Praktikum ke-12 Hari/Tanggal : Selasa/25 Mei 2010 MK. Sosiologi Umum (KPM 130) Ruang : RK.

8 AGR 307 Topik Praktikum: Analisis Pola Adaptasi Ekologi Bahan Bacaan : PERUBAHAN EKOLOGI PERTANIAN: DARI REVOLUSI HIJAU KE SYSTEM OF INTENSIFICATION Oleh : Rina Mardiana dan Soeryo Adiwibowo Praktikan : Rosanna/F24090076 Asisten Praktikum : Ma’rifatu Rodiah/I34070089

Ikhtisar Bacaan I Sejak 1960an kebijakan pertanian yang dilancarkan pemerintah lebih mengarah pada intensifikasi sistem pertanian pangan. Dalam hal ini, Revolusi Hijau adalah contoh kasus yang sering dibahas dan dikritik oleh banyak kalangan. Fokus utama Revolusi Hijau adalah tanaman padi. Hal ini berarti pemerintah telah mengasumsikan bahwa semua orang Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Pada tahun 1984, pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia telah berhasil melakukan swasembada beras. Namun, prestasi ini tidak berhasil dipertahankan. Revolusi Hijau mampu mencapai tujuan makro, namun pada tingkat mikro telah menimbulkan berbagai masalah, yakni dari aspek ekologis, sosialekonomi dan budaya. Pola Revolusi Hijau juga terjadi di bidang perikanan, yakni Revolusi Biru berupa monokulturisme pada udang. Ada dua hal penting berkaitan dengan intensifikasi dan monokultur budidaya ini. Pertama, penggunaan pestisida kimia secara terus menerus dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi (kekebalan) dan resurjensi (kemunculan kembali) hama. Kedua, penggunaan satu varietas saja dalam satu sektor pertanian membuat sistem pertanian rentan, karena bila terserang hama, maka seluruh lading, sawah, tambak dan kebun akan mengalami gagal panen. Hal di atas menyiratkan bahwa salah satu faktor krisis pertanian adalah penyeragaman jenis pangan pokok di seluruh Indonesia, yaitu beras.

Hal ini terjadi karena pembangunan pertanian gagal dikaitkan dengan pengembangan kesejahteraan petani melalui pembangunan desa yang rata dan adil. pemerintah justru mencetak sawah baru di luar Jawa di mana prasarana irigasi belum tersedia dengan baik dan aeral tanah berada pada tingkat kesuburan rendah. Akibatnya. Jumlah pemakaian benih dengan metode SRI sebanyak lima hingga sepuluh kali lipat lebih sedikit. di mana sebagian besar lahan yang dikonversi tersebut merupakan lahan sawah yang beririgasi teknis dan sebagian besar berada di pulau Jawa yang memiliki produktivitas padi tertinggi karena prasarana irigasinya yang baik. Kebijakan praktek ini mengarah pada erosi plasma nutfah pertanian dan pengetahuan tradisional petani mengenai sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Kualitas sumberdaya manusia petani (dan nelayan) adalah yang terendah. baik dari segi pendidikan maupun kesehatan. dan serangan hama penyakit menjadi berkurang. Ditengah kerugian tersebut. Generasi muda yang mau menjadi petani semakin sedikit.Sistem pertanian lokal diabaikan. Sri merupakan sebua teknologi berkelanjutan yang menguntungkan petani karena memberikan hasil produksi lebih tinggi. Jadi. kumuh dan tidak berkembang muncul sebagai resultante dari kegagalan pembangunan dalam mengangkat tingkat sosial ekonomi masyarakat petani. orang Biboki mau tidak mau harus beradaptasi pada aspek . Pada tahun 2004. semakin banyak petani di Indonesia yang menerapkan SRI. Salah satu teknik pertanian yang merupakan hasil pengembangan dari pengetahuan tentang proses ekologis adalah Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification-SRI) yang dikembangkan dari Madagaskar. buta huruf. Teknologi pertanian yang dihasilkan lembaga-lembaga penelitian yang dapat dilakukan oleh petani sangat sedikit. Ikhtisar Bacaan II Wilayah Biboki merupakan daerah sabana yaitu padang rumput yang luas dikelilingi belukar yang tidak begitu lebat. citra petani sebagai golongan yang miskin. Konversi lahan merupakan masalah yang mendasar. sinar matahari dapat masuk dengan leluasa di sela-sela tanaman. Teknik yang digunakan dalam SRI adalah dengan memperbesar jarak tanam sehingga penyerapan unsure hara oleh akar merata kepada seluruh tanaman. secara internasional dan nasional dideklarasikan sebagai tahun beras. seluruh perangkat kebijakan dan insentif ekonomi di bidang pertanian diarahkan pada pertanian intensif dan monokultur.

