You are on page 1of 20

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Adapun percobaan ini dilakukan di Lahan Kesuburan Tanah dan

Laboratorium Kesuburan Tanah, Program Studi Agroteknologi, Fakultas

Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m

dpl. Pelaksanaan percobaan ini dilakukan atau dimulai pada tanggal 15 Oktober

2018 sampai dengan 12 Desember 2018.

Alat dan Bahan Percobaan

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk

mencangkul tanah, gembor untuk menyiram air, ayakan pasir untuk mengayak

tanah, timbangan sebagai alat untuk menimbang berat sampel tanah dan pupuk,

oven sebagai alat untuk mengeringkan tanah, cawan untuk tempat contoh tanah,

kalkulator sebagai alat hitung persentase berat tanah kering dan kebutuhan pupuk,

ember sebagai tempat untuk merendam benih, penggaris/meteran sebagai alat

ukur panjang tanaman, jangka sorong sebagai alat ukur diameter batang, spidol

untuk menandai polybag, plank sebagai penada plot, pacak untuk tiang spanduk,

spanduk untuk memagari lahan, kamera sebagai alat dokumentasi, dan alat tulis

untuk menulis data.

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih jagung

(Zea mays L.) bersertifikat sebagai bahan tanam, tanah Ultisol Tanjung Morawa

sebagai media tanam, pupuk Urea, SP-36, KCl, CaCO 3 dan Kieserit sebagai

pupuk kriteria, polybag sebagai tempat tanah, air untuk menyiram tanaman, goni

sebagai tempat tanah, batu bata sebagai alas polybag, karet untuk mengikat,

kantong plastik untuk tempat contoh tanah, plastik transparan sebagai tempat
pupuk, kertas label dan stik es sebagai penanda untuk setiap perlakuan, dan kertas

amplop untuk mengisi tajuk dan akar tanaman.

Metode Percobaan

Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah secara sederhana

yaitu Metode Substraksi (Missing Element Technic). Dalam metode ini

menggunakan tanaman indikator dimana satu polybag diberikan unsur hara yang

lengkap. Selanjutnya pada polybag lain diberi pupuk dengan mengurangi satu atau

dua unsur hara, dan ada yang tanpa diberi pupuk. Tanaman di panen pada akhir

masa vegetatif dengan cara memotong bagian tajuk tanaman mulai dari batas

permukaan tanah. Selanjutnya dilakukan pengambilan seluruh akar tanaman

indikator dari dalam pot percobaan. Penetapan berat kering tanaman baik bagian

tajuk maupun bagian akar dilakukan setelah tanaman di ovenkan selama 2 hari.

Berdasarkan metode ini, diperoleh informasi mengenai unsur hara apa

yang kahat, kekahatan unsur hara apa yang relatif penting dan besarnya penurunan

tingkat kesuburan tanah.

Tabel 1. Perlakuan Percobaan


No. Perlakuan Unsur Hara
1 Kontrol -
2 Lengkap N P K Ca Mg
3 -N P K Ca Mg
4 -P N K Ca Mg
5 -K N P Ca Mg
6 -Ca NPK
7 -Mg N P K Ca
8 -NP K Ca Mg
9 -NK P Ca Mg
10 -NPK Ca Mg
Ulangan :2

Total Polybag : 10 x 2 = 20 unit

Tabel 2. Jenis pupuk dan dosis perlakuan


Jumlah Pupuk
Jenis Pupuk Kadar Hara Dosis Perlakuan
(g/pot)
Urea 45% N 250 ppm N 2,22
SP-36 36% P2O5 150 ppm P 4,77
KCl 60% K2O 100 ppm K 0,96
CaCO3 47% CaO 50 ppm Ca 1,33
Kieserit 28% MgO 50 ppm Mg 4,3

Tabel 3. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan untuk setiap perlakuan
Urea SP-36 KCl CaCO3 Kieserit
No. Perlakuan (g/ 5 kg (g/ 5 kg (g/ 5 kg (g/ 5kg (g/ 5 kg
TKO) TKO) TKO) TKO) TKO)
1 Kontrol - - - - -
2 Lengkap 2,22 4,77 0,96 1,33 4,3
3 -N - 4,77 0,96 1,33 4,3
4 -P 2,22 - 0,96 1,33 4,3
5 -K 2,22 4,77 - 1,33 4,3
6 -Ca 2,22 4,77 0,96 - -
7 -Mg 2,22 4,77 0,96 1,33 4,3
8 -NP - - 0,96 1,33 4,3
9 -NK - 4,77 - 1,33 4,3
10 -NPK - - - 1,33 4,3

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Pengambilan Contoh Tanah Komposit

Tanah diambil secara komposit dari lahan yang cukup luas di Tanjung

Morawa. Satu contoh tanah komposit terdiri dari 20-30 contoh tanah individual

dapat mewakili tanah seluas 10-15 ha. Hal tersebut tergantung keadaan setempat.

Makin homogen keadaan daerahnya makin sedikit jumlah contoh tanah individual

yang diperlukan sebaliknya makin heterogen akan makin banyak. Agar diperoleh

contoh tanah yang mewakili maka pengambilan tanah komposit dilakukan secara

zig zag.
Pada setiap titik, tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm setelah terlebih

dahulu tumbuhan di atasnya dibersihkan. Lokasi pengambilan contoh tanah tidak

boleh di tepi jalan raya, dekat rumah, bekas timbunan dan bekas tumpukan

sampah. Bahan tanah yang diambil dari setiap titik dicampurkan secara merata

dan ditempatkan pada wadah atau karung yang bersih (bukan karung bekas pupuk

dan pestisida).

Penanganan Contoh Tanah

Contoh tanah yang telah diambil harus segera dikering udarakan dengan

cara menganginkannya (jangan dijemur dibawah cahaya matahari). Bila telah

kering maka dilakukan pengayakan dengan ayakan 8 mesh (ayakan pasir). Karena

perhitungan kebutuhan pupuk didasarkan atas satuan ppm dan berat tanah dalam

satuan berat kering mutlak, maka perlu dihitung kadar airnya. Untuk itu diambil

sedikit contoh tanah dan dihitung kadar airnya di laboratorium. Tanah yang telah

kering udara (KA < 10%) dimasukkan ke pot (polybag) setara dengan 5 kg berat

kering mutlak/pot, yaitu dengan menggunakan rumus:

BTKU = BTKO + (%KA x BTKO)

BTKU : Berat tanah kering udara


BTKO : Berat tanah kering oven
%KA : Persen kadar air tanah
Vair = (%KL - %KA) x BTKO
Vair : Volume air penyiraman

Persiapan Lahan

Adapun yang dilakukan dalam persiapan lahan adalah pembersihan gulma,

pembuatan paret (aliran drainase) dengan ukuran 30 cm dan kedalaman 15 cm,

pembuatan plot dengan ukuran panjang 10 m dan lebar 1 m.

Persiapan Media Tanam

Tanah yang telah diambil harus segera dikering udarakan dengan cara

menganginkannya (jangan dijemur dibawah cahaya matahari). Bila telah kering

maka dilakukan pengayakan dengan ayakan 8 mesh (ayakan pasir), setelah itu

tanah yang telah diayakan dimasukkan ke dalam polybag (ukuran 5 kg) sebanyak

5 kg.

Penanaman Tanaman Indikator

Adapun benih yang digunakan pada praktikum ini adalah benih jagung.

Benih tanaman jagung indikator ditanam tepat di tengah polybag sebanyak 2-3

biji pada kedalaman 2-3 cm. Benih tanaman jagung direndam dalam aqua cap

yang telah terisi air dengan waktu 5 menit.

Pemupukan

Aplikasi pupuk dilakukan sesuai dengan perlakuan dan dosis dari masing-

masing pupuk. Pada saat tanam, seluruh dosis pupuk ditaburkan secara merata di

permukaan tanah dan kemudian diaduk sedikit agar tertimbun tanah.

Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman
Adapun kegiatan penyiraman dilakukan setiap hari. Apabila turun hujan

tanaman tidak perlu disiram pada hari itu, karena tanaman sudah cukup air dan

tidak perlu lagi dilakukan penyiraman.

Penyisipan

Penyisipan dilakukan 3 minggu setelah tanam dan penyisipan dilakukan

pada tanaman yang mati saja, penyisipan diambil dari tanaman yang lebih dari

polybag penyisipan tanaman jagung.

Penjarangan

Penjarangan tanaman dilakukan 3 minggu setelah tanam, penjarangan

tanaman dilakukan menggunakan gunting pada tanaman yang tumbuh di dalam

polybag terdapat 2 tanaman atau lebih, agar tanaman dapat tumbuh dengan

optimal.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada setiap saat kegiatan praktikum dilaksanakan

secara teratur, penyiangan dilakukan seminggu sekali di lahan dengan

membersihkan gulma pada polybag dengan cara mencabut.

Panen

Panen dilakukan pada saat akhir masa vegetatif yang ditandai dengan

munculnya bunga, kemudian dilakukan dengan cara memotong bagian tajuk

tanaman mulai dari batas permukaan tanah.

Parameter Pengamatan

Tinggi Tanaman (cm)


Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur tinggi tanaman dimulai

dari 2 MST, diukur mulai dari dasar batang di permukaan tanah hingga sampai

titik tumbuh tanaman jagung menggunakan rol (penggaris) dengan cara daun

tanaman di kuncupkan dari bawah ke atas hingga didapat daun tanaman yang

paling tinggi.

Agar tidak terjadi perubahan dasar pengukuran akibat pertumbuhan maka

kita buat patok berupa stik eskrim yang ditanamkan dekat pada batang dan diberi

tanda awal pengukuran

Jumlah Daun (Helai)

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur jumlah daun tanaman

jagung dengan cara menghitung jumlah daun yang sudah seutuhnya membuka

maka daun jagung sudah bisa dihitung dimulai 2 MST dan diamati setiap minggu.

Diameter Batang (mm)

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur diameter batang adalah

2 MST menggunakan jangka sorong yang diukur pada bagian batang bawah

tanaman jagung dan diamati setiap minggu.

Gejala Defesiensi

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam melihat gejala defisiensi pada

tanaman jagung diperhatikan setiap saat praktikum, tanaman dilihat gejala

defisiensi dimulai dari tanaman yang sudah tumbuh dan muncul daun dan dilihat

tanaman mengalami gejala kekurangan air atau kekurangan pupuk (N, P, K, Ca,

Mg).

Berat Kering Tajuk (gram)


Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur berat kering tajuk

adalah pada umur 7 MST dilakukan pemotongan bagian atas tanaman pada

pangkal batang menggunakan gunting, kemudian tajuk dimasukkan ke dalam

amplop yang telah diberi lobang dan label sesuai dengan perlakuan, selanjutnya

dikeringkan oven pada temperatur 700C selama lebih kurang 2 malam hingga

beratnya konstan lalu ditimbang.

Berat Kering Akar (gram)

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur berat kering akar

adalah pada awal setelah batang dipotong, maka akar yang tinggal di dalam tanah

dikeluarkan dengan cara mencuci tanah dengan air dalam wadah hingga akar

terlepas, kemudian dicuci bersih, kemudian akar dimasukkan ke dalam amplop

yang telah diberi lobang dan label sesuai dengan perlakuan, selanjutnya

dikeringkan oven pada temperatur 700C selama kurang lebih 2 malam hingga

beratnya konstan lalu ditimbang.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Tinggi Tanaman

Adapun percobaan yang dilakukan didapati data tinggi tanaman sesuai

dengan berikut :

