You are on page 1of 9

PENGARUH LATIHAN ABDOMINAL STRETCHING TERHADAP

INTENSITAS DISMENORE

Annisa Syafna1, Yulia Irvani Dewi2, Siti Rahmalia Hairani Damanik3


Fakultas Keperawatan
Universitas Riau
Email: annisasyafna28@yahoo.com

Abstract

Dysmenorrhea is one of the most common gynecological problems experienced during adolescence, is very disturbing
activities and often require the patient to rest and leave the activity. This study was aimed to determine the influence of
abdominal stretching exercise against intensity of dysmenorrhoe. The design of this research study was "Quasy
experiment" using the draft "Non-equivalent control group" which is divided into an experimental group and a control
group. The study was conducted on student Pondok Pesantren Daarun Nahdhah. Total sample was 34 female students
who fit the inclusion criteria and using simple purposive sampling technique. Measuring instruments are used sheets
observasi numeric rating scale. The analysis used univariate and bivariate analysis using independent sample T-test
and dependent sample t test. The results was showed a decrease in the intensity of dysmenorrhoe in the experimental
group after given abdominal stretching exercise with p value (0.000) <α (0.05). This means that abdominal stretching
exercise was effective to reduce the intensity of dysmenorrhoe. Abdominal stretching exercise can reduce dysmenorrhe
in non-pharmacological which can be practiced independently, so it was suggested to students who have other family
members or neighbors can use complementary therapies to reduce pain intensity of dysmenorrhoe.

Key words: abdominal stretching exercise, dysmenorrhoe

PENDAHULUAN sehingga dapat mengganggu aktivitas dan


Masa remaja adalah masa transisi memerlukan obat-obatan (Sukarni & Wahyu,
antara masa kanak-kanak dan dewasa 2013).
(Hockenberry & Wilson, 2011). Remaja akan Dismenore terjadi akibat kontraksi
mengalami pubertas, yakni suatu periode uterus yang tidak terkoordinasi, hal ini
dimana seseorang mengalami perubahan fisik, disebabkan oleh peningkatan produksi
hormonal, dan seksual serta mampu prostaglandin yang dilepaskan kedalam
mengadakan proses reproduksi (Mansur, peredaran darah (Mitayani, 2011). Dismenore
2009). Pada anak perempuan awitan pubertas diklasifikasikan menjadi dismenore primer dan
terjadi pada usia 8 tahun sedangkan anak laki- dismenore sekunder. Disebut dismenore
laki terjadi pada usia 9 tahun. Salah satu ciri primer jika tidak ditemukan penyebab yang
masa pubertas pada perempuan adalah mendasari (idiopatik), sedangkan dismenore
ditandainya dengan terjadinya menstruasi sekunder jika penyebabnya adalah kelainan
(Prayitno, 2014). kandungan (Nugroho &Utama, 2014).
Menstruasi merupakan perdarahan Angka kejadian dismenore di dunia
periodik pada uterus yang dimulai sekitar 14 cukup besar, yaitu rata-rata lebih dari 50%
hari setelah ovulasi yang mana rata-rata lama perempuan di setiap negara mengalami nyeri
aliran darah haid adalah 5 hari (3-6 hari) yang menstruasi. Angka presentase di Amerika
terjadi setiap bulannya. Siklus menstruasi serikat 60% dan di Swedia sekitar 72%
normal umumnya terjadi dalam interval 21-35 (Marlinda, 2012). Sementara di Indonesia
hari (rata-rata 28 hari), dan rata-rata darah belum dapat diketahui secara pasti.
yang keluar sebanyak 50-100 cc (Indriyani, Dismenore primer tanpa patologi pelvis
2013). Menstruasi datang setiap bulan pada dialami oleh 50% ramaja dan nyeri hebat yang
usia reproduksi, dan pada masa ini hampir menyebabkan ketidakmampuan remaja untuk
semua wanita mengalami ketidaknyamanan beraktivitas selama 1 sampai 3 hari setiap
fisik seperti rasa tidak enak pada perut bagian bulannya (Reeder, Martin, & Koniak-Griffin,
bawah. Ketidaknyamanan fisik tersebut 2011).
disebut dengan nyeri haid. Nyeri haid dapat Dismenore menyebabkan intoleransi
semakin hebat atau disebut dengan dismenore, aktivitas, dan nyeri yang berat mengakibatkan
JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 62
ketidakhadiran kerja atau sekolah. Hal tersebut Hasil penelitian Nurjannah (2014)
menyebabkan penurunan output kerja dan menjelaskan terdapat pengaruh senam aerobic
perhatian di kelas. Wanita yang mengalami low impact terhadap penurunan dismenore
dismenore menjadi murung, mudah marah, primer pada Mahasiswi Diploma III fisioterapi
dan tidak dapat berinteraksi secara efektif Universitas Muhammadiyah Surakarta.
dengan orang lain (Anisa, 2015) Olahraga diyakini mampu menghasilkan
Menurut Anwar, Baziad, & Prabowo endorphin yang berfungsi sebagai pereda nyeri
(2008) untuk mengatasi masalah dismenore alami dalam menangani dismenore pada
primer pada remaja ini dapat dilakukan terapi remaja, karena bermanfaat untuk relaksasi saat
farmakologi dan non-farmakologi. Terapi nyeri haid, melenturkan otot rahim,
farmakologi untuk dismenore antara lain memperkuat otot panggul, meningkatkan
adalah pemberian obat analgetik, dan sirkulasi dan mengontrol nyeri.
pengobatan non-farmakologi dapat dilakukan Hasil studi pendahuluan yang
dengan teknik relaksasi, kompres air hangat, dilakukan oleh peneliti di Pondok Pesantren
akupuntur, mengkonsumsi minuman herbal, Daarun Nahdhah Bangkinang, Kecamatan
dan olahraga atau aktivitas fisik yang teratur. Bangkinang, Kabupaten Kampar, dari 165
Aktivitas fisik berperan secara khusus orang siswi didapatkan data 105 orang
dalam menurunkan ansietas, stress mental, dan (63,63%) mengalami dismenore dengan
perubahan biokimia pada sistem imun tubuh rincian 69 orang siswi (65,71%) mengalami
yang dapat menurunkan dismenore. Stress dismenore ringan, 35 orang siswi (33,33%)
dianggap sebagai faktor utama yang berkaitan mengalami dismenore sedang, dan 1 orang
dengan aktivitas fisik dan dismenore. siswi (0,95%) mengalami dismenore berat.
Dismenore dapat disebabkan karena adanya Sebanyak 10 orang siswi (9,52%) meminum
peningkatan kontraksi otot uterus yang obat anti nyeri, dan 95 orang siswi (90,47%)
dipersarafi oleh sistem saraf simpatis. Stress tidak melakukan apapun saat dismenore
seharusnya meningkatkan dismenore dengan (mendiamkan saja), sehingga siswi sering
meningkatkan intensitas kontraksi uterus. Jadi, minta izin untuk tidak dapat mengikuti proses
berdasarkan fakta bahwa olahraga dapat belajar karena mengalami dismenore, dan
menurunkan stress, efeknya aktivitas saraf kurang berkonsentrasi dalam mengikuti proses
simpatis dapat menurun sehingga intensitas belajar.
dismenore juga dapat menurun (Anisa, 2015). Hasil wawancara kepada beberapa
Hal ini diperkuat oleh penelitian siswi, 7 dari 10 orang mengatakan kurangnya
Marlinda (2013) yang menyatakan bahwa keinginan untuk mencari tahu cara mengatasi
latihan-latihan olahraga yang ringan seperti nyeri yang dialaminya, dan hanya mengatasi
senam sangat dianjurkan untuk mengurangi dengan meminum obat anti nyeri atau
dismenore. Senam merupakan salah satu mendiamkannya saja, sedangkan untuk latihan
teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk fisik terutama latihan abdominal stretching
mengurangi nyeri karena saat melakukan tidak pernah dilakukan, Hal ini membuat
senam, otak dan susunan saraf tulang belakang penatalaksanaan dismenore sangat penting,
akan menghasilkan endorphin, hormon yang namun penanganan farmakologi memiliki
berfungsi sebagai obat penenang alami dan dampak negatif sehingga diperlukan
menimbulkan rasa nyaman. penatalaksanaan yang beresiko rendah yaitu
Penelitian Ernawati (2010) juga non-farmakologi. Abdominal stretching
menjelaskan bahwa terapi teknik ralaksasi merupakan salah satu terapi non-farmakologi
berpengaruh terhadap dismenore pada untuk menurunkan nyeri, sehingga perlu
Mahasiswi Muhammadiyah Semarang. dilakukan penelitian pengaruh latihan
Penelitian pendukung lainnya adalah abdominal stretching terhadap intensitas
penelitian Anugraheni (2013) yang dismenore.
menyatakan bahwa kompres hangat Tujuan umum dari penelitian ini adalah
berpengaruh dalam menurunkan intensitas untuk mengetahui pengaruh latihan abdominal
dismenore pada Mahasiswi STIKes RS Baptis stretching terhadap intensitas dismenore dan
Kediri. tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 63


membandingkan intensitas dismenore sebelum dengan pertimbangan tertentu sesuai yang
dan sesudah diberikan latihan abdominal dikehendaki peneliti dengan memenuhi syarat
stretching pada kelompok eksperimen dan kriteria inklusi yaitu Siswi yang mengalami
kelompok kontrol tanpa diberikan latihan nyeri haid pada hari pertama menstruasi dalam
abdominal stretching, membandingkan tiga bulan terakhir berturut-turut, Siswi yang
intensitas dismenore sesudah diberikan latihan tidak memiliki riwayat menggunakan terapi
abdominal stretching pada kelompok farmakologis selama nyeri haid, Siswi yang
eksperimen dan kelompok kontrol tanpa memiliki siklus haid yang teratur, Siswi yang
diberikan latihan abdominal stretching. mengalami dismenore sedang dan berat.
Manfaat dari penelitian ini diharapkan Jumlah sampel pada penelitian ini
dapat memberikan pengetahuan yang perlu adalah sebanyak 34 orang. Sampel pada
diaplikasikan sebagai salah satu bentuk terapi penelitian ini adalah sebagian siswi Pondok
non-farmakologi yang dapat digunakan untuk Pesantren Daarun Nahdhah Tawalib
menangani dismenore dan dapat informasi Bangkinang dari kelas X dan XI, Semua
bagi institusi pendidikan bahwa teknik latihan responden dalam penelitian ini adalah
abdominal stretching merupakan salah satu reponden yang telah menandatangani informed
terapi alternatif untuk mengatasi dan consent.
mengurangi siswi-siswi yang mengalami Alat/instrumen penelitian yang
dismenore sehingga mereka dapat lebih digunakan untuk melakukan pengumpulan
berkonsentrasi dalam mengikuti proses data tentang nyeri pada penelitian ini dengan
pembelajaran dan dapat mengajarkan terapi menggunakan lembar observasi yang berisikan
tersebut kepada siswi-siswinya. data demografi responden dan skala intensitas
nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Metode
METODE PENELITIAN yang efektif untuk mengetahui perubahan
Jenis desain penelitian yang digunakan skala dismenore sebelum dan sesudah
dalam penelitian ini adalah Quasy Experiment intervensi terapeutik dengan cara meminta
dengan rancangan penelitian Non-Equivalent responden menandai titik skala nyeri yang
Control Group, yaitu sebuah rancangan mereka rasakan yang ada pada lembar
penelitian dimana peneliti tidak melakukan observasi (Prasetyo, 2010).
randomisasi untuk pengelompokan antara Tahap pelaksanaan peneliti
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. menjelaskan maksud dari penelitian, tujuan
Penelitin ini melibatkan dua kelompok, yaitu dari penelitian, dan manfaat dari penelitian
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. yang diperoleh responden. Responden yang
Dalam penelitian ini kelompok eksperimen bersedia berpartisipasi dalam penelitian
diberikan intervensi/perlakuan. Sedangkan diminta untuk mengisi data pada lembar
pada kelompok kontrol tidak diberikan observasi dan menandatangani informed
intervensi/perlakuan. Pada kelompok consent, lalu peneliti melakukan pengumpulan
eksperimen dan kelompok kontrol masing- data yang terdiri dari pre-test dan post-test.
masing diobservasi terlebih dahulu sebelum Cara pemilihan responden dengan dibagi
diberi perlakuan (pre-test), kemudian setelah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
diberikan perlakuan diobservasi kembali (post- eksperimen dan kelompok kontrol. Peneliti
test) (Hidayat, 2011). memilih 1-17 kelompok eksperimen dan 18-34
Lokasi penelitian di Pondok Pesantren kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen
Daarun Nahdhah Bangkinang, dengan dilakukan observasi pada hari pertama
responden siswi kelas X dan XI, dengan alasan dismenore dan diberikan latihan abdominal
peneliti memilih lokasi penelitian karena stretching selama 15 menit dan diobservsi
mayoritas siswinya adalah perempuan. kambali , sedangkan pada kelompok kontrol
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan observasi pada hari pertama
dengan menggunakan teknik non probability dismenore dan diistirahatkan selama 15 menit
sampling dengan jenis purposive sampling, dan diobservasi kembali
pengambilan sampel secara purposive Analisa data pada penelitian ini adalah
sampling yaitu teknik penentuan sampel univariat dan bivariat. Analisa univariat

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 64


digunakan untuk mendapatkan gambaran Berdasarkan usia menarche diketahui pada
tentang karakteristik responden yaitu: umur, usia 12 tahun sebanyak 38,2%.
menarche dan frekuensi nyeri dismenore
sebelum dan sesudah pada kelompok Tabel 2
eksperimen dan kelompok kontrol. Analisa Intensitas Dismenore Sebelum dan Sesudah
bivariat digunakan untuk mengetahui apakah diberikan Latihan Abdominal Stretching pada
ada hubungan yang signifikan antara dua Kelompok Eksperimen
variabel yaitu variabel indepeden dan Variabel Mean SD Min Max
dependen, atau bias juga digunakan untuk -Pretest 6,47 1,17 5 9
mengetahui apakah ada perbedaan signifikan -Posttest 3,82 1,23 2 6
antara dua kelompok atau lebih variabel. Uji
statistik yang dilakukan dalam penelitian ini Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat nilai
yaitu uji independent sample t test dan uji rata-rata intensitas dismenore sebelum
dependent sample t test (Hastono, 2007). diberikan intervensi latihan abdominal
Dalam penelitian ini independent stretching yaitu 6,47 dan nilai rata-rata
sample t test digunakan untuk membandingkan intensitas dismenore sesudah diberikan
skor nyeri post test pada kelompok eksperimen intervensi latihan abdominal stretching yaitu
dan kelompok kontrol, sedangkan uji 3,82. Rentang intensitas nyeri pre test adalah
dependent sample t test digunakan untuk minimum 5 dan maksimum 9, setelah
membandingkan skor nyeri pre test dan post diberikan intervensi terdapat penurunan
test pada kelompok eksperimen dan kelompok rentang intensitas nyeri yaitu nilai minimum 2
kontrol. Derajat kemaknaan (α) yang dan maksimum 6.
digunakan pada uji ini adalah 0,05. Uji
statistik didapatkan ρ value < α (0,05) dapat Tabel 3
dikatakan latihan abdominal stretching efektif Intensitas Dismenore Sebelum dan Sesudah
terhadap penurunan intensitas dismenore. tanpa diberikan Latihan Abdominal Stretching
pada Kelompok Kontrol
HASIL PENELITIAN Variabel Mean SD Min Max
Hasil penelitian didapat sebagai berikut: -Pretest 6,65 1,115 4 9
1. Analisa univariat -Posttest 6,94 1,144 5 9

Tabel 1 Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat nilai


Karakteristik Responden Berdasarkan Umur rata-rata intensitas dismenore sebelum tanpa
dan Menarche diberikan intervensi latihan abdominal
Kelompok Kelompok
eksperimen kontrol Jumlah
stretching yaitu 6,65 dan nilai rata-rata
Karakteristik
(n=17) (n=17) intensitas dismenore sesudah tanpa diberikan
N % N % N %
Umur (tahun)
intervensi latihan abdominal stretching yaitu
15 7 41,2 0 0,0 7 20,6 6,94. Rentang intensitas nyeri pre test adalah
16 10 58,8 8 47,1 18 52,9
17 0 0,0 9 52,9 9 26,5
nilai minimum 4 dan maksimum 9, serta nilai
post test yaitu minimum 5 dan maksimum 9.
Jumlah 17 100 17 100 34 100
Menarche
(tahun) 6 35,3 4 23,5 10 29,4 2. Analisa Bivariat
11 3 17,6 10 58,8 13 38,2
12 6 35,3 1 5,9 7 20,6
13 2 11,8 2 11,8 4 11,8 Tabel 4
14 Uji Normalitas Data dengan Uji Shapiro-wilk
Jumlah 17 100 17 100 34 100 Kelompok N p value
Kelompok Pretest 17 0,102
Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa Eksperimen Posttest 17 0,114
dari 34 responden yang diteliti, distribusi Kelompok Pretest 17 0,049
responden menurut umur yang terbanyak Kontrol Posttest 17 0,004
adalah umur 16 tahun sebanyak 52,9%.

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 65


Berdasarkan tabel 4 diatas, dari uji Berdasarkan tabel 6, didapatkan
normalitas data dengan uji Shapiro-Wilk adanya perbedaan intensitas dismenore
didapatkan hasil pada kelompok eksperimen sebelum dan setelah dilakukan latihan
pretest adalah data terdistribusi secara normal abdominal stretching pada kelompok kontrol.
dengan p value (0,102) > α (0,05). Pada Terdapat 5 responden mengalami peningkatan
kelompok kontrol pretest data tidak intensitas dismenore, dan 12 orang responden
terdistribusi secara normal dengan p value tidak mengalami perubahan pada intensitas
(0,049) < α (0,05). Kelompok eksperimen dismenorenya. Hasil analisa diperoleh p value
pretest posttest menggunakan uji Paired (0,025) < α (0,05) sehingga Ho ditolak, maka
Sampel T test (Dependent Sampel T test) data dapat disimpulkan ada perbedaan rata-rata
terdistribusi secara normal dan kelompok intensitas dismenore sebelum dan sesudah
kontrol pretest posttest menggunakan uji tanpa diberikan latihan abdominal stretching
alternatif yaitu Wilcoxon data tidak pada kelompok kontrol.
terdistribusi secara normal, sedangkan untuk
perbandingan post test pada kelompok Tabel 7
eksperimen dan kontrol menggunakan uji Perbandingan Intensitas Dismenore pada
alternatif Mann-Whitney. Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Kelompok N Mann P Value
Tabel 5 Whitney U
Intensitas Dismenore pada Kelompok Eksperimen 17
10.500 0,000
Eksperimen Sebelum dan Setelah diberikan Kontrol 17
Latihan Abdominal Stretching
Variabel n Mean Mean SD p Berdasarkan tabel 7, dari uji statistik
differ didapatkan nilai Mann Whitney U skor posttest
ence
pada kelompok eksperimen dan kelompok
Sebelum 1 6,47 1,179
Intervensi 7 2,64 0,000 kontrol adalah 10.500 dengan p value (0,000)
Setelah 1 3,82 1,237 < α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa
Intervensi 7 latihan abdominal stretching efektif dalam
menurunkan intensitas dismenore.
Berdasarkan tabel 5 didapatkan nilai
rata-rata penurunan intensitas dismenore pada PEMBAHASAN
kelompok eksperimen sebelum diberikan 1. Karakteristik Responden
latihan abdominal stretching yaitu 6,47 dengan Hasil penelitian yang telah dilakukan
standar deviasi 1,179 dan setelah diberikan pada siswi Pondok Pesantren Daarun
latihan abdominal stretching yaitu 3,82 dengan Nahdhah, didapatkan hasil bahwa umur
standar deviasi 1,237. Intensitas dismenore
responden terbanyak berada pada umur 16
pada kelompok eksperimen mengalami
penurunan sebanyak 2,64. Hasil analisa tahun (52,9%). Hasil penelitian ini sesuai
diperoleh p value (0,000) < α (0,05), maka dengan penelitian Arifiani (2016) dan Utami
dapat disimpulkan ada perbedaan intensitas (2014) bahwa responden terbanyak adalah
dismenore sebelum dan setelah diberikan umur 16 tahun. Hasil ini menyatakan bahwa
latihan abdominal stretching pada kelompok mayoritas responden berada pada rentang usia
eksperimen. remaja pertengahan (middle adolescence) yaitu
usia 15-17 tahun. Menurut Hockenberry dan
Tabel 6 Wilson (2011) dismenore terjadi pada wanita
Penurunan Intensitas Dismenore pada berbagai usia, namun paling sering terjadi
Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah tanpa biasanya dismenore primer timbul pada saat
diberikan Latihan Abdominal Stretching remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah haid
Variabel N P Value pertama dan terjadi pada umur kurang dari 20
Negative
Pretest 0 tahun.
ranks
Positive 0,025 Hasil penelitian menggambarkan
Posttest 5 bahwa usia menarche terbanyak ditemukan
ranks
Ties 12 pada umur 12 tahun yaitu 13 orang (38,2%).

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 66


Penelitian ini sama dengan penelitian Utami 3. Pengaruh Latihan Abdominal
(2014) yaitu usia menarche terbanyak ada Stretching terhadap Intensitas
pada usia 12 tahun. Menurut Benson (2008) Dismenore
menarche terjadi pada usia 8-13 tahun. Berdasarkan hasil penelitian
Manuaba (2007) menjelaskan usia menarche didapatkan ada perbedaan yang signifikan
normal adalah pada rentang 12-13 tahun. rata-rata intensitas dismenore sebelum dan
Menurut Progestian (2010) bahwa menstruasi sesudah diberikan intervensi latihan abdominal
pertama dimulai pada antara usia 12-16 tahun, stretching pada kelompok eksperimen dengan
tergantung pada berbagai faktor seperti p value 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa
kesehatan wanita, nutrisi, berat tubuh relatif latihan abdominal stretching efektif dalam
terhadap tinggi badan. penurunan intensitas dismenore. Latihan
Faktor resiko terjadinya dismenore abdominal stretching merupakan latihan
salah satunya adalah pada orang yang peregangan yang berfokus pada bagian otot
mengalami menarche lebih awal. Hal ini perut.
Latihan atau exercise adalah salah satu
berhubungan dengan prostaglandin
manajemen non farmakologis yang lebih aman
endometrial dan leukotrien. Setelah terjadi
digunakan karena menggunakan proses
proses ovulasi sebagai respon peningkatan fisiologis (Anisa, 2015).
progesteron, asam lemak akan meningkat Menurut Putra (2012) dalam Fauziah
dalam fosfolipid membran sel. Asam (2015) manfaat stretching lain meningkatkan
arakidonat dan asam lemak omega-7 lainnya kebugaran fisik seorang atlet, mengoptimalkan
dilepaskan dan memulai suatu aliran daya tangkap, latihan dan penampilan atlet
mekanisme prostaglandin dan leukotrien pada berbagai bentuk gerakan yang terlatih,
dalam uterus, kemudian berakibat pada meningkatkan mental dan relaksasi fisik,
termediasinya respons inflamasi dan tegang meningkatkan perkembangan kesadaran tubuh,
saat menstruasi (Novita, 2015). mengurangi risiko keseleo sendi dan cedera
2. Intensitas Nyeri otot (kram), mengurangi risiko cedera
Berdasarkan hasil penelitian punggung, mengurangi rasa nyeri otot dan
didapatkan bahwa nilai rata-rata intensitas ketegangan otot dan mengurangi rasa sakit
dismenore sebelum diberikan intervensi pada pada saat menstruasi (dismenore) bagi wanita.
kelompok eksperimen adalah 6,47 poin dan Wanita yang melakukan senam secara
setelah diberikan intervensi 3,82. Sedangkan rutin dapat meningkatkan jumlah dan ukuran
rata-rata intensitas dismenore sebelum pada pembuluh darah, yang menyalurkan darah ke
seluruh tubuh termasuk organ reproduksi
kelompok kontrol adalah 6,65 dan setelah
sehingga aliran darah menjadi lancar dan hal
6,94. Rata-rata intensitas dismenore pada tersebut dapat menurunkan gejala dismenore.
kelompok eksperimen mengalami penurunan Meningkatkan volume darah yang mengalir ke
sebanyak 2,64 poin. Sedangkan rata-rata seluruh tubuh termasuk organ reproduksi, hal
intensitas dismenore pada kelompok kontrol tersebut dapat memperlancar pasokan oksigen
juga mengalami peningkatan sebanyak -0,29 ke pembuluh darah yang mengalami
poin, hal ini terjadi karena nyeri yang vasokontriksi, sehingga nyeri haid dapat
dirasakan responden bersifat hilang timbul. berkurang (Laili, 2012).
Dismenore akan meningkat pada Latihan abdominal stretching itu
wanita yang kurang melakukan exercise, sendiri tidak beda jauh dengan senam, yaitu
sehingga ketika wanita mengalami dismenore, dapat membantu meningkatkan oksigenasi
oksigen tidak dapat disalurkan ke pembuluh- atau proses pertukaran oksigen dan
pembuluh darah organ reproduksi yang saat itu karbohidrat didalam sel serta menstimulasi
terjadi vasokontriksi. Wanita teratur aliran drainase sistem getah bening, sehingga
melakukan latihan, maka wanita tersebut dapat dapat meningkatkan kelenturan otot dengan
menyediakan oksigen hampir 2 kali lipat per cara mengembalikan otot-otot pada
menit sehingga oksigen tersampaikan ke panjangnya yang alamiah dan dapat
pembuluh darah yang mengalami memelihara fungsinya dengan baik serta
memperbaiki elastisitas atau fleksibilitas
vasokontriksi (Anisa, 2015).
jaringan tubuh serta mengurangi kram pada

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 67


otot (Ningsih, 2011). Latihan abdominal sebagai evidence based practice dalam
stretching dapat dijadikan salah satu terapi non penanganan nyeri seperti dismenore.
farmakologis untuk mengurangi intensitas 2. Bagi Masyarakat
dismenore. Bagi siswi yang memiliki anggota
Latihan abdominal stretching terdiri keluarga lain atau masyarakat sekitar
dari 6 langkah yaitu Cat Stretch, Lower Trunk diharapkan dapat menggunakan alternatif
Rotation, Buttock/Hip Stretch, Abdominal non farmakologi yaitu latihan abdominal
Strengthening Curl Up, Lower Abdominal stretching untuk menangani dismenore dan
Strengthening, The Bridge Position dengan menghindari penggunaan teknik
durasi 15 menit (Fauziah, 2015). farmakologi untuk penanganan dismenore.
Hasil penelitian ini sesuai dengan 3. Bagi Peneliti Lain
penelitian Ernawati (2010) tentang terapi Peneliti lain diharapkan dapat meneliti
teknik relaksasi dibuktikan ampuh sebagai tentang teknik nonfarmakologi yang lain
penurunan dismenore. Penelitian pendukung untuk mengatasi dismenore pada remaja
lainnya adalah Anugraheni (2013) yang putri misalnya dengan kombinasi
menyatakan bahwa kompres hangat penggunaan terapi musik atau aroma terapi
berpengaruh dalam menurunkan intensitas pada saat melakukan abdominal stretching.
dismenore. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian latihan abdominal stretching UCAPAN TERIMA KASIH
sebagai terapi non farmakologis dapat Terima kasih yang tak terhingga atas bantuan
menurunkan intensitas nyeri. dan bimbingan dari berbagai pihak dalam
penyelesaian laporan penelitian ini.
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1
Annisa Syafna: mahasiswi Fakultas
umur responden terbanyak adalah umur 16 Keperawatan Universitas Riau, Indonesia.
tahun dengan (52,9%) dan menarche terbanyak 2
Ns. Yulia Irvani Dewi, M.Kep., Sp. Mat:
adalah umur 12 tahun dengan (38,2%). Dosen Departemen Keperawatan Maternitas
Pemberian latihan abdominal stretching pada Fakultas Keperawatan Universitas Riau,
kelompok eksperimen dapat menurunkan Indonesia.
intensitas dismenore dimana hasil uji Paired 3
Siti Rahmalia Hairani Damanik, MNS:
Sampel T test menunjukkan signifikansi Dosen Keperawatan Medikal Bedah
dengan p value (0,000) < α (0,05). Pada Fakultas Keperawatan Universitas Riau,
kelompok kontrol terjadi peningkatan Indonesia.
intensitas dismenore dimana hasil uji Wilcoxon
menunjukkan tidak terdapat signifikansi
DAFTAR PUSTAKA
dengan p value (0,025) < α (0,05). Hasil uji
Arifiani, A. (2016). Efektivitas latihan
Mann-Whitney diperoleh nilai Mann Whitney
peregangan perut (abdominal
U skor posttest pada kelompok eksperimen
stretching) dalam mengurangi
dan kelompok kontrol sebesar 10.500 dengan
dismenore pada remaja putri di SMA
p value (0,000) < α (0,05). Hal ini berarti
Panca Bhakti Pontianak. Dari
terdapat perbedaan yang signifikan dari
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmkep
penurunan intensitas dismenore antara
erawatanFK/article/view/21394
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
Anisa, M. V. (2015). Efektifitas latihan pada
dan dapat disimpulkan bahwa latihan
dismenore primer. Jurnal Fakultas
abdominal stretching efektif dalam
Kedokteran Universitas Lampung.
menurunkan intensitas dismenore.
Diperoleh pada tanggal 28 Desember
2017dari
SARAN
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.p
1. Bagi Insitusi Pendidikan
hp/majority/article/download/527/528
Insitusi pendidikan diharapkan dapat
Anugraheni, V. M. D., & Wahyuningsih, A.
meningkatkan perkembangan ilmu
(2013). Efektifetas kompres Hangat
pengetahuan dan menjadikan penelitian ini
Dalam Menurunkan Intensitas Nyeri

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 68


Dysmenorrhoea Pada Mahasiswi STIKes STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.
RS. Baptis Kediri dari Diperoleh pada tanggal 14 Januari
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.p 2018dari
hp/stikes/article/view/18838/18533 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JK
Anwar, M., Baziad, A., & Prabowo, R. P. Mat/article/view/998/1047
(2008). Ilmu kandungan. Jakarta: PT Ningsih, R. (2011). Efektifitas paket pereda
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. terhadap intensitas nyeri pada remaja
Benson, R. C. (2008). Buku saku obstetri dan dengan dismenore di SMAN Kecamatan
ginekologi. Jakarta: EGC. Curup. Tesis Universitas Indonesia
Ernawati, Hartiti, T., & Hadi, I. (2010). Terapi diperolah pada tanggal 17 Juli 2018
Relaksasi Terhadap Nyeri Disminore jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/downloa
pada Mahasiswi Universitas d/4/4
Muhammadiyah Semarang. Diperoleh Novita, C., Dewi, Y. I., Utami, G. T. (2015).
pada tanggal 14 Januari 2018 dari Efektifitas trauma herbal drink terhadap
http://download.portalgaruda.org/article. intensitas dismenore. Program Studi
php?article=4294&val=426 Ilmu Keperawatan. Diperolah pada
Fauziah, M. N. (2015). Pengaruh latihan tanggal 25 Januari 2018 dari
abdominal stretching terhadap intensitas https://media.neliti.com/media/publicatio
nyeri haid pada remaja putri di SMK Al ns/186760-ID-none.pdf
Furqon Bantarkawung dari Nugroho, T., & Utama, B. I. (2014). Masalah
repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/. kesehatan reproduksi wanita.
../1/MIA%20NUR%20FAUZIAH-FKIK Yogyakarta: Nuha Medika
Hastono, S. P. (2007). Analisis data kesehatan. Nurjanah, A. A. A. (2014). Pengaruh senam
Fakultas Kesehatan Masyarakat: UI. aerobic low impact terhadap penurunan
Hidayat, A. A. A. (2011). Metode penelitian dysmenorrhea primer pada mahasiswi
keperawatan dan teknik analisis data. Diploma III Fisioterapi universitas
Jakarta: Salemba Medika. Muhammadiyah Surakarta. Jurnal
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2011). Fakultas Ilmu Kesehatan UMS.
Wong’s: Nursing care of infants and Diperoleh pada tanggal 17 Januari 2018
children. (9th edition). Philadelphia: dari
Elsevier Mosby. http://eprints.ums.ac.id/30825/12/NASK
Indrian Diyan. (2013). Keperawatan AH_PUBLIKASI.pdf
Maternitas pada Area Perawatan Prayitno, S. (2014). Buku lengkap kesehatan
Antenatal. Yogjakarta: Graha Ilmu. organ reproduksi wanita. Yogyakarta :
Laili, N. (2012). Perbedaan tingkat nyeri haid Saufa
(Dismenore) sebelum dan sesudah Prasetyo, S. N. (2010). Konsep dan proses
senam dismenore pada remaja putri di keperawatan nyeri. Yogyakarta: Graha
SMAN2 Jember dari Ilmu.
http://repository.unej.ac.id/bitstream/han Progestian, P. (2010). Cara menentukan masa
dle/123456789/10822/Nurul subur. Jakarta: Swarna Bumi.
Mansur, H. (2011). Psikologi ibu dan anak Reeder, s. j., Martin, L. L., & Koniak-Griffin,
untuk kebidanan. Jakarta: Salamba D. (2011). Keperawatan maternitas :
Medika. kesehatan wanita, bayi, & keluarga.
Manuaba, I.B.G. (2007). Pengantar kuliah Jakarta: Rajawali Pers.
onstetri. Jakarta: EGC. Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (2010). Dasar-
Mitayani. (2011). Asuhan keperawatan dasar metodologi penelitian klinis.(Edisi
maternitas. Jakarta: Salemba Medika. ke-3). Jakarta: Sagung Seto.
Marlinda, R., Rosalina, & Purwaningsih, P. Sukarni, K., & Icemi, W. P. (2013). Buku ajar
(2013). Pengaruh Senam Disminore keperawatan maternitas. Yogyakarta:
terhadap Penurunan Disminore pada Nuha Medika.
Remaja Putri Di Desa Utami, E. E. (2014). Pengaruh teknik cat
SidoharjoKecamatan Pati. Jurnal PSIK streth exercise terhadap intensitas nyeri

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 69


disminore pada remaja di SMA dari https://e-
Muhammadiyah 2 Yogyakarta. journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/4
Diperoleh pada tanggal 14 Januari 2018 9

JOM FKp, Vol. 5. No. 2 (Juli-Desember) 2018 70