You are on page 1of 12

← Cinta Menuju Surga

Metode Perkiraan Beban Listrik di Masa Akan Datang Dalam Operasi Sistem Tenaga Listrik →

Metode Perkiraan Beban Listrik di Masa Akan Datang Dalam


Operasi Sistem Tenaga Listrik
Posted on 27 September 2017by adesalbuang
Oleh : Ade Sal Buang, Ir., IPM
Engineer PT. TIfaindo Utama
Dosen PAT
KETERSEDIAAN ENERGI LISTRIK SAAT INI
Sampai dengan akhir tahun 2014 kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di
Indonesia mencapai 53.065,50 MW yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 37.379,53
MW dan Non PLN sebesar 15.685,97 MW dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar
50.898,51 MW, maka kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik naik sebesar
2.166,99 MW atau 4,25%. Pada akhir tahun 2014 total panjang jaringan transmisi naik
menjadi 40.331,73 kms, terdiri dari JTET (Jaringan Tegangan Ekstra Tinggi) sepanjang
5.053 kms dan JTT (Jaringan Tegangan Tinggi) sepanjang 35.278,73 kms.
Total jaringan distribusi naik menjadi 925.311,58 kms yang terdiri dari JTM (Jaringan
Tegangan Menengah) sepanjang 339.558,02 kms dan JTR (Jaringan Tegangan Rendah)
sepanjang 585.753,56 kms. Untuk Gardu Induk naik sebesar 5.127 MVA atau 6,30 %
yaitu dari 81.345 MVA pada tahun 2013 menjadi 86.472 MVA pada akhir tahun 2014,
dan untuk Gardu Distribusi juga mengalami kenaikan sebesar 3.595,02 MVA atau
8,32% yaitu dari 43.183,67 MVA pada tahun 2013 menjadi 46.778,69 MVA pada akhir
tahun 2014. Jumlah Gardu Distribusi mengalami kenaikan sejumlah 26.565 unit atau
7,32 % yaitu dari 362.746 unit di tahun 2013 menjadi 389.311 unit di tahun 2014

Jumlah pasokan listrik berbanding dengan jumlah penduduk juga tak bisa dibilang
tinggi. Secara angka dapat dilihat lewat tingkat konsumsi listrik perkepala nasional yang
masih berada di kisaran 800-900 kWH dalam beberapa tahun belakangan. Bandingkan
dengan konsumsi listrik perkapita Malaysia menurut Bank Dunia yang sudah mencapai
4.512 kilowatt per hour (kwh) pada 2013, Thailand (2.471 kwh), dan Vietnam (1.306
kwh).
Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pemasok energi utama untuk rakyat tak bisa
dibilang tidak bekerja serius. Mereka mampu terus meningkatkan jumlah pasokan
listrik dari pembangkit tahun ke tahun paling sedikit seribu megawatt (MW). Pada
tahun 2015 PLN mampu memasok 202 ribu gigawatt per hour (gwh) dan akan terus
tumbuh antara 6-8% tiap tahun.
Tabel 1
KAPASITAS TERPASANG PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK NASIONAL
NATIONAL INSTALLED CAPACITY OF POWER PLANT BY TYPE (MW)
JUMLAH ENERGI YANG TERPAKAI (TERJUAL)
Penyediaan tenaga listrik akhir tahun 2014 sebesar 228.554,90 GWh yang terdiri atas
produksi tenaga listrik PLN sebesar 175.296,97 GWh dan pembelian sebesar 53.257,93
GWh. Dibandingkan dengan tahun 2013, dimana produksi tenaga listrik PLN sebesar
163.965,74 GWh, tahun 2014 produksi listrik PLN naik sebesar 11.331,23 GWh atau
6,91%. Sedangkan pembelian tahun 2014 adalah sebesar 53.257,93 GWh, naik sebesar
1.035,14 GWh atau sebesar 1,94%. Penjualan tenaga listrik PLN tahun 2014 sebesar
198.601,77 GWh. Dibandingkan dengan tahun 2013 penjualan tenaga listrik naik
tersebut sebesar 11.060,75 GWh atau 5,89% terdiri dari penjualan untuk sektor industri
sebesar 65.908,67 GWh, sektor rumah tangga sebesar 84.086,46 GWh, sektor komersial
atau usaha sebesar 36.282,42GWh dan sektor publik atau umum sebesar 12.324,21
GWh. Jumlah pelanggan tahun 2014 mencapai 57.493.234 pelanggan. Dibandingkan
dengan tahun 2013 angka ini naik sebesar 3.497.026 pelanggan atau 6,48%. Dari
jumlah pelanggan seluruhnya, kelompok rumah tangga merupakan jumlah pelanggan
terbesar yaitu 53.309.325 pelanggan atau 92,72 %. Susut jaringan PLN tahun 2014
sebesar 21.423,30 GWh terdiri dari susut transmisi sebesar 5.224,63 GWh dan susut
distribusi sebesar 16.198,66 GWh. Dibandingkan dengan produksi netto sebesar
220.712,66 GWh maka susut jaringan transmisi adalah 2,37% dan susut distribusi
7,52%. Rasio elektrifikasi adalah perbandingan rumah tangga berlistrik dengan jumlah
rumah tangga. Rasio elektrifikasi sampai dengan akhir tahun 2014 mencapai 84,35%.
Dibandingkan dengan tahun 2013 rasio elektrifikasi mencapai 80,51%, rasio
elektrifikasi Indonesia naik sebesar 3,84%
Tabel 2
PENJUALAN TENAGA LISTRIK NASIONAL PER SEKTOR PELANGGAN
NATIONAL’S ELECTRICITY SALES BY SECTOR OF CUSTOMERS