Ada raja dalam masyarakat Biboki yaitu Usi Koko/Nero Biboki yang dikenal sebagai si Atupus.pertanian. kearifan ekologi dalam penelitian ini dinilai sebagai tindakan orang Biboki dalam upaya melangsungkan kehidupannya. Penelitian ini jatuh pada Desa Tautpah. Mereka beranggapan tanah dihuni roh baik dan roh jahat. Pengetahuan tanaman dalam pertanian sangat diperlukan. Langit diibaratkan sebagai bapak. Bumi diyakini sebagai ahatafatis (yang memberi makan dan yang memelihara). Jadi. Menurut Steenis. Raja tidak boleh meperlihatkan diri kepada rakyatnya. manusia lah yang membuat hutan menjadi daerah tanpa pohon. Penelitian dilakukan secara kualitatif dan etnografi. Reaksi yang diterima manusia dari alam kadang muncul dalam bentuk bencana alam. lama kelamaan ladang berpindah tidak lagi berfungsi mengembalikan kesuburan tanah. orang Biboki berporos pada pengolahan tanah pertanian sawah atau ladang. Karena itu. Adanya perubahan ekologi di wilayah Biboki adalah akibat dari perbuatan orang Biboki sendiri. Tanah dianggap ibu oleh orang Biboki yang senantiasa memberikan kesuburan bagi tanaman petani. kesejahteraan yang mereka peroleh adalah peranan raja. Kearifan ekologi dikaji melalui aspek pengetahuan orang Biboki yang sederhana. Selain itu. Pengetahuan mengenai alam sekitar tercakup terhadap pergantian dua musim yang ada yaitu faknatsa dan oefata. pemilihan lahan yang baik sangat diperlukan oleh orang Biboki untuk mendiriki rumah. tidak lagi mempertahankan keseimbangan ekologi. Penelitian ini juga diharap dapat memberi sumbangan informasi bagi para penentu kebijakan demi terpeliharanya lingkungan. Masuknya Belanda membawa masuk juga sapi bali yang menyebabkan punahnya populasi Kerbau di Timor. Mereka yakin kesuburan. berkembanglah pola pertanian baru yaitu perladangan dengan cara balik tanah dengan peralatan tradisional. Penelitian pada Desa Biboki ini bertujuan untuk mengungkap sistem pengetahuan lokal mengenai hal yang memiliki hubungan dengan lingkungan pertanian yang mereka kenal. Orang Biboki juga percaya . Alam dan lingkungan menderita kerugian ironis. Tetapi. Hal ini merupakan kearifan ekologis dan adaptasi ekologis karena secara tidak langsung membantu memperbaiki kesuburan tanah. Sebagai orang yang sebagian besar bermatapercaharian petani. Kekhasan pertanian orang Biboki adalah ladang berpindah. sabana menjadi stepa dan padang rumput menjadi padang pasir. Orang Biboki memiliki penget ahuan mengenai tanah.

Jadi. Rumput ilalang dicabut penduduk saat belum terlalu kering dan diikat berbekas bekas. dengan tetap memakai ladang berpindah. dapat dilihat dari upacara yang sacral. Mereka yakin bahwa keadaan lingkungan masih layak huni. larangan membuka hutan dan larangan menggembalakan ternak secara bebas. orang Biboki memiliki pola perilaku yang berbeda karena mereka memiliki pemahaman yang berbeda dengan pemerintah mengenai lingkungan. Mereka percaya pada makhluk halus. . hutan dan air perlu dijaga agar memberikan hasil yang memadai jika diolah.pada mitos. maka mereka berupaya untuk menjaga ekosistem. Pemerintah mengeluarkan program relokasi pemukiman penduduk dan larangan-larangan seperti larangan berburu. Bagi pemerintah tanah yang masih banyak belukar atau hutannya berguna untuk menjaga kesuburan tanah dan tempat berlindung margasatwa namun bagi orang Biboki selama tanah masih menumbuhkan tanahman yang sehat. Hutan sabana yang sudah gundul diupayakan oleh orang Biboki dengan toi (membalik) tanah. selama masih memberikan rezeki pada mereka. Karena mereka yakin bahwa pelanggaran menimbulkan malapetaka bagi yang melanggar. himbauan untuk melestarikan alam gagal ditanggapi oleh orang Biboki. Penelitian ini dapat ditarik informasi bahwa lingkungan alam seperti tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful