You are on page 1of 25

Laporan Tugas Akhir Muatan Lokal

BADAN SAR NASIONAL (BASARNAS)

Oleh Kelompok II

Farhani Afifi (H1A013024)


Ida Ayu Diah Pramita K.D (H1A013027)
M. Rizqi Kholifaturohmy (H1A212041)

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN MUATAN LOKAL DOKTER KEPULAUAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah, rahmat

dan karunia-Nya laporan kunjungan kelompok ini dapat tersusun tepat pada

waktunya. Laporan kelompok ini merupakan salah satu penugasan pada

kepaniteraan klinik madya Muatan Lokal Kedokteran Kepulauan selama menjadi

mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.

Laporan kunjungan ini akan membahas mengenai Badan SAR Nasional

dalam melakukan evakuasi pada korban dan terdapat laporan kasus yang pernah

ditangani oleh Basarnas Mataram. Penulis menyadari dalam penyusunan laporan

ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan, oleh sebab itu

penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca,

guna perbaikan dan penyempurnaan tugas ini di masa yang akan datang.

Mataram, Desember 2018

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue, adalah kegiatan dan
usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau
dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah – musibah seperti
pelayaran, penerbangan, dan bencana. Kedudukan Badan Nasional Pencarian dan
Pertolongan adalah lembaga pemerintah non kementrian yang berada di bawah dan
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 83
Tahun 2016 tentang Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, badan ini memiliki
tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pencarian dan pertolongan. Adapun beberapa perundang-undangan yang dapat
dijadikan landasan eksistensi Badan SAR Nasional meliputi; Undang-Undang
Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2008 tentang Pelayaran, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan, dan beberapa peraturan lainnya.
Keberhasilan kegiatan pencarian, pertolongan, dan penyelamatan sangat
ditentukan oleh koordinasi antar instansi terkait dengan potensi SAR dalam
penyelenggaraan pelayanan SAR. Anggota dari tim SAR sendiri bisa melibatkan
banyak pihak baik dari militer, kepolisian, aparat pemerintah, organisasi
masyarakat dan lain – lainnya. Di Indonesia sendiri, instansi yang bertanggung
jawab di bidang SAR diemban oleh Badan SAR Nasional atau disingkat
BASARNAS, yang memiliki kantor cabang wilayah masing-masing di Indonesia
termasuk provinsi NTB yaitu Kantor SAR Mataram.

3
Tujuan Umum Pemebelajaran

1. Menjelaskan prosedur evakuasi dari tempat penanganan pertama ke layanan


primer maupun ke pusat rujukan (BASARNAS)
2. Mengetahui peran BASARNAS dalam evakuasi kecelakaan di air
3. Mengetahui fasilitas dan kelengkapan penyelamatan yang dimiliki oleh
BASARNAS, cara penggunaanya, langkah antisipasi jika fasilitas atau
kelengkapan alat tidak tersedia, serta sejauh mana pemanfaatan fasilitas dan
kelengkapanya
4. Mahasisawa mempresentasikan suatu kasus penyelamatan korban akibat
trauma atau kecelakaan di air oleh BASARNAS (tahap evakuasi, garis
koordinasi, pihak yang terlibat, kendala yang terjadi, dan upaya untuk
mengatasi kendala)

4
BAB II
ISI

1. Prosedur Evakuasi dari Tempat Penanganan Pertama ke Layanan Primer


Maupun ke Pusat Rujukan (BASARNAS)
Evakuasi merupakan kegiatan memindahkan korban musibah dari lokasi
kejadian ke tempat yang aman sampai mendapat penanganan medis lanjutan yang
memadai. Prosedur evakuasi yang dilakukan oleh BASARNAS dalam kasus
bencana di perairan maupun udara sebagaimana tercantum dalam Keputusan
Kepala Badan SAR Nasional Pasal 10 hingga Pasal 15 terdiri dari 5 tahap yaitu :

a. Tahap menyadari (awareness stage)


Tahap menyadari sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 merupakan
tahap dimana sistem SAR mengetahui terjadinya atau keadaan yang
berpotensi menimbulkan musibah atau bencana. Tindakan dalam tahap
menyadari merupakan tindakan untuk mengumpulkan dan mencatat informasi
yang meliputi :
 identitas pemberi laporan
 jenis musibah atau bencana
 lokasi musibah atau bencana
 jumlah korban
 upaya yang telah dilaksanakan
 jenis kapal atau pesawat yang mengalami musibah

b. Tahap tindak awal (initial action stage)


Tahap dimana dilakukan tindakan pendahuluan untuk menyiapkan
unsur-unsur SAR dan mengumpulkan informasi yang lengkap tentang
terjadinya musibah, yang dilaksanakan dalam tahap tindak awal meliputi :
1) Kepala Kantor SAR melaporkan terjadinya musibah kepada pihak
yang berwenang
2) menghubungi pemilik, operator, dan pengguna kapal atau pesawat
yang mengalami musibah

5
3) melaksanakan pencarian dengan Preliminary Communication
(Precom)
4) menghubungi instansi atau organisasi potensi SAR untuk
menyiapkan unsur SAR yang mereka miliki
5) melaksanakan proses penunjukan SAR Mission Coordinator (SMC)
6) melaksanakan pencarian dengan Extended Communication
(Excom)
7) melakukan koordinasi intensif dengan SRU (tim SAR) yang terkait
8) menyiapkan unsur - unsur SAR yang dimiliki oleh Basarnas.

c. Tahap perencanaan (planing stage)


Tahap dilaksanakannya penyusunan rencana operasi SAR yang efektif
dan efisien. Tindakan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan meliputi :
1) evaluasi situasi lokasi musibah dan hasil pencarian sebelumnya
2) pelaksanaan perhitungan SAR (plotting) yang meliputi :
 memperkirakan lokasi musibah dan bencana
 memperkirakan pergerakan korban setelah musibah
 memperkirakan datum
 menentukan search area
 menentukan SRU yang akan dikerahkan
 menentukan search pattern.
3) menyusun rencana kegiatan pencarian yang terdiri atas:
 data tentang obyek yang dicari
 penugasan masing-masing SRU
 langkah-langkah yang dilaksanakan di lokasi musibah atau
bencana
 prosedur pelaporan SRU

d. Tahap operasi (operation stage)

6
Tahap dimana dilakukan tindakan untuk menggerakkan fasilitas SAR
menuju lokasi musibah, melaksanakan pencarian, pertolongan, melakukan
pertolongan pertama terhadap korban dan memindahkan korban ke lokasi
yang lebih aman. Tindakan yang dilaksanakan dalam tahap operasi meliputi:
1) melaksanakan briefing kepada Tim SAR
2) memberangkatkan tim SAR ke search area
3) melaksanakan pencarian elektronik maupun visual sesuai dengan track
spacing dan search pattern yang telah ditentukan
4) melaksanakan pertolongan kepada korban yang mengalami musibah
5) melaksanakan evakuasi
6) mengkoordinasikan dan mengendalikan tim SAR di search area
7) melaksanakan penarikan tim SAR dari search area
8) melaporkan temuan-temuan di search area
9) melaporkan perkembangan kegiatan SAR di search area
10) melaksanakan debriefing terhadap tim SAR yang telah menyelesaikan

e. Tahap pengakhiran (conclusion stage)


Tahap dimana tim SAR telah dikembalikan ke instansi/organisasi
masing-masing. Tindakan yang dilaksanakan dalam tahap pengakhiran
meliputi :
1) pengembalian tim SAR ke instansi/organisasi masing-masing
2) pelaksanaan evaluasi penyelenggaraan operasi SAR
3) penyusunan laporan penyelenggaraan operasi SAR
4) penyelesaian penggantian biaya penyelenggaraan operasi SAR

Operasi SAR akan berhasil dengan baik jika berbagai potensi yang
bergabung dalam operasi SAR dikendalikan secara terpadu, melaksanakan operasi
SAR sesuai dengan rencana operasi yang telah dibuat, sehingga pelaksanaan
operasi SAR tidak berjalan masing-masing.

Organisasi operasi adalah sebagai berikut :

7
1. SC (SAR Coordinator) dijabat oleh Kepala Badan SAR Nasional, dapat di
delegasikan kepada Gubernur/ Bupati/ Walikota Madya Tk. Pejabat lain
yang dianggap mampu.
2. SMC (SAR Mission Coordinator) dijabat oleh pejabat Basarnas/Kantor
SAR/ pejabat dari Instansi lain yang memenuhi persyaratan kualifikasi,
mampu memimpin dan mengendalikan tugas SAR secara terkoordinasi dan
terpadu.
3. OSC (On Scene Coordinator) dijabat oleh Kapten/ nahkoda kapal, yang
armadanya datang pertama kali ditempat musibah (pelayaran dan
penerbangan). OSC ini bekerja terus hingga ada yang menggantikannya.
4. SRU (Search and Rescue Unit) yaitu Satuan Tugas SAR yang terdiri dari
beberapa kapal, pesawat terbang dan Tim Rescue. Satgas SAR di tiap lokasi
musibah dipimpin oleh seorang OSC yang berada di bawah SMC.

Gambar Organisasi Tugas Operasi SAR

Medical Evacuation
Medical evacuation merupakan suatu tindakan yang diberikan kepada
korban yang dievakuasi yang mengalami kegawatdaruratan sehingga diperlukan
penjemputan untuk penanganan medis lanjutan. Tim Rescue Basarnas
berkemampuan MFR (Medical First Responder) adalah tim yang menolong para
korban kecelakaan atau bencana dan setelah mereka menemukan dan
menstabilkan korban mereka diwajibkan untuk langsung mengevakuasi korban

8
ke Pelayanan Medis Lanjutan baik itu Puskesmas/Klinik/Rumah sakit. Dalam
proses evakuasi korban ke layanan kesehatan, terdapat beberapa formulir yang
harus dilengkapi yaitu formulir serah terima korban, yang akan diberikan kepada
layanan kesehatan tempat korban dirujuk.

Gambar Formulir Serah Terima Korban

9
Gambar Formulir Serah Terima Korban (Lanjutan)

2. Peran BASARNAS dalam evakuasi kecelakaan di air


Penyelenggaraan Operasi Pencarian dan Pertolongan seperti kasus evakuasi
di perairan menjadi tugas dan tanggung jawab Badan SAR. Badan SAR berperan
dalam mengoordinasikan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan evakuasi
tersebut. Peran dari Badan SAR dalam evakuasi kecelakaan sebagaimana tercantum
dalam Peraturan Presiden 99 tahun 2017 tentang Badan SAR Nasional Pasal 37
berbunyi :

10
1. Dalam hal terjadi musibah pelayaran dan/atau penerbangan, atau
bencana atau musibah lainnya, BASARNAS atau melalui Unit
Pelaksana Teknis BASARNAS dan/atau Pos SAR terdekat segera
mengambil langkah-langkah yang diperlukan serta melaksanakan
tindak awal dan operasi SAR sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
2. Pelaksanaan operasi SAR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,
instansi/organisasi potensi SAR, dan pihak lain terkait.

Pasal 38 berbunyi :
1. Unit Pelaksana Teknis BASARNAS dan/atau Pos SAR sebagaimana
dimaksud pada Pasal 37 dapat meminta bantuan kepada Unit Pelaksana
Teknis BASARNAS dan/atau Pos SAR lain sesuai dengan kebutuhan
dalam pelaksanaan operasi SAR.
2. Unit Pelaksana Teknis BASARNAS dan/atau Pos SAR lain
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan bantuan dalam
pelaksanaan operasi SAR.

Pada setiap evakuasi, BASARNAS merupakan institusi yang memimpin


jalannya evakuasi baik di darat maupun air. BASARNAS berkoordinasi dengan
pihak lain dan biasanya membentuk tim gabungan dalam setiap operasi SAR yang
disebut tim SAR. Tim SAR terdiri dari BASARNAS dan pihak-pihak lain seperti
kepolisian, TNI, tenaga medis, dan masyarakat. Adapun tahapan operasi SAR pada
setiap evakuasi yaitu :

 Tahap menyadari (Awareness Stage), yaitu saat diketahui/disadari terjadinya


keadaan darurat.
 Tahap tindak awal (Initial Action Stage), saat dilakukan tindakan awal sebagai
respon adanya musibah.
 Tahap perencanaan operasi (Planning stage), saat dilakukan rencana operasi
yang efektif untuk melaksanakan operasi SAR.

11
 Tahap operasi (Operation stage), saat dilakukannya operasi pencarian dan
pertolongan.
 Tahap pengakhiran operasi (Mission conclusion stage), saat dinyatakan
operasi SAR selesai dan seluruh unsur dikembalikan ke satuan masing-
masing.

3. Fasilitas dan Kelengkapan Penyelamatan yang Dimiliki oleh BASARNAS


serta Cara Penggunaanya
Berikut adalah beberapa fasilitas dan kelengkapan penyelamatan yang dimiliki
oleh BASARNAS yang ditemui saat kunjungan lapangan, meliputi :
a. Perlengkapan menyelam
Perlengkapan ini digunakan untuk melakukan under water rescue. Pasien
yang tenggelam atau terjebak di dalam kapal yang tenggelam yang akan di
selamatkan oleh tim penyelam. Dalam melakukan penyelaman ada beberapa
kelengkapan yang digunakan yaitu :

 Fins : digunakan untuk memudahkan pergerakan di dalam air


 Selang regulator : digunakan untuk mengalirkan oksigen dari tabung ke
dalam masker atau mouthface. Selang ini dilengkapi dengan alat regulator
yang mengatur jumlah oksigen yang di hirup oleh penyelam.
 Tabung oksigen : Tabung berisi 20% oksigen, 70% nitrogen dan 20% gas-
gas lainnya. Tabung udara ini digunakan untuk bernafas di dalam air.
Tabung ini mempunyai berbagai jenis ukuran tergantung berapa lama
seorang penyelam akan menyelam.

12
 Baju selam : melindungi bagian dalam tubuh saat melakukan penyelaman,
menghindari hipotermi saat melakukan penyelaman.

 Bouyancy Compensator Device : digunakan untuk memberikan bouyancy


pada penyelam saat melakukan ascend. Semacam jaket yang dapat diisi
dengan dialiri udara. Saat BCD ini mengembang tubuh penyelam akan
terangkat ke permukaan air.
 Full masker: Masker yang digunakan saat melakukan penyelaman
 Underwater jetski : Alat ini digunakan untuk memudahkan pergerakan di
dalam air. Berguna seperti mesin pendorong sehingga mempercepat proses
penyelaman. Alat ini menggunakan tenaga baterai, dan mampu hingga
kedalaman 50 meter, dan tergantung pada kecepatan arus

b. Ring Buoy
Kegunaan alat ini adalah untuk menyelamatkan korban tenggelam yang
masih bisa menjangkau suatu benda. Alat ini dapat digunakan oleh 3-4 korban
dengan perpegangan di sisi-sisinya kemudian ditarik oleh penolong. Jika
korban kooperatif dan terjangkau, alat ini dapat dilemparkan ke arah korban

13
dan korban diminta untuk meraih alat yang dilempar. Jika lemparan tidak
sampai ke korban, penolong dapat berenang dan mendekatkan alat ke korban,
setelah alat terpegang korban dapat ditarik oleh penolong. Jika korban tidak
kooperatif, setelah ring buoy dipegang oleh korban, penolong mendorong ring
buoy hingga posisi korban berada diatasnya dan mengambang.

c. Flexible Buoy

Digunakan untuk menyelamatkan korban tengglam dengan jumlah korban


maksimal satu orang. Ikatkan tali pada tubuh penolong, setelah itu penolong
berenang menuju korban, memasang flexible buoy pada korban, bagian yang
mengambang berada di depan korban, secara otomatis pasien akan
mengambang setelah itu penolong menarik korban.
d. Torpedo Buoy

14
Digunakan untuk menyelamatkan korban tenggelam dengan jumlah korban
maksimal satu orang. Ikatkan tali pada penolong kemudian penolong berenang
mendekati korban. Usahakan jangan bersentuhan dengan korban, jaga jarak
sekitar 1 meter dari korban berikan torpedo buoy pada korban, setelah korban
memegang torpedo buoy, penolong kemudian berenang untuk menarik korban.

e. Life Jacket
Alat ini digunakan oleh penyelamat untuk menyelamatkan korban tenggelam.
Alat ini juga dapat digunakan oleh korban yang hampir tenggelam. Jaket di
pasang ditubuh penolong dengan tujuan untuk menambah bouyanci penolong
agar tidak tenggelam. Life jacket juga dapat di gunakan oleh korban. Penolong
dapat membawa lebih dari 2 life jacket dan memberikan salah satunya pada
korban yang kooperatif.

f. EMILY (Emergency Integrated Lifesaving Landyard)

15
Alat ini dikendalikan dengan menggunakan remote control, dan dijalankan
menuju ke korban sehingga korban dapat menjangkaunya dan kemudian ditarik
dengan tali.

g. Papan penyelamat
Digunakan untuk menyelamatkan korban di air, biasanya peselancar. Alat ini
dapat mengangkut dua orang yang diminta untuk berbaring diatas papan
kemudian ditarik.

h. Alat transportasi untuk penyelamatan di air


- Jetski.
Sarana ini dapat digunakan untuk menjemput korban yang berada di air.
Sarana ini mampu membawa 2 penumpang

16
- Rubber boat
Perahu berbahan dasar karet yang dapat dikembangkan dan dilipat, yang
dilengkapi dengan motor tempel sebagai sarana pencarian dan pertolongan
di area perairan/ laut

- Rigid Inflatable Boat


Perahu berbahan dasar karet dengan lunas fiber glass serta dilengkapi
kemudi, yang digunakan sebagai sarana pencarian dan pertolongan di area
perairan/ laut. RIB memiliki panjang 10-15 meter dan mampu menampung
hingga 25 orang. Kemampuan jelajah RIB mencapai 32 knot atau kurang
lebih 60 km/jam.

17
- Rescue Boat

Rescue Boat adalah kapal versi SAR yang digunakan sebagai sarana
pencarian dan pertolongan yang dilengkapi dengan peralatan SAR, dan
digolongkan berdasarkan ukuran menjadi 3 (tiga) jenis: Kelas II (panjang
30 s.d. 40 M). Standar Rescue Boat Kelas II; Kelas III (panjang 20 s.d. <
30 M). Standar Rescue Boat Kelas III; Kelas IV (panjang 12 s.d. < 20 M).
Standar Rescue Boat Kelas IV. Boat ini memiliki ruangan untuk korban
selamat (30 seat). Dan ruangan pasien dengan 2 tempat tidur. Daya jelajah
boat ini mencapai 30 mil kearah laut.

- Rescue Ship

Rescue Ship adalah kapal kelas I versi SAR (panjang >40 M) yang
digunakan sebagai sarana pencarian dan pertolongan dilengkapi dengan
peralatan SAR

18
 Perlengkapan medis basarnas
- Tas medis

Digunakan untuk menyimpan perlengkapan medis yang dibawa saat


menolong pasien
- Masker Oksigen
Digunakan untuk memberikan oksigen kepada pasien yang membutuhkan
- Tabung Oksigen
Tabung yang berisi oksigen yang digunakan oleh pasien yang
membutuhkan.
- Handskun
Digunakan untuk proteksi penolong saat menolong korban
- Mayo
Digunakan untuk membebaskan jalan nafas pasien

19
Antisipasi Basarnas Jika Fasilitas Tidak Tersedia Atau Tidak Memadai

Secara umum BASARNAS memiliki fasilitas sarana dan prasarana


penyelamatan yang diperlukan untuk berbagai tindakan atau dapat dikatakan telah
memadai. Akan tetapi perlu dilakukan penambahan fasilitas seperti misalnya
fasilitas kapal yang daya jelajahnya lebih tinggi.

Modifikasi peralatan penyelamatan juga sering dilakukan di lapangan jika


sewaktu-waktu terjadi kekurangan jumlah atau kendala lain, misalnya
menggunakan kayu sebagai bidai, bambu dan sarung untuk tandu, penyelaman
dengan SCUBA menggunakan beberapa tabung (tidak hanya 1 tabung). Selain itu
alat-alat pencarian menggunakan tongkat panjang juga terkadang dimodifikasi
misalnya pada kondisi banyaknya reruntuhan gedung pada gempa, atau penyisiran
korban di tepi-tepi sungai. Basarnas juga sering bekerjasama dengan TNI/AL untuk
menggunakan kapal-kapal besar untuk mengangkut korban.

Pemanfaatan Fasilitas Dan Kelengkapan Penyelamatan

Fasilitas dan kelengkapan penyelamatan seluruhnya dapat dimanfaatkan dengan


baik, dan tidak ada satupun alat yang disfungsi. Seluruh perlengkapan sering
digunakan dalam penanganan berbagai kasus-kasus kecelakaan di air. Selain itu
fasilitas ini sering digunakan untuk pelatihan rescue di beberapa instansi atau
institusi baik di kantor-kantor maupun di sekolah-sekolah.

4. Mempresentasikan Kasus Penyelamatan Korban akibat trauma atau


kecelakaan di air oleh BASARNAS
Diantara kasus laut, kasus darat dan kasus udara, kasus di perairan laut
merupakan kasus yang paling sering ditemui dan ditangani oleh BASARNAS
Mataram, seperti kasus kapal penumpang atau nelayan yang terbakar atau
tenggelam, sampai korban tenggelam terbawa arus baik di pesisir pantai maupun
saat sedang menyelam.

20
1. KASUS YANG DITANGANI
Kasus tenggelam yang terjadi pada tanggal 20 Agustus 2018 di Perairan
desa Nggembe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima dengan satu orang
korban laki-laki berusia 25 tahun.
2. TAHAP-TAHAP EVAKUASI YANG DILAKUKAN
a. Tahap Menyadari

Diawali laporan dari salah satu Pol Air Kab Bima pukul 16.20
WITA kepada Basarnas pada tanggal 20 Agustus 2018 bahwa telah
terjadi kondisi yang membahayakan jiwa satu orang tenggelam di di
Perairan desa Nggembe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima.

Nama Korban : RE
Usia : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Desa Tumpu, RT 02 RW 01, Kecamatan Bolo
Kabupaten Bima
Petugas siaga menyampaikan laporan ke Kasubsi Operasi
perihal informasi tersebut dan meneruskan ke Kepala Kantor Pencarian
dan Pertolongan Mataram.
b. Tahap Tindak Awal
1. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram melalui Kasubsi
Operasi memerintahkan tim rescue Pos Pencarian dan Pertolongan
Bima untuk melakukan operasi SAR dibawah koordinator lapangan.
2. Tim rescue melakukan persiapan terhadap unsur SAR yaitu rescue
D-Max dan membawa sarana SAR air.
c. Tahap Perencanaan
Lokasi kejadian kemudian diperkirakan dengan menggunakan
perhitungan koordinat dan menentukan jarak dari Pos Bima. Kemudian
tim rescue berkoordinasi dengan pihak Polsek kota bima dan kabupaten
Bima, BPBD Bima, Puskesmas Kec. Bolo Kab. Bima, serta masyarakat
setempat terkait upaya pertolongan terhadap korban.

21
d. Tahap Operasi
1. Operasi hari I
Tim Siaga SAR Pos Pencarian dan Pertolongan Bima berangkat ke
lokasi perkiraan kejadian dan telah membawa peralatan SAR air.
Sesampainya di lokasi, tim SAR mulai berkoordinasi dengan
potensi. Berhubung kondisi tidak memungkinkan untuk dilakukan
operasi, operasi dihentikan sementara dan dilanjutkan besok pagi.
Tim rescue menginap di lokasi.
2. Operasi hari II
Tim SAR gabungan kembali melakukan pencarian dan menyusuri
perairan dengan Rubber boat sejauh kurang lebih 126,25 meter dari
lokasi kejadian. Setelah dilakukan pencarian sekitar pukul 11.00
WITA, tim rescue berhasil menemukan korban dalam keadaan
meninggal dunia dan selanjutnya korban dievakuasi denggan
menggunakan ambulan milik Puskesmas kec. Bolo korban dibawa
ke rumah duka.
e. Tahap Akhir Penugasan
Dengan telah berhasil ditemukannya korban dalam keadaan selamat,
maka operasi SAR dinyatakan ditutup, seluruh unsure dan potensi SAR
kembali ke kesatuan masing-masing. Kemudian tim Basarnas membuat
laporan akhir penyelenggaraan operasi SAR.
3. GARIS KOORDINASI
Garis koordinasi dalam evakuasi tersebut diawali dengan adanya laporan
korban tenggelam yang diterima oleh BASARNAS NTB, kemudian
dipastikan kembali apakah informasi tersebut benar atau tidak (Incerta).
Sebelum dilakukan pencarian dilakukan Alerfa (persiapan dan kesesuaian
alat pertolongan), wilayah pencarian ditentukan berdasarkan titik terakhir
korban terlihat kemudian dilakukan Detresta (menurunkan personil ke
daerah perairan dimana korban terakhir terlihat). Setelah korban ditemukan,
dilakukan serah terima korban dengan pihak kepolisian dan tenaga medis di
Puskesmas Bima.

22
4. PIHAK YANG TERLIBAT DALAM EVAKUASI
a. Tim Rescue Pos SAR Bima
b. Polsek Bima
c. BPBD Kabupaten Bima
d. Puskesmas kec Bolo Kab Bima
e. Masyarakat setempat
5. KENDALA-KENDALA SELAMA EVAKUASI
Pencarian yang dilakukan karena terhalang oleh kondisi gelap karena
malam hari membuat operasi SAR tidak maksimal dilakukan.
Selain itu arus yang deras mempersulit tim SAR dalam proses evakuasi
korban dari perairan menuju boat yang tim SAR gunakan.
6. UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MENGATASI KENDALA
Upaya yang dilakukan dalam kendala kasus ini adalah dilakukannya
penundaan pencarian hingga pagi hari. Pagi hari pukul tujuh pencarian
dilakukan kembali. Selain itu untuk menghadapai arus yang deras dalam
proses evakuasi korban dari perairan menuju boat yang tim SAR gunakan,
tim sar harus menurunkan penyelam untuk mendekati korban sehingga
memudahkan evakuasi korban menuju boat.
7. PEMBAHASAN KASUS
Pada kasus diatas korban ditemukan meninggal dunia setelah
operasi dilakukan selama 2 hari. Proses pencarian dilakukan dari tanggal 20
Agustus 2018 hingga 21 Agustus 2018 dan dan korban ditemukan sekitar
pukul 11.00 WITA. Dalam kasus ini, tim SAR telah melakukan prosedur
tindakan sesuai dengan tahapan-tahapan evakuasi yakni tahapan menyadari,
tindak awal, perencanaan, operasi, dan akhir penugasan.
Pada tahap menyadari Basarnas mendapatkan laporan dari
Kepolisian Bima dan memastikan terjadinya kasus tersebut. Tindak awal
dilakukan dengan membentuk tim rescue dan mempersiapkan peralatan
pertolongan dan pencarian di air. Pada tahap operasi hari pertama terjadi
kendala karena kondisi yang gelap menyulitkan pencarian, maka operasi
dilanjutkan esok hari pada pagi hari agar memudahkan pencarian korban.

23
Setelah korban ditemukan, Basarnas menutup operasi dan membuat laporan
penanganan yang masuk dalam tahap akhir penugasan.
Dalam melakukan tugasnya, Basarnas memerhatikan 4 hal yaitu
lokasi, akses, stabilisasi pasien, dan transportasi. Pada kasus ini karena
korban dilaporkan tenggelam di sekitar perairan desa Nggembe, Kecamatan
Bolo, Kabupaten Bima, maka penentuan koordinat lokasi pencarian hanya
dihitung dari kemungkinan keberadaan terakhir korban ditambah dengan
kurang lebih 1,25 km daerah pencarian dari lokasi perikiraan. Tim SAR
menggunakan perahu karet (rubber boat) untuk pencarian korban.
Kemudian korban ditemukan sudah tidak bernyawa dan mengapung di
perairain tersebut. Dokter tidak terlibat dalam proses evakuasi pada saat itu
namun sudah standby di pinggir untuk melakukan pertolongan pertama dan
lanjutan terhadap korban yang dievakuasi. Setelah itu transport korban
dilakukan dengan Ambulan Puskesmas Kec. Bolo kab Bima dan langsung
dibawa ke rumah duka. Pada kasus-kasus evakuasi di daerah perairan,
kendala yang umumnya dijumpai meliputi cuaca, ombak, angin serta lokasi
tempat pencarian korban yang menyulitkan. Selain faktor lingkungan,
terkadang pada beberapa kasus terdapat kendala seperti kekurangan
personil, namun jarang dijumpai kendala seperti kekurangan sarana yang
memadai.

24
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Kepala Badan SAR Nasional Nomor 5 Tahun 2012 tentang


Penyelenggaraan Operasi SAR. Available at:
http://jdih.basarnas.go.id/front/product-detail/50 [8 Desember 2018]

Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2007, tentang Badan SAR Nasional. Available
at:
http://peraturan.go.id/inc/view/11e44c4f6b0d13b0b3d8313232313130.htm
l [8 Desember 2018]

UU Nomor 29 Tahun 2014, tentang Pencarian dan Pertolongan. Available at:


http://www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile/lt5462bbb384ad9/p
arent/lt5462bb6c701f7

Kantor Pusat Badan Pencarian dan Pertolongan. 2018. Diakses melalui


http://www.basarnas.go.id. [9 Desember 2018]

Kantor Mataram Badan Pencarian dan Pertolongan. 2018. Diakses melalui


http://www.mataram.basarnas.go.id. [9 Desember 2018]

25