CATATAN KULIAH HUKUM

iseng ci tapi semoga bermanfaat
Top of Form

Search:

Bottom of Form

kawan
tinggalkan komentar y...

pengertian kejahatan dan penjahat
Rabu, 22 April 2009 | GILANG KURNIA
KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas perkenan, rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Kriminologi ini. Tugas ini penulis susun sebagai salsatu pelengkap tugas pada mata kuliah Kriminologi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tugas ini, terutama kepada dosen pembimbing mata kuliah yang telah memberikan support hingga terselesaikannya tugas ini. Penulis menyadari bahwa tugas ini jauh dari sempurna, namun penulis berharap tugas ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan semua pihak umumnya. Bandung, 26 Februari 2009 Penulis DAFTAR PUSTAKA Kata Pengantar Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

bahwa faktor keturunan dan faktor lingkungan masing-masing bukan satu faktor saja melainkan suatu gabungan faktor. kriminalitas manusia normal adalah akibat. BENTUK-BENTUK GEJALA KEJAHATAN YANG DILAKUKAN PENJAHAT BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. kriminolog tersebut menarik kesimpulan bahwa. dan di mana kedua faktor itu juga dapat saling mempengaruhi. Identifikasi Masalah BAB II PEMBAHASAN A. seorang manusia normal bukan ditentukan sejak lahir untuk menjadi kriminal oleh faktor pembawaannya yang dalam saling berpengaruh dengan lingkungannya menimbulkan .B. Dalam pembahasan mengenai asal-usul tingkah laku kriminal dan dalam pertimbangan mengenai faktor mana yang memegang peran. Noach. utamanya di antara faktor keturunan atau faktor lingkungan. Dengan menggunakan definisi Prof. Latar Belakang Masalah Dalam menguraikan tingkah laku criminal itu bukan dimaksudkan untuk membahas gejalagejala criminal yang langsung berkaitan dengan kejahatan-kejahatan atau psikologi penjahat itu. dimana kadang-kadang dari faktor keturunan dan kadang-kadang pula faktor lingkungan memegang peran utama. Penjahat B. seorang kriminolog yang membedabedakan pengertian kriminologi dalam arti yang luas dan kriminologi dalam arti yang terbatas. baik dari faktor keturunan maupun dari faktor lingkungan. melainkan untuk sekedar membahas peranan lingkungan sosial dalam perkembangan orang yang melakukan tingkahlaku kejahatan berdasarkan beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah ini. Kejahatan 2. Secara garis besarnya. maksud kami adalah membahas salahsatu masalah kriminologi dalam arti terbatas yang meliputi gejala-gejala kriminial. Jadi. dan bahwa gabungan faktor ini senantiasa saling mempengaruhi di dalam interaksi sosial orang dengan lingkungannya. dan sisi kejiwaan dari pelaku criminal tersebut. PENGERTIAN KEJAHATAN DAN PENJAHAT 1.

Secara yuridis. sangat jelek. Kejahatan berarti mempunyai sifat yang jahat atau perbuatan yang jahat.H. yang ditumpukan terhadap tabiat dan kelakuan orang. Seorang yang hidup dalam taraf yang baik. Kejahatan diartikan sebagai suatu perbuatan melanggar hukum atau yang dilarang oleh undang-undang. Identifikasi Masalah Berdasarkan keterangan diatas timbul beberapa masalah yang menjadi pertanyaan penulis. keluarga ideal dan berada dalam minus kejahatannya. Menurut Prof. Kejahatan adalah pelanggaran dari normanorma sebagai unsur pokok kesatu dari hukum pidana. Kejahatan Ada beberapa pengertian tentang kejahatan diantaranya adalah sebagai berikut: Istilah kejahatan berasal dari kata jahat. Di lain pihak residivis-residivis yang besar kebanyakan berasal dari daerah yang buruk. yang artinya sangat tidak baik. Menurut Richard Quinney. B. Dr. sangat buruk. PENGERTIAN KEJAHATAN DAN PENJAHAT 1. apabila dalam suatu waktu ia melakukan kejahatan maka ia akan lebih mudah dikembalikan kejalan yang benar. melainkan faktor-faktor yang terlibat dengan iteraksi lingkungan sosial itulah yang memberikan pengaruhnya bahwa ia betul-betul menjadi kriminal dalam pengaruhpengaruh lingkungan yang memudahkannya itu. Berdasarkan studi perbandingan pernah diperhatikan bahwa karakter individu dan situasi sosialnya berhubungan erat dengan jumlah kejahatan yang terdapat didalam lingkungannya.tingkah laku kriminal. karena dengan ini orang akan tahu apa perbuatan jahat dan apa yang tidak jahat. antaranya: Apa pengertian dari kejahatan dan penjahat ? Bagaimana bentuk-bentuk gejala kejahatan yang dilakukan oleh penjahat? BAB II PEMBAHASAN A. S. miskin dan daerah yang tinggi tingkat kejahatannya dan terisolasi dari pola-pola anti kejahatan. Definisi ttg tindak kejahatan (perilaku yg melanggar hukum) adalah perilaku manusia yang diciptakan oleh para pelaku yang berwenang dalam masyarakat . Disini diperlukan suatu kepastian hukum.. Wirjono Projodikoro.

dan Pengaruh daripada label itu sebagai konsekuensi penyimpangan tingkah laku. menjengkelkan. Kejahatan merupakan kualitas dari reaksi masyarakat atas tingkah laku seseorang. Seseorang yang dicap dan diperlakukan sebagai penjahat terjadi dalam proses interaksi. Dalam rumusan Paul Mudigdo Moeliono. kejahatan merupakan salah satu jenis gejala sosial. Umumnya tingkah laku seseorang yang dicap jahat menyebabkan orangnya juga diperlakukan sebagai penjahat. atau kualifikasi atas perilaku yang melanggar hukum dirumuskan oleh warga–warga masyarakat yang mempunyai kekuasaan. yang merupakan palanggaran norma. yang berkenaan dengan individu atau masyarakat. 2. 3. atau perumusan pelanggaran hukum merupakan perumusan tentang perilaku yang bertentangan dengan kepentingan pihak–pihak yang membuat perumusan. Teori Labeling Howard S. 4. yang dirasakan merugikan. antar kelompok dan antar individu dan kelompok.yang terorganisasi secara politik. di mana interaksi tersebut diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu. Reaksi itu menyebabkan tindakan seseorang dicap sebagai penjahat. . B. perilaku seseorang bisa sungguh2 menjadi jahat jika orang itu di cap jahat. Dilihat dari segi sosiologis. sehingga tidak boleh dibiarkan. 5. Kejahatan adalah gambaran perilaku yang bertentangan dengan kepentingan kelompok masyarakat yang memiliki kekuasaan untuk membentuk kebijakan publik. Becker menekankan dua aspek: Penjelasan tentang mengapa dan bagaimana orang–orang tertentu sampai diberi cap atau label sebagai penjahat. BENTUK-BENTUK GEJALA KEJAHATAN YANG DILAKUKAN PENJAHAT Di dalam cabang Ilmu Sosiologi Hukum di kenal beberapa teori mengenai bentuk gejala kejahatan di antaranya sebagai berikut: Premis-premis teori Labeling sebagai berikut : 1. Penjahat Penjahat adalah orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum atau yang dilarang oleh undang-undang. kejahatan adalah perbuatan manusia. Terdapat kecenderungan di mana seseorang atau kelompok yang dicap sebagai penjahat akan menyesuaikan diri dengan cap yang disandangnya. 2.

dan Systematic deviation. dan Pada dasarnya semua orang pernah melakukan kejahatan. Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam suatu proses komunikasi. Bagian terpenting dalam proses mempelajari perilaku kejahatan terjadi dalam hubungan personal yang intim. sebagai hasil stres atau tekanan dari keadaan. dorongan–dorongan.Edwin Lemert membedakan tiga penyimpangan. Pada dasarnya teori labeling menggambarkan: Tidak ada satupun perbuatan yang pada dasarnya bersifat kriminal. maka yang dipelajari termasuk: teknik melakukan kejahatan. Arah dan motif dorongan itu dipelajari melalui definisi-definisi dari peraturan hukum. 2. kadang seseorang dikelilingi oleh orang–orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu . Orang tidak menjadi penjahat karena melanggar hukum. Ketika perilaku kejahatan dipelajari. surat kabar. di mana timbulnya penyimpangan diakibatkan oleh karena tekanan psikis dari dalam. 3. 5. Penerapan aturan tentang kejahatan dilakukan untuk kepentingan pihak yang berkuasa. Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari. bukan warisan. Secara negatif ini berarti bahwa komunikasi interpersonal seperti melalui bioskop. sebagai pola–pola perilaku kejahatan terorganisir dalarn sub–sub kultur atau sistem tingkah laku. tetapi karena ditetapkan demikian oleh penguasa. sehingga tidak patut jika dibuat kategori orang jahat dan orang tidak jahat. Premis tersebut menggambarkan bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang bisa dikatakan jahat apabila tidak terdapat aturan yang dibat oleh penguasa untuk menyatakan bahwa sesuatu tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang diklasifikasikan sebagai kejahatan. alasan–alasan pembenar dan sikap–sikap tertentu). secara relatif tidak berperanan penting dalam terjadinya kejahatan). yaitu: Individual deviation. Situational deviation. Sembilan premis perilaku jahat : 1. 4. Komunikasi tersebut dapat bersifat lisan atau dengan bahasa tubuh). motif-motif. Dalam suatu masyarakat. Predikat kejahatan dilakukan oleh kelompok yang dominan atau kelompok penguasa.

. Juga di dalam kriminologi dikenal selama ini pembagian sedemikian. 6. durasi. Lain halnya dalam cabang ilmu kriminologi. Penahanan. Sementara itu perilaku jahat merupakan ekspresi dari kebutuhan nilai umum. 8. politik dan tindak pidana lain. Seseorang menjadi delinkuen karena ekses pola–pola pikir yang lebih melihat aturan hukurn sebagai pernberi peluang melakukan kejahatan daripada melihat hukurn sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi) 7. perbuatan itu dilakukan sedemikian rupa sehingga si korban tidak melihat perbuatan. baik perbuatan maupun si pelaku. Penghinaan. sebagai suatu kemungkinan pembagian: Perbuatan itu dilakukan sedemikian rupa. sehingga si korban dapat mengemati. dimana dibedakan : Tindak pidana agresif. Menurut cara melakukan. terutama dalam Buku II. dengan cara memaksa atau secara biasa. Perampokan dll). 9. Pemalsuan atau peracunan dll).diperhatikan dan dipatuhi. seksual. Pelaku di sini terdapat 2 cara yaitu dapat dimulai berdasarkan motif si pelaku atau berdasarkan sifat-sifat si pelaku. namun tidak dijelaskan bahwa perilaku yang bukan jahatpun merupakan ekspresi dari kebutuhan dan nilai–nilai umum yang sama. Asosiasi Diferensial bervariasi dalam frekuensi. Menurut benda-benda hukum yang menderita: pada pokoknya hal ini dipakai sebagai dasar pembagian dalam hukum pidana. Proses mempelajari perilaku jahat diperoleh lewat hubungan dengan pola–pola kejahatan dan mekanisme yang lazim terjadi dalam setiap proses belajar secara urnum. bahan-bahan kimia. ekonomi. dsb) atau tanpa yang disebut tadi. bentuk-bentuk gejala kejahatan di kaji lebih lanjut dan lebih terperinci di bagi kedalam beberapa pembagian sebagai berikut: Pembagian menurut perbuatan dapat di bagi 2. tanpa mempertimbangkan apakah si korban menyadari perbuatan itu sebagai tindak pidana atau tidak (Misalnya: Penganiayaan. Sebaliknya. namun kadang ia dikelilingi orang–orang yang melihat aturan hukurn sebagai sesuatu yang memberikan peluang dilakukannya kejahatan. Perbuatan itu dilakukan dengan kekerasan fisik. pelaku atau kedua-duanya pada waktu hal itu dilakukan (Misalnya: Penggelapan. prioritas serta intensitasnya. bilamana dilihat pada cara tindak pidana dilakukan atau pada benda hukum dan nilai hukum yang menderita karena tindak pidana itu. Perbuatan itu dilakukan dengan mempergunakan sarana-sarana bantu khusus (alat-alat pertukangan.

Ajaran Tipe dari Lombroso. epilepsi. karena dimasa remaja selalu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang jelek. Meskipun demikian. c. tanpa keterlibatan. Mereka ini mudah melakukan kejahatan karena sedikit saja pengaruh yang jelek. histeria. mereka ini merupakan bentuk peralihan antara yang dilahirkan sebagai penjahat dan penjahat berkesempatan. Namun. Penjahat karena hawa nafsu.pelegra. Lombroso membedakan: a. pada akhirnya prilaku mereka menyimpang dibandingkan dengan “mereka yang normal dan yang patuh pada undang-undang”. yang bersifat Psikis (penjahat yang sinting dan penjahat karena hawa nafsu) dan karena lingkungan (penjahat karena kesempatan). Berdasarkan pandangan antropologi.Untuk dua cara tersebut diatas diperlukan suatu penelitian yang mendalam terhadap sipelaku. b. Dilahirkan sebagai penjahat. yang dapat diperinci dalam: Penjahat samaran. Lamroso berpangkal tolak dari tiga kriteria yang sama sekali berbeda: yang bersifat fisik (yang dilahirkan sebagai penjahat). Kriminoloid. Kesimpulan dari penyidikannya ialah. dalam ruang lingkup nilai atau norma moral. Penjahat sinting. Penjahat karena kesempatan. oleh karena baik sifat-sifat maupun motif perbuatannya tidak dapat disimpulkan berdasarkan apa yang tampak keluar. dengan membuat pembagian berdasarkan tipe-tipe si pelaku. juga para alkoholik. penderita melankolok. Mereka ini melakukan kejahatan karena keadaan yang luarbisa dan sangat merangsang. e. Kesulitan karena penelitian yang demikian. oleh karena pada waktu dilahirkan mereka adalah normal. di mana tidak selalu dipisahkan kriteria sifat dan motifnya si pelaku. penderita paralise umum. Orang-orang ini memiliki ciri-ciri fisik (Stigmata) yang degeneratif atau yang bersifat atavistis (tentang dilahirkan sebagai penjahat). bahwa para penjahat dipandang dari sudut antropologi . mereka ini dibedakan dari orang yang dilahirkan sebagai penjahat. demensia. d. Penjahat biasa. Bebrapa klasifikasi dari si pelaku dikemukakan di bawah ini: 1. Mereka yang melakukan suatu tindak pidana karna hanya suatu pelanggaran Undangundang secara “Teknis”. terhisab dalam kelompok ini: para idiot. Lamroso mengadakan penyelidikan mengenai penjahat-penjahat yang terdapat dalam rumah penjara dan terutama mengenai tengkoraknya. imbesil.

Mereka dilahirkan demikian. Sifat batin sejak lahir ini juga dapat dikenal dari adanya sigmata-sigmata lahir. Para penjahat agresif. Para penjahat yang bertindak setelah berunding atau melakukan persiapan. Garofalo mendasarkan penggolongannya atas cacat moral dan berpendapat bahwa dengan penggolongannya ini. yang seakan-akan memperingatkan pada otak hewan. jadi terdapat suatu tipe penjahat yang dapat dikenal. 2. Para penjahat kebiasaan: mereka ini dengan teratur melakukan kejahatan. Tengkoraknya umpamanya isinya kurang (dari pencuri) daripada orang lain. mereka tidak mempunyai pre-disposisi untuk kejahatan. di waktu mengadili dapat ditemukan tindakan refresif yang tepat. tanpa mempersoalkan apakah delik yang telah dilakukan sejenis atau tidak.mempunyai tanda-tanda tertentu. Para residivis: cukup kalau mereka pernah dipidana. Roman mukanya juga lain daripada orang biasa. dan tidak ada pengaruh lingkungan yang dapat merubahnya. Penggolongan menurut Garofalo: Para pembunuh berencana. tulang dahi yang melengkung kebelakang (apa yang disebut front fuyant) dll. 3. . Para penjahat karena suasana perasaan: mereka tiba-tiba berbuat karena pengaruh perasaan. tetapi suatu presdistinasi. Para penjahat hawa nafsu atau kesetanan. Para penjahat karena kesempatan: mereka ini berbuat karena kebetulan dan kesempatan. Juga kurang perasaannya dan suka akan tatouage seperti halnya pada orang yang masih sederhana peradabannya juga banyak terdapat pada penjahat. Kesimpulannya ialah: penjahat umumnya dipandang dari sudut antropologi merupakan suatu jenis manusia tersendiri (genus homo delinquens) seperti halnya sengan bangsa negro. dikatakan terdapat padanya. terutama karna sifatnya yang fositif atau karena sudah tumpul perasaannya. Juga dalam otaknya terdapat keganjilan. terdapat kelainan-kelainan pada tengkoraknya. Para penjahat karena kekurangan kejujuran. biarpun tidak dapat ditunjukkan adanya kelainan-kelainan penjahat yang khusus. Penggolongan menurut Aschaffenburg: Para penjahat kebetulan: mereka ini melakukan kejahatan karena kealpaan.

Para penjahat profesional: mereka ini dengan teratur melakukan kejahatan secara aktif karena sikap hidup yang di tujukan para pelku kejahatan. 4. Menurut Capelli. Para pelaku dengan sifat neurotis. Penggolongan menurut Gruhle Para pelaku karena kecenderungan (bukan kerena pembawaan). penggolongan kejahatan itu terjadi karena: Faktor-faktor psikopatis dengan para pelaku: Orang-orang sinting dan Bukan Orang-orang sinting yang psikisabnormal. yang menyulitkan pendidikan atau penyesuaian sosial mereka (para tuna rungu dan yang buta). Para pelaku karena kehormatan atau keyakinan. Para pelaku dengan perkembangan yang buruk dari insan kamilnya (super ego). 5. Karena pengaruh orang lain. Faktor-fakror sosial dengan para pelaku: . Para penjahat kronis: Karena penyimpangan organis atau fungsional dari jasmani atau rohani. Yang Aktif: mereka yang mau melakukan suatu kejahatan. Para pelaku kejahatan karena hawa nafsu. Para pelaku karena kelemahan. Karena kebetulan. tanpa perlu menghendakinya dibandingkan dengan kelompok yang aktif. Penggolongan menurut Abrahamsen: Para pelaku seketika: Karena suatu situasi tertentu. Yang Pasif: mereka yang tidak berkeberatan melakukan suatu delik. Para “Pelaku seketika” yang kronis. Faktor-faktor organis dengan para pelaku: Orang-orang yang menderita gangguan organis yang menimpa mereka pada usia lanjut dan beberapa macam orang invalid atau orang cacad dan Orang-orang yang menderita gangguan organis sejak lahir atau sejak masih kecil. Neurotisi dan mereka yang berbuat karena paksaan psikis.

pencemaran nama. terlepas dari semua pekerjaan. penodaan nama). Para pelaku yang secara kebetulan melakukan kejahatan pertama. Hal ini mengakibatkan pembagian sebagai berikut: Penjahat profesional yang malas berkerja. Para peserta dalam kejahatan berkelompok atau menggantung seseorang sampai mati tanpa melalui proses pengadilan. Oleh karena itu. . menahan barang-barang yang ditemukan sebagai pemiliknya sendiri. Kemalasan mereka berkerja sangat menonjol dan cara hidup mereka asosial. perbuatan curang pada pekerjaan paramedis dan pada akhirnya. Para penjahat kareana nafsu agresi. pembagian ini. Pembagian dari Seelig dengan pangkal tolak bahwa suatu kejahatan dilakukan akibat dari ciri watak sipelaku (Disposisinya) atau dari suatu kejadian psikis. Namun mereka sulit menolak godaan dunia luar. mereka terus melakukan kejahatan untuk menggantikan cara bekerja yang normal. secara ketat. tidak memiliki kesatuan pangkal tolak. dan acap kali pekerja yang cakap dan rajin. mereka mudah tersinggung sehingga berbuat agresif (penganiayaan) atau mengungkapkan secara lisan atau tulisan (penghinaan. kemudian melakukan kejahatan yang lebih besar atau suatu seri kejahatan kecil. Termasuk dalam kelompok ini ialah para penjahat profesional dan para penjahat karena kebiasaan serta penjahat-penjahat kecil yang malas berkerja (para pengembara jalanan. juga yang muncul dalam pekerjaan mereka. Selanjutnya Seelig dan Weindler berpendapat bahwa para penjahat biologis (mereka yang berciri fisik dan psikis) merupakan “sekelompok manusia heterogen yang beraneka warna. yang tidak memiliki kebersamaan ciri biologis”. Para pelaku karena kesempatan (karena kesulitan ekonomi atau fisik). penggelapan oleh personiladministrasi dan para pegawai. langsung menjelang atau selama dilakukannya perbuatan itu (kejadian senyatanya). lazimnya mereka dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. para gelandangan dan pelacur). Sifat dari kejahatan terhadap harta benda bergantung selanjutnya dari pekerjaan: pencurian oleh para pekerja dan pembantu rumahtangga. Para penjahat terhadap harta benda karena daya tahan mereka yang lemah. bekerja secara normal.Para pelaku karena kebiasaan.

Para penjahat karena krisis. dapat disebut di sini bunuh diri. tipe ini berasal dari pendapat psikiater kretschmer untuk orang-orang dengan perasaan yang meledak dan yang tidak dapat dikuasai oleh mereka sendiri. Untuk suatu pembagian kriminologi. terutama di bidang ekonomi dan percintaan. Para penjahat rektif-primitif. karena pengaruh perasaan selama dan segera sesudah melahirkan bayinya. Reaksi primitif itu penting. perbuatan agresif terhadap majikan atau atasan). membunuh bayi itu. oleh karena hal itu melanggar hak atau melanggar kepentingan pihak ketiga. .Para penjahat karena ketiadaan penguasaan diri secara seksual. Sebagai bentuk perilaku tercela. mereka ini melihat kejahatan sebagai suatu jalan keluar dalam krisis hidup mereka dapat disebabkan karena: Perubahan fisik pada si pelaku yang mengakibatkan ketidaktenangan psikis atau ketegangan. Perbuatan sendiri. Pembunuhan berencana karena cintanya tidak dijawab. Seelig menyebut sebgai penjahat krisis: Penjahat harta benda akibat pasca pubertas yang melakukan kejahatan karena keinginan yang tidak tercapai untuk memiliki banyak uang yang seharusnya dimiliki pada waktu dewasa. Sebagai contoh Seelig menyebutkan antara lain: Penjahat karena suatu kerinduan (Pembakaran. dengan cara tidak benaratau dengan sengaja. Lelaki yang mendorong abortus untuk mengakhiri kehamilan yang dilakukannya sendiri (terutama yang diluar perkawinan) atau membunuh wanita hamil itu. Kejadian-kejadian lahiriah yang tidak menyenangkan. termasuk dalam kelompok ini hanya mereka yang perbuatannya langsungmemuaskan nafsu seksual atau hawa nafsu oleh karena mereka tidak mampu menguasai diri mereka. Penjahat yang melakukan perbuatan curang dalam asuransi karena butuh uang (melakukan pembakaran. Seorang ibu. Perempuan yang tidak kawin dan hamil yang melakukan abortus atau menyuruh melakukan abortus atau membunuh bayinya sendiri pada waktu lahir.

Wanita yang mencuri ditoko atau di perusahaan. Penjahat yang tidak memiliki disiplin pergaulan hidup. Bentuk-bentuk campuran. karena penyakit yang tidak tersembuhkan dan penderitaan yang tidak terpikul. Penjahat adalah orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum atau yang dilarang oleh undang-undang. Mereka yang membunuh atau yang menganiaya berat tanpa dapat dicegah. ada bentuk-bentuk campuran dan yang tepenting di antaranya ialah: Penjahat Profesional yang malas bekerja (Kelompok 1). atau perumusan pelanggaran hukum merupakan perumusan tentang perilaku yang bertentangan dengan kepentingan pihak–pihak yang membuat perumusan. mereka ini tidak bersedia atau tidak mampu pengenyampingkan kepentingannya sendiri atau usaha-usaha yang meskipun tidak diancam dengan pidana atau yang dicela. dalam suatu pembalasan buta terhadap korban yang tidak dikenal. orang-orang ini yakin bahwa perbuatan mereka itu merupakan suatu kewajiban. Umumnya tingkah laku seseorang yang dicap jahat menyebabkan orangnya juga diperlakukan sebagai penjahat. Penjahat Karena keyakinan. Reaksi itu menyebabkan tindakan seseorang dicap sebagai penjahat. di samping 8 tipe murni tersebut diatas. mereka yang karena keyakinannya menolong seseorang untuk mati atas permintaan dari yang bersangkutan atau atas permintaan dari relasi yang terdekat dari yang bersangkutan. . Teori Labeling (Micholowsky) Premis-premis teori Labeling sebagai berikut : Kejahatan merupakan kualitas dari reaksi masyarakat atas tingkah laku seseorang. yang sekaligus adalah penjahat yang tidak menguasai diri secara seksual (kelompok 4). Penjahat profesional yang malas bekerja (Kelompok 3) BAB III KESIMPULAN Kejahatan adalah gambaran perilaku yang bertentangan dengan kepentingan kelompok masyarakat yang memiliki kekuasaan untuk membentuk kebijakan publik.

tetapi karena ditetapkan demikian oleh penguasa. bukan warisan.Seseorang yang dicap dan diperlakukan sebagai penjahat terjadi dalam proses interaksi. sebagai pola–pola perilaku kejahatan terorganisir dalarn sub–sub kultur atau sistem tingkah laku. dan Pengaruh daripada label itu sebagai konsekuensi penyimpangan tingkah laku. sehingga tidak patut jika dibuat kategori orang jahat dan orang tidak jahat. Sutherland) Sembilan premis perilaku jahat :  Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari. Premis tersebut menggambarkan bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang bisa dikatakan jahat apabila tidak terdapat aturan yang dibat oleh penguasa untuk menyatakan bahwa sesuatu tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang diklasifikasikan sebagai kejahatan. dan Pada dasarnya semua orang pernah melakukan kejahatan. Terdapat kecenderungan di mana seseorang atau kelompok yang dicap sebagai penjahat akan menyesuaikan diri dengan cap yang disandangnya. di mana timbulnya penyimpangan diakibatkan oleh karena tekanan psikis dari dalam. antar kelompok dan antar individu dan kelompok. Edwin Lemert membedakan tiga penyimpangan.  Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam suatu proses komunikasi. Predikat kejahatan dilakukan oleh kelompok yang dominan atau kelompok penguasa. perilaku seseorang bisa sungguh2 menjadi jahat jika orang itu di cap jahat. di mana interaksi tersebut diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu. Teori Labeling Howard S. Becker menekankan dua aspek: Penjelasan tentang mengapa dan bagaimana orang–orang tertentu sampai diberi cap atau label sebagai penjahat. Pada dasarnya teori labeling menggambarkan: Tidak ada satupun perbuatan yang pada dasarnya bersifat kriminal. Orang tidak menjadi penjahat karena melanggar hukum. yaitu: Individual deviation. dan Systematic deviation. . Penerapan aturan tentang kejahatan dilakukan untuk kepentingan pihak yang berkuasa. Situational deviation. sebagai hasil stres atau tekanan dari keadaan. Differential Assosiation Theory (Edwin H. Komunikasi tersebut dapat bersifat lisan atau dengan bahasa tubuh).

kadang seseorang dikelilingi oleh orang–orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi.   motif-motif.L. Sementara itu perilaku jahat merupakan ekspresi dari kebutuhan nilai umum. Arah dan motif dorongan itu dipelajari melalui definisi-definisi dari peraturan hukum. 1987. Kriminologi. 2000.E.  Seseorang menjadi delinkuen karena ekses pola–pola pikir yang lebih melihat aturan hukurn sebagai pernberi peluang melakukan kejahatan daripada melihat hukurn sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi)  Asosiasi Diferensial bervariasi dalam frekuensi. Psikologi Sosial.Bonger.A. Tarsito.A. Simanjuntak.A. Jakarta. Kejahatan Dalam Masyarakat dan Pencegahannya. 1982. Rafika Aditama. Kriminologi Suatu Pengantar. Hukum Pidana Di Indonesia. Psikologi Sosial. Secara negatif ini berarti bahwa komunikasi interpersonal seperti melalui bioskop.M. dorongan–dorongan. surat kabar. Rafika Aditama. 1982. W. Tarsito. 2000. Bina Aksara. Bandung.  Proses mempelajari perilaku jahat diperoleh lewat hubungan dengan pola–pola kejahatan dan mekanisme yang lazim terjadi dalam setiap proses belajar secara urnum. Gerungan. 2004. 1987. Bandung.B. 2004. 1984. W. W. Dalam suatu masyarakat. dan Pasaribu I. Bandung. namun kadang ia dikelilingi orang–orang yang melihat aturan hukurn sebagai sesuatu yang memberikan peluang dilakukannya kejahatan. Jakarta. Noach. Pipin Syarifin. durasi. Ghalia Indonesia. hlm 19. hlm 211. Gerungan. Hukum Pidana Di Indonesia. hlm 45. W. prioritas serta intensitasnya. W. maka yang dipelajari termasuk:  teknik melakukan kejahatan.L.. namun tidak dijelaskan bahwa perilaku yang bukan jahatpun merupakan ekspresi dari kebutuhan dan nilai–nilai umum yang sama. Bina Aksara.A. Pengantar Tentang Kriminologi. Bagian terpenting dalam proses mempelajari perilaku kejahatan terjadi dalam hubungan personal yang intim. Jakarta. dan Pasaribu I. 1984. DAFTAR PUSTAKA  Noach. alasan–alasan pembenar dan sikap–sikap tertentu). Kriminologi. Jakarta. Bandung. hlm 82. 1992. secara relatif tidak berperanan penting dalam terjadinya kejahatan). hlm 24. Noach. Ghalia Indonesia. Ninik Widiyanti dan Ylius Waskita. Bandung. Widiyanti Ninik dan Waskita Ylius.Bonger. Pengantar Tentang Kriminologi. Simanjuntak. Citra Aditya Bakti. Pipin Syarifin. Kejahatan Dalam Masyarakat dan Pencegahannya. Bandung. Pustaka Setia.  Ketika perilaku kejahatan dipelajari.B. Bandung. Pustaka Setia.. .

. hlm 81.W. Bandung... 1 Mei 2009 21:40 Anonim mengatakan...IJIN NGUNDUH BUAT REFERENSI SKRIPSI YA.... jazakillah y. makalh ini berguna sekali bwt referensi tugas....he....... Noach. Citra Aditya Bakti.E.KAMXIA 22 Januari 2010 08:25 Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Mengenai Saya GILANG KURNIA Lihat profil lengkapku Labels • • • • Apasih perbedaan harta bawaan dan harta bersama dalam perkawinan (1) asas-asas hukum umum (1) HAK-HAK NARAPIDANA (1) kriminologi dalam bagan (1) . Kriminologi Suatu Pengantar. afwan d copy.. Tags: makalah kriminologi tentang penjahat dan kejahatan | 2 komentar Reaksi: 2 komentar: Anonim mengatakan.M. MAKALAHNYA KEREN SOB. 1992.

......• • • • • • • • • • • • • • liburan. (1) makalah HPSI Indonesia Vs Malaysia dalam sengketa pulau sipadan dan lingitan (1) makalah kriminologi tentang penjahat dan kejahatan (1) Manusia dan Hukum (1) materi kuliah HPSI (1) objek studi kriminologi (1) Pelaksanaan Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Strict Liability Pencemar Lingkungan Hidup (1) remisi (1) salam pembuka (1) tentang anak negara (1) tentang anak pidana (1) tentang anak sipil (1) Teory Kriminologi (1) TINJAUAN TEORITIS TENTANG PERIKATAN (1) Blogger Template by Anshul Wordpress Theme by thebookish .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful