You are on page 1of 23

Bed Site Teaching

TINEA

Oleh :
Irham Abshar 1740312060

Preseptor :
Dr. dr. Qaira Anum, Sp.KK(K), FINSDV,FAADV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M DJAMIL PADANG
2018
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi

Tinea adalah infeksi jamur superfisial disebabkan oleh dermatofita

yang memiliki kemampuan untuk melekat pada keratin dan

menggunakannya sebagai sumber nutrisi, dengan menyerang jaringan

berkeratin, seperti stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku. 1

1.2 Etiologi

Dermatofita ialah golongan jamur yang menyebabkan tinea.

Golongan jamur ini mempunyai sifat mencerna keratin. Dermatofita

termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu

Microsporum, Trichophyton, dan Epidemophyton. Hingga kini dkenal

sekiar 41 spesies dermatofita, masing-masing 2 spesies Epidermophyton,

17 species Microsporum dan 21 spesies Trichophyton. Saat ini, juga telah

ditemukan bentuk sempurna (perfect stage) pada spesies dermatofita

tersebut. Adanya bentuk sempurna yang terbentuk oleh dua koloni yang

berlainan “jenis kelaminnya” ini menyebabkan dermatofita dapat

dimasukkan ke dalam famili Gymnoascaceae. Dari beberapa spesies

dermatofita, misalnya genus Nannizzia dan Arthroderma masing-masing

dihubungkan dengan genus Microsporum dan Trichophyton.

Untuk kepentingan klinis dan epidemiologis, dermatofita yang

menginfeksi manusia dibagi berdasarkan tempat hidupnya, yaitu geofilik

untuk jamur yang berasal dari tanah antara lain M. Gypseum golongan

2
zoofilik berasal dari hewan misalnya M. Canis, antropofilik khusus untuk

jamur yang bersumber dari manusia contohnya T. Rubrum.2

1.3 Klasifikasi

Dermatofitosis disebut juga dengan istilah infeksi “tinea” yang

dikelompokkan lebih lanjut berdasarkan lokasi infeksinya, yaitu :

a. Tinea Kapitis : dermatofitosis pada kulit kepala dan rambut kepala

b. Tinea Barbe : dermatofitosis pada dagu dan jenggot

c. Tinea Kruris : dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus,

bokong, dan kadang- kadang sampai perut bagian bawah

d. Tinea Pedis et Manum : dermatofitosis pada kaki dan tangan

e. Tinea Unguium : dermatofitosis pada jari tangan dan kaki

f. Tinea Korporis : dermatofitosis pada bagian lain yang tidak

termasuk bentuk 5 diatas.2

Tinea Kruris

Tinea kruris merupakan golongan dermatofitosis pada lipat paha,

daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau

menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur

hidup (Djuanda, 2010). Penyakit ini merupakan penyakit terbanyak yang

ditemukan di daerah inguinal, yaitu sekitar 65-80% dari semua penyakit

kulit di inguinal, sehingga beberapa kepustakaan menyatakan inguinal

intertrigo sebagai sinonim dari tinea kruris.3

a. Penularan

Tinea kruris menyebar melalui kontak langsung ataupun kontak dengan

peralatan yang terkontaminasi, dan dapat mengalami eksaserbasi karena

3
adanya oklusi dan lingkungan yang hangat, serta iklim yang lembab.

Kelainan ini terjadi tiga kali lebih sering pada pria bila dibandingkan

dengan wanita, dan orang dewasa lebih sering menderita penyakit ini bila

dibandingkan dengan anak-anak. Autoinfeksi dari sumber penularan yang

jauh letaknya seperti halnya tinea pedis yang disebabkan oleh T. rubrum

atau T. mentagrophytes sering kali terjadi.1

b. Faktor Resiko

Faktor penting yang berperan dalam penyebaran dermatofita ini

adalah kondisi kebersihan lingkungan yang buruk, daerah pedesaan yang

padat, dan kebiasaan menggunakan pakaian yang ketat atau lembab.

Obesitas dan diabetes melitus juga merupakan faktor resiko tambahan oleh

karena keadaan tersebut menurunkan imunitas untuk melawan infeksi.

Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan

penyakit yang berlangsung seumur hidup. Tinea kruris lebih sering

menyerang pria dibandingkan wanita.4

c. Patogenesis

Dermatofit menggunakan keratin sebagai sumber gizi, mereka

umumnya tidak menyerang jaringan yang bagus. Mereka menjajah keratin

di stratum korneum dan jaringan sekitarnya biasanya merupakan hasil dari

respon host alergi atau peradangan terhadap kehadiran jamur. Beberapa

dari infeksi tersebut menyebabkan lesi melingkar yang dihasilkan dari

reaksi inflamasi memaksa dermatofit luar untuk peradangan daerah bebas.

Didukung dengan faktor predisposisi infeksi jamur, seperti bertambahnya

usia dengan mobilitas yang terbatas, imunosupresi, defisit neurologis, dan

4
kondisi iatrogenik disertai penyakit lain yang mendasari. Jalur infeksi yang

diduga sebagai tempat dermatofit untuk menginfeksi pejamu ialah melalui

kulit yang terluka misalnya : luka gores atau luka bakar. Bagian dari

dermatofit yang menginfeksi ialah atrokonidia atau konidia. Kuman

patogen menyerang stratum korneum, memproduksi exo-enzym keratinase,

dan menginduksi reaksi inflamasi pada lokasi infeksi.5

Tanda-tanda inflamasi ialah kemerahan, pembengkakan, panas dan

alopesia dapat ditemukan didaerah yang terinfeksi. Penyebab inflamasi

biasanya lokasi infeksi yang mengkontaminasi daerah yang belum

terinfeksi. Perpindahan patogen ini menyebabkan lesi seperti cincin. Tinea

kruris dapat menyebar melalui kontak langsung dengan penderita atau

berkontak langsung dengan benda yang telah terinfeksi.

d. Manifetasi Klinis

Manifestasi klinis tinea kruris adalah rasa gatal atau terbakar pada

daerah lipat paha, genital, sekitar anus dan daerah perineum. Gejala Klinis

tinea kruris yang khas adalah gatal yang meningkat saat berkeringat,

dengan bentuk lesi polisiklik / bulat berbatas tegas, efloresensi polimorfik,

dan tepi lebih aktif.5 Tinea kruris biasanya tampak sebagai papulovesikel

eritematosa yang multipel dengan batas tegas dan tepi meninggi .2

Adanya central healing yang ditutupi skuama halus pada bagian tengah

lesi. Tepi yang meninggi dan merah sering ditemukan pada pasien. Pruritus

sering ditemukan, seperti halnya nyeri yang disebabkan oleh maserasi

ataupun infeksi sekunder.4 Tinea kruris biasanya dimulai dengan patch

merah tinggi di bagian dalam dari salah satu atau kedua paha. Pada laki-

5
laki biasanya pada daerah skrotum menyebar di tengah dengan daerah tepi

luar yang sedikit lebih tinggi, merah, dan memiliki perbatasan yang tajam.6

Ruam bisa menyebar ke paha, sampai ke daerah kemaluan dan bahkan

memanjang sampai ke pantat. Pasien juga merasakan gatal yang

menyebabkan ketidaknyamanan dan iritasi yang memberikan sensasi

terbakar di daerah yang terkena. Pada kulit pangkal paha biasanya

mengalami pengelupasan atau pecah-pecah, kemungkinan juga menyebar

ke daerah anus.7

Gambar 1 : Terdapat plak eritematosa berbatas tegas di daerah inguinal dan


pubis

e.

Gambar 2 Tinea kruris: Eritema dengan area atrofi dan skala di sebelah kanan
medial paha atas yang berbatasan dengan daerah inguina

6
e. Diagnosis

1. Anamnesis

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan: rasa

gatal hebat pada daerah kruris (lipat paha), lipat perineum, bokong dan

dapat ke genitalia; ruam kulit berbatas tegas, eritematosa dan bersisik,

semakin hebat jika banyak berkeringat.8

2. Pemeriksaan fisik

Lokalisasi : Regio inguinalis bilateral, simetris. Meluas ke perineum,

sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke

suprapubis dan abdomen bagian bawah. Effloresensi/sifat-sifatnya: Makula

eritematosa numular sampai geografis, berbatas tegas dengan tepi lebih

aktif terdiri dari papula atau pustul. Jika kronik macula menjadi

hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya.

c. Pemeriksaan penunjang

1) Lampu Wood

Lampu wood pertama kali digunakan dalam praktek dermatologi untuk

mendeteksi jamur infeksi hair oleh Margaret dan Deveze tahun 1925.

Lampu Wood memancarkan radiasi UV gelombang panjang (UVR), juga

disebut cahaya hitam, yang dihasilkan oleh tinggi tekanan busur merkuri

dilengkapi dengan filter senyawa

terbuat dari barium silikat dengan 9% nikel oksida, yang Filter Wood.

Filter ini terlihat buram pada semua sinar kecuali sebuah band antara 320

dan 400 nm dengan puncak pada 365 nm. Dermatofita yang menyebabkan

fluoresens umumnya anggota genus Microsporum. Namun, tidak adanya

7
fluoresensi tidak selalu mengesampingkan tinea capitis seperti kebanyakan

spesies Trichophyton, dengan pengecualian T. schoenleinii, yang

nonfluoresens. Gambaran Tinea kruris tidak terlihat pada pemeriksaan ini.9

2) KOH (potassium hidroksida): tampak elemen jamur seperti hifa, spora

dan miselium.

Tinea Corporis

Tinea corporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut.

a. Gambaran Klinis

Gambaran klinis dimulai dengan lesi bulat atau lonjong dengan tepi yang

aktif dengan perkembangan kearah luar, bercak-bercak bisa melebar dan akhirnya

memberi gambaran yang polisiklik,arsinar,dan sirsinar. Pada bagian pinggir

ditemukan lesi yang aktif yang ditandai dengan eritema, adanya papul atau vesikel,

sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang. Tinea korporis yang

menahun, tanda- tanda aktif menjadi hilang dan selanjutnya hanya meninggalkan

daerah hiperpigmentasi saja. Gejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika

berkeringat dan kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan.

Tinea korporis biasanya terjadi setelah kontak dengan individu atau

dengan binatang piaraan yang terinfeksi, tetapi kadang terjadi karena kontak

dengan mamalia liar atau tanah yang terkontaminasi. Penyebaran juga mungkin

terjadi melalui benda misalnya pakaian, perabot dan sebagainya.

8
Gambar 3. Gambar Penyakit Tinea Korporis pada

Gambar 4. Gambar Penyakit Tinea Korporis pada Lengan

Pemeriksaan Laboratorium

Selain dari gejala khas tinea korporis, diagnosis harus dibantu dengan

pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan mikroskopis, kultur,

pemeriksaan lampu wood, biopsi dan histopatologi, pemeriksaan serologi, dan

pemeriksaan dengan menggunakan PCR. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan

dengan membuat preparat langsung dari kerokan kulit, kemudian sediaan dituangi

larutan KOH 10%. Sesudah 15 menit atau sesudah dipanaskan dengan api kecil,

9
dilihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini memberikan hasil positif hifa

ditemukan hifa (benang-benang) yang bersepta atau bercabang, selain itu tampak

juga spora berupa bola kecil sebesar 1-3µ. Kultur dilakukan dalam media agar

sabaroud pada suhu kamar (25- 30⁰C),kemudian satu minggu dilihat dan dinilai

apakah ada pertumbuhan jamur. Spesies jamur dapat ditentukan melalui bentuk

koloni, bentuk hifa dan bentuk spora .

