You are on page 1of 16

RIBA DAN GHARAR:

SUATU TINJAUAN HUKUM DAN ETIKA


DALAM TRANSAKSI BISNIS MODERN
Efa Rodiah Nur
PPs Universitas Diponogoro Semarang
Jl. Brojonegoro No. 1 Semarang
E-mail: efarodiahnur1@yahoo.co.id

Abstract: Riba and Gharar: a Review of Law and Ethics of Modern Business Transactions.
Numerous interpretations of riba and interest in modern financial institution vary based on who
interpreted them. The fuqaha (fiqh experts) and Moslem economists have different opinion in that
the ‘illat of riba said by the fuqaha is considered not accurate based on the development of Islamic law.
Gharar, translated as speculation, is equal with gambling because there is uncertainty for both buyer
and seller. Such practices are commonly done by modern society like transactions in agricultural
crops that are still in the field by using wholeseller system. From Islamic ethics of transactions, riba,
interest and gharar are not in accordance with the transaction ethics. Such practises are banned
because they are unnatural, exploitative and non productive for economic activity.
Keywords: riba, gharar, law, business transaction ethics

Abstrak: Riba dan Gharar: Suatu Tinjauan Hukum dan Etika dalam Transaksi Bisnis
Modern. Berbagai macam interpretasi tentang riba dan juga bunga pada lembaga keuangan modern
(bank), baik itu dari fukaha maupun ekonom Muslim, nampaknya terjadi karena ‘illat riba yang
dikemukakan para fukaha dipandang tidak akurat dalam perkembangan pemikiran hukum Islam.
Gharar yang diterjemahkan sebagai spekulasi disamakan dengan judi karena ketidakpastian kedua
belah pihak (penjual dan pembeli). Praktik semacam ini banyak dilakukan oleh masyarakat modern,
seperti jual beli hasil pertanian yang masih di lahan dengan sistem borongan. Bila dilihat dari sisi
etika transaksi Islam, baik riba, bunga dan gharar menyalahi keetisan dalam transaksi. Pertimbangan
etik larangan riba, bunga dan gharar, dikarenakan adanya ketidakwajaran, eksploitasi dan tidak
produktif. Sementara sistem etik ekonomi menekankan produk, kewajaran dan kejujuran di dalam
perdagangan, serta kompetisi yang adil.
Kata Kunci: riba, gharar, hukum, etika transaksi bisnis

Pendahuluan ini harus diarahkan dan ke mana semua ini harus berakhir. Dari
itu, maka ‘aqîdah sering disebut sebagai ruh bagi kehidupan
Ada tiga aspek bangunan utama dalam setiap manusia. Dalam Islam, pokok-pokok ‘aqîdah telah
Islam, yaitu aspek aqîdah (iman), aspek tertuang dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, iman
syarî’ah (Islam), dan aspek akhlak (ihsan).1 kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada Nabi
dan Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada qadha
dan qadar. Mengenai aspek yang kedua, yaitu aspek syarî’ah.
Secara bahasa, syarî’ah berarti jalan yang ditempuh atau garis
1
Aspek ‘aqîdah adalah aspek yang berhubungan dengan yang semestinya dilalui. Sedangkan secara istilah, syarî’ah adalah
masalah-masalah dan dasar-dasar keagamaan (ushûluddin). peraturan dan hukum yang berisi perintah dan larangan yang
Aqidah pula yang memberikan visi dan makna bagi eksistensi dibebankan oleh Allah kepada manusia. Walaupun hakikatnya
kehidupan manusia di bumi, serta mampu memberikan syarî’ah tersebut bersumber dari Allah, namun tidak seperti
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat ‘aqîdah yang sifatnya konstan dan kekal, syarî’ah lebih leluasa
kehidupan, dari mana asal mulanya, apa maknanya, apa yang dan bisa mengalami interpretasi sesuai dengan perkembangan
harus dilakukan oleh menusia dalam hidupnya, ke mana hidup peradaban manusia. Sebagai contoh, kita bisa menengok

647
648|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

Jika dilihat dari tiga aspek yang mendasari menuntut penghapusan bunga. Sedangkan
ajaran Islam tersebut, jelaslah bahwa Islam kaum modernis berpendapat bahwa tidak
tidak hanya memperhatikan ibâdah (hablum semua bentuk bunga adalah riba. Mereka
minallah), tapi juga memperhatikan hal- mengatakan hanya bunga yang dinilai
hal yang sifanya muamalah, yaitu meng­ tidak adil yang bisa dikatakan riba. Bahkan
atur hubungan manusia dengan sesamanya masalah riba-pun para ulama masih berbeda
(hablum minannâs), yang meliputi berbagai pendapat, ada yang mengatakan riba haram
aspek ajaran mulai dari persoalan hak atau kalau bersifat eksploitasi (yang berlebihan).
hukum (the right) sampai kepada urusan Sedangkan yang lain mengatakan, semua
per­ekonomian, yaitu lembaga keuangan.2 riba haram baik itu sedikit ataupun banyak.
Dalam bidang muamalah, khususnya masalah Argumen yang mengatakan bahwa bunga
perekonomian, Islam juga sangat mem­ bank belum jelas hukumnya dikarenakan
perhatikan unsur etika dalam pelaksana­ transaksi yang terjadi di bank merupakan
annya. Islam melarang unsur eksploitasi bentuk muamalah modern dan sesuatu yang
berupa riba dan transaksi-transaksi yang baru dalam dunia Islam, sehingga status
belum jelas bentuknya, yaitu gharar. hukumnya perlu ada penjelasan. Harus
Hadirnya transaksi-transaksi yang serba diakui perdebatan semacam ini telah hadir
canggih pada era modern ini, bahkan juga sejak 1930-an hingga sekarang. Hal ini tidak
timbulnya konsep perbankan ala Barat yang terlepas dari cara berpikir para cendekiawan
berbasis bunga di negara-negara yang dikuasai yang tekstual dan kontekstual.3
Muslim, mengundang para cendekiawan- Berawal dari perdebatan-perdebatan
cendekiawan Muslim untuk beradu argumen ini, maka pertanyaannya adalah bagaimana
mengenai bunga yang disajikan oleh bank- konsep riba itu sendiri? Apakah benar bunga
bank ala Barat. Menjadi titik tolaknya adalah itu sama dengan riba dan diharamkan?
apakah bunga itu riba atau bukan. Kaum Apakah transaksi-transaksi yang bentuknya
neo-Revivalis berpedoman bahwa bunga belum jelas itu bisa dianalogikan dengan
adalah riba (diharamkan), karenanya mereka gharar? Bagaimana konsep gharar itu sendiri?
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana
hukum dan etika ekonomi Islam dalam
kembali kepada sejarah, bahwa syarî’ah yang berlaku pada
zaman nabi Nuh berbeda dengan syarî’ah di zaman nabi Musa, menghadapi masalah tersebut? Adakah
dan berbeda pula syarî’ah yang berlaku pada zaman nabi solusinya?
Ibrahim, Isa dan nabi Muhammad Saw. Lihat. Q.s. al-Mâidah
[5]: 48: untuk masing-masing umat Dalam tulisan ini sedikit banyak per­
dari kamu itu kami buat aturan dan jalan (syariat yang harus
ditempuh)…… Lihat DEPAG RI, Alquran dan Terjemahnya,
tanyaan-pertanyaan tersebut, baik itu mengenai
(Jakarta: Bumi Restu, t.t.), h. 168. Sedangkan aspek akhlak, riba maupun gharar dalam praktik bisnis
yang sering disebut sebagai etika dan ihsan, yang berarti baik.
Masalah ihsan sangat terkait dengan baik-buruk, indah-jelek.
modern, akan dijawab dengan melakukan
Defenisi ihsan dinyatakan sendiri oleh nabi dalam hadisnya, tinjauan hukum dan etika ekonomi dalam
“ihsan adalah engkau beribadat kepada Tuhanmu seolah-olah Islam.
engkau melihatnya sendiri, kalaupun engkau tidak melihat-Nya,
maka Ia melihatmu”. Ihsan (akhlak) yang dinyatakan oleh nabi
dalam hadisnya tersebut, menunjukkan bahwa akhlak juga
memberikan panduan bagaimana orang berprilaku terhadap Definisi dan Dasar Hukum Riba
Allah, dan juga terhadap sesama makhluk lainnya. Lihat Riba secara bahasa bermakna ziyâdah
Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3. (tambahan). Dalam pengertian lain, secara
2
Muhamad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syari’ah,
(Yogyakarta: UUI Press, 2000), h. 3. Menurut Zainal Abidin
Ahmad, muamalah yang berhubungan dengan materi keuangan
atau ekonomi disebut sebagai muamalah madiyah. Lihat Zainal 3
Muhammad Syarif Hasyim, “Bunga Bank: Antara
Abidin Ahmad, Dasar-dasar Ekonomi Islam, (Jakarta: Bulan Paradigma Tekstual dan Kontekstual” dalam jurnal Hunafa, Vol
Bintang, 1979), h. 24. 5, No. 1, April 2008, h. 46.
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |649

linguistik riba juga berarti “tumbuh” dan tegaskan bahwa riba adalah pengambilan
“membesar”.4 Sedangkan menurut istilah tambahan, baik dalam transaksi jual-beli
teknis, riba berarti pengambilan “tambahan” maupun pinjam-meminjam secara batil atau
dari harta pokok atau modal secara batil.5 bertentangan dengan prinsip muamalah
Maksud dari “tambahan” di sini, yaitu dalam Islam. Mengenai hal ini, sesuai dengan
tambahan kuantitas dalam pen­ jualan aset firman Allah Swt. sebagai berikut:
yang tidak boleh dilakukan dengan per­bedaan
kuantitas, tambahan dalam hutang yang harus
dibayar karena ter­ tunda pembayarannya,
seperti bunga hutang, dan tambahan yang
ditentukan dalam waktu penyerahan barang
berkaitan dengan penjualan aset yang di­
haruskan ada­ nya serah terima langsung. Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu saling memakan harta sesamamu
Misalkan penjualan rupiah dengan dollar,
dengan jalan yang batil, kecuali dengan
harus ada serah terima secara langsung, jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
apabila ditunda serah terima tersebut maka sama-suka di antara kamu, dan janganlah
ada unsur riba.6 kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah
Majelis Ulama Indoneisa (MUI) men­­ adalah Maha Penyayang kepadamu. (Q.s.
definisikan riba sebagai “tambahan (ziyâdah) al-Nisâ’ [4]: 41).
tanpa imbalan yang terjadi karena pe­ Ibrahim Warde, mengatakan bahwa
nangguhan dalam pembayaran yang di­ pada masa sekarang ini konsep darurat dan
per­janjikan se­belumnya, dan inilah yang maslahat telah menjadi kebiasaan dalam
disebut riba nasî’ah”.7 Para modernis dan praktik masyarakat dan juga telah meme­
pakar ekonomi mendefinisikan riba sebagai ngaruhi para ulama pembaharuan. Seperti
“suatu kelebihan” atau “kelebihan yang Fazlur Rahman, sebagaimana diuangkapkan
sangat besar jumlahnya”. Beberapa ulama Ibrahim Warde, mengatakan “selama pola
sepakat bahwa jenis yang kedualah yang bisa hidup masyarakat kita belum direkonstruksi
menimbulkan terjadinya “riba”. Para ulama menurut aturan Islam, penghapusan
mengatakan, bahwa setiap penambahan pada bunga atas simpanan di bank merupakan
uang pinjaman yang saat dikembalikan oleh suatu hal yang bersifat bunuh diri yang
peminjam menyebabkan terjadinya riba, dapat merugikan kesejahteraan ekonomi
maka hal tersebut dilarang.8 masyarakat dan sistem keuangan negara
Ada beberapa pendapat dalam men­ serta bertentangan dengan tujuan Alquran
jelaskan riba, namun secara umum di­ dan Sunnah nabi”.9
Ibn al-‘Arabi al-Mâliki dalam kitabnya
Ahkâm al-Qur’an, sebagaimana dikutip Syafi’i
4
Abdullah Saeed, Menyoal Bank Syari’ah: Kritik
atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo-Revivalis, (Jakarta: Antonio, menjelaskan pengertian riba secara
Paramadina, 2004), h. 60. bahasa adalah tambahan (ziyâdah), namun
5
Masfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: Gunung Agung,
1994), h. 102. Bandingkan dengan Muhammad Syafi’i Antonio,
yang dimaksud riba dalam ayat Qur’ani
Bank Syari’ah: Wacana Ulama dan Cendekiawan, (Jakarta: Central yaitu “setiap penambahan yang diambil
Bank of Indonesia and Tazkia Institute), h. 59.
6
Abdullah al-Muslih Shalah al-Shawi, Bunga Bank Haram?
tanpa adanya satu transaksi pengganti atau
Menyikapi Fatwa MUI Menuntaskan Kegamangan Umat, (Jakarta: penyeimbang yang dibenarkan syariah”.10
Darul Haq, 2003), h. 1-2.
7
Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI),
Nomor 1 Tahun 2004, Tentang Bunga (Intersat/Faidah). 9
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
8
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy, h. 56.
(Edinburgh University Press, 2001), h. 55. 10
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah: dari Teori
650|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

Maksud dari transaksi pengganti atau yang turun dan membicarakan tentang riba
penyeimbang, yaitu transaksi bisnis atau (Q.s. al-Rum [30]: 39).
komersial yang melegitimasi adanya pe­ Pembicaraan Alquran tentang riba sama
nambahan tersebut secara adil, seperti dengan tahapan pembicaraan tentang khamr.
transaksi jual-beli, gadai, atau bagi hasil Pada tahap pertama sekedar menggambarkan
proyek. Dalam transaksi sewa, si penyewa adanya unsur negatif di dalamnya (al-Rûm
membayar upah sewa karena adanya manfaat [30]: 39), kemudian disusul dengan isyarat
sewa yang dinikmati, termasuk menurunnya tentang keharamannya (al-Nisâ’ [4]: 161),
nilai ekonomis suatu barang karena peng­ selanjutnya pada tahap ketiga, secara eksplisit
gunaan si penyewa. Mobil misalnya, sesudah dinyatakan keharaman salah satu bentuknya
dipakai maka nilai ekonomisnya pasti me­ (Ali Imrân [3]: 130), dan pada tahap terakhir,
nurun jika dibandingkan sebelumnya. diharamkan secara total dalam berbagai
Dalam hal jual beli, si pembeli membayar bentuknya (al-Baqarah [2]: 278-279). Lebih
harga atas imbalan barang yang diterimanya. jelas teks-teks ayat tersebut sebagai berikut:
Demikian juga dalam proyek bagi hasil, para Q.s. al-Rûm [30]: 39, sebagai berikut:
peserta perkongsian berhak mendapatkan
keuntungan karena di samping menyertakan
modal juga turut serta menanggung ke­
mungkinan risiko kerugian yang bisa saja
muncul setiap saat.11
Tidak mudah menjelaskan riba, per­
debatan dan perbedaan pandangan tentang Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu
riba tidak akan ada habisnya, bahkan para berikan agar dia bertambah pada harta
manusia, maka riba itu tidak menambah
ulama melarang untuk mendiskusikan
pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan
masalah tersebut lebih dalam. Sebagian dari berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
ulama mengatakan; jika aturan Alquran ber­ mencapai keridhaan Allah, maka (yang ber­
tentangan dengan teori-teori modern, tidak buat demikian) itulah orang-orang yang me­
ada alasan untuk ragu-ragu, sebab apa yang lipat gandakan (pahalanya). (Q.s. al-Rûm
diperintahkan Alquran yang tidak kita fahami [30]: 39).
maksudnya pada saat ini, pasti akan menjadi Q.s. al-Nisâ’ [4]: 161, sebagai berikut:
jelas di kemudian hari.12 Sebagian ulama
tidak sepakat mengenai riba pada abad
pertengahan, dijadikan satu-satunya acuan
mengenai pengertian dari riba.
Term  riba  dalam Alquran terulang se­ Dan disebabkan mereka memakan riba,
banyak delapan kali terdapat dalam empat padahal sesungguhnya mereka telah dilarang
surah, yaitu al-Baqarah, Ali Imrân, al-Nisâ dan daripadanya, dan karena mereka memakan
al-Rûm. Tiga di antaranya adalah ter­masuk harta benda orang dengan jalan yang batil.
kelompok surat Madâniyyah, sedang­kan surah Kami telah menyediakan untuk orang-orang
yang kafir di antara mereka itu siksa yang
al-Rûm tergolong surat Makkiyyah. Ini berarti
pedih. (Q.s. al-Nisâ’ [4]: 161).
bahwa surah al-Rûm adalah surah pertama
Q.s. Ali Imrân [3]: 130, sebagai berikut:
dan Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 38.
11
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah: dari Teori
dan Praktik, h. 38.
12
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
h. 55.
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |651

Hai orang-orang yang beriman, janganlah 1. Riba Fadl


kamu memakan riba dengan berlipat ganda Riba Fadl disebut juga riba buyû’, yaitu
dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya riba yang timbul akibat pertukaran barang
kamu mendapat keberuntungan. (Q.s. Ali
sejenis yang tidak memenuhi kriteria
Imrân [3]: 130).
sama kualitasnya (mitslan bi mitslin),
Q.s. al-Baqarah [2]: 278-279, sebagai sama kuantitasnya (sawâ-an bi sawâ-in)
berikut: dan sama waktu penyerahannya (yadan bi
yadin). Pertukaran semisal ini mengandung
gharar, yaitu ketidakjelasan bagi kedua pihak
akan nilai masing-masing barang yang di­
pertukarkan.
Dalil pelarangannya, yaitu hadis sebagai
berikut:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang
belum dipungut) jika kamu orang-orang yang
beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan
(meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah,
bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi­ 14
mu, dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
Emas dengan emas, perak dengan perak,
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu
gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir,
tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
kurma dengan kurma, garam dengan garam,
(Q.s. al-Baqarah [2]: 278-279).
semisal, setara, dan kontan. Apabila jenisnya
Dalam pembagian bentuk-bentuk riba berbeda, juallah sesuka hatimu jika dilakukan
terdapat perbedaan di kalangan para ulama. dengan kontan. (H.r. Muslim dari Ubadah
Ada yang membagi riba ke dalam dua bentuk, bin Shamit r.a.).
yaitu riba fadl dan riba nasî’ah. Sebagian
membaginya ke dalam tiga bentuk, yaitu
riba fadl, riba nasî’ah dan riba jâhiliyyah,
atau riba fadl, riba nasî’ah, dan riba yad.
Sebagian lain membaginya ke dalam empat “Emas dengan emas, setimbang dan semisal;
perak dengan perak, setimbang dan semisal;
bentuk, yaitu riba fadl, riba nasî’ah, riba
barang siapa yang menambah atau meminta
yad, dan riba qard.13 tambahan, maka (tambahannya) itu adalah
Perbedaan pembagian bentuk-bentuk riba”.  (H.r. Muslim dari Abû Hurairah).
riba tersebut dapat dimaklumi. Hal ini
tidak bisa dilepaskan dari cara penafsiran
dan kajian yang berbeda yang dilakukan
oleh para ulama fikih terhadap ayat-ayat
Alquran dan hadis tentang riba. Jika merujuk
pada ayat-ayat Alquran dan hadis maka riba 15
terbagi menjadi dua, yaitu:

14
Muslim bin al-Hajjaj Abû Husain al-Qusyairi, Shahîh
13
Lihat Adiwarman A. Karim dan Oni Sahroni, Riba, Muslim, juz 3, (Bayrût: Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, t.t.), h. 1210.
Gharar dan Kaidah-kaidah Ekonomi Syariah: Analisis Fikih dan 15
Muslim bin al-Hajjaj Abû Husain al-Qusyairi, Shahîh
Ekonomi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), h. 1. Muslim, h. 1213.
652|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

“Dari Fudhalah berkata: Saya membeli kalung 2. Riba Nasî’ah


pada perang Khaibar seharga dua belas dinar, Istilah nasî’ah berasal dari kata ( ) yang
di dalamnya ada emas dan merjan. Setelah berarti menunda menangguhkan, atau
aku pisahkan (antara emas dan merjan), aku
menunggu, dan mengacu pada waktu yang
mendapatinya lebih dari dua belas dinar. Hal
itu saya sampaikan kepada Nabi saw. Beliau diberikan bagi pengutang untuk mem­
pun bersabda, “Jangan dijual hingga dipisahkan bayar kembali utang dengan memberikan
(antara emas dengan lainnya)”. (H.r. Muslim “tambahan” atau “premi”. Karena itu, riba
dari Fudhalah) nasî’ah mengacu kepada bunga dalam utang.
Dalam arti inilah, istilah riba dipergunakan
dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 275 “…dan
Allah mengharamkan riba”. Arti ini juga
yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah
Saw. ketika beliau mengatakan, “Tidak ada
riba kecuali nasî’ah”.18
Adapun dalil pelarangannya, yaitu hadis
sebagai berikut:
19

“Riba itu dalam nasi’ah”. (H.r. Muslim dari


Ibn Abbas).
20

16 “Ingatlah, sesungguhnya riba itu dalam


“Sesungguhnya Rasulullah Saw. mengutus nasî’ah”.  (H.r. Muslim).
saudara Bani Adi al-Anshari untuk di­pekerja­ Riba Nasî’ah disebut juga ba’i duyun, yaitu
kan di Khaibar. Kamudian dia datang dengan riba yang timbul akibat hutang piutang yang
membawa kurma Janib (salah satu jenis kurma
tidak memenuhi kriteria “untung muncul
yang berkualitas tinggi dan bagus). Rasulullah
Saw. bersabda, “Apakah semua kurma Khaibar bersama risiko” (al-ghunmu bil ghunmi) dan
seperti itu?” Dia menjawab, “Tidak, wahai “hasil usaha muncul bersama biaya” (al-kharaj
Rasulullah. Sesunguhnya kami membeli satu bi dhaman). Transaksi semisal ini mengandung
sha’ dengan dua sha’ dari al-jam’ (salah satu pertukaran kewajiban menanggung beban,
jenis kurma yang jelek, ditafsirkan juga karena hanya berjalannya waktu. Nasî’ah
campuran kurma). Rasulullah Saw. bersabda, adalah penangguhan penyerahan atau pe­
“Jangan kamu lakukan itu, tapi (tukarlah) nerimaan jenis barang ribâwî yang diper­
yang setara atau juallah kurma (yang jelek itu) tukarkan dengan jenis barang ribâwî lainnya.
dan belilah (kurma yang bagus) dengan uang
Riba nasî’ah muncul karena adanya perbedaan,
hasil penjualan itu. Demikianlah timbangan
itu”.  (H.r. Muslim). perubahan atau tambahan antara barang yang
diserahkan hari ini dengan barang yang
Riba al-Fadhl, jenis riba yang melebihkan diserahkan kemudian.21
salah satu dari dua barang yang diperjual-
belikan (dibarter) pengharamannya masuk
dalam kategori menutup jalan (sad al-zarî’ah) Akal dan Hikmah, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), h. 285.
18
Umar Chapra, Sistem Moneter Islam, (Jakarta: Gema
yang menuju ke riba al-Nasî’ah.17 Insani Press, 2000), h. 22.
19
Muslim bin al-Hajjaj Abû Husain al-Qusyairi, Shahîh
Muslim, h. 1217.
16
Muslim bin al-Hajjaj Abû Husain al-Qusyairi, Shahîh 20
Muslim bin al-Hajjaj Abû Husain al-Qusyairi, Shahîh
Muslim, h. 1215. Muslim, juz 5, h. 50.
17
Ibn Qayyim dan Ibn Taimiyyah, Islam dalam Tinjauan 21
Muhammad Taqi Utsmani, The Text of Historical Judgement
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |653

Jenis riba ini yang bisa dilakukan oleh kepentingan menginvestasikan dan membuat
orang-orang jahiliyah, seperti seseorang yang laba, dan individu lemah dan miskin untuk
memberi tenggang pembayaran utang akan kebutuhan dasar segera (makan). Para
tetapi ia menambah utang tersebut dan pemikir tertentu sudah mengklaim bahwa
setiap kali ia mengakhirkan pembayaran ekonomi modern bisa tidak peduli riba sama
maka bertambah pulalah yang akan dibayar sekali, semuanya telah dilakukan dengan
sehingga utang yang hanya bernilai seratus mekanisme yang benar.23
bisa jadi mencapai ribuan. Para mufti’ Mesir abad 20, sangat
berhati-hati dalam merumuskan pendapat
Status Hukum Riba Sama dengan Bunga mereka tentang riba. Dengan menyadari
Bank? bahwa mereka berhadapan dengan para aktor
Bunga (interest/faidah) adalah tambahan dan institusi ekonomi yang mempunyai
yang dikenakan dalam transaksi pinjaman banyak pendukung di berbagai sektor. Di
uang (al-qardh) yang diperhitungkan dari samping perselisihan paham belum surut,
pokok pinjaman tanpa mempertimbang­ pada tahun 1986, konferensi akademi fikih
kan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, Islam, merupakan awal dari ahli hukum
ber­dasar­kan tempo waktu, diperhitungkan mendukung penafsiran yang sifatnya mem­
secara pasti di muka dan pada umumnya batasi, dan menetapkan semua transaksi
berdasarkan persentase.22 yang interest (mengandung riba) sebagai
Memang harus diakui status hukum kekosongan. Tapi, pada awal 1989, suatu
bunga dalam lembaga keuangan kontemporer diskusi ekonomi antara Lembaga Keuangan
(baca: Bank) apakah sama dengan riba masih Islam dan Bank Konvensional sedang ber­
dalam perdebatan di kalangan para ulama kecamuk. Muhammad Atiyya Sayyed
fikih dan cendekiawan Muslim. Muhammad Tantawi, seorang ulama Mesir, beliau me­
Said al-Ashnawi sebagaimana dikutip oleh nge­l uar­
k an fatwa, dengan mengesahkan
Ibrahim Warde, membuat tiga argumentasi “Sertifikat Kapitalisasi”. Hal ini menarik
untuk menunjukkan bahwa suatu larangan perhatian pemerintah. Ia membantah pe­
terhadap bunga tak beralasan. Pertama, riba narikan laba di depan adalah untuk tujuan
yang disebut dalam Alquran adalah riba pemilik, dan melakukan itu hanya untuk
al-jâhiliyyah, yang mengacu pada praktik mencegah suatu perselisihan antara dia dan
yang umum sebelum Islam. Pada waktu bank. Adanya proses penambahan, karena
mereka mengadakan perjanjian modal sebagai sertifikat berhubungan dengan pembiayaan
pertukaran dengan waktu yang lebih, dan status rencana pengembangan dalam rangka
yang mengakibatkan perbudakan meminjam mendorong populasi untuk meningkatkan
jika pada akhirnya ia tidak bisa membayar uang tabungannya, jadi sertifikat menurut
utangnya tersebut. Kedua, riba berdasar pada hukum tidaklah meminjamkan, tapi me­
suatu hadis hanya untuk di beberapa hal nyimpan.24
saja, dan bukan pada mata uang modern. Perdebatan-perdebatan mengenai riba ini
Ketiga, suatu perbedaan harus ditarik antara terus berlanjut di Mesir, walaupun se­bagian
pinjaman yang bermanfaat, seperti yang besar penduduknya sendiri ber­sikap pragmatis.
diambil oleh institusi dan bisnis untuk Namun yang tidak dapat disangkal, fakta

23
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
on Riba, (Kuala Lumpur: The Other Press, 2001), h. 34. h. 56.
22
Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), No. 24
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
1 Tahun 2004, Tentang Bunga (Intersat/Faidah). h. 57.
654|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

mengenai langkanya informasi mengenai yang berlipat ganda ataukah segala bentuk
asal-usul riba itu sendiri. Pada umumnya penambahan dalam kondisi tertentu? Bagi
disepakati, ketika adanya desakan melawan mereka yang berpegang pada teks tersebut
riba atas nabi Muhammad Saw. pada periode menyatakan bahwa ini merupakan syarat ke­
Mekkah dan Madinah. Sampai Alquran haraman. Artinya bila tidak berlipat ganda
me­ nyatakan: yang tidak memperhatikan maka tidak haram. Sedangkan pihak lain
larangan riba sama dengan berperang me­ menyatakan bahwa teks tersebut bukan
lawan Tuhan.25 me­rupakan syarat tetapi penjelasan tentang
Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia bentuk riba pada masa jahiliyah, sehingga
(MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang sekalipun tidak berlipat ganda tetap hukumnya
status hukum riba dan bunga. Pertama, haram.
praktik pembungaan uang saat ini telah M. Quraish Shihab menyatakan bahwa
memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jawabannya ada pada kata kunci berikutnya,
zaman Rasulullah Saw. yaitu riba nasî’ah. yaitu  falakum ru‘ûsu amwâlikum  (bagimu
Dengan demikian, praktik pembungaan modal-modal kamu) (Q.s. al-Baqarah [2]:
uang ini termasuk salah satu bentuk 279). Berarti yang berhak mereka peroleh
riba, dan riba haram hukumnya”; Kedua, hanyalah modal-modal mereka. Artinya
praktik penggunaan tersebut hukumnya setiap penambahan ataupun kelebihan dari
adalah haram, baik dilakukan oleh bank, modal mereka tersebut yang dipungut dalam
asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, kondisi yang sama dengan apa yang terjadi
dan lembaga keuangan lainnya maupun di­ pada masa turunnya ayat-ayat riba ini tidak
lakukan oleh individu.26 dapat dibenarkan. Dengan demikian kata
Menurut M. Quraish Shihab, pem­ kunci ini menetapkan bahwa segala betuk
bahasan riba yang diharamkan Alquran dapat penambahan atau kelebihan baik berlipat
dikaji dengan menganalisis lebih khusus ganda atau tidak, telah diharamkan Alquran
lagi kata-kata kunci dari ayat-ayat landasan dengan turunnya ayat tersebut. Ini berarti
hukum riba yang disebutkan di atas, yaitu: bahwa kata  adh‘âfan mudhâ‘afan bukan
1)  adh‘âfan mudhâ‘afan  (Q.s. Ali Imrân merupakan syarat tetapi sekedar penjelasan
[3]: 130);27 2)  mâ baqiya min al-ribâ (Q.s. tentang riba yang sudah lumrah mereka
al-Baqarah [2]: 278); 3)  fa lakum ru‘ûsu praktikkan.29
amwâlikum (Q.s. al-Baqarah [2]: 279); dan Dengan demikian yang diharamkan
4)  lâ tazlimûna wa lâ tuzhlamûn  (Q.s. al- adalah segala bentuk kelebihan. Namun perlu
Baqarah [2]: 279).28 untuk digarisbawahi bahwa kelebihan yang
Kata adh‘âfan mudhâ‘afan berarti “ber­ dimaksud adalah dalam kodisi yang sama,
lipat ganda”. Lalu timbul pertanyaan, apakah seperti yang terjadi pada masa turunnya
yang diharamkan itu hanya penambahan Alquran dan yang diisyaratkan oleh penutup
ayat 279 surat al-Baqarah tersebut, yaitu lâ
tazlimûna wa lâ tuzhlamûn (kamu tidak
25
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy, menganiaya dan tidak pula dianiaya).30
h. 58.
Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), No.
26 Di kalangan para ahli fikih, ada per­
1 Tahun 2004, Tentang Bunga (Intersat/Faidah). bedaan pendapat dalam memandang ‘illat
27
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan
Keserasian al-Qur’an, Jil. II, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), h.
257-261.
29
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jil. I, h. 725-727.
28
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jil. I, h. 725-
Bandingkan dengan M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran,
727. Lihat juga. M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran, h. 266.
(Bandung: Mizan, 1993), h. 261. 30
M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran, h. 266.
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |655

hukum riba dan bunga bank, sebagian terdapat perbedaan antara riba dalam Alquran
mengatakan ‘illat riba dan bunga bank itu dengan bunga dalam bank konvensional,
sama, yaitu adanya tambahan atau bunga itu hanya perbedaan tingkat bukan jenis,
tanpa disertai imbalan. Pandangan ini dianut sesungguhnya baik riba maupun bunga me­
oleh ahli fikih Islam kontemporer, yaitu rupakan askes atas modal yang dipinjam.
Abû Zahrah, Wahbah al-Zuhailî, Yûsuf Menyebut riba dendan bunga tidak akan
al-Qaradhawi (ahli fikih Timur Tengah), merubah sifatnya, yaitu adanya tambahan
Abdul Mannan, Syafi’i Antonio, Adiwarman atas modal.34 Sedangkan Syafi’i Antonio
A. Karim (ahli hukum Islam dan praktisi menyatakan kriteria berlipat-ganda bukanlah
perbankan Syariah Indonesia). syarat terjadinya riba, tetapi itu hanya sifat.
Besar ataupun kecil, bunga bank tetap riba,
Yûsuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa
sebab sifat umum riba adalah berlipat-
pengharaman riba dalam Alquran tidak
ganda.35
membutuhkan penjelasan, tidak mungkin
Namun berbeda dengan pendapat para
Allah mengharamkan sesuatu kepada manusia
tokoh di atas, Munawir Sadzali menyatakan
yang tidak mereka ketahui bentuknya. Segala
bahwa usaha bank adalah menjalankan
kelebihan dari modal adalah riba, sedikit
dana nasabah yang disimpan di bank,
maupun banyak. Setiap tambahan dari
modal yang disyaratkan atau ditentukan kemudian dana tersebut dipinjamkan ke
nasabah yang kekurangan dana. Di mana
di­awal, semata dikarenakan adanya unsur
kebanyakan orang yang meminjam di
tenggang waktu adalah riba. Pemahaman
bank untuk keperluan modal usaha, bukan
riba ini sesuai dengan Q.s. al-Baqarah [2]:
kebutuhan konsumtif. Tentunya tidak adil
278-279.31 Wahbah al-Zuhaylî sebagaimana
jika penabung dan pihak bank sebagai
dikutip dalam Mas’adi, mengkategorikan
mediator tidak mendapatkan imbalan dari
bunga bank sebagai riba nasî’ah, karena
pengorbanan penabung dan jasa yang telah
kelebihan atau tambahan yang dipungut
dilakukan bank. Lagi pula sistem bunga
tidak disertai imbalan, melainkan karena
yang diterapkan oleh perbankan merupakan
semata-mata penundaan tenggang waktu
sistem bunga yang sehat.36
pembayaran.32
Sedangkan Umar Shihab menyatakan
Senada dengan Wahbah al-Zuhaylî,
bahwa tidak sepantasnya bunga bank di­
Adiwarman A. Karim memasukkan bunga
haramkan, sebab tujuan dan metode pe­
bank dalam ketegori riba nasî’ah. Dikarena­kan
laksanaan bunga jauh berbeda dengan riba
adanya bunga disebabkan adanya perbedaan
pada masa jahiliyah yang telah diharamkan
kualitas, perubahan waktu atau tambahan
dalam Alquran. Beliau memberikan empat
jumlah antara barang yang diserahkan hari
ini dengan barang yang diserahkan kemudian. alasan mengapa bunga bank dihalalkan.
Pertama, jumlah bunga yang dipungut
Ini artinya untung dan hasil usaha muncul
dan diberikan bank kepada nasabah jauh
hanya karena berjalannya waktu. Padahal
lebih kecil jika dibandingkan dengan riba
dalam bisnis selalu ada kemungkinan untung
yang berlaku pada zaman jahiliyah; Kedua,
dan rugi.33
Abdul Mannan mengatakan bahwa jika
34
M. Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam,
(Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), h. 120.
31
Yûsuf al-Qaradhâwî, Fawâ’id al-Bunûk Hiya al-Ribâ al- 35
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah: dari Teori
Harâm: Dirâsat al-Fiqhiyyah fî Dhau’ al-Qur’ân wa al-Sunnah dan Praktik, h. 82.
wa al-Waqî’ (Bayrût: Muassasat al-Risâlah, 1993), h. 44-45. 36
Bani Syariif Maula, “Perspektif Ekonomi Islam Tentang
32
Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, Bunga Uang: Sebuah Kajian Normatif tentang Hutang-Piutang
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 166. dalam Perbankan” dalam Himmah, Vol. 13, Mei-Agustus, tahun
33
Adiwarman Karim, Bank Islam, h. 65. 2004, h. 38-39.
656|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

pemungutan bunga tidak akan membuat Alquran dengan tegas telah melarang
bank atau nasabah memperoleh keuntungan semua transaksi bisnis yang mengandung
besar dan kedua belah pihak (bank dan unsur kecurangan dalam segala bentuk ter­
nasabah) tidak akan merasa dirugikan hadap pihak lain: hal itu mungkin dalam
dengan pemberian bunga; Ketiga, tujuan segala bentuk penipuan atau kejahatan,
peminjaman yang dilakukan nasabah untuk atau memperoleh keuntungan dengan tidak
keperluan produktif, sedangkan riba pada semestinya atau risiko yang menuju ketidak­
zaman jahiliyah untuk keperluan konsumtif; pastian di dalam suatu bisnis atau sejenisnya.
Keempat, adanya kerelaan kedua belah pihak Dalam Q.s. al-An’am [6]: 152 dijelaskan
yang bertransaksi. Bunga bank identik sebagai berikut:
dengan jual beli yang didasari atas suka
sama suka (antarădhin) antara nasabah dan
bank.37
Para sarjana Islam manyatakan dengan
tegas bahwa larangan riba bukanlah me­
ngisolasi hukum agama, tetapi suatu bagian
integral ekonomi Islam yang dengannya
mengandung keseluruhan etos, tujuan serta
nilai-nilai.
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim,
Definisi dan Dasar Hukum Gharar kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat,
hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah
Kata gharar berarti halayan atau penipuan,
takaran dan timbangan dengan adil. kami
tetapi juga berarti risiko. Dalam keuangan tidak memikulkan beban kepada sesorang me­
biasanya diterjemahkan tidak menentu, lainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila
spekulasi atau risiko. Keuntungan yang terjadi kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku
disebabkan kesempatan dengan penyebab tak adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan
dapat ditentukan, adalah dilarang. Karena penuhilah janji Allah, yang demikian itu di­
mengandung risiko yang terlampau besar perintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
dan tidak pasti. Gharar dilarang dalam Islam (Q.s. al-An’am [6]: 152).
bukan untuk menjauhi risiko. Tentu saja Gharar hukumnya dilarang dalam Islam,
risiko yang sifatnya komersil disetujui dan oleh karenanya melakukan transaksi atau
didukung dalam Islam. Setiap jenis kontrak memberikan syarat dalam akad yang ada
yang bersifat open-ended mengandung unsur unsur ghararnya hukumnya tidak boleh.
gharar.38 Sebagaimana hadis menyebutkan:
Konsep gharar dapat dibagi menjadi
dua kelompok, pertama, adalah unsur risiko
yang mengandung keraguan, probabilitas 39

dan ketidakpastian secara dominan. Kedua,


Rasulullah Saw. melarang jual beli yang me­
unsur meragukan yang dikaitkan dengan ngandung gharar. (H.r. Bukhâri Muslim).
penipuan atau kejahatan oleh salah satu
pihak terhadap pihak lainnya. Bisnis yang sifatnya gharar tersebut me­
rupakan jual beli yang tidak memenuhi
per­janjian dan tidak dapat dipercaya, dalam
37
Umar Syihab, Hukum Islam dan Transformasi Pemikiran,
(Semarang: Dina Utama, 1996), h. 83.
38
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy, 39
Muslim bin al-Hajjaj Abû Husain al-Qusyairi, Shahîh
h. 59. Muslim, juz 5, h. 135.
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |657

keadaan bahaya, tidak diketahui harganya, me­larang tentang gharar tersebut, Vogel
barangnya, keselamatannya-kondisi barang-, secara terang-terangan telah melarang
waktu memperolehnya. Dengan demikian gharar dalam spektrum menurut derajat
antara yang melakukan transaksi tidak me­ tingkat risiko, meliputi: spekulasi murni,
nge­tahui batas-batas hak yang diperoleh hasil tidak pasti, masa depan manfaat tidak
melalui transaksi tersebut. Sedangkan dalam tahu, dan ketidaktepatan. Ia menyimpulkan
konsepsi fikih yang termasuk ke dalam jenis bahwa, gharar muncul disebabkan, 1).
gharar adalah membeli ikan dalam kolam, Oleh karena ketiadaan pengetahuan (jahl:
membeli buah-buahan yang masih mentah di ketidaktahuan), 2). Sebab obyek sekarang
pohon. Praktik gharar ini, tidak dibenarkan tidak ada, 3). Sebab obyek tidak pada
salah satunya dengan tujuan menutup pintu kekuasaan penjual.42
lagi munculnya perselisihan dan perbuatan Kalau dilihat dari hukum keharaman
kedua belah pihak. dan kehalalannya, jual beli yang sifatnya
Lebih jelasnya, gharar merupakan situasi gharar terbagi menjadi tiga:
dimana terjadi uncomplete information 1. Bila kuantitasnya banyak, hukumnya
karena adanya ketidakpastian kedua belah dilarang berdasarkan ijmâ’. Seperti men­
pihak yang bertransaksi. Dalam gharar ini, jual ikan yang masih dalam air dan
kedua belah pihak sama-sama tidak me­ burung yang masih di udara.
miliki kepastian me­ngenai sesuatu yang di 2. Bila jumlahnya sedikit, hukumnya di­
transaksikan. Gharar bisa terjadi bila kita bolehkan menurut ijmâ’. Seperti pondasi
mengubah sesuatu yang seharusnya bersifat rumah (dalam transaksi jual beli rumah).
pasti menjadi tidak pasti.40
3. Bila kuantitasnya sedang-sedang saja,
Sebagaimana riba, gharar juga mendapat hukumnya masih diperdebatkan. Namun
larangan tegas meskipun sedikit banyak parameter untuk mengetahui banyak se­
samar-samar. Dalam fikih gharar dimaklumi dikitnya kuantitas, dikembalikan kepada
apabila dalam keadaan butuh (hâjat) yang kebiasaan.
tidak bisa dialihkan kecuali dengan ke­
Menurut pada ulama jenis dan tingkatan
sulitan besar (dharûrah). Banyak hadis
gharar itu berbeda-beda. Pertama, gharar
yang me­nyatakan tentang konsep transaksi
berat. Batasan gharar berat yaitu “huwa
komersial yang penuh dengan ketidak
mâ kâna ghâliyan fî al-‘aqdi hattâ shâra al-
pastian.41 Atas dasar banyaknya hadis yang
‘aqdu yûsofu bih” (gharar [berat] itu adalah
gharar yang sering terjadi pada akad hingga
40
Sebagai contoh, sebagai karyawan kita menanda tangani menjadi sifat akad tersebut). Contoh gharar
suatu kontrak kerja di suatu perusahaan dengan gaji Rp. 400 ribu
per-bulan. Kontrak ini bersifat pasti dan mengikat kedua belah
berat ini, yaitu menjual buah-buahan yang
pihak, sehingga tidak ada pihak yang mengubah kesepakatan belum tumbuh, menyewakan (ijârah) suatu
yang sudah pasti itu menjadi tidak pasti. Misalnya, mengubah
sistem gaji menjadi Rp. 400 ribu/per-bulan tersebut menjadi
manfaat barang tanpa batas waktu, memesan
sistem bagi hasil dari keuntungan perusahaan. Lihat Adiwarman barang (akad salam) untuk barang yang
Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Raja tidak pasti ada pada waktu penyerahan.
Grafindo Persada, 2004), h. 31.
41
“Janganlah kau beli ikan yang ada di laut, karena hal Gharar jenis ini hukumnya haram, karena
tersebut termasuk gharar”. “Rasulullah melarang jual beli kuda dapat menimbulkan perselisihan antar pelaku
yang masih mengandung”. “Nabi melarang jual beli benda
yang terdapat dalam kandungan, karung, seorang budak yang bisnis dan akad yang disepakati tidak sah.
sedang melarikan diri,…”darbat al-fa’is” (jual beli di tempat
pertama kali penyelam menyelam”. “Siapapun membeli bahan
makanan, janganlah ia menjualnya kembali sampai ia benar- sampai mereka menjadi hitam, dan biji-bijian sampai bijian-
benar memilikinya.” “Orang yang telah membeli makanan, bijian tersebut telah mengeras”.
janganlah menjualnya kembali sampai ia menimbang lagi 42
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
makanan tersebut.” “Nabi melarang penjualan buah anggur h. 60.
658|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

Kedua, gharar ringan, yaitu gharar suatu sistem ekonomi, yaitu memiliki suatu
yang tidak bisa dihindarkan dalam setiap aturan, ideologi untuk membenarkan, dan
akad dan dimaklumi menurut ‘urf tujjâr suatu suara hati individu membuat ia bekerja
(tradisi pebisnis) sehingga pihak-pihak yang keras ke arah tujuan. Dimensi etislah yang
bertransaksi tidak dirugikan dengan gharar sering dilupakan.46
tersebut. Seperti membeli rumah tanpa Sistem etik ekonomi menekankan
melihat fondasinya, menyewakan rumah produk, kewajaran dan kejujuran di dalam
dalam beberapa bulan yang berbeda-beda per­dagangan serta kompetisi yang adil (17:
jumlah harinya, menjual buah-buahan yang 35, 26: 181-183, 104: 2-4). Perihal per­
ada dalam tanah, menjual sesuatu yang hanya timbangan yang etik untuk larangan riba,
bisa diketahui jika dipecahkan atau dirobek. terdapat tiga hal, riba secara tidak wajar,
Gharar jenis ini dibolehkan dan akad yang eksploitasi dan tidak produktif. Bunga
disepakati tetap sah.43 dalam pandangan tradisional mendasarkan
hubungan antara pemberi pinjaman dan
Riba dan Gharar: Tinjauan Etika Ekonomi peminjam, dalam hal ini peminjam sendiri
Islam baik dia rugi ataupun mendapat manfaat
Sebelum menganalisis lebih jauh mengenai ditanggung sendiri. Sebaliknya pemberi
etika ekonomi (bisnis) dalam Islam, ter­ pinjaman mencari uang tanpa tergantung
lebih dahulu akan dipaparkan mengenai dengan hasil bisnis spekulasi tersebut.
definisi dari etika itu sendiri. Etika adalah Islam menyukai risiko kerugian ditanggung
cabang filsafat yang mempelajari baik bersama dengan kesepakatan oleh keduanya.
buruk­ n ya perilaku manusia. Kerena itu Dalam hal ini Islam menolak gharar yang
etika dalam segi ini sering juga disebut selalu spekulatif.47
“filsafat praktis”.44 Apabila ditambah dengan Secara etika pelarangan riba dikarenakan
ekonomi (bisnis)-etika ekonomi-berarti tidak etis melakukan transaksi yang meng­
sebuah filsafat praktis yang membahas eksploitasi pihak lain. Secara ekonomi ini
seputar ekonomi (bisnis). tentunya akan merugikan satu pihak dan
Etika dalam ekonomi mengkaji tentang menguntungkan pihak lain. Riba ini dilarang
ekonomi yang memiliki etika sebagaimana bertujuan agar tidak ada pihak-pihak yang
wilayah-wilayah lain dari segi kehidupan bertransaksi dalam ekonomi yang dirugikan
manusia, seperti politik, budaya, sosial dan dan agar uang tidak menjadi komoditas
sebagainya. Artinya etika dalam hal ini belum tetapi sebagai alat tukar yang menghasilkan
merupakan suatu topik tersendiri. Ia masih barang.
sebagai cabang satu topik bernama ekonomi Hal yang sama dengan gharar. Secara
(bisnis). Kemudian pada tahun 1970-an etika etika pelarangan gharar dikarenakan tidak
ekonomi (bisnis) baru muncul sebagai satu etis melakukan transaksi yang belum jelas
topik tersendiri yang terlepas dari kerangka dan mengandung ketidakpastian kedua belak
topik ekonomi (bisnis).45 pihak. Secara ekonomi ini tentunya akan
Joan Robinson, sebagaiman dikutip oleh merugikan satu pihak dan menguntungkan
Ibrahim Warde, mensyaratkan tiga hal untuk pihak lain. Gharar ini dilarang bertujuan
agar tidak ada pihak-pihak yang bertransaksi

43
Adiwarman A. Karim dan Oni Sahroni, Riba, Gharar
dan Kaidah-kaidah Ekonomi, h. 82-83. 46
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
44
K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta: Kanisius, h. 62.
2000), h. 35. 47
Ibrahim Warde, Islamic Finance In The Global Economy,
45
K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, h. 37. h. 63.
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |659

dalam ekonomi yang dirugikan karena tidak Dengan menjadikan wahyu sebagai pe­
mendapatkan haknya dan agar tidak terjadi nge­tahuan tertinggi tentang kriteria yang
perselisihan dan permusuhan di antara yang baik dan yang buruk, maka ajaran Islam
bertransaksi.48 tentang etika dan moral bersifat mutlak,
Harus kita cermati bahwa, mengapa yang menganggap riba dan gharar merupa­
Islam melarang riba dan gharar. Sebab riba kan suatu bentuk yang menyalahi kaidah
dan gharar merupakan suatu sikap yang moral dan etika Islam. Selain bersifat
menyalahi nilai-nilai yang telah ada dalam mutlak tersebut etika Islam juga sifatnya
Islam itu sendiri, baik itu dari segi etika, permanen, eternal dan universal. Ia tidak
moral dan akhlak. Secara umum nilai-nilai tunduk terhadap ruang dan waktu tapi
(etika) Islam dirangkum dalam empat prinsip mangatasi ruang dan waktu. Nilai-nilai
pokok: moral dalam Islam berlaku untuk semua
1. Tauhid. Prinsip ini mengantarkan ma­ orang dan semua tempat tanpa memandang
nusia mengakui bahwa keesaan Allah me­ latar belakang etnis kesukuan, kebangsaan,
ngandung konsekuensi keyakinan bahwa dan keadaan sosio kultural serta lingkungan
segala sesuatu bersumber serta kesudah­ geografis mereka. Dalam Islam hanya ter­
annya berakhir kepada Allah. Prinsip ini dapat kode moral untuk semua orang.
menghasilkan “kesatuan-kesatuan” yang Nilai-nilai moral yang diajarkan oleh
beredar dalam orbit tauhid. Kesatuan Islam mempunyai kesetabilan keserbatetapan
itu antara lain, kesatuan kemanusiaan, dan ketegasan sebagaimana dinyatakan oleh
kesatuan alam raya, kesatuan dunia dan Allah dalam struktur ajaran-ajaran-Nya yang
akhirat. berbentuk perintah dan larangan. Apa yang
2. Keseimbangan. Prinsip ini mengantarkan disuruh oleh Allah adalah baik maka itu
manusia Muslim meyakini bahwa segala harus dikerjakan, sedang apa yang dilarang-
sesuatu diciptakan Allah dalam keadaan Nya adalah buruk dan oleh karena itu ia
seimbang dan serasi. (Q.s. al-Mulk [67]: harus ditinggalkan. Sementara itu Islam
3). Prinsip ini menuntun prinsip-prinsip juga menyediakan sanksi-sanksi untuk mem­
yang lainnya. pertahankan cita-cita etis ini.
3. Kehendak bebas. Merupakan prinsip yang Agama memberi petunjuk bagaimana
mengantarkan seorang Muslim meyakini moral (etika, akhlak) itu dijalankan. Agama­
bahwa Allah memiliki ke­bebasan mutlak, lah yang memberikan hukum-hukum moral
namun juga Allah mem­berikan kebebasan dan karenanya agamalah yang memberikan
kepada manusia untuk memilih jalannya sanksi yang terakhir dari semua tindakan-
sendiri, baik itu yang baik ataupun yang tindakan moral.50 Sementara itu pula, Islam
buruk. Inilah kemudian, dasar lahirnya mengajarkan seperangkat latihan-latihan per­
prinsip tanggung jawab. ibadatan, salat misalnya, yang dimaksudkan
untuk membina dan mengantarkan manusia
4. Tanggung jawab. Manusia sebagai
ke tingkat pencapaian kualitas moral yang
individu dan kolektivitas mempunyai
luhur dan mulia. Seperti yang dititahkan
ke­bebasan penuh untuk menentukan
oleh Allah dalam Q.s. al-‘Ankabût [29]: 45,
nasibnya sendiri, tapi harus sesuai dengan
sebagai berikut:
kaidah-kaidah Islam.49

48
Oni Sahroni dan Adiwarman A. Karim, Maqâshid
Bisnis dan Keuangan Islam: Sintesis Fikih dan Ekonomi, (Jakarta: atas Berbagai Persoalan Umat, (Jakarta: Mizan, 1998), h. 409-410.
Rajawali Pers, 2015), h. 94. 50
Faisal Ismail, Pijar-pijar Islam Pergumulan Kultur dan
49
M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran: Tafsir Maudhu’i Struktur, (Yogyakarta: LESFI, 2003), h. 258.
660|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

