mengalami metamorfisme. Kegiatan sedimen ini terus berlangsung
sampai umur Karbon-Permian diendapkan Kelompok Aifam yang terdiri dari 3 formasi dari
tua–muda yaitu Formasi Aimau, Aifat dan Ainin. Kelompok ini tersebar luas pada bagian
Kerak Benua, tetapi tidak terlihat dipengaruhi oleh metamorfisme melainkan lebih
terdeformasi. Pada bagian Tubuh Burung Kelompok Aifam ini setara dengan Formasi Aiduna
yang berumur Karbon Akhir-Permian. Kelompok Aifam ini dapat dikelompokan dalam tahap 10
Pre-riftingyakni proses pengendapan yang tejadi sebelum tahap tektonik (rifting) pada masa
Mezosoikum.
b. Syn-Rift(Mezosoikum)

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Pada Triasik, di daerah kerak benua ditemukan adanya red–beds yang menandakan
sebagian area terekspos atau terangkat ke permukaaan sehingga mengalami oksidasi pada
lingkungan yang kering. Sebagian daerah yang terangkat ini mengakibatkan Cekungan Bintuni
mengalami ketidakselarasan (unconformity) antara Permian Akhir dengan Jurasik, dengan
demikian selama umur Triasik Cekungan Bintuni tidak terjadi proses sedimentasi (Perkins &
Livesey, 1993). Sementara pada beberapa bagian, terendapkan Formasi Tipuma pada umur
Triasik Awal–Akhir. Periode riftingitu sendiri dimulai pada umur Jurasik, sedangkan Formasi
Tipuma berumur Triasik Awal–Akhir, jadi dapat disimpulkan bahwa endapan ini merupakan
endapan pertama pada periode rifting. Rifting pada bagian utara diperkirakan dibatasi oleh
batas yang kompleks berupa Palung New Guinea, Fold Belt Papua dan Sorong Koor Suture.
Sementara rifting yang terjadi pada bagian baratlaut dapat diperkirakan dibatasi oleh Timor
Trough hingga Aru Trough.
c. Post-Rift/ Passive Margin (Mesozoikum)
Pada umur Jurasik Tengah-Akhir terjadi suatu proses transgresi. Pada proses ini
diendapkan Kelompok Kambelangan Bawah yang berumur Jurasik Awal–Akhir. Disamping
itu, pada umur Jurasik merupakan tahapan post–rift / passive margin hal ini ditandai dengan
adanya seafloor spreadingpada umur Jurasik, hingga terpecahnya Kontinental Australia pada
bagian timurlaut menjadi lempeng-lempeng kontinen berukuran kecil (mikro kontinen). Pada
masa ini bagian timurlaut Kontinen Australia masih bertindak sebagai passive margin.
Kelompok Kambelangan Bawah yang menindih secara tidak selaras sekuen rift(syn-rift) yakni
Formasi Tipuma. Kemudian terjadi proses pengangkatan yang terjadi sepanjang zaman Kapur
Awal membentuk apa yang dikenal dengan intra–cretaceous uncorformity (Perkins
danLivsey,1993) sehingga tidak ada proses sedimen pada Kapur Awal pada Cekungan Bintuni.
Pada umur Kapur Akhir diperkiran terjadi proses extensional rift, sehingga memisahkan
Kepala Burung dengan wilayah Kontinental Australia. Dengan adanya aktivitas ini Formasi
Tipuma dan Kelompok Kembelangan mengalami pengangkatan sehingga menghasilkan
erosional pada sedimen yang lebih tua atau malah tidak terjadinya proses pengendapan.
Kelompok ini diendapakan hingga terjadi pengurangan suplai sedimen pada umur Kapur Akhir
sehingga memberikan jalan untuk berkembangnya batuan karbonat (Batugamping New
Guinea) pada umur Eosen–Miosen Akhir. Catatan Batugamping New Guinea terdiri atas: (1)
Formasi Waripi (Paleosen), (2) Formasi Faumai (Eosen-Oligosen), (3) Formasi Sirga (Miosen 11
Awal), (3) Formasi Kais (Miosen Tengah).
2. Tahap Tumbukan Lempeng Australia dengan Pasifik (Kenozoikum)

