You are on page 1of 23

ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak – anak,
remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat
beragam, bisa karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin
B12. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan
laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik
didapatkan penurunan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah dari kadar normal.

B. Ruang lingkup

Ruang lingkup laporan terbatas pada pemberian asuhan keperawatanpada Tn.


H dengan diagnosa medis anemia di ruang perawatan umum Rumah Sakit Islam Hj.
Siti Muniroh Tasikmalaya, yang meliputi tahap pengkajian,keluhan utama, riwayat
kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan head to toe, aktivitas sehari – hari, data penunjang,
analisa data, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.

C. Tujuan penulisan

1. Tujuan umum

Memahami dan menerapkan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan diagnosa


medis anemia.

2. Tujuan khusus

Melalui proses keperawatan diharapkan mampu:

a. Melaksanakan pengkajian terhadap pasien dengan penyakitanemia.

b. Mampu mendiagnosa keperawatan sesuai prioritas masalah.


c. Mampu melaksanakan rencana tindakan dan rasional dalam praktek nyata sesuai
dengan masalah yang telah diprioritaskan.

d. Mampu melaksanakan tindakan dalam praktek nyata sesuai dengan masalah yang
diprioritaskan.

e. Mampu menilai dan mengevaluasi hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan
pada pasien dengan penyakit anemia.

f. Mampu mendokumentasikan rencana tindakan asuhan keperawatan yang telah


dilaksanakan.

g. Mampu membahas kesenjangan antara teori yang diperoleh dengan studi kasus.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Anemia (dalam bahasa Yunani: tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah sel darah
merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah
berada dibawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang
memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru – paru dan mengantarkannya
ke seluruh bagian tubuh.

Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin
dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam
jumlah yang diperlukan tubuh (kamus bahasaIndonesia). Berikut pengertian anemia
menurut para ahli diantaranya :

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen
darah, eleman tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan
sel darah yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan
ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta,
1999).

Anemia definisi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral FE
sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit (Arif
Mansjoer, kapita selekta, jilid 2 edisi 3, Jakarta 1999). Anemia secara umum adalah
turunnya kadar sel darah merah atau hemoglobin dalam darah.

B. Etiologi

Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk
sintesis eritrosit yaitu besi, vitamin B12 dan asam folat. Anemia juga dapat
diakibatkan dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit
kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
1. Perdarahan hebat

2. Akut (mendadak)

3. Kecelakaan

4. Pembedahan

5. Persalinan

6. Pecah pembuluh darah

7. Penyakit Kronik (menahun)

8. Perdarahan hidung

9. Wasir (hemoroid)

10. Ulkus peptikum

11. Kanker atau polip disaluran pencernaan

12. Tumor ginjal atau kandung kemih

13. Perdarahan menstruasi yang sangat banyak

14. Berkurangnya pembentukan sel darah merah

15. Kekurangan zat besi

16. Kekurangan vitamin B12

17. Kekurangan asam folat

18. Kekurangan vitamin C

19. Penyakit kronik

20. Meningkatnya penghancuran sel darah merah

21. Pembesaran limpa

22. Kerusakan mekanik pada sel darah merah

23. Reaksi autoimun terhadap sel darah merah


24. Hemoglobinuria nokturnal paroksismal

25. Sferositosis herediter dan elliptositosis herediter

26. Kekurangan G6PD

27. Penyakit sel sabit

28. Penyakit hemoglobin C dan penyakit hemoglobin E

C. Tanda dan gejala

1. Lemah, letih, lesu dan lelah.

2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang – kunang.

3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi
pucat.

D. Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum – sum tulang atau


kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum – sum tulang
dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang
tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan.

Masalah dapat diakibatkan oleh efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan
ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah
merah. Lisis sel darah merah terjadi dalam sistem fagositik atau dalam sistem
retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Proses bilirubin yang sedang
terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah.

Setiap kenaikan destruksi sel darah merah segera direpleksikan dengan meningkatkan
bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg / dl atau kurang,kadar 1,5 mg / dl
mengakibatkan ikterik pada sklera. Anemia merupakan penyakit kurang darah yang
ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit).

Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika
suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang, akibatnya dapat
menghambat kerja organ – organ penting, salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5
miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer
yang memorinya lemah, lambat menangkap, jika sudah rusaktidak bisa diperbaiki
(Sjaifoellah, 1998).

E. Pemeriksaan penunjang

Pada pemeriksaan laboratorium ditemui :

1. Jumlah Hb lebih rendah dari normal ( 12 – 14 g/dl )

2. Kadar Ht menurun ( normal 37% – 41%)

3. Peningkatan bilirubin total ( pada anemia hemolitik )

4. Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi

5. Terdapat pansitopenia, sumsum tulang kosong diganti lemak (pada anemia


aplastik)

F. Data fokus

Terdiri dari DS (data subjektif) dan DO (data objektif). Data subjektif merupakan
data yang diperoleh berdasarkan pengkajian terhadap pasien atau keluarga pasien
(apa yang dikatakan pasien atau keluarga pasien), sedangkan data objektif adalah data
yang diperoleh dari pemeriksaan.

Biasanya data fokus yang didapatkan adalah :

Data Subjektif :

1. Pasien mengatakan lemah, letih, lesu.

2. Pasien mengatakan nafsu makan menurun.

3. Pasien mengatakan mual.

4. Pasien mengatakan sering haus.

Data Objektif :
1. Pasien tampak lemah, letih, lesu

2. Berat badan menurun, pasien tidak mau makan

3. Pasien tampak mual dan muntah – muntah.

4. Bibir tampak pecah – pecah, kulit pasien tampak kering.

G. Riwayat kesehatan

1. Keluhan utama

Biasanya keluhan yang paling utama pada penderita anemia adalah lemah atau
pusing.

2. Riwayat kesehatan sekarang

Keadaan pasien pada saat dikaji dan diperiksa.

3. Riwayat kesehatan dahulu

Apakah pasien pernah mengalami penyakit anemia sebelumnya ?.

4. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah anggota keluarga pasien memiliki riwayat penyakit keturunan seperti


diabetes militus, penyakit jantung, struk ?.

H. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum

Pucat, keletihan, kelemahan, nyeri kepala, demam, dispnea, vertigo, sensitif terhadap
dingin, berat badan menurun.

2. Kulit

Kulit kering, kuku rapuh.


3. Mata

Penglihatan kabur, perdarahan retina.

4. Telinga

Vertigo, tinnitus.

5. Mulut

Mukosa licin dan mengkilat, stomatitis.

6. Paru – paru

Dispneu.

7. Kardiovaskuler

Takikardi, hipotensi, kardiomegali, gagal jantung.

8. Gastrointestinal

Anoreksia.

9. Muskuloskletal

Nyeri pinggang, nyeri sendi.

10. System persyarafan

Nyeri kepala, binggung, mental depresi, cemas.

I. Diagnosa keperawatan

1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan


sekunder (penurunan hemoglobin leukopenia atau penurunan granulosit
(respon inflamasi tertekan).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang
diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.

3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler


yang diperlukan untuk pengiriman oksigen /nutrisi ke sel.

J. Intervensi dan rasional

1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan


sekunder (penurunan hemoglobin leukopenia atau penurunan granulosit
(respon inflamasi tertekan).

a. Tujuan

Infeksi tidak terjadi.

b. Kriteria hasil

Mengidentifikasi perilaku untuk mencegah / menurunkan risiko


infeksi dan meningkatkan penyembuhan luka.

c. Intervensi

1) Anjurkan pasien untuk mencuci tangan.

2) Berikan perawatan kulit, perianal dan oral.

d. Rasional

1) Mencegah kontaminasi mikroorganisme.

2) Menurunkan risiko kerusakan kulit, jaringan atau infeksi.

2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler


yang diperlukan untuk pengiriman oksigen /nutrisi ke sel.

a. Tujuan

Peningkatan perfusi jaringan.


b. Kriteria hasil

Penunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil.

c. Intervensi

1) Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit /membran mukosa, dasar
kuku.

2) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.

d. Rasional

1) Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan


membantu menetukan kebutuhan intervensi.

2) Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan


seluler.

3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan


untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang
diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.

a. Tujuan

kebutuhan nutrisi terpenuhi.

b. Kriteria hasil

1) Menunujukkan peningkatan / mempertahankan berat badan dengan nilai


laboratorium normal.

2) Midak mengalami tanda mal nutrisi.

3) Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan atau


mempertahankan berat badan yang sesuai.

c. Intervensi

1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai.

2) Observasi dan catat masukan makanan pasien.

3) Timbang berat badan setiap hari.


4) Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering atau makan diantara waktu
makan.

d. Rasional

1) Mengidentifikasi defisiensi, mengawasi masukkan kalori atau kualitas


kekurangan konsumsi makanan.

2) Memudahkan intervensi.

3) Mengawasi penurunan berat badan.

4) Menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukan nutrisi.

K. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien
dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga
kesehatan lainnya (Lynda Juall Capenito, 1999:28).

Evaluasi pada pasien dengan diagnose medis anemia adalah :

a. Infeksi tidak terjadi.

b. Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

c. Peningkatan perfusi jaringan.


BAB III

TINJAUAN KASUS PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT ANEMIA

A. Pengkajian

1. Biodata pasien

a. Nama : Tn. H

Umur : 80 tahun

Jenis kelamin : Laki – laki

Status perkawinan : Kawin

Agama : Islam

Suku : Sunda

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Petani

No. Registrasi : 0182

Diagnosa medis : Anemia

Tanggal masuk Rumah Sakit: 12 Februari 2014, Rabu

Tanggal Pengkajian : 13 Februari 2014, Kamis

Alamat : Kp. Cipanengah RT 01 / RW 06,Kecamatan Gunung


Tandala Kawalu

b. Identitas penanggung jawab

Nama : Tn. A

Umur : 35 tahun

Jenis kelamin : Laki – laki


Pendidikan : SD

Pekerjaan : Buruh

Hubungan dengan pasien : Anak

Alamat : Kp. Cipanengah RT 01 / RW 06, Kecamatan Gunung


Tandala Kawalu.

2. Keluhan utama

Pasien mengatakan sakit kepala (pusing).

3. Riwayat kesehatan sekarang

Pada tanggal 13 Februari 2014, Kamis, pukul 08.30 WIB, pasien mengeluh mual,
muntah – muntah, lemah, lemas, pusing pada pagi hari, pusing dirasakan setelah
beraktivitas mencangkul padi, pusing yang dirasakan pada bagian depan atas. Skala
nyeri : 3 (nyeri sedang).

4. Riwayat kesehatan dahulu

Keluarga pasien mengatakan pasien pernah mengalami penyakit yang dialami


sekarang sebelum masuk ke Rumah Sakit.

5. Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga pasien mengatakan tidak memiliki penyakit keturunan seperti diabetes


militus, penyakit jantung, struk, hipertensi.

B. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum : Pasien tampak bersih

2. Tingkat kesadaran : Apatis

3. Tanda – tanda vital

a. Tekanan darah : 120 / 60 mmHg

b. Nadi : 85 x / menit

c. Pernafasan : 28 x / menit
d. Suhu : 36,2 0 C

4. Berat badan dan tinggi badan

Berat badan dan tinggi badan telah dikaji namun keluarga pasien tidak tahu dan
pasien tidak bersedia untuk dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan.

5. Pemeriksaan head to toe

a. Kepala / rambut

Simetris, warna rambut hitam dan beruban, terlihat rapi, penyebaran rambut merata,
tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, rambut tampak bersih.

b. Mata

Simetris, penglihatan tidak tajam, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, tampak
bersih.

c. Telinga

Simetris, tampak bersih, pendengaran kurang tajam, tidak ada perdarahan, tidak ada
serumen.

d. Hidung

Simetris, tampak bersih, tidak ada benjolan, penciuman normal, tidak ada sekret,
tidak ada kotoran, tidak ada luka, ada bulu hidung, tidak ada perdarahan.

e. Mulut

Simetris, gigi tidak lengkap, tidak bau mulut, tidak kotor, warna bibir sedikit merah.

f. Leher

Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tampak bersih, tidak ada jaringan
parut, tidak ada lesi.

g. Dada (paru – paru dan jantung)

Bentuk dada simetris, bunyi jantung regular, nafas cepat, tidak ada penumpukan
cairan pada pleura.

h. Ketiak
Simetris, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada kemerahan, tidak ada pigmentasi.

i. Perut

Simetris, tidak ada busung, tidak obesitas, bentuk perut datar, tidak ada penumpukan
cairan.

j. Genetalia

Tidak ada keluhan maupun kelainan.

k. Kulit dan kuku

Kulit keriput, kering, warna kulit kuning langsit, kuku dan kulit tampak bersih.

l. Ekstermitas atas

Simetris, ada nyeri tekan pada tangan kiri karena terpasang infus, tidak ada kelainan,
agak lemah.

Kekuatan otot : 4 3

m. Ekstermitas bawah

Simetris, tidak ada nyeri tekan, tampak bersih.

Kekuatan otot :

4 4

C. Aktivitas sehari – hari

No. Aktivitas Sebelum sakit Sesudah sakit

1. Nutrisi

a. Makan

1) Jenis Nasi D5

2) Frekuensi 2x / 3x sehari Belum makan


3) Porsi 1 porsi habis Tidak ada

4) Keluhan Tidak ada Ada

b. Minum

1) Jenis Air putih / kopi Air putih

2) Frekuensi 4x / hari 1 gelas

3) Keluhan Tidak ada Tidak ada

2. Eliminasi

a. BAK

1) Frekuensi 4x / hari 2x

2) Warna Kuning / putih Kuning

3) Keluhan Tidak ada Tidak ada

b. BAB

1) Frekuensi 1x / hari Belum

2) Warna Kuning khas Tidak ada

3) Konsistensi Lembek Tidak ada

4) Keluhan Tidak ada Tidak ada

3. Personal higiene

a. Mandi 2x / hari 1x

b. Gosok gigi 2x / hari Belum

c. Keramas 3x / minggu Belum

4. Istirahat dan tidur

a. Malam
1) Frekuensi 8 jam 4 jam

2) Keluhan Tidak ada Ada

b. Siang

1) Frekuensi 2 jam Belum

2) Keluhan Tidak ada Tidak ada

5. Mobilisasi dan aktivitas

a. Jenis aktivitas Tani / mencangkul Istirahat

b. Keluhan Tidak ada Ada

D. Data penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium

Gula darah sewaktu 144,0

Faal ginjal(kreatinin) 1,38 *

Faal hati : SGOT 52,5 *

SGPT 74,6 *

2. Terapi

Infus D5

Obat injeksi :

Levofioksan 1x1

Pantoprazol 1x1

Kalneks 3x1

E. Analisa data
No. Data Etiologi Masalah

1. Ds : Pasien Kekurangan jumlah Gangguan rasa


mengatakan pusing sel darah merah nyaman nyeri
pada bagian depan atas didalam tubuh
kepala.

Do : Pasien tampak
meringis kesakitan,
mengeluh, tampak Pengangkutan sel
tidak nyaman pada darah merah ke
sakit pada kepalanya, seluruh tubuh tidak
skala nyeri : 3 (nyeri optimal
sedang). Sedangkan sel darah
merah diperlukan
untuk mengangkut
oksigen ke dalam
otak

Sehingga suplai
oksigen ke dalam
otak pun berkurang

Sakit kepala (pusing)

Gangguan rasa
nyaman nyeri
2. Ds : Pasien Mual Gangguan
mengatakan belum pemenuhan
makan, lemas, kebutuhan nutrisi
mengeluh mual. Mual dapat
Do : Pasien tampak merangsang output
mual dan muntah – dari dalam tubuh
muntah, lemas, muka
pucat.

Muntah – muntah

Tubuh kekurangan
nutrisi

Intek tidak terpenuhi

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi

3. Ds : Pasien Tangan kiri dipasang Gangguan


mengatakan lemah, infus aktivitas
lemas.

Do : pasien tidak bisa


beraktivitas dengan Tangan kiri tidak
leluasa karena badanya dapat bergerak bebas
lemah, tangan kiri dengan leluasa
tidak bisa digerakan
dengan bebas karena
terpasang infus. Keterbatasan dalam
melakukan aktivitas
Gangguan aktivitas

F. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut prioritas masalah

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan berkurangnya pengangkutan


sel darah merah ke seluruh tubuh.

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah.

3. Gangguan aktivitas berhubungan dengan terpasang infus pada tangan kiri.

G. INTERVENSI, IMPLEMENTASI, EVALUASI

No. Diagnosa Intervensi Implementasi


keperawatan
Tujuan Perencanaan Rasional

1. Gangguan rasaSetelah dilakukan - Observasi tanda – - Mengobservasi 13 Februari 2014, Kam


nyaman tindakan keperawatan tanda vital tanda – tanda vital WIB.
nyeriberhubungan selama 30 menit dapat membantu
dengan diharapkan tanda – tanda - Relaksasi dalam menentukan - Mengobservasi tanda – ta
berkurangnya vital normal kembali, - Distraksi diagnosa hasil :
pengangkutan sel nyeri pada kepala dapat keperawatan dan tekanan darah : 120 / 80 mm
darah merah ke berkurang dan hilang. dapat memberikan
seluruh tubuh. tindakan nadi : 85x / menit
keperawatan dengan
Ds : Pasien pernafasan : 28x / menit
tepat.
mengatakan
suhu : 36,2 0 C.
pusing pada - Relaksasi dapat
bagian depan atas mengurangi rasa - Memposisikan pasien d
kepala. nyeri pada kepala, nyaman, memberikan li
tidak memperparah tenang, membatasi
Do : Pasien nyeri. menganjurkan pasien ber
tampak meringis
kesakitan, - Distraksi dapat tenang.
mengeluh, memberikan
tampak tidak ketenangan pada - Menganjurkan pasien unt
nyaman pada pasien, sehingga secara perlahan, memotiv
sakit pada pasien tidak fokus sembuh kembali.
kepalanya, skala pada nyeri.
nyeri : 3 (nyeri
sedang).

2. Gangguan Pasien mampu - Beri nutrisi - Membantu - Berkolaborasi dengan


pemenuhan menghabiskan 1 porsi rencana diet untuk memberikan makanan yan
kebutuhan nutrisimakan, kebutuhan nutrisi - Beri minum air memenuhi kebutuhan pasien.
berhubungan terpenuhi, hangat (cairan) kebutuhan nutrisi
dengan mual dan mempertahankan - Memberikan minum air h
- Beri makan pasien.
muntah. keseimbangan berat sedikit tapi sering - Memberikan makan sedik
badan yang sesuai, tidak - Air hangat dapat
Ds : Pasien mualdan tidak muntah – merangsang
mengatakan muntah. kenyamanan perut
belum makan, agar tidak merasa
lemas, lemah, mual dan muntah –
mengeluh mual. muntah.

Do : Pasien - Meningkatkan
tampak mual dan energi dan
muntah – muntah, mengurangi
lemas, lemah, pengeluaran
muka pucat, energiyang
konjungtiva berlebihan.
anemis.
3. Gangguan Pasien dapat melakukan - Anjurkan dan - Menghindari - Menganjurkan dan me
aktivitas gerakan ringan dengan ajarkan pasien terjadinya kekakuan pasien untuk melakukan
berhubungan baik. untuk melakukan otot – otot pada pada tangan yang terpasang
dengan terpasang gerakan ringan tangan yang
infus pada tangan pada tangan yang terpasang infus. - Menganjurkan pasien u
sebelah kiri. terpasang infus. gerakan ringan pada ekste
- menghindari bawah.
Ds : Pasien - Anjurkan pasien terjadinya kekakuan
mengatakan untuk melakukan pada ekstermitas
lemah. gerakan ringan atas dan bawah.
pada ekstermitas
Do : pasien tidak atas dan bawah.
bisa beraktivitas
dengan leluasa
karena badanya
lemah, tangan kiri
tidak bisa
digerakan dengan
bebas karena
terpasang infus.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan
kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia
adalah berkurangnya hingga dibawah nilai normal sel darah merah, kualitas
hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah
(Price, 2006 : 256).

B. Saran

Kesehatan adalah harta yang paling penting dalam kehidupan kita, maka dari itu
selayaknya kita menjaga kesehatan dari kerusakan dan penyakit.Dengan cara pola
hidup yang sehat dapat mencegah penyakit anemia, hidup terasa lebih nyaman dan
indah dengan melakukan pencegahan terhadap penyakit anemia dari pada kita sudah
terkena dampaknya.