You are on page 1of 10

PRAKTIKUM LIMNOLOGI

ACARA III
MORFOMETRI DAS

Oleh:
Nama mahasiswa : Prasisca Romadhonis Safitri

PROGRAM STUDI S1 GEOGRAFI


JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2018
ACARA III

I. Judul : Morfometri DAS

II. Tujuan
- Mampu memahami unsur atau parameter morfometri DAS
- Mampu menghitung aspek keruangan, aspek topografi, gradient sungai, mediean elevasi,
titi berat DAS, Aspek panjang alur, Aspek alur sungai, dan kerapatan drainase.
- Mampu analisis hasil morfometri DAS

III. Alat dan Bahan


- Software ArcGIS
- DEM
- Microsoft Excel
- DAS Solo

IV. Dasar Teori


A. Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan degan sungai dan anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan
yang masih terpengaruh aktivitas daratan (Permen PU 2013, Sandhyavitri, 2013). Sub
Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) merupakan bagian dari DAS dimana air hujan diterima
dan dialirkan melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi habis menjadi
wilayah yang lebih kecil yaitu Sub DAS-Sub DAS, dan apabila diperlukan maka dapat
dipisahkan lagi menjadi sub-sub Das, demikian untuk seterusnya (Sudarmadji, 2007).
B. Morfometri Daerah Aliran Sungai (DAS)
Moerfometri DAS merupakan nilai kuantitatif dari parameter-parameter yang ada
pada daerah aliran sungai. Sepanjang musim hujan dapat dikurangi juga pengawasan
terhadap kualitas air sungai ditingkatkan (Sandhyavitri, 2008). Bagian-bagian
morfometri DAS yaitu:
1. Luas dan Panjang DAS
Garis batas daerah-daerah aliran yang berdampingan disebut batas daerah pengaliran.
Setelah diketahui batas DAS maka didapatkan pengukuran luas DAS. Menurut Bina
Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial (2013) Ssemakinluas suatu DAS, hasil
akhir yang diperoleh akan semakin besar karena hujan yang ditangkap juga semakin
banyak. Klasifikasi DAS berdasarkan luas DAS bisa dilihat pada tabel 1
Tabel 1. Klasifikasi Daerah Aliran Sungai
No. Luas DAS (Ha) Klasifikasi DAS
1 ≥ 1.500.000 DAS Sangat Besar
2 500.000 - <1.500.000 DAS Besar
3 100.000 - < 500.000 DAS Sedang
4 10.000 - < 100.000 DAS Kecil
5 < 10.000 DAS Sangat Kecil
Sumber: Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan
Perhutanan Sosial (2013)
Panjang DAS adalah sama dengan jarak datar dari muara sungai kea rah hulu
sepanjang sungai induk.
2. Bentuk DAS
Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak
banjir. Bentuk DAS secara kuantitatif dapat diperkirakan dengan nilai nisbah
kebulatan (Circularity ratio/RC)
4𝜋𝐴2
𝑅𝑐 =
𝑃2
Dengan:
𝑅𝑐 = Faktor bentuk (Rasio Sirkularitas)
𝐴 = Luas DAS (𝑘𝑚2 )
𝑃 = Keliling (perimeter) DAS (𝑘𝑚)
Adapun klasifikasi bentuk DAS dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi bentuk DAS
No. Nilai Bentuk DAS Kelas Bentuk DAS
1 < 0.5 Memanjang
2 > 0.5 Membulat
Sumber: (Soewarno, 1991)
3. Orde dan tingkat percabangan sungai
Metode kuantitatif untuk mengklasifikasikan sungai dalam DAS adalah pemberian
orde sungai maupun cabang-cabangnya secara sistematis. Orde sungai adalah posisi
percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai di dalam suatu
DAS. Pada umumnya dalam menentukan orde sungai yang paling mudah diterapkan
adalah menggunakan metode Strahler.

Gambar 1. Penentuan orde sungai (Strahler, 1957)


Jumlah alur sungai suatu orde dapat ditentukan dari angka indeks percabangan
sungai dengan persamaan berikut:
𝑁𝑢
𝑅𝑏 =
𝑁𝑢 + 1
Dengan:
𝑅𝑏 = indeks tingkat percabangan sungai
𝑁𝑢 = jumlah alur sungai untuk orde ke−𝑢
𝑁𝑢 + 1 = jumlah alur sungai untuk orde (𝑢 + 1)
Dalam anonym (2007), indeks tingkat percabangan sungai dapat dinyatakan dengan
keadaan sebagai berikut:
- 𝑅𝑏 < 3 alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat,
sedangkan penurunannya berjalan lambat.
- 𝑅𝑏 3 − 5 alur sungai mempunyai kenaikan dan penurunan muka air banjir tidak
terlalu lambat.
- 𝑅𝑏 > 5 alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat, demikian
pula penurunannya akan berjalan dengan cepat.
4. Kerapatan Sungai (Drainase)
Kerapatan sungai adalah suatu angka indeks yang menunjukkan banyaknya anak
sungai di dalam suatu DAS. Kerapatan aliran sungai dapat dihitung dari rasio total
panjang jaringan sungai terhadap luas DAS yang bersangkutan. Kerapatan aliran
dapat diperoleh persamaan:
𝐿
𝐷𝑑 =
𝐴
Dengan:

𝐷𝑑 = indeks kerapatan aliran sungai (𝑘𝑚⁄𝑘𝑚2 )

𝐿 = jumlah panjang sungai termasuk panjang anak-anak sungai (𝑘𝑚)


𝐴 = Luas DAS (𝑘𝑚2 )
No. Indeks Kerapatan Sungai (𝑘𝑚⁄𝑘𝑚2 ) Kriteria

1 < 0.25 Rendah


2 0.25 - 10 Sedang
3 10 - 25 Tinggi
4 > 25 Sangat Tinggi
Sumber: (Soewarno, 1991)
5. Kemiringan atau Gradien Sungai
Kemiringan sungai merupakan hubungan antara elevasi dasar sungai dan jarak yang
diukur sepanjang sungai mulai dari ujung hulu sampai muara. Kemiringan sungai
utama dapat digunakan untuk memperkirakan kemiringan DAS. Air bergerak ke hilir
karena pengaruh gaya gravitasi, sehingga semakin besar kemiringan semakin besar
pula kecepatan aliran, dan sebaliknya waktu aliran menjadi semakin pendek.
V. Langkah Kerja:
 Menentukan batasan DAS atau Sub DAS yang dijadikan bahan morfometri DAS
 Menghitung luas, panjang, dan lebar DAS
 Menghitung nilai Rc (Rasio Sirkularitas) untuk mengetahui bentuk DAS

 Menghitung kemiringan rata-rata DAS (𝑆𝑏 = 𝑚ℎ⁄𝐴)

Dengan:
𝑆𝑏 = Kemiringan rata-rata DAS
𝑚 = Total panjang garis kontur ketinggian (km)
𝐴 = Luas DAS (𝑘𝑚2 )
ℎ = Kontur interval (Ci)
 Membuat Gradien Sungai 𝑔 = 𝑣⁄ℎ
Dengan:
𝑔 = gradient sungai
𝑣 = beda tinggi antara hulu dan hilir
ℎ = panjang sungai induk
 Menghitung median elevasi DAS
𝑥𝑖 .𝑁𝑖 𝑦𝑖 .𝑁𝑖
 Menghitung titik berat DAS dengan 𝑥 = dan 𝑦 =
𝑁𝑖 𝑁𝑖

 Identifikasi aspek panjang sungai


a. Sugai terpanjang (panjang sungai semua ordo)
b. Panjang sungai utama
c. Panjang sungai ke titik berat DAS
 Identifikasi aspek alur sungai
a. Jumlah semua sungai ordo
b. Tingkat percabangan sungai
 Menghitung kerapatan sungai atau drainase
VI. Hasil Praktikum
 Perhitungan:
4𝜋𝐴2 4.3,14.4702 𝑘𝑚2 1665.68 𝑘𝑚
1. 𝑅𝑐 = = = = 0.12
𝑃2 1162 𝑘𝑚 13456 𝑘𝑚
𝑚ℎ 150 𝑚.50 𝑚 7.5 𝑘𝑚
2. 𝑆𝑏 = = = 21.68 𝑘𝑚 = 0.4
𝐴 470 𝑘𝑚2
𝑣 200−50 150 𝑘𝑚
3. 𝑔 = ℎ = = 30.48 𝑘𝑚 = 4.921260
30.48
𝑋𝑖 .𝑁𝑖 9299
4. Titik berat DAS  𝑋 = = = 16.7
𝑁𝑖 558
𝑌𝑖 .𝑁𝑖 7357
𝑌= = = 14.1
𝑁𝑖 523

5. Panjang sungai (jumlah total panjang semua ordo) = 393.32


6. Panjang sungai utama = panjang sungai induk = 30.48 km
7. Panjang sungai ke titik berat DAS = 21.39 km
𝑁𝑢
8. 𝑅𝑏 = 𝑁𝑢+1
106
 Ordo 1 = 𝑅𝑏 = 106+1 = 0.990
21
 Ordo 2 = 𝑅𝑏 = 21+1 = 0.955
4
 Ordo 3 = 𝑅𝑏 = 4+1 = 0.8
1
 Ordo 4 = 𝑅𝑏 = 1+1 = 0.5
∑𝐿 393.32
9. Kerapatan sungai/Drainase  𝐷𝑑 = = 777,735029 = 0.5 𝑘𝑚⁄𝑘𝑚2
𝐴

 Peta Sub-DAS Keduang


 Titik berat Sub-DAS

VII. Pembahasan
Praktikum acara 3 yaitu morfometri DAS yang menghasilkan nilai kuantitatif
berdasarkan pengukuran dan perhitungan kondisi fisik suatu DAS. Parameter-parameter
yang biasa diukur pada suatu DAS adalah pada aspek keruangan, aspek topografi atau relief,
aspek panjang alur sungai dan kerapatan sungai. Praktikum kali ini mengambil contoh
morfometri DAS Keduang yang merupakan bagian dari DAS Bengawan Solo yang berlokasi
di bagian tenggara dari Jawa Tengah. Secara administrasi DAS Keduang masuk wilayah
Kabupaten Wonogiri, dimana DAS Keduang merupakan aliran sungai yang menyumbang
sedimentasi terbesar pada Waduk Dadjah Mungkur yang terletak di bagian barat Kabupaten
Wonogiri.
Morfometri DAS dilakukan dengan cara digital menggunakan aplikasi dari ESRI
yaitu ArcGIS 10.4 dengan bahan DEM dan Batas Administrasi untuk memudahkan
interpretasi dan perhitungan dalam pembatasan DAS. Berdasarkan hasil perhitungan
diketahui bahwa luas DAS mencapai 470.0297209 𝑘𝑚2 dengan keliling 116 𝑘𝑚 . Hasil
perhitungan tersebut menunjukkan luasan DAS berada pada klasifikasi DAS Kecil
berdasarkan data acuan dari Bina Pengelolaan DAS dan Perhitanan Sosial. Sehingga dari
data luasan dan keliling dapat diketahui nilai Rc yang merupakan nilai bentuk DAS.
Berdasarkan hasil perhitungan diketahui sub-DAS Keduang memiliki nilai Rc sebesar 0.12
dan masuk pada klasifikasi kelas bentuk DAS memanjang.
Aspek topografi dengan pengukuran kemiringan rata-rata DAS (Sb) dihasilkan dari
mengalikan total panjang garis kontur ketinggian dengan interval kontur dan dibagi dengan
luas DAS. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai Sb sebesar 0.4 yang
bernilai rendah dan cenderung datar. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai elevasi yang
kurang bervariasi dengan interval kontur 50 meter dari 50 meter hingga 200 meter. Aspek
topografi yang kedua yaitu kemiringan atau gradient sungai yang dipengaruhi oleh beda
tinggi antara hulu dan hilir dengan nilai 4.9. Dimana aliran sungai mengikuti gaya
gravitasinya sehingga semakin besar tingkat kemiringan sungai maka air yang dibawa akan
semakin cepat sampai ke hilir.
Titik berat DAS diperhitungkan untuk mengetahui pada titik mana sebuah DAS
memiliki volume terbanyak atau terberat pada aliran air maupun material yang tersuspensi
dengan aktivitas-aktivitas DAS yang lain. Titik berat dapat diketahui dengan membagi DAS
menggunakan sistem grid yang memiliki variabel X dan Y. Sehingga dalam
mengklasifikasikan menggunakan perhitungan statistik. Berdasarkan acuan tersebut
diketahui bahwa nilai X mencapai 16.7 dan Y mencapai 14.1, sehingga dapat diketahui titik
temu dari kedua variabel yang dimaksud untuk mengetahui titik berat DAS.
Perhitungan aspek panjang alur meliputi sungai terpanjang dengan menghitung
panjang semua sungai dari masing-masing ordo, dimana pada perhitungan digital yang
dilakukan mencapai 393.32 km dengan panjang sungai utama atau sungai induk mencapai
30.48 km, dan panjang sungai ke titik berat DAS yaitu 21.39 km. Aspek panjang alur akan
memudahkan dalam menganalisis arah gerak, bentuk, dan aktivitas DAS.
Adapun aspek lain yang dapat diketahui adalah jumlah semua sungai dari ordo 1
hingga ordo terbesar pada daerah induk, pada perhitungan kali ini Sub-DAS Keduang
memiliki 4 ordo dengan nilai masing-masing ordo memiliki tingkat percabangan yang
berbeda. Pada ordo 1 tardapat 106 anak sungai dengan indeks tingkat percangan sungai 0.99,
ordo 2 sebanyak 21 anak sungai dengan indeks 0.95, ordo 3 mencapai 4 anak sungai dengan
indeks percabangan 0.8, dan pada ordo 4 terdapat 1 sungai utama atau sungai induk dengan
nilai indeks percabangan sungai 0.5. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa
indeks tingkat percabangan sungai (Rb) pada DAS Keduang pada masing-masing ordo
bernilai kurang dari 3, sehingga alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan
cepat sedangkan penurunannya berjalan lambat.
Kerapatan sungai atau drainasi (Dd) menunjukkan tingkat persebaran anak sungai
dalam suatu DAS. Nilai kerapatan aliran dapat diketahui dengan membagi jumlah panjang
sungai termasuk panjang anak-anak sungai dengan luas DAS dengan satuan kilometer per
kilometer persegi. Sehingga berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa nilai Dd
mencapai 0.5 dan masuk pada kriteria sedang. Semakin tinggi nilai Dd maka semakin baik
karena semakin rendah tingkat terjadinya banjir. Penggolongan kriteria tersebut
menunjukkan bahwa sistem drainase DAS Keduang kurang baik dikarenakan terjadinya
percepatan laju sedimen yang mengarah pada Waduk Gadjah Mungkur dengan aliran yang
mengarah ke intake. Sehingga kasus banjir masih sering dijumpai di daerah tersebut.

VIII. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa luas DAS mencapai 470.0297209 𝑘𝑚2
dengan keliling 116 𝑘𝑚. sub-DAS Keduang memiliki nilai Rc sebesar 0.12 dan masuk
pada klasifikasi kelas bentuk DAS memanjang dengan nilai Sb sebesar 0.4 yang bernilai
rendah dan cenderung datar.
2. kemiringan atau gradient sungai yang dipengaruhi oleh beda tinggi antara hulu dan hilir
mencapai nilai 4.9.
3. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa indeks tingkat percabangan sungai
(Rb) pada DAS Keduang pada masing-masing ordo bernilai kurang dari 3, sehingga alur
sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat sedangkan penurunannya
berjalan lambat.

IX. Daftar Pustaka

Soedarsono, S.,Takeda, K.2003. Hidrologi untuk Pengairan Jakarta


Anonim.2007.Karakteristik DAS Tuntang dan Jragung.BPDAS Pemali Jratun, Semarang.
Soewarno.1991.Hidrologi: Pengukuran dan Pengelolaan DAS (Hidrometri).Bandung
Sosial, B.P.D.A.S.d.P.2013.Pedoman Identifikasi Karakteristik DAS.
Sudarmadji.2007.Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Watershed Management).
Sandhyavitri, A.2013.Risk Analyses for Riau Regiona Water Supplu (SPAM).Jurnal of
Chemical Information and Modeling, 53 (September 2013), 1-36,
http://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004