Grafik 2
PENJUALAN TENAGA LISTRIK NASIONAL
PER SEKTOR PELANGGAN 2014
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENINGKATAN BEBAN
LISTRIK
Ketergantungan dalam pemakaian tenaga/daya (Watt) listrik pada saat ini sangat tinggi,
tidak hanya untuk kebutuhan penerangan, tetapi juga untuk mendukung kegiatan
ekonomi. Kecenderungan pada saat ini, peningkatan kebutuhan energi listrik tidak
seiring dengan penigkatan penyediaan energi listrik, dimana kapasitas daya terpasang
masih tetap, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pendukungnya. Akibat yang ditimbulkan
adalah seringnya terjadi pemadaman aliran listrik, khususnya pada jam-jam beban
puncak, yaitu akibat beban pemakaian melebihi daya yang tersedia. Kondisi
inimengharuskan dilakukannya pengembangan penyediaan tenaga listrik pada tahun-
tahun mendatang yang meliputi pengembangan pembangkit, sistem kontrol dan
proteksi, serta sistem transmisi dan distribusi ke konsumen.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi peningkatan beban listrik yang tidak dapat
dipungkiri jika kebutuhan akan energi listrik semakin meningkat setiap tahunnya. Hal
ini diakibatkan karena semakin berkembangnya kebutuhan masyarakat yang harus
dipenuhi. Menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan Bidang Pertambangan dan
Energi, tingkat kebutuhan energi listrik dipengaruhi oleh faktor–faktor berikut ini :
Faktor ekonomi yang mempengaruhi tingkat kebutuhan tenaga listrik adalah
pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), Secara umum, PDRB dapat
dibagi menjadi 3 sektor, yaitu PDRB sektor komersial (bisnis), sektor industri dan
sektor publik. Kegiatan ekonomi yang dikategorikan sebagai sektor komersial/bisnis
adalah sektor listrik, gas dan air bersih, bangunan dan konstruksi, perdagangan, serta
transportasi dan komunikasi. Kegiatan ekonomi yang termasuk sektor publik adalah
jasa dan perbankan, termasuk lembaga keuangan selain perbankan. Sektor Industri
sendiri adalah mencakup kegiatan industri migas dan manufaktur. Faktor pertumbuhan
penduduk memiliki pengaruh besar terhadap kebutuhan tenaga listrik selain faktor
ekonomi. Sesuai dengan prinsip demografi, pertumbuhan penduduk akan terus turun
setiap tahunnya sampai pada suatu saat akan berada pada kondisi yang stabil. Faktor
pembangunan daerah. Berjalannya pembangunan daerah akan sangat dipengaruhi oleh
tingkat perekonomian daerah itu sendiri. Dalam hal ini baik langsung maupun tidak
langsung, faktor ekonomi sangat berpengaruh terhadap kebutuhan energi listrik seiring
dengan berjalannya pembangunan. Pemerintah Daerah sebagai pelaksana
pemerintahan di tingkat daerah akan mengambil peran penting dalam perencanaan
pengembangan wilayah. Hal itu berbentuk kebijakan yang tertuang dalam peraturan
daerah. Termasuk di dalamnya adalah perencanaan tentang tata guna lahan,
pengembangan industri, kewilayahan, pemukiman dan faktor geografis.

