You are on page 1of 34

SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Teknik Sipil pada
Semester Ganjil (1)

Oleh:

NURALAMSYAH
NIM. 7011180091

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GALUH CIAMIS

2018
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
limpahannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Sanitasi
dan Penanganan Limbah Pertanian yang berjudul “Pengolahan Limbah Padat,Cair,
B3, Dan Rumah Sakit”

Penulis mendapatkan referensi dari beberapa literatur, dan juga dari UU
yang berkaitan dengan materi tersebut. Penulisan makalah ini tentunya tidak lepas
dari kesulitan-kesulitan mendasar, tetapi apapun itu adalah proses pembelajaran
untuk hasil yang lebih baik. Kesulitan yang dihadapi bukan menjadi penghalang
tetapi menjadi motivasi untuk terus melakukan perbaikan.

Akhir kata penulis sangat menyadari bahwa isi dari makalah ini masih
sangat jauh dari yang semestinya. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan
masukan dan saran yang bersifat membangun untuk tugas-tugas selanjutnya.

Ciamis, 1 Januari 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................i

DAFTAR ISI .....................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................2
C. Tujuan .....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Limbah Secara Umum .........................................................3
B. Pengolahan Limbah Padat ......................................................................3
C. Pengolahan Limbah Cair ........................................................................8
D. Pengolahan Limbah B3 ..........................................................................14

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................31
B. Saran .......................................................................................................31

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, dan banyak
penyakit dapat dimulai, didukung, ditopang atau dirangsang oleh faktor-faktor
lingkungan. Bagi pengusaha yang belum sadar terhadap akibat buangan
mencemarkan lingkungan, tidak memiliki program pengendalian dan pencegahan
pencemarann yang mengakibatkan bahan buangan yang keluar dari pabrik
langsung dibuang ke alam bebas.

Limbah membutuhkan pengolahan bila ternyata mengandung senyawa
pencemaran yang berakibat menciptakan kerusakan terhadap lingkungan atau
paling tidak potensial menciptakan pencemaran. Suatu perkiraan harus dibuat
lebih dahulu dengan jalan mengidentifikasi: sumber pencemaran, kegunaan jenis
bahan, sistem pengolahan, banyaknya buangan dan jenisnya, kegunaan bahan
beracun dan berbahaya yang terdapat dalam pabrik.

Dengan adanya perkiraan tersebut maka program pengendalian dan
penanggulangan pencemaran perlu dibuat. Sebab limbah tersebut baik dalam
jumlah besar atau sedikit dalam jangka panjang atau jangka pendek akan membuat
perubahan terhadap lingkungan, maka diperlukan pengolahan agar limbah yang
dihasilkan tidak sampai mengganggu struktur lingkungan. Pengolohan limbah
bertujuan untuk   mengambil barang-barang berbahaya di dalamnya dan atau
mengurangi/menghilangkan senyawa-senyawa kimia atau nonkimia yang
berbahaya dan beracun.

B. Rumusan masalah
Bagaimana cara pengolahan limbah padat, limbah cair, limbah B3, dan
limbah rumah sakit ?
C. Tujuan
Untuk mengetahui cara pengolahan limbah padat, limbah cair, limbah B3,
dan limbah rumah sakit

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Limbah Secara Umum
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) No. 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), definisi
limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Definisi secara umum, limbah
adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses
produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya.
Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara
berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal
sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3). Mahida (1993) dan
Bennet (1997) menyatakan bahwa limbah adalah buangan cair dari suatu
lingkungan masyarakat baik domestik, perdagangan maupun industri yang
mengandung bahan organik dan non organik. Bahan organik yang terkandung
dalam limbah umumnya terdiri dari bahan nitrogen, lemak, karbohidrat dan sabun.
Limbah cair itu sendiri merupakan gabungan atau campuran dari air dan bahan-
bahan pencemar yang terbawa oleh air, baik dalam keadaan terlarut maupun
tersuspensi yang terbuang dari sumber pertanian, sumber industri, sumber
domestik (perumahan, perdagangan dan perkantoran),dan pada saat tertentu
tercampur dengan air tanah, air permukaan ataupun air hujan (Zain, 2005).

B. Pengolahan Limbah Padat
1. Pengertian Limbah Padat
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur
atau bubur yang berasal dari proses pengolahan. Jenis limbah padat seperti
kertas, kayu, kain, karet, kulit tiruan, plastik, gelas / kaca, metal, kulit telur,
dll.
Sumber limbah padat yaitu berasal dari pabrik gula, pulp / kertas, limbah
nuklir, pengawetan buah, ikan atau daging.
Limbah padat merupakan suatu bahan sisa berupa fase padat yang
dihasilkan dari proses produksi maupun konsumsi. Sama seperti jenis limbah
lainnya, limbah padat juga dapat menimbulkan dampak serius bila tidak
ditangani secara serius, misalnya terjadinya kerusakan permukaan tanah,
badan air, penurunan kualitas udara, banjir, atau timbulnya bau busuk akibat
dekomposisi limbah padat organik.
Berdasarkan sifat dan karakteristiknya, limbah padat sendiri dibedakan
menjadi beberapa jenis, di antaranya limbah padat yang mudah terbakar, sukar
terbakar, mudah membusuk, dapat didaur ulang, limbah radioaktif. Masing-
masing jenis limbah ini memerlukan teknik penanganan yang berbeda-beda.
Berikut ini telah kami rangkum beberapa contoh limbah padat beserta teknik
penanganannya yang efektif.
2. Dampak Limbah Padat
a. Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3),
methan (CH4), C02 dansebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat
ditimbun dan membusukdikarena adanyamikroorganisme. Adanya musim
hujan dan kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri
penghancur dalam suasana aerob atau anaerob
b. Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang
ditumpuk, akan terjadireaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane
yang jika melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia.
Gas H2S 50 ppm dapat mengakibatkan mabuk dan pusing.
c. Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang
dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat
menyebabkan air menjadikeruh dan rasa dari air pun berubah.
d. Kerusakan permukaan tanah.
e. Dampak Terhadap Kesehatan yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan
panyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai
berikut:a) Penyakit diare dan tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang
berasaldari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat. b) Penyakit kulit
misalnya kudis dan kurap.
3. Jenis Dan Cara Pengolahan Limbah Padat
a. Limbah Plastik
Limbah plastik adalah salah satu contoh limbah padat yang menjadi
masalah serius bagi lingkungan. Penggunaan plastik yang tinggi adalah
penyebab utamanya. Selain itu, plastik juga sangat sulit untuk
terdekomposisi karena termasuk jenis limbah anorganik. Salah satu teknik
dalam penanganan limbah plastik adalah dengan daur ulang (recycle) dan
penggunaan kembali (reuse) dengan memanfaatkannya sebagai bahan
baku kerajinan.
b. Limbah Kertas
Kendati dampaknya tidak seserius limbah plastik, limbah kertas juga perlu
diwaspadai sebagai salah satu bahan pencemar lingkungan. Terlebih kertas
bekas yang mengandung banyak timbal dari tinta yang telah digunakan
untuk menggoresnya. Limbah kertas dapat didaur ulang dengan mudah
menjadi kertas baru, selain itu, ia juga dapat digunakan kembali sebagai
bahan baku kerajinan.
c. Limbah Karet
Limbah karet adalah masalah serius. Industri otomotif dan dunia kesehatan
adalah penyumbang terbesar limbah ini bagi menurunnya kualitas
lingkungan hidup. Penanganan limbah karet, misalnya ban bekas atau dari
alat kesehatan kerap tidak mendapatkan perhatian serius. Biasanya mereka
hanya ditumpuk atau dibakar. Kedua teknik penanganan ini justru semakin
memperbesar kerusakan bumi. bila ditumpuk ia akan mencemari
permukaan tanah, dan bila dibakar akan merusak kualitas udara.
d. Limbah Logam
Logam seperti besi, baja, seng, almunium yang telah habis konsumsi juga
merupakan contoh limbah padat. kendati begitu, keberadaan limbah ini
umumnya tidak menimbulkan masalah serius karena mereka dapat didaur
ulang kembali menjadi produk baru yang siap digunakan.
e. Limbah Pertanian
Proses produksi pertanian telah meningalkan banyak limbah yang perlu
mendapat perhatian serius. Pupuk dan pestisida yang terbawa ke badan air
misalnya dapat membuat masalah baru pada kehidupan organisme sungai.
adanya kelebihan unsur Nitrogen di badan air karena akumulasi
pemupukan urea telah menyebabkan terjadinya nitrifikasi dan tumbuhnya
alga dan eceng gondok secara membeludak. Sementara akumulasi
pestisida telah meracuni kehidupan biota laut dan menjadikan
ketidakseimbangan rantai makanan karena salah satu unsur dalam rantai
tersebut mengalami kelangkaan.
4. Pengolahan Limbah Padat Secara Umum
a. Penimbunan Terbuka
Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode
penimbunan terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada
metode penimbunan terbuka, . Di lahan penimbunan terbuka, berbagai
hama dan kuman penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan
yang dihasilkan oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke
udara sekitar dan menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar. Cairan
yang tercampur dengansampah dapat merembes ke tanah dan mencemari
tanah serta air.
b. Sanitary Landfill
Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi
iapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah
ke tanah. Pada landfill yang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem
Iapisan ganda (plastik – lempung – plastik – lempung) dan pipa-pipa
saluran untuk mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari
proses pembusukan sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan
untuk menghasilkan listrik.
c. Insinerasi
Insinerasi adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu
alat yang disebut insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah
volume sampah berkurang sangat banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu,
proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan.
d. Daur Ulang
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi
bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya
dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku
yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan
lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses
pembuatan barang baru. Untuk meminimalisasi limbah padat pada
pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang menghemat sumber daya
alam dan pembangunan yang memberi nilai tambah pada sumber daya
alam. Maka dari itu, untuk menghemat sumber daya alam tersebut
dilakukan cara 4R yaitu Replace, Reduce, Recycle dan Reuse
1) Replace
Replace adalah usaha mengurangi pencemaran dengan menggunakan
barang-barang yang ramah lingkungan. Contohnya memanfaatkan
daun sebagai pembungkus dari pada plastik, mengganti kantong plastik
biasa dengan plastic biodegradable atau plastik ramah lingkungan.
2) Reduce
Reduce adalah usaha untuk mengurangi pencemaran denga
menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan. Contohnya:
membawa tas belanja sendiri saat berbelanja, membeli kemasan isi
ulang deterjen, pelembut pakaian, minyak goreng, membeli kebutuhan
sehari-hari dalam kemasan besar dan lain sebagainya
Contoh Reduse sehari-hari:
1) Membeli kemasan produk yang dapata didaur ulang
2) Menghindari pemakaian produk yang menghasilkan sampah dalam
jumah besar
3) Menggunakan produk yang bisa diisi ulang
4) Menghindari pemakaian barang atau bahan sekali pakai
5) Menggunakan surat elektronik atau email untuk mengirim surat
c. Recycle
Recycle adalah usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara
mendaur ulang sampah melalui penanganan dan teknologi khusus.
Proses daur ulang biasanya dilakukan oleh pabrik atau industri untuk
dijadikan produk lain yang dapat dimanfaatkan. Limbah padat yang
dapat di recycle atau daur ulang, diantaranya plastik bekas yang dapat
didaur ulang menjadi ember, gantungan baju, pot tanaman dan lain
sebagainya.
Contoh recycle sehari-hari, diantaranya:
1) Memilih kemasan produk yang dapat didaur ulang dan mudah
terurai.
2) Mengolah sampah kertas menjadi kertas atau karton kembali.
3) Mengolahan sampah organik menjadi kompos.
4) Mengolahan sampah organik menjadi barang yang bermanfaat dan
bahkan memiliki nilai jual.
5) Mengolah sampah menjadi sumber bahan bakar.
d. Reuse
Reuse adalah usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara
menggunakan dan memanfaatkan kembali barang-barang yang
seharusnya sudah dibuang. Seperti memanfaatkan botol atau kaleng
bekas sebagai wadah, memanfaatkan kain perca menjadi keset dan
lain-lain.
Contoh reuse sehari-hari:
1) Menggunakan wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan
beberapa kali atau berulang-ulang. contohnya menggunakan sapu
tangan daripada tissue, menggunakan tas belanja dari kain daripada
kantong plastik.
2) Menggunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus
dan ditulis kembali.
3) Menggunakan sisi kertas yang masih kosong untuk menulis.
C. Pengolahan Limbah Cair
1. Pengertian Limbah Cair
Sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 58 Tahun 1995
pasal 1 ayat 1, Limbah cair adalah semua bahan buangan yang berbentuk cair
yang kemungkinan mengandung mikroorganisme pathogen, bahan kimia
beracun, dan radioaktivitas.
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang
berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan
kualitas lingkungan. Sedangkan menurut Sugiharto (1987) air limbah (waste
water) adalah kotoran dari masyarakat, rumah tangga dan juga yang berasal
dari industri, air tanah, air permukaan, serta buangan lainnya.
Metcalf & Eddy (2003), mendefinisikan limbah berdasarkan titik
sumbernya sebagai kombinasi cairan hasil buangan rumah tangga
(permukiman),instansi perusahaaan, pertokoan, dan industri dengan air tanah,
air permukaan, dan air hujan
Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak
dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan,
pertanian, dan sebagainya.Komponen utama limbah cair adalah air (99%)
sedangakan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan
tersebut.(Rustama et. al, 1998).
2. Pengolahan Limbah Cair
Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas, teknologi
pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun
tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat
penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan,
penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi
pengolahan limbah cair.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara
kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah
domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan
dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih
harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya
telah dicoba dan dikembangkan selama ini.
Teknik-teknik pengolahan limbah cair telah dikembangkan secara umu
yaitu:
a. Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses
pengolahan secara fisika:
1) Penyaringa (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring
menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode
penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk
menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
2) Pengolahan Awal (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki
atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat
teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa
inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan
memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke
dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses
selanjutnya.
3) Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke
tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode
pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses
pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan, limbah cair
didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air
limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut
akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air
limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode
pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).
4) Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa
minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan
menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung
udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut
akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air
limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat
disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah
mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang
kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung
polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya
agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka
limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.
b. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara
biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/
mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya
adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum
digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter),
metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan
(treatment ponds / lagoons) .
1) Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi
bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar,
biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan ±
1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan
dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses
perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan
didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar
lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan
kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses
pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan
mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan
mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air
limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses
pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan
2) Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan
ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur
yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam
tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian
gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat
mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya,
limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses
pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan
kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah
yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau
diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.
3) Metode Treatment ponds/ Lagoon
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan
metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada
metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka.
Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis
menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh
bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam
limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses
degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan.
Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air
limbah dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih
lanjut.
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses
penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:

1) Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2) Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.

Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob
masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi
dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.

c. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan
sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat
berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat
khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang
tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat
dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun
sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan
garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan
(advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses
kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan
adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan
besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas
pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk
melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak
ekonomis.
d. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh
atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair.
Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan
senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan
senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan, yaitu :
1) Daya racun zat
2) Waktu kontak yang diperlukan
3) Efektivitas zat
4) Kadar dosis yang digunakan
5) Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
6) Tahan terhadap air
7) Biayanya murah
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan
klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon
(Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses
pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau
tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan
e. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder,
maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur.
Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu
diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya
akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion),
kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke
lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar
(incinerated).

D. Pengolahan Limbah B3
1. Pengertian Limbah B3
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun
2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun pasal 1
ayat 1 bahwa Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat B3
adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi,
dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk
hidup lain.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 Limbah B3
didefinisikan sebagai setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya
dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dapat merusak
dan/atau mencemarkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan
manusia.
Limbah B3 yang dibuang langsung ke dalam lingkungan hidup dapat
menimbulkan bahaya terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia serta
makhluk hidup lainnya. Mengingat risiko tersebut, perlu diupayakan agar
setiap usaha dan/atau kegiatan menghasilkan Limbah B3 seminimal mungkin
dan mencegah masuknya Limbah B3 dari luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Pengelolaan Limbah B3 dimaksudkan agar Limbah B3
yang dihasilkan masing-masing unit produksi sesedikit mungkin dan bahkan
diusahakan sampai nol, dengan mengupayakan reduksi pada sumber dengan
pengolahan bahan, substitusi bahan, pengaturan operasi kegiatan, dan
digunakannya teknologi bersih.
2. Pengaturan Hukum Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun
(B3) Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
Pengelolaan B3 semula diatur dalam Gevaarlijke Stoffen Ordonnantie
(GSO), Stb. 1949 No.377 dan beberapa peraturan khusus, seperti PP No.7
Tahun 1972 tentang Pengawasan Atas Peredaran, penyimpanan dan
Penggunaan Pestisida. Dan yang terbaru diatur dalam PP No.101 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun mengantikan PP
No.18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun.
Pengelolaan B3 maupun Limbah B3 telah diatur UU 32/2009 tentang
PPLH. Pasal 58 UUPPLH-2009 menentukan bahwa setiap orang yang
memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indenesia,
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan,
membuang, mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan
B3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan B3 diatur dalam peraturan
pemerintah. Dari ketentuan tersebut jelas bahwa setiap aktivitas yang terkait
dalam B3 wajib melakukan pengelolaan B3. Kewajiban tersebut merupakan
upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan
hidup baik berupa pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup,
mengingat B3 mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan
dampak negatif.8 Oleh karena itu menurut pendapat penulis, pengelolaan
limbah B3 yang ada saat ini perlu dilakukan dalam bentuk pengelolaan yang
terpadu karena dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia,
mahluk hidup lainnya dan lingkungan hidup apabila tidak dilakukan
pengelolaan dengan benar.
Pengaturan mengenai pengelolaan limbah B3 diatur dalam Pasal 59
UUPPLH-2009. Pengelolaan limbah B3 merupakan rangkaian kegiatan yang
mencakup pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan,
pemanfaatan dan/atau pengolahan termasuk penimbunan limbah B3. Beberapa
ketentuan penting dari pasal ini bahwa setiap orang yang menghasilkan limbah
B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. Dalam hal
setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3,
pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain. Pengelolaan limbah B3 wajib
mendapat izin dari menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota mencantumkan
persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus
dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.
Selanjutnya, pada bagian mengenai Pengelolaan B3 diatur dalam
UUPPLH-2009, Pasal 58 dinyatakan sebagai berikut :
a. Setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah, dan/atau menimbun
B3 wajib melakukan pengelolaan B3.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Untuk pengelolaannya, ditentukan dalam bagian kedua tentang
Pengelolaan limbah B3. Dinyatakan pada Pasal 59 UUPPLH-2009, sebagai
berikut :

a. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan
limbah B3 yang dihasilkannya.
b. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah
kedaluwarsa, pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.
c. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan
limbah B3, pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain.
d. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
e. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan
lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi
pengelola limbah B3 dalam izin.
f. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.
g. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan limbah B3 diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Secara khusus, pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam
berbagai peraturan perundangan yang sangat lengkap, khususnya pada level
peraturan menteri (dalam hal ini menteri KLH) dan lebih teknis keputusan
instansi terkait, dalam hal ini BAPEDAL. Sebagaimana dinyatakan
permasalahannya adalah bagaimana melaksanakan peraturan perundangan
yang sudah lengkap tersebut.

3. Pengolahan limbah B3
Jenis-Jenis Proses Pengolahan Limbah secara Fisik dan Kimia:
a. Proses pengolahan secara kimia :
1) Reduksi-Oksidasi
2) Elektrolisasi
3) Netralisasi
4) Presipitasi / Pengendapan
5) Solidifikasi / Stabilisasi
6) Absorpsi
7) Penukaran ion, dan
8) Pirolisa
b. Proses pengolahan limbah secara fisik :
1) Pembersihan gas : Elektrostatik presipitator, Penyaringan partikel, Wet
scrubbing, dan Adsorpsi dengan karnbon aktif
2) Pemisahan cairan dengan padatan : Sentrifugasi, Klarifikasi,
Koagulasi, Filtrasi,
3) Flokulasi, Floatasi, Sedimentasi, dan Thickening
4) Penyisihan komponen-komponen yang spesifik : Adsorpsi, Kristalisasi,
Dialisa,
5) Electrodialisa, e, Leaching, Reverse osmosis, Solvent extraction, dan
Stripping.
4. Teknologi pengolahan limbah B3
Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode
yang paling populer di antaranya ialah chemical conditioning,
solidification/Stabilization, dan incineration.
a. Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning.
Tujuan utama dari chemical conditioning ialah:
1) Menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam
lumpur
2) Mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
3) Mendestruksi organisme pathogen
4) Memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioningyang masih
memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada
proses digestion
5) Mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam
keadaan aman dan dapat diterima lingkungan.
b. Solidification/Stabilization
Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization
juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi
dapat didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan
tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar
dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan
solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya
dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait
sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama
c. Incineration
Teknologi pembakaran (incineration) adalah alternatif yang menarik
dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan
massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini
sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena
pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat
mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan
energi dalam bentuk panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa
kelebihan di mana sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat
dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi
memerlukan lahan yang relatif kecil.
Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi
(heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam
mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga
menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi.
Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah
padat B3 ialah rotary kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single
chamber, multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved air unit.
Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai kelebihan
karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara
simultan.
E. Pengolahan Limbah Rumah Sakit
1. Pengertian Limbah Rumah Sakit
Limbah rumah sakit menurut Permenkes RI nomor:
1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit
dalam bentuk padat, cair, dan gas.
Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1994 tentang pengolahan limbah
bahan berbahaya dan beracun menetapkan bahwa limbah hasil kegiatan rumah
sakit danlaboratoriumnya termasuk dalam daftar limah B3 dari sumber yang
speseifik dengankode limbah D227.
Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme
bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan
sebelum dibuang. Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan organik
dan anorganik yang umumnya diukur dan parameter BOD, COD, TSS, dan
lain-lain. Sementara limbah padat rumah sakit terdiri atas sampah mudah
membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain. Limbah-limbah tersebut
kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia
beracun berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar ke
lingkungan rumah sakit yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan
yang kurang memadai, kesalahan penanganan bahan-bahan terkontaminasi
dan peralatan, serta penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masih
buruk. Limbah benda tajam adalah semua benda yang mempunyai permukaan
tajam yang dapat melukai / merobek permukaan tubuh.
2. Jenis limbah Rumah Sakit
Sampah dan limbah rumah sakit adalah sampah dan limbah yang
dihasilkan oleh aktifitas rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Apabila
dibanding dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis
sampah dan limbah rumah sakit dapat dikategorikan komplek, karena secara
umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu
:
a. Limbah non klinis
Limbah berasal dari kantor/administrasi kertas, unit pelayanan (berupa
karton, kaleng, botol), sampah dari ruang pasien, sisa makanan
buangan, sampah dapur (sisa pembungkus, sisa makanan/bahan
makanan, sayur dan lain-lain) (Satmoko Wisaksono, 2000:35).
Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut cukup
merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut
dan membuangnya.
b. Limbah klinis
Limbah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, veterinari,
farmasi atau sejenis, pengobatan, perawatan, penelitian atau
pendidikan yang menggunakan bahan-bahan beracun, infeksius
berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan
pengamanan tertentu.
Bentuk limbah klinis bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang
terkandung didalamnya, limbah klinis dapat dikelompokan sebagai
berikut:
1) Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut
tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau
menusuk kulit seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena,
pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini
memiliki potensi bahaya dan dapat menyebabkan cedera melalui
sobekan atau tusukan. Benda-benda tajam yang terbuang mungkin
terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi,
bahan beracun.
2) Limbah infeksius, yakni limbah yang berkaitan dengan pasien yang
memerlukan isolasi penyakit menular, diantaranya limbah
laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari
poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular.
3) Limbah jaringan tubuh, yakni limbah yang meliputi organ, anggota
badan, darah, cairan tubuh, biasanya dihasilkan pada saat
pembedahan/otopsi.
4) Limbah sitotoksit, yakni bahan yang terkontaminasi atau mungkin
terkontaminasi dengan obat sitotoksit selama peracikan,
pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksit.
5) Limbah farmasi, yakni limbah yang berasal dari obat-obat
kadaluarsa, obat-obat yang terbuang karena tidak memenuhi
spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi, obat-obat yang
dibuang oleh pasien atau masyarakat, obat-obat yang tidak lagi
diperlukan oleh institusi yang bersangkutan dan limbah yang
dihasilkan selama produksi obatobatan.
6) Limbah kimia, yakni limbah yang dihasilakan dari penggunaan
bahan kimia dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses
sterilisasi, dan riset. 10. Limbah radioaktif, yakni bahan yang
terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan
medis atau riset radio nukleida. Limbah ini dapat berasal dari
tindakan kedokteran nuklir.

3. Pengolahan Limbah Rumah Sakit
Pengolahan limbah pada dasarnya merupakan upaya mengurangi volume,
konsentrasi atau bahaya limbah, setelah proses produksi atau kegiatan, melalui
proses fisika, kimia atau hayati. Dalam pelaksanaan pengelolaan limbah,
upaya pertama yang harus dilakukan adalah upaya preventif yaitu mengurangi
volume bahaya limbah yang dikeluarkan ke lingkungan yang meliputi upaya
mengunangi limbah pada sumbernya, serta upaya pemanfaatan limbah
(Shahib, 1999). Program minimisasi limbah di Indonesia baru mulai
digalakkan, bagi rumah sakit masih merupakan hal baru, yang tujuannya untuk
mengurangi jumlah limbah dan pengolahan limbah yang masih
mempunyainilai ekonomi (Shahib, 1999).
Berbagai upaya telah dipergunakan untuk mengungkapkan pilihan
teknologi mana yang terbaik untuk pengolahan limbah, khususnya limbah
berbahaya antara lain reduksi limbah (waste reduction), minimisasi limbah
(waste minimization), pemberantasan limbah (waste abatement), pencegahan
pencemaran (waste prevention) dan reduksi pada sumbemya (source
reduction) (Hananto, 1999).
Reduksi limbah pada sumbernya merupakan upaya yang harus
dilaksanakan pertama kali karena upaya ini bersifat preventif yaitu mencegah
atau mengurangi terjadinya limbah yang keluar dan proses produksi. Reduksi
limbah pada sumbernya adalah upaya mengurangi volume, konsentrasi,
toksisitas dan tingkat bahaya limbah yang akan keluar ke lingkungan secara
preventif langsung pada sumber pencemar, hal ini banyak memberikan
keuntungan yakni meningkatkan efisiensi kegiatan serta mengurangi biaya
pengolahan limbah dan pelaksanaannya relatif murah (Hananto, 1999).
Berbagai cara yang digunakan untuk reduksi limbah pada sumbernya adalah
(Arthono, 2000) :
a. Pengelolaan Limbah Padat Untuk memudahkan mengenal limbah yang
akan dimusnahkan, limbah lain yang terkontaminasi dari ruang
pengobatan hendaknya ditampung pada bak penampungan limbah klinis
yang mudah dijangkau atau bak sampah yang dilengkapi dengan pelapis
pada tempat produksi limbah.kantong plastik tersebut hendaknya diambil
paling sedikit satu hari sekali atau bila tiga perempat penuh. Kemudian
diikat dengan kuat bila tiga perempat penuh atau sebelum jadwal
pengumpulan sampah.
Isi kantong tidak boleh sampai longgar pada saat pengangkutan
dari bak ke bak. Sampah kemudian hendaknya dibuang sebagai
berikut:
(a) Sampah dari unit haemodialisis: sampah hendaknya
dimusnahkan dengan incinerator.
(b) Limbah dari unit lain: limbah hendaknya dimusnahkan dengan
incinerator.
(c) Prosedur yang digunakan untuk penyakit infeksi harus disetujui
oleh pimpinan yang bertanggung jawab, Kepala Bagian
Sanitasi, dan Dinas Kesehatan setempat.
b. Pengolahan Limbah cair rumah sakit
Limbah cair yang berasal dari berbagai kegiatan laboratorium,
dapur, laundry, toilet, dan lain sebagainya dikumpulkan pada sebuah
kolam equalisasi lalu dipompakan ke tangki reaktor untuk dicampurkan
dengan gas ozon. Gas ozon yang masuk dalam tangki reaktor bereaksi
mengoksidasi senyawa organik dan membunuh bakteri patogen pada
limbah cair (Harper, 1986).
Limbah cair yang sudah teroksidasi kemudian dialirkan ke tangki
koagulasi untuk dicampurkan koagulan. Lantas proses sedimentasi pada
tangki berikutnya. Pada proses ini, polutan mikro, logam berat dan lain-
lain sisa hasil proses oksidasi dalam tangki reaktor dapat diendapkan
(Harper, 1986).
Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi.
Pada tangki ini terjadi proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat
pollutan yang terlewatkan pada proses koagulasi. Zat-zat polutan akan
dihilangkan permukaan karbon aktif. Apabila seluruh permukaan karbon
aktif ini sudah jenuh, atau tidak mampu lagi menyerap maka proses
penyerapan akan berhenti, dan pada saat ini karbon aktif harus diganti
dengan karbon aktif baru atau didaur ulang dengan cara dicuci. Air yang
keluar dari filter karbon aktif untuk selanjutnya dapat dibuang dengan
aman ke sungai (Harper, 1986).
Cara lain pengolahan limbah cair yaitu harus dikumpulkan dalam
kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi,
volume, dan prosedur penanganan dan penyimpanannya.
1) Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran
tertutup, kedap air, dan limbah harus mengalir dengan lancar, serta
terpisah dengan saluran air hujan.
2) Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri
atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan di sekitarnya
yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada atau tidak
terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan.
3) Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit
harian limbah yang dihasilkan.
4) Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran
air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan grill.
5) Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL), bila tidak mempunyai IPAL harus
dikelola sesuai ketentuan yang berlaku melalui kerjasama dengan
pihak lain atau pihak yang berwenang.
6) Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan
setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji
petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
7) Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau
terkena zat radioaktif, pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan
BATAN.
8) Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan
bahan radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang
bersangkutan.
c. Limbah Gas
1) Monitoring limbah gas berupa NO2, SO2, logam berat, dan dioksin
dilakukan minimal satu kali setahun.
2) Suhu pembakaran minimum 1.000oC untuk pemusnahan bakteri
patogen, virus, dioksin, dan mengurangi jelaga.
3) Dilengkapi alat untuk mengurangi emisi gas dan debu.
4) Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak
memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu.
d. Limbah Infeksius dan Benda Tajam
1) Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen
infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan
panas dan basah seperti dalam autoclave sedini mungkin. Untuk
limbah infeksius yang lain cukup dengan cara disinfeksi.
2) Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan, dan
dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. Kapsulisasi
juga cocok untuk benda tajam.
3) Setelah insinerasi atau disinfeksi, residunya dapat dibuang ke tempat
pembuangan B3 atau dibuang ke landfill jika residunya sudah aman.
e. Limbah Farmasi
1) Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan insinerator
pirolitik (pyrolytic incinerator), rotary kiln, dikubur secara
aman, sanitary landfill, dibuang ke sarana air limbah atau inersisasi.
Tetapi dalam jumlah besar harus menggunakan fasilitas pengolahan
yang khusus seperti rotary kiln, kapsulisasi dalam drum logam, dan
inersisasi.
2) Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada
distributor, sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak
memungkinkan dikembalikan, supaya dimusnahkan melalui insinerator
pada suhu di atas 1.000 0
f. Limbah Sitotoksis
1) Limbah sitotoksis sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang dengan
penimbunan (landfill) atau ke saluran limbah umum.
2) Pembuangan yang dianjurkan adalah dikembalikan ke perusahaan
penghasil atau distributornya, insinerasi pada suhu tinggi, dan
degradasi kimia. Bahan yang belum dipakai dan kemasannya masih
utuh karena kadaluarsa harus dikembalikan ke distributor apabila tidak
ada insinerator dan diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah
kedaluarsa atau tidak lagi dipakai.
3) Insinerasi pada suhu tinggi sekitar 1.200ºC dibutuhkan untuk
menghancurkan semua bahan sitotoksik. Insinerasi pada suhu rendah
dapat menghasilkan uap sitotoksik yang berbahaya ke udara.
4) Insinerator pirolitik dengan 2 (dua) tungku pembakaran pada suhu
1.200ºC dengan minimum waktu tinggal 2 detik atau suhu 1.000ºC
dengan waktu tinggal 5 detik di tungku kedua sangat cocok untuk
bahan ini dan dilengkapi dengan penyaring debu.
5) Insinerator juga harus dilengkapi dengan peralatan pembersih gas.
Insinerasi juga memungkinkan dengan rotary kiln yang didesain untuk
dekomposisi panas limbah kimiawi yang beroperasi dengan baik pada
suhu di atas 850ºC.
6) Insinerator dengan satu tungku atau pembakaran terbuka tidak tepat
untuk pembuangan limbah sitotoksis.
7) Metode degradasi kimia yang mengubah senyawa sitotoksik menjadi
senyawa tidak beracun dapat digunakan tidak hanya untuk residu obat
tapi juga untuk pencucian tempat urin, tumpahan dan pakaian
pelindung.
8) Cara kimia relatif mudah dan aman meliputi oksidasi oleh kalium
permanganat (KMnO4) atau asam sulfat (H2SO4), penghilangan
nitrogen dengan asam bromida, atau reduksi dengan nikel dan
aluminium.
9) Insinerasi maupun degradasi kimia tidak merupakan solusi yang
sempurna untuk pengolahan limbah, tumpahan atau cairan biologis
yang terkontaminasi agen antineoplastik. Oleh karena itu, rumah sakit
harus berhati-hati dalam menangani obat sitotoksik.
10) Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia,
kapsulisasi atau inersisasi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang
dapat dipilih.

g. Benda-benda tajam; berupa jarum suntik, syring, gunting, pisau, kaca
pecah, gunting kuku dan sebagainya yang dapat menyebabkan
orang tertusuk (luka) dan terjadi infeksi. Benda-benda ini mungkin
terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi atau bahan
sitotoksik. Limbah ini harus dikemas dalam kemasan yang dapat
melindungi petugas dari bahaya tertusuk, sebelum dibakar dalam
insinerator.

Sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 58 Tahun 1995 Tentang
: Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit, maka Setiap penanggung
jawab kegiatan atau pengelola rumah sakit wajib:
1) Melakukan pengelolaan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan
sehingga mutu limbah cair yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui
Baku Mutu Limbah Cair yang telah ditetapkan
2) Membuat saluran pembuangan limbah cair tertutup dan kedap air sehingga
tidak terjadi perembesan ke tanah serta terpisah dengan saluran limpahan
air hujan;
3) Memasang alat ukur debit laju alir limbah cair dan melakukan pencatatan
debit harian limbah cair tersebut;
4) Memeriksakan kadar parameter Baku Mutu Limbah Cair sebagaimana
tersebut dalam lampiran keputusan ini kepada laboratorium yang
berwenang sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan;
5) Menyampaikan laporan tentang catatan debit harian dan kadar parameter
baku Mutu Limbah Cair sebagaimana dimaksud huruf c dan d sekurang-
kurangnya tiga bulan sekali kepada Gubernur dengan tembusan Menteri,
Kepala Bapedal, Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional, instansi
teknis yang membidangi rumah sakit serta instansi lain yang dianggap
perlu sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku;

D. Undang-Undang Dan Peraturan Terkait Pengelolaan Sampah Dan
Limbah
Beberapa peraturan dan undang-undang di Indonesia yang terkait dengan
pengelolaan limbah antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada
Pasal 163 tentang Kesehatan Lingkungan : Upaya kesehatan
lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat,
baik fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap
orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 69 : Setiap
orang dilarang:
- Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup;
- Memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan
perundang¬undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
- Memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia ke media lingkungan hidup
Negara Kesatuan Republik Indonesia;
- Memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
- Membuang limbah ke media lingkungan hidup;
- Membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
- Melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan
hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan atau izin lingkungan;
- Melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
- Menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal; dan/ atau
- Memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan
informasi,
- Merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak
benar.

Pada asal 88 : Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau
kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola limbah
B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan
hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu
pembuktian unsur kesalahan. Sedangkan pada Pasal 58 : Setiap orang
yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan,
memanfaatkan, membuang, mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib
melakukan pengelolaan B3.

3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,
pasal 22 tentang Pengelolaan, Penanganan Sampah:
a. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah
sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.
b. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah
dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau
tempat pengolahan sampah terpadu.
c. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber
dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari
tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan
akhir.
d. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan
jumlah sampah.
e. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah
dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan
secara aman.

Keputusan menteri kesehatan Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit: Bahwa Rumah
Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang
sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit
serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan
kesehatan.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi
baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat
bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan.
Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia di alam bermacam-
macam sepert limbah padat, cair, B3 dan juga limbah rumah sakit. Untuk
mencegah terjadinya pencemaran lingkungan setiap limbah masing-
masing mempunyai cara pengolahan yang berbeda tergantung dari jenis
limbah tersebut

B. Saran
Saran dari penulis, masyarakat harus dapat memilah dan memilih
mana limbah yang masih dapat digunakan kembali agar dapat berdaya
guna dan memiliki nilai ekonomis. Yang paling utama adalah lingkungan
tetap terjaga kebersihannya dan derajat kesehatan masyarakat dapat
tercapai setinggi mungkin.
Masyarakat disarankan untuk terus mencari tahu berbagai cara
pengolahan dari setiap jenis limbah agar dapa mngurangi residu
pencemaran yang kiat hari semakin meningkat
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul.1995. Pengantar Imu Kesehatan Lingkungan.Jakarta: Mutiara
Sumber Widya.

Arifin, M., 2008, ‘Pengaruh Limbah Rumah Sakit Terhadap Kesehatan’, Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Indonesia

Agustiani E, Slamet A, Winarni D (1998). Penambahan PAC pada proses lumpur
aktif untuk pengolahan air limbah rumah sakit: laporan penelitian.
Surabaya: Fakultas Teknik IndustriInstitut Teknologi Sepuluh Nopember

Agustiani E, Slamet A, Rahayu DW (2000). Penambahan powdered activated
carbon (PAC) pada proses lumpur aktif untuk pengolahan air limbah
rumah sakit. Majalah IPTEK: jurnal ilmu pengetahuan alam dan
teknologi : 11 (1): 30-8

Akib, Muhammad, Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional, Edisi
Revisi, Rajawali Pers, Jakarta, 2014.

Brace, 1998. “Technology of Anodizing”, Robert Draper Ltd.,
Teddington.http://green.kompasiana.com/polusi/2012/09/07/apa-yang-
terjadi-di-dalam-septik-tank-491567.html

Djoko S (2001). Pengelolaan limbah rumah sakit. Sipil Soepra : jurnal sipil 3(8):
91-9
Danusaputro, Munadjat, Hukum Lingkungan, Buku I Umum, Binacipta, Jakarta,
1985.

Ginting, Perdana, Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri, CV.
Yrama Widya, Bandung, 2007.

Hamdan, Tindak Pidana Pencemaran Lingkungan Hidup, Mandar Maju, Bandung,
2000.

Kusminarno, K., 2004, ‘Manajemen Limbah Rumah Sakit’, Jakarta

Notoatmodjo, Soekidjo.1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka cipta.

Permenkes RI nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan
Beracun.https://toolsfortransformation.net/wp-
content/uploads/2017/05/PP_NO_101_2014-Pengelolaan-limbah-
B3_E.pdf

Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan
Berbahaya Dan Beracun.

Peraturan Pemerintah RI No. 85 Tahun 1999 Tentang : Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya Dan Beracun.

Udin Jabu, Dkk,. Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja Dan Air Limbah Pada
Institusi Pendidikan Sanitasi/Kesehatan Lingkungan. Jakarta :
Pusdiknakes.