jika dibandingkan dengan riba yang berlaku


pada zaman jahiliyah; Kedua, pemungutan
bunga tidak akan membuat bank atau nasabah
memperoleh keuntungan besar dan kedua
belah pihak (bank dan nasabah) tidak akan
merasa dirugikan dengan pemberian bunga;
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada­
Ketiga, tujuan pe­minjaman yang dilakukan
mu, yaitu Al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari nasabah untuk keperluan produktif, sedangkan
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan riba pada zaman jahiliyah untuk keperluan
sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah konsumtif; Keempat, adanya kerelaan kedua
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat belah pihak yang bertransaksi. Bunga bank
yang lain). dan Allah mengetahui apa yang identik dengan jual beli yang didasari atas
kamu kerjakan. (Q.s. al-‘Ankabût [29]: 45). suka sama suka (‘antarâdhin) antara nasabah
dan bank.
Penutup Begitu juga halnya dengan hukum
Dari apa yang telah dijelaskan bahwa tidak gharar. Di mana gharar merupakan situasi
mudah menjelaskan riba, apalagi dikait­ di­mana terjadi uncomplete information karena
kan dengan bunga pada lembaga keuangan adanya ketidakpastian kedua belah pihak
modern (bank), perdebatan dan perbedaan yang bertransaksi, dan bahkan mengubah
pan­dangan tentang riba tidak akan ada sesuatu yang seharusnya bersifat pasti men­
habisnya. Pembicaraan Alquran tentang jadi tidak pasti. Hal semcam ini dilarang
riba sama dengan tahapan pembicaraan untuk dilakukan transaksi. Walaupun dalam
tentang khamr. Pada tahap pertama sekedar fikih gharar dimaklumi apabila dalam ke­
menggambarkan adanya unsur negatif di adaan butuh (hâjat) yang tidak bisa di­
dalamnya (al-Rûm [30]: 39), kemudian alihkan kecuali dengan kesulitan besar
disusul dengan isyarat tentang keharamannya (dharûrah). Dalam jual beli yang sifatnya
(al-Nisâ’ [4]: 161), selanjutnya pada tahap gharar terbagi menjadi tiga, yaitu 1) bila
ketiga, secara eksplisit dinyatakan keharaman kuantitasnya banyak, hukumnya dilarang
salah satu bentuknya (Ali Imrân [3]: 130), berdasarkan ijmâ’. Seperti menjual ikan yang
dan pada tahap terakhir, diharamkan secara masih dalam air dan burung yang masih di
total dalam berbagai bentuknya (al-Baqarah udara; 2) bila jumlahnya sedikit, hukumnya
[2]: 278-279). dibolehkan menurut ijmâ’. Seperti fondasi
Di kalangan para ahli fikih Islam kon­ rumah (dalam transaksi jual beli rumah);
temporer, ada perbedaan pendapat dalam me­ 3) Bila kuantitasnya sedang-sedang saja,
mandang ‘illat hukum riba dan bunga bank, hukum­ nya masih diperdebatkan. Namun
sebagian mengatakan ‘illat riba dan bunga parameter untuk mengetahui banyak sedikit­
bank itu sama, yaitu adanya tambahan atau nya kuantitas, dikembalikan kepada ke­biasaan
bunga tanpa disertai imbalan. Sebagian yang (adat). Kebiasaan orang dalam menaksir yang
lain menyatakan bahwa tidak sepantasnya akan ditransaksikan.
bunga bank diharamkan, sebab tujuan dan Jika dilihat dari sisi etika transaksi Islam,
metode pelaksanaan bunga jauh berbeda baik riba, bunga dan gharar menyalahi
dengan riba pada masa jahiliyah yang telah ke­e tisan dalam transaksi. Sistem etik
diharamkan dalam Alquran. Alasannya yaitu, ekonomi menekankan produk, kewajaran
pertama, jumlah bunga yang dipungut dan dan kejujuran di dalam perdagangan serta
diberikan bank kepada nasabah jauh lebih kecil kompetisi yang adil. Pertimbangan yang
Efa Rodiah Nur: Riba dan Gharar  |661

etik untuk larangan riba, terdapat tiga hal, _____, Bank Islam: Analisis Fiqh dan
riba secara tidak wajar, eksploitasi dan tidak Keuangan, Jakarta: Raja Grafindo
produktif. Hal yang sama dengan gharar. Persada, 2004.
Secara ekonomi ini tentunya akan merugikan Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
satu pihak dan menguntungkan pihak lain. (MUI), Nomor 1 Tahun 2004, Tentang
Riba ini dilarang bertujuan agar tidak Bunga (Intersat/Faidah).
ada pihak-pihak yang bertransaksi dalam
Mannan, M. Abdul, Teori dan Praktik
ekonomi yang dirugikan dan agar uang tidak
Ekonomi Islam, Yogyakarta: Dana Bhakti
menjadi komoditas tetapi sebagai alat tukar
Prima Yasa, 1997.
yang menghasilkan barang. Gharar dilarang
bertujuan agar tidak ada pihak-pihak yang Mas’adi, Ghufron A, Fiqh Muamalah
bertransaksi dalam ekonomi yang dirugikan Kontekstual, Jakarta: Raja Grafindo
karena tidak mendapatkan haknya dan agar Persada, 2002.
tidak terjadi perselisihan dan permusuhan Maula, Bani Syariif, “Perspektif Ekonomi
di antara yang bertransaksi. Islam Tentang Bunga Uang: Sebuah
Kajian Normatif tentang Hutang-Piutang
Pustaka Acuan dalam Perbankan” dalam Himmah, Vol.
13, Mei-Agustus, tahun 2004.
Ahmad, Zainal Abidin, Dasar-dasar Ekonomi
Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979. Muhamad, Sistem dan Prosedur Oprasional
Bank Syari’ah, Yogyakarta: UII Press,
Antonio, Muhammad Syafi’i, Bank Syari’ah:
2000.
dari Teori dan Praktik, Jakarta: Gema
Insani Press, 2001. Qaradhâwî, al-, Yûsuf, Fawâ’id al-Bunûk Hiya
al-Ribâ al-Harâm: Dirâsat al-Fiqhiyyah
_____, Bank Syari’ah: Wacana Ulama dan
fî Dhau’ al-Qur’ân wa al-Sunnah wa
Cendekiawan, Jakarta: Central Bank of
al-Waqî’, Bayrût: Muassasat al-Risalah,
Indonesia and Tazkia Institute, t.t.
1993.
Bertens, K., Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta:
Qayyim, Ibn dan Taimiyyah, Ibn, Islam
Kanisius, 2000.
dalam Tinjauan Akal dan Hikmah,
Chapra, Umar, Sistem Moneter Islam, Jakarta: Jakarta: Pustaka Azzam, 2001.
Gema Insani Press, 2000.
Qusyairi, al-, Muslim bin al-Hajjaj Abû
DEPAG RI, Alquran dan Terjemahnya, Husain, Shahîh Muslim, juz 3, Bayrût:
Jakarta: Bumi Restu, t.t. Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, t.t.
Hasyim, Muhammad Syarif “Bungan Saeed, Abdullah, Menyoal Bank Syari’ah:
Bank: Antara Paradigma Tekstual dan Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum
Kontekstual” dalam jurnal Hunafa, Vol. Neo-Revivalis, Jakarta: Paramadina, 2004.
5, No. 1, April 2008.
Sahroni, Oni dan Adiwarman A. Karim,
Ismail, Faisal, Pijar-pijar Islam Pergumulan Maqâshid Bisnis dan Keuangan Islam:
Kultur dan Struktur, Yogyakarta: LESFI, Sintesis Fikih dan Ekonomi, Jakarta:
2003. Rajawali Pers, 2015.
Karim, Adiwarman A. dan Oni Sahroni, Shawi, al-, Abdullah al-Muslih Shalah Bunga
Riba, Gharar dan Kaidah-kaidah Bank Haram? Menyikapi Fatwa MUI
Ekonomi Syariah: Analisis Fikih dan Menuntaskan Kegamangan Umat, Jakarta:
Ekonomi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, Darul Haq, 2003.
2015.
Shihab, M. Quraish, Membumikan Alquran,
662|  AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 3, Juni 2015

Bandung: Mizan, 1993. Utsmani, Muhammad Taqi, The Text of


_____, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Historical Judgement on Riba, Kuala
Keserasian Alquran, Jil. II, Jakarta: Lumpur: The Other Press, 2001.
Lentera Hati, 2011. Warde, Ibrahim, Islamic Finance In The
_____, Wawasan Alquran: Tafsir Maudhu’i Global Economy, Edinburgh University
atas Berbagai Persoalan Umat, Jakarta: Press, 2001.
Mizan, 1998. Zuhdi, Masfuk, Masail Fiqhiyah, Jakarta:
Syihab, Umar, Hukum Islam dan Transformasi Gunung Agung, 1994.
Pemikiran, Semarang: Dina Utama, 1996.