Pemeriksaan lampu wood adalah pemeriksaan yang menggunakan sinar

ultraviolet dengan panjang gelombang 365 nm. Sinar ini tidak

dapat dilihat. Bila sinar ini diarahkan ke kulit yang mengalami infeksi oleh jamur

dermatofita tertentu, sinar ini akan berubah menjadi dapat dilihat dengan memberi

warna (fluoresensi). Beberapa jamur yang memberikan fluoresensi yaitu M.canis,

M.audouini, M.ferrugineum dan T.schoenleinii.

Pengobatan

Pengobatan infeksi jamur dibedakan menjadi terapi umum dan terapi khusus.

1) Terapi Umum

 Gunakan handuk tersendiri untuk mengeringkan bagian yang terkena

infeksi atau bagian yang terinfeksi dikeringkan terakhir untuk mencegah

penyebaran infeksi ke bagian tubuh lainnya.

 Jangan mengunakan handuk, baju, atau benda lainnya secara bergantian

dengan orang yang terinfeksi.

 Cuci handuk dan baju yang terkontaminasi jamur dengan air panas untuk

mencegah penyebaran jamur tersebut

 Bersihkan kulit setiap hari menggunakan sabun dan air untuk

menghilangkan sisa-sisa kotoran agar jamur tidak mudah tumbuh.

10
 Jika memungkinkan hindari penggunaan baju dan sepatu yang dapat

menyebabkan kulit selalu basah seperti bahan wool dan bahan sintetis

yang dapat menghambat sirkulasi udara.

 Sebelum menggunakan sepatu, sebaiknya dilap terlebih dahulu dan

bersihkan debu-debu yang menempel pada sepatu.

 Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami infeksi jamur.

Gunakan sandal yang terbuat dari bahan kayu dan karet.

2) Terapi Khusus

Pengobatan topikal merupakan pilihan utama. Efektivitas obat topikal dipengaruhi

oleh mekanisme kerja,viskositas, hidrofobisitas dan asiditas formulasi obat

tersebut. Selain obat-obat klasik, obat- obat derivate imidazole dan alilamin dapat

digunakan untuk mengatasi masalah tinea korporis ini. Efektivitas obat yang

termasuk golongan imidaol kurang lebih sama. Pemberian obat dianjurkan selama

3-4 minggu atau sampai hasil kultur negative. Selanjutnya dianjurkan juga untuk

meneruskan pengobatan selama 7-10 hari setelah penyembuhan klinis dan

mikologis dengan maksud mengurangi kekambuhan.

 Griseofulvin

Griseofulvin merupakan obat sistemik pilihan pertama. Dosis untuk anak-anak 15-

20 mg/kgBB/hari, sedangkan dewasa 500-1000 mg/hari

 Ketokonazol

Ketokonazol digunakan untuk mengobati tinea korporis yang resisten terhadap

griseofulvin atau terapi topikal. Dosisnya adalah 200 mg/hari selama 3 minggu.

 Obat-obat yang relative baru seperti itrakonazol serta terbinafin dikatakan cukup

memuaskan untuk pengobatan tinea korporis.

11
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Umur : 57 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Koto Gunung, Kelurahan 4 koto Mudiak, Pesisir
Selatan
Status : Sudah menikah
Agama : Islam
Suku : Minang
Negeri Asal : Indonesia

II. ANAMNESIS

Seorang pasien wanita, berusia 57 tahun datang ke Poliklinik Kulit


dan Kelamin RSUP. Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 10 November
2018, dengan :
a. Keluhan Utama

Bercak-bercak merah disertai gatal pada kedua ketiak, kedua lipatan


bawah payudara dan kedua sela paha yang bertambah banyak sejak 1
bulan ini.

Riwayat Penyakit Sekarang


- Timbul bercak-bercak merah disertai gatal pada kedua ketiak, kedua

lipatan bawah payudara dan kedua sela paha yang bertambah banyak

sejak 1 bulan ini.

- Awalnya keluhan dirasakan 2 bulan yang lalu, timbul bercak merah

disertai gatal pada bawah lipatan payudara.

12
- Bercak-bercak kemerahan tersebut dirasakan sangat gatal terutama

bila berkeringat dan udara panas.

- Riwayat pemakaian handuk dan pakaian bersama disangkal.

- Riwayat kontak dengan binatang peliharaan dengan botak-botak

setempat disangkal.

- Riwayat kontak dengan tanah, berkebun, bercocok tanam tanpa

menggunakan sarung tangan disangkal.

- Riwayat berketombe pada rambut disangkal.

- Riwayat sisik halus di atas alis, lipatan hidung, belakang telinga

disangkal.

- Riwayat atopi disangkal.

- Riwayat gula darah tinggi disangkal.

b. Riwayat Pengobatan

 Sekitar 5 minggu yang lalu karena keluhan bercak merah dan gatal ini
pasien membeli obat salap di apotik, yaitu salap inerson dioleskan
1x/hari setelah mandi, keluhan pasien dirasakan berkurang, pasien
masih meoleskan salap ini terakhir kemarin sore.
 Lebih kurang 4 minggu yang lalu, bercak-bercak merah disertai gatal
semakin bertambah dan meluas ke kedua lipatan bawah payudara,
kedua lipatan ketiak, kedua sela paha, karena keluhan ini pasien juga
membeli obat di apotik yaitu PK, pasien mandi dengan air PK 2x/hari
selama 1 minggu, keluhan pasien berkurang.
c. Riwayat Penyakit Dahulu

- Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

d. Riwayat Penyakit Keluarga/Riwayat Atopi/Alergi

- Dirumah pasien ada yang menderita bercak-bercak merah disertai

gatal seperti pasien yaitu anak adik pasien.

13
- Bersin pagi hari (-), asma (-), mata merah, gatal dan berair(-), alergi

makanan (-), alergi obat (-)

e. Riwayat Pekerjaan, Sosial, Kebiasaan

- Pasien seorang ibu rumah tangga dengan aktivitas fisik sedang

- Mandi berapa x sehari tidak ditanyakan, menggunakan sabun tidak

ditanyakan.

- Mengganti baju tidak ditanyakan.

- Penderita menyangkal memelihara anjing, kucing atau ternak lainnya

III. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Komposmentis Kooperatif
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Nafas : 18 x/menit
Suhu : Afebris
Berat Badan : 63 Kg
Tinggi Badan : 167 cm
IMT : 22,6
Status Gizi : Normoweight
Pemeriksaan torak : Diharapkan dalam batas normal
Pemeriksaan abdomen : Diharapkan dalam batas normal
Pemeriksaan ekstremitas : Tidak ada kelainan
Status Dermatologikus
Lokasi : Lipatan sela paha
Distribusi : Terlokalisir
Bentuk : Tidak khas
Susunan : Polisiklik
Batas : Tegas s/d tidak tegas

14
Ukuran : Plakat
Efloresensi : Plak eritem, skuama kasar

Lokasi : Kedua ketiak, kedua lipat payudara


Distribusi : Terlokalisir
Bentuk : Tidak khas
Susunan : Tidak khas
Batas : Tegas s/d tidak tegas
Ukuran : Plakat
Efloresensi : Makula hiperpigmentasi dan papula eritem

15
 Status Venerelogikus : diharapkan dalam batas normal

 Kelainan Selaput : diharapkan dalam batas normal

 Kelainan Kuku : tidak ada kelainan

 Kelainan Rambut : tidak ada kelainan

 Kelainan Kelenjar Limfe : tidak ada pembesaran kelenjar getah

bening

IV. RESUME

Seorang pasien perempuan, berusia 57 tahun datang ke Poliklinik Kulit

dan Kelamin RSUP. Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 10 November 2018

dengan keluhan timbul bercak-bercak merah disertai gatal pada kedua ketiak,

kedua lipatan bawah payudara dan kedua sela paha yang bertambah banyak sejak

1 bulan ini. Awalnya keluhan dirasakan 2 bulan yang lalu, timbul bercak merah

16
disertai gatal pada bawah lipatan payudara. Bercak-bercak kemerahan tersebut

dirasakan sangat gatal terutama bila berkeringat dan udara panas.

Pasien pernah berobat sekitar 5 minggu yang lalu karena keluhan bercak

merah dan gatal ini pasien membeli obat salap di apotik, yaitu salap inerson

dioleskan 1x/hari setelah mandi, keluhan pasien dirasakan berkurang, pasien

masih meoleskan salap ini terakhir kemarin sore. Lebih kurang 4 minggu yang

lalu, bercak-bercak merah disertai gatal semakin bertambah dan meluas ke kedua

lipatan bawah payudara, kedua lipatan ketiak, kedua sela paha, karena keluhan ini

pasien juga membeli obat di apotik yaitu PK, pasien mandi dengan air PK 2x/hari

selama 1 minggu, keluhan pasien berkurang.

Dari pemeriksaaan dermatologikus ditemukan lesi di daerah lipatan sela

paha dengan distribusi terlokalisir, bentuk tidak khas, susunan polisiklik, batas

tegas sampai dengan tidak tegas, ukuran plakat dengan efloresensi plak eritema

dengan skuama kasar. dan juga ditemukan lesi di daerah kedua ketiak dan kedua

lipat payudara dengan distribusi terlokalisir, bentuk tidak khas, susunan tidak

khas, batas tegas sampai dengan tidak tegas, ukuran plakat dengan efloresensi

makula hiperpigmentasi dan papula eritem.

V. DIAGNOSIS KERJA

- Diagnosis Kerja : Tinea Kruris

- Diagnosis Banding : Dermatitis Seboroik

VI. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN ANJURAN

a. Pemeriksaan Rutin
Mikologi (kerokan kulit + KOH 10%)

17
Ditemukan hifa dikotom dicontour bercabang dan artrospora.
b. Pemeriksaan Anjuran
Kultur jamur dengan media agar sabouraud

VII. DIAGNOSIS

Tinea kruris

VIII. PENATALAKSANAAN

a. Umum
- Menjelaskan tentang penyakit bahwa penyakitnya bisa menular
melalui kontak langsung baik dengan manusia maupun dengan
binatang
- Mandi 2 kali sehari
- Handuk dicuci sekali seminggu, setelah pemakaian handuk dijemur
- Pemakaian sabun mandi dipisahkan dengan keluarga atau
menggunakan sabun cair
- Seluruh badan harus dikeringkan setelah mandi dan diberikan krim
anti jamur
- Minum obat dan pakai krim teratur sesuai dengan aturan pakai obat
- Memberitahukan kepada pasien bahwa pengobatan memerlukan
waktu yang lama
b. Khusus
- Sistemik
Griseofulvin 1x750mg selama 2 minggu
- Topikal
Ketokonazol cream 2% : 2 kali sehari (pada lesi setelah mandi)

IX. PROGNOSIS

Quo ad Sanationam : Bonam


Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Kosmetikum : Bonam
Quo ad Functionam : Bonam

18
X. RESEP

dr.Irham Abshar
Praktik Umum
SIP: NO.23/ tahun 2018
Alamat: Jl. Sawahan Dalam No.123
Telp: 0751553322
Praktek: Senin-Jumat
Jam: 16.00-20.00

Padang, 11 November 2018

R/ Griseofulvin tab 700 mg No. XV


S1dd Tab I½
R/ Ketokonazol cream 2% 10 mg tube No.II
Sue 2dd app loc dol

Pro : Ny. S
Usia : 57 tahun
Alamat : Pesisir Selatan

19
BAB III

DISKUSI

Telah dilaporkan kasus seorang pasien laki-laki berumur 57 tahun datang

ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP. Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 11

November 2018 dengan diagnosis Tinea kruris.

Diagnosis pada pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis dan

pemeriksaan fisik. Berdasarkan anamnesis diketahui bahwa timbul Bercak-bercak

merah disertai gatal pada kedua ketiak, kedua lipatan bawah payudara dan kedua

sela paha yang bertambah banyak sejak 1 bulan ini. Awalnya keluhan dirasakan 2

bulan yang lalu, timbul bercak merah disertai gatal pada bawah lipatan payudara.

Bercak-bercak kemerahan tersebut dirasakan sangat gatal terutama bila

berkeringat dan udara panas.

Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa pada tinea muncul gejala gatal.

Gejala gatal pada tinea biasanya muncul dalam waktu relatif lama, jarang muncul

gejala dalam waktu singkat. Hal ini bisa disebabkan oleh karena gejala dari

penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah asimtomatis.

Dari pemeriksaaan dermatologikus ditemukan lesi di daerah lipatan sela

paha dengan distribusi terlokalisir, bentuk tidak khas, susunan polisiklik, batas

tegas sampai dengan tidak tegas, ukuran plakat dengan efloresensi plak eritem

dengan skuama kasar. Hal ini sesuai dengan gambaran tinea.

Pasien diberikan tatalaksana umum dan khusus. Tatalaksana umum pada

pasien ini berupa Menjelaskan tentang penyakit bahwa penyakitnya bisa menular

melalui kontak langsung baik dengan manusia maupun dengan binatang. Pasien

dianjurkan mandi 2 kali sehari, mencuci handuk sekali seminggu, setelah

20
pemakaian handuk dijemur, memakai sabun mandi dipisahkan dengan keluarga

atau menggunakan sabun cair. Seluruh badan harus dikeringkan setelah mandi dan

diberikan krim anti jamur, minum obat dan pakai krim teratur sesuai dengan

aturan pakai obat, memberitahukan kepada pasien bahwa pengobatan memerlukan

waktu yang lama. Tatalaksana khusus yang diberikan berupa griseofulvin

1x700mg dan ketokonazol krim 2% 2 kali sehari pada lesi.

Prognosis pada pasien ini adalah quo ada sanationam bonam, quo ad vitam

bonam, quo ad kosmetikum bonam, quo ad functionam bonam.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Verma S, Hefferman MP. 2008. Fitzpatrick's Dermattology in general

medicine, edisi ke-7. New York: McGraw Hill. p.1807-21.

2. Widaty Sandra, Unandar Budimulja. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan

Kelamin. Ed 7. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

3. Adiguna, MS. 2011. Update Treatment In Inguinal Intertrigo And Its

Differential. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas

Kedokteran Universitas Udayana. hlm.309-333.

4. Patel GA, Wiederkehr M. Schwartz RA. 2009. Tinea Kruris in Children.

Pediatric Dermatology. New jersey.

5. Abdelal EB, Shalaby MAS, Abdo HM, Alzafarany MA, Abubakr AA.

2013. Detection of dermatophytes in clinically normal extra-crural sites in

patients with tinea cruris. The Gulf Journal of Dermatology and

Venereology. 20(1):31-39

6. Risdianto A, Kadir D, Amin S. 2013. Tinea corporis and Tinea cruris

Cause by Trichophyton Mentagrophytes Type Granular in Asthma

Bronchiale Patient. Department of Dermatovenereology Universitas

Hasanuddin. 2(2): 31-8.

7. Hainer BL. 2003. Dermatophyte Infections. American Family

Physician.67(1):101-8.

8. Siregar. 2003. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi ke-2.

Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.

22
9. Wolff K, Johnson RA. Fitzpatrick’s. 2009. Color Atlas and Synopsis of

Clinical Dermatology. Edisi ke-6. hlm. 692-718. New York: The McGraw-

Hill Companies.

23