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Pada umur Kenozoikum adalah waktu tektonik aktif di daerah Kepala Burung, sehingga
membentuk geografi, struktur geologi dan stratigrafi KB. Pada Kenozoikum Awal (Paleosen–
Eosen), kemungkinan bahwa Lempeng KB menjadi terlepas dari Lempeng Australia–New
Guinea. Pada umur Eosen-Oligosen ditandai oleh kemunculan batuan transgresi karbonat
Formasi Faumai. Sebuah ketidakselarasan muncul pada kolom stratigrafi dari lapangan
Wariagar, Bintuni yang berumur Oligosen Akhir. Ketidakselarasan menandakan terjadinya
peristiwa kompresi, yang membagi Formasi Faumai dengan Formasi di atasnya (Formasi Sirga
dan Kais). Fase kompresi ini terjadi akibat adanya tumbukan antara Lempeng Australia dengan
Lempeng Pasifik pada umur Eosen. Pada umur Eosen Akhir Lempeng Australia bergerak ke
arah utara dan menyusup sebagai subduksi terhadap Kerak Samudra dari Lempeng Pasifik dan
kemudian membentuk busur-busur kepulauan (island arc). Kompresi ini mengakibatkan
pembentukan antiklin yang berarah NW-SE dan merupakan pusat berkembangnya kelompok
BNG dalam Cekungan Bintuni. Proses subduksi ini terus berlanjut ke arah utara hingga
akhirnya kerak samudera dari Lempeng Australia termakan habis (overriding plate) oleh
Lempeng Samudra Pasifik. Proses ini berlanjut terus hingga terjadinya tumbukan (collision)
pada umur Oligosen antara Lempeng Australia dan busur kepulauan Samudera Pasifik.
3. Tahap Pembalikan Zona Subduksi (Neogen)
Pada Neogen telah terjadi pembalikan arah subduksi. Pada mulanya Lempeng Australia
menunjam ke dalam Lempeng Pasifik ke arah utara, tetapi setelah terjadi tumbukan terjadi
perubahan arah subduksi, dimana Lempeng Pasifik menunjam ke dalam Lempeng Australia ke
arah selatan yang kini dikenal sebagai Palung New Guinea. Berdasarkan tektonik Kepala
Burung, umur penunjaman Palung New Guinea ke arah selatan ini berumur Miosen. Hal ini
diperkuat oleh kemunculan pertama sedimen klastik tebal setelah pengendapan BNG Formasi
Kais, formasi silisiklastik ini dikenal dengan Formasi Klasafet. Tahap tektonik tumbukan umur
ini menghasilkan New Guinea Mobile Belt dan Lengguru Fold Belt, sesar–sesar aktif (Sesar
Sorong, Terera dan sebagainya) dan cekungan–cekungan forelandseperti Cekungan Salawati
dan Cekungan Bintuni di wilayah Kepala Burung. Pada Miosen Akhir–Pleistosen diendapkan
sedimen klastik, disebut dengan Formasi Steenkool. Rangkaian formasi ini merupakan tudung
(seal) dari Formasi Kais yang merupakan batugamping reservoir. Kemudian terjadi penurunan
cekungan, sedimentasi yang cepat dengan kedalaman yang sangat dalam sehingga baik untuk
“Kitchen area“ sebagai syarat pembentukan hidrokarbon dari Permian Akhir–Awal Jurasik 12
yang sebelumnya telah terendapkan pada Cekungan Bintuni.

Bab 4. Sumber Daya Geologi

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Setiap daerah akan memiliki potensi sesumber maupun bencana geologi khusus sesuai
dengan kondisi geologi daerah tersebut. Dalam hal ini, lempeng kepala burung yang
mempunyai kondisi geologi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, juga memiliki berbagai
potensi sesumber geologi yang telah dimanfaatkan maupun belum dieksplorasi. Adanya
potensi tersebut tidak terlepas dari semua proses geologi yang berperan membentuk kondisi
geologi daerah. Beberapa contoh potensi sesumber tersebut antara lain berupa sumber daya
energi, sumber daya mineral, dan sumber daya air tanah.
4.1. Sumber Daya Energi
Terdapat beberapa potensi sumber daya energi untuk kawasan kepala burung, meliputi
potensi hidrokarbon dan potensi batubara. Di antara kedua potensi energi tersebut, potensi
hidrokarbon lebih banyak dieksplorasi dan telah menjadi salah satu penghasil minyak bumi
terbesar di kawasan Papua. Selain berupa minyak bumi, juga terdapat potensi gas alam sebagai
potensi hidrokarbon. Selain hidrokarbon, kawasan Papua bagian Barat juga banyak mempunyai
potensi batubara yang cukup signifikan.
4.1.1. Potensi Hidrokarbon
Potensi minyak dan gas bumi di Papua bagian Barat meliputi beberapa lokasi, seperti
yang ditunjukkan oleh peta berikut.

Gambar 4.7. peta persebaran potensi hidrokarbon di papua


Dalam hal ini, daerah kepala burung mempunyai dua cekungan besar yakni cekungan
Salawati dan Bintuni yang merupakan lokasi potensial produksi hidrokarbon. Kedua cekungan
13
ini memiliki tatanan geologi sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan minyak bumi
untuk dieksplorasi lebih lanjut. Berikut ini adalah pembahasan masing-masing cekungan secara
lebih detail.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Cekungan Bintuni merupakan cekungan dengan luas ±30.000 km2 yang cenderung
berarah utara–selatan dengan umur Tersier Akhir yang berkembang pesat selama proses
pengangkat LFB ke timur dan Blok Kemum dari sebelah utara. Cekunganini di sebelah timur
berbatasan dengan Sesar Arguni, di depannya terdapat LFB yang terdiri dari batuan klastik
berumur Mesozoik dan batugamping berumur Tersier yang mengalami perlipatan dan
tersesarkan. Di sebelah barat cekungan ini ditandai dengan adanya tinggian struktural, yaitu
Pegunungan Sekak yang meluas sampai ke utara, di sebelah utara terdapat Dataran Tinggi
Ayamaru yang memisahkan Cekungan Bintuni dengan Cekungan Salawati yang memproduksi
minyak bumi. Di sebelah selatan, Cekungan Bintuni dibatasi oleh Sesar Tarera–Aiduna, sesar
ini paralel dengan Sesar Sorong yang terletak di sebelah utara KB. Kedua sesar ini merupakan
sesar utama di daerah Papua Barat. Berikut ini adalah ilustrasi cekungan bintuni di kawasan
Kepala Burung.

Gambar 4.4. Peta Geologi Regional Kepala Burung (KB). (Dumex, dkk 2007, BP Indonesia)
Cekungan Bintuni, tersusun oleh beberapa komponen yang membentuk sistem
petroleum meliputi batuan induk, reservoar, migration time, perangkap, dan seal atau penutup.
a. Batuan Induk (source rock)
Pada Cekungan Bintuni batuan reservoar adalah batugamping pada Formasi Kais berumur
Miosen Tengah. Batuan induk ini juga dapat berasal dari batuan yang berumur lebih tua atau
Pra-Tersier. Batugamping ini mengandung material organik yang mampu menghasilkan
hidrokarbon. 14
b. Batuan Reservoar (Reservoir Rock)

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |


Batuan reservoar pada Cekungan Bintuni yaitu batugamping pada Formasi Kais berumur
Miosen Tengah. Batugamping ini berfungsi sebagai reservoar karena memiliki pori-pori yang
baik. Sehingga minyak yg bersumber dari batuan induk dapat terperangkap dan terakumulasi
pada batugamping ini.
c. Migrasi
Migrasi hidrokarbon, merupakan proses perpindahan hidrokarbon dari lapisan
induk menuju ke lapisan resevoar untuk dikonsentrasikan didalamnya. Untuk arah
migrasi yaitu dari cekungan menuju ke perangkap yaitu suatu perangkap antiklin.
Migrasi tersebut melewati suatu adanya sesar normal yang terbentuk pada daerah Bintuni.
d. Perangkap (Trap)
Perangkap pada Cekungan Bintuni berupa perangkap struktur yaitu antiklin yang berumur lebih
muda dari batuan reservoir diperkirakan berumur Miosen Akhir-pliosen Awal.
e. Batuan Penutup
Batuan penutup adalah suatu batuan sedimen yang kedap air sehingga hidrokarbon yang
ada dalam reservoar tidak dapat keluar lagi. Untuk batuan penutup pada Cekungan Bintuni
berupa serpih pada Formasi Klasafet berumur Miosen Akhir.

Selain potensi minyak bumi, di kawasan Kepala Burung ini juga menghasilkan gas alam
sebagai produk lain. Sebagai contoh adalah di Cekungan Salawati dengan batuan sumber
(Source rock) berupa batulempung Klasafet.
Anggota Formasi Klasafet ini (yang telah matang / dewasa) ditemukan pada bagian
cekungan yang dalam. Jika jenis litologi ini menghasilkan hidrokarbon cair (liquid), maka
hidrokarbon tersebut akan segera berubah menjadi wujud gas. Hal ini dikarenakan hanya gas
dan minyak dengan nilai gravitasi tinggilah yang dapat diharapkan untuk diproduksi oleh
daerah eksplorasi dengan hanya Formasi Klasafet sebagai batuan sumbernya. Sebalikanya,
minyak bumi yang dihasilkan Cekungan Salawati memiliki nilai gravitasi (GOR) yang rendah.
Gas yang dihasilkan dapat diabaikan, yang tidak mendukung Formasi Klasafet sebagai batuan
sumber hidrokarbon utama. Lapangan yang menghasilkan gas bumi (Philips, dalam Phoa &
Samuel, 1986) terletak di Pulau Salawati dan di bagian utara Cekungan Salawati. Dalam hal
ini, studi geokimia dan gas chromatograph saat ini masih menunjukkan bahwa sumber utama
gas dan minyak bumi tersebut berada di bagian selatan cekungan. 15

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |