You are on page 1of 24

Hukum – Hukum Dasar Kimia dan Stoikiometri

Dalam pembahasan materi pelajaran kali ini akan saya coba paparkan tentang Hukum

Dasar Kimia dan Stoikiometri. Karena Keduanya saling terkait dan mendasari satu sama

lainya, sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan.

Untuk dapat memahami Stoikiometri maka harus faham terlebih dahulu Tentang Hukum

dasar Kimia ini. Baiklah sekarang kita mulai saja pembahasanya silahkan simak dan

pelajari dengan cermat.

A. Hukum – Hukum Dasar Kimia

Sesuai dengan istilah dalam sub bahasan di atas, yaitu Hukum dasar Kimia, maka

Hukum – hukum yang akan di bahas kali ini adalah Beberapa teori yang sudah

ditetapkan sebagai hukum yang mendasari semua perhitungan dan ketentuan

hukum yang berlaku pada Ilmu kimia sebagai hasil dari percobaan dan penelitian

para ahli kimia.

1. Hukum Kekekalan Massa (Hk . Lavoisier)

Seorang Kimiawan Prancis Antoine Laurent Lavoisier (1743 – 1794). Berhasil

melakukan percobaan pada pembakaran merkuri menjadi merkuri oksida,

ternyata jika merkuri oksida dipanaskan kembali menjadi merkuri dan oksigen

yang dihasilkan massanya sama seperti semula. Sehingga Lavoisier

mengemukakan hukum kekekalam massa yang berbunyi :

“massa total zat-zat sebelum reaksi akan selalu sama dengan massa total zat-zat

sesudah (hasil ) reaksi”‖.

Contoh :

40 gram Ca + 16 gram O2  56 gram CaO

12 gram C + 32 gram O2  44 gram CO2


Contoh soal :

Pada wadah tertutup, 4 gram logam kalsium dibakar dengan oksigen

menghasilkan kalsium oksida. Jika massa kalsium oksida yang dihasilkan adalah

5,6 gram, maka berapa massa oksigen yang diperlukan?

Jawab :

m Ca = 4 gram

m CaO = 5,6 gram

m O2 = ..?

Berdasarkan hukum kekekalan massa :

Massa sebelum reaksi = massa sesudah reaksi

 m Ca + m O2 = m CaO

 m O2 = m CaO - m Ca

= (5,6 – 4,0) gram

= 1,6 gram

Jadi massa oksigen yang diperlukan adalah 1,6 gram.

2. Hukum Perbandingan Tetap (Hk. Proust)

Berdasarkan proses terbentuknya, senyawa adalah gabungan dua unsur atau

lebih unsur dengan perbandingan tertentu dan tetap. Bergabungnya unsur-unsur

pembentuk senyawa disertai hilangnya sifat unsur-unsur pembentuk. Sifat

senyawa yang dihasilkan berbeda dengan sifat-sifat awal dari unsur

pembentuknya.

Hal tersebut di jelaskan dengan Hukum Perbandingan Tetap (Proust) yang

berbunyi :

“Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa selalu tetap”

Contoh :

Air tersusun oleh unsur-unsur hidrogen (H2) dan oksigen (O2) dengan

perbandingan yang selalu tetap yaitu : 11,91 % : 88,81 % = 1 : 8


Massa H2 Massa O2 Massa H2O Massa zat sisa
(gram) (gram) (gram)
1 8 9 -

2 16 18 -

3 16 18 1 gram H2

3 25 27 1 gram O2

4 25 28,125 0,875 gram H2

Contoh soal :

Jika diketahui perbandingan massa besi (Fe) dan belerang (S) dalam pembentukan

senyawa besi (II) sulfida (FeS) adalah 7 : 4 maka tentukan :

a) Massa besi yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan 8 gram belerang!

b) Massa belerang yang tersisa, jika sebanyak 21 gram Fe direaksikan dengan 15

gram S!

c) Massa S dan massa Fe yang dibutuhkan untuk menghasilkan 22 gram senyawa

FeS!

Jawab :

Reaksi : Fe + S  FeS

7 4 11

Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama, sehingga 7 gram Fe akan

bereaksi dengan 4 gram S membentuk 11 gram FeS.

a) Massa S = 8 gram

 Massa Fe = …?

4
 Massa Fe = x 8 gram = 14 gram
7

Jadi massa Fe yang dibutuhkan adalah 14 gram.

b) 21 gram Fe direaksikan dengan 15 gram S, berarti :

Fe : S = 21 : 15 = 7 : 5
Belerang berlebih, berarti seluruh Fe habis bereaksi.

 Massa Fe yang bereaksi = 21 gram

7
 Massa S yang bereaksi = 4 x 21 gram = 12 gram

 Massa S yang tersisa = ( 15-12 ) gram = 3 gram

Jadi massa S yang tersisa adalah 3 gram.

c) Untuk membentuk 22 gram FeS :


11
 m Fe = x 22 gram = 14 gram
7

11
mS= x 22 gram = 8 gram
4

3. Hukum Perbandingan Berganda (Hk. Dalton)

Sering disebut juga hukum kelipatan perbandingan . Dalton menyelidiki

perbandingan unsur-unsur tersebut pada setiap senyawa dan didapatkan suatu pola

keteraturan. Pola tersebut dinyatakan sebagai Hukum Perbandingan Kelipatan yang

bunyinya :

“Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, dan jika massa salah satu

unsur tersebut tetap (sama). Maka perbandingan massa unsur yang lain dalam

senyawa-senyawa tersebut merupakan bilangan bulat dan sederhana.”

Contoh :

C dan O dapat membentuk dua jenis senyawa, yaitu CO dan CO2. Jika massa C

dalam kedua senyawa itu sama (berarti jumlah C sama), maka :

Massa O dalam CO : massa O dalam CO2 akan merupakan bilangan bulat dan

sederhana (yaitu = 1:2 ).

Contoh soal :
Karbon dapat bergabung dengan hidrogen dengan perbandingan 3 : 1, membentuk

gas metana. Berapa massa hidrogen yang diperlukan untuk bereaksi dengan 900

gram C pada metana?

Jawab :

C : H = 3 : 1 sehingga :

 900 : m H = 3 : 1

3
 mH = x 900 gram = 300 gram
1

Jadi, massa H yang diperlukan adalah 300 gram.

4. Hukum Perbandingan Volume (Hk. Gay-Lusac)

Ilmuwan Perancis Joseph Louis Gay Lussac (1778 – 1850) berhasil melakukan

percobaan tentang volume gas yang terlibat pada bebagai reaksi.

Dari hasil percobaanya Gay Lusac menghasilkan suatu hukum Yang berbunyi :

“Pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas-gas yang

bereaksi dan hasil reaksi merupakan bilangan bulat dan sederhana.”

Contoh :

Dua volum gas hidrogen bereaksi dengan satu volum gas oksigen membentuk

dua volum uap air.

gas hidrogen + gas oksigen  uap air

2V 1V 2V

Perbandingan volumenya = 2 : 1 : 2

Hukum tersebut hanya berlaku untuk reaksi-reaksi dalam wujud gas, dan pada

kenyataannya untuk reaksi yang bukan gas massa zat volum zat cair tidak

berlaku. Bila dihubungkan dengan teori atom Dalton terdapat ketidaksesuaian,


karena Dalton mengganggap bahwa atom merupakan partikel terkecil dari suatu

zat. Jadi, bila volum diperkecil sehingga didapat:

1 volume hidrogen + 1 volum klorin —————> 2 volum hidrogen klorida

Jika dianggap bahwa gas-gas dalam keadaan sebagai atom, maka:

1 atom hidrogen + 1 atom klorin —————> 2 atom hidrogen klorida

Bila konsep ini diterapkan pada gas hidrogen dan oksigen, maka didapat

1atom hidrogen + 1/2 atom oksigen —————> 1 atom air

Konsep setengah atom bertentangan dengan teori atom Dalton, sebab tidak ada

atom yang hanya separo. Untuk menghindari hal tersebut Amadeo Avogadro

mengusulkan hipotesis yang dikenal sebagai Hipotesis Avogadro.

5. Hipotesa Avogadro (Hk. Avogadro)

Amadeo Avogadro (1776-1856), berpendapat bahwa satuan terkecil dari suatu

zat tidaklah harus atom, tetapi dapat merupakan gabungan atom yang disebut

molekul. Dengan konsep ini maka teori atom Dalton tetap benar dan fakta

percobaan Gay-Lussac dapat dijelaskan,Yaitu :

“Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumnya sama mengandung

jumlah partikel (molekul) yang sama pula.”

Contoh :

Pada pembentukan molekul H2O

2L H2(g) + 1L O2(g)  2L H2O(g)


Catatan :

Jika diperhatikan ternyata perbandingan volum tersebut sesuai dengan

perbandingan koefisien persamaan reaksi. Dengan dasar itulah beberapa rumus

molekul gas dapat diramalkan. Jadi jika volume dan jumlah molekul salah 1 zat

diketahui, maka volume dan jumlah molekul zat lain dapat ditentukan dengan

menggunakan persamaan

Dan

Keterangan :

V = volume molekul ( L )

X = jumlah partikel ( molekul )

Contoh soal :

Pada suhu dan tekanan yang sama, sebanyak 2 L gas nitrogen (N2) tepat

bereaksi dengan gas H2 membentuk gas NH3 (amonia).

Tentukan :

a) Persamaan reaksinya!

b) Volume gas H2 yang diperlukan!


c) Volume gas NH3 yang dihasilkan!

Jawab :

a) Persamaan reaksinya :

N2 (g) + 3 H2 (g)  2 NH3 (g)

𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐻2
b) V H2 = X V N2
𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑁2

3
= x 2L =6L
1

Jadi volume gas H2 yang diperlukan dalam reaksi adalah 6 L.

𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑁𝐻3
c) V NH3 = x V N2
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑁2

2
= x2L =4L
1

Jadi volume gas NH3 yang dihasilkan oleh reaksi tersebut adalah 4 L.

LATIHAN :

1. 1. Unsur X dan Y membentuk dua senyawa, senyawa pertama mengandung 15

gram X dan 80 gram Y. Senyawa kedua mengandung 45 gram X dan 120 gram

Y. Tentukan perbandingan massa unsur sesuai hukum Dalton (Hukum Kelipatan

Tetap) ?

2. 2. Perbandingan massa unsur besi dan unsur belerang dalam senyawa besi

belerang (FeS) adalah 7 : 4. Berapa gram besi dapat bereaksi dengan 8 gram

belerang?

3. 3. Pada reaksi tembaga dengan belerang akan dihasilkan tembaga sulfida. Jika

tembaga yang direaksikan 254 gram dan belerang 128 gram. Berapa gram

tembaga sulfida (CuS) yang dihasilkan?


4. 4. Berapa liter gas oksigen yang diperlukan pada pembakaran 10 liter gas

butana?

5. Sebanyak 20 ml gas N2 dan 30 ml gas O2 tepat habis bereaksi menjadi 20 ml gas

NxOy. Tentukan rumus kimia gas NxOy tersebut?

B. Stoikiometri (Perhitungan Kimia)

1. Persamaan reaksi

Merupakan proses penulisan dan penataan ulang rumus kimia yang

menggambarkan suatu reaksi kimia dan terdiri dari bagian pereaksi/reaktan

(sebelum tanda panah) serta bagian produk /hasil reaksi (sesudah tanda panah).

Contoh

2 H 2 (g) + O2 (g)  2H2O (ℓ)

Keterangan :

 Tanda panah ( ) menunjukkan arah reaksi (artinya = membentuk atau

bereaksi menjadi).

 Huruf kecil dalam tanda kurung menunjukkan wujud atau keadaan zat

tersebut (g = gass, l = liquid, s = solid,dan aq = aqueous / larutan berair).

 Bilangan yang di depan rumus kimia zat disebut koefisien reaksi (untuk

menyetarakan atom-atom sebelum dan sesudah reaksi).

 Koefisien reaksi juga menyatakan perbandingan paling sederhana dari

partikel zat yang terlibat dalam reaksi.

Penulisan persamaan reaksi dapat dilakukan dengan 2 langkah :

1). Menuliskan rumus kimia zat pereaksi dan produk, lengkap dengan keterangan

wujudnya.

2). Penyetaraan, yaitu memberi koefisien yang sesuai sehingga jumlah atom setiap

unsur sama pada kedua ruas (cara Sederhana / langsung).

Contoh :
Langkah 1 : Al(s) + H2SO4 (aq)  Al2(SO4)3 (aq) + H2 g) (belum setara)

Langkah 2 : 2 Al(s) + 3 H2SO4 (aq)  Al2(SO4)3(aq) + 3H2 g) (sudah setara)

2). Menyetarakan Persamaan Reaksi.

Langkah-langkahnya (cara matematis) :

a) Tetapkan koefisien salah satu zat, biasanya zat yang rumusnya paling

kompleks = 1, sedangkan zat lain diberikan koefisien sementara dengan

huruf.

b) Setarakan terlebih dahulu unsur yang terkait langsung dengan zat yang diberi

koefisien 1 itu.

c) Setarakan unsur lainnya. Biasanya akan membantu jika atom O disetarakan

paling akhir.

Contoh:

Setarakanlah reaksi berikut: Sb2S3 + HNO3 ———> Sb2O5 + NO2 + S + H2O

Jawab:

Misalkan koefisien reaksi adalah:

a Sb2S3 + b HNO3 ———> c Sb2O5 + d NO2 + e S + f H2O

Unsur yang terdapat dalam satu senyawa di kiri dan satu senyawa di kanan adalah:

Sb, S, H, dan N.

Jadi:

Sb: c = a N: d = b

S: e = 3a H: f = 1/2 b

Persamaan reaksi:
a Sb2S3 + b HNO3 ———> a Sb2O5 + b NO2 + 3a S + 1/2 b H2O

unsur yang lain adalah O, maka 3 b = 5 a + 2 b + 1/2 b

Misalkan: a = 1 sehingga

3b = 5 + 2 1/2 b

b = 10

Persamaan reaksi menjadi:

Sb2S3 + 10 HNO3 ———> Sb2O5 + 10 NO2 + 3 S + 5 H2O

LATIHAN:

Sempurnakan koefisien dari persamaan reaksi berikut ini:

A. C3H4 + O2 ——-> CO2 + H2O

B. Fe2O3 + HBr ———> FeBr3 + H2O

C. Al + HCl ———> AlCl3 + H2

D. Zn + H2SO4 ——-> ZnSO4 + H2

E. I 2 + NaOH ——> NaI + NaIO3 + H2O

2. Konsep Mol

Dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa satuan jumlah zat. Misalnya 1 kodi

kain, 1 lusin gelas, 1 rim kertas dan sebagainya.

Akan tetapi, ada pula zat-zat yang tidak mungkin dinyatakan dengan menggunakan

satuan jumlah tetapi satuan massa misalnya 1 kg beras,

1 kg gula, 1 liter minyak. Mengapa? Sebab tidak mungkin orang akan mengitung

butiran beras, gula atau butiran minyak. Dapat dibayangkan


bagaimana jika seseorang membeli seribu butir beras, gula atau miyak di pasar.

Seperti halnya beras, gula, atau minyak, atom merupakan partikel yang sangat kecil,

sehingga tidak mungkin untuk mengambil atom dalam bilangan butir, tetapi juga tidak

memungkinkan menimbang beberapa butir atom.

Dalam kenyataannya reaksi-reaksi kimia melibatkan banyak atom, molekul, atau ion.

Satuan jumlah atom tidak mungkin digunakan satuan biji, lusin atau satuan-satuan

yang banyak dikenal dalam kehidupan sehari-hari.

Para ahli kimia sepakat mencari satuan yang mudah digunakan dan satuan tersebut

oleh IUPAC disebut dengan mol.

“Jadi, mol merupakan satuan yang menyatakan jumlah partikel yang terkandung

dalam sejumlah zat”

a. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel

Dari percobaan yang dilakukan oleh Jhon Lochsmid dan kemudian dibenarkan oleh

Avogadro melalui percobaan yang dilakukannya ternyata banyaknya atom karbon

yang terdapat dalam 12.00 gram C-12 adalah 6,02 × 1023 butir atom.

Bilangan ini selanjutnya disebut bilangan Avogadro atau tetapan Avogadro dan diberi

lambang L (diambil dari nama Lochsmid).

Jadi, satu mol logam besi mengandung 6,02 × 1023 butir atom besi, 1 mol air

mengandung 6,02 x 1023 molekul air.

1 mol zat = L partikel = 6,02 × 1023 partikel

Dirumuskan :
Keterangan :

n = jumlah mol

X = jumlah partikel

b. Hubungan Mol dengan Massa (massa Molar)

 Massa molar menyatakan massa 1 mol zat.

 Satuannya adalah gram mol-1.

 Massa molar zat berkaitan dengan Ar atau Mr zat itu, karena Ar atau Mr zat

merupakan perbandingan massa antara partikel zat itu dengan atom C-12.

Contoh :

Ar Fe = 56, artinya : massa 1 atom Fe : massa 1 atom C-12 = 56 : 12

Mr H2O = 18, artinya : massa 1 molekul air : massa 1 atom C-12 = 18 : 12

Karena :

1 mol C-12 = 12 gram (standar mol), maka :

56
Massa 1 mol atom Fe = x 12 gram = 56 gram
12

18
Massa 1 mol molekul air = x 12 gram = 18 gram
12

Kesimpulan :

Massa 1 mol suatu zat = Ar atau Mr zat tersebut (dinyatakan dalam gram).

Secara Umum Hubungan mol dengan massa zat/ massa molar dapat dituliskan

persamaan :
dengan :

m = massa

n = jumlah mol

mm = massa molar

c. Hubungan Mol dengan Volume (volume Molar)

Volum molar gas menyatakan volum 1 mol gas pada suhu dan tekanan tertentu. Jika

pengukuran dilakukan pada suhu 0°C dan tekanan 1 atm, volum molar gas disebut

sebagai volum molar standar.

Hal itu disebabkan keadaan suhu 0°C dan tekanan 1 atm merupakan keadaan

standar gas dan disingkat STP (Standard Temperature and Pressure).

Untuk menentukan volum molar gas pada keadaan standar dilakukan dengan

menimbang sejumlah volum gas tertentu dalam tabung yang sudah diketahui berat

kosong tabung gas tersebut pada suhu 0°C dan tekanan gas 1 atm.

Dari hasil perhitungan pada keadaan standar Volume molar gas (V STP ) = 22,4

Lmol -1

Jika hal ini diberlakukan secara umum untuk gas, maka Persamaannya menjadi :

dengan :

V = volum gas

n = jumlah mol

Vm = volum molar

Contoh:

Hitunglah volume 8 gram gas SO3 jika diketahui (Ar S = 32, O = 16)
Jawab:

Mr SO3 = 80

Massa Molar SO3 = 80 gram /mol

8 𝑔𝑟𝑎𝑚
Jadi 8 gram SO3 =
80 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙

= 0,1 mol

Volume pada STP = 0,1 mol x 22,4 liter/mol

= 2,24 liter

d. Hukum Gas Ideal

Telah diketahui bila suatu gas dipanaskan maka akan terjadi pemuaian volum.

Adanya pemuaian volume menyebabkan terjadinya penyimpangan pada hukum-

hukum yang berlaku pada gas.

