You are on page 1of 15

p-ISSN 2086-6380 Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

e-ISSN 2548-7949 DOI: https://doi.org/10.26553/jikm.2015.6.3.145-159


Available online at http://www.jikm.unsri.ac.id/index.php/jikm

ASPEK HUKUM PENGGUNAAN DEOXYRIBONUCLEIC ACID (DNA) PADA


PROSES KLONING EMBRIO MANUSIA

Sudjana1
Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

LEGAL ASPECTS THE USE OF DEOXYRIBONUCLEIC ACID (DNA) ON HUMAN


EMBRYO CLONING PROCESS

ABSTRACT
Background: Used of DNA on the cloning of human embryos raises legal problems, particularly with regard
to inheritance law, health law, human rights law, and criminal law. The objective of study is describe embryo
cloning process.
Methods: The method used was normative, national legislation, whereas the research phase was done
through the study of literature to examined the primary legal materials that the marriage act, inheritance law
(Islam), Health Law, Law on Rights humans, and the Code of Penal (Penal Code). Furthermore, secondary
law was done through the opinion of the experts, and tertiary legal materials that digital sources (internet).
Result: Cloning human embryos is a rapid advances in medicine but legal aspects need further study the
basic legality.
Conclusion: The cloning of human embryos with regard to (1) Legal aspects of marriage and inheritance
law, that bias was the meaning of marriage, because to got a child or descendant did not need to perform
marriages; and also eliminated the human cloned embryos nasab (lineage). (2) Aspek health law, therapeutic
cloning was permitted throughout the implementation respect the right to life of the embryo, and may not
used stem cells derived from embryos (embryonic stem cells), but used adult stem cells (adult stem cells). (3)
Aspects of human rights, the used of stem cells of any kind was unethical because it was dictated by an
individual before a new individual that interfere with human rights. (4). Aspects of criminal law, relating to
persecution, abortion, and abortion assistance.
Keywords: Legal aspects, DNA, cloning

ABSTRAK
Latar Belakang: Penggunaan DNA pada proses kloning embrio manusia dari aspek hukum menimbulkan
permasalahan, terutama berkaitan dengan hukum waris, hukum kesehatan, hak asasi manusia, dan hukum
pidana. Studi ini bertujuan menggambarkan proses kloning embrio manusia melalui analisis secara normatif.
Metode: Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis normatif, yaitu perundang-undangan nasional,
sedangkan tahap penelitian dilakukan melalui studi kepustakaan untuk meneliti bahan hukum primer yaitu
Undang-Undang Perkawinan, Hukum Waris (Islam), Undang-Undang Kesehatan, Undang-Undang Hak
Asasi Manusia (HAM), dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selanjutnya bahan hukum
sekunder dilakukan melalui pendapat para ahli, dan bahan hukum tersier yaitu sumber digital (internet).
Hasil Penelitian: Kloning embrio manusia merupakan kemajuan pesat dalam dunia kedokteran tetapi
dari aspek hukum perlu diteliti lebih lanjut dasar legalitasnya.
Kesimpulan: Kloning embrio manusia berkaitan dengan (1) Aspek hukum perkawinan dan hukum waris,
yaitu biasnya makna perkawinan, karena untuk mendapatkan anak atau keturunan tidak perlu melakukan
perkawinan; dan embrio kloning manusia juga menghilangkan nasab (silsilah keturunan). (2). Aspek hukum
kesehatan, kloning terapeutik diizinkan sepanjang dalam pelaksanaannya menghormati hak atas hidup dari
embrio, dan tidak boleh menggunakan sel punca yang berasal dari embrio (embryonic stem cells), tetapi
menggunakan sel punca dewasa (adult stem cells).(3) Aspek HAM, penggunaan sel punca apapun jenisnya
tidak etis karena dianggap mendikte individu baru oleh individu sebelumnya sehingga mengganggu HAM.
(4). Aspek hukum pidana, berkaitan dengan penganiayaan, pengguguran kandungan, dan pembantuan
pengguguran kandungan.
Kata Kunci: Aspek hukum, DNA, kloning.

Alamat Koresponding: Sudjana, Jalan Dipati Ukur No 35 Bandung Jawa Barat, Email: sdjana@yahoo.com

November 2015 145


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

PENDAHULUAN yang mengupayakan cara mendapatkan


“beberapa“ orang anak kembar identik di luar
Pembukaan Undang-Undang Dasar
cara hamil alami sebanyak yang diinginkan
1945 tercantum jelas cita-cita bangsa
oleh orang tuanya. Metode yang digunakan
Indonesia yang sekaligus merupakan tujuan
adalah dengan kloning embrio, hasil
nasional bangsa Indonesia. Tujuan nasional
penggabungan sel sperma dan sel telur di luar
tersebut adalah melindungi segenap bangsa
tubuh manusia, sehingga didapatkan beberapa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
duplikat embrio yang merupakan calon-calon
dan memajukan kesejahteraan umum,
manusia duplikat yang setiap saat siap
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
dimasukkan ke dalam rahim ibu.1 Embrio
melaksanakan ketertiban dunia yang
tersebut dibenamkan di larutan berisi nutrisi
berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi
dan hormon lengkap, diberi larutan ekstra
serta keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan
natrium alginat, serta dimasukkan ke dalam
nasional tersebut diselenggarakanlah upaya
tabung yang mengandung CO2 6% dan
pembangunan yang berkesinambungan yang
bersuhu 37 derajat Celsius. Setelah beberapa
merupakan suatu rangkaian pembangunan
hari, dari 17 buah yang '”disemai'”, Dr. Hall
yang menyeluruh terarah dan terpadu,
mendapatkan 48 embrio, yang secara fisik
termasuk di antaranya pembangunan
dan genetis sama dengan aslinya. Kloning
kesehatan. Kesehatan merupakan hak asasi
merupakan sebuah metode atau cara lain dari
manusia dan salah satu unsur kesejahteraan
reproduksi makhluk hidup (bersel banyak)
yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita
lewat cara yang baru, berbeda dengan
bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud
reproduksi “konvensional” karena makhluk
dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-
yang baru terbentuk bukan karena pembuahan
Undang Dasar Negara Republik Indonesia
sel sperma dan sel ovum yang kemudian
Tahun 1945. Oleh karena itu, setiap kegiatan
berkembang.1 Sebelum teknologi kloning ini,
dan upaya untuk meningkatkan derajat
para pakar sebenarnya telah menggunakan
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
teknologi bayi tabung untuk “membuat”
dilaksanakan berdasarkan prinsip non
makhluk hidup tanpa melalui proses
diskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan
perkawinan yang alami. Para ilmuwan
berkelanjutan yang sangat penting artinya
tersebut menggunakan bayi tabung untuk
bagi pembentukan sumber daya manusia
menghasilkan makhluk kembar seperti anak
Indonesia, peningkatan ketahanan dan daya
kembar yang lahir dengan cara normal.
saing bangsa, serta pembangunan nasional.1
Perbedaan antara metode bayi tabung dan
Pembangunan nasional di bidang
kloning adalah, apabila bayi tabung masih
kesehatan ditandai dengan berbagai penelitian
menggunakan cara normal, yaitu sel induknya
yang dilakukan oleh para ahli ilmu
baik sperma maupun ovum diambil kemudian
kedokteran sebagai bentuk nyata dari upaya
kedua jenis tersebut ditaruh di “tabung” yang
meningkatkan kesejahteraan melalui rekayasa
dikondisikan sehingga terjadi pembuahan,
genetika pada embrio manusia yang dapat
kemudian baru hasilnya dimasukkan kembali
berakibat bukan hanya terhadap dunia medis
ke dalam rahim induknya. Dengan metode
tetapi juga di bidang kehidupan lainnya,
yang hampir sama dengan bayi tabung,
misalnya hukum.
kloning menggunakan sel selain sperma yaitu
Jerri Leborn Hall seorang dokter dari
berisi informasi Deoxyribonucleic Acid
Pusat Medik George Washington University
(DNA) dari makhluk yang lain, kemudian
(AS) berhasil membelah embrio manusia
hasilnya juga dimasukkan kembali ke
menjadi beberapa embrio duplikat. Tehnik
induknya.3
Duplikasi ini adalah teknologi kedokteran

146 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

Seiring berkembangnya teknologi, pada Seorang ilmuwan asal Amerika Serikat,


saat ini kloning tidak mempergunakan sel dr. Panayiotis Zavos, berhasil mengkloning 14
sperma lagi seperti yang dilakukan dr. Jerry embrio manusia, 11 diantaranya sudah
Hall, tetapi memakai sel telur dan sel selain ditanam di rahim empat orang wanita. Zavos
sperma. Secara teoritis, melalui teknik melakukan hal yang berbeda dalam
kloning kelahiran seorang bayi tidak lagi mengkloning manusia, yaitu jika sebelumnya
memerlukan sperma ayah, bahkan seorang ilmuwan melakukannya dengan meletakkan
perempuan dapat mempunyai anak tanpa embrio di tabung percobaan, Zavos langsung
melalui ikatan perkawinan. Demikian juga menaruhnya di rahim manusia. Manusia yang
seorang lelaki apabila ingin memiliki anak dikloning Zavos adalah tiga orang yang sudah
tidak perlu beristri, cukup memesan sel telur meninggal, satu di antaranya adalah embrio
pada suatu firma, memberikan selnya dari seorang anak berusia 10 tahun bernama Cady
salah satu organ tubuhnya dan kemudian yang meninggal dalam sebuah kecelakaan
menitipkan calon anaknya pada rahim seorang mobil di Amerika Serikat.3
wanita yang dapat saja telah disediakan oleh Rekayasa genetika, juga dinamakan
firma tersebut (surrogate mother). Oleh pencangkokan gen atau DNA Rekombinan,
karena itu, kloning juga dikenal dengan dinyatakan sebagai kemajuan yang paling
istilah rekombinasi DNA yang dapat mengagumkan semenjak manusia berhasil
diperoleh dalam darah, rambut, sel-sel memisahkan atom. Penelitian tentang
mukosa di bagian dalam pipi (dalam mulut), rekayasa genetika sesungguhnya telah dimulai
dan jaringan-jaringan lainnya.3 pada awal tahun 1950-an, namun teka-teki ini
Tim ilmuwan dari AS mengklaim telah baru dapat memperoleh hasil 20 tahun
berhasil memanfaatkan teknik kloning untuk kemudian.4 Mula-mula rekayasa genetika
membuat lima embrio manusia, tiga di dianggap sebagai suatu impian masa depan
antaranya dipastikan kloning dari dua orang dalam kriteria ilmiah. Tetapi kini kemampuan
pria. Terobosan ini berhasil dilakukan untuk mencangkokkan bahan genetik dan
Stemagen Corp di La Jolla, California membongkar kembali informasi keturunan,
menggunakan teknik yang disebut SCNT memberikan hasil sangat nyata dan telah
(Somatic Cell Nuclear Transfer), yaitu inti sel terbukti sangat bermanfaat. Seperti diketahui,
telur diambil kemudian diisi inti sel somatic, bahan genetik DNA (asam deoksiribonukleat)
dalam hal ini digunakan sel kulit. Teknik ini yang mengandung informasi keturunan, dan
juga digunakan oleh Ian Wilmut dan kawan- dimiliki oleh kebanyakan makhluk hidup itu
kawan untuk membuat Dolly, domba kloning berupa pita ganda yang saling berpilin
pertama.3 Pada teknik SCNT sel telur yang membentuk spiral (double helix).5
telah diisi inti sel somatic tersebut Perkembangan kloning di Indonesia
dibudidayakan dalam lingkungan bernutrisi memang tidak sepesat di negara-negara maju,
sampai tumbuh menjadi embrio, setelah lima tetapi fenomena tersebut perlu diantisipasi
hari, terbentuk embrio yang tersusun dari melalui pemahaman terhadap perspektif
kumpulan sekitar 150 sel. Embrio-embrio hukum yang terkait, sehingga memperoleh
tersebut tidak dimaksudkan untuk kejelasan sebagai patokan berperilaku.
dikembangkan menjadi janin, melainkan Berdasarkan hal itu, kajian ini bertujuan
sebagai sumber sel induk embrionik. Jenis sel memperoleh informasi mengenai proses
induk yang terbentuk pada embrio tua yang kloning embrio manusia melalui analisis
akan berkembang menjadi janin ini sangat secara normatif, karena itu, identifikasi
berguna karena dapat tumbuh menjadi tulang, masalahnya adalah “Bagaimana Aspek hukum
daging, kulit dan jaringan tubuh lainnya. proses kloning embrio manusia”?

November 2015 147


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

PEMBAHASAN wanita yang telah dikosongkan


nukleusnya. Sel jantan ini dapat berasal
Kloning secara etimologis berasal dari
dari hewan atau manusia baik pria lain
kata “clone” yang diturunkan dari kata yunani
maupun suaminya.
”klon” atau potongan, yang diperuntukkan
(4) Kloning dilakukan dengan cara
untuk memperbanyak tanaman. Kata ini
pembuahan (fertilization) ovum oleh
digunakan untuk 2 pengertian: (1). Klon sel
sperma (dengan tanpa hubungan sex)
yang artinya menduplikasi sejumlah sel dari
yang dengan proses tertentu dapat
sebuah sel yang memiliki sifat-sifat
menghasilkan embrio-embrio kembar
genetikanya identik, dan (2). Klon gen atau
yang banyak.
molekular, artinya sekelompok salinan gen
Proses kloning manusia dapat
yang bersifat identik yang direplikasikan dari
dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :7
satu gen ke gen yang lain. Ditinjau dari cara
(1) Mempersiapkan sel stem: suatu sel awal
kerja dan tujuannya, Kloning dapat dibedakan
yang akan tumbuh menjadi berbagai sel
atas 3 macam: (1). Kloning embriologi
tubuh. Sel ini diambil dari manusia yang
(Embrional Cloning); (2). Kloning DNA
hendak dikloning.
dewasa (Adult DNA Clonning)/Kloning
(2) Sel stem diambil inti sel yang
reproduksi (reproduktive cloning) 3. Kloning
mengandung informasi genetik kemudian
terapetik (therapeutic cloning). Kloning
dipisahkan dari sel.
adalah usaha memproduksi satu atau lebih
(3) Mempersiapkan sel telur: suatu sel yang
individual makhluk hidup (keseluruhan atau
diambil dari sukarelawan perempuan
hanya perbagian saja), yang secara genetika
kemudian intinya dipisahkan. Inti sel
sama dengan induknya tersebut.6 Kloning
dari sel stem diimplantasikan ke sel telur
adalah teknik membuat keturunan dengan
(4) Sel telur dipicu supaya terjadi
kode genetik yang sama dengan induknya,
pembelahan dan pertumbuhan. Setelah
pada manusia kloning dilakukan dengan
membelah (hari kedua) menjadi sel
mempersiapkan sel telur yang sudah diambil
embrio.
intinya lalu disatukan dengan sel somatic dari
(5) Sel embrio yang terus membelah
suatu organ tubuh, kemudian hasilnya
(disebut blastosis) mulai memisahkan diri
ditanamkan dalam rahim seperti halnya pada
(hari ke lima) dan siap diimplantasikan
bayi tabung.6
ke dalam rahim.
Proses kloning manusia membutuhkan
(6) Embrio tumbuh dalam rahim menjadi
waktu yang lama sebelum bayi kloning
bayi dengan kode genetik persis sama
tersebut lahir, dan paling tidak ada empat
6 dengan sel stem donor.
cara yang dapat dilakukan dalam kloning:
Rusda, menyatakan bahwa hingga
(1) Kloning dilakukan dengan mengambil
waktu ini sikap para ilmuwan, organisasi
inti sel (nucleus of cells) “wanita lain
profesi dokter dan masyarakat umumnya
(pendonor sel telur)” yang kemudian
adalah bahwa pengklonan individu yaitu
ditanamkan ke dalam ovum wanita
pengklonan untuk tujuan reproduksi
kandidat yang nekleusnya telah
(reproductive cloning) dengan menghasilkan
dikosongkan.
manusia duplikat, kembaran identik, yang
(2) Kloning dilakukan dengan menggunakan
berasal dari sel induk dengan cara implantasi
inti sel (nucleus) “wanita kandidat” itu
inti sel tidak dibenarkan, tetapi untuk tujuan
sendiri, dari sel telur milik sendiri bukan
terapi (therapeutic cloning) dianggap etis.8
dari pendonor.
Proses kloning embrio manusia
(3) Kloning dilakukan dengan menanamkan
memiliki 3 (tiga) aspek penting, yaitu aspek
inti sel (nucleus) jantan ke dalam ovum
medis (kesehatan), aspek sosial, dan aspek

148 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

yuridis. Namun kajian ini akan memfokuskan kemudian Allah berfirman kepadanya:
pembahasan dari segi yuridis yaitu “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah
“Penggunaan DNA pada proses kloning dia” (QS. 3/Ali „Imran: 59).
embrio manusia dalam perspektif hukum Selanjutnya, pada surat yang sama juga
Indonesia.” dikemukakan:
ّ ‫ت ْاى ََالَ ِئ َنتُ َيا ٍَ ْش َي ٌُ ِإ َُّ هللاَ يُ َب‬
ُ‫ش ُِش ِك ِب َن ِي ََ ٍت ٍِ ْْهُ ا ْس َُه‬ ِ َ‫ِإرْ قَاى‬
Proses kloning embrio manusia dalam ٍَِِ ‫سى ا ْبُِ ٍَ ْشيَ ٌَ َو ِجي ًها فِي اىذُّ ّْيَا َو ْاْل ِخ َشةِ َو‬ َ ‫ْاى ََسِي ُح ِعي‬
perspektif UU No 1 Tahun 1974 tentang ْ ‫اس فِي ْاى ََ ْه ِذ َو َم ْهالً َو‬
َِ‫اى َُقَ َّشبِي‬. َ َّْ‫صا ِى ِحيَِ َويُن َِيّ ٌُ اى‬ َّ ‫ٍَِ اى‬. ِ ‫ت‬ ْ َ‫قَاى‬
Perkawinan dan HukumWaris (Islam) ‫س ْس ِْي َبش ٌَش قَا َه َمزَ ِى ِل هللاُ َي ْخيُ ُق‬ َ َْ ‫َسبّ ِ أََّّى َي ُنىُُ ِىي َوىَذٌ َوىَ ٌْ َي‬
ُُ‫ضى أ ٍْ ًشا فَإَِّّ ََا يَقُى ُه ىَهُ ُم ِْ فَيَ ُنى‬ َ َ َ‫ُاسًع ها( ٍَا يَشَا ُء إِرَا ق‬:
Para ulama mengkaji kloning dalam
45- 47).
pandangan hukum Islam bermula dari ayat
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata:
berikut: 9
ْ ُّ ِْ ٍِ ٌَّ ُ ‫ب ث‬ “Hai Maryam, sesungguhnya Allah
… ِْ ٍِ ٌَّ ُ ‫طفَ ٍت ث ُ ٌَّ ٍِ ِْ َعيَقَ ٍت ث‬ ٍ ‫فَإَِّّا َخيَ ْقَْا ُم ٌْ ٍِ ِْ ت ُ َشا‬
menggembirakan kamu (dengan kelahiran
ْ ٍُ ‫ٍُ َخيَّقَ ٍت َو َغي ِْش ٍُ َخيَّقَ ٍت ِىُْ َب ِيَِّ ىَ ُن ٌْ َوُّ ِق ُّش ِفي اْأل َ ْس َح ِاً ٍَا‬
‫ضغَ ٍت‬ seorang putra yang diciptakan) dengan
‫جحها( …َّشَا ُء‬: 5).“… kalimat (yang datang) daripada-Nya,
namanya al-Masih `Isa putra Maryam,
Kami telah menjadikan kamu dari
tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian seorang terkemuka di dunia dan di akhirat
dari segumpal darah, kemudian dari dan termasuk orang-orang yang didekatkan
segumpal daging yang sempurna kejadiannya (kepada Allah), dan dia berbicara dengan
dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan manusia dalam buaian dan ketika sudah
kepada kamu dan Kami tetapkan dalam dewasa dan dia termasuk di antara orang-
rahim, apa yang Kami kehendaki…”(QS.
orang yang saleh. Maryam berkata: “Ya
22/al-Hajj: 5).
Abul Fadl Mohsin Ebrahim,1 Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai
berpendapat, bahwa ayat tersebut anak, padahal aku belum pernah disentuh
menampakkan paradigma al-Qur‟an tentang oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman
penciptaan manusia mencegah tindakan- (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah
tindakan yang mengarah pada kloning. Dari Allah menciptakan apa yang dikehendaki-
awal kehidupan hingga saat kematian, Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan
semuanya adalah tindakan Tuhan. Segala sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata
bentuk peniruan atas tindakan-Nya dianggap kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia” (QS.
sebagai perbuatan yang melampaui batas. 3/Ali „Imran: 45-47).
Selanjutnya, ia mengutip ayat lain yang Hal yang sangat jelas dalam kutipan
berkaitan dengan munculnya prestasi ilmiah ayat-ayat di atas adalah bahwa segala sesuatu
atas kloning manusia, apakah akan merusak terjadi menurut kehendak Allah. Namun,
keimanan kepada Allah SWT sebagai kendati Allah menciptakan sistem sebab-
Pencipta? Abul Fadl menyatakan “tidak”, akibat di alam semesta ini, juga telah
berdasarkan pada pernyataan al-Qur‟an bahwa menetapkan pengecualian-pengecualian bagi
Allah SWT telah menciptakan Nabi Adam As. sistem umum tersebut, seperti pada kasus
tanpa ayah dan ibu, dan Nabi „Isa As. tanpa penciptaan Adam As. dan „Isa As. Jika
ayah, sebagai berikut:9 kloning manusia benar-benar menjadi
‫ب ث ُ ٌَّ قَا َه‬ kenyataan, maka itu adalah atas kehendak
ٍ ‫سى ِع ْْذَ هللاِ َم ََثَ ِو َءادَ ًَ َخيَقَهُ ٍِ ِْ ت ُ َشا‬
َ ‫إِ َُّ ٍَث َ َو ِعي‬
ُُ‫ُاسًع ها(ىَهُ ُم ِْ فَ َي ُنى‬: 59). Allah SWT. Semua itu, jika manipulasi
“Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa bioteknologi ini berhasil dilakukan, maka hal
di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) itu sama sekali tidak mengurangi keimanan
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kepada Allah SWT sebagai pencipta, karena
bahan-bahan utama yang digunakan, yakni sel

November 2015 149


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

somatis dan sel telur yang belum dibuahi berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan
adalah benda ciptaan Allah SWT. 9 dari air mani apabila dipancarkan." (Q.S. An-
Berkaitan dengan penciptaan manusia, Najm: 45-46) dalam ayat lain dinyatakan pula,
Al-Quran menyatakan bahwa manusia "Bukankah dia dahulu setetes mani yag
diciptakan sebagai makhluk paling sempurna ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian
di antara seluruh makhluk yang ada dialam mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah
semesta (Al-Tin: 95): 4 yang berbunyi: ْ‫ىَقَذ‬ menciptakannya dan menyempurnakannya.
‫سَِ َخيَ ْقَْا‬
َ َٰ ّ‫ٱْل‬ َ ْ‫“( تَ ْق ِى ٍيٌ أَح‬Sesungguhnya kami
ِ ْ ‫س ِِ فِ ٓى‬ Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang
telah menciptakan manusia dalam bentuk laki-laki dan perempuan." (Q.S. Al-Qiyamah:
yang sebaik-baiknya.“) Penjelasan Allah 37-38). Kedua, anak-anak produk kloning dari
dalam Al-Quran tentang kesempurnaan perempuan tanpa adanya laki-laki tidak akan
penciptaan manusia diantara segala makhluk mempunyai ayah. Anak produk kloning
ciptaanNya yang lain, tidak dapat dibantah tersebut jika dihasilkan dari proses
oleh orang-orang beriman. Apalagi yang pemindahan sel telur yang telah digabungkan
menyempurnakan adalah manusia yang dengan inti sel tubuh ke dalam rahim
terlahir dari hasil kreasi sang Maha Pencipta.10 perempuan yang bukan pemilik sel telur, tidak
Al-Quran membagi proses penciptaan pula akan mempunyai ibu sebab rahim
manusia ke dalam 4 kategori. Kategori perempuan yang menjadi tempat pemindahan
pertama adalah penciptaan manusia tanpa sel telur tersebut hanya menjadi penampung
ayah dan ibu (creatio ex nihilo), yaitu Adam (mediator). Oleh karena itu, kondisi ini
As. Kategori kedua adalah penciptaan sesungguhnya telah bertentangan dengan
manusia dari seorang “ayah” tanpa ibu, yaitu firman Allah SWT, "Hai manusia,
Hawa. Sedangkan kategori ketiga adalah sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari
penciptaan manusia dari seorang ibu tanpa seorang laki-laki dan seorang perempuan"
ayah, yaitu Isa Al-Masih. Kategori keempat (Q.S. Al Hujuurat: 13) juga bertentangan
adalah penciptaan manusia biasa melalui dengan firman-Nya yang lain, "Panggillah
perkawinan sepasang suami istri, yaitu mereka (anak-anak angkat itu) dengan
manusia pada umumnya. Kategori pertama (memakai) nama bapak-bapak mereka." (Q.S.
sampai ketiga dianggap merupakan hak Al-Ahzaab: 5). Ketiga, kloning manusia akan
mutlak Allah Swt, sehingga tidak dapat menghilangkan nasab (garis keturunan).
dipersoalkan secara teologis. Namun yang Padahal Islam telah mewajibkan pemeliharaan
dapat dijadikan sebagai wacana teologis nasab. Ini berdasarkan hadis yang
adalah kategori keempat, ketika manusia diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. yang
secara aktif mengambil peranan didalamnya, mengatakan bahwa Rasulullah SAW. telah
pandangan kemuliaan ditentukan aspek bersabda, "Siapa saja yang menghubungkan
teologis proses penciptaan manusia melalui nasab kepada orang yang bukan ayahnya,
mekanisme kloning.9 Abdul Qadim Zallum atau (seorang budak) bertuan (loyal/taat)
berpendapat, bahwa syariat mengharamkan kepada selain tuannya, maka dia akan
kloning terhadap manusia, dengan mendapat laknat dari Allah, para malaikat
argumentasi sebagai berikut. Pertama, anak- dan seluruh manusia." (H.R. Ibnu Majah)
anak produk proses kloning dihasilkan Diriwayatkan pula dari Abu 'Utsman An
melalui cara yang tidak alami (percampuran Nahri r.a. yang berkata, "Aku mendengar
antara sel sperma dan sel telur). Padahal, cara Sa'ad dan Abu Bakrah masing-masing
alami inilah yang telah ditetapkan oleh syariat berkata, 'Kedua telingaku telah mendengar
sebagai sunatullah menghasilkan anak-anak dan hatiku telah menghayati sabda
dan keturunannya. Allah SWT berfirman: Muhammad SAW., "Siapa saja yang
"Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan mengaku-ngaku (sebagai anak) kepada orang

150 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

yang bukan bapaknya, padahal dia tahu Fatwa terakhir, tentang larangan
bahwa orang itu bukan bapaknya, maka surga mengkloning manusia dikeluarkan jawatan
baginya haram." (H.R. Ibnu Majah) Kuasa Fatwa Majelis Kebangsaan Malaysia
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a. melalui keputusan mudzakarah yang ke 51
bahwasanya tatkala turun ayat li'an dia pada tanggal 11 maret 2002, menetapkan
mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Siapa bahwa: (1) Kloning manusia untuk tujuan
saja perempuan yang memasukkan kepada apapun adalah haram, karena bertentangan
suatu kaum nasab (seseorang) yang bukan dengan fitrah kejadian manusia, sebagaimana
dari kalangan kaum itu, maka dia tidak akan yang ditentukan oleh Allah SWT. (2)
mendapat apapun dari Allah dan Allah tidak Penggunaan stem cell dengan tujuan medis
akan pernah memasukkannya ke dalam surga. sejauh tidak bertentangan dengan hukum
Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari syara diperbolehkan. Ali Yafie dengan tegas
anaknya sendiri padahal dia melihat menyatakan bahwa bayi kloning merupakan
(kemiripan)nya, maka Allah akan akan bayi bermasalah menurut hukum islam karena
tertutup darinya dan Allah akan bersangkutan dengan:6
membeberkan perbuatannya itu dihadapan (1) Bayi kloning akan dipertanyakan siapa
orang-orang yang terdahulu dan kemudian ibu dan bapak sahnya;
(pada Hari Kiamat)" (H.R. Ad-Darimi).11 (2) Dalam proses kloning terdapat 3 pihak:
Keempat, memproduksi anak melalui proses a) Perempuan yang diambil sel telurnya,
kloning akan mencegah (baca: mengacaukan) (b) Donor pemberi selnya (inti selnya
pelaksanaan banyak hukum hukum syara' akan mengganti inti sel pertama yang
seperti hukum tentang perkawinan, nasab, sudah dihancurkan, c) Ibu pengganti
nafkah, hak dan kewajiban antara bapak dan yang rahimnya dipakai untuk menanam
anak, waris, perawatan anak, hubungan embrio yang berasal dari donor, sampai
kemahraman, hubungan 'ashabah, dan lain- dapat menyelesaikan perkembangannya
lain. Di samping itu, kloning akan dan melahirkannya, ketiga pihak itu
mencampur-adukkan dan menghilangkan dipertanyakan status dan hubungannya
nasab serta menyalahi fitrah yang telah dalam unit keluarga;
diciptakan Allah untuk manusia dalam (3) Proses kloning menggambarkan lahirnya
masalah kelahiran anak. Konsekuensi kloning manusia akan mendapat nasab dari mana;
ini akan menjungkirbalikkan struktur (4) Pihak manakah yang bertanggung jawab
11
kehidupan masyarakat. Pengharaman ini atas kelanjutan hidup bayi kloning;
hanya berlaku untuk kasus kloning pada (5) Apa Maslahat dan kemudaratan dari
manusia tetapi tidak bagi hewan dan kloning manusia, karena kloning adalah
tumbuhan, apalagi bertujuan untuk obat, persoalan kontemporer yang hukumnya
justru dibolehkan bahkan disunahkan.11 sendiri tidak pernah dibicarakan dalam
Menurut teologi Islam manusia pada al-Quran maupun Hadist dan ijtihad para
umumnya dibekali tabiat dan kodrat untuk ulama Mutaqaddimin. Salah satu jalan
membedakan yang baik dan buruk, tetapi yang dapat ditempuh untuk menetapkan
melalui kloning manusia, tabiat dan kodrat hukumnya adalah melalui ijtihad.
manusia itu tidak berfungsi lagi karena telah Ali Yafie dan Armahaedi Mahzar
direkayasa sedemikian rupa untuk hanya (Indonesia), Abdul Aziz Sachedina dan Imam
dapat berbuat baik atau berbuat buruk, Mohamad Mardani (AS) juga mengharamkan,
perbuatan untuk mengubah makhluk ciptaan dengan alasan mengandung ancaman bagi
Allah merupakan satu perbuatan yang kemanusiaan, meruntuhkan institusi
ditentang Allah (QS Al-Nisa: 119).10 perkawinan atau mengakibatkan hancurnya
lembaga keluarga, merosotnya nilai manusia,

November 2015 151


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

menantang Tuhan, kehancuran moral, budaya Selanjutnya, ada pula agamawan sekaligus
dan hukum. Kuswandi, juga berpendapat ilmuwan menyatakan bahwa tujuan agama
teknik kloning diharamkan, dengan menurut penuturan Imam al-Syatibi yang
argumentasi: menghancurkan institusi bersifat dharuri ada lima, yaitu memelihara
pernikahan yang mulia (misal: tumbuh agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Oleh
suburnya lesbian, tidak perlu laki-laki untuk karena itulah maka kloning diuji dari sesuai
memproduksi anak), juga akan atau tidaknya dengan tujuan agama. Untuk
menghancurkan manusia sendiri (dari sudut menentukan apakah syari‟at membenarkan
evolusi, makhluk yang sesuai dengan pengambilan manfaat terapeutik dari kloning
environment-nya yang dapat hidup).9 manusia, harus mengevaluasi manfaat vis a
Sedangkan ulama yang membolehkan vis mudharat dari praktik ini. Manfaat dan
melakukan kloning mengemukakan alasan mudharat terapeutik dari kloning manusia
sebagai berikut: sebagai berikut: mengobati penyakit;
a. Dalam Islam, selalu diajarkan untuk Infertilitas (ketidaksuburan); Organ-organ
menggunakan akal dalam memahami untuk transplantasi; dan menghambat Proses
agama. Penuaan.9 Berdasarkan uraian tersebut, maka
b. Islam menganjurkan agar menuntut ilmu kloning terhadap embrio manusia berkaitan
(dalam hadits dinyatakan bahkan sampai erat dengan UU No 1 Tahun 1974 Tentang
ke negri Cina sekalipun). Perkawinan dan hukum waris (islam) dalam
c. Islam menyampaikan bahwa Allah selalu hal: status anak yang sah; makna perkawinan;
mengajari dengan ilmu yang belum ia siapa yang bertanggungjawab terhadap anak
ketahui (lihat QS. 96/al-„Alaq). hasil kloning; larangan perkawinan; dan
d. Allah menyatakan, bahwa manusia tidak Nasab.
akan menguasai ilmu tanpa seizin Allah Untuk menghasilkan keturunan
(lihat ayat Kursi pada QS. 2/al-Baqarah: tidak lagi memerlukan pasangan suami istri
255). sehingga akan muncul generasi yang tidak
Perbedaan pendapat di kalangan ulama melalui institusi perkawinan, hal ini membuat
dan para ilmuwan sebenarnya masih bersifat ketergantungan wanita kepada pria menjadi
tentative, bahwa argumen para berkurang karena dengan adanya kloning ini
ulama/ilmuwan yang menolak aplikasi maka wanita untuk mendapatkan seorang
kloning pada manusia hanya melihatnya dari anak, tidak lagi membutuhkan seorang laki-
satu sisi, yakni sisi implikasi praktis atau sisi laki (suami). Di sisi lain, bagi pasangan
applied science dari teknik kloning, padahal lesbian atau homo seksual , melalui kloning
wilayah applied science yang mempunyai dapat mempunyai keturunan.12 Proses kloning
implikasi sosial praktis mempunyai logika embrio manusia juga mengancam “makna
tersendiri, sehingga kurang menyentuh sisi perkawinan” karena dengan tidak adanya
pure science (ilmu-ilmu dasar) dari teknik saling ketergantungan antara wanita dan pria
kloning yang juga memiliki dasar pemikiran dalam mendapatkan keturunan, akan
sendiri, yang dapat berjalan terus di mengancam makna perkawinan sebagai
laboratorium baik ada larangan maupun “ikatan lahir-batin antara seorang pria dan
tidak.9 seorang wanita sebagai suami istri dengan
Batas “keseimbangan” antara kemajuan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
IPTEK dan Doktrin Agama, pertanyaan yang yang bahagia dan kekal berdasarkan
dapat diajukan adalah sejuh mana para Ketuhanan Yang Maha Esa”.13 Dengan
ilmuan, budayawan dan agamawan dapat dimungkinkannya berketurunan tanpa
berlaku adil dalam melihat kedua fenomena memerlukan hubungan suami istri, berarti
yang berbeda misi dan orientasi tersebut. orang tidak lagi memerlukan institusi

152 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

perkawinan. Terancamnya institusi 6. Mempunyai hubungan yang oleh


perkawinan akan menimbulkan berbagai agamanya atau peraturan lain yang
permasalahan seperti, tidak adanya kasih berlaku, dilarang kawin.
sayang dalam pengasuhan anak, terlebih jika Anak yang “dilahirkan” melalui
„pembuatan‟ anak itu hanya untuk percobaan kloning tidak jelas garis keturunannya
belaka.12 sehingga akan kehilangan hak untuk
Menurut Pasal 42 UU No 1 Tahun dikasihani dan disayangi oleh kedua orang
1974 “Anak yang sah adalah anak yang tua, karena itu maka tidak ada yang
dilahirkan dalam atau sebagai akibat bertanggung jawab untuk memenuhi
perkawinan yang sah.” Konsekuensi hukum kebutuhan hidup dan pendidikannya. Kalau
anak yang berasal dari embrio manusia bukan garis keturunannya dinisbahkan kepada
merupakan anak yang sah karena lahir di luar ibunya, apakah tidak akan dikatakan bahwa ia
perkawinan, sehingga menurut UU adalah anak zina? Hal ini menjadi beban
Perkawinan hanya mempunyai hubungan psikologis bagi anak tersebut.14
perdata dengan ibu tetapi kemudian keluar Anak hasil kloning hanya mempunyai
Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU- DNA dari donor nukleus saja, sehingga
VIII/2010 yang mengatakan anak luar kawin walaupun nukleus berasal dari suami, tetapi
dinyatakan mempunyai hubungan perdata DNA yang ada dalam tubuh anak tidak
dengan ayah biologisnya, sehingga anak yang membawa DNA ibunya (bukan anak ibunya,
lahir akibat hamil duluan dan hasil tidak ada hubungan darah, hanya sebagai anak
perzinahan juga dianggap sah. Namun, UU susuan apabila disusui tetapi jika tidak,
Perkawinan tidak dapat mengakomodasi dan apakah anak hasil kloning yang berasal dari
memberikan solusi atas kasus bayi tabung dan ibunya, dapat kawin dengan anak hasil
sewa rahim (surrogate mother), serta bayi kloning yang berasal dari ayahnya. Kloning
hasil kloning, sehingga bayi tersebut tidak manusia yang nukleus bukan berasal dari
mendapat perlindungan hukum. ayahnya akan menghilangkan nasab (garis
Kloning embrio manusia juga keturunan), padahal islam melarang seorang
menimbulkan persoalan berkaitan dengan anak menghubungkan nasab kepada orang
larangan perkawinan sebagaimana diatur yang bukan ayahnya, sehingga menyulitkan
dalam Pasal 8 UU Perkawinan. Perkawinan pada saat penerapan hukum waris (islam)
dilarang antara dua orang yang: yang mensyaratkan adanya nasab, padahal di
1. Berhubungan darah dalam garis keturunan sisi lain, anak hasil kloning embrio juga perlu
lurus ke bawah ataupun ke atas; mendapat perlindungan secara ekonomi.
2. Berhubungan darah dalam garis keturunan
menyamping yaitu antara saudara, antara Proses Kloning Embrio Manusia dalam
seorang dengan saudara orang tua dan Perspektif Hukum Kesehatan
antara seorang dengan saudara neneknya;
Apabila kloning embrio manusia dikaji
3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak
dari segi kesehatan, memang manfaatnya,
tiri menantu dan ibu/bapak tiri;
yaitu: membantu pasangan suami-istri yang
4. Berhubungan susuan, yaitu orang tua
mempunyai problem reproduksi untuk
susuan, anak susuan, saudara susuan dan
memperoleh anak; mengobati berbagai
bibi/paman susuan;
macam penyakit akibat rusaknya beberapa
5. Berhubungan saudara dengan istri atau
gen yang terdapat dalam tubuh manusia; dan
sebagai bibi atau kemenakan dari istri,
memberikan peluang untuk menentukan
dalam hal seorang suami beristri lebih dari
karakteristik (fisik dan mental). Selain itu,
seorang;
kloning juga dapat: 15

November 2015 153


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

(1) Mengobati penyakit, teknologi kloning kecacatan yang berkaitan dengan sistem,
kelak dapat membantu manusia dalam fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki
menentukan obat kanker, menghentikan dan perempuan; Pasal 71 Ayat (2) “
serangan jantung, dan membuat tulang, Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud
lemak jaringan penyambung atau tulang pada ayat (1) meliputi: a. saat sebelum hamil,
rawan yang cocok dengan tubuh pasien hamil, melahirkan, dan sesudah melahirkan; b.
untuk tujuan bedah penyembuhan dan pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi, dan
bedah kecantikan. kesehatan seksual; dan c. kesehatan sistem
(2) Infertilitas, kloning manusia memang reproduksi.
dapat memecahkan problem Hak-hak reproduksi tersebut mencakup:
ketidaksuburan, tetapi tidak boleh (1) Menjalani kehidupan reproduksi dan
mengabaikan fakta bahwa Ian Wilmut, kehidupan seksual yang sehat, aman, serta
A.E. Schieneke, J. Mc. Whir, A.J. Kind, bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan
dan K.H.S. Campbell harus melakukan pasangan yang sah. (2) Menentukan
277 kali percobaan sebelum akhirnya kehidupan reproduksinya dan bebas dari
berhasil mengkloning “Dolly.”Kloning diskriminasi, paksaan, dan/atau kekerasan
manusia tentu akan melewati prosedur yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak
yang jauh lebih rumit. Pada eksperimen merendahkan martabat manusia sesuai dengan
awal untuk menghasilkan sebuah klon norma agama. (3) Menentukan sendiri kapan
yang mampu bertahan hidup akan terjadi dan berapa sering ingin bereproduksi sehat
banyak sekali keguguran dan kematian; secara medis serta tidak bertentangan dengan
(3) Organ-organ untuk transplantasi, ada norma agama. (4) Memperoleh informasi,
kemungkinan bahwa kelak manusia dapat edukasi, dan konseling mengenai kesehatan
mengganti jaringan tubuhnya yang reproduksi yang benar dan dapat
terkena penyakit dengan jaringan tubuh dipertanggungjawabkan. Dari berbagai aspek
embrio hasil kloning, atau mengganti tentang kesehatan reproduksi, tiga hal yang
organ tubuhnya yang rusak dengan organ menjadi masalah yang sering terkait dengan
tubuh manusia hasil kloning. Manipulasi etika dan hukum kesehatan, yakni: aborsi,
teknologi untuk mengambil manfaat dari teknologi reproduksi utamanya bayi tabung
manusia hasil kloning ini dipandang dan keluarga berencana.3
sebagai kejahatan oleh hukum Islam,
karena hal itu merupakan pelanggaran Proses Kloning Embrio Manusia dalam
terhadap hidup manusia; Perspektif Hak Asasi Manusia
(4) Menghambat proses penuaan, ada sebuah
Ketentuan Pasal 1 Pasal 1 Undang-
optimisme bahwa kelak dapat
Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang
menghambat proses penuaan berkat apa
HAM dan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 26
yang dipelajari dari kloning;
Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM
(5) Jual Beli Embrio dan Sel, Sebuah riset
mengatakan “HAM adalah seperangkat hak
dapat saja muncul untuk
yang melekat pada hakikat dan keberadaan
memperjualbelikan embrio dan sel-sel
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
tubuh hasil kloning.
merupakan anugerah-Nya yang wajib
Ketentuan Pasal 71 kesehatan UU. No.
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi
36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap
menjelaskan: Pasal 71 Ayat (1) “Kesehatan
orang demi kehormatan serta perlindungan
reproduksi merupakan keadaan sehat secara
harkat dan martabat manusia.” Pengaturan
fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak
HAM dalam hukum bermaksud agar hak-hak
semata-mata bebas dari penyakit atau

154 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

manusia itu dapat dirumuskan dengan cara jasmani, dan karena itu tidak boleh menjadi
yang paling tepat dan disesuaikan dengan objek penelitian tanpa persetujuan darinya.18
sistem hukum yang berlaku. Ilmu hukum Di Indonesia, upaya kehamilan di luar
sangat penting dalam memberikan dasar yang cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh
teguh kepada HAM baik dalam sistem hukum pasangan suami istri yang sah dengan
nasional maupun internasional.16 Konsep ketentuan: a. hasil pembuahan sperma dan
Hukum HAM di Indonesia tidak terlepas dari ovum dari suami istri yang bersangkutan
nilai-nilai teologis yang mengakui bahwa hak ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum
bukan sesuatu yang diberikan oleh kekuasaan berasal; b. dilakukan oleh tenaga kesehatan
duniawi melainkan adi duniawi, karena itu yang mempunyai keahlian dan kewenangan
manusia memiliki klaim atas dirinya yang untuk itu; dan c. pada fasilitas pelayanan
tidak dapat diperlakukan semena-mena oleh kesehatan tertentu.1
pihak mana pun. Sejalan dengan filosofi Keputusan Menteri Kesehatan No.
tersebut maka meskipun peraturan perundang 72/Menkes/Per/II/1999 Tentang
Indonesia tentang HAM tidak mengatur Penyelenggaraan Teknologi Reproduksi
secara spesifik mengenai penerapan Buatan, yang berisikan: ketentuan umum,
bioteknologi rekayasa genetika di bidang perizinan, pembinaan, dan pengawasan,
medis. Namun landasan filosofis dalam ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.
beberapa ketentuannya sedikit banyaknya Selanjutnya Keputusan MenKes RI tersebut
menyentuh persoalan mendasar yang dibuat Pedoman Pelayanan Bayi Tabung di
berkaitan dengan penerapan bioteknologi Rumah Sakit, oleh Direktorat Rumah Sakit
medis yang dapat dijadikan acuan untuk Khusus dan Swasta, DepKes RI, yang
membantu mengkonstruksi cara pandang menyatakan bahwa:
bangsa Indonesia dalam mengkaji persoalan 1. Pelayanan teknik reproduksi buatan hanya
penerapan bioteknologi rekayasa genetika dapat dilakukan dengan sel sperma dan sel
yang sesuai dengan Hukum HAM di telur pasangan suami-istri yang
Indonesia.17 Ketentuan Pasal 28A, 28B Ayat bersangkutan;
(1) dan Pasal 28C Ayat (1) Undang-Undang 2. Pelayanan reproduksi buatan merupakan
Dasar 1945 menjamin, hak setiap orang atas bagian dari pelayanan infertilitas, sehingga
hidup serta berhak mempertahankan hidup kerangka pelayannya merupakan bagian
dan kehidupannya, setiap orang berhak dari pengelolaan pelayanan infertilitas
membentuk keluarga dan melanjutkan secara keseluruhan;
keturunan melalui perkawinan yang sah dan 3. Embrio yang dipindahkan ke rahim istri
setiap orang berhak mengembangkan diri dalam satu waktu tidak lebih dari 3, boleh
melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, dipindahkan 4 embrio dalam keadaan:
berhak mendapat pendidikan dan memperoleh a. Rumah sakit memiliki 3 tingkat
manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, perawatan intensif bayi baru lahir.
seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas b. Pasangan suami istri sebelumnya sudah
hidupnya dan demi kesejahteraan umat mengalami sekurang kurangnya dua
manusia. kali prosedur teknologi reproduksi yang
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 gagal.
Tentang Hak Asasi Manusia, adalah ketentuan c. Istri berumur lebih dari 35 tahun.
HAM yang sifatnya umum, tetapi secara 4. Dilarang melakukan surogasi dalam
implementatif ada penekanan yang lebih bentuk apapun;
bersifat khusus, yaitu tentang hak setiap orang 5. Dilarang melakukan jual beli
atas keutuhan pribadi, baik rohani maupun spermatozoa, ova atau embrio;

November 2015 155


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

6. Dilarang menghasilkan embrio manusia Pertimbangan-pertimbangan aspek


semata-mata untuk penelitian atau bioetika dalam penelitian dan pengembangan
sejenisnya terhadap embrio manusia maupun penerapan bioteknologi yang berbasis
hanya dapat dilakukan apabila tujuannya biologi molekuler dan teknologi rekayasa
telah dirumuskan dengan sangat jelas; genetika seperti: transgenic experiment,
7. Dilarang melakukan penelitian dengan cloning, stem cell experiment, dan lain-lain
atau pada embrio manusia dengan usia yang menyentuh martabat dan harkat hidup
lebih dari 14 hari setelah fertilisasi; organisme (khususnya manusia), diserahkan
8. Sel telur yang telah dibuahi oleh pengaturannya dalam Undang-Undang
spermatozoa manusia tidak boleh tentang Kesehatan dan atas pertimbangan
dibiakkan in-vitro lebih dari 14 hari Komisi Bioetika Nasional (Keputusan
(tidak termasuk waktu impan beku) Bersama Menristek, Menkes dan Mentan
9. Dilarang melakukan penelitian atau Tahun 2004). Ketentuan Pasal 70 Ayat (1)
eksperimen terhadap atau menggunakan Undang-Undang Kesehatan disebutkan bahwa
sel ova, spermatozoa atau embrio tanpa Penggunaan sel punca hanya dapat dilakukan
seizin dari siapa sel ova atau spermatozoa untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
itu berasal; pemulihan kesehatan, serta dilarang
10. Dilarang melakukan fertilisasi trans- digunakan untuk tujuan reproduksi.
spesies, kecuali fertilisasi trans-spesies Selanjutnya, Sel punca sebagaimana
tersebut diakui sebagai cara untuk dimaksud pada Ayat (1) tidak boleh berasal
mengatasi atau mendiagnosis infertilitas dari sel punca embrionik.
pada manusia. Setiap hybrid yang terjadi Terapi klonal (therapeutical cloning)
akibat fertilisasi trans-spesies harus diizinkan untuk dilaksanakan karena
diakhiri pertumbuhannya pada tahap 2 mempunyai manfaat yang sangat besar
sel. dibandingkan dengan mudharatnya. Potensi
Etika Teknologi Reproduksi Buatan penggunaan sel punca sangat luas, antara lain
belum tercantum secara eksplisit dalam Buku untuk memahami awal perkembangan embrio
Kode Etik Kedokteran Indonesia. Tetapi yang kompleks dan menguji efek toksisitas
dalam addendum 1, dalam buku tersebut di dan efek teratogenik dari berbagai obat.
atas terdapat penjelasan khusus dari beberapa Potensi lainnya yang lebih besar dan
pasal revisi Kodeki Hasil Mukernas Etik ditunggu-tunggu oleh umat manusia adalah
Kedokteran III, April 2002. Pada kloning penggunaannya bagi jutaan penderita yang
dijelaskan bahwa pada hakikatnya: menolak sementara menunggu diterapkannya teknik
kloning pada manusia, karena menurunkan pembiakan sel punca ini untuk mengobati
harkat, derajat dan serta martabat manusia penyakit diabetes melitus, infark jantung,
sampai setingkat bakteri, menghimbau Alzheimer dan Parkinson, yang dalam tahap
ilmuwan khususnya kedokteran, untuk tidak penelitian telah terbukti berhasil. Mengingat
mempromosikan kloning pada manusia, dan prinsip bahwa kehidupan harus dihormati
mendorong agar ilmuwan tetap menggunakan sejak dari awal pembuahan sel telur dan sel
teknologi kloning pada (1). Sel atau jaringan sperma. Maka penggunaan sel punca
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan khususnya untuk tujuan pengobatan
misalnya untuk pembuatan zat antigen (therapeutical cloning), tidak diperbolehkan
monoclonal; (2). Sel atau jaringan menggunakan sel punca yang berasal dari
hewan untuk penelitian klonasi organ, ini embrio (embryonic stem cells), demikian juga
untuk melihat kemungkinan klonasi organ tidak boleh menggunakan sel-sel blastosis
pada diri sendiri. mudigah yang totipoten karena hingga saat ini
belum dapat teramalkan organisme lengkap

