You are on page 1of 18

PORTOFOLIO

PAROTITIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Program Internship


Dokter Indonesia di RS Muhammadiyah Babat

OLEH:
SEISA GUMELAR NASTITY

PENDAMPING:
Dr. Fara Nurdiana, M.Kes

RS MUHAMMADIYAH BABAT
LAMONGAN
2018
HALAMAN PENGESAHAN

PORTOFOLIO
PAROTITIS

Telah disetujui dan dipresentasikan pada

Menyetujui
Dokter Pendamping

Dr. Fara Nurdiana, M.Kes


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.,


Alhamdulillah dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT,
akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas portofolio PAROTITIS. Sholawat dan
salam tak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Portofolio ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat Program Internship
Dokter Indonesia.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulusnya
kepada:
1. dr. Erniek Saptowati selaku dokter pendamping Internship RS
Muhammadiyah Babat
2. dr. Fara Nurdiana selaku dokter pendamping Internship RS Muhammadiyah
Babat
3. Rekan-rekan Program Internship Dokter Indonesia, serta semua pihak yang
telah membantu
Penulisan portofolio ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang berguna. Semoga selanjutnya tulisan ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Lamongan, Oktober 2018

Seisa Gumelar Nastity


No. ID dan Nama Peserta: dr. Seisa Gumelar Nastity Presenter: dr. Seisa Gumelar
Nastity
No. ID dan Nama Wahana: RS Muhammadiyah Babat Pendamping: dr. Fara Nurdiana,
Lamongan M.Kes
Topik: Seorang pria dengan keluhan bengkak pada pipi kanan
Tanggal kasus: 15 Agustus 2018
Nama pasien: Tn. M No. RM: 123623
Tanggal Presentasi:-
Tempat Presentasi: RS Muhammadiyah Babat Lamongan
OBYEKTIF PRESENTASI
o Keilmuan o Keterampilan o Penyegaran o Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen o Masalah o Istimewa
o Neonatus o Bayi o Anak o Remaja  Dewasa o Lansia o Bumil
Deskripsi:
 Bengkak pada pipi kanan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya langsung sebesar sekarang, tidak
bertambah besar ataupun kempes. Bengkak terasa nyeri seperti ngilu terutama saat
membuka mulut atau mengunyah. Selain itu pasien mengaku demam tinggi sejak 3 hari ini,
terutama pada malam hari saja, kadang pasien sampai menggigil dan berkeringat dingin.
Pasien tidak mengeluhkan mulut terasa kering ataupun banyak mengeluarkan liur. Pasien
tidak mengeluhkan batuk dan pilek ataupun nyeri tenggorokan. Pasien juga tidak
mengeluhkan kelainan pada telinga. Riwayat alergi makanan atau obat-obatan (-). Pasien
merasa telah mendapatkan imunisasi lengkap semasa kecil. Tidak ada keluarga pasien yang
sakit seperti ini.
TUJUAN : Mengetahui penatalaksanaan parotitis
BAHAN BAHASAN  Tinjauan o Riset  Kasus o Audit
Pustaka
CARA MEMBAHAS  Diskusi  Presentasi o E-mail o Pos
DATA PASIEN Nama: Tn. M No.RM: 123623
Nama Klinik: (-) Telp: (-) Terdaftar sejak: 25 Agt 2018
Data Utama untuk Bahan Diskusi:
1. Diagnosis: Parotitis
2. Gambaran Klinis:
Keluhan utama:
Bengkak pada pipi kanan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya langsung sebesar sekarang,
tidak bertambah besar ataupun kempes. Bengkak terasa nyeri seperti ngilu terutama
saat membuka mulut atau mengunyah. Selain itu pasien mengaku demam tinggi sejak
3 hari ini, terutama pada malam hari saja, kadang pasien sampai menggigil dan
berkeringat dingin. Pasien tidak mengeluhkan mulut terasa kering ataupun banyak
mengeluarkan liur. Pasien tidak mengeluhkan batuk dan pilek ataupun nyeri
tenggorokan. Pasien juga tidak mengeluhkan kelainan pada telinga.
3. Riwayat Pengobatan: (-)
4. Riwayat Kesehatan/Penyakit:
HT (-); DM (-) Riwayat alergi makanan atau obat-obatan (-). Pasien merasa telah
mendapatkan imunisasi lengkap semasa kecil.
5. Riwayat Keluarga:
Tidak ada keluarga pasien yang sakit seperti ini.
6. Riwayat Pekerjaan:
Wiraswasta
7. Kondisi lingkungan sosial dan fisik:
Pasien tinggal di perkampungan, sumber air dari sumur. Pasien memiliki 4 anak,
sudah berkeluarga semua, pasien hanya tinggal berdua dengan istrinya di rumah.
Pasien bekerja wiraswasta. Tidak ada yang merokok di lingkungan rumah, tidak suka
konsumsi kopi.
8. Lain-lain: (-)
DAFTAR PUSTAKA

