You are on page 1of 6

MINGGU 12 & 13 – EKONOMI

KESEHATAN DAN JAMINAN


KESEHATAN DI INDONESIA
Pendahuluan
Usaha pemerintah Indonesia untuk menjamin kesehatan warga negaranya
telah dirintis melalui penyelenggaraan jaminan sosial kesehatan. Seperti
halnya skema asuransi kesehatan pegawai negeri yang diinisiasi sejak tahun
1968 melalui ASKES, dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja atau Jamsostek yang
diperkenalkan pada 1992 (Malik 2002). Pada minggu ini, Anda akan
mempelajari perubahan-perubahan skema pembiayaan dan jaminan
kesehatan nasional yang ada di Indonesia. Pemahaman tentang topik minggu
ini akan berguna sebagai dasar untuk menjelaskan peran perawat kesehatan
komunitas dalam implementasi visi pembangunan kesehatan nasional.

Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan proses pembelajaran mandiri dalam minggu ini, Anda
diharapkan mampu untuk:

 Memahami tren kebutuhan pembiayaan kesehatan


 Menjelaskan kembali kebijakan universal health insurance di Indonesia
 Memahami sumber dana dan pembiayaan kesehatan nasional
 Menjelaskan kebijakan jaminan kesehatan universal di Indonesia
 Mengidentifikasi peran perawat dalam jaminan kesehatan di Indonesia

Dasar Ekonomi Kesehatan; Pra implementasi SJSN 2014


Proyeksi bank dunia pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan mencapai
jumlah 275 juta jiwa (Rokx et al. 2009). Jumlah penduduk sebesar ini
diprediksi akan merubah pola penyakit dan respon sakit masyarakat,
termasuk perubahan kebutuhan kesehatan, dan pemegang peran caregiver di
dalam keluarga. Di sisi lain, proyeksi populasi ini menjadi elemen penting
dalam penentuan kebijakan kesehatan nasional karena adanya tren
peningkatan usia harapan hidup, pergeseran epidemiologi penyakit menular
dan tidak menular.

Bacaan Pengantar Wajib

Rokx, C, Schieber, G, Harimurti, P, Tandon, A & Somanathan, A 2009b,


Health Financing in Indonesia: A Reform Roadmap (Ringkasan
Eksekutif), ed. B World, Jakarta

Efendy, F & Makhfudli 2009, 'Ekonomi Perawatan Kesehatan', in


Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta, pp. 35-44.

Malik (2002) menekankan bahwa terdapat peran penting pemerintah dalam


menentukan keberhasilan implementasi kebijakan kesehatan untuk
mengendalikan penyakit-penyakit strategis di masyarakat (seperti
tuberculosis, HIV/AIDS, dan malaria). Salah satu peran penting pemerintah
dalam hal ini adalah sebagai pemegang utama program penjaminan
kesehatan nasional yang tepat sasaran. Rokx et al. (2009) menegaskan
bahwa selain pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta juga turut
berperan terhadap keberhasilan implementasi kebijakan kesehatan di
Indonesia.

Reading activity 1
Rokx, C, Schieber, G, Harimurti, P, Tandon, A & Somanathan, A 2009a,
Health Financing in Indonesia: A Reform Road Map, Directions in
Development. Human Development, World Bank, Washington, D.C.
Baca halaman 14-25 saja.

Pembiayaan Kesehatan
Setiap tahun anggaran belanja kesehatan terjadi peningkatan. Hal ini terjadi
sebagai dampak pemanfaatan teknologi terkini dalam kesehatan, pengenalan
obat-obatan baru, penyesuaian upah tenaga kesehatan, perubahan stabilitas
ekonomi dan politik, dan perubahan demografi penduduk. Malik (2002)
menjelaskan peningkatan pembiayaan ini menjadi tanggungan pemerintah
pusat dan daerah, swasta, dan masyarakat secara langsung.
Reading activity 2
Malik, R 2002, 'Pembiayaan Kesehatan di Indonesia Tahun 1990-2000',
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol. 5, no. 2, pp. 93-105.

Asuransi kesehatan
Pada era sebalum 2014, skema pembayaran biaya pelayanan kesehatan
yang disediakan pemerintah memberikan ruang gerak yang luas. Skema
pertanggungan yang ada diantaranya asuransi yang ditanggung pemerintah
(social health insurance, seperti ASKES, JAMSOSTEK, JAMPERSAL,
JAMKESDA, JAMKESMAS, dan ASKIN), asuransi swasta (private insurance),
dan sistem pembayaran langsung (out-of-pocket). Namun demikian, skema
yang ada di era ini menimbulkan kelompok yang tidak tertanggung asuransi
tetapi tidak mampu memanfaatkan sarana kesehatan yang ada akibat biaya
kesehatan yang tidak terjangkau. Seperti contoh kasus yang ada pada artikel
berikut:

Reading activity 3
Webster, PC 2013, 'Indonesia: stratified health the norm', CMAJ, vol. 185, no.
2, Feb 5, pp. E99-E100.

Menuju Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional


(SJSN)

Bacaan Pengantar Wajib


Undang-Undang RI Nomor 40 tahun 2004 tentang SJSN

Menilik Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28H dan 34, seluruh rakyat
Indonesia berhak jaminan sosial dan perlindungan kesehatan. Sejak jaminan
kesehatan sosial nasional (universal health insurance) diimplementasikan
(per 1 Januari 2014) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),
pada tahun 2019 diharapkan seluruh penduduk Indonesia mendapatkan
manfaat dari perlindungan kesehatan. Sehingga seperti kasus Irsan Nasution
tidak terulang kembali.

Keuntungan implementasi sistem ini seharusnya dapat dirasakan langsung


oleh pengguna jasa layanan kesehatan. Tidak hanya menekan sistem
pembayaran out-of-pocket, tetapi juga meningkatkan aksesibilitas masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan. Manfaat yang diharapkan salah satunya
adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Namun demikian, skema ini juga menimbulkan peningkatan pembiayaan
kesehatan secara nasional terutama untuk perbaikan kualitas dan
penambahan kuantitas fasilitas, sarana penunjang, dan sumber daya
kesehatan ('Indonesia strides towards universal health care' 2014).

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


Melalui Undang-Undang RI nomor 24 tahun 2011, presiden RI bersama
Dewan Perwakilan Rakyat membentuk badan hukum penyelenggara program
jaminan sosial. Berdasarkan UU ini, kemudian penyelenggara asuransi
negara (ASKES dan JAMSOSTEK) berganti menjadi BPJS Kesehatan dan
BPJS Ketenagakerjaan. Adapun program yang dilaksanakan diantaranya
jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, pensiun, dan jaminan kematian.

Pemberlakuan aturan baru ini merubah skema pembiayaan berbasis asuransi


komersial menjadi universal social health insurance. Sebagai
konsekuensinya, kepesertaan dalam skema ini bersifat wajib bagi seluruh
penduduk Indonesia. Pemberi kerja, pegawai negeri dan swasta, dan individu
wajib menjadi anggota dan membayar premi bulanan BPJS. Adapun bagi
kelompok tidak mampu diatur kemudian (Vidyattama, Miranti & Resosudarmo
2014). Lebih jelas, melalui PP RI Nomor 101 tahun 2012, pemerintah
mengatur tentang penerima bantuan iuran jaminan kesehatan.

Bacaan Pengantar Wajib


Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 tahun 2012 tentang Penerima Bantuan
Iuran Jaminan Kesehatan
Peraturan Presiden RI Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan

Reading activity 4
Vidyattama, Y, Miranti, R & Resosudarmo, BP 2014, 'The Role of Health
Insurance Membership in Health Service Utilisation in Indonesia',
Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 50, no. 3, pp. 393-413.
Tugas Individu
Setelah mempelajari topik minggu ini, jelaskan perubahan ekonomi dan
jaminan kesehatan di Indonesia. Dalam essay yang Anda sajikan, diskusikan:

a. Pada era sebelum 2014:


1. Peran pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta dalam
pendanaan kesehatan.
2. Maksud skema asuransi yang dibiayai pemerintah, swasta, dan
pembayaran out-of-pocket
b. Setelah pemberlakuan BPJS 2014:
1. Perbedaan kemanfaatan BPJS dibandingkan dengan era sebelum
2014
2. Sebagai perawat, jelaskan bagaimana cara masyarakat dapat
memanfaatkan (pendaftaran, premi dan rujukan) fasilitas kesehatan
pada tingkat pratama (puskesmas, praktik mandiri dst) dan tingkat
lanjut (Rumah Sakit)

Gunakan sedikitnya 2 referensi tambahan selain jurnal yang digunakan dalam


materi ini.

Dalam bentuk .doc atau .docx atau .pdf font size 12 spasi 1.5, kumpulkan
tugas ini kepada koordinator kelas anda untuk dikirimkan ke
setho.h@fkp.unair.ac.id dalam bentuk compressed folder (.zip atau .rar)
sebelum 12 Juni 2015.

Simpulan
Dalam topik minggu ini kita telah mempelajari dasar dan perubahan ekonomi
kesehatan dan pembiayaan kesehatan nasional di Indonesia. Melalui aktifitas
ini, Anda telah mempelajari bahwa pembiayaan kesehatan di Indonesia
sangat dinamis sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan sosial,
ekonomi, kemasyarakatan, dan teknologi. Terdapat peran penting perawat
sebagai advokat bagi masyarakat untuk mendapatkan kesamaan hak dalam
sebagaimana amanat UUD 1945.
Pustaka
Efendy, F & Makhfudli 2009, 'Ekonomi Perawatan Kesehatan', in
Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta, pp. 35-44.

'Indonesia strides towards universal health care', 2014, The Lancet, vol. 383,
no. 9911, p. 2.

Malik, R 2002, 'Pembiayaan Kesehatan di Indonesia Tahun 1990-2000',


Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol. 5, no. 2, pp. 93-105.

Rokx, C, Schieber, G, Harimurti, P, Tandon, A & Somanathan, A 2009, Health


Financing in Indonesia: A Reform Road Map, Directions in
Development. Human Development, World Bank, Washington, D.C.

Vidyattama, Y, Miranti, R & Resosudarmo, BP 2014, 'The Role of Health


Insurance Membership in Health Service Utilisation in Indonesia',
Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 50, no. 3, pp. 393-413.