Untuk gas ideal dianggap bahwa tidak ada penyimpangan-penyimpangan tersebut.

Beberapa hukum tentang gas yang berlaku pada gas ideal adalah :

1. Hukum Boyle : Pada suhu tetap dan jumlah mol tetap, berlaku P ≈ 1/V

2. Hukum Amonton : Pada volum dan jumlah mol tetap, maka P ≈ T

3. Hukum Charles : Pada volum dan jumlah mol tetap, maka V ≈ T

Hukum Avogadro : Pada volum dan suhu tetap, maka V ≈ n

Dari keempat hukum tersebut dapat disimpulkan bahwa pada gas ideal berlaku

persamaan :

PV = nRT

Dengan,

P : tekanan (atsmosfir)

T : suhu mutlak (Kelvin = °C + 273)


V : volum (liter)

N : jumlah mol (mol)

R : tetapan gas ideal (0,082 L atm K-1 mol-1)

e. Hukum Avogadro dan Jumlah Mol Gas

Hukum Avogadro menyatakan bahwa : Pada suhu dan tekanan yang sama sejumlah

volum yang sama suatu gas (sembarang gas) mengandung jumlah molekul yang

sama.

Dari pernyataan tersebut berarti apabila jumlah molekulnya sama, maka jumlah mol

gas akan sama pula.

Dengan demikian berlaku bahwa perbandingan volume gas akan sama dengan

perbandingan mol gas atau secara matematis berlaku rumus :

V1 : V2 = n1 : n2

Untuk menentukan volum gas yang suhu dan tekanannya tidak diketahui, tetapi

berdasarkan keadaan tertentu dibandingkan dengan gas lain dapat digunakan

konsep volum molar, atau menggunakan rumus hubungan hukum Avogadro dan

volum di atas.

Contoh:

Sebanyak 27 gram Aluminium (Ar Al = 27) direaksikan dengan larutan asam sulfat.

Menurut reaksi:

2 Al + 3H2SO4 ——-> Al2(SO4)3 + 3H2

Hitunglah volume gas yang terbentuk, jika diukur pada kondisi dimana 1 mol gas O2

bervolume 20 liter.
Jawab:

27 𝑔𝑟𝑎𝑚
Al = = 1 mol
27

3
H2 = x 1 mol = 1,5 mol
2

Untuk mencari volume H2 gunakan volume O2 sebagai pembanding

𝑀𝑜𝑙 𝐻2 𝑀𝑜𝑙 𝑂2
:
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐻2 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑂2

1,5 1
=
𝑋 20

X = 30 liter

Jadi volume gas H2 yang terbentuk adalah 30 liter.

Dari konsep mol diatas dapat dibuat bagan hubungan mol dengan satuan

lainyasebagai berikut
LATIHAN

1. Hitunglah volume masing-masing gas berikut pada keadaan standar (STP)

A. 11 gram CO2

B. 35 gram N2

C. 200 gram SO3

2. Pada suhu dan tekanan tertentu 2 liter gas X2 bermassa 4 gram dan 20 liter

gas NO (Mr = 30) bermassa 15 gram. Hitunglah massa atom relatif (Ar) unsur

X tersebut?

3. Pada suhu dan tekanan tertentu 1 liter gas SO2 bermassa 8 gram, berapa

gram massa 5 liter gas CH4 pada kondisi tersebut

f. Perhitungan Kimia Sederhana

Reaksi tembaga dengan asam nitrat menghasilkan 18,75 g tembaga (II) nitrat pada

suhu dan tekanan tertentu.

Reaksi: 3Cu(s) + 8HNO3 (aq)  3Cu(NO3)2 (aq) + 2 NO (g) + 4 H2O(l)

(Bila Ar Cu = 63,5; N = 14; O=16; C=12; dan H=1 )

a berapa gram tembaga yang bereaksi?

b. berapa liter gas NO yang dihasilkan jika diukur pada keadaan 1,25 gram C2H6

volumenya 1 liter?

Jawab:

3Cu(s) + 8HNO3 (aq)  3Cu(NO3)2 (aq) + 2 NO (g) + 4 H2O(l)

Tembaga (II) nitrat yang dihasilkan = 18,75 gram

Mr Cu(NO3)2 = 63,5 + (14 + 3. 16) × 2 = 187,5 gram

Mol Cu(NO3)2= =0,1mol


a) Tembaga yang bereaksi

3Cu(s) + 8HNO3 (aq)  3Cu(NO3)2 (aq) + 2 NO (g) + 4 H2O(l)

3 : 8 : 3 : 2 : 4

3
Mol Cu = × 0,1 mol = 0,1 mol
3

Banyaknya tembaga yang bereaksi = mol × Mr Cu

= 0,1 mol x 63,5 = 6,35 gram

b) Gas NO yang dihasilkan

2
mol NO = × 0,1 mol = 0,067 mol
3

Diketahui 1,25 g C2H6 volumenya 1 L, maka:

1,25 𝑔𝑟𝑎𝑚
mol C2H6 = = 0,042 mol
30𝑔/𝑚𝑜𝑙

𝑛 𝐶2𝐻6 𝑛 𝑁𝑂
=
𝑉 𝐶2𝐻6 𝑉 𝑁𝑂

0,042 𝑚𝑜𝑙 0.067 𝑚𝑜𝑙


=
1𝐿 𝑉 𝑁𝑂

0.067
V NO = = 1,59 L
0.042

g. Pereaksi Pembatas

Bila dua zat direaksikan akan didapatkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama,

kedua pereaksi tepat habis bereaksi: dan kemungkinan kedua, salah satu pereaksi

habis dan pereaksi yang lain bersisa. Pereaksi yang habis akan membatasi hasil
reaksi yang didapatkan. Pereaksi yang membatasi hasil reaksi ini disebut pereaksi

pembatas.

Contoh:

Sebanyak 20 gram tembaga direaksikan dengan 40 gram belerang menurut reaksi:

Cu + S ———> CuS

A. Manakah yang berlaku sebagai pereaksi pembatas?

B. Berapa gram tembaga sulfida yang terbentuk?

C. Manakah zat sisa dalam reaksi tersebut dan berapa gram beratnya?

Jawab:

20 𝑔𝑟𝑎𝑚
A. mol Cu =
63,5 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙

= 0,314 mol

40 𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol S =
32 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙

= 1,25 mol

Berdasarkan perbandingan koefisien jika 0,314 mol Cu direaksikan, maka

diperlukan 0,314 mol S, sedangkan S yang tersedia 1,25 mol. Jadi jumlah belerang

yang tersedia cukup. Sebaliknya tidak mungkin bila S bereaksi semua sebab

diperlukan Cu sebanyak 1, 25 mol, sedangkan Cu yang tersedia o,314 mol. Jadi

yang berlaku sebagai pereaksi pembatas adalah Cu (tembaga).

𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐶𝑢𝑆
B. Mol CuS = x mol Cu
𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝐶𝑢
1
= x 0,314 mol
1

= 0,314 mol

= 0,314 mol x 95,5 gram/mol

= 29,98 gram

Jadi massa tembaga sulfida yang terbentuk adalah 29,98 gram

1
C. S yang bereaksi = 1 x 0,314 mol
1

= 0,314 mol

= 0,314 mol x 32 gram/mol

= 10,04 gram

Jadi massa belerang yang tersisa adalah 40 gram—10,04 gram = 29,96 gram

LATIHAN

Sebanyak 15 gram Urea (Mr = 60) dianalisis menjadi unsur-unsurnya. Jika

diperoleh 7 gram nitrogen (Ar Na=14), hitunglah jumlah atom nitrogen dalam satu

molekul urea ?

1. Hitunglah persen berat besi dan oksigen dalam Fe2O3 (Ar Fe= 56, O = 16) ?

2. Sebanyak 640 gram campuran zat-zat yang mengandung belerang dibakar

sempurna sehinga diperoleh 480 gram SO3 (Ar S =32, O=16). Hitunglah kadar

(persentase) belerang dalam campuran zat tersebut ?

3. Tiga macam pupuk dibawah ini :

Urea (CO(NH2)2 ZA (NH4)2 SO4 , Amonium nitrat (NH4NO3),


manakah pupuk tersebut yang paling kaya akan kandungan unsur nitrogen ? (ArH

= 1, C = 12,

N = 14, O = 16, S = 32 )

EVALUSI

I. Pilihan Ganda

A. Berilah tanda silang (x) huruf a, b, c, d atau e pada jawaban yang benar.

1. Tetapan Avogadro menyatakan …

a. Jumlah atom dalam satu mol gas helium

b. Jumlah molekul dalam satu mol unsur

c. Jumlah atom dalam satu mol zat

d. Jumlah ion dalam satu mol CaO

e. Jumlah atom dalam satu mol gas oksigen

2. Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung

jumlah molekul sama. Pernyataan tersebut merupakan bunyi Hukum ...

a. Lavoisier d. Avogadro

b. Gay Lussac e. Dalton

c. Boyle

3. Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Pernyataan tersebut

dikemukakan oleh ...

a. Dalton d. Avogadro

b. Proust e. Gay Lussac

c. Lavoisier

4. Massa atom relatif (Ar) menyatakan perbandingan ...

a. Massa 1 atom unsur terhadap massa 1 atom C - 12

b. Massa 1 molekul unsur terhadap massa 1 atom C - 12

c. Massa rata-rata 1 molekul unsur terhadap 1/12 massa 1 atom C - 12


d. Massa molekul unsur terhadap 1/12 massa 1 atom C - 12

e. Massa rata-rata 1 atom unsur terhadap 1/2 massa 1 atom C - 12

5. Berapakah massa dari 0,8 mol NaCl (Ar Na = 23 ; Cl = 35,5)

a. 5,85 gram d. 46,8 gram

b. 11,70 gram e. 49,2 gram

c. 23,4 gram

6. Senyawa berikut ini yang mempunyai jumlah partikel terbesar adalah ...

a. 10 gram NH3 d. 10 gram CH4

b. 10 gram H2O e. 10 gram O2

c. 10 gram H2

7. Volume 1 mol gas CO2 pada suhu 27 0C dan tekanan 1, 2 atm adalah ...

a. 11,2 liter d. 22,4 liter

b. 16,8 liter e. 44,8 liter

c. 20,5 liter

8. Data percobaan pembentukan senyawa Besi—Belerang adalah sebagai berikut.

Dari data di atas perbandingan massa besi dan belerang adalah ...

a. 7 : 5 d. 7 : 4

b. 2 : 4 e. 3 : 2

c. 7 : 6

9. 10 liter gas propana dibakar sempurna dengan oksigen menghasilkan H2O dan

CO2. Berapa volume gas karbon dioksida yang dihasilkan ...

a. 5 liter d. 30 liter
b. 10 liter e. 40 liter

c. 20 liter

10. Jumlah atom Hidrogen pada 9 gram H2O adalah ...

Jika ( L = 6,02 x 1023 )

a. 6,02 x 1023 atom d. 6,02 x 1022 atom

b. 3,01 x 1023 atom e. 3,012 x 1022 atom

c. 1,5 x 1023 atom

II. Esai

B. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar.

1. Hitung Mr dari senyawa berikut, jika Ar Na=23 ; C=12; O=16 ; Ca=40; P=31

a. Na2CO3 b. Ca3(PO4)2 c. CaC2O4

2. Berapa berat besi yang terdapat dalam 32 gram Fe2O3 (ArFe=56; O=16)?

3. Sebanyak 35 gram logam besi direaksikan dengan 25 gram gas oksigen,

membentuk besi(III) oksida (Ar Fe=56 ; O=16)

a. Berapa gram senyawa yang terbentuk ?

b. Berapa gram unsur yang tersisa ?