You are on page 1of 27

MAKALAH

ASPEK LEGAL BISNIS PELAYANAN KESEHATAN

Disusun Oleh :

1. Eri Rahmawati
2. Rozalina
3. Soviana Hapsari
4. Yosi Yulinda Dwi Astari

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ANNUR PURWODADI
TAHUN PELAJARAN 2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah tentang Aspek Legal Bisnis dalam Pelayanan
Kesehatan.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Aspek Legal Bisnis dalam
Pelayanan Kesehatan ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.

Purwodadi, Januari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .........................................................................................3
C. Tujuan............................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi .........................................................................................................4
B. Fasilitas Dalam Pelayanan Kesehatan ...........................................................5 5
C. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan ........................6
D. Pihak – Pihak Dalam Pelayanan Kesehatan ..................................................7
E. Hubngan Hukum Dalam Pelayanan Kesehatan ...........................................14
F. Aspek Hukum Dalam Pelayanan Kesehatan ................................................18

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ..................................................................................................23
B. Saran .............................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................24

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kesehatan merupakan bagian penting dari kesejahteraan


masyarakat. Kesehatan juga merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia, disamping sandang, pangan dan papan. Dengan berkembangnya
pelayanan kesehatan dewasa ini, memahami etika Kesehatan merupakan
bagian penting dari kesejahteraan masyarakat. Kesehatan juga
merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping sandang,
pangan dan papan. Dengan berkembangnya pelayanan kesehatan dewasa
ini, memahami legal bisnis pelayanan kesehatan merupakan tuntunan
yang dipandang semakin perlu, karena legal bisnis pelayanan kesehatan
membahas tentang tata susila penyelenggaraan pelayanaan kesehatan
dalam menjalankan bisnisnya,. Oleh karena itu tatanan kesehatan secara
normatif menumbuhkan pengembangan hukum kesehatan bersifat khusus
(Lex specialis) yang mengandung ketentuan penyimpangan/eksepsional
jika dibandingkan dengan ketentuan hukum umum (Lex generale).
Industri jasa pelayanan kesehatan merupakan salah satu industri
yang memiliki prospek yang bagus. Karena pelayanan kesehatan tidak
terpaku hanya pada pengobatan penyakit, tetapi juga memberikan
pelayanan untuk usaha pencegahan dan meningkatkan kesehatan. Rumah
sakit adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Rumah sakit memberikan pelayanan
kesehatan dengan memberdayakan berbagai kesatuan personel terlatih
dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik untuk
pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. Dengan begitu dalam
penyelenggaraan bisnis pelayanan kesehatan rumah sakit memiliki
berbagai aturan hukum dalam setiap penyelenggaraannya.

1
Dewasa ini dapat dilihat semua bidang kehidupan masyarakat
sudah terjamah aspek hukum. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya
manusia mempunyai hasrat untuk hidup teratur. Akan tetapi keteraturan
bagi seseorang belum tentu sama dengan keteraturan bagi orang lain,
oleh karena itu diperlukan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antar
manusia melalui keserasian antara ketertiban dan landasan hukum.
Norma atau kaidah yang mengatur aspek pribadi terdiri dari norma
kepercayaan dan norma kesusilaan. Norma kepercayaan bertujuan agar
manusia hidup beriman, sedang norma kesusilaan bertujuan agar manusia
hidup berakhlak. Norma yang mengatur antar pribadi terdiri dari norma
kesopanan dan norma hukum. Suatu norma hukum biasanya dirumuskan
dalam bentuk perilaku yang dilarang dengan mendapat sanksi apabila
larangan tersebut dilanggar. Norma hukum ada yang tertulis dan ada pula
yang tidak tertulis. Hukum tertulis biasanya disamakan dengan peraturan
perundangundangan. Secara hirarkis peraturan perundang-undangan di
Indonesia tersusun sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Ketetapan MPR
3. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang.
4. Peraturan Pemerintah
5. Keputusan Presiden
6. Peraturan-peraturan pelaksana lainnya.
a. Peraturan Menteri
b. Instruksi Menteri Hukum
kesehatan merupakan suatu bidang spesialisasi ilmu hukum yang
relatif masih baru di Indonesia. Hukum kesehatan mencakup segala
peraturan dan aturan yang secara langsung berkaitan dengan
pemeliharaan dan perawatan kesehatan yang terancam atau kesehatan
yang rusak.

2
B. Rumusan masalah
1. Apakah definisi dari pelayanan kesehatan?
2. Apasaja fasilitas dalam pelayanan kesehatan?
3. Apasaja faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan?
4. Siapa saja pihak – pihak dalam pelayanan kesehata?
5. Bagaimana hubngan hukum dalam pelayanan kesehatan?
6. Apa aspek hukum dalam pelayanan kesehatan?

C. Tujuan
Agar dapat mengetahui :
1. Definisi dari pelayanan kesehatan
2. Fasilitas dalam pelayanan kesehatan
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan
4. Pihak – pihak dalam pelayanan kesehata
5. Hubngan hukum dalam pelayanan kesehatan
6. Aspek hukum dalam pelayanan kesehatan

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Kesehatan adalah salah satu dari kebutuhan pokok manusia selain
sandang, pangan & papan, dalam arti hidup dalam keadaan sehat sudah
tidak dapat ditawar lagi sebagai kebutuhan yang mendasar. Bukan hanya
sehat jasmani, juga sehat rohani (jiwa), bahkan kriteria sehat manusia
telah bertambah menjadi juga sehat sosial & sehat ekonomi. Namun
sampai saat ini yang dimaksudkan dengan kesehatan oleh undang-
undang (UU) adalah hanya keadaan sehat jasmani & sehat rohani.
Kesehatan menurut UU no. 36/2009 tentang Kesehatan terdiri dari dua
unsur yaitu “upaya kesehatan” & “sumber daya kesehatan”. Yang
dimaksud dengan sumber daya kesehatan, terdiri dari sumber daya
manusia kesehatan (tenaga kesehatan yaitu dokter, apoteker, bidan,
perawat) & sarana kesehatan (antara lain rumah sakit, puskesmas,
poliklinik, tempat praktik dokter).
Pelayanan kesehatan menurut Undang-Undang No. 36 Tahun
2009 seperti dalam penjelasannya adalah, bahwa dalam memberikan
pelayanan kesehatan baik itu perseorangan maupun masyarakat sangat
dijamin dalam UU tersebut, dalam beberapa pasal sangat jelas ditegaskan
bahwa untuk menjamin kesehatan masyarakat maka pemerintah
mengupayakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam upaya
mencapai Indonesia yang sehat. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
pemerintah baik itu berupa penyediaan fasilitas pelayanan kasehatan,
penyediaan obat, serta pelayanan kesehatan itu sendiri adalah dalam
upaya menjamin kesehatan masyarakat.

4
B. Fasilitas dalam pelayanan kesehatan
Adapun Fasilitas pelayanan kesehatan menurut jenis
pelayanannya terdiri atas , seperti yang termaktub di dalam Pasal 30
meliputi :
1. Pelayanan Kesehatan Perseorangan.
Pelayanan kesehatan perseorangan ini dilaksanakan oleh praktek
dokter atau tenaga kesehatan yang di bantu oleh pemerintah baik
daerah maupun swasta. Dalam pelayanan kesehatan perseorangan ini
harus tetap mendapat izin dari pemerintah sesuai dengan Undang-
Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
2. Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
Dalam pelayanan kesehatan perseorangan sesuai dengan Pasal 30
ayat (1) adalah ditujukan untuk menyembuhkan penyakit dan
memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. Sedangkan
pelayanan kesehatan masyarakat adalah ditujukan untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu
kelompok dan masyarakat. Pelayanan kesehatan ini adalah
mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien dibandingkan
kepentingan lainnya. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan
dilaksanakan secara bertanggungjawab, aman, bermutu serta merata
dan nondiskriminatif, dalam bahasa (peraturan ini) pemerintah sangat
bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan, serta menjamin standar
mutu pelayanan kesehatan. Dengan demikian sangat jelaslah secara
normatif bahwa dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, pemerintah
sangat peduli dengan adanya ketentuan-ketentuan yang berlaku
menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan,
dengan demikian hak-hak warga negara sebagai penerima pelayanan
kesehatan tersebut (seharusnya) dapat terlindungi.

5
C. Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan
Menurut pendapat Budiastuti (2002) mengemukakan bahwa
pasien dalam mengevaluasi kepuasan terhadap jasa pelayanan yang
diterima mengacu pada beberapa faktor, antara lain :
1. Kualitas produk atau jasa
Pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan
bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas. Persepsi
konsumen terhadap kualitas poduk atau jasa dipengaruhi oleh dua hal
yaitu kenyataan kualitas poduk atau jasa yang sesungguhnya dan
komunikasi perusahaan terutama iklan dalam mempromosikan rumah
sakitnya.
2. Kualitas pelayanan
Memegang peranan penting dalam industri jasa. Pelanggan dalam hal
ini pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang
baik atau sesuai dengan yang diharapkan.
3. Faktor emosional
Pasien yang merasa bangga dan yakin bahwa orang lain kagum
terhadap konsumen bila dalam hal ini pasien memilih rumah sakit
yang sudah mempunyai pandangan “rumah sakit mahal”, cenderung
memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
4. Harga
Harga merupakan aspek penting, namun yang terpenting dalam
penentuan kualitas guna mencapai kepuasan pasien. Meskipun
demikian elemen ini mempengaruhi pasien dari segi biaya yang
dikeluarkan, biasanya semakin mahal harga perawatan maka pasien
mempunyai harapan yang lebih besar. Sedangkan rumah sakit yang
berkualitas sama tetapi berharga murah, memberi nilai yang lebih
tinggi pada pasien.
5. Biaya
Mendapatkan produk atau jasa, pasien yang tidak perlu mengeluarkan
biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk

6
mendapatkan jasa pelayanan, cenderung puas terhadap jasa pelayanan
tersebut.

D. Pihak – pihak dalam pelayanan kesehatan


Pemberian pelayanan kesehatan dilakukan untuk mengobati
penyakit yang diderita oleh pasien. Dalam mengobati penyakit itu ada
beberapa pihak yang terlibat didalamnya. Pihak-pihak yang terlibat di
dalam pelayanan kesehatan tersebut, yaitu:
1. Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan lembaga pelayanan masyarakat
yang bergerak dalam bidang kesehatan. Banyak pengertian mengenai
arti rumah sakit itu. Pasal 1 angka 1 UU No. 44 Tahun 2009
menyatakan mengenai pengertian rumah sakit yaitu “instutusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
15 perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat”.
Menurut American Hospital Association, rumah sakit
adalah suatu institusi yang fungsi utamanya adalah memberikan
pelayanan kepada pasien. Pelayanan tersebut merupakan diagnostik
dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan baik
yang bersifat bedah maupun non bedah. Muninjaya mengatakan
bahwa rumah sakit merupakan bagian dari sistem pelayanan publik
kesehatan yang harus memenuhi kriteria availability,
appropriateness, continuity sustainability, acceptability, affordable,
dan quality , sedangkan menurut Siregar rumah sakit adalah suatu
organisasi yang kompleks, menggunakan gabungan ilmiah khusus
dan rumit, dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personil terlatih
dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik
modern, yang semuanya terkait bersama-sama dalam maksud yang
sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik.

7
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa rumah sakit merupakan sebuah institusi
pelayanan kesehatan yang memberikan pengobatan secara
menyeluruh kepada semua masyarakat yang membutuhkan, dan
mempunyai tenaga medis yang profesional dibidangnya masing-
masing. Rumah sakit sebagai pihak yang melakukan pelayanan
kesehatan memiliki tugas dan fungsi secara jelas diatur dalam Pasal
4 dan Pasal 5 UU No. 44 Tahun 2009.
Tugas rumah sakit adalah memberikan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna. Sedangkan fungsi rumah
sakit, yaitu:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga
sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian
pelayanan kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan.
Rumah sakit menurut Cecep Triwibowo setidaknya
memiliki 5 (lima) fungsi, yaitu:
a. Menyediakan rawat inap dengan fasilitas diagnostik dan
terapeutiknya.
b. Memiliki pelayanan rawat jalan.
c. Melakukan pendidikan dan pelatihan.
d. Melakukan penelitian dibidang kedokteran dan kesehatan.

8
e. Melaksanakan program pencegahan penyakit dan penyuluhan
kesehatan bagi populasi disekitarnya.
Tugas dan fungsi rumah sakit inilah yang menjadi pegangan
pihak rumah sakit untuk menjalankan pelayanan kesehatan
semaksimal mungkin kepada masyarakat yang memerlukan
pengobatan. Dengan demikian diharapkan akan tercipta hubungan
yang baik antara rumah sakit dan pasien, dan juga dapat mencegah
segala tindakan yang dapat merugikan rumah sakit maupun pasien.
Rumah sakit memiliki beberapa jenis dan klasifikasi.
Berdasarkan Pasal 18 UU No. 44 Tahun 2009, rumah sakit dapat
dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya. Berdasarkan
jenis pelayanan yang diberikan dalam pada Pasal 19 dijelaskan
rumah sakit dikategorikan dalam rumah sakit umum dan rumah sakit
khusus. Rumah sakit umum yaitu rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit,
sedangkan rumah sakit khusus yaitu rumah sakit yang memberikan
pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu
berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit,
atau kekhususan lainnya.
Pada Pasal 20 UU No. 44 Tahun 2009, pengelolaannya
rumah sakit dapat dibagi menjadi rumah sakit publik dan rumah sakit
privat. Rumah sakit publik adalah rumah sakit yang dapat dikelola
oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan badan hukum yang
bersifat nirlaba. Sedangkan rumah sakit privat dalam Pasal 21
dijelaskan sebagai rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum
dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau
Persero. Pasal 24 UU No. 44 Tahun 2009 menyatakan bahwa dalam
rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan
fungsi rujukan, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus
diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan
rumah sakit. Klasifikasi rumah sakit umum terdiri atas rumah sakit

9
umum kelas A, rumah sakit umum kelas B, rumah sakit umum kelas
C, dan rumah sakit umum kelas D. Sedangkan klasifikasi rumah
sakit khusus terdiri atas rumah sakit khusus kelas A, rumah sakit
khusus kelas B, dan rumah sakit khusus kelas C.
Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.340/Menkes/Per/III/2010 tentang Klasifikasi
Rumah Sakit (selanjutnya disebut Permenkes No. 340 Tahun 2010),
mengatur secara jelas bahwa klasifikasi rumah sakit tersebut
ditetapkan berdasarkan pelayanan, sumber daya manusia, peralatan,
sarana dan prasarana, serta administrasi manajemen.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak semua
rumah sakit memilki kemampuan pengobatan serta peralatan medis
yang lengkap dan memadai. Jadi rumah sakit yang tidak mempunyai
peralatan medis yang lengkap mempunyai kewajiban untuk merujuk
pasien ke rumah sakit yang lebih baik, apabila rumah sakit merasa
sudah tidak mampu lagi memberikan pengobatan yang maksimal
kepada pasien.
Rumah sakit secara garis besar dibagi dua, yaitu rumah sakit
swasta dan rumah sakit pemerintah. Rumah sakit swasta adalah
rumah sakit yang didirikan oleh pihak swasta atau non pemerintah,
yaitu beberapa orang (persoon) sepakat untuk mendirikan badan
hukum (rechtspersoon) dan badan hukum ini melakukan kegiatan
dalam bidang pendirian dalam menjalankan rumah sakit. Rumah
sakit pemerintah memiliki arti yaitu rumah sakit yang didirikan oleh
pemerintah yang peraturannya sudah diatur dalam peraturan
perundang-undangan. Adapun bentuk badan hukum rumah sakit
yang didirikan oleh pihak swasta lazimnya digunakan oleh yayasan
(stichting).
Pemberian pelayanan kesehatan di rumah sakit pemerintah
maupun rumah sakit swasta tidaklah berbeda. Kedua jenis rumah
sakit ini juga mempunyai kewajiban untuk merujuk pasien, apabila

10
mereka sudah tidak mampu memberikan pengobatan kepada pasien.
Perbedaan antara ke dua jenis rumah sakit ini hanyalah pendirinya
saja, rumah sakit pemerintah didirikan oleh pemerintah sedangkan
rumah sakit swasta didirikan oleh beberapa orang atau pengusaha.
2. Pasien
Pasien adalah seseorang yang memerlukan suatu
pengobatan baik di rumah sakit maupun balai pengobatan lainnya.
Berdasarkan Pasal 1 angka 4 UU No. 44 Tahun 2009, pasien
memiliki pengertian yaitu setiap orang yang melakukan konsultasi
masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di rumah
sakit. Pasien di rumah sakit dalam praktiknya menurut Pasal 1 angka
1 dikelompokkan ke dalam berikut ini:
a. Pasien opname
Yaitu pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan dengan cara
menginap atau dirawat di rumah sakit atau disebut juga pasien
rawat inap.
b. Pasien rawat jalan
Yaitu pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan tanpa
mengharuskan pasien tersebut dirawat inap.
Pasien adalah subjek yang memiliki pengaruh besar atas
hasil akhir layanan bukan hanya sekedar objek. Hak-hak pasien
harus dipenuhi mengingat kepuasan pasien menjadi salah satu
barometer mutu layanan sedangkan ketidakpuasan pasien dapat
menjadi pangkal tuntutan hukum. Oleh karenanya harapan pasien
dalam menerima pelayanan medis meliputi:
a. Pemberian pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan
memuaskan.
b. Membantu dan memberikan pelayanan dengan tanggap tanpa
membedakan unsur SARA (suku, agama, ras, dan antar
golongan).

11
c. Jaminan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan
d. Komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pasien,

Berdasarkan hal tersebut, pasien merupakan seseorang yang


membutuhkan pelayanan kesehatan atau pelayanan medis di rumah
sakit. Kepuasan pasien harus menjadi pandangan rumah sakit dalam
memberikan pelayanan kesehatan, apabila pelayanan kesehatan yang
diberikan memuaskan, maka rumah sakit itu pun akan dipandang
baik oleh masyarakat. Sedangkan apabila pelayanan kesehatan yang
diberikan tidak memuaskan dan cenderung merugikan pasien, maka
pasien berhak menuntut ganti kerugian kepada rumah sakit.
3. Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan harus memiliki keahlian medis
agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada
pasien. Dalam praktiknya tenaga kesehatan terdiri dari:
a. Dokter
Dokter adalah seorang tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan medis kepada pasien yang membutuhkan
pengobatan. Pasal 1 Ayat (11) Undang-Undang No. 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran, dokter adalah suatu pekerjaan
yang dilaksanakan berdasarkan keilmuan, kompetensi yang
diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang
bersifat melayani masyarakat.
Seorang dokter harus memahami ketentuan hukum
yang berlaku dalam pelaksanaan profesinya termasuk didalamnya
tentang pemahaman hak-hak dan kewajiban dalam menjalankan
profesi sebagai dokter. Kesadaran dokter terhadap kewajiban
hukumnya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain
dalam menjalankan profesinya harus benar-benar dipahami dokter
sebagai pengemban hak dan kewajiban.
Menurut Fuadi kewajiban hukum yang utama dari
seorang dokter terdapat empat hal, yaitu:

12
1) Kewajiban melakukan diagnosis penyakit.
2) Kewajiban mengobati penyakit.
3) Kewajiban memberikan informasi yang cukup kepada pasien
dalam bahasa yang dimengerti oleh pasien, baik diminta atau
tidak.
4) Kewajiban untuk mendapatkan persetujuan pasien terhadap
tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter setelah
dokter memberikan informasi yang cukup dan dimengerti
oleh pasien.
Dengan demikian dokter dalam menjalankan profesinya
harus besikap profesional dan lebih mementingkan penyembuhan
penyakit yang diderita oleh pasien. Kewajiban seorang dokter
dalam memberikan pelayanan kesehatan atau pelayanan medis
harus dijalankan sebagaimanamestinya, karena hal ini
menyangkut keselamatan serta kesembuhan pasien tersebut.
b. Perawat
Pengertian perawat diatur dalam Pasal 1 angka 1
Peraturan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/Menkes/148/I/2010
tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat (selanjutnya
disebut Permenkes No. HK.02.02 Tahun 2010) yang menyatakan
bahwa, “perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan
perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan
peraturan perundangan-undangan”. Perawat juga dapat diartikan
suatu profesi yang sifat pekerjaannya selalu berada dalam situasi
yang menyangkut hubungan antar manusia, terjadi proses
interaksi serta saling memengaruhi dan dapat memberikan
dampak terhadap tiap-tiap individu yang bersangkutan.
Pasal 12 Ayat (1) Permenkes No. HK.02.02 Tahun
2010 menjelaskan tentang kewajiban perawat, yaitu:
1) Menghormati hak pasien.
2) Melakukan rujukan.

13
3) Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundangan-
undangan.
4) Memberikan informasi tentang masalah kesehatan
pasien/klien dan pelayanan yang dibutuhkan.
5) Meminta persetujuan tindakan keperawatan yang akan
dilakukan.
6) Melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematis.
7) Mematuhi standar.
Dengan demikian dapat dijelaskan perawat merupakan
suatu profesi di dalam pelayanan kesehatan dan berada dalam
situasi yang menyangkut hubungan antara dirinya dengan pasien.
Pada proses hubungan antara perawat dengan pasien, pasien
mengutarakan masalahnya dalam rangka mendapatkan
pertolongan yang artinya pasien mempercayakan dirinya terhadap
asuhan keperawatan yang diberikan.

E. Hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan


Rumah sakit merupakan suatu badan yang memberikan
pelayanan medis atau pelayanan kesehatan kepada semua kalangan
masyarakat yang memerlukan pengobatan (pasien). Pelayanan medis
yang diberikan oleh rumah sakit terhadap pasien akan mengakibatkan
hubungan hukum antara kedua belah pihak, terutama dalam aspek hukum
perdata akan menimbulkan hak dan kewajiban masingmasing pihak.
Hubungan hukum yang timbul antara rumah sakit dan pasien
dalam hukum perdata menghasilkan dua macam perjanjian, yaitu:
1. Perjanjian pelayanan medis, ketika terdapat kesepakatan antara
rumah sakit dan pasien bahwa tenaga medis pada rumah sakit akan
berupaya secara maksimal untuk menyembuhkan pasien melalui
tindakan medis (ispanning verbintenis).

14
2. Perjanjian perawatan, ketika terdapat kesepakatan antara rumah sakit
dan pasien bahwa pihak rumah sakit menyediakan kamar perawatan
tempat tenaga perawat melakukan asuhan keperawatan.
Perjanjian dapat diartikan sebagai suatu perhubungan hukum
antara dua orang atau dua pihak yang lain, dan pihak yang lain
berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Selain itu merupakan suatu
peristiwa hukum di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di
mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Jadi,
baik rumah sakit maupun pasien dituntut untuk memenuhi segala
kewajiban yang timbul dari perjanjian tersebut, tidak hanya itu perjanjian
perawatan dan perjanjian pelayanan medis berlaku dari mulai pasien di
rawat di rumah sakit hingga pasien ke luar dari rumah sakit.
Pihak rumah sakit dalam perjanjian perawatan berperan secara
langsung untuk memenuhi keinginan pasien dalam hal ruang perawatan
dan perlengkapan yang diperlukan pasien selama proses pelayanan medis
berlangsung di rumah sakit. Dalam perjanjian pelayanan medis, rumah
sakit tidak berperan secara langsung melakukan tindakan medis, tetapi
yang berperan adalah dokter yang telah ditunjuk oleh rumah sakit untuk
memberikan tindakan medis kepada pasien.
Perjanjian pelayanan medis tersebut sering disebut dengan
istilah transaksi terapeutik. Transaksi terapeutik merupakan hubungan
hukum antara dua subjek hukum yang saling mengikatkan diri didasarkan
atas sikap saling percaya. Di dalam transaksi terapeutik sikap saling
percaya akan tumbuh apabila dokter dan pasien terjalin komunikasi yang
saling terbuka, karena masing-masing akan saling memberikan informasi
atau keterangan yang diperlukan bagi terlaksananya kerjasama yang baik
dan tercapainya tujuan transaksi terapeutik yaitu kesembuhan pasien.
Transaksi terapeutik antara dokter dengan pasien, mengharuskan
dokter sebagai tenaga kesehatan dalam melakukan pengobatan harus
terlebih dahulu mendapatkan izin dari pasien tersebut (Informed
Consent). Secara harfiah, Informed dapat diartikan telah diberitahukan,

15
telah disampaikan, atau telah dikonfirmasikan. Sedangakan consent
adalah persetujuan yang diberikan seseorang untuk berbuat sesuatu.
Dengan demikian informed consent adalah persetujuan yang diberikan
oleh pasien kepada tenaga kesehatan setelah diberikan penjelasan.
Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menyusun
dan memberikan informed consent agar transaksi terapeutik ini tidak
cacat hukum, yaitu:
1. Tidak bersifat memperdaya (fraud).
2. Tidak berupaya menekan (force).
3. Tidak menciptakan ketakutan (fear).

Berdasarkan Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2004 terdapat beberapa


prinsip yang harus ada berkaitan dengan informed consent tersebut,
yaitu:
1. Setiap tindakan medis harus mendapat persetujuan pasien.
2. Persetujuan diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara
lengkap.
3. Penjelasan tersebut sekurang-kurangnya mencakup:
a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis.
b. Tujuan tindakan medis yang dilakukan.
c. Alternatif tindakan lain dan risikonya.
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
4. Persetujuan dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan.
5. Setiap tindakan medis yang mengandung risiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan.

Menurut H.J.J. Lennen dalam kondisi tertentu dikenal istilah


“fictie yuridis” atau fiksi hukum. Fiksi hukum menyatakan bahwa
seseorang dalam kondisi tidak sadar akan menyutujui hal yang pada
umumnya disetujui oleh pasien yang berada dalam kondisi sadar pada

16
situasi dan kondisi sakit yang sama (presumed consent). Sedangkan
menurut Van Der Mijn penanganan pasien yang dalam kondisi tidak
sadar dapat dikaitkan pada Pasal 1354 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUHPdt) yang mengatur “zaakwarneming” atau perwakilan
sukarela, yaitu sikap/tindakan yang pada dasarnya merupakan
pengambilalihan tanggung jawab dengan tindakan menolong pasien, dan
bila pasien telah sadar, tenaga kesehatan dapat bertanya apakah
perawatan dapat diteruskan atau ingin beralih ke tenaga kesehatan yang
lain.
Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa terdapat dua unsur
yang harus ada dalam informed consent yaitu pasien harus mendapatkan
informasi mengenai tindakan medis yang akan dilakukan dan tindakan
medis yang dilakukan harus mendapatkan persetujuan oleh pasien
tersebut. Persetujuan dari pasien tersebut dapat diwakilkan oleh pihak
lain apabila pasien dalam kondisi kritis dan memerlukan pengobatan
secepat mungkin, akan tetapi setelah pasien sadar tenaga kesehatan wajib
menjelaskan dan menanyakan persetujuan dari pasien tersebut.
Berdasarkan hal tersebut maka tindakan medis yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan harus sesuai dengan standar pelayanan atau
tindakan medis yang telah ditetapkan. Selain itu, hal terpenting dan yang
menjadi perioritas utama dalam melakukan tindakan medis adalah
keselamatan pasien (patient safety) itu sendiri. Dokter dan perawat
dituntut untuk melakukan tindakan medis semaksimal mungkin dan tidak
melakukan tindakan yang dapat membahayakan keselamatan pasien
(patient safety). Pelayanan atau tindakan medis dilakukan oleh dokter
maupun perawat di rumah sakit yang dapat membahayakan keselamatan
pasien (patient safety) merupakan tanggung jawab dokter ataupun
perawat tersebut, jadi dokter ataupun perawat bertanggung jawab atas
kerugian yang di derita oleh pasien.
Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan juga
menanggung kewajiban untuk ikut bertanggung jawab apabila terjadi hal

17
yang dapat membahayakan keselamatan pasien (patient safety) di
lingkungan rumah sakitnya. Hal ini sering dikenal dengan istilah
vicarious liability. Hal ini disebabkan karena hubungan kontraktual antar
rumah sakit dengan pihak dokter, perawat atau petugas kesehatan
lainnya. Dengan demikian meskipun rumah sakit itu merupakan badan
swasta, tetap memiliki tanggung jawab sosial untuk memikul standar
pelayanan publik karena yang dilayani adalah masyarakat luas. Selain itu
juga memikul semua tanggung jawab orang-orang yang bekerja di bawah
naungannya

F. Aspek hukum dalam pelayanan kesehatan


Menuruut M. Thalal dan Hiswanil (2007) Aspek Hukum Pelayanan
Kesehatan yaitu:
1. Aspek Hukum
Hukum kesehatan mencakup penerapan hukum perdata dan
hukum pidana yang berkaitan dengan hubungan hukum dalam
pelayanan kesehatan. Subyek-subyek hukum dalam sistem hukum
kesehatan adalah:
a. Tenaga kesehatan sarjana yaitu: dokter, dokter gigi, apoteker dan
sarjana lain di bidang kesehatan.
b. Tenaga kesehatan sarjana muda, menengah dan rendah; (1)
bidang farmasi (2). bidang kebidanan (3). bidang perawatan (4).
bidang kesehatan masyarakat, dll.

Dalam melakukan tugasnya dokter dan tenaga kesehatan


harus mematuhi segala aspek hukum dalam kesehatan. Kesalahan
dalam melaksanakan profesi kedokteran merupakan masalah
penting, karena membawa akibat yang berat, terutama akan merusak
kepercayaan masyarakat terhadap profesi kesehatan. Suatu kesalahan
dalam melakukan profesi dapat disebabkan karena Kekurangan: (1)

18
pengetahuan (2) pengalaman (3) pengertian. Ketiga faktor tersebut
menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan atau penilaian.
Contoh: kejadian tindakan malpraktek
Malpraktek adalah suatu tindakan praktek yang buruk,
dengan kata lain adalah kelalaian dokter dalam melaksanakan
profesinya, apabila hal tersebut diadukan kepada pihak yang
berwajib, maka akan diproses secara hukum dan pihak pengadilan
yang akan membuktikan apakah tuduhan tersebut benar atau salah.
Upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kelalaian dalam
menjalankan profesi ialah:
a. Meningkatkan kemampuan profesi para dokter untuk mengikuti
kemajuan ilmu kedokteran atau menyegarkan kembali ilmunya,
sehingga dapat melakukan pelayanan medis secara profesional.
Dalam program ini perlu diingatkan tentang kode etik dan
kemampuan melakukan konseling dengan baik.
b. Pengetahuan pengawasan perilaku etis. Upaya ini akan
mendorong dokter untuk senantiasa bersikap hati-hati. Dengan
berusaha berperilaku etis, sehingga semakin jauh dari tindakan
melanggar hukum.
c. Penyusunan protokol pelayanan kesehatan, misalnya petunjuk
tentang “informed consent”. Protokol ini dapat dijadikan
pegangan bilamana dokter dituduh telah melakukan kelalaian.
Selama dokter bertindak sesuai dengan protokol tersebut, dia
dapat terlindung dari tuduhan malpraktek.

Beberapa contoh malpraktek di bidang hukum pidana:


a. Menipu Pasien
b. Membuat surat keterangan palsu
c. Melakukan pelanggaran kesopanan
d. Melakukan pengguguran tanpa indikasi medis

19
e. Melakukan kealpaan sehingga mengakibatkan kematian atau
lukaluka
f. Membocorkan rahasia kedokteran yang diadukan oleh pasien
g. Kesengajaan membiarkan pasien tidak tertolong
h. Tidak memberikan pertolongan pada orang yang berada dalam
keadaan bahaya maut
i. Memberikan atau menjual obat palsu
j. Euthanasia

Keberhasilan pembangunan nasional telah meningkatkan


kesadaran hukum masyarakat. Masyarakat menjadi lebih kritis
terhadap pelayanan jasa-jasa yang mereka terima, termasuk
pelayanan dokter, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Dengan
meningkatnya kesadaran hukum ini, tidak jarang masyarakat
mencampurbaurkan antara etika dan hukum. Hal ini disebabkan
karena masyarakat tidak mengetahui perbedaan dari keduanya yang
sama-sama berpegang pada norma-norma yang hidup dalam
masyarakat.
2. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat diperoleh mulai dari tingkat
Puskesmas, rumah sakit, dokter praktek swasta dan lain-lain.
Masyarakat dewasa ini sudah makin kritis menyoroti pelayanan
kesehatan dan profesional tenaga kesehatan. Masyarakat menuntut
pelayanan kesehatan yang baik dari pihak rumah sakit, disisi lain
pemerintah belum dapat memberikan pelayanan sebagaimana yang
diharapkan karena adanya keterbatasan-keterbatasan, kecuali rumah
sakit swasta yang berorientasi bisnis, dapat memberikan pelayanan
kesehatan dengan baik. Untuk meningkatkan Pelayanan kesehatan
dibutuhkan tenaga kesehatan yang trampil dan fasilitas rumah sakit
yang baik, tetapi tidak semua rumah sakit dapat memenuhi kriteria

