You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi saat ini yang

semakin canggih dan modern, tentu membawa perubahan cara hidup atau

gaya hidup pada kehidupan manusia. Cara hidup setiap individu tidak

terpisah dari gaya hidupnya masing-masing. Secara umum gaya hidup

dimaknai secara berbeda. Gaya hidup merupakan perilaku seseorang yang

ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan

dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya.

Gaya hidup tidak terlepas dari ciri sebuah negara modern, atau

yang biasa disebut dengan modernitas. Maksudnya adalah siapapun yang

hidup dalam masyarakat modern akan menggunakan gagasan tentang gaya

hidup untuk menggambarkan tindakan sendiri atau orang lain.

Gaya hidup bisa diasumsikan sebagai pola-pola tindakan yang

membedakan antara satu orang dengan orang lain. dalm interaksi sehari-

hari kita bisa menerapkan suatu gagasan tentang gaya hidup tanpa perlu

menjelaskan apa yang dimaksud. Oleh sebab itu, gaya hidup berfungsi

dalam interaksi dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat dipahami oleh

mereka yang tidak hidup dalam masyarakat modern.

Merujuk pendapat dari Cleoparta (2015), menjelaskan gaya hidup

adalah pola tindakan yang membedakan satu orang atau kelompok dengan

1
yang lain. Jika gaya hidup diasumsikan sebagai sebuah ideologi, maka

akan membentuk identitas diri yang bersifat individu maupun bersifat

kelompok dan membedakan dengan yang lain. Gaya hidup memiliki

tujuan untuk kemudian dapat membentuk citra yang dibanggakan bagi

pengguna maupun partisipannya. Citra yang tampil melalui gaya hidup

lebih sering bersinggungan dengan berbagai penampilan seseorang dan

memiliki sifat yang dapat ditangkap dan dirasakan oleh indera. Citra yang

timbul atas gaya hidup yang dipilih oleh seseorang berkaitan erat dengan

nilai dan status sosial dari model gaya hidup yang digunakannya.

(http://id.answers.yahoo.com./ Digital Colection mtv-chapter3.pdf.2007)

konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan

mengenal orang lain melalui perilaku manusia tersebut selalu terkait

dengan orang lain. Perilaku manusia dipengaruhi orang lain, ia melakukan

sesuatu dipengaruhi faktor dari luar dirinya, seperti tunduk pada aturan,

tunduk pada norma masyarakat, dan keinginan mendapat respon positif

dari orang lain berupa pujian.

Manusia dikatakan makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri

manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.

Ada kebutuhan sosial untuk hidup berekelompok dengan orang lain serta

kebutuhan untuk mencari kawan atau orang lain dalam kehidupan sosial

sebagai satu kesatuan dalam bermasyarakat.

Menurut Koentjaraningrat (2009), bahwa dalam kehidupan sosial,

manusia dapat disebut sebagai masyarakat. Disebut masyarakat karena

2
masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling “bergaul” atau

dengan istilah ilmiah “berinteraksi”. Istilah masyarakat sendiri berasal dari

akar kata Arab syaraka yang berarti “ikut serta, berpartisipasi”. Dalam

bahasa Inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata Latin socius,

berarti “kawan”. Kehidupan manusia dan masyarakat hampir seiring.

Manusia tidak bisa hidup tanpa masyarakat, secara biologis dan psikologis

manusia hidup didalam kelompok atau masyarakat, karena masyarakat

telah menjadi bagian penting bagi individu untuk melanjutkan kehidupan.

Individu tergantung pada masyarakat, manusia harus menyesuaikan diri

dengan norma-norma, menempati status dan menjadi anggota kelompok

Koentjaraningrat (2009), mengatakan bahwa istilah yag lazim

dipakai untuk menyebut kesatuan-kesatuan hidup manusia, baik dalam

tulisan ilmiah maupun dalam bahasa sehari-hari, adalah masyarakat.

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut

suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat

oleh suatu rasa identitas bersama.

Budiati (2009), menyimpulkan bahwa masyarakat terdiri dari

unsur-unsur: 1) manusia yang hidup bersama; 2) berinteraksi dalam waktu

yang cu kup lama; 3) adanya kesadaran anggotanya sebagai satu kesatuan;

dan 4) suatu sistem kehidupan bersama yang menciptakan kebudayaan.

Masyarakat yang tinggal di suatu daerah atau desa yang terpencil

pasti akan mengalami suatu perubahan, baik itu secara cepat atau lambat,

besar atau kecil, yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki,

3
tergantung dari berbagai faktor yang ada di sekitar lingkungan desa atau

daerah tersebut. Perubahan-perubahan tersebut dapat terjadi dengan

berbagai macam cara dan faktor yang melandasinya. Macam-macam

perubahan yang terjadi dalam masyarakat misalnya perubahan yang

bersifat besar seperti dalam hal indusrialisasi yang terjadi pada masyarakat

agraris akhir-akhir ini yang mempunyai pengaruh sangat besar tehadap

perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat khususnya

pada masyarakat agraris misalnya saja dalam hal lembaga-lembaga

masyarakat, nilai, norma, dan juga pola/gaya kehidupan dari masyarakat.

Soekanto (2006), menjelaskan masyarakat itu sendiri memiliki dua

sifat yaitu ada masyarakat yang bersifat terbuka yang bisa menerima

perubahan-perubahan yang terjadi dan menggabungkan dengan

kebudayaan yang sudah ada, dan masyarakat yang bersifat tertutup yang

mana dalam masyarakat ini cendrung sulit untuk menerima perubahan-

perubahan yang terjadi karena mereka tidak terbiasa melakukan sesuatu

yang mereka tidak pahami dan yang tidak mereka jalankan.

Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup

bermasyarakat, biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka dan

ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga

desa berdasarkan ikatan kekeluargaan. Masyarakat pedesaan identik

dengan istilah gotong royong yang merupakan kerja sama untuk mencapai

kepentingan-kepentingan bersama.

4
Kehidupan masyarakat selalu menarik untuk di kaji, karena

masyarakat adalah sebuah kumpulan manusia yang kompleks, baik

menurut pekerjaan, status sosial, pendidikan maupun gaya hidup dari

masing-masing individu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor

utama pembentuk gaya hidup adalah faktor demografis misalnya

berdasarkan tingkat pendidikan.

Sebagai upaya dalam pemberdayaan manusia sebagai satu kesatuan

dari masyarakat, pendidikan memegang peran yang sangat penting.

Pendidikan merupakan merupakan hal yang terpenting dalam hidup

manusia, karena pendidikan bagi m anusia berpengaruh terhadap dinamika

sosial budaya masyarakat. Pendidikan juga merupakan kebutuhan utama

yang harus dimiliki oleh setiap manusia, karena pendidikan juga

merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan taraf hidup manusia.

Pendidikan merupakan dasar pembangunan manusia. Pentingnya

pendidikan harus dilihat dalam konteks hak-hak asasi manusia, artinya

setiap manusia berhak untuk memperoleh pendidikan.

Daerah pedesaan merupakan tempat yang asri dan penuh dengan

rasa toleransi yang tinggi diantara penduduknya. Dalam kesehariannya

masyarakat desa sangat memegang erat rasa kekeluargaan dan jiwa gotong

royong. Adanya kondisi seperti itu menjadikan penduduk merasa

kehidupan pedesaan penuh dengan kedamaian, tenggang rasa yang sangat

tinggi. Ciri masyarakat desa yaitu adanya rasa enggan untuk menerima

atau menciptakan ide ide baru. Hal ini biasanya disebabkan karena

5
kurangnya keterbukaan terhadap pengetahuan baru dan kurangnya

kesadaran terhadap pentingnya pendidikan.

Sebelum mengenal pendidikan, masyarakat desa lebih cenderung

bekerja sebagai petani dan lebih mengutamakan keterampilan bekerja dari

pada kemampuan intelektual. sehingga jarang dari penduduk desa lebih

khusus di Desa Lolang, kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai

yang merasa pentingnya mengenyam sebuah pendidikan. Adanya program

pemerintah dengan menyediakan fasilitas fasilitas seperti gedung sekolah,

fasilitas kesehatan seperti gedung rumah sakit dan lainnya yang dapat

mendukung masyarakat desa Lolang untuk mengenyam sebuah

pendidikan. Program-program pemerintah sangatlah mendukung untuk

mengubah pola pikir masyarakat desa, dari kesehariannya bekerja sebagai

petani dengan mengenyam sebuah pendidikan sehingga tumbuh kesadaran

dari individu itu sendiri, betapa pentingnya sebuah pendidikan.

Penduduk desa lolang berjumlah 1.351 dan terdiri atas 265 KK

(kepala keluarga) dan masyarakat mayoritas Bergama katolik. Sebagian

dari masyarakat desa lolang mengenyam pendidikan, bertani, dan

berternak. Berikut tingkat jenjang pendidikan desa lolang :

1.) Sekolah Dasar; siswa laki-laki berjumlah 148 dan siswa perempuan 142.

2.) Sekolah Menengah Pertama, siswa laki-laki ….dan siswa perempuan

3.) Sekolah Menengah Atas siswa laki-laki,,,,,dan siswa perempuan…

4.) Perguruan Tinggi berjumlah 70 orang.

5.) Tamat Perguruan Tinggi 10 orang.

6
6.) Pegawai Negri (sudah bekerja) 55 orang.

Berdasarkan data di atas bahwa pendidikan di desa lolang masih

sangat rendah, karena sebagian dari masyrakat desa tidak mengenyam

pendidikan. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti faktor

kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang, orang

tua anak lebih fokus untuk bekerja dan mencari uang hal ini berdampak

dengan kurangnya motivasi terhadap anak untuk menempuh pendidikan.

Faktor lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

tingkat pendidikan. Apabila anak-anak berada di lingkungan yang terdapat

banyak anak-anak putus sekolah maka anak tersebut akan terpengaruh

oleh perbuatan maupun tindakan anak yang putus sekolah.

Berdasarkan permasalahan latar belakang diatas, maka peneliti

merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang: “Perubahan Gaya

Hidup Masyarakat Desa Berdasarkan Tingkat Pendidikan (Studi Kasus

Desa Lolang Kecamatan Satarmese Kabupaten Manggarai)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dan latar belakang masalah yang telah

dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana perubahan gaya hidup masyarakat desa berdasarkan tingkat

Pendidikan di Desa Lolang Kecamatan Satarmese Kabupaten

Manggarai?

2. Bagaimana Tingkat Pendidikan masyarakat Desa Lolang Kecamatan

Satarmese Kabupaten Manggarai?

7
C. Tujuan Penelitian

Dari uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan

dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui perubahan gaya hidup masyarakat desa berdasarkan

tingkat Pendidikan di Desa Lolang Kecamatan Satarmese Kabupaten

Manggarai.

2. Untuk mengetahui tingkat Pendidikan masyarakat Desa Lolang

Kecamatan Satarmese Kabupaten Manggarai

D. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

1. Manfaat Bagi Mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang

a. Untuk mengetahui pentingnya perubahan gaya hidup masyarakat

desa di Desa Lolong Kecamatan Satarmese Kabupaten Manggarai.

b. Untuk dapat memahami pentingnya perubahan gaya hidup

masyarakat desa berdasarkan tingkat Pendidikan di Desa Lolang

Kecamatan Satarmese Kabupaten Manggarai.

2. Manfaat Bagi Lembaga IKIP Budi Utomo Malang

a. Sebagai bahan masukan untuk melakukan penelitian sejenis yaitu

tentang perubahan gaya hidup masyarakat dan tingkat Pendidikan

pada masyarakat Desa.

8
b. Memberikan sumbangan teoritis terutama mengenai perubahan

gaya hidup masyarakat desa berdasarkan tingkat Pendidikan.

3. Bagi Masyarakat

a. Sebagai sumbangan pemikiran mengenai pentingnya pendidikan

ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

b. Sebagai masukan kostruktif untuk menyikapi perubahan gaya

hidup masyarakat desa secara positif.

4. Manfaat Bagi Peneliti

a. Sebagai tugas akhir untuk menempuh studi strata satu (sarjana

pendidikan) FPISH, program studi pendidikan Sejarah dan

Sosiologi di IKIP Budi Utomo Malang.

b. Sebagai bahan perbandingan antara teori yang pernah penulis

dapatkan di bangku perkuliahan dengan realita yang ada di

lapangan.