1. Lilienthal HA. A method of incising parotid abscess without injury to the facial nerve
distribution. Am J Surg. 1917. 31(4):101-2.
2. Hemenway WG, English GM. Surgical treatment of acute bacterial parotitis. Postgrad
Med. 1971 Oct. 50(4):114-9. [Medline].
3. Cope VZ. Acute necrotic parotitis. Br J Surg. 1919. 7:130-3.
4. Blair VP, Padgett EC. Pyogenic infection of the parotid glands and ducts. Arch Surg.
1923. 7(1):1-36.
5. Spiegel R, Miron D, Sakran W, Horovitz Y. Acute neonatal suppurative parotitis: case
reports and review. Pediatr Infect Dis J. 2004 Jan. 23(1):76-8. [Medline].
6. van Boven M, Ruijs WL, Wallinga J, O'Neill PD, Hahné S. Estimation of vaccine
efficacy and critical vaccination coverage in partially observed outbreaks. PLoS
Comput Biol. 2013 May. 9(5):e1003061. [Medline]. [Full Text].
7. Waaijenborg S, Hahné SJ, Mollema L, Smits GP, Berbers GA, van der Klis FR, et al.
Waning of Maternal Antibodies Against Measles, Mumps, Rubella, and Varicella in
Communities With Contrasting Vaccination Coverage. J Infect Dis. 2013 May
8. [Medline].
8. McLean HQ, Fiebelkorn AP, Temte JL, et al. Prevention of measles, rubella,
congenital rubella syndrome, and mumps, 2013: summary recommendations of the
Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). MMWR Recomm Rep. 2013
Jun 14. 62:1-34. [Medline].
9. Baurmash HD. Chronic recurrent parotitis: a closer look at its origin, diagnosis, and
management. J Oral Maxillofac Surg. 2004 Aug. 62(8):1010-8. [Medline].

HASIL PEMBELAJARAN:
Pengetahuan tentang :
1. Definisi, etiologi dan epidemiologi parotitis
2. Patofisiologi parotitis
3. Faktor risiko dan pencetus parotitis
4. Diagnosis klinis parotitis
5. Penatalaksanaan parotitis
1. SUBJECTIVE
Keluhan Utama: bengkak pada pipi kanan
Riwayat Penyakit Sekarang:
 Bengkak pada pipi kanan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya langsung sebesar sekarang, tidak
bertambah besar ataupun kempes. Bengkak terasa nyeri seperti ngilu terutama saat membuka
mulut atau mengunyah. Selain itu pasien mengaku demam tinggi sejak 3 hari ini, terutama pada
malam hari saja, kadang pasien sampai menggigil dan berkeringat dingin. Pasien tidak
mengeluhkan mulut terasa kering ataupun banyak mengeluarkan liur. Pasien tidak
mengeluhkan batuk dan pilek ataupun nyeri tenggorokan. Pasien juga tidak mengeluhkan
kelainan pada telinga.
Riwayat Penyakit Dahulu:
 HT (-); DM (-) Riwayat alergi makanan atau obat-obatan (-). Pasien merasa telah
mendapatkan imunisasi lengkap semasa kecil.
Riwayat Penyakit Keluarga:
 Tidak ada keluarga pasien yang sakit seperti ini.
Riwayat Sosial:
 Pasien tinggal di perkampungan, sumber air dari sumur. Pasien memiliki 4 anak, sudah
berkeluarga semua, pasien hanya tinggal berdua dengan istrinya di rumah. Pasien bekerja
wiraswasta. Tidak ada yang merokok di lingkungan rumah, tidak suka konsumsi kopi.
2. OBJECTIVE
Keadaan Umum: Cukup
Vital signs:
 Nadi : 78x/menit, regular, kuat
 Laju nafas : 16x/menit
 Suhu : 37,8℃ (Ax)
 Tekanan darah : 130/90 mmHg
 SpO₂ : 99%
 BB 82kg TB 170cm  BMI 28,37 (Overweight)
Kesadaran: Compos Mentis GCS : 456
Status Interna:
 Kepala : mesocephalic, rambut hitam.
 Wajah: tampak oedem pada pipi kanan pre auricular, hiperemi (+), Ø ±9cm, oedem
tampak mengangkat daun telinga, nyeri tekan (+), teraba keras dan hangat, fluktuatif (-).
 Mata : oedema, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) .
 Hidung : nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-).
 Telinga : discharge (-/-)
 Mulut : oedem (-), bibir kering (-), sianosis (-).
 Tenggorokan : faring hiperemis (-), tonsil (T1/T1), sekret (-), detritus (-).
 Leher : simetris, terdapat pembengkakan KGB colli dextra
Thorax
 Jantung :
Inspeksi  ictus cordis tidak tampak
Palpasi  ictus cordis teraba di ICS V mid clavicular line sinistra, tidak melebar, tidak
kuat angkat
Perkusi  batas kiri ICS V mid clavicular line sinistra
Batas atas ICS III parasternal line sinistra
Batas kanan ICS V parasternal line dextra
Auskultasi  S1 S2 normal, murmur (-), gallop (-)
 Paru :
Inspeksi  hemitoraks simetris, retraksi (-)
Palpasi  nyeri (-), stem fremitus simetris
Perkusi  sonor/sonor
Auskultasi  suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen
 Inspeksi : cembung, distended (-), frog shape (-), coll vein (-)
 Auskultasi : bising usus (+) N, Met (-)
 Palpasi : soepel, nyeri tekan (-), H/L tak teraba
 Perkusi : timpani
Ekstremitas
 Akral kering hangat merah di keempat ekstremitas
 CRT <2 detik di keempat ekstremitas
Pemeriksaan Penunjang
 Darah rutin (15 Agustus 2018)
Eritrosit 5,8 jt/mm³
Hemoglobin 14,3 gr/dL
Hematokrit 40,7%
Lekosit 14.700/mm³
Trombosit 256.000
Differential count eos/bas/net/net/lim/mono : 1/2/0/66/17/9
LED 20/50
3. ASSESSMENT
Parotitis supuratif akut dextra
4. PLANNING
a. Diagnosis -
b. Therapy
 Paracetamol 3x500mg
 Amoxicillin 3x500 mg
 Dexametason 3x1 tab (tap.off)
c. Monitoring
 Tanda-tanda vital
 Keluhan pasien
d. Education
 Menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang penyakit yang diderita, penyebab
penyakit serta kemungkinan pencetus gejala
 Menjelaskan pada pasien dan keluarga pasien tentang pemeriksaan yang akan
dilakukan dan terapi apa saja yang akan diberikan
 Menjelaskan pada pasien dan keluarga komplikasi apa saja yang dapat terjadi apabila
tidak.
TINJAUAN PUSTAKA
PAROTITIS

I. ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR SALIVA


Kelenjar saliva terdiri dari kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar parotis,
submandibula, dan sublingual merupakan komponen kelenjar saliva mayor sedangkan kelenjar
saliva minor terdiri dari kelompok jaringan saliva submukosa yang berada pada rongga mulut,
sinus paranasal, faring dan saluran pernafasan bagian atas.