20
tersebut sehingga meningkatnya kerumitan system pelayanan
kesehatan dewasa ini.
Salah satu penilaian dari pelayanan kesehatan dapat kita lihat
dari pencatatan rekam medis atau rekam kesehatan. Dari pencatatan
rekam medis dapat mengambarkan kualitas pelayanan kesehatan
yang diberikan pada pasien, juga meyumbangkan hal penting
dibidang hukum kesehatan, Pendidikan, Penelitian dan Akriditasi
Rumah Sakit.
Yang harus dicatat dalam rekam medis mencakup hal-hal
seperti di bawah ini:
a. Identitas Penderita dan formulir persetujuan atau perizinan.
b. Riwayat Penyakit
c. Laporan pemeriksaan Fisik
d. Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan dokter
yang berwenang
e. Catatan Pengamatan atau observasi
f. Laporan tindakan dan penemuan
g. Ringkasan riwayat waktu pulang
h. Kejadian-kejadian yang menyimpang

Rekam medis mengandung dua macam informasi yaitu:


a. Informasi yang mengandung nilai kerahasiaan, yaitu merupakan
catatan mengenai Hasil pemeriksaan, diagnosis, pengobatan,
pengamatan mengenai penderita, mengenai hal tersebut ada
kewajiban simpan rahasia kedokteran.
b. Informasi yang tidak mengandung nilai kerahasiaan
Suatu hal yang harus diingat bahwa berkas catatan medik asli
tetap harus disimpan di rumah sakit dan tidak boleh diserahkan pada
pasien, pengacara atau siapapun. Berkas catatan medik tersebut
merupakan bukti penting bagi rumah sakit apabila kelak timbul suatu
perkara, karena memuat catatan penting tentang apa yang telah

21
dikerjakan dirumah sakit. Catatan medik harus disimpan selama
jangka waktu tertentu untuk dokumentasi pasien.
Untuk suatu rumah sakit rekam medis adalah penting dalam
mengadakan evaluasi Pelayanan kesehatan, peningkatan efisiensi
kerja melalui penurunan mortalitas, morbiditas dan perawatan
penderita yang lebih sempurna. Pengisian rekam medis serta
penyelesaiannya adalah tanggung jawab penuh dokter yang merawat
pasien tersebut, Catatan itu harus ditulis dengan cermat, singkat dan
jelas. Dalam menciptakan rekam medis yang baik diperlukan adanya
kerja sama dan usaha-usaha yang bersifat koordinatif antara berbagai
pihak yang samasama melayani perawatan dan pengobatan terhadap
penderita.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pelayanan kesehatan menurut Undang-Undang No. 36 Tahun
2009 seperti dalam penjelasannya adalah, bahwa dalam memberikan
pelayanan kesehatan baik itu perseorangan maupun masyarakat sangat
dijamin dalam UU tersebut, dalam beberapa pasal sangat jelas ditegaskan
bahwa untuk menjamin kesehatan masyarakat maka pemerintah
mengupayakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam upaya
mencapai Indonesia yang sehat. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
pemerintah baik itu berupa penyediaan fasilitas pelayanan kasehatan,
penyediaan obat, serta pelayanan kesehatan itu sendiri adalah dalam
upaya menjamin kesehatan masyarakat.

B. Saran
Semoga makalah yang kami susun dapat di manfaatkan secara
maksimal, sehingga dapat membantu proses pembelajaran, dan dapat
mengefektifkan kemandirian dan kreatifitas mahasiswa. Selain itu, di
perlukan lebih banyak refrensi untuk menunjang proses pembelajaran.

23
DAFTAR PUSTAKA
M. Thalal dan Hiswanil.2007. Aspek Hukum dalam Pelayanan Kesehatan. Jurnal
Kesehatan Masyarakat.11(1) : 72-75.
http://zonaartikel1000.blogspot.com/2016/01/aspek-hukum-pelayanan-
kesehatan.html
https://irsa2211.wordpress.com/2014/08/14/rumah-sakit-sebagai-industri-jasa-
pelayanan-kesehatan/
http://ngampus-dulu.blogspot.com/2016/10/rumah-sakit-sebagai-jasa-
pelayanan.html
https://informasiindonesia.wordpress.com/2014/02/14/layanan-kesehatan-sebagai-
peluang-bisnis/

24