You are on page 1of 14

SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA

Dalam upaya merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang resmi, terdapat usulan-
usulan pribadi yang dikemukakan dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia yaitu :

• Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945.
Yamin merumuskan lima dasar sebagai berikut: Peri Kebangsaan, Peri
Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dia
menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah,
peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di
Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya meragukan pidato Yamin
tersebut.[1]
• Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sukarno
mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme;
Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan.
Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni
itu, katanya:

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat,


kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca
Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli
bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas
kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.

Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa
dokumen penetapannya ialah :

• Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) - tanggal 22 Juni 1945


• Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar - tanggal 18 Agustus 1945
• Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat - tanggal
27 Desember 1949
• Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara - tanggal 15
Agustus 1950
• Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama
(merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

[sunting] Hari Kesaktian Pancasila


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gerakan 30 September

Pada tanggal 30 September 1965, adalah awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI).
Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi
komunis. Hari itu, enam Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya
kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut
mengalami kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan
30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila,
memperingati bahwa dasar Indonesia, Pancasila, adalah sakti, tak tergantikan.

BURUNG GARUDA PANCASILA


Makna Lambang Garuda Pancasila

• Burung Garuda melambangkan kekuatan


o Warna emas pada burung Garuda melambangkan kejayaan
• Perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia
o Simbol-simbol di dalam perisai masing-masing melambangkan sila-sila
dalam Pancasila, yaitu:

Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa (sila ke-1)


Rantai melambangkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (sila ke-2)
Pohon Beringin melambangkan sila Persatuan Indonesia (sila ke-3)
Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan (sila ke-4)
Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia (sila ke-5)


o Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia.
Merah berarti berani dan putih berarti suci
o Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah
Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa
• Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus
1945), antara lain:
o Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17
o Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8
o Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19
o Jumlah bulu di leher berjumlah 45
• Pita yg dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan negara Indonesia,
yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti "walaupun berbeda beda, tetapi tetap
satu"

Garuda Pancasila
Kategori : Pengetahuan Umum, Sejarah Indonesia

Garuda Pancasila merupakan lambang


negara Republik Indonesia yang secara resmi digunakan dalam berbagai penggunaan
kenegaraan. Lambang ini didesain oleh Sultan Hamid II dan ditetapkan penggunaannya
pada tanggal 11 Februari 1950 oleh Presiden RI Soekarno. Disebut Garuda karena
berbentuk burung Garuda menghadap ke kanan dan mengenakan perisai yang
menggambarkan Pancasila di dadanya dengan mencengkeram pita dengan tulisan
semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika“.

Penggunaan lambang negara Garuda Pancasila diatur penggunaannya melalui Peraturan


Pemerintah No.43 / Tahun 1958.

SEJARAH

Burung Garuda merupakan binatang mitos dalam mitologi Hindu dan Buddha. Garuda
dalam mitos digambarkan sebagai makhluk separuh burung (sayap, paruh, cakar) dan
separuh manusia (tangan dan kaki).

Garuda muncul dalam banyak tradisi di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Dalam
banyak kisah, Garuda kerap melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan,
keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai wahana Wishnu, Garuda juga dianugerahi
sifat Wishnu sebagai pemelihara tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda
dimuliakan sebagai “Raja semua makhluk yang dapat terbang”, serta dipuja sebagai
“Raja Agung para Burung”. Dalam kesenian Bali, Garuda digambarkan sebagai makhluk
surgawi dengan kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, sementara tubuhnya adalah tubuh
manusia. Biasanya ia digambarkan berwarna keemasan dan warna-warna cerah, baik
dalam posisi sebagai wahana Wishnu, atau tengah memerangi Naga.

Arca dan relief Garuda muncul di banyak candi purba Indonesia seperti Prambanan,
Penataran, Belahan, dan Sukuh. Di kompleks candi Prambanan tepat di muka Candi
Wishnu terdapat sebuah candi yang dipersembahkan untuk memuliakan Garuda. Akan
tetapi didalamnya sudah tidak terdapat arca Garuda. Juga di Prambanan, pada dinding
candi Siwa terdapat relief yang menggambarkan adegan dari kisah Ramayana yang
menggambarkan Garuda Jatayu berusaha menolong dewi Sinta dari tangan Rahwana.
Arca garuda yang paling terkenal adalah arca yang memuliakan raja Airlangga yang
diwujudkan sebagai dewa Wishnu yang menunggangi Garuda. Kini arca tersebut
tersimpan di Museum Trowulan, Jawa Timur.

BENTUK DAN ELEMEN GARUDA

Garuda Pancasila sebagai lambang negara, memiliki warna emas yang melambangkan
kejayaan dan bentuk – bentuk elemen sebagai berikut:

• kepala menghadap ke arah kanan


• jumlah bulu sayap masing – masing sebanyak 17 helai, melambangkan tanggal
kemerdekaan
• jumlah bulu ekor sebanyak delapan lembar, melambangkan bulan Agustus (bulan
kemerdekaan)
• jumlah bulu di bawah perisai / pangkal berjumlah 19, serta jumlah bulu di leher
sebanyak 45, melambangkan tahun kemerdekaan 1945.
• mencengkeram pita bertuliskan semboyan negara “Bhineka Tunggal Ika”, yang
berarti berbeda-beda tetap satu jua.

Selain itu, pada dada burung garuda terdapat perisai bermakna pertahanan dan ketahanan
yang melambangkan dasar negara Pancasila:

• Bintang Tunggal dengan 5 mata


Menggambarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (sila-ke-1), 5 mata bintang
melambangkan agama-agama besar di Indonesia, Islam, Kristen, Hindu,
Buddha, dan juga ideologi sekuler sosialisme.
• Rantai Emas
Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab (sila-ke-2). Rantai yang disusun atas
gelang-gelang kecil ini menandakan hubungan manusia satu dengan yang
lainnya yang saling membantu. Gelang yang lingkaran menggambarkan
wanita, gelang yang persegi menggambarkan pria.
• Pohon Beringin
Persatuan Indonesia (sila-ke-3). Pohon beringin (Ficus benjamina) adalah
sebuah pohon Indonesia yang berakar tunjang – sebuah akar tunggal
panjang yang menunjang pohon yang besar tersebut dengan bertumbuh
sangat dalam ke dalam tanah. Ini menggambarkan kesatuan Indonesia.
Pohon ini juga memiliki banyak akar yang menggelantung dari ranting-
rantingnya. Hal ini menggambarkan Indonesia sebagai negara kesatuan
namun memiliki berbagai akar budaya yang berbeda-beda.
• Kepala Banteng
Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan (sila-ke-4). Binatang banteng (Latin: Bos
javanicus) atau lembu liar adalah binatang sosial, sama halnya dengan
manusia cetusan Presiden Soekarno dimana pengambilan keputusan yang
dilakukan bersama (musyawarah), gotong royong, dan kekeluargaan
merupakan nilai-nilai khas bangsa Indonesia.
• Padi Kapas
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (sila-ke-5). Padi dan kapas
(yang menggambarkan sandang dan pangan) merupakan kebutuhan pokok
setiap masyarakat Indonesia tanpa melihat status maupun kedudukannya.
Hal ini menggambarkan persamaan sosial dimana tidak adanya kesenjangan
sosial satu dengan yang lainnya, namun hal ini bukan berarti bahwa negara
Indonesia memakai ideologi komunisme
• Perisai dengan kombinasi warna bendera negara (merah – putih), merah berarti
berani, putih berarti suci.
• Garis tebal melintang pada tengah perisai, melambangkan Indonesia dilalui oleh
garis khatulistiwa.

PERUMUSAN LAMBANG NEGARA

Ketika bentuk negara Indonesia berubah dari Republik Indonesia ke Republik Indonesia
Serikat, Presiden Soekarno menunjuk Sultan Hamid II menjadi Menteri Negara Zonder
Porto Folio dengan tugas utama mempersiapkan, merancang dan merumuskan lambang /
lencana negara Indonesai dengan filosofi dasar berasal dari Indonesia dimana Presiden
Soekarno memerintahkan hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup
bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila
divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II
membentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara yang terdiri dari
Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad
Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi
usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Untuk proses penseleksian dilaksanakan sayembara dan terpilih dua rancangan lambang
negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Namun karya M.
Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh
Jepang. Setelah terjadu dialog antara Sultan hamid II sebagai perancang dengan Presiden
RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, dilakukan berbagai
penyempurnaan diantaranya mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula
adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka
Tunggal Ika”.

Ketika rancangan final lambang negara diajukan kepada Presiden Soekarno 8 Februari
1950, mendapatkan masukan dari Partai Masyumi yang meminta untuk
mempertimbangkan gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang
memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis. Kemudian Sultan Hamid II
menyempurnakan lambang berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta
bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno
kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta
sebagai perdana menteri.

Lambang negara tersebut diresmikan penggunaannya pada Sidang kabinet RIS tanggal 11
Februari 1950 dengan bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan
“tidak berjambul”, dan diperkenalkan pertama kalinya kepada masyarakat Indonesia di
Hotel Des Indes (Jl. Gajah Mada, Jakarta) pada tanggal 15 Februari 1950.

Perkembangan selanjutnya bentuk lambang negara mengalami penyempurnaan kembali


seperti, kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” diubah menjadi
“berjambul” dilakukan, selain itu bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula
menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan atas masukan Presiden Soekarno.

Pada Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki
mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian dilukis kembali rancangan sesuai
bentuk akhir oleh pelukis istana Dullah, seperti yang digunakan hingga saat ini

Sejarah

Adalah Sultan Hamid II ,Perancangan lambang negara dimulai pada Desember 1949,
beberapa hari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Belanda.
Kemudian pada tanggal 10 Januari 1950, dibentuklah Panitia Lencana Negara yang
bertugas menyeleksi usulan lambang negara. Dari berbagai usul lambang negara yang
diajukan ke panitia tersebut, rancangan karya Sultan Hamid II lah yang diterima.
Sultan Hamid II (1913–1978) yang bernama lengkap Syarif Abdul Hamid Alkadrie
merupakan sultan dari Kesultanan Pontianak, yang pernah menjabat sebagai Gubernur
Daerah Istimewa Kalimantan Barat dan juga Menteri Negara Zonder Portofolio pada era
Republik Indonesia Serikat.

Setelah disetujui, rancangan itupun disempurnakan sedikit demi sedikit atas usul Presiden
Soekarno dan masukan berbagai organisasi lainnya, dan akhirnya pada bulan Maret 1950,
jadilah lambang negara seperti yang kita kenal sekarang. Rancangan final lambang
negara itupun akhirnya secara resmi diperkenalkan ke masyarakat dan mulai digunakan
pada tanggal 17 Agustus 1950 dan disahkan penggunaannya pada 17 Oktober 1951 oleh
Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Sukiman Wirjosandjojo melalui PP 66/1951, dan
kemudian tata cara penggunaannya diatur melalui PP 43/1958.

Meskipun telah disahkan penggunaannya sejak tahun 1951, tidak ada nama resmi untuk
lambang negara itu, sehingga muncul berbagai sebutan untuk lambang negara itu, seperti
Garuda Pancasila, Burung Garuda, Lambang Garuda, Lambang Negara, atau hanya
sekedar Garuda. Nama Garuda Pancasila baru disahkan secara resmi sebagai nama resmi
lambang negara pada tanggal 18 Agustus 2000 oleh MPR melalui amandemen kedua
UUD 1945.

Makna dan Arti Lambang

Garuda Pancasila terdiri atas tiga komponen utama, yakni Burung Garuda, perisai, dan
pita putih.

Burung Garuda

Burung Garuda merupakan burung mistis yang berasal dari Mitologi Hindu yang berasal
dari India dan berkembang di wilayah Indonesia sejak abad ke-6. Burung Garuda itu
sendiri melambangkan kekuatan, sementara warna emas pada burung garuda itu
melambangkan kemegahan atau kejayaan.Pada burung garuda itu, jumlah bulu pada
setiap sayap berjumlah 17, kemudian bulu ekor berjumlah 8, bulu pada pangkal ekor atau
di bawah perisai 19, dan bulu leher berjumlah 45. Jumlah-jumlah bulu tersebut jika
digabungkan menjadi 17-8-1945, merupakan tanggal di mana kemerdekaan Indonesia
diproklamasikan.

Perisai

Perisai yang dikalungkan melambangkan pertahanan Indonesia. Pada perisai itu


mengandung lima buah simbol yang masing-masing simbol melambangkan sila-sila dari
"dasar negara" Pancasila.bagian tengah terdapat simbol bintang bersudut lima yang
melambangkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Lambang bintang
dimaksudkan sebagai sebuah cahaya, seperti layaknya Tuhan yang menjadi cahaya
kerohanian bagi setiap manusia. Sedangkan latar berwarna hitam melambangkan warna
alam atau warna asli, yang menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah sekedar rekaan manusia,
tetapi sumber dari segalanya dan telah ada sebelum segala sesuatu di dunia ini ada.

Di bagian kanan bawah terdapat rantai yang melambangkan sila kedua Pancasila,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Rantai tersebut terdiri atas mata rantai
berbentuk segi empat dan lingkaran yang saling berkait membentuk lingkaran. Mata
rantai segi empat melambangkan laki-laki, sedangkan yang lingkaran melambangkan
perempuan. Mata rantai yang saling berkait pun melambangkan bahwa setiap manusia,
laki-laki dan perempuan, membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga
menjadi kuat seperti sebuah rantai.

Di bagian kanan atas terdapat gambar pohon beringin yang melambangkan sila ketiga,
Persatuan Indonesia. Pohon beringin digunakan karena pohon beringin merupakan
pohon yang besar di mana banyak orang bisa berteduh di bawahnya, seperti halnya semua
rakyat Indonesia bisa "berteduh" di bawah naungan negara Indonesia. Selain itu, pohon
beringin memiliki sulur dan akar yang menjalar ke mana-mana, namun tetap berasal dari
satu pohon yang sama, seperti halnya keragaman suku bangsa yang menyatu di bawah
nama Indonesia.

Kemudian, di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng yang melambangkan sila
keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang banteng digunakan karena banteng
merupakan hewan sosial yang suka berkumpul, seperti halnya musyawarah di mana
orang-orang harus berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu.

Dan di sebelah kiri bawah terdapat padi dan kapas yang melambangkan sila kelima,
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas digunakan karena
merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, yakni pangan dan sandang sebagai syarat
utama untuk mencapai kemakmuran yang merupakan tujuan utama bagi sila kelima ini.

Pada perisai itu terdapat garis hitam tebal yang melintang di tengah-tengah perisai. Garis
itu melambangkan garis khatulistiwa yang melintang melewati wilayah Indonesia.Warna
merah dan putih yang menjadi latar pada perisai itu merupakan warna nasional Indonesia,
yang juga merupakan warna pada bendera negara Indonesia. Warna merah
melambangkan keberanian, sedangkan putih melambangkan kesucian.

Untuk yang satu ini semoga agan sekalian bisa menghapalkan dengan baik bunyi
pancasila. Jangan mencontoh Artis "Cinta Laura" yang mengaku warga negara indonesia
dan mencari nafkah di sini tapi tidak bisa menghapalkan bunyi Pancasila dengan baik dan
benar.

Pita dan Semboyan Negara

Pada bagian bawah Garuda Pancasila, terdapat pita putih yang dicengkeram, yang
bertuliskan "BHINNEKA TUNGGAL IKA" yang ditulis dengan huruf latin, yang
merupakan semboyan negara Indonesia. Perkataan bhinneka tunggal ika merupakan kata
dalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Perkataan itu
diambil dari Kakimpoi Sutasoma karangan Mpu Tantular, seorang pujangga dari
Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Perkataan itu menggambarkan persatuan dan
kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai pulau, ras, suku, bangsa,
adat, kebudayaan, bahasa, serta agama.

Semoga melalui artikel yang satu ini dapat memperdalam pemahaman kita mengenai
lambang negara kita sendiri. Buat agan-agan yang telah mampir secara sengaja apapun
tidak di blog kecil ini silakan jika ingin berbagi kepada teman2nya mengenai Arti dari
Burung Garuda Pancasila.
Pada postingan saya sebelumnya kita telah membahas tentang memaknai pancasila sebagai sebuah
dasar negara, nah kali ini kita akan membicarakan nilai yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang
Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Kalau boleh di tanya ada apa dengan sila ke 4 ini?

Pada hakekatnya sila ke 4 ini didasari oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab serta Persatuan Indonesia, dan mendasari serta menjiwai sila Keadilan Sosial bagi
seluruh Rakyat Indonesia.

Demokrasi pancasila menyerukan pembuatan keputusan melalui musyawarah mencapai mufakat. Ini
adalah demokrasi yang menghidupkan prinsip-prinsip Pancasila. Hal ini mengimplikasikan bahwa hak
demokrasi harus selalu diiringi dengan sebuah kesadaran bertanggung jawab terhadap Tuhan Yang
Maha Besar menurut keyakinan beragama masing-masing, dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan
ke atas harkat dan martabat manusia, serta memperhatikan penguatan dan pelestarian kesatuan
nasional menuju keadilan sosial.

Demokrasi pancasila bermakna demokrasi berdasarkan kekuasaan rakyat yang diinspirasikan dan
terintegrasikan dengan prinsip-prinsip Pancasila lainnya. Ini berarti penggunaan hak-hak demokrasi
harus selalu diikuti oleh tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa merujuk kepada keyakinan
terhadap: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam hal martabat manusia, menjamin dan
menguatkan kesatuan nasional, dan bertujuan menwujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.

Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya adalah bahwa hakikat negara adalah sebagai penjelmaan
sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Hakikat rakyat adalah merupakan
sekelompok manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa yang bersatu yang bertujuan
muwujudkan harkat dan martabat manusia dalam suatu wilayah negara. Rakyat adalah merupakan
subjek pendukung pokok negara. Negara adalah dari, oleh dan untuk rakyat, oleh karena itu rakyat
adalah merupakan asal mula kekuasaan negara. Sehingga dalam sila kerakyatan terkandung nilai
demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam hidup negara. Maka nilai-nilai demokrasi
yang terkandung dalam sila keempat adalah :

1. Kerakyatan berarti kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat, berarti Indonesia menganut
demokrasi.
2. Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran yang sehat dengan selalu
mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan dilaksanakan
dengan sadar, jujur, dan bertanggung jawab, serta didorong oleh itikad baik sesuai dengan
hati nurani.
3. Permusyawaratan berarti bahwa dalam merumuskan atau memutuskan suatu hal, berdasarkan
kehendak rakyat, dan melalui musyawarah untuk mufakat.
4. Perwakilan berarti suatu tata cara mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian
dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan melalui badan perwakilan rakyat.
5. Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggung jawab baik terhadap masyarakat
bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan yang Maha Esa.
6. Menjujung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
7. Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
8. Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena perbedaan adalah
merupakan suatu bawaan kodrat manusia.
9. Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu, kelompok, ras, suku
maupun agama.
10. Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab.
NILAI KERAKYATAN YANG TERKANDUNG DALAM SILA KEEMPAT

Dalam kehidupan demokrasi pancasila yang sedang bertumbuh di tengah


masyarakat-berjalan dalam satu dekade terakhir dalam era reformasi- terkandung
beberapa masalah serupa kelindan, yang bersifat fundamental yakni memudarnya
pemahaman dan pengamalan nilai-nilai pancasila baik itu dalam substansi yang lebih
luas(masyarakat) dan individu. Berdasar pada, demokrasi pancasila saat ini, kedudukan
sila-sila Pancasila adalah teramat penting, dalam mengatur demokrasi itu sendiri.
Sehingga, upaya demokrasi tidak lompat dari ketentuan dan keteraturannya.
Demokrasi pancasila bermakna demokrasi(berdasarkan kedaulatan rakyat) yang
memegang teguh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tetap menjunjung nilai-nilai
kemanusiaan , keadilan sosial, persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu sumber nilai
dari demokrasi pancasila adalah sila keempat yang mengandung nilai-nilai kerakyatan,
yang menjadi pedoman kehidupan demokrasi di Indonesia(walaupun masih dalam
keadaan dilematik). Namun, harus tetap ada rasa optimis di dalam kubangan pesimistis
bahwasanya permasalahan ini dapat terselesaikan oleh anak-anak bangsa. Oleh sebab itu,
penulis mengulas sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan sebagai bentuk pemahaman dan penjiwaan dalam diri
penulis dan sekaligus pembaca mengenai nilai kerakyatan di dalamnya, sehingga
pemahaman dasar mengenai demokrasi dapat terkesan jelas dalam nilai sila keempat
tersebut :AGAR
Pada hakekatnya sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, masih dijiwai oleh sila ketuhanan yang maha esa, sila
kemanusiaan yang adil dan beradab, sila persatuan indonesia, dan sila keadilan sosial
bagi seluruh rakyat indonesia. Dalam Sila keempat-lah yang menyuratkan bahwa adanya
demokrasi di Indonesia dapat berjalan dan tak tercemarkan oleh komunisme. Bahwa
masyarakat dalam proses pengambilan keputusan selalu mengedepankan musyawarah
dengan tetap mempertahankan sifat kekeluargaan, sehingga tercapailah mufakat. Hal ini
sesuai dengan nilai kerakyatan yang terkandung dalam sila keempat.

11. Kerakyatan berarti kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat, berarti Indonesia menganut
demokrasi.
12. Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran yang sehat dengan selalu
mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan dilaksanakan
dengan sadar, jujur, dan bertanggung jawab, serta didorong oleh itikad baik sesuai dengan
hati nurani.
13. Permusyawaratan berarti bahwa dalam merumuskan atau memutuskan suatu hal, berdasarkan
kehendak rakyat, dan melalui musyawarah untuk mufakat.
14. Perwakilan berarti suatu tata cara mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian
dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan melalui badan perwakilan rakyat.
15. Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggung jawab baik terhadap masyarakat
bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan yang Maha Esa.
16. Menjujung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
17. Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
18. Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena perbedaan adalah
merupakan suatu bawaan kodrat manusia.
19. Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu, kelompok, ras, suku
maupun agama.
20. Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab.