You are on page 1of 18

1

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS

A. DEFINISI
Benigna prostat hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar
prostat, disebabkan karena hiperplasi (penambahan sel-sel) beberapa komponen di
prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan
penyumbatan pada uretra.
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum
pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi
uretral dan pembatasan aliran urinarius

B. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari terjadinya bph sampai sekarang belum
diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon
androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan bph adalah proses penuaan
ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :
1) Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan
stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
2) Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan
penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
3) Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan
epitel dari kelenjar prostat.

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI PROSTAT


Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi / mengitari
uretra posterior dan disebelah proximalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan
bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering
disebut sebagai otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih
sebesar buah kemiri atau jeruk nipis. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4
2

cm, dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm. Beratnya sekitar 20 gram.


Prostat terdiri dari :
 Jaringan Kelenjar  50 - 70 %
 Jaringan Stroma (penyangga) 30 - 50 %
 Kapsul/Musculer
Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang banyak mengandung enzym yang
berfungsi untuk pengenceran sperma setelah mengalami koagulasi (penggumpalan) di
dalam testis yang membawa sel-sel sperma. Pada waktu orgasme otot-otot di sekitar
prostat akan bekerja memeras cairan prostat keluar melalui uretra. Sel – sel sperma
yang dibuat di dalam testis akan ikut keluar melalui uretra. Jumlah cairan yang
dihasilkan meliputi 10 – 30 % dari ejakulasi. Kelainan pada prostat yang dapat
mengganggu proses reproduksi adalah keradangan (prostatitis). Kelainan yang lain
sepeti pertumbuhan yang abnormal (tumor) baik jinak maupun ganas, tidak memegang
peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperanan pada terjadinya
gangguan aliran kencing. Kelainanyang disebut belakangan ini manifestasinya
biasanya pada laki-laki usia lanjut.

D. PATOFISIOLOGI
Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami
hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam
mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini
dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra
prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat
memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan
anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya
selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan
klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract
Symptom/LUTS.
Pada fase-fase awal dari Prostat Hyperplasia, kompensasi oleh muskulus
destrusor berhasil dengan sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak
berubah. Pada fase ini disebut Sebagai Prostat Hyperplasia Kompensata. Lama
kelamaan kemampuan kompensasi menjadi berkurang dan pola serta kualitas miksi
berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari muskulus destrusor menjadi tidak
adekuat sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat proses miksi berakhir
3

seringkali Prostat Hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan


tekanan intra abdominal (mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia
dan haemorhoid puncak dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya
melakukan ekspulsi urine dan terjadinya retensi urine, keadaan ini disebut sebagai
Prostat Hyperplasia Dekompensata. Fase Dekompensasi yang masih akut
menimbulkan rasa nyeri dan dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah
inkontinensia urine secara berkala akan mengalir sendiri tanpa dapat dikendalikan,
sedangkan buli-buli tetap penuh. Ini terjadi oleh karena buli-buli tidak sanggup
menampung atau dilatasi lagi. Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidak
mampuan otot detrusor memompa urine dan menjadi retensi urine.Retensi urine yang
kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal.

E. MANIFESTASI KLINIK
Adapun Gejala klinik dapat berupa :
 Frekuensi berkemih bertambah terutama malam hari (Nocturia)
 Kesulitan dalam memulai (hesitency) dan mengakhiri berkemih
 Miksi terputus (hermittency)
 Urine masih tetap menetes setelah selesai berkemih (terminal dribbling)
 Pancaran miksi menjadi lemah (poor stream)
 Rasa nyeri pada waktu berkemih (dysuria)
 Rasa belum puas setelah miksi
 Anemia
 Berat badan menurun
 Massa pada abdomen bagian bawah

Gejala kilinis tersebut diatas dapat terbagi 4 grade yaitu :


1. Pada grade I (congestif)
a. Mula-mula pasien berbulan-bulan atau bertahun-tahun susah kencing dan
mulai mengedan.
b. Kalau miksi merasa tidak puas.
c. Urine keluar menetes dan puncuran lemah.
d. Nocturia.
e. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal.
4

f. Pada Citoscopy kelihatan hiperemia dan orifreum urether internal lambat laun
terjadi varises akhirnya bisa terjadi pendarahan (blooding).
2. Pada Grade 2 (residual)
a. Bila miksi terasa panas
b. Nocturi bertambah berat
c. Tidak dapat buang air kecil (kencing tidak puas)
d. Bisa terjadi infeksi karena sisa air kencing
e. Tejadi panas tinggi dan bisa meninggal
f. Nyeri pasd daerah pinggang dan menjalar keginjal.
3. Pada grade 3 (retensi urine)
a. Ischuria paradorsal
b. Incontinential paradorsal
4. Pada grade 4
a. Kandung kemih penuh.
b. Penderita merasa kesakitan.
c. Air kencing menetes secara periodik (overflow incontinential).
d. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada tumor
kerena bendungan hebat.
e. Dengan adanya infeksi penderita bisa meninggal dan panas tinggi sekitar 40-
41 C.
f. Kesadaran bisa menurun.
g. Selanjutnya penderita bisa koma

F. KOMPLIKASI
1. Retensi urin
2. Gagal ginjal
3. Batu ginjal
4. Aterosclerosis
5. Infark jantung
6. Impoten
7. Haemoragik post operasi
5

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Fisik
 Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat
meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai
syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
 Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan besarnya
prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
1. Derajat I = beratnya  20 gram.
2. Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
3. Derajat III = beratnya  40 gram.
Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula
 Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
 BOF (Buik Overzich ) : Untuk melihat adanya batu
 USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa besar prostat
 IVP (Pyelografi Intravena) digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal
 Pemeriksaan Panendoskop, untuk mengetahui keadaan uretra & buli-buli

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dapat dilakukan berdasarkan derajat berat-ringannya BPH.
 Derajat I : biasanya belum membutuhkan tindakan pembedahan. Pengobatan
konservatif yang dapat diberikan adalah penghambat adrenoreseptor alfa seperti;
alfazosin, prazosin, dan terazosin.
 Derajat II : merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan. Biasanya
dianjurkan untuk dilakukan reseksi endoskopik melalui urethra
 Derajat III : pada derajat ini pembedaahan terbuka dapat dilakukan melalui
transvesikel, retropibik atau perineal.
 Derajat IV : pada derajat ini tindakan pertama adalah membebaskan klien dari
retensi urine total, dengan memasang kateter atau sistostomi. Selanjutnya dapat
dilakukan pembedahan terbuka.
6

I. PENCEGAHAN
 Mengurangi makanan kaya lemak hewan
 Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan
laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
 Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
 Berolahraga secara rutin
 Pertahankan berat badan ideal
7

BAB II
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi : Peningkatan tekanan darah dan nadi
2. Eliminasi :
 Penurunan kekuatan dorongan aliran urine
 Nokturia, disuria, hematuri.
 Massa padat dibawah abdomen bawah.
 Nyeri tekan kandung kemih.
 Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih : dorongan dan
frekuensi.
3. Makanan/cairan : Anoreksia, mual, muntah, penurunan BB
4. Nyeri/kenyamanan : Nyeri supraa pubis, panggul atau punggung, tajam, kuat, nyeri
punggung bawah.
5. Seksualitas :
 Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual.
 Inkontinensia.
 Penurunan kekualan ejakulasi
 Pembesaran, nyeri tekan prostat.
6. Pengetahuan :
 Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal.
 Penggunaan antihipertensi, antideprresi, antibiotik urinaria.

B. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan pada pasien pre operasi :
1. Retensi urine (akut/kronik) b/d obstruksi mekanik pembesaran prostate.
2. Nyeri (akut) b/d iritasi mukosa, Distensi kandung kemih.
3. Kecemasan b/d perubahan status kesehatan kemungkinan prosedur bedah
4. Resiko tinggi disfungsi seksual b/d sumbatan saluran ejakulasi hilangnya fungsi
tubuh.
8

Diagnosa keperawatan pada pasien post operasi :


1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d iritasi mukosa kandung kemih
2. Perubahan eliminasi urine b/d obstruksi mekanikal, prosedur bedah
3. Resiko kekurangan volume cairan b/d kesulitan mengontrol perdarahan.
4. Resiko infeksi b/d presedur invasive
5. Resiko terjadi disfungsi seksual b/d inkontinensia
6. Anxietas b/d kurangnya informasi tentang penyakit

C. INTERVENSI
Pre Operasi
1. Retensi urine (akut/kronik) b/d obstruksi mekanik pembesaran prostat
Tanda :
Frekuensi, ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih, inkontinensia,
distensi kandung kemih, residu, urine.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam dapat berkemih dengan
jumlah cukup.
Kriteria hasil :
Berkemih dengan jumlah yang cukup, tak teraba distensi kandung kemih,
menunjukkan residu paska berkemih kurang dan 50 ml, dengan tidak adanya
tetesan/kelebihan aliran.