Kelenjar Saliva Mayor


Kelenjar saliva mayor merupakan kelenjar saliva terbanyak dan ditemui berpasang-
pasangan pada daerah ekstraoral serta memiliki duktus yang panjang. Duktus ini menyalurkan
sekresi saliva ke dalam rongga mulut. Menurut struktur anatomi dan letaknya, kelenjar saliva
mayor dapat dibagi atas tiga tipe yaitu parotis, submandibularis dan sublingualis.
a. Kelenjar Parotis
Pasangan kelenjar parotid merupakan kelenjar saliva yang terbesar. Letak kelenjar ini
adalah di ruang antara batas posterior ramus mandibular dan prosesus mastoideus tulang
temporal. Bentuk kelenjar parotis bervariasi. Namun, seringkali ditemui berbentuk segitiga
dengan bagian apeks menuju inferior. Cabang utama dari saraf kranial ketujuh (saraf fasial)
membagi kelenjar parotis secara kasar kepada lobus superfisial dan lobus mendalam. Duktus-
duktus kecil dari berbagai daerah di kelenjar ini bergabung dan menyatu di sudut anterosuperior
parotis lalu membentuk duktus Stensen. Duktus Stensen ini merupakan duktus mayor dari
kelenjar parotis dan mempunyai diameter kira-kira 1 hingga 3 milimeter dan panjang 6
sentimeter. Kelenjar ini menghasilkan suatu sekret yang kaya air (sel serous) dan bersifat
basofilik.
b. Kelenjar Submandibularis
Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar kedua terbesar dan ukurannya kira-kira
seperempat dari kelenjar parotid. Ia terdiri dari lobus superfisial berukuran besar yang terletak
dalam segitiga digastric di leher dan lobus profunda yang terletak di lantai mulut posterior.
Kedua lobus ini bersifat saling menyambung antara satu sama lain di seluruh daerah perbatasan
posterior otot milohioid. Duktus Wharton ialah duktus utama untuk kelenjar submandibula dan
panjangnya kira-kira 5 sentimeter dan dindingnya lebih tipis dibandingkan duktus Stensen di
kelenjar parotid. Sekresi kelenjar ini bersifat campuran dengan sifat mukus yang paling
dominan.
c. Kelenjar Sublingualis
Kelenjar yang terletak di antara dasar mulut dan otot milohioid ini merupakan kelenjar yang
terkecil di antara kelenjar-kelenjar yang lain. Saraf lingual dan duktus Wharton memisahkan
kontur di antara kelenjar sublingual dan otot genioglosus. Terdapat kira-kira 8-20 buah duktus
kecil yang dipanggil sebagai duktus Rivinus, yang mana membuka secara bebas di lantai mulut
bersama lipatan-lipatan serta papila sublingual. Kadang-kadang duktus ini menyatu lalu
membentuk duktus utama, yaitu duktus Bhartolin. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul yang
dapat melindunginya, dan secara histologis kelenjar ini terdiri dari asini musin. Oleh karena itu
kelenjar sublingual menghasilkan sekret yang mukous dan konsistensinya kental.
Kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar-kelenjar kecil yang dapat ditemui pada hampir
seluruh epitel di bawah rongga mulut dan orofaring. Kelenjar ini terdiri dari beberapa unit sekresi
kecil dan melewati duktus pendek yang berhubungan langsung dengan rongga mulut. Kelenjar-
kelenjar kecil ini membentuk beberapa kelompok kelenjar mengikut lokasi seperti kelenjar labial,
bukal, glosopalatinal, palatal, dan lingual.
a. Kelenjar Glossopalatinal
Kelenjar ini terletak di dalam isthmus dari lipatan glossopalatinal dan dapat meluas ke
bagian posterior dari kelenjar sublingual ke kelenjar yang ada di palatum mole. Cairan
sekresinya bersifat mukus.
b. Kelenjar Labial
Kelenjar ini terletak di submukosa bibir dan banyak ditemui pada garis tengah dan memiliki
banyak duktus. Cairan sekresinya bersifat mukus dan serous.
c. Kelenjar Bukal
Lokasi kelenjar ini adalah pada mukosa pipi, kelnejar ini serupa dengan kelenjar labial dan
mensekresi cairan yang bersifat campuran mucous dan serous.
d. Kelenjar palatinal
Kelenjar ini mensekresikan cairan bersifat mucus dan terletak di kedua palatum durum dan
mole
e. Kelenjar Lingual
Kelenjar lingual terbagi pada daerah anterior (di otot ventral) dan posterior (di pangkal
lidah) dan kebanyakan cairan sekresinya bersifat mucus. Kelenjar lingual posterior yang
mendalam mensekresikan cairan serous secara predominan.
II. DEFINISI
Parotis merupakan penyakit yang disebabkan oleh peradangan pada kelenjar parotis.
Peradangan pada kelenjar ini dapat menjadi tantangan diagnostic yang serius. Difungsi kelenjar
saliva pada umumny aakan memunculkan gejala mulut kering, berliur dan bengkak yang nyeri
pada kelenjar saliva.
III. ETIOLOGI
Peradangan pada kelenjar parotis dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain infeksi
bakteri seperti Staphylococcus aureus dan tuberkulosis, virus seperti pada mumps atau “gondong”
ataupun virus HIV, dan influenza. Parotis juga dapat disebabkan oleh penyakit autoinum kronis,
salah satu gejala pada sindroma Mikulicz dan Sjörgen. Penyebab lainnya dari parotitis ialah
idiopatik, seperti pada peradangan oleh karena batu saliva (sialolithiasis).
IV. EPIDEMIOLOGI
Kematian yang disebabkan oleh parotitis sangatlah jarang. Seringkali parotis juga
merupakan komplikasi dari proses penyakit tertentu, angka kematian proporsional dengan penyakit
aslinya. Frekuensi kejadian parotis sama pada semua ras. Parotitis kronis juga tidak dibedakan oleh
jenis kelamin. Kebanyakan parotitis terjadi pada usia anak-anak.
V. PATOFISIOLOGI
Pada tahun 1923, Blair dan Padgett mempublikasi artikel yang menyatakan bahwa parotitis
supuratif akut merupakan ascending infeksi yang berkaitan dengan demam, penurunan produksi
saliva dan gejala umum, hasil kultur pus menunjukkan adanya infeksi Staphylococcus aureus.
Kebanyakan dari organisme ini kemungkinan berasal dari rongga mulut sehingga semakin
menguatkan teori bahwa ada kaitan antara insidensi parotitis bacterial dan kebersihan rongga
mulut. Saat ini, parotitis supuratif akut lebih umum ditemukan pada usia lanjut karena penggunaan
obat-obatan dengan efek atropine yang menurunkan produksi kelenjar saliva sehingga
mempredisposisi terjadinya infeksi.
Pada awal abad ke-20, para ahli bedah ragu untuk melakukan insisi dan drainase ebses
kelenjar parotis karena seringkali tidak efektif dibandingkan dengan terapi konservatif. Terlebih
lagi, tindakan pembedahan pada kelenjar parotis dapat mengakibatkan bekas luka pada wajah dan
paralisis nervus fasialis. Parotitis bakterial kronis dapat terjadi apabila terdapat kalkulus atau
stenosis pada duktus saliva yang disebabkan oleh cedera. Pada kebanyakan kasus, parotitis kronis
seringkali disebabkan oleh autoimun atau idiopatik dengan superimpose bakteri, sehingga tidak
dapat ditetapkan sebagai infeksi bakteri kronis.
Mumps atau “gondong” adalah salah satu penyakit klasik yang ditemui pada anak-anak.
Penyakit ini disebarkan melalui droplets atau melalui penyebaran langsung dari secret orofaring
yang mengandung virus paramyxovirus. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan kelenjar
parotis yang terasa nyeri. Stimulasi pada kelenjar parotis dapat menyebabkan rasa nyeri pada
kelenjar dan telinga. Mumps merupakan penyakit tumor jinak pada kebanyakan kasus, namun
terkadang dapat menyebabkan komplikasi seperti meningoensefalitis, pankreatitis, orkitis dan tuli
terutama pada usia dewasa muda.
Parotitis yang disebabkan oleh autoimun nampaknya disebabkan oleh suatu proses penyakit
yang sama dengan berbagai manifestasi klinis yang berbeda pada tiap individu. Kelainan awal pada
kelenjar mungkin disebabkan oleh infeksi virus. Peptida yang berasal dari antigen virus dan
autoantigen menjadi terkait dengan molekul histokompatibilitas kelas II dalam sitoplasma sel
epitel, dan kompleks Human leucocyte antigen (HLA) selanjutnya diekspresikan pada permukaan
sel.
Sel T CD4 + mengenali antigen ini dan melepaskan serangkaian sitokin, yang mendorong
aktivasi sel T lebih lanjut. Sel B memasuki kelenjar dan menghasilkan autoantibodi, termasuk
antibodi sindrom anti-Sjögren (yaitu, anti-SS-A, anti-SS-B) dan faktor rheumatoid (RF). Sel B
dengan permukaan sel RF dapat memusatkan kompleks imun dan menghadirkan antigen pada sel
T CD4 +. Asini dihancurkan oleh mekanisme autoimun ini. Pembelahan sel yang berkelanjutan
dari sel B spesifik mengarah ke ekspansi oligoclonal dan meningkatkan kemungkinan kesalahan
kariotipe terkait dengan transformasi neoplastik.
VI. MANIFESTASI KLINIS

ILUSTRASI PAROTITIS
Parotitis infeksius:
 Pada parotitis bakterial akut pasien akan mengeluhkan bengkak dengan nyeri progresif
pada kelenjar yang disertai dengan demam, gerakan membuka mulu atau mengunyah dapat
memperparah keluhan.
 Mumps ditandai dengan bengkak dan nyeri pada kelenjar yang bertahan selama 5-9 hari,
selain itu juga terdapat malaise, anoreksia dan demam. Pada kebanyakan kasus mumps
mengenai parotis bilateral.
 Parotitis yang disebabkan oleh HIV seringkali ditandai dengan bengkak yang tidak nyeri,
atau asimptomatik.
 Parotitis pada tuberculosis ditandai dengan bengkak kronis tanpa rasa nyeri, atau benjolan
yang terasa di dalam kelenjar, selain itu riwayat tuberculosis paru juga dapat mendukung.
Parotitis pungtata kronis (autoimun):
 Sindroma Sjörgen didapatkan parotitis kronis atau berulang pada salah satu atau kedua
kelenjar parotis tanpa penyebab yang jelas, pasien juga dapat mengeluhkan mulut dan mata
kering.
Pada pemeriksaan fisik kelenjar parotis ditemui pembengkakan dan eritema pada kulit di
atasnya. Kelenjar yang meradang akut ini terasa nyeri, sementara biasanya tidak nyeri pada
parotitis autoimun kronis. Pijat kelenjar dari posterior ke anterior untuk mengeluarkan air liur yang
jelas dari saluran parotis di kelenjar normal. Air liur purulen mengindikasikan parotitis bakteri, dan
saliva jernih dengan dadih kuning kecil mengindikasikan parotitis punctate kronis (autoimun).
VII. DIAGNOSIS
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada kecurigaan parotitis adalah
pemeriksaan kimiawi pada saliva. Anti-SS-A, Anti-SS-B, dan faktor rheumatoid mungkin akan
positif pada penyakit autoimun. Kultur saliva juga dapat dilakukan, namun seringkali jarang
dibutuhkan. Sebagian besar laboratorium tidak dapat melakukan tes yang bermanfaat pada air liur.
Air liur memiliki variasi komposisi yang sedemikian luas sehingga analisis hanya menghasilkan
sedikit nilai diagnostik.
CT-Scan dan MRI dapat digunakan untuk menentukan ukuran, bentuk, dan kualitas
neoplasma pada kelenjar. Masing-masing metode ini dapat membedakan antara massa solid, lesi
kistik, dan keterlibatan kelenjar. Sialografi dapat dilakukan untuk menentukan anatomi system
drainase dan merupakan pemeriksaan yang sangat berguna. Sialografi dapat menunjukkan cedera
pada duktus saliva. Sebuah kanul #90 polietilen dimasukkan ke dalam duktus, lalu kontras iodin
seperti Ultravist (iopromide) diinjeksikan ke dalam system duktus. Duktus yang normal dapat
mengakomodasi 0.50-0.75 mL, atau hingga pasien merasa tidak nyaman, lalu dilakukanlah
pemeriksaan radiograf posteroanterior dan lateral. Pemeriksaan diulan 5 menit kemudian, biasanya
semua kontras sudah terevakuasi.
Sialografi
Skintigrafi kelenjar saliva dapat membantu diagnosis parotitis obstruktif kronis dan kelainan
kelenjar saliva lainnya. Pemeriksaan ultrasonografi lebih mudah dilakukan daripada sialografi
dalam menunjukkan massa solid atau kistik di dalam kelenjar. USG juga dapat mendeteksi area
hipoekoik. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak sensitive dibandingkan dengan sialografi dan kurang
signifikan secara klinis.
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding parotitis adalah metastasis atau inflamasi pada kelenjar getah bening
sekitar kelenjar parotis, serta keganasan pada kelenjar parotis.
IX. TERAPI
Sebagian besar episode parotitis kronis diobati dengan terapi simptomatik. Sialogog,
kompres hangat lokal, pijatan lembut kelenjar dari posterior ke anterior, dan hidrasi dapat
memberikan peredaan gejala yang bervariasi. Setelah dilakukan kultur pus yang keluar dari duktus
Stensen, dapat diberikan antibiotic sesuai hasil tes sensitivitas. Pengobatan penyakit primer
(misalnya, HIV, rheumatoid arthritis) adalah yang perlu diutamakan. Beberapa penulis
menganjurkan irigasi intermiten sistem duktus dengan larutan saline, larutan steroid, dan / atau
antibiotik untuk mengobati infeksi dan secara mekanis mengeluarkan lendir atau nanah yang
terinspeksi dari saluran. Terapi ini dianjurkan bagi pasien yang tidak membaik dengan pengobatan
simtomatik dan harus dicoba dulu sebelum mempertimbangkan operasi. Baurmash menganjurkan
Decadron (deksametason) dan larutan penisilin dalam larutan garam untuk membersihkan saluran
dan untuk terapi topikal.