Tabel 3
DAYA TERSAMBUNG PER SEKTOR PELANGGAN
POWER CONNECTED BY TYPE OF CUSTOMERS (MVA)

Grafik 2
PENRJUALAN TENAGA LISTRIK PLN
SEKTOR PELANGGAN 2009-2014

KENDALA YANG DIHADAPI OLEH PEMBANGKITAN SISTEM TENAGA


LISTRIK
Energi listrik yang dipakai tentunya harus bersifat efisien, efektif, bermutu dan bisa
diandalkan. Berarti dalam pembangkitan dan penyaluran energi itu harus dilakukan
secara ekonomis dan rasional. Untuk mencapai tujuan itu ternyata dalam
pengoperasiannya banyak kendala yang harus dihadapi, hal ini disebabkan karena
timbulnya kejadian di sistem tenaga listrik (TL) yang bersifat random. Sedangkan
kondisi operasi itu bisa berubah, kalau terjadi perubahan beban dan keluarnya
peralatan jaringan pada sistem secara random. Hal ini tentunya akan menyebabkan
terjadinya deviasi operasi. Untuk itulah perlu dilakukan persiapan operasi yang matang
supaya deviasinya relatif kecil.
Sementara itu pada sistem TL yang bersifat dinamis perlu dilakukan prediksi operasi,
hal ini untuk memberi gambaran kondisi operasi kepada operator. Kemudian dengan
digunakannya teknik optimasi yang canggih pada pengoperasian sistem TL serta
problem yang muncul dianalisa maka hasil yang dicapaipun semakin optimal.
Sedangkan untuk mengetahui sejauh mana suatu sistem TL itu andal dan ekonomis,
maka digunakanlah suatu alat ukur yang berfungsi sebagai dasar untuk mengadakan
perincian. Alat ukur itu menggunakan metoda LOLP (Loss of Load Probability). Adapun
alat ukur itu dipakai untuk menghitung alokasi energi, rencana pemeliharaan unit
pembangkit dan neraca daya.

Salah satu faktor yang sangat menentukan dalam membuat rencana operasi Sistem
Tenaga Listrik adalah perkiraan beban yang akan dialami oleh sistem tenaga listrik yang
bersangkutan. Tidak ada rumus eksak untuk ini karena besarnya beban ditentukan oleh
para pemakai (konsumen) tenaga listrik yang secara bebas dapat menentukan
pemakaiannya.

Namun karena pada umumnya kebutuhan tenaga listrik seorang konsumcn sifatnya
periodik maka grafik pemakaian tenaga listrik atau lazimnya disebut sebagai grafik
beban dari Sistem Tenaga Listrik juga mempunyai sifat periodik.

Oleh karenanya statistik beban dari masa lalu beserta analisanya sangat diperlukan
untuk memperkirakan beban di masa yang akan datang yang pada umumnya dilakukan
dengan cara mengekstrapolir grafik beban di masa lampau ke masa yang akan datang.
Setelah dilakukan ekstrpolasi kemudian ditambahkan koreksi-koreksi terhadap hal-hal
khusus, baik untuk perkiraan jangka panjang, jangka menengah maupun jangka
pendek.

SOLUSI TERHADAP KENDALA SISTEM TENAGA LISTRIK


Pada perencanaan operasi sistem TL yang baik dan akurat tentunya pengawasan selama
sistem TL itu beroperasi relatif tidak perlu dilakukan. Sedangkan perencanaan operasi
itu sendiri adalah perencanaan bagaimana suatu sistem akan dioperasikan untuk jangka
waktu tertentu. Karena biaya operasi dari sistem merupakan biaya terbesar dari suatu
perencanaan yaitu mencapai kira-kira 70% dari seluruh biaya, maka perencanaan
operasi perlu dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik optimasi agar dapat
dicapai biaya operasi yang betul-betul dapat dipertanggung jawabkan. Sementara itu
jika dalam operasi terjadi ketidak cocokan yaitu antara prediksi dan kenyataan terlebih
pada kejadian yang tidak diharapkan, maka hal inilah yang disebut kesenjangan antara
perencanaan operasi dan operasi real time. Untuk itulah prinsip dari perencanaan
operasi harus memikirkan agar persamaan :
Daya yang dibangkitkan = Beban + Rugi-rugi,
selalu terpenuhi sepanjang waktu dengan biaya yang optimum. Mengingat hal itu maka
di dalam perencanaan operasi ada 6 masalah utama yang harus dipikirkan secara
khusus :
1. Pemeliharaan peralatan dalam sistem yang berkaitan dengan kemampuan
penyediaan daya untuk menghadapi beban.
2. Perkiraan beban yang akan terjadi dalam sistem untuk jangka waktu tertentu.
3. Perkiraan hujan yg akan jatuh dalam catching area PLTA untuk memperkirakan
kemampuan produksi PLTA dalam kaitannya dengan proses optimasi hidro-thermis
untuk menghadapi beban dalam butir 2.
4. Penjadwalan operasi unit-unit pembangkit yang optimum untuk menghadapi beban
yang diperkirakan dalam butir 2.
5. Pengaturan pembagian beban antara unit-unit pembangkit yang beroperasi dalam
sistem agar didapat pembebanan umum.
6. Kemungkinan terjadinya deviasi terhadap perencanaan operasi serta cara-cara
mengatasi hal ini.
Program real time yang digunakan pada P2B (Pusat Pengaturan Beban) terdiri dari
logika dan kalkulasi sederhana dengan menggunakan data yang diterima pusat
pembangkit. Pengaturan beban adalah pengaturan pembagian beban di antara pusat-
pusat listrik dalam sistem agar dapat melayani kebutuhan tenaga listrik dari sistem
dengan cara ekonomis dan dengan mempertimbangkan atau memperhatikan mutu
serta keadaan tenaga listrik yang dihasilkan. Sedangkan program yang lebih canggih
dari real time adalah program extended real time model matematisnya lebih komplek
biasanya prioritasnya lebih rendah. Tapi dalam operasinya juga berkomunikasi dengan
real time untuk pengaturan fungsi yang otomatis. Sedangkan penggunaan fungsi untuk
mengadakan transfer data sehingga program tersebut digunakan untuk studi.
Kemudian dengan adanya pusat pengaturan beban (P2B), maka hal itu sangatlah
membantu operator dalam pelaksanaan operasi real time. Dan dengan digunakannya
sistem komputerisasi pada P2B maka penggabungan antara sekuriti dan ekonomis bisa
dicapai pada setiap pelaksanaan operasi. Di mana prosedur di dalam pelaksanaan
operasi haruslah berorientasi terhadap sekuritas dan ekonomis. Sekuriti adalah
ketahanan/kemampuan suatu sistem untuk memenuhi kebutuhan beban.

Sementara itu seluruh pelaksanaan operasi mempunyai tujuan supaya sistem TL untuk
selalu tetap dalam kondisi normal. Namun jika terjadi gangguan, maka operator
haruslah segera berusaha membawa sistem ke kondisi normal. Sedangkan pada kondisi
normal itu pembangkitan bisa diatur sedemikian rupa sehingga ongkos seminim
mungkin bisa dicapai. Pada kondisi siap-siaga kendala beban dapat diatasi tapi kendala
sekuriti tidak dapat diatasi sehingga kondisi ini bisa juga dikatakan sebagai kondisi
darurat. Di mana pada kondisi darurat ini kendala operasi dan kendala sekuriti tidak
bisa diatasi, sehingga kondisi ini harus segera kembali ke kondisi normal dengan sedikit
mungkin gangguan pada konsumen. Pada kondisi pemulihan hanya terdapat kendala
operasi sedangkan gangguan sistem telah dihentikan. Tujuan kondisi ini adalah
mengembalikan sistem kepada keadaan semula secepatnya.

METODE PERKIRAAN PENINGKATAN BEBAN LISTRIK


Dalam memperkirakan peningkatan beban listrik di masa akan dating tidak dapat
dilakukan (diperhitungkan) secara pasti. Tapi beban listrik dapat diperkirakan besarnya
besarkan pengalaman-pengalaman di masa lalu kemudian diadakan perkiraan untuk
masa yang akan datang. Di bawah ini, disajikan beberapa metode yang dipakai untuk
memperkiraan beban listrik di masa akan datang :

1. Metode Least Square


Analisis trend merupakan suatu metode analisis yang ditujukan untuk melakukan suatu
estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan
dengan baik maka dibutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak
dan diamati dalam periode waktu yang relatif cukup panjang, sehingga dari hasil
analisis tersebut dapat diketahui sampai berapa besar fluktuasi yang terjadi dan faktor-
faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut. Secara teoristis,
dalam analisis time series yang paling menentukan adalah kualitas atau keakuratan dari
informasi atau data-data yang diperoleh serta waktu atau periode dari data-data
tersebut dikumpulkan.

Beban listrik di masa-masa silam dicatat dan kemudian ditarik garis ekstrapolasi
sedemikian hingga d12 + d22 + d32 + d42 adalah minimum.

Gambar 1

Metode ini dapat dipakai untuk memperkirakaan beban beban puncak yang akan terjadi
di Sistem Tenaga Listrik untuk beberapa tahun yang akan datang.

2. Metode Exponensial
Exponential Smoothing adalah suatu prosedur yang secara terus menerus memperbaiki
peramalan dengan merata-rata (menghaluskan = smoothing) nilai masa lalu dari suatu
data runtut waktu dengan cara menurun (exponential). Menurut Trihendradi (2005)
analisis exponential smoothingmerupakan salah satu analisis deret waktu, dan
merupakan metode peramalan dengan memberi nilai pembobot pada serangkaian
pengamatan sebelumnya untuk memprediksi nilai masa depan.
Gambar 2

Pada Sistem Tenaga Listrik metode ini dapat dipakai kalua beban listrik masih jauh dari
kejenuhan dan ada suatu target kenaikan penjualan energi listrik yang digariskan. Hal
ini terjadi di tempat-tempat yang baru mengalami elektrifikasi.

3. Metode Curve Fit


Analisa beban listrik yang akan datang dapat dilakukan dengan menggunakan metode
ini apabila sdh terlihat kejenuhan pada Sistem Tenaga Listrik. Kejenuhan ini bias terjadi
misalnya karena semua orang telah memakai tenaga listrik dan tidak ada
pengembangan sector industry maupun sektor lainnya.
Gambar 3

Dalam praktek, kejenuhan dapat dilihat pada pusat-pusat beban (Gardu Induk & Gardu
Distribusi) yang sekitarnya penuh dengan perumahan. Penambahan beban listrik hanya
terjadi kalua ada pemakaian di tempat tersebut yang menambahkan peralatan
listriknya, misalnya ada pemakai listrik memperbesar rumahnya sehingga memerlukan
tambahan peralatan listrik.

4. Metode Koefisien Beban


Gambar 4

Metode ini dipakai untuk mcmperkirakan beban harian dari suatu sistem tenaga Iistrik.
Beban untuk setiap jam diberi koefisien yang menggambarkan besarnya beban pada
jam tersebut dalam perbandingannya terhadap beban puncak, misalnya k4 = 0,6 berarti
bahwa beban pada jam 04.00 adalah sebesar 0,6 kali beban puncak yang terjadi pada
jam 19.00 (K19 = l), lihat gambar 11.6.
Koefisien-koefisien ini berbeda untuk hari Senin s/d Minggu dan juga untuk hari libur
bukan Minggu. Beban puncak dapat diperkirakan dengan melihat beban puncak
mingguan tahun-tahun yang lalu kemudian dengan menggunakan koefxsien-koefisien
tersebut diatas bisa diperkirakan grafik beban harian untuk suatu minggu yang akan
datang. Koefisien-koefisien ini perlu dikoreksi secara terus-menerus berdasarkan hasil
pengamatan atas beban yang sesungguhnya terjadi.

Setelah didapat perkiraan grafik beban harian dengan metode koefisien masih perlu
dilakukan koreksi-koreksi berdasarkan informasi-informasi terakhir mengenai
perkiraan suhu dan kegiatan masyarakat. Jika setelah koreksi-koreksi ini temyata masih
ada penyimpangan dalam operasi real time, maka adalah tugas operatior sistem
(dispatcher) untuk mcngatasi penyimpangan ini.

Apabila telah didapat koefisien beban puncak mingguan selama satu tahun (52 minggu)
maka metode ini dapat pula dikembangkan untuk perkiraan beban puncak mingguan
tertinggi dalam satu tahun, dengan memperhatikan langgam beban puncak mingguan
scpcrti pada gambar 1.2.
5. Metode Pendekatan Linier
Dengan menggunakan persamaan linier :

B = at + b0 dimana,
B = beban listrik pada saat t

a = suatu konstanta yang harus ditentukan

b0 = Beban pada saat t = t0

Gambar 5

Kontstnta a sesungguhnta tergantung pada waktu t dan besarnya b0. Cara ini hanya
dipakai untuk perkirakan beban beberapa puluh menit kedepan dan biasanya konstanta
a juga tergantung pada ramalan cuaca.

6. Metode Markov
Metode ini di pakai untuk memperkirakan beban puncak pada Sistem Tenaga Listrik
dalam jangka panjang dengan memperhitungkan kegiatan-kegiatan ekonomi di suatu
negara secara makro.

Selain masalah perkiraan beban dari suatu Sistem Tenaga Listrik khususnya beban
puncaknya seperti diuraikan di atas, masih perlu pula dilakukan perkiraan beban dari
sub system, misalnya perkiraan beban dari setiap Gardu Induk (GI). Hal ini diperlukan
untuk membuat analisis daya dalam Sistem Tenaga Listrik secara keseluruhan.
Daftar Pustaka
1. Amrullah M, MA. Tarif Listrik yang Mengacu pada Efisiensi Sumber Daya
Nasional serta Metodologi Peramalan Kebutuhan Listrik. PT PLN
(Persero). Jakarta, 1993.
2. Annonymous. Penyusunan Prakiraan Kebutuhan Listrik. Dinas Penelitian
Kebutuhan Listrik. PT PLN (Persero). Jakarta, 1996.
3. Djiteng, M. Operasi Sistem Tenaga Listrik. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta,
2006.
4. Statistik Ketenagalistrikan 2014 – DIREKTORAT JENDERAL
KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA
MINERAL
5. Chandra P. Putra, Maickel Tuegeh ST. MT., Ir. Hans Tumaliang MT., Lily.S. Patras
ST. Analisa Pertumbuhan Beban Terhadap Ketersediaan Energi Listrik
di Sistem Kelistrikan Sulawesi Selatan Teknik Elektro -FT. UNSRAT,
Manado-95115
6. http://riya-putri.blogspot.co.id/2011/12/karakteristik-perkiraan-beban.html
7. http://www.elektroindonesia.com/elektro/energi12b.html