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Dorong klien untuk Berkemih dengan dorongan dapat mencegah
berkemih setiap 2-4 retensi urine.
jam dan bila tiba-
tiba dirasakan. Untuk mengetahui bahwa stress mempengarui
2 Tanyakan pada pengeluaran urine.
klien tentang
inkontinensia stress.
3 Observasi aliran Untuk mengetahui pengeluaran urine.
urine, perhatikan
9

ukuran dan
kekuatan.
4 Awasi dan catat Memantau balance antara intake dan output cairan.
waktu dan jumlah
setiap berkemih.
5 Perkusi area supra Untuk mengetahui distensi kandung kemih.
pubik.
6 Dorong masukan Untuk mempertahankan hidrasi adekuat dan
cairan sampai 3000 perfusi ginjal untuk aliran urine.
ml/hari

2. Nyeri (akut b/d iritasi mukosa, distensi kandung kemih)


Tanda :
Keluhan nyeri pada kandung kemih, meringis, perilaku distraksi, gelisah,
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
 Melaporkan nyeri hilang/timbul.
 Tampak rileks.
 Mampu untuk tidur/istirahat dengan tepat.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji nyeri, perhatikan Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan
lokasi, intensitas. pasien. untuk melakukan tindakan selanjutnya
memperparah nyeri.
2 Perhatikan tirah baring Tirah baring yang berlebihan.
bila diindikasikan.
3 Berikan tindakan Untuk teknik relaksasi dan destraksi.
kenyamanan misal
pijatan punggung
4 Lakukan massage Untuk mengurangi nyeri.
prostat
5 Berikan obat sesuai Untuk mempercepat proses penyembuhan.
indikasi
10

3. Kecemasan b/d perubahan status kesehatan kemungkinan prosedur bedah


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pasien tampak lebih
rileks.
Kriteria hasil :
 Tampak rileks.
 Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
 Menunjukkan rentang yang tepat tentang perasaan/penurunan rasa takut.

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Buat hubungan saling percaya Untuk menumbuhkan sikap saling percaya antara
dengan klien/orang terdekat. perawat-klien-keluarga.

2 Berikan info tentang prosedur dan Agar pasien dapat lebih mengerti tentang
tes khusus dan apa yang akan kondisinya.
terjadi.

3 Dorong klien/orang terdekat untuk Agar pasien mampu mengungkapkan


menyatakan masalah/perasaan. perasaanya dan keluarga mengerti tentang
kondisi pasien.
4 Berikan penguatan info kepada Untuk memberikan penegasan pada pasien.
klien tentang info yang telah
diberikan sebelumnya.

4. Resiko tinggi disfungsi seksual b/d sumbatan saluran ejakulasi, hilangnya


fungsi tubuh.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1-3 hari pasien mampu
mempertahankan fungsi seksualnya.
Kriteria hasil :
Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi intaraksi seksual dan aktivitas
secara optimal
11

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Motivasi pasien untuk Untuk mengetahui perubahan seksual
mengungapkan perasaannya yang pada pasien.
berhuhungan dengan perubahannya.
2 Beri kesempatan pada pasien untuk Agar pasien dapat mengerti tentang
mendiskusikan perasaannya tentang penjelasan yang perawat berikan
efek prostatektomi dalam fungsi
seksual.
3 Libatkan kelurga/istri dalam Agar keluarga/istri pasien dapat
perawatan pemecahan masalah mengerti akan kekurangan pasien.
fungsi seksual.
4 Anjurkan pasien untuk menghindari Untuk mencegah adanya komplikasi
hubungan seksual selama atau kerusakan pada genetalia.
1 bulan (3-4 minggu) setelah
operasi.

Post Operasi
1. Gangguan rasa nyaman ; nyeri b/d iritasi mukosa kandung kemih
ditandai dengan:
 Nyeri pada daerah luka operasi.
 Luka tindakan operasi.
 Ekspresi wajah meringis.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
 Skala nyeri menurun
 Ekspresi wajah rileks tidak ada keluhan nyeri
12

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji tingkat nyeri. Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan
klien dan memudahkan kita dalam
memberikan tindakan.
2 Pertahankan posisi catheter dan Mempertahankan fungsi catheter dan
sistem drainase. sistem drainase, menurunkan resiko
distensi/ kandung kemih.
3 Ajarkan tekhnik relaksasi. Merileksasikan otot-otot sehingga suplay
darah ke jaringan terpenuhi/ adekuat,
sehingga nyeri berkurang.
4 Berikan rendam duduk bila Meningkatkan perfusi jaringan dan
diindikasikan. perbaikan edema dan meningkatkan
penyembuhan.
5 Kolaborasi medis untuk pemberian Golongan obat anti spasmodic dapat
anti spasmodic dan analgetika. merileksasikan otot polos, untuk
memberikan/menurunkan spasme dan
nyeri golongan obat analgetik dapat
menghambat reseptor nyeri sehingga
tidak diteruskan ke otak dan nyeri tidak
dirasakan.

2. Perubahan eliminasi urine b/d obstruksi mekanikal, prosedur bedah


Di tandai dengan :
 Nyeri pada daerah tindakan operasi.
 Perubahan frekuensi berkemih
 Urgensi.
 Dysuria.
 Pemasangan catheter tetap.
 Adanya luka tindakan operasi pada daerah prostat. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam eliminasi urine lancar.
Kriteria hasil :
 Catheter tetap paten pada tempatnya.
 tidak ada sumbatan aliran darah melalui catheter.
13

 Berkemih tanpa aliran berlebihan.


 Tidak terjadi retensi pada saat irigasi.

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji keluaran urine dan sistem Retensi dapat terjadi karena edema area
catheter/drainase. khususnya bedah bekuan darah dan spasme kandung
selama irigasi kandung kemih. kemih.
2 Perhatikan waktu, jumlah berkemih Catheter biasanya dilepas 2-5 hari setelah
dan ukuran aliran setelah catheter bedah, tetapi berkemih dapat
dilepas. berlanjut menjadi masalah untuk
beberapa waktu karena edema urethral
dan kehilangan tonus.
3 Dorong klien untuk berkemiih bila Berkemiih dengan dorongan dapat
terasa dorongan tetapi tidak lebih mencegah retensi, urine. Keterbatasan
dan 2-4 jam berkemih untuk tiap 4 jam (bile
ditoleransi) meningkatkan tonus kandung
kemih dan membantu latihan ulang
kandung kemih.
4 Ukur volume residu bila ada Mengawasi keefektifan kandung kemih
catheter supra pubic. untuk kosong. Residu lebih dan 50 ml
menunjukkan perlunya kontainuitas
catheter sampai tonus otot kandung
kemih membaik.
5 Dorong pemasukan cairan 3000 ml Mempertahankan hidrasi adekuat dan
sesuai toleransi. perfusi ginjal untuk aliran urine.
6 Kolaborasi medis untuk irigasi Mencuci kandung kemih dan bekuan
kandung kemih sesuai indikasi pada darah dan untuk mempertahankan potensi
periode pasca operasi dini. catheter/aliran urine.
14

3. Resiko kekurangan volume cairan b/d area bedab vaskuler : kesulitan mengontrol
perdarahan
ditandai dengan :
 Pusing.
 Bibir kering.
 Puasa.
 Bising usus negatif
Tujuan :
Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 1x24 jam tidak terjadi kekurangan
volue cairan.
Kriteria hasil :
 Tanda-tanda vital normal (TD : 130/90 mmHg, 5 : 36,5-37,5oC,
N : 80-100 x/m, RR : 16-24 x/menit).
 Pengisian kapiler baik.
 Membran mukosa lembab.
 Haluaran Urine tepat

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Benamkan catheter, hindari Penarikan/gerakan catheter dapat
manipulasi berlebihan menyebabkan perdarahan atau pembentukan
bekuan darah.
2 Awasi pemasukan dan Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan
pengeluaran cairan. penggantian. Pada irigasi kandung kemih,
awasi perkiraan kehilangan darah dan secara
akurat mengkaji haluaran urine.
3 Evaluasi warna, konsistensi Untuk mengindikasikan adanya perdarahan.
urine.

4 Awasi tanda-tanda vital Dehidrasi, memerlukan intervensi cepat untuk


mencegah berlanjut ke syok. Hipertensi,
bradikardi, mual/ muntah menunjukkan
sindrom TURP, memerlukan intervensi medik
segera.
15

5 Kolaborasi untuk pemeriksaan Berguna dalam evaluasi kehilangan darah/


laboratorium sesuai indikasi kebutuhan penggantian
(Hb/Ht, jumlah sel darah
merah)

4. Resiko infeksi b/d presedur invasive


Ditandai dengan:
 Nyeri daerah tindakan operasi.
 Dysuria.
 Luka tindakan operasi tepat di daerah prostat.
 Pemasangan catheter tetap.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3-24 jam.
Kriteria :
 Tidak tampak tanda-tanda infeksi.
 Inkontinensia tidak terjadi.
 Luka tindakan bedah cepat kering.

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Berikan perawatan catheter tetap Mencegah pemasukan bakteri dan
 secara
R steril. infeksi/cross infeksi.
2 e
Ambulasi kantung drainase Menghindari refleks batik urine, yang
s
dependen. dapat memasukkan bakteri ke kandung
i kemih.
3  Awasi tanda-tanda vital. Klien yang mengalami TUR/beresiko
1. r untuk syok bedah/septic sehubungan
e dengan instrumentasi.
4 s Ganti balutan dengan sering, Balutan basah dapat menyebabkan iritasi,
i pembersihan dan pengeringan kulit dan memberikan media untuk
k sepanjang waktu. pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko
o infeksi.
5 Kolaborasi medis untuk pemberian Dapat membunuh kuman patogen
t golongan obat antibiotika. penyebab infeksi
e
16

5. Resiko terjadi disfungsi seksual b/d inkontinensia,


Ditandai dengan : Tindakan pembedahan kelenjar prostat.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam fungsi seksual dapat
dipertahankan
Kriteria hasil :
Pasien dapat mendiskusikan perasaannya tentang seksualitas dengan orang terdekat.

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Berikan informasi tentang harapan Impotensi fisiologis : terjadi bila syaraf
 A
kembalinya fungsi seksual. perineal dipotong selama prosedur bedah
n
radikal pada pendekatan lain. aktifitas
x
seksual dapat dilakukan seperti biasa
i
dalam 6 - 8 minggu.
e
2 Diskusikan dasar anatomi. Syaraf pleksus mengontrol aliran secara
t
posterior ke prostat melalui kapsul. Pada
a
prosedur yang tidak melibatkan kapsul
s
prostat, impoten dan sterilitas biasanya
tidak terjadi.
b
3 Instruksikan latihan perineal. Meningkatkan peningkatan kontrol otot
/
kontinensia urine dan fungsi seksual.
d
4 Kolaborasi kepenasehat seksualitas/ Untuk memerlukan intervensi
seksologi sesuai indikasi. professional selanjutnya.

6. Kurangnya informasi tentang penyakit


Ditandai dengan :
 Gelisah
 Informasi kurang
Kriteria :
 Klien tidak gelisah.
 Tampak rileks
17

NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji tingkat ansietas. Mengetahui tingkat anxietas yang dialami
klien, sehingga memudahkan dalam
memberikan tindakan selanjutnya.
2 Observasi tanda-tanda vital. Indikator dalam mengetahui peningkatan
anxietas yang dialami klien
3 Berikan informasi yang jelas Mengerti/memahami proses penyakit dan
tentang prosedur tindakan yang tindakan yang diberikan.
akan dilakukan.
4 Berikan support melalui pendekatan Agar klien mempunyai semangat dan
spiritual. tidak putus asa dalam menjalankan
pengobatan untuk penyembuhan
18

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan).
PT EGC. Jakarta.
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I
(terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.