You are on page 1of 36

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai negara yang Agraris, Indonesia memiliki sebagian besar penduduknya
bekerja sebagai petani yang mempunyai potensi yang cukup besar untuk
menggembangkan produk-produk pertanian seperti tanaman pangan, hortikultura,
peternakan, perikanan dan kehutanan. Keadaan alam Indonesia juga sangat
memungkinkan dilakukannya pembudidayaan berbagai jenis tanaman sayuran
baik itu lokal maupun luar negeri. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor
yang memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian nasional,
dalam penyerapan tenaga kerja, dan pemasukan devisa non migas. Peningkatan
produksi tanaman sayur–sayuran merupakan bagian penting dari usaha
peningkatan produksi hasil pertanian yang bermanfaat, baik sebagai sumber gizi
dalam menunjang kesehatan masyarakat pada umumnya maupun untuk
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani pada khususnya.
Kebutuhan pangan di Indonesia memang cukup besar, salah satunya adalah
buah terung yang dikonsumsi sebagai sayur. Terung sudah cukup populer di
Indonesia. Hampir semua kalangan dari berbagai daerah di Indonesia
mengkonsumsi buah ini. Pada catatan sejarah, daerah atau negara sebagai asal
tanaman terung terletak di Asia, yakni India dan Birma. Menurut penelitian, sejak
ratusan tahun lalu, terung mulanya hanya tumbuh liar. Namun kemudian setelah
diketahui rasanya enak dan bermanfaat,terung kemudian dibudidayakan di daerah
tersebut. Jadi hakikatnya, tanaman terung merupakan tanaman asli daerah tropis.
Di Indonesia terung menjadi sayuran yang wajib ada disetiap pasar. Terdapat
berbagai jenis terung yang dijual dipasaran, ini dikarenakan banyaknya konsumen
yang berniat membeli terung. Banyaknya penikmat terung ini tentu bukan tanpa
sebab, terung merupakan bahan baku dari pembuatan makanan. Terung bisa
diaplikasikan dengan masakan lain, ini yang membuat konsumen tidak pernah
bosan untuk menikmati terung. Apa lagi terung bergizi tinggi, cocok untuk semua
kalangan.

Universitas Sriwijaya
2

Terung mengandung gizi yang cukup tinggi, terutama kandungan Vitamin A


dan Fosfor. Setiap 100 g bahan mentah terong mengandung 26 kalori; 1 g protein;
0,2 g hidrat arang; 25 IU vitamin A; 0,04 g vitamin B; dan 5 g vitamin C. Buah
terung mempunyai khasiat sebagai obat karena mengandung alkaloid, solanin, dan
solasodin (Sunarjono, 2013).
Pengembangan budidaya tanaman terung dapat meningkatkan petani dalam
memperoleh hasil secara yang memuaskan, pengembangan agribisnis, perluasan
tenaga kerja, serta meningkatkan pendapatan negara dari pembatasan impor dan
memacu pertumbuhan ekspor. Menurut Badan Pusat Statistik (2014),
produktivitas tanaman terung di Indonesia pada tahun 1997 sampai tahun 2012
yaitu 518.827 ton/ha mengalami kenaikan sebesar 1,43%. Produksi terung
nasional tiap tahun cenderung meningkat namun produksi terong di Indonesia
masih rendah dan hanya menyumbang 1% dari kebutuhan dunia. Hal ini
disebabkan oleh luas lahan budidaya terung yang masih sedikit dan bentuk kultur
budidaya yang masih bersifat sampingan dan belum intensif (Simatupang, 2014).
Usaha peningkatan produksi hasil pertanian yang bermanfaat, baik sebagai
sumber gizi dalam menunjang kesehatan masyarakat maupun pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat tani. Peningkatan produksi pertanian di Indonesia
selama ini sangat bergantung pada input dalam bercocok tanam. Namun, dalam
bercocok tanam memiliki kendala dalam budidaya terung yakni kurang
intensifnya cara budidaya petani.
Banyak faktor yang berperan pada intensifikasi tanaman terung, antara lain
penanaman varietas unggul dan benih bermutu, perbaikan cara budidaya, cara
pengendalian hama-penyakit, dan penanganan pasca panen yang baik. Selain itu,
fakor penggunaan mulsa juga berperan dalam peningkatan produksinya.
Pemulsaan dapat menghambat pertumbuhan gulma serta dapat menambah
kesuburan tanah, khususnya untuk mulsa organik (Effendi, 2010).
Efektivitas penggunaan mulsa plastik di daerah tropis juga diperoleh dari
kemampuan fisik mulsa plastik melindungi tanah dari terpaan langsung butir
hujan, menggemburkan tanah-tanah dibawahnya, mencegah pencucian hara,
mencegah percikan butir tanah ke tanaman, mencegah penguapan air tanah, dan
memperlambat pelepasan karbon dioksida tanah hasil respirasi aktivitas

Universitas Sriwijaya
3

mikroorganisme. Penggunaan mulsa plastik merupakan salah satu cara budidaya


yang telah terbukti dapat meningkatkan hasil tanaman. Warna mulsa plastik yang
umumnya digunakan di Amerika Utara dan Eropa secara komersial adalah warna
hitam, transparan (bening), hijau dan warna perak. Plastik berwarna hitam dapat
menghambat pertumbuhan gulma dan dapat menyerap panas matahari lebih
banyak. Mulsa plastik bening dapat menciptakan efek rumah kaca, sementara
mulsa plastik perak dapat memantulkan kembali sebagian panas yang diserap
sehingga mengurangi serangan kutu daun (aphid) pada tanaman (Mawardi, 2000).
Penggunaan mulsa memberikan berbagai keuntungan, baik dari aspek biologi,
fisik maupun kimia tanah. Secara fisik mulsa mampu menjaga suhu tanah lebih
stabil dan mampu mempertahankan kelembaban di sekitar perakaran tanaman
(Doring et al.,2006).
Berdasarkan uraian di atas, penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Pengaruh penggunaan mulsa plastik perak pada pertumbuhan
dan hasil tanaman Terung (Solanum melongena L.) di Klinik Agribisnis
Universitas Sriwijaya”.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam praktik lapangan ini yaitu :
1. Bagaimana pengaruh penggunaan mulsa plastik perak pertumbuhan dan
hasil tanaman terung (Solanum melongena L.) di Lahan Praktik Klinik
Agribisnis Universitas Sriwijaya?
2. Bagaimana proses perkembangan dan pertumbuhan terung (Solanum
melongena L.) yang telah menggunakan mulsa perak plastik di Klinik
Agribisnis Universitas Sriwijaya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari praktik lapangan ini yaitu:
1. Mengetahui pengaruh penggunaan mulsa plastik perak pertumbuhan dan
hasil tanaman terung (Solanum melongena L.) di Lahan Praktik Klinik
Agribisnis Universitas Sriwijaya,

Universitas Sriwijaya
4

2. Mengetahui proses perkembangan dan pertumbuhan terung (Solanum


melongena L.) yang telah menggunakan mulsa perak plastik di Klinik
Agribisnis Universitas Sriwijaya.

1.4 Kegunaan
Melalui kegiatan praktik lapangan ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman tentang pemanfaatan mulsa untuk tanaman terung
(Solanum melongena L.) sebagai tambahan pustaka.

Universitas Sriwijaya
5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tanaman Terung


Terung merupakan jenis sayur yang dapat tumbuh di iklim sub tropis maupun
iklim tropis. Terung disebut dengan istilah brinjal di India dan aubergine di Eropa.
Dalam bahasa Inggris, terung disebut dengan nama eggplant yang berasal dari
bentuk buah dari beberapa varietas berwarna putih dan berbentuk menyerupai
telur ayam (Directorate Plant Production, 2011). Terung banyak digemari oleh
berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Terung memiliki istilah tersendiri
pada setiap daerah. Di pulau Jawa, terung disebut dengan istilah terong.
Dalam bahasa Batak, terung disebut dengan istilah torung. Di Bali disebut dengan
taung, dan nasubi di Jepang (Hastuti, 2007).
Terung (Solanum melongena L) termasuk jenis tanaman sayuran buah
semusim. Terung ungu merupakan jenis terung yang paling terkenal dari berbagai
semua jenis terung yang ada di Indonesia diantaranya ada beberapa jenis yang
diusahakan oleh petani dengan nama yang berbeda-beda dan bentuk,rasa serta
warna buah yang berbeda pula. Berdasarkan tipe buahnya, terung dibedakan
empat macam, yakni terung kopek, terung gelatik, terung cragi dan terung kelapa
(Bambang C, 2016).
Tanaman terung merupakan tanaman jenis dikotil, berakar tunggang dan
berbentuk perdu. Batang tanaman ini berukuran pendek, berbentuk bulat, berbulu,
berdiri tegak dengan tinggi 50-150 cm. Batangnya bercabang dan berkayu, tetapi
tidak kokoh sehingga saat berbuah lebat diperlukan ajir, yaitu suatu alat penegak
yang terbuat dari batang bambu untuk menyangga tanaman. Batang yang masih
muda berwarna hijau dan tidak berbulu. Daun tanaman terung berbentuk bulat
panjang dan meruncing pada ujungnya. Bunga dari tanaman terung berdiri tegak
pada ketiak daun dan berwarna putih lembayung atau ungu. Bentuk bunga
tanaman terung menyerupai bintang, terdiri atas 5-6 helai kelopak bunga. Buah
terung yang masih muda berwarna hijau keputih-putihan atau ungu, bergantung
pada jenisnya. Semakin tua buah, maka warna buah semakin cerah. Setiap buah
terung berisi daging buah berwarna putih dan berbiji banyak (Nuraini, 2011).

Universitas Sriwijaya
6

Terung memiliki sedikit perbedaan konsistensi dan rasa tergantung


varietasnya. Secara umum terung memiliki konsitensi yang menyerupai spons dan
memiliki rasa pahit tetapi terung yang telah mengalami proses penyilangan
memiliki kedekatan dengan tanaman kentang, tomat dan paprika.
Tanaman terung tergolong tanaman yang menghasilkan biji (spermatophyta), dan
biji yang dihasilkan berkeping dua sehingga diklasifikasikan dalam kelas
dicotyledonae. Tanaman terung dapat diperbanyak secara generatif, yaitu dengan
menanam bijinya (Samadi, 2001).

2.2. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Terung


2.2.1. Klasifikasi Tanaman Terung (Solanum melongena L)
Dalam klasifikasi tanaman, menurut Rukmana (2003) terung termasuk
salah satu jenis tanaman sayuran buah dari keluarga (famili) terung-terungan
(Solanaceae), tata nama (sistematika) tumbuhan tanaman terong diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub-divisio : Angiospermae
Kelas : Dycotyledonea
Ordo : Tubiflorae
Family : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum melongena L.

2.2.2. Morfologi Tanaman Terung (Solanum melongena L)


Tanaman terung termasuk satu keluarga dengan tanaman cabai (Capsicum
annum), tomat (Solanum lycopersicum), kentang (Solanum tuberosum). Tanaman
ini termasuk salah satu dari kelompok tanaman yang menghasilkan biji
(Spermathopyta). Adapun morfologi tanaman terung adalah sebegai berikut :

Universitas Sriwijaya
7

a. Akar
Akar tanaman terong ungu memiliki akar tunggang dan cabang-cabang akar
dapat menembus kedalam tanah sekitar 80-100 cm. Akar-akar yang tumbuh
mendatar dapat menyebar dengan radius 40-80 cm dari pangkal batang tergantung
dengan umur tanaman dan kesuburan tanah (Rukmana, 2003).

b. Batang
Batang terong ungu pendek, berkayu dan berbentuk silindris, tegak lurus, serta
memiliki percabangan simpodial. Tinggi batang tanaman bervariasi anatar 50-150
cm tergantung jenis varietesnya. Permukaan kulit batang cabang ataupun daun
tertutup oleh buku-buku halus. Batang tanaman ini membentuk percabangan yang
menggarpu dan tidak beraturan. Arah tumbuh cabang condong ke atas. Batang
utama terong memiliki ukuran cukup besar dan agak keras, sedangkan
percabangannya memiliki ukuran lebih kecil. Fungsi batang sebagai tempat
tumbuhnya daun dan organ-organ lain dan digunakan sebagai pengangkut zat hara
dari akar ke daun dan sebagai jalan menyalurkan zat hasil asimilasi ke seluruh
bagian (Bambang C, 2016).

c. Bunga Terung
Bunga terung merupakan bunga banci atau lebih dikenal dengan bunga
berkelamin dua, dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan (benang sari) dan
alat kelamin betina (putik). Bunga seperti ini sering dinamakan bunga lengkap.
Bunga terung berbentuk bintang, berwarna biru atau lembayung cerah sampai
warna yang lebih gelap. Bunga terung tidak mekar secara serempak dan
penyerbukan bunga dapat terjadi secara silang atau menyerbuk sendiri (Rukmana,
2003). Perhiasan bunga yang dimiliki adalah kelopak bunga, mahkota bunga, dan
tangkai bunga. Pada saat mekar, diameter bunga rata-rata 2,5-3 cm, letaknya
menggantung. Mahkota bunga berjumlah 5-8 buah dan akan gugur sewaktu buah
berkembang. Benang sari berjumlah 5-6 buah. Kedudukan putik umumnya lebih
tinggi dari pada benang sari, walaupun ada yang tingginya sama (Imdad dan
Nawangsih, 1999).

Universitas Sriwijaya
8

d. Daun
Daun terung terdiri atas tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina).
Daun seperti ini lazim disebut daun bertangkai. Tangkai daun berbentuk silindris
dengan sisi agak pipih dan menebal dibagian pangkal, panjangnya berkisar antara
5-8 cm. Daunnya berbentuk macam-macam yaitu belah ketupat hingga oval,
bagian ujung daun tumpul, pangkal daun meruncing, dan sisi bertoreh dan
permukaan daunnya tertutup oleh bulu-bulu halus. Helain daun terdiri atas tulang
pokok, tulang cabang, dan urat-urat daun. Tulang pokok daun merupakan
perpanjangan dari tangkai daun yang semakin mengecil ke arah pucuk daun.
Lebar helaian daun berbeda-beda sesuai varietasnya namun rata-rata sekitar 7-9
cm. Sedangkan panjang daun yaitu antara 12-20 cm (Soetasad et al., 2003). Letak
daun berselang-seling, dan bertangkai pendek. Jumlah daun adalah 8helai-15helai
dalam tiap satu batangnya (Joko, 2016).

e. Buah
Buah terung merupakan buah sejati tunggal dan berdaging tebal, lunak, serta
tidak akan pecah bila buah telah masak. Daging buah ini merupakan bagian yang
enak dimakan. Bentuk buahnya beraneka ragam, diantaranya bulat, lonjong atau
bulat panjang. Terung putih ini bentuknya hampir sama seperti terung jepang
namun ukurannya sedikit lebih besar. Berwarna putih bersih dan memiliki rasa
yang sedikit lebih manis dibandingkan dengan jenis terung lainnya. Biji- biji
terung terdapat bebas dalam selubung lunak yang terlindungi oleh daging buah.
Biji ini merupakan alat reproduksi atau perbanyakan tanaman secara generatif.
Buah terung merupakan buah sejati tunggal dan berdaging tebal, lunak dan berair
Daun kelopak melekat pada dasar buah, dan berwarna hijau atau keunguan. Buah
menggantung tiap tangkai buah. Umumnya pada satu tangkai terdapat satu buah
terung. Namun, ada pula yang lebih dari satu. Buah terung bentuknya beraneka
ragam sesuai dengan varietasnya (Soetasad et al., 2003). Buahnya bermanfaat
untuk menghambat kerusakan pembuluh darah, anti kejang dan anti kanker.

Universitas Sriwijaya
9

2.3. Manfaat Terung


Terung memiliki kandungan antioksidan dan komponen fenolat yang dapat
membantu mencegah kanker dan kolesterol tinggi, kadar serat pangan terung
dapat mencegah gejala sembelit, wasir, dan radang usus besar, serta rendah kalori.
Ekstrak polifenol dari bubur terung dipercaya mampu mencegah enzim
pencernaan, dan menurunkan kecernaan pangan (Uthumporn et al., 2015).
Manfaat dan Kegunaan terong yaitu anti kejang, anti kanker, dan pendepak
gangguan pembuluh darah, Manfaat lain buah terung yang matang bisa untuk
sirup, sup, adonan pengisi dan untuk rujak. Buah terong yang dibelah dapat
digunakan sebagai bumbu, serta dibakar atau dipanggang untuk digunakan
sebagai sayuran. Buah terong yang matang di pohon yang dipelihara pada
lingkungan yang cocok saja dapat menimbulkan rasa dan aroma enak. Buah
terong yang dimatangkan juga baik untuk digunakan sebagai sirup, jell, selai,
pencuci mulut dan sebagai hiasan es krim yang berkualitas baik. Bijinya terong
yang keras dapat dibuang setelah digodok. Air kapur dan gula dapat ditambahkan
agar rasanya lebih enak (Spilane, 1995).
Buah terung yang masih muda selain enak dan lezat untuk dijadikan berbagai
sayur atau lalapan, juga mengandung gizi cukup tinggi dan komposisinya lengkap.
Oleh karena itu, komoditas terung sangat potensial untuk dikembangkan secara
intensif dalam skala agribisnis sekaligus penyumbang cukup besar terhadap
keanekaragaman bahan pangan bergizi bagi penduduk. Kandungan gizi buah
terung disajikan pada Tabel 1.

Universitas Sriwijaya
10

Tabel 2.3. Kandungan gizi buah terung dalam tiap 100 gram bahan
Banyaknya
Kandungan Gizi
1 2
Kalori 24,00 kal. 24,00 kal.
Protein 1,00 gr 1,10 gr
Lemak 1,00 gr 0,20 gr
Karbohidrat 1,00 gr 5,50 gr
Serat 1,00 gr -
Abu 1,00 gr -
Kalsium 1,00 gr 15,00 mg
Fosfor 1,00 gr 37,00 mg
Zat Besi 1,00 gr 0,40 mg
Natrium 1,00 gr -
Kalium 1,00 gr -
Vitamin A 1,00 gr 30,00 S.I
Vitamin B1 1,00 gr 0,40 mg
Vitamin B2 1,00 gr -
Vitamin C 1,00 gr 5,00 mg
Niacin 1,00 gr -
Air 1,00 gr 92,70 gr

2.4. Persyaratan Tumbuh


2.4.1. Syarat Tanah
Tanaman terung secara umum memiliki daya adaptasi yang sangat luas
sehingga dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah (Samadi, 2001). Tanaman
terung dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah termasuk jenis tanah Ultisol.
Tetapi keadaan tanah yang paling baik untuk tanaman terung adalah jenis
lempung berpasir (sandy loam), subur, kaya akan bahan organik, aerasi, dan
drainasenya baik serta pada pH 5-6 (Soetasad et al., 2003). Tanaman terung dapat
tumbuh dan berproduksi baik di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan
ketinggian ± 1.000 meter dari permukaan laut (Rukmana, 2003). Namun terung
yang tumbuh pada ketinggian tempat lebih dari 800 meter di atas permukaan laut
pertumbuhannya akan lambat dan hasilnya akan berkurang (Siemonsma dan
Piluek, 1994).

Universitas Sriwijaya
11

2.4.2. Syarat Iklim


Menurut Samadi (2001) intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap
kualitas buah, terutama pada penampakan kulit buahnya. Pada pencahayaan yang
cukup, warna kulit buah terung akan tampak merata dan lebih mengkilap.
Temperatur berperan dalam menentukan masa berbunga terung dan
mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara kesuluruhan (Soetasad et al., 2003).
Keadaan cuaca dan iklim tanaman terung selama pertumbuhannya menghendaki
cuaca yang panas serta iklim yang kering, dengan Kondisi suhu udara antara 22C
– 30C. Tanaman terung sangat cocok bila ditanam pada musim kemarau. Sebab,
pada keadaan cuaca yang panas, akan merangsang dan mempercepat proses
pembungaan maupun pembuahan. Namun suhu udara yang lebih tinggi (diatas
32C), pembungaan dan pembuahan terung akan terganggu, yakni bunga dan buah
berguguran (Rukmana, 2003). Pada suhu yang rendah, tanaman juga akan
berkembang lebih lambat baik dalam fase pembentukan buah maupun masa
panennya (Soetasad et al., 2003).
Tanaman terung tergolong tahan terhadap penyakit layu bakteri. Meskipun
demikian penanaman terung didaerah yang curah hujannya tinggi dapat
mempengaruhi kepekaannya terhadap serangan penyakit layu bakteri
(Pseudomonas solanacearum E.F Smith). Untuk mendapatkan produksi yang
tinggi, tempat penanaman terung harus terbuka (mendapat sina matahari) yang
cukup. Ditempat yang terlindung, pertumbuhan tanaman terung akan kurus dan
kurang produktif.

2.5. Budidaya Terung Dengan Menggunakan Mulsa Hitam Perak


Terung merupakan tumbuhan yang tergolong keluarga Solanaceae dan genus
Solanum. Terung merupakan tumbuhan asli India dan Sri Lanka yang
berhubungan erat dengan tomat dan kentang. Buah terung biasanya digunakan
sebagai sayuran untuk masakan ataupun lalapan. Dalam budidaya terung, para
petani sangat mengharapkan hasil produksi terung yang optimal. Salah satu faktor
yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi terung adalah dengan
menggunakan mulsa plastik hitam perak. Peningkatan produktifitas tanaman
terung yang diproduksi dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak terjadi

Universitas Sriwijaya
12

karena efek ganda lembaran plastik dalam memodifikasi lingkungan rizosfir


tanaman dan lingkungan pertanaman sebagai akibat dari perubahan keseimbangan
cahaya matahari yang menerpa permukaan mulsa plastik hitam perak. Sehingga
penggunaan mulsa ini diharapkan dapat mengoptimalkan hasil produksi dari
terung tersebut.
Penggunaan mulsa plastik hitam perak sudah hampir menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dalam proses produksi tanaman sayuran, terutama cabe dan
tomat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis mulsa
pada berbagai jenis tanaman secara tepat dan benar dapat meningkatkan hasil awal
dan total hasil dari berbagai tanaman, meningkatkan kualitas hasil tanaman dan
pada akhirnya meningkatkan efisiensi usaha tani itu sendiri. Penggunaan mulsa
plastik hitam perak, sehingga upaya pemanfaatan teknologi ini dapat lebih optimal
dan efisien, serta terciptanya suatu proses produksi tanaman sayuran yang
berkelanjutan, baik dari sisi ekonomis, ekologis maupun dari segi social budaya
petani dalam memproduksi tanaman sayuran.
Pemasangan mulsa plastik hitam perak dibedengan tempat menanam terung
dilakukan setelah dipupuk. Sebaiknya pemasangan ini dilakukan pada siang hari
antara pukul 10.00 – 14.00 (pada saat terik matahari) dan yang sudah didiamkan
selama seminggu sebelum proses penanaman. Kebutuhan mulsa plastik untuk
penanaman terung disesuaikan dengan berapa luas lahan tersebut dengan jarak
tanam 60cm x 70cm. Dalam hal ini diperlukan alat-alat untuk pemasangan mulsa
plastic seperti pasak bambu berbentuk huruf U, pisau atau gunting untuk
memotong mulsa, dan mulsa plastik hitam perak.

Universitas Sriwijaya
13

BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIK LAPANGAN

3.1. Tempat dan Waktu


Kegiatan praktik lapangan dilaksanakan di Lahan Praktik Klinik Agribisnis
Universitas Sriwijaya, Jl. Raya Palembang – Prabumulih KM 32 Indralaya Ogan
Ilir. Adapun waktu pelaksanaan praktik lapangan ini dimulai pada bulan Februari
2018 sampai dengan bulan April 2018. Kegiatan selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 3.2.

3.2. Jadwal Kegiatan


Kegiatan praktik lapangan budidaya terung dilaksanakan dari bulan Februari
sampai April 2018. Kegiatan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.2. Jadwal
Kegiatan Praktik Lapangan

Bulan

No. Kegiatan Februari Maret April

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Perencanaan X X
2 Penyusunan
X X
Proposal
3 Kegiatan X X X X X
4 Panen X
5 Penyusunan
X X
Laporan

Tabel 3.2. Jadwal Kegiatan Praktik Lapangan

3.3. Prasarana dan Sarana


Adapun prasarana dan sarana yang akan digunakan dalam prakik lapangan
budidaya terung adalah :

Universitas Sriwijaya
14

Tabel 3.3. Prasarana dan sarana budidaya tanaman terung


No. Prasarana Sarana

1. Lahan Pertanian Pupuk Kandang (3 karung), Bibit (40 buah),


(Lahan Praktik Klinik Plastik Mulsa Hitam Perak (250 meter), Air
(100 liter), Kaleng Bekas (3), wadah
Agribisnis Fakultas penyemaian (40
Pertanian Universitas buah).
Sriwijaya.

2. Gudang Traktor (1), Mesin Pompa Air (1), Selang (1),


Cangkul (2), Arit (2), Bak tampung (1), hand
sprayer (1), Parang (1), serokan (3), Ember (1),

3.4. Metode Praktik Lapangan


Metode pelaksanaan praktik lapangan ini adalah dengan observasi langsung,
partisipasi aktif, dan fotografi dalam kegiatan serta melakukan studi pustaka untuk
memperlancar kegiatan praktik lapangan. Metode observasi langsung adalah
dengan melakukan partisipasi aktif terhadap budidaya tanaman terung dan
didokumentasikan. Sedangkan partisipasi aktif dilakukan dengan cara
mempraktikkan langsung cara-cara melakukan budidaya cabe merah dengan
menggunakan dua perlakuan jarak tanam yang berbeda yaitu 75×40cm dan 50×20
cm dalam lahan seluas 30×10m. Kemudian melakukan pemotretan gambar,
perawatan dan pemeliharaan pasca berlangsungnya pertumbuhan tanaman. Data
yang diperoleh dari lapangan berupa data primer, dan hasil dari kegiatan fotografi
selama berlangsungnya pertumbuhan tanaman. Data primer yaitu hasil
pengamatan dan partisipasi langsung di lapangan mengenai budidaya tanaman
terung dengan menggunakan mulsa hitam perak.

Universitas Sriwijaya
15

BAB 4
GAMBARAN UMUM LOKASI

4.1. Letak dan Batas Wilayah Administrasi


Letak lokasi praktik lapangan ini di Lahan Praktik Klinik Agribisnis
Universitas Sriwijaya, Jl. Raya Palembang – Prabumulih KM 32 Indralaya,
Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Batas Wilayah Kota Indralaya,
Kabupaten Ogan Ilir, secara administratif adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Rambutan Kabupaten
Banyuasin, Kecamatan Kertapati, Gandus dan Seberang Ulu I Kota
Palembang
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Peninjauan Kabupaten Ogan
Komering Ulu.
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Jejawi, SP Padang,
Kayuagung, Pedamaran, dan Tanjung Lubuk Kabupaten OKI dan Kecamatan
Cempaka Kabupaten OKU Timur.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Lubai, Gelumbang, dan Muara
Belida Kabupaten Muara Enim dan Kecamatan Rambang Kapak Tengah
Kota Prabumulih.
Universitas Sriwijaya memiliki sepuluh Fakultas yang terbagi menjadi
delapan zona sesuai dengan kedekatan Fakultas, yaitu :
1. Zona A berada di Fakultas Ekonomi
2. Zona B berada di Fakultas FKIP
3. Zona C berada di Fakultas Pertanian
4. Zona D berada di Fakultas MIPA
5. Zona E berada di Fakultas Teknik
6. Zona F berada di Fakultas Kedokteran
7. Zona G berada di Fakultas Hukum, dan
8. Zona H berada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Fakultas Pertanian tertelak di Zona C yang terletak antara Fakultas MIPA dan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Fakultas Pertanian memiliki sepuluh
program studi, diantaranya yaitu :

Universitas Sriwijaya
16

1. Program Studi Agribisnis


2. Program Studi Agroekoteknologi
3. Program Studi Ilmu Tanah, Program Studi Agronomi
4. Program Studi Proteksi Tanaman
5. Program Studi Budidaya Perairan
6. Program Studi Teknologi Hasil perikanan
7. Program Studi Teknologi Hasil Pertanian
8. Program Studi Teknik Pertanian
9. Program Studi Peternakan.

Program studi Agribisnis memiliki kantor dengan batas- batas Administrarif


sebagai berikut ;
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Lahan Praktik Klinik Agribisnis,
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Program studi Ilmu Tanah.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Dekanat Fakultas Pertanian.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan.

4.2. Prasarana dan Sarana


Prasarana adalah semua benda yang tetap di tempat dan tidak dapat
digerakkan/dipindahkan. Sarana adalah semua benda yang dapat digerakkan/
dipindahkan. Prasarana yang dimiliki oleh Fakultas Pertanian Universitas
Sriwijaya adalah gedung kuliah dua lantai dengan jumlah kelas sebanyak empat
belas ruangan dilengkapi dengan empat toilet masing-masing dua toilet
perempuan dan dua toilet laki-laki dengan sarana seperti pendingin ruangan,
papan tulis, kursi, meja dosen, proyektor, layar proyektor, spidol, dan penghapus
spidol. Selain itu terdapat gedung Dekanat Fakultas Pertanian memiliki tiga lantai
yang terdiri dari kantor-kantor tiap jurusan dan program studi serta ruangan dosen,
tempat fotocopy, kator tata usaha dan perpustakaan fakultas. Adapun sarana yang
dimiliki gedung Dekanat yaitu seperti kursi, meja, buku, pendingin ruangan, WIFI
(areal hospot), mesin printer dan fotocopy dan lain sebagainya. Bagian belakang
terdapat prasarana seperti laboratorium tiap jurusan, lahan praktik klinik
Agribisnis untuk percobaan mahasiswa, parkiran, lapangan futsal dan gazebo tiap
jurusan.

Universitas Sriwijaya
17

4.3. Geografi dan Topografi


Keadaan alam Klinik Agribisnis sama dengan keadaan alam Kota Indralaya,
Kabupaten Ogan Ilir yang secara geografis terletak diantara 20 55' sampai 30 15'
LS dan diantara 1040 20' BT sampai 1040 48' BT. Kota Indralaya, Kabupaten
Ogan Ilir mempunyai ketinggian tempat dari permukaan laut setinggi 10-11
meter. Kota Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir merupakan daerah beriklim Tropis
Basah (Type B) dengan musim kemarau berkisar antara bulan Mei sampai
dengan bulan Oktober, sedangkan musim hujan berkisar antara bulan November
sampai dengan April.
Pada tahun 2017, iklim di Kabupaten Ogan Ilir berlangsung normal dengan
musim hujan terjadi diatas normal pada bulan Januari 2017, serta puncak hujan
terjadi pada bulan Januari 2015. Musim kemarau tahun 2017 terjadi sangat kering
dan panjang yakni mulai bulan Mei sampai Nopember 2017. Curah hujan rata-
rata berkisar antara 2.600 mm hingga 3.500 mm, dan jumlah hari hujan 112 hari
per tahun. Suhu udara harian berkisar antara 220 C sampai 340 Celcius. Rata-rata
Kelembaban udara harian berkisar antara 61 % sampai 97 %. Wilayah daratan
Kabupaten Ogan Ilir mencapai 65 % serta wilayah berair dan rawa-rawa sekitar
35 %. Derajat keasaman tanah berkisar antara pH 4,0 sampai pH 6,0.

4.4. Lahan Praktik Klinik Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas


Sriwijaya Indralaya

Gambar 4.1. Klinik Agribisnis

Universitas Sriwijaya
18

Lahan praktik klinik agribisnis merupakan tempat pelaksanaan praktik


lapangan yang berada di bawah koordinasi program studi agribisnis, yang mana
diketuai oleh Bapak Ir. Nukmal Hakim, M.Si dan dijaga oleh Bapak Bandi. Lahan
praktik ini terletak di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indaralaya yang
beralamat di Jl. Raya Palembang – Prabumulih KM 32 Indralaya, Kabupaten
Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Lahan praktik klinik agribisnis ini memiliki
luas areal mencapai 3,5 hektar. Umumnya lahan praktik klinik agribisnis ini
digunakan oleh mahasiswa program studi agribisnis untuk melaksanakan kegiatan
praktik lapangan. Untuk luas lahan yang dapat dimanfaatkan pada praktik
lapangan tahun 2018 yang berdekatan dengan lahan budidaya terung putih dapat
dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Luas lahan yang dimanfaatkan praktik lapangan yang berdekatan
dengan lahan budidaya sekitar tahun 2018.
Jenis Luas Lahan Jumlah
No
Tanaman (m2) Anggota
1 Terung Putih 30 5
2 Kacang Hijau 30 5
Terung
3 30 1
Gelatik
4 Timun Suri 30 5

Universitas Sriwijaya
19

BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Budidaya Terung (Solanum melongena L.)


Tanaman terung di Indonesia memiliki prospek perkembangan budidaya
terung yang cukup terang. Pada segi harga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat, sehingga membuka peluang yang besar terhadap serapan petani
maupun pasar. Namun, untuk mencapai hasil yang maksimal dalam budidaya
Terung (Solanum melongena L. ) terdapat beberapa tahap budidaya. Beberapa
tahapan tersebut seperti yang akan dijelaskan sebagai berikut :
5.1.1. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan membajak lahan secara manual
menggunakan cangkul dan dengan bantuan mesin traktor. Pada saat pengolahan
lahan sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak terlalu basah atau tidak terlalu
kering agar strukturnya tidak rusak, lengket, atau keras. Setelah melakukan
persiapan lahan, maka tahap selanjutnya yaitu pengolahan tanah. Pengolahan
tanah dilakukan 2-3 minggu sebelum tanam. Pengolahan tanah dilakukan dengan
tenaga kerja sebanyak 1 orang (1HOK) selama 8 jam dengan menggunakan
traktor dan cangkul. Dalam hal ini penggunaan traktor bertujuan untuk membajak
dan menggarap tanah sehingga tanah menjadi rata dan gembur, dan menggunakan
cangkul bertujuan untuk membuat galangan pada lahan.
Lahan yang digunakan termasuk lahan yang mudah diolah karena telah
beberapa kali dijadikan lahan untuk beberapa jenis tanaman sebelumnya tapi
harus diolah terlebih dahulu agar lahan mudah ditanami. Tujuan dilakukan
pengolahan tanah selain menjadikan tanah gembur dan subur pengoalahan tanah
membuat drainase dan aerase pada lahan menjadi baik untuk membantu
mengoptimalkan unsur hara pada tanah. Selanjutnya dilakukan pengolahan tanah
dengan membuat bedengan dengan cara menimbun tanah dari hasil galian dan
dibuat sebanyak 6 buah dengan jarak bedengan berkisar 50-60 cm. Pembuatan
bedengan untuk terung sangat mudah untuk dilakukan setelah tanah dalam
keadaan gembur dan bersih dari rerumputan. Fungsi dibuatnya bedengan ini
adalah untuk membuat struktur tanah menjadi lebih gembur dan memungkinakan

Universitas Sriwijaya
20

keadaan akar tanaman lebih nyaman sehingga akar-akarnya tumbuh sempurna dan
menghasilkan tanaman yang sehat dan berkualitas tinggi.

5.1.2. Pemupukan Dasar (Pupuk Kandang)


Setelah melakukan pengolahan lahan, tahap selanjutnya adalah
pemupukan dasar dengan pupuk kandang dari kotoran kambing dan kotoran
ayam. Jumlah pupuk yang digunakan yaitu pupuk ayam sebanyak 2 karung dan
pupuk sapi hanya satu karung. Kedua pupuk ini dicampurkan lalu disebarkan
pada tanah yang sudah dibuat bedengan. Bedengan yang sudah diberikan pupuk
dasar, didiamkan selama 1-2 minggu agar pupuk dapat beradaptasi dan maksimal
untuk pertumbuhan dan perkembangan terung.

5.1.3. Pemasangan Plastik Mulsa


Pemasangan plastik mulsa bertujuan untuk Pemasangan plastik mulsa ini
bertujuan untuk melindungi permukaan tanah dari erosi, menjaga kelembaban dan
struktur tanah, serta akan dapat menghambat pertumbuhan gulma. Penggunaan
plastik mulsa ini juga akan menambah produksi menjadi lebih tinggi, peningkatan
suhu tanah akan memacu pertumbuhan tanaman serta dapat mempercepat masa
panen, dari hasil masa panen lebih cepat 7-14 hari. Pemasangan mulsa dapat
dilihat pada Gambar 5.1 dan 5.2

Gambar 5.1 Pemakaian plastik mulsa Gambar 5.2 Lahan tidak memakai
plastik mulsa

Universitas Sriwijaya
21

Setelah itu, pembuatan lubang tanam dengan jarak 60 cm x 70 cm untuk


ditanami dengan bibit terung. Namun, pada penelitian kali ini setengah bedengan
plastik mulsa dilepaskan. Jadi hanya setengah yang menggunakan plastik mulsa.

5.1.4. Persemaian Benih


Proses penyemaian benih terung dilakukan secara serentak dalam
melakukan pengolahan lahan, bedengan serta pemasangan mulsa. Hal ini
dilakukan untuk mempercepat waktu agar hasil panen dapat maksimal. Sehingga
ketika lahan telah siap untuk ditanami, bibit pun sudah siap untuk dipindahkan ke
lahan. Untuk benih terung sendiri, menggunakan benih terung putih kania F1 cap
panah merah. Benih yang digunakan untuk Praktik Lapangan ini sebanyak satu
bungkus dengan luas lahan 1m x 30 m. Pada gambar 5.3 dapat dilihat benih yang
digunakan pada praktik lapangan ini

Gambar 5.3 Penggunaan benih terung

Penggunaan benih dalam praktik ini telah sesuai dengan syarat-syarat


benih yang baik, yakni secara fisik dan mempunyai daya tumbuh lebih dari 90%,
tidak tercemar hama dan penyakit serta sehat. Sebelum melakukan persemaian,
benih terung putih di rendam terlebih dahulu dalam larutan air selama 24 jam.
Untuk benih yang mengapung dibuang karena menandakan benih tersebut kurang

Universitas Sriwijaya
22

baik. Kemudian tiriskan benih, lalu ditanamkan di media semai yakni polybag
yang sudah diisi dengan tanah dan pasir dengan perbandingan 2 : 1. Setelah kedua
media tanam ini telah siap maka benih dimasukkan. Masing-masing polybag diisi
dengan 1-2 benih. Lalu disiram dengan air.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan
seperti temperatur, cahaya, air, dan sebagainya. Penyiraman pada benih ini
dilakukan secara rutin setiap pagi dan sore agar mempercepat pertumbuhan dan
menjaga kelembaban tanah. Penyemaian ini dilakukan selama 2-4 minggu sampai
benih sudah siap dipindahkan ke lahan yang sudah disiapkan. Pada gambar 5.4
merupakan pertumbuhan benih.

Gambar 5.4 Benih terung yang mulai tumbuh

5.1.5. Penanaman
Penanaman bibit terung (Solanum melongena L.) dilakukan di lahan seluas
30 m x ½ m dimana setiap lubang tanam berdiameter 3 cm dan kedalaman 3 cm.
Kemudian, memilih bibit yang siap untuk ditanam dengan memperhatikan bibit
yang bebas dari hama dan penyakit. Pada saat penanaman dalam budidaya terung
(Solanum melongena L.) pembuatan lubang tanam dengan jarak 60 cm x 75cm
dari lubang satu ke lubang yang lainnya. Sebelumnya lubang tersebut disiram air
secukupnya, lalu bibit yang terpilih dipindahkan satu persatu ke lubang yang telah

Universitas Sriwijaya
23

disiapkan dan diusahakan tidak terlepas dari tanahnya. Kegiatan ini dilakukan
disore hari, hal ini dikarenakan agar mengurangi terjadinya kegagalan atau
mengurangi kematian pada tanaman yang baru dipindahkan serta agar perakaran
tidak terganggu. Dapat dilihat pada gambar 5.5 penyiraman lubang tanaman dan
gambar 5.6 proses penanaman bibit terung.

Gambar 5.5 Penyiraman lubang tanaman Gambar 5.6 Proses penanaman bibit

5.1.6. Pemeliharaan Tanaman


Pada proses penanaman tanaman terung sering ditemukan beberapa
tanaman yang mati maupun rusak. Hal ini disebabkan oleh gagalnya tanaman
beradaptasi dengan lingkungan baru atau hama dan penyakit yang menyerang.
Maka dari itu diperlukan pemeliharaan tanaman terung dengan cara penyulaman,
penyiraman, penyiangan dan pemupukan. Adapun penjelasan dari pemeliharaan
tanaman terung sebagai berikut :
5.1.6.1. Penyulaman
Proses penyulaman pada tanaman terung dilakukan sesudah satu minggu
proses penanaman bibit jika ada tanaman mengalami gangguan yakni terserang
oleh hama maupun penyakit yang menyebabkan tanaman menjadi mati dan juga
kerdil. Penyulaman dilakukan menggunakan bibit yang sehat, hal ini bertujuan
agar tanaman terung dapat tumbuh teratur serta jumlah tanaman persatuan luas
akan tetap optimum sehingga target produksi tetap tercapai.

Universitas Sriwijaya
24

5.1.6.2. Penyiraman
Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah melakukan penyiraman
secara rutin yang dilakukan pada pagi atau sore hari menggunakan alat
penyiraman yakni gembor. Penyiramakan dilakukan bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan air tanaman dan menjaga kelembaban tanah karena tanaman terung
merupakan tanaman yang membutuhkan kadar kelembaban yang cukup tinggi.
Sehingga jika tanaman kekurangan air maka akan terjadi penghambatan
pertumbuhan tanaman dan juga agar tidak mudah layu.

5.1.6.3. Penyiangan
Penyiangan merupakan usaha pengendalian atau pengurangan gulma yang
tumbuh didaerah sekitar tanaman. Penyiangan dilakukan dalam seminggu sekali.
Gulma harus dibersihkan karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil
produksi. Hal ini dilakukan menggunakan cangkul dan juga menggunakan tangan.
Pertumbuhan gulma sendiri sangat cepat maka dari itu harus benar-benar
diperhatikan.

Gambar 5.7 Proses penyiangan lahan tanaman terung

5.1.6.4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dua minggu setelah proses penanaman dengan
memberikan zat-zat makan pada tanaman serta memperbaiki struktur tanah dan
menambah unsur hara bagi tanaman. Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk

Universitas Sriwijaya
25

NASA yang dicairkan dengan air lalu disiramkan ke tanaman terung. Adapun
manfaat dari pupuk ini adalah memperbaiki lahan yang rusak, mempercepat
pertumbuhan, pembungaan, pembuahan dan mengurangi kerontokan bunga atau
buah serta meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman.

5.1.6.5. Pengendalian Hama dan Penyakit


Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan manual dan
menggunakan pestisida organik. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil
produksi dengan kualitas yang tinggi. Hama dan penyakit ini harus ditanggulangi
karena jika tidak maka akan mengganggu perkembangan tanaman itu sendiri.
Adapun hama yang ditemukan dilapangan adalah hama lalat buah dan ulat. Untuk
mengatasi hal ini dilakukan pengendalian hama menggunakan insektisida
lamdarin dengan cara satu tutup botol tersebut dicampurkan dengan air biasa lalu
disiramkan pada tanaman.

Gambar 5.8 Insektisida Lamdarin

5.1.7. Panen
Pemanenan tanaman terung dilakukan pada umur ± 90 hari setelah
penanaman. Buah terung yang siap panen memiliki bentuk yang cukup besar
dengan keadaan buah yang padat dan belum terlalu tua. Jika terlambat dipanen
maka kualitas buah terung akan menurun. Pemanenan dilakukan dengan cara

Universitas Sriwijaya
26

memotong bagian pangkal buah mengunakan gunting dan dilakukan oleh 1 orang
(1HOK) selama 2 jam yang berlangsung di sore hari.

Gambar 5.9 Hasil Pemanenan Tanaman Terung


Terung (Solanum melongena L.) yang sudah dapat dipanen mempunyai
ukuran panjang sekitar 14-25cm dan mempunyai diameter sekitar 15cm.
Pemanenan Terung dilakukan sebanyak satu kali panen yaitu pada tanggal 18 Mei
2018.

5.2. Pertumbuhan Terung (Solanum melongena L.)


Pengamatan pertumbuhan terung Solanum melongena L.) dilakukan setiap
minggu. Pengamatan ini terbagi menjadi dua yakni pengamatan organ
pertumbuhan vegetatif dan peengamatan organ generatif. Pengamatan dilakukan
mulai dari umur terung 16 hari pada tanggal 12 Maret 2018 hingga 21 Mei 2018
dengan mengambil beberapa sampel dari populasi terung yang ada di lahan
tersebut. Sampel yang diamati sebanyak 17 sampel terung. Adapun tabel
pengamatan pertumbuhan terung dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.

5.3. Pengaruh Penggunaan Mulsa Plastik Perak Pada Budidaya Terung


(Solanum melongena L.)
Dalam budidaya terung (Solanum melongena L.) ini terdapat dua model
tanam yaitu menggunakan mulsa plastik perak dan tidak menggunakan mulsa.
Penggunaan mulsa plastik perak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, hasil

Universitas Sriwijaya
27

produksi dan keadaan fisik terung tersebut. Dilihat dari pertumbuhan terung,
tanaman yang menggunakan mulsa plastik perak lebih tinggi, pertumbuhannya
lebih cepat dan lebih merata dibandingkan dengan tanaman yang tidak
menggunakan mulsa plastik perak.
Tanaman terung yang menggunakan mulsa lebih cepat berbuah secara merata
dibandingkan terung yang tidak menggunakan mulsa. Hal ini disebabkaan karena
penggunaan mulsa warna hitam akan menyerap panas sehingga suhu disekitar
perakaran tanaman menjadi hangat. Selain itu warna hitam juga mencegah sinar
matahari menembus kedalam tanah sehingga benih-benih gulma tidak akan
tumbuh. Kemudian, warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya matahari
sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal.
Dilihat dari hasil produksi terung menggunakan mulsa, hasil yang diperoleh
lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak menggunakan mulsa, dimana
masing-masing memiliki hasil produksi sebesar 4kg dan 2kg. Keadaan fisik pun
memiliki perbedaan, terung yang menggunakan mulsa memiliki daun yang hijau
sedangkan yang tidak menggunakan mulsa memiliki daun yang agak pucat dan
kecil. Dari segi batang pun lebih kuat yang menggunakan mulsa daripada yang
tidak menggunakan mulsa.
Sehingga dari hasil yang diamati selama praktik lapangan ini, penggunaan
mulsa plastik hitam perak lebih efisien dalam budidaya terung dibandingkan
dengan tidak menggunakan mulsa plastik hitam perak.

Universitas Sriwijaya
28

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan Praktik Lapangan yang dilakukan, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Indonesia merupakan Negara yang Agraris, dimana memiliki sebagian besar
penduduknya bekerja sebagai petani yang mempunyai potensi yang cukup
besar untuk menggembangkan produk-produk pertanian seperti tanaman
pangan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kehutanan. Terung menjadi
sayuran yang wajib ada disetiap pasar. Terdapat berbagai jenis terung yang
dijual dipasaran dengan harga yang terjangkau, ini menyebabkan banyaknya
konsumen yang berniat untuk membeli.
2. Pada budidaya terung (Solanum melongena L.) untuk mendapatkan hasil yang
optimum, memerlukan beberapa tahapan dalam proses membudidayakannya,
yakni dengan mempersiapkan lahan seluas 30m x ½ m, pemupukan dasar,
pemasangan mulsa, persemaian benih dan penanaman. Kemudian melakukan
pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman, penyulaman, penyiangan,
pemupukan dan pengendalian hayati.
3. Penggunaan mulsa memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, hasil produksi,
dan keadaan fisik terung. Dari hasil pengamatan selama praktik lapangan ini,
bahwa penggunaan mulsa lebih efisien dalam budidaya terung dibandingkan
dengan tidak menggunakan mulsa.

6.2. Saran
Saran yang dapat diberikan setelah melaksanakan praktik lapangan selama ini
adalah :
1. Para petani dalam membudidayakan terung terutama terung putih, sebaiknya
diterapkan untuk menggunakan mulsa plastik perak karena dapat memberikan
keuntungan baik dari biologi, fisik maupun kimia tanah. Secara fisik mulsa
mampu menjaga suhu tanah lebih stabil dan mampu mempertahankan
kelembaban di sekitar perakaran tanaman.

Universitas Sriwijaya
29

LAMPIRAN

Universitas Sriwijaya
30

Universitas Sriwijaya
31

LAMPIRAN 1. Gambar Pertumbuhan Tanaman Terung (Solanum melongena L.)

Tanaman berumur dua minggu

Umur tanaman satu bulan

Kondisi lahan satu bulan satu minggu Umur tanaman satu bulan dua minggu

Universitas Sriwijaya
32

Umur tanaman dua bulan

Terung mulai berbuah

Buah terung yang terserang hama

Universitas Sriwijaya
33

Proses pemotongan terung Hasil panen

Universitas Sriwijaya
34

Lampiran 2. Data Sampel Pengamatan Terung (Solanum melongena L.)

Tabel 1. Tinggi Tanaman


Tinggi Tanaman Minggu Ke-
Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8
Ke- 28/03/ 09/04/ 19/04/ 24/04/ 01/05/ 14/05/ 21/05/ 29/05/
18 18 18 18 18 18 18 18
1 6 10 19 22 25 27 31 35
2 5 9,5 21 27 30 32,5 35 37
3 6,5 15 26,5 30 32,5 34 36 39
4 5,7 10 25 34 35 37,5 40 42
5 5,5 9,5 19 32 34 35,5 38 40
6 5 16 21,5 30,5 33 35,5 38,5 41
7 7 15 28 35 37 40 42,5 44
8 5,6 11 24 30 32,5 35 38 40,5
9 6 10 20,5 23,5 25 28,5 30 33
10 3 5,5 11,5 layu - - - -
11 5 8,5 - - - - - -
12 5 8 19,5 22 24,5 27 30 31,5
13 2 4,5 7,5 9 11,5 15 17,5 20
14 4,5 6,5 9,5 12 16 19,5 21 24
15 5 11 22 24 26,5 29 30,5 32
16 5 10 22 25,5 27 29,5 32 35,5
17 3,5 6 10,5 13,5 17 19,5 22 23,5

Universitas Sriwijaya
35

Tabel 2. Jumlah Daun


Jumlah Daun Tanaman Minggu Ke-
Tanaman 1 2 3 4 5 6 7
Ke- 28/03/1 09/04/ 19/04/1 24/04/ 01/05/1 14/05/ 21/05/1
8 18 8 18 8 18 8
1 5 10 14 19 24 29 34
2 7 13 17 20 25 30 36
3 7 20 23 25 28 32 37
4 7 17 20 24 26 29 35
5 6 9 15 23 27 32 37
6 7 16 22 27 32 38 42
7 6 17 26 32 37 44 48
8 6 13 17 22 26 28 34
9 7 11 15 17 23 27 31
10 5 7 9 layu - - -
11 4 7 - - - - -
12 7 9 12 16 17 20 24
13 4 6 9 14 18 21 22
14 3 6 8 11 12 15 17
15 5 8 11 14 15 19 20
16 8 19 22 26 30 31 37
17 6 8 11 13 17 22 26

Universitas Sriwijaya
36

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2014. Produksi Tanaman Sayuran di Indonesia Periode


2003 – 2007. http://bps.go.id (Diakses 20 Januari 2018).
Bambang, C. 2016 Untung Besar dari Terung Hibrida, Penerbit Pustaka Mina,
Depok Timur
Doring T., U. Heimbach, T. Thieme, M. Finckch, H. Saucke. 2006. Aspect of
Straw Mulching in Organic Potatoes-I, Effects on Microclimate,
Phytophtora Infestans, and Rhizoctonia solani. Nachrichtenbl. Deut.
Pflanzenschutzd. 58 (3):73-78.
Effendi, R. 2010. Teknik Pemeliharaan Hutan Tanaman Dengan Mulsa Organik.
Prosiding Seminar Nasional MAPEKI XIII, Inna Grand Bali Beach Hotel,
Sanur, Bali, 10-11 November 2010. MAPEKI Bogor.
Hastuti, L.D.S. (2007). Terung-Tinjauan Langsung Kebeberapa Pasar Di Kota
Bogor. Tugas Akhir. Medan: Program Studi Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara
Imdad, H.P. dan A.A. Nawangsih. 1999. Sayuran Jepang. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Mawardi. 2000. Pengujian mulsa plastik pada tanaman melon. Agrista 2: 175180.

Rukmana, R. 2003. Bertanam Terung. Kanasius, Jogyakarta.

Samadi, B. 2001. Budidaya Terung Hibrida. Kanisius, Yogyakarta.

Siemonsma, J.S. dan K. Piluek. 1994. Plant Resources of South East Asia
Vegetables. Prosea Foundation. Bogor.

Simatupang. 2014. Sayuran Jepang. Penebar Swadaya. Jakarta. Soetejo

Soetasad, Muryanti dan Sunarjono. 2003. Budidaya Terung Lokal dan Terung
Jepang. Penebar Swadaya. Jakarta

Sunarjono. H. 2013. Bertanam 30 Jenis Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta.

Universitas Sriwijaya