156 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

yang akan terjadi. Begitu pula dengan sel Pasal 349 KUHP pembantuan pengguguran
tahap morulla yang pluripoten karena hingga kandungan.
saat ini, jenis sel atau jaringan yang berpotensi Pasal 351:
dibentuknya belum teramalkan juga. Selain itu (1) Penganiayaan diancam dengan pidana
tidak diperbolehkan untuk menimbulkan ekses penjara paling lama dua tahun delapan
jumlah mudigah berlebihan di laboratorium. bulan atau pidana denda paling banyak
Dengan demikian riset dasar sel punca yang empat ribu lima ratus rupiah,
boleh dilakukan adalah dengan penggunaan (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka
sel multipoten atau sel punca dewasa (adult berat, yang bersalah diancam dengan
stem cells) yang secara jelas dapat pidana penjara paling lama lima tahun.
membentuk sel-sel khusus.17 (3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan
Penerapan bioteknologi rekayasa pidana penjara paling lama tujuh tahun.
genetika di bidang medis, juga diatur dalam (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja
hukum internasional, yaitu Declaration of merusak kesehatan.
Helsinki (DoH 2000), yang menentukan: 19 (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini
(1) Penelitian harus mendapatkan tidak dipidana
persetujuan komite pengawas etik.; Pasal 346 :
(2) Penelitian dengan subjek uji manusia Seorang wanita yang sengaja
harus dalam kerangka ilmiah untuk menggugurkan atau mematikan
memberikan manfaat ilmiah (scientific kandungannya atau menyuruh orang lain
merit) ; untuk itu, diancam dengan pidana penjara
(3) Populasi dimana penelitian akan paling lama empat tahun.
dilakukan harus menerima keuntungan Pasal 349 :
dari penelitian yang akan dilaksanakan Jika seorang dokter, bidan atau juru
(nilai sosial); obat membantu melakukan kejahatan
(4) Terlebih dahulu mendapatkan izin secara berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan
sukarela dari subjek uji (informed atau membantu melakukan salah satu
consent); kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347
(5) Penelitian dilakukan jika risikonya benar- dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam
benar telah diketahui, dan sebaiknya pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan
penelitian tidak dilanjutkan sampai data dapat dicabut hak untuk menjalankan
yang dapat dipercaya telah tersedia; pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
(6) Kerahasiaan mengenai hak privasi yang
berhubungan dengan informasi kesehatan KESIMPULAN DAN SARAN
subjek uji; Aspek hukum kloning embrio manusia
(7) Jujur dalam melaporkan hasil. meliputi :
a. Aspek hukum perkawinan dan hukum
Proses kloning embrio manusia dalam Waris, berkaitan dengan biasnya makna
perspektif Hukum Pidana
perkawinan, karena untuk mendapatkan
Proses kloning manusianya tidak secara anak atau keturunan tidak perlu
tegas diatur dalam KUHP, tetapi karena dalam melakukan perkawinan; anak lahir tidak
kloning terdapat banyak embrio cacat yang dalam perkawinan yang sah sehingga anak
akan dibuang, sehingga dapat dikategorikan hasil embrio bukan anak sah; embrio
sebagai penganiayaan sebagaimana tercantum kloning manusia juga menghilangkan
dalam Pasal 351 tentang penganiayaan, Pasal nasab (silsilah keturunan), sehingga bukan
346 tentang pengguguran kandungan, dan akhli waris.

November 2015 157


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

b. Aspek hukum kesehatan, penggunaan sel tidak etis untuk melakukan klonasi
punca apapun jenisnya tidak etis untuk reproduktif karena dianggap mendikte
melakukan klonasi reproduktif karena individu baru oleh individu sebelumnya
dianggap mendikte individu baru oleh sehingga mengganggu hak asasi manusia.
individu sebelumnya sehingga d. Aspek hukum pidana, berkaitan dengan
mengganggu martabat mulia manusia penganiayaan (Pasal 351 KUHP) dan
sebagai ciptaan Tuhan, dan Kloning pengguguran kandungan (Pasal 346
terapeutik diizinkan sepanjang dalam KUHP), dan pembantuan pengguguran
pelaksanaannya menghormati hak atas kandungan (Pasal 349 KUHP).
hidup dari embrio. Kehidupan harus Kloning embrio pada manusia
dihormati sejak dari awal pembuahan sel menimbulkan pro dan kontra karena dianggap
telur dan sel sperma, untuk itu tidak boleh melakukan tindakan sewenang-wenang
menggunakan sel punca yang berasal dari terhadap embiro manusia, karena itu teknologi
embrio (embryonic stem cells), tetapi dapat kedokteran tersebut harus dihentikan agar
menggunakan sel punca dewasa (adult tidak menimbulkan polemik yang
stem cells) sehingga tidak menimbulkan berkepanjangan dari sisi medis, agama, etika,
persoalan etis. dan hukum.
c. Aspek hukum hak asasi manusia,
penggunaan sel punca apapun jenisnya

DAFTAR PUSTAKA http://blogspot.co.id /html. Diakses 23


Agustus, 2016.
1. Republik Indonesia. Undang-Undang No 8. Majestika, Septikasari dan Dwi
36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. LN: Maryanti. Kesehatan Reproduksi.
2009-144. Yogyakarta: Nuha Media; 2009.
2. Musbikin, Imam. Manusia Kloning yang 9. Abraham. Hukum Kloning dalam
Pertama Telah Lahir. Yogyakarta: Diva Perspektif Agama Islam [serial online]
Press; 2010. tanpa tahun. Tersedia dari URL: https://
3. Rizka, R. Penggunaan DNA pada Proses wordpress.com/umum/. Diakses 24
Cloning Embrio Manusia dalam Agustus, 2016.
Perspektif Hukum. BAB_I.pdf [serial 10. Nugroho, Dito. Tinjauan Agama, Etik,
online] Februari 2003. Tersedia dari dan Medis Tentang Kloning. Semarang:
URL: http://eprints.ums.ac.id. Diakses 15 Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Agustus, 2016. Sultan Agung Semarang; 2005
4. Wildan, Yatim. Reproduksi dan 11. Kodrat,Denny. Kontroversi Kloning
Embryologi. Bandung: Tarsito; 1982 Manusia Dalam Perspektif Syariat
5. Istyhafid. Kloning Aplikasi dari Selasa. Pikiran Rakyat 2003; 13 - 1.
Teknologi DNA Rekombinan [serial 12. Effendi, Satria. Kloning Manusia Dilihat
online]April 2010. Tersedia dari URL: dari Sudut Pandang Maqashid syari‟ah
https://greatminds2.wordpress.com/2010/ [serial online]1999. Tersedia dari URL:
04/17/kloning-aplikasi-dari-teknologi- http://yayansyariah.
dna-rekombinan/. Diakses 21 Agustus, blogspot.co.id/2007/02/ kloning-dalam-
2016. perspektif-sains-dan-al.html. Diakses 25
6. Safnowandi. Kloning. [serial online] Agustus, 2016.
Februari 2012. Tersedia dari URL: 13. Republik Indonesia : UU No 1 Tahun
https://wordpress.com. Diakses 22 1974 Tentang Perkawinan. LN: 1974- 1.
Agustus, 2016. 14. Zahrah, Abu; al-Syakhsyiyah, al-Ahwal.
7. Haffandi, Linda. Kloning Berdasarkan Kloning dalam Perspektif Sains [serial
Sudut Pandang Lima Agama [serial online]2007. Tersedia dari URL: http://
online]Nov 2013.Tersedia dari URL: yayansyariah. blogspot.co.id/html.
Diakses 26 Agustus, 2016.

158 November 2015


Sudjana / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2015, 6(3):145-159

15. Qardhawi, Yusuf. Fatwa-Fatwa http://ejournal.unpatti.ac.id/ppr_iteminfo


Kontemporer. Jakarta: Gema Insani _lnk.php?id=296. Diakses 27 Agustus,
Press; 2002. 2016.
16. Bertens, K. Menyambung Refleksi 18. Republik Indonesia: Undang-Undang No.
tentang Pendasaran Hak Asasi Manusia. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi
Jakarta: Kompas; 2000:12-1. Manusia. LN: 1999-165
17. Anwar, Arman. Penerapan Bioteknologi 19. Williams, John R. Panduan Etika Medis
Rekayasa Genetika di Bidang Medis (Medical Ethics Manual). Yogyakarta:
Ditinjau Dari Perspektif Filsafat Diterjemahkan oleh Pusat Studi
Pancasila: HAM dan Hukum Kesehatan Kedokteran Islam Fakultas Kedokteran
Di Indonesia [serial online] Universitas Muhammadiyah; 2005.
2011.Tersedia dari URL:

November 2015 159