Tabel 4. Tinggi Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Ulangan 1


Perlakuan
MST
Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -NPK
2 33 35 33 30 30.5 30.2 31 31 33 30
3 48 45 47 40 40 35 45.5 59.5 45 40.5
4 66.8 53.7 54,7 85.3 48.7 38 68 74,5 53.3 66.5
5 90.4 70.6 80.6 90.4 80 79 91.8 105.6 86 99.2
6 98 99.5 106.2 110.2 98.7 100.5 103.5 121 102.5 111.5
7 99 110 122 126.5 118 121.1 130 131 111.3 116.1
Total 435.2 413.8 388.8 482.4 415.9 403.8 469.8 448.1 431.1 463.8
Rataan 72.5 69.0 77.8 80.4 69.3 67.3 78.3 89.6 71.9 77.3

Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data tertinggi tinggi

tanaman yaitu pada perlakuan -NP dengan rata-rata 89,6 cm dan data terendah

tinggi tanaman yaitu pada perlakuan -Ca dengan rata-rata yaitu 67,3 cm.

Tabel 5. Tinggi Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Ulangan 2


Perlakuan
MST
Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -NPK
2 33 27 35.5 32 28 23.5 30 33 29.3 26.5
3 50 28 42.5 62.5 43.5 31 39 55 39.5 40
4 65.7 29.4 58.3 89.1 56.3 35.8 46.3 63.5 57.8 60
5 90.5 30.5 100.3 109 83.5 53 87 99 85.5 90
6 100 42.5 115.4 118.4 99 66.3 108.2 105.7 102.3 105
7 100 58.5 120.5 120 118.5 79 121 121.7 111.2 113.3
Total 439.2 215.9 472.5 531 428.8 288.6 431.5 477.9 425.6 434.8
Rataan 73.2 36.0 78.8 88.5 71.5 48.1 71.9 79.7 70.9 72.5

Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data tertinggi tinggi

tanaman yaitu pada perlakuan -P dengan rata-rata 88,5 cm dan data terendah

tinggi tanaman yaitu pada perlakuan lengkap dengan rata-rata yaitu 36 cm.

Jumlah daun
Adapun percobaan yang dilakukan didapati data jumlah daun tanaman

sesuai dengan berikut :

Tabel 6. Jumlah Daun Jagung (Zea mays L.) pada Ulangan 1


Perlakuan
MST
Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -NPK
2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4
3 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4
4 5 4 3 4 4 3 4 5 4 4
5 5 5 5 6 5 5 6 7 5 6
6 4 6 6 8 7 6 7 6 6 7
7 5 7 7 7 7 5 7 6 4 5
Total 26 28 27 32 29 25 31 31 25 30
Rataan 4.3 4.7 4.5 5.3 4.8 4.2 5.2 5.2 4.2 5.0

Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data tertinggi jumlah daun

yaitu pada perlakuan -P dengan rataan 5,3 helai dan data terendah jumlah daun yaitu

pada perlakuan -Ca dan -NK dengan rataan yaitu 4,2 helai.
Perlakuan
MST
Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -NPK
2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4
3 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4
4 5 3 4 5 4 3 4 5 4 3
5 5 2 6 6 6 4 6 7 6 5
6 5 4 6 5 7 5 7 6 6 6
7 5 5 6 5 7 6 6 5 4 5
Total 27 20 29 28 30 24 30 30 27 27
Rataan 4.5 3.3 4.8 4.7 5.0 4.0 5.0 5.0 4.5 4.5
Tabel 7. Jumlah Daun Jagung (Zea mays L.) pada Ulangan 2

Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data tertinggi jumlah

daun yaitu pada perlakuan -K, -Mg, -NP dengan rataan 5 helai dan data terendah

jumlah daun yaitu pada perlakuan lengkap dengan rataan yaitu 3,3 helai.

Diameter Batang

Adapun percobaan yang dilakukan didapati data diameter batang sesuai

dengan berikut :

Tabel 8. Diameter Batang Jagung (Zea mays L.) pada Ulangan 1


Perlakuan
MST
Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -NPK
2 0,75 0,35 0,35 0,55 0,55 0,35 0,55 0,35 0,75 0,55
3 0,76 0,45 0,65 0,55 0,62 0,55 0,60 0,75 0,78 0,75
4 0,77 0,60 0,77 0,55 0,75 0,62 0,75 1 0,82 1
5 0,80 0,75 0,81 0,60 0,81 0,67 0,80 1,30 0,87 1,25
6 1,35 0,85 1,4 1,85 1,35 0,8 1,4 1,4 1,25 1,65
7 1,37 0,90 1,6 1,86 1,37 0,9 1,6 1,6 1,26 1,66
Total 5.8 3.9 5.58 5.96 5.45 3.89 5,7 6,4 5,73 6,86
Rataan 1.0 0.7 0.9 1.0 0.9 0.6 0,95 1,06 0,95 1,14

Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data tertinggi diameter

batang yaitu pada perlakuan -NP dengan rataan 1,06 cm dan data terendah jumlah

daun yaitu pada perlakuan lengkap dengan rataan yaitu 0,7 cm.
Tabel 9. Diameter Batang Jagung (Zea mays L.) pada Ulangan 2
Perlakuan
MST
Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -NPK
2 0,55 0,55 0,35 0,5 0,35 0,35 0,75 0,55 0,55 0,35
3 0,57 0,58 0,55 1 0,45 0,38 0,78 0,60 0,56 0,45
4 1 0,60 0,77 1,25 0,75 0,45 0,80 0,77 0,57 0,57
5 1,2 0,72 0,80 1,32 0,80 0,49 0,82 0,82 0,60 0,62
6 1,35 1,75 1,3 1,6 1,35 1,45 2,25 1,35 2 1,45
7 1,36 1,77 1,5 1,8 1,37 1,47 2,27 1,35 2,2 1,47
Total 6.03 5.97 5.27 7.47 5.07 4.59 7,67 5,44 6,48 4,91
Rataan 1.01 1.00 0.88 1.25 0.85 0.77 1,28 0,9 1,08 0,82

Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data tertinggi diameter

batang yaitu pada perlakuan -Mg dengan rataan 1,28 cm dan data terendah jumlah

daun yaitu pada perlakuan -Ca dengan rataan yaitu 0,77 cm.

Berat Kering Akar dan Tajuk Tanaman

Adapun percobaan yang dilakukan didapati data berat kering akar dan

tajuk tanaman sesuai dengan berikut:

Tabel 10. Berat Kering Akar dan Tajuk Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Tinggi
Gambar Berat Tajuk Berat akar
Perlakuan Tajuk
U1 U2 U1 U2 U1 U2 U1 U2

98 94 5,89 16,1 1,64 2,20


Kontrol
cm cm gr gr gr gr
116 78 29,85 6,37 2 1,15
Lengkap
cm cm gr gr gr gr

129 123 55,5 32,56 3,34 4,62


-N
cm cm gr gr gr gr

143 119 92,27 50,41 10,14 4,59


-P
cm cm gr gr gr gr

126 127 22,96 56,96 5 4,47


-K
cm cm gr gr gr gr
128 78 24,45 12,84 8,28 1,36
-Ca
cm cm gr gr gr gr

151 130 32,80 44,71 10,59 6,71


-Mg
cm cm gr gr gr gr

133 120 47,57 26,35 8,90 4,45


-NP
cm cm gr gr gr gr

113 117 23,54 41,89 3,99 13,24


-NK
cm cm gr gr gr gr
123 118 44,89 33,93 4,38 3,27
-NPK
cm cm gr gr gr gr

Tabel 11. Keterangan Gambar dan Gejala Defisiensi Unsur Hara


Gambar Gejala Defisiensi Hara
Perlakuan
U1 U2 U1 U2
- Batang kurus - Batang kurus
- Daun tua mengering - Terdapat bercak-
dan mati bercak putih di daun
Kontrol - Daun berwarna hijau - Daun tua mengering
kekuningan dan mati
- Daun berwarna hijau
kekuningan

- Batang kurus
- Daun tua mengering
- Daun menggulung
dan mati
- Daun tua mengering
- Daun berwarna hijau
dan mati
pucat
Lengkap - Daun berwarna hijau
- Pertumbuhan
pucat
tanaman sangat
- Terdapat bercak-
lambat
bercak putih di daun

- Batang kurus - Batang kurus


- Daun bagian bawah - Daun menggulung
menggulung - Terdapat bercak-
- Daun tua mengering bercak kuning di
-N dan mati daun
- Terdapat bercak- - Daun tua mengering
bercak putih di daun dan mati
- Batang kurus - Daun menggulung
- Daun menggulung - Tanaman layu
- Daun tua mengering - Daun tua mengering
dan mati dan mati
-P - Terdapat bercak- - Daun berwarna hijau
bercak putih di daun pucat
- Batang kurus

- Daun menggulung - Batang kurus


- Daun tua mengering - Daun menggulung
dan mati - Terdapat bercak-
- Batang kurus bercak kuning di
-K - Terdapat bercak- daun
bercak coklat di daun

- Daun tua mengering - Pertumbuhan sangat


dan mati lambat
- Batang kurus - Daun tua mengering
- Terdapat bercak- dan mati
bercak coklat di daun - Daun berwarna hijau
-Ca pucat
- Terdapat bercak-
bercak putih pada
daun

- Daun tua mengering - Daun tua mengering


dan mati dan mati
- Daun menggulung - Daun menggulung
-Mg - Batang kurus - Tanaman layu
- Terdapat bercak- - Batang kurus
bercak kuning di - Terdapat bercak-
daun bercak kuning di
daun
- Daun tua mengering - Daun tua mengering
dan mati dan mati
- Batang kurus - Batang kurus
- Daun berwarna hijau - Terdapat bercak-
-NP pucat bercak kuning di
- Terdapat bercak- daun
bercak kuning di
daun
- Daun tua mengering - Daun menggulung
dan mati - Batang kurus
- Daun berwarna hijau - Daun tua mengering
pucat dan mati
- Batang kurus - Daun berwarna hijau
-NK - Daun menggulung pucat
- Terdapat bercak-
bercak kuning di
daun

- Daun berwarna hijau - Daun menggulung


kekuningan - Daun tua mengering
- Daun tua mengering dan mati
-NPK dan mati - Batang kurus
- Batang kurus - Terdapat bercak-
- Terdapat bercak bercak coklat di daun
coklat di daun

Pembahasan

Dari hasil pengamatan 7 MST tinggi tanaman jagung (cm) diperoleh data

rataan tertinggi pada ulangan 1 terjadi pada perlakuan -NP dengan tinggi tanaman

89,6 cm dan rataan terendah pada ulangan 1 terjadi pada perlakuan -Ca dengan

tinggi tanaman 67,3 cm. Pada ulangan 2, tinggi tanaman tertinggi terjadi pada

perlakuan -P dengan tinggi tanaman 88,5 cm dan terendah pada perlakuan lengkap

yaitu 36 cm. Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa tanah

ultisol Tanjung Morawa merupakan jenis tanah yang kurang subur atau tanah yang

miskin unsur hara. Hal ini sesuai dengan literatur Amaliah (2014) yang

menyatakan bahwa umumnya Ultisol berwarna kuning kecoklatan hingga merah,

terbentuk dari bahan induk tufa asam, batu pasir dan sedimen kuarsa, sehingga

tanahnya bersifat masam dan miskin unsur hara, kejenuhan basa, kapasitas tukar

kation dan kandungan bahan organik rendah.

Dari data pengamatan 7 MST jumlah daun tanaman jagung (helai) pada

ulangan 1 diperoleh data rataan tertinggi terjadi pada perlakuan -P dengan rataan
jumlah daun tanaman 5,3 helai dan rataan terendah terjadi pada perlakuan -Ca dan

-NK dengan rataan jumlah daun tanaman 4,2 helai. Pada ulangan 2, jumlah daun

tertinggi terdapat pada perlakuan -K, -Mg dan -NP dengan rataan yaitu 5 helai dan

jumlah daun terendah terdapat pada perlakuan lengkap dengan rataan yaitu 3,3

helai. Hal ini sesuai dengan literatur Aditia (2014) yang menyatakan bahwa nutrisi

utama yang dibutuhkan oleh tanaman adalah nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium

(K). Pasokan tidak memadai dari setiap nutrisi selama pertumbuhan tanaman akan

memiliki dampak negatif pada kemampuan reproduksi, pertumbuhan dan hasil

tanaman.

Dari data pengamatan 7 MST diameter batang tanaman jagung (cm) pada

ulangan 1 diperoleh data rataan tertinggi terjadi pada perlakuan -NP dengan

diameter batang tanaman 1,06 cm dan rataan terendah terjadi pada perlakuan

lengkap dengan diameter batang tanaman 0,7 cm. Pada ulangan 2, diameter

batang terbesar terdapat pada perlakuan -Mg yaitu dengan rataan 1,28 cm dan data

diameter terendah terdapat pada perlakuan -Ca dengan rataan 0,77 cm. Hal ini

sesuai dengan literatur Setiawan (2016) yang menyatakan bahwa dalam tanaman

Mg berfungsi sebagai suatu komponen atom pusat klorofil, dan pada tanaman biji-

bijian Mg membantu metabolism fosfat, respirasi tanaman dan activator beberapa

system enzim.

Tanah yang digunakan pada percobaan ini adalah tanah ultisol Tanjung

Morawa yang mana merupakan tanah yang memiliki masalah keasaman tanah,

bahan organik rendah dan nutrisi makro rendah. Hal ini sesuai dengan literatur

Kasno (2002) yang menyatakan bahwa ultisol mempunyai ciri memiliki

penampang tanah yang dalam, reaksi tanamn masam (pH<4,5), kejenuhan Al


tinggi dan kejenuhan basa rendah. Umumnya ultisol berwarna kuning kecoklatan

hingga merah, terbentuk dari bahan induk tufa masam, batu pasir dan sedimen

kuarsa, sehingga tanahnya bersifat masam dan miskin unsur hara, kejenuhan basa,

kapasitas tukar kation dan kandungan bahan organik rendah.

Tanaman jagung digunakan pada percobaan karena tanaman jagung

merupakan tanaman indikator yang respon terhadap unsur haranya cepat dan

berumur pendek. Salah satu parameter yang diamati yaitu gejala defisiensi

contohnya pada unsur hara P yang jika kekurangan akan menyebabkan tanaman

kerdil. Hal ini sesuai dengan literatur Sasmitamihardja (1990) yang menyatakan

bahwa kahat fosfor umumnya sudah tampak waktu tanaman masih muda. Gejala

awal dimulai dengan daun yang berwarna ungu kemerahan. Hasil tongkol

menunjukkan tongkolnya kecil dengan ujung janggel melengkung. Suhu tinggi

dan udara kering dapat menyebabkan kahat P, meskipun P dalam tanah cukup.

Kahat P menyebabkan pemasakan biji menjadi lambat dan produksi rendah.

KESIMPULAN

1. Pada parameter tinggi tanaman, ulangan 1 data tertinggi dan terendah terdapat

pada perlakuan -NP dan -Ca. Pada ulangan 2, data tertinggi dan terendah pada

perlakuan -P dan lengkap.


2. Pada parameter jumlah daun, ulangan 1 data tertinggi dan terendah terdapat

pada perlakuan -P dan -Ca, -NK. Pada ulangan 2, jumlah daun tertinggi dan

terendah pada perlakuan -K, -Mg, -NP dan lengkap.

3. Pada parameter diameter batang, ulangan 1 data terbesar dan terkecil pada

perlakuan -NP dan lengkap. Pada ulangan 2, diameter terbesar dan terkecil

pada perlakuan -Mg dan -Ca.

4. Tanah ultisol Tanjung Morawa merupakan tanah yang memiliki masalah

keasaman tanah, bahan organik rendah dan nutrisi makro rendah.

5. Pada praktikum kesuburan tanah tanaman yang digunakan sebagai indikator

kesuburan tanah adalah tanaman jagung karena memiliki respon yang cepat

terhadap defisiensi unsur hara.