kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson¶s.

Model pembel

Friday, May 15, 2009
Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001). Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.

Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997). Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997). Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 1994). Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Posted by Mang Jaya at 3:58 PM Category : Search Result

suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif. Dalam hal ini. Dalam konteks penyelenggaraan ini. Dalam penyampaian materi. guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum. lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan demikian. biasanya guru menggunakan metode ceramah.3. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. dimana siswa hanya duduk. Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. mencatat. . Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum. sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Cooperative Learning-Teknik Jigsaw Posted on 31 Juli 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh : Novi Emildadiany*)) ========================= BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran. terutama dalam pembelajaran ekonomi. diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatan riil di lapangan.

dan proses kelompok. tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson. yaitu saling ketergantungan positif. yang terdiri dari dua orang atau lebih. setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. penulis tertarik untuk menyusun makalah dengan judul ³Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw dalam Pembelajaran´. interaksi personal. Roger dan David Johnson . Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah ³homo homini socius´ yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. keahlian bekerja sama. kegiatan belajar berpusat pada siswa. tanggung jawab individual. Menurut Anita Lie dalam bukunya ³Cooperative Learning´. Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Berdasarkan uraian di atas. Dalam pembelajaran kooperatif. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok. guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Jadi. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. =========================== BAB II PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW A. 1993). Pembelajaran Cooperative Learning Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam pembelajaran.

4. 3. Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Saling ketergantungan positif. Komunikasi antar anggota. dan mengisi kekurangan. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Tanggung jawab perseorangan. Tatap muka.mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning. karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. 2. memanfaatkan kelebihan. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif. untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu : 1. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning. proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa. Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini Tabel Sintaks Pembelajaran Kooperatif . Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Evaluasi proses kelompok. Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. 5. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Namun. setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. (2000). di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain.B. kemampuan. pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. dan ketidakmampuannya. . Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. budaya. Hasil belajar akademik Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain. yaitu: 1. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim. et al. 2. kelas sosial. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin. 1994). Penerimaan terhadap perbedaan individu Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras.

2001). asal. penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial. 1997). A. sebagai metode Cooperative Learning. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli.. tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 ± 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca. menulis. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. mendengarkan. Keterampilan-keterampilan sosial. Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas.3. ataupun berbicara. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk . terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan. mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. al. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends. 1997). siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan. ³siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan´ (Lie. Dalam teknik ini. C. Dengan demikian. Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends. 1994). dan latar belakang keluarga yang beragam. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Pengembangan keterampilan sosial Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah. Selain itu. Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka.

maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends. . Ilustrasi Kelompok Jigsaw Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw adalah sebagai berikut : y Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok.mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. dengan setiap kelompok terdiri dari 4 ± 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Dalam kelompok ahli. setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Dalam tipe Jigsaw ini. Kelompok ini disebut kelompok asal. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran. 1997) : Kelompok Asal Kelompok Ahli Gambar. siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama.

Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran Cooperative Learning. 5. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran. Agar pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning dapat berjalan dengan baik. dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen. Pembagian jumlah siswa yang merata. 4. . ===================================== BAB III PENUTUP A. akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran Cooperative 2. Learning di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : 1. 4. 2. Kesimpulan Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. y y y y Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran Cooperative Learning diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar. yang lain hanya sebagai penonton. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning. 3. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw y Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. 3. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya. selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. 5.

2008. 2004. 1995. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah seminar Ilmu Manajemen. model pembelajaran Cooperative Learning perlu lebih sering digunakan karena suasana positif yang timbul akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan sekolah / guru. 2007. 2008. Syaiful Sagala. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Bulettin PGRI Kuningan (Edisi ke-23 / Juni 2008). y y y y y y y y Terima kasih atas kunjungan dan kesediaan Anda untuk berbagi pemikiran tentang tulisan di atas. Jawa Barat : Depdiknas. 1995. Jakarta : Rineka Cipta. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Strategi Belajar Mengajar. Semoga bermanfaat«« Facebook Digg Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw 23. Kurikulum dan Pembelajaran Dalam Rangka Otonomi Daerah. Uhar Suharsaputra. 2004. Selain itu.Pd. Cooperative Learning. Departemen Pendidikan Nasional. Lynne Hill. Jakarta : Grasindo. siswa akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan berpikir. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. ========================= DAFTAR PUSTAKA Anita Lie.Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Departemen Pendidikan Nasional.Pd. Untuk menghasilkan manusia yang bisa berdamai dan bekerja sama dengan sesamanya dalam pembelajaran di sekolah. Pedoman Pembelajaran Ekonomi Secara Kontekstual Untuk Guru SMP. B. Pedoman Pembelajaran Geografi Secara Kontekstual Untuk Guru SMP. Bandung : Rosda.56 surur . Bambang Sudibyo. 2006. Bandung : Alfabeta. Materi Road Show Dewan Pendidikan Bersama Tim Wajar Dikdas Kabupaten Kuningan. *)) Novi Emildadiany adalah mahasiswa tingkat IV pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIPUniversitas Kuningan. Dinas Pendidikan Kota Bandung. dan Bapak Akhmad Sudrajat. 2004. yang disampaikan oleh Bapak Dr. Kuningan : Dewan Pendidikan Kabupaten Kuningan. Saran Sudah saatnya para pengajar mengevaluasi cara mengajarnya dan menyadari dampaknya terhadap anak didik. Muhibbin Syah. Pembelajaran Yang Baik. M. Bandung : Andira. Jawa Barat : Depdiknas. M. Bandung : SMP Kartika XI. Daeng Sudirwo. Model ± model Pembelajaran.

saling membantu satu dengan yang lainnya untuk mempelajari topik yang diberikan (ditugaskan pada mereka). Dan jika diperlukan membantu kelompok yang mengalamai kesulitan dan memberikan penekanan terhadap topik yang sedang dibahas. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN Oleh : Aceng Haetami1) dan Supriadi2) Dosen PMIPA FKIP Unhalu .Pengetahuan (materi ajar) yang difahami dan dikuasai oleh mahasiswa. Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan sub topik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli. Siswa mengerjakan tes individual atau kelompok yang mencakup semua topik. Melakukan Pembelajaran Pendahuluan Guru dapat menjabarkan isi topik secara umum. Persiapan 1. 3. Mengerjakan kuis individual yang mencaukup semua topik.(Tim Peneliti SMPN 4 Malang) Dalam Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw. Pemberian penghargaan kelompok berupa skor individu dan skor kelompok atau menghargai prestasi kelompok. Presentasi. Sistem Evaluasi Dalam evaluasi ada tiga cara yang dapat dilakukan: 1. Siswa tersebut kemudian kembali pada kelompok masing-masing(kelompok asal) untuk menjelaskan kepada teman-teman satu kelompok tentang apa yang telah dipelajarinya. 5. jenis kelamin. Materi Evaluasi .y Definisi dan Penjelasan Model pembelajaran Jigsaw adalah suatu model pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa (student centered) dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 3-5 orang yang terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli. 2. Menentukan Skor Awal Skor awal merupakan skor rata-rata siswa secara individu pada kuis sebelumnya atau nilai akhir siswa secara individual pada semester sebelumnya. maupun latar belakang sosialnya 4. Membagi Siswa Ke Dalam Kelompok Asal Dan Ahli Kelompok dalam pembelajarn kooperatif model jigsaw beranggotakan 3-5 orang yang heterogen baik dari kemampuan akademis. Langkah-Langkah Pembelajaran Langkah-langkah pembelajaran dalam model ini dapat dilaksanakan dalam dua tahap yaitu: 1. Materi Materi pembelajaran kooperatif model jigsaw dibagi menjadi beberapa bagian pembelajaran tergantung pada banyak anggota dalam setiap kelompok serta banyaknya konsep materi pembelajaran yang ingin dicapai dan yang akan dipelajari oleh siswa. siswa dibagi dalam beberapa kelompok belajar yang heterogen yang beranggotakan 3-5 orang dengan menggunakan pola kelompok asal dan kelompok ahli. (Tim Peneliti SMPN 4 Malang). Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua sub topik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok. 2. memotivasi siswa dan menjelaskan tujuan dipelajarinya topik tersebut. Para anggota dari kelompok asal yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk berdiskusi(antar ahli). 3. Rencana Kegiatan 1. Guru mengawasi pekerjaan masing-masing kelompok. 4. Membuat laporan mandiri atau kelompok.Proses belajar yang dilakukan oleh mahasiswa. Siswa ahli kembali ke kelompok masing-masing untuk menjelaskan topik yang didiskusikannya. Pada akhir pembelajaran diberikan kuis dengan materi yang telah dibahas. 2. Awal kegiatan pembelajaran a. . 3. 2.

di mana setiap siklus terdiri dari empat tahapan utama. Model pembelajaran diarahkan pada peningkatan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sehingga proses belajar mengajar berlangsung secara optimal antara guru dan siswa. Kata kunci : aktivitas belajar .Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas. maka pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan perlu mendapatkan perhatian khusus. hasil belajar.1) . Dengan perkataan lain. berinteraksi satu sama lain. hasil belajar kimia siswa kelas XI semester dua Tahun Ajaran 2007/2008 pada pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan memiliki nilai rata-rata sebesar 60.8. observasi dan evaluasi. tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang saling 2 METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw .Larutan Asam Basa sebesar 62.meningkatkan prestasi belajar siswa diperlukan peran guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran kimia menjadi lebih baik. Oleh karena itu. media dan model pembelajaran yang digunakan. Sebagai gambaran. dan Hidrolisis Garam sebesar 66. ketidak-aktivan siswa tersebut berdampak pada hasil belajar kimia di SMA Negeri 5 Kendari relative rendah.Guru SMAN 1 Poleang ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw (KTJ) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa Kelas XI IPA 1 SMAN 5 Kendari pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.12 %). untuk . dimana pembelajaran adalah bergantung kepada interaksi antara ahli-ahli dalam kelompok. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.1 % (siklus I) menjadi rerata = 89.0 lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata± rata pada pokok bahasan lainnya yaitu pokok bahasan Larutan Penyangga sebesar 65. (b) meningkatnya jumlah siswa yang bernilai • 70. yaitu : perencanaan. diperlukan upaya untuk memperbaiki masalah pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.37 (KKM) : dari siklus I (76. kooperatif tipe jigsaw PENDAHULUAN Upaya pembaharuan di bidang pendidikan pada dasarnya diarahkan pada usaha antara lain: penguasaan materi.47 %) menjadi siklus II (94. 2) meningkatkan hasil belajar kimia yang ditandai dengan : (a) meningkatnyahasil belajar kimia untuk setiap siklus : siklus I (Rerata = 86. Sejalan dengan berkembangnya penelitian maka ditemukan model ± model pembelajaran baru yang dapat meningkatkan interaksi siswa dalam proses belajar mengajar. Setiap siklus dilengkapi dengan indikator kinerja yaitu 80 % siswa harus memiliki nilai • 70. membuat skenario pembelajaran setiap sub pokok bahasan berupa Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) termasuk menyusun Lembar Kerja Siswa (LKM) . membuat lembar observasi : untuk melihat . Interaksi antara guru dan siswa yang optimal berimbas pada penigkatan penguasaa konsep siswa yang pada gilirannya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan data hasil belajar tersebut. sehingga kelemahan-kelemahan setiap siklus dapat dibenahi pada siklus berikutnya.4) dan siklus II (Rerata =90. karena model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. 2008). guru-guru masih banyak yang menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu model pembelajaran yang dominan menerapkan metode ceramah dimana guru lebih aktif sehingga siswa menjadi pasif dalam pembelajaran kimia di kelas dan suasana belajar terkesan kaku yang mengakibatkan proses belajar mengajar tidak berjalan secara optimal.0 %(siklus II). Beberapa upaya yang sudah dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan yaitu dengan memberikan tugas-tugas yang dikerjakan baik di rumah maupun di sekolah namun belum menunjukkan perubahan yang berarti. pelaksanaan kegiatan.5. setiap siswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas dan juga di dalam kelompoknya (Anonim. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan KTJ dapat : 1) meningkatkan aktivitas belajar siswa untuk setiap siklus : dari rerata = 65. Berdasarkan observasi awal di SMA Negeri 5 Kendari ditemukan bahwa pembelajaran kimia kurang meningkatkan kreativitas siswa. menarik dan disukai oleh peserta didik.37 (KKM SMAN 5 Kendari). Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diyakini dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh siswa kelas XI SMAN 5 Kendari tersebut. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan. dan refleksi. Berdasarkan hasil refleksi dengan guru kimia maka peneliti mengajukan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai alternatif model pembelajaran agar dapat menanggulangi kelemahan-kelemahan tersebut. Menurut analisis guru kimia SMAN 5 Kendari.0. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan meliputi :menentukan indikator dari setiap materi pokok (sub pokok bahasan ) yang akan diajarkan dalam bentuk garis besar program pengajaran. Setiap akhir kegiatan siklus diadakan refleksi. yang dikenal dengan model pembelajaran kooperatif dibidang pendidikan yaitu merupakan aktivitas pelaksanaan pembelajaran dalam kelompok.

88 %) Gambar 2.4 51.8 89.0 Berdasarkan Tabel 1.4 26 (76. membuat kuisioner : untuk HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek-aspek yang diobservasi pada siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah aktivitas siswa pada saat proses pembelajara berlangsung.1 32 (94. Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I akan diperbaiki pada Siklus II dan seterusnya.8 75. Persentase Aktivitas Siswa Dalam Kelompok Selama Proses Belajar Mengajaryang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.53 %) II 90. Persentase Ketuntasan Belajar Siswa untuk Setiap Siklus Siklus Rerata Jumlah siswa yang mencapai KKM Jumlah siswa yang tidak mencapai KKM I 86.6 66.37 dan tuntas belajar individu tercapai apabila siswa telah memiliki nilai • 70.1 II 93. Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Siswa . Tabel 1. terlihat bahwa terjadinya peningkatan aktivitas siswa dalam kelompok selama proses belajar mengajar berlangsung dari 65. 3 Persentase aktivitas siswa dalam kelompok selama proses pembelajaran berlangsung dapat dilihat pada Tabel 1.diaplikasikan . Observasi terhadap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melakukan evaluasi. mendesain alat evaluasi untuk melihat keberhasilan tindakan. Persentase Aktivitas Siswa Dalam Kelompok Selama Proses Belajar Mengajar No . Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat. pada siklus II Sedangkan hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan siklus II pada pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan dapat dilihat pada Tabel 2.1 87.8 80. Adapun indikator keberhasilan tindakan pada setiap siklus adalah tuntas kelas tercapai apabila 80 % siswa sudah mencapai hasil belajar dengan nilai • 70.9 92.37.3 70. Tabel 2.0%. membuat alat bantu pembelajaran yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep yang diberikan.bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran mengumpulkan data tentang tanggapan siswa ketika model pembelajaran diaplikasikan. Aktivitas Siswa Yang Diamati Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru Mengerjakan LKS dalam kelompok belajar Berdiskusi dalam kelompok belajar Mengajukan pertanyaan/menanggapi pertanyaan Menghargai/menerima pendapat Mempresentasekan hasil kerja kelompok Rerata Siklus/ Persentase siklus/ presentase I 77.1% pada siklus I menjadi 89. dan membuat jurnal untuk mengetahui refeleksi diri. Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis.12 %) 2 (5.7 65.8 92. Tabel 1.6 91.9 48.47 %) 8 (23.

Hasil observasi terhadap aktivitas siswa yang mengerjakan materi LKS dalam kelompok pada siklus I sebesar 75. bahwa terdapat 7 langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diantaranya adalah menyampaikan tujuan.3%. Kemudian pada siklus II. Oleh karena itu.12% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 2 orang dengan persentase 5. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian terhadap informasi yang diberikan sehingga tidak memahami pelajaran yang diajarkan serta kurangnya kerjasama antara siswa sehingga tidak terjadi pertukaran pikiran/pendapat serta ada 2± orang siswa dalam setiap kelompok yang tidak mengajukan ataupun menanggapi suatu pertanyaan karena merasa sukar untuk mengeluarkan pendapatnya serta merasa malu dan takut untuk menyampaikan penghargaan/penguatan yang dilakukan oleh guru adalah untuk memacu semangat siswa dalam belajar sehingga siswa lebih termotivasi untuk menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan dengan berani dan terbukti pada siklus II persentase aktivitas siswa mencapai 80. Masih ada 3±4 orang siswa dalam setiap kelompok yang sukar menerima pendapat temannya dengan menganggap jawabannya lebih baik dari jawaban temannya karena siswa tidak terbiasa belajar secara kooperatif. ditemukan permasalahan siswa yaitu siswa yang hanya diam dan menunggu jawaban dari temannya ini disebabkan karena seringnya siswa mengerjakan tugas secara individu. Aktivitas siswa dalam menghargai dan menerima pendapat menunjukkan persentase sebesar 66. Suasana ini mulai kelihatan agak sedikit berkurang pada pertemuan selanjutnya pada siklus II terlihat semakin aktifnya siswa dalam menyelesaikan LKS dan sebagian besar siswa sudah mampu bekerja sama dalam kelompok. Hal ini terlihat dari suasana kelas yang gaduh saat kerjasama menyelesaikan soal. sebagian siswa masih merasa tidak nyaman dengan anggota kelompok barunya yang semula selalu bekerja sama dengan teman sebangkunya. Pembahasan Hasil observasi pada siklus I menunjukkan bahwa siswa masih merasa asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam kelompok pada siklus I. guru melatih dan memberikan bimbingan kepada kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah. Hal ini sesuai dengan prinsip mengajar yang dikemukakan oleh Sapani (1997) bahwa motivasi sangat penting karena .Berdasarkan Tabel 2.53%. Hal tersebut membuktikan bahwa proses belajar mengajar yang dikelola oleh guru telah menunjukkan ciri dari pembelajaran kooperatif. kurangnya kerjasama siswa dikarenakan pada saat kerja kelompok didominasi oleh sebagian kecil siswa dan beberapa siswa tidak merasa bertanggung jawab kepada kelompoknya. untuk perbaikan pada siklus selanjutnya maka guru akan memberikan penilaian kepada siswa yang mampu menyelesaikan LKS dengan benar untuk setiap kelompok selain itu guru juga harus terus membimbing siswa dalam kelompok sehingga siswa dapat mengerjakan LKS dengan terarah dan benar hal ini terlihat persentase aktivitas siswa yang mengerjakan LKS dalam kelompok mengalami peningkatan yaitu 92. bahwa dalam pembelajaran kooperatif. Untuk mengatasinya guru memberikan informasi yang lebih detail kepada siswa disaat mereka mulai kebingungan dalam kegiatan pembelajaran ini.4%. dimana pada siklus I siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 26 orang dengan persentase 76.8%. rata ± rata siswa yang memberikan perhatian penuh terhadap informasi yang diberikan sebesar 93. B. Pada siklus II guru telah memotivasi siswa untuk lebih menghargai pendapat orang lain sehingga pada aktivitas tentang menghargai dan menerima pendapat semua meningkat menjadi 91.9%.6%. memotivasi siswa dan memberi apersepsi pada tahap ini. pentingnya kerjasama atau berdiskusi dalam kelompok untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik secara individual. sehingga persentase aktivitas siswa dalam bekerjasama menyelesaikan soal dalam kelompok belajar pada siklus II mencapai 92. Persentase siswa yang mengajukan pertanyaan/ menanggapi pertanyaan pada siklus I diperoleh 48.6%. Persentase aktivitas siswa yang berdiskusi aktif dalam kelompoknya pada siklus I hanya sekitar 70. Seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim (2000). selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam aspek ini terlihat bahwa masih ada siswa yang kurang memperhatikan penjelasan dari guru. Hal ini berarti siswa semakin aktif dan menyadari pentingnya kerjasama dalam kelompok untuk memberikan nilai terbaik untuk kelompoknya ketika proses pembelajaran tipe Jigsaw ini berlagsung. siswa masih merasa asing dengan model pembelajaran ini dan masih kelihatan kaku dalam melakukan prosedur model pembelajaran ini. guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran.47% sedangkan yang belum tuntas adalah sebanyak 8 orang dengan persentase 23.8% pada siklus II.9%. menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II. Hal ini disebabkan karena masih ada siswa yang malu untuk berdiskusi karena merasa memiliki kemampuan yang kurang dibanding dengan teman sekelompoknya. persentase rata±rata aktivitas siswa yang memberikan perhatian penuh terhadap informasi yang diberikan hanya sekitar 77. Pemberian informasi ini dilakukan tidak hanya pertemuan pertama saja melainkan juga pada pertemuan berikutnya.1%. Pada siklus II siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 32 orang dengan persentase 94. Guru melatih keterampilan kooperatif siswa dan juga memberikan informasi kepada siswa. sehingga dalam keadaan ini suasana kelas ini terlihat gaduh.88%.8%. Hal ini terlihat pada pertemuan pertama. Peningkatan ini terjadi karena selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini guru mendorong dan memotivasi siswa baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli. Menurut Ismail (2002). memotivasi siswa belajar dan memberi apersepsi. harus menyesuaikan diri dengan kelompok barunya.

0%. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat : (1) meningkatkan aktivitas belajar siswaa untuk setiap siklus : Siklus I (rerata = 65. Siswa yang memperoleh nilai •70. Tuntas tercapai setelah siklus II. Dengan demikian hal ini terbukti dengan semakin aktifnya siswa dalam bekerja kelompok baik dalam kelompok ahli maupun kelompok asal sehingga dari hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II. terlihat juga bahwa nilai rata±rata yang diperoleh dari semua kelompok adalah 86.4. berfikir kritis dan kemampuan membantu teman.37 sebanyak 32 orang siswa atau 94.53%.37 telah tercapai.47 %) menjadi Siklus II (94. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus I.. Hal ini disebabkan karena perbaikan ± perbaikan yang telah dilakukan oleh guru selama proses belajar mengajar berlangsung. dan (3) menumbuhkan kemampuan kerja sama siswa.12 %).1 %) dan Siklus II (Rerata= 89.8%. Pemberian adanya perasaan malu ± malu terhadap teman-temannya baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli karena merasa memiliki pengetahuan yang masih kurang untuk mempresentasekan hasil diskusinya. memahami dan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jiqsaw dalam upaya peningkatan hasil belajar kimia siswa utamanya pada pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. nilai rata ± rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 90. Peningkatan hasil belajar siswa tidak lepas dari keberhasilan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini disebabkan karena pendapat maupun menjawab pertanyaan. sebagaimana pembagian kelompok pada siklus I.37 (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM). Pada siklus II aktivitas ini meningkat menjadi 87. Bertitik tolak dari hasil belajar kimia siswa pada tindakan siklus I yang belum sepenuhnya mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu minimal 80% siswa telah memperoleh nilai minimal 70.1) .1. Hal ini membuktikan bahwa tingkat keberhasilan siswa terhadap proses yang dilakukan dan keberhasilan guru sudah optimal sebagaimana yang diutarakan oleh Djamarah dan Zain (2002) bahwa apabila sebagian besar (76%99%) bahan pelajaran yang akan diajarkan dapat dikuasai siswa maka dapat dinyatakan tingkat keberhasilan siswa terhadap proses yang dilakukan dan keberhasilan guru sudah optimal(baik sekal)i. terlihat bahwa belum mencapai indikator keberhasilan yaitu minimal 80% siswa telah mempunyai nilai 70.1%. sehingga dapat dinyatakan tingkat keberhasilan siswa terhadap proses yang dilakukan dan keberhasilan guru sudah optimal (baik sekali) sebagaimana yang diutarakan oleh Djamarah dan Zain (2002). maka penelitian ini dihentikan pada siklus II. Hal ini sesuai dengan pendapat Khoirul dalam Supriyadi (2003) mengemukakan beberapa tujuan khusus model pembelajaran tipe Jigsaw diantaranya adalah mengkaji kebergantungan positif dalam menyampaikan dan menerima informasi diantara anggota kelompok untuk mendorong kedewasaan berfikir dan menyediakan kesempatan berlatih bicara (dan mendengar) untuk berlatih dalam menyampaikan informasi.4) menjadi Siklus II (Rerata = 90.12%. Berdasarkan simpulan di atas. maka penelitian ini dilanjutkan pada siklus II model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw kembali dilaksanakan. Siswa tetap berada dalam kelompoknyamasing-masing Selanjutnya pada hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus I. maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut : (1) kepada para guru diharapkan dapat mengetahui. yang didukung oleh perbaikan proses pelaksanaan model pembelajaran ini yang lebih baik pada tiap siklus. antara lain : (1) memotivasi siswa untuk belajar giat karena adanya tekanan dari teman kelompoknya serta menyadari akan penilaian yang berkelanjutan.37 (KKM) dari Siklus I (76. (2) menghilangkan rasa takut pada anak untuk mengungkapkan pendapatnya dan menjawab pertanyaan.37 sebesar 26 orang siswa atau 76.37 sebanyak 8 orang siswa atau 23. (2) bagi peneliti selanjutnya yang ingin menerapkan model pembelajaran . Selanjutnya aktivitas siswa dalam mempresentasekan hasil kerja kelompok pada siklus I hanya 51. (b) meningkatnya jumlah siswa yang bernilai • 70. diketahui hasil belajar siswa terjadi peningkatan yaitu siswa yang memperoleh nilai •70.47% dan yang belum mencapai nilai 70. (2) meningkatkan hasil belajar kimia siswa yang ditandai dengan : (a) meningkatnya rerata hasil belajar Kimia dari Siklus I (rerata 86.37 (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM).0 %) . Secara psikologis model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini memberikan manfaat yang sangat besar terhadap siswa.7% siswa yang melakukan kegiatan ini.Karena indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu minimal 80% siswa telah memperoleh nilai •70. Selanjutnya pada siklus II.motivasi dapat memberi semangat terhadap seseorang peserta didik dalam kegiatan belajarnya agar memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Aktivitas siswa dalam kelompok selama proses belajar mengajar pada siklus I hanya 65. Upaya ± upaya yang dilakukan oleh guru pada siklus II adalah guru memberikan penghargaan kepada kelompok ± kelompok yangmempunyai skor tinggi dan direngkingkan dari rangking 1 sampai dengan rengking 3 dan guru selalu memberikan motivasi kepada siswa. Ini berarti bahwa hipotesis tindakan ini telah terjawab yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 5 Kendari pada pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan dapat ditingkatkan. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. Pada Siklus II persentase aktivitas siswa dalam kelompok meningkat menjadi 89.

Pembelajaran Kooperatif.kooperatif tipe Jigsaw ini sedapat mungkin mampu mengelola alokasi waktu.pdf [29 juli 2008].//sugengsuti_1004. Pembelajaran Kooperatif yang Dikombinasikan dengan Kegiatan Problem Posing Sebagai Upaya Mengkatakan Hasil Belajar Matematika di SLTP. Surabaya: Program Pasca Sarjana Unesa. Http : // digilib. 2002. Diakses tanggal 10 Desember 2007. Unila. 2008. Jakarta: Rineka Cipta. Penataan Tempat Duduk Siswa Sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas Persiapan Mengajar. M. Jakarta: Universitas Kuningan Ibrahim.(2007). DAFTAR PUSTAKA Anonim.http://www. Strategi Belajar Mengajar. dan fasilitas pendukung termasuk media pembelajaran. 2008. .edu. Emildadiany.id. S. Sutiarso. Kesan Pembelajaran Kooperatif Terhadap Sikap dan Pencapaian Matematik bagi murid-murid Sekolah Rendah di Sekitar Bandar Kuching.ipbl. N.my/inter/penyelidikan/jurnalpapres/jurnal2008.ac. Djamarah dan Zain. 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful