You are on page 1of 31

I.

PENDAHULUAN

Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma

merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang

menumpanginya.1
Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi (20-25%), dimana prevalensi
mioma uteri meningkat lebih dari 70 % dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus,
membuktikan banyak wanita yang menderita mioma uteri asimptomatik. Walaupun jarang terjadi
mioma uteri biasa berubah menjadi malignansi (<1%). Gejala mioma uteri secara medis dan
sosial cukup meningkatkan morbiditas, disini termasuk menoragia, ketidaknyamanan daerah
1,2
pelvis, dan disfungsi reproduksi. Kejadiannya lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yaitu
mendekati angka 40 %. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun, menunjukkan
adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Mioma uteri dilaporkan belum pernah terjadi
sebelum menarke dan menopause. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri ditemukan 2,39%-
11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat. Di USA warna kulit hitam 3-9 kali lebih
3,4
tinggi menderita mioma uteri.
Menoragia yang disebabkan mioma uteri menimbulkan masalah medis dan sosial pada

wanita.
Mioma uteri terdapat pada wanita di usia reproduktif, pengobatan yang dapat dilakukan
adalah histerektomi, dimana mioma uteri merupakan indikasi yang paling sering untuk dilakukan
5
histerektomi di USA (1/3 dari seluruh angka histerektomi).
Mioma uteri ini menimbulkan masalah besar dalam kesehatan dan terapi yang paling
efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi mengenai etiologi mioma uteri itu
sendiri. Baru-baru ini penelitian sitogenetik, molekuler dan epidemiologi mendapatkan peranan
besar komponen genetik dalam patogenesis dan patobiologi mioma uteri.

II. DEFINISI
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang dilipat oleh pseudo kapsul, yang

berasal dari sel otot polos yang imatur. 1


Dengan nama lain leiomioma, fibroid dan fibromioma.

III. PATOGENESIS
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri saat ini belum diketahui. Mioma uteri banyak
ditemukan pada usia reproduktif dan angka kejadiannya rendah pada usia menopause, dan belum
pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche. Diduga penyebab timbulnya mioma uteri paling
1
banyak oleh stimulasi hormon estrogen. Pukka menemukan bahwa reseptor estrogen pada
mioma uteri lebih banyak didapatkan dibandingkan dengan miometrium normal. Meyer dan De
4
Snoo mengemukakan patogenesis mioma uteri dengan teori cell nest dan genitoblast. Apakah
estrogen secara langsung memicu pertumbuhan mioma uteri, atau memakai mediator masih
menimbulkan silang pendapat. Dimana telah ditemukan banyak sekali mediator didalam mioma
uteri, seperti estrogen growth factor, insulin growth factor – 1 ( IGF – 1 ), connexsin – 43 – Gap
junction protein dan marker proliferasi.
Awal mulanya pembentukan tumor adalah terjadinya mutasi somatik dari sel-sel

miometrium.
Mutasi ini mencakupi rentetan perubahan pada kromosom, baik secara parsial
maupun secara keseluruhan. Aberasi kromosom ditemukan pada 23-50% dari mioma uteri yang
diperiksa, dan yang terbanyak (36,6%) ditemukan pada kromosom 7 ( del (7) (q 21) / q 21 q 32 ).
Keberhasilan pengobatan medikamentosa mioma uteri sangat tergantung apakah telah terjadi
2,5
perubahan pada kromosom atau tidak.

IV. PATOLOGI ANATOMI


Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari
korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma uteri
dibagi 4 jenis antara lain:
1. Mioma submukosa
2. Mioma intramural
3. Mioma subserosa
4. Mioma intraligamenter

Lokasi mioma pada uterus

Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa (48%),
3
submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%)
1. Mioma submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai
6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan
perdarahan. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan
perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan
gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya
benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi
dapat diketahui posisi tangkai tumor. 3 Tumor jenis ini sering mengalami infeksi,
terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah
jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga
rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan, yang
mudah mengalami infeksi, ulserasi dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan
mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.
Gambaran USG mioma submukosa, tampak gambaran
massa hipoekhoik yang menekan endometrial line

2. Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor,
jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor.
Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai
bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada
dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung
kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.

Gambaran USG mioma intramural, tampak gambaran


Massa hipoekhoik yang berada di dalam dinding uterus

3. Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus
diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum
latum menjadi mioma intraligamenter.

4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum
atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wondering
parasitis fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus.
Mioma pada servik dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri
eksternum berbentuk bulan sabit.
Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari bekas otot polos dan
jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie like pattern) dengan pseudokapsul
yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan.

V. GAMBARAN MIKROSKOPIK
Pada pembelahan jaringan mioma tampak lebih putih
dari jaringan sekitarnya.
Papemeriksaan secara mikroskopik dijumpai se-sel otot polos panjang, yang membentuk
bangunan yang khas sebagai kumparan ( whorle like pattern). Inti sel juga panjang dan
bercampur dengan jaringan ikat. Pada pemotongan tranversal, sel berbentuk polihedral dengan
sitoplasma yang banyak mengelilinginya. Pada pemotongan longitudinal inti sel memanjang, dan
ditemukan adanya “mast cells” diantara serabut miometrium sering diinterprestasi sebagai sel
1,6,7
tumor atau sel raksasa ( giant cells ).

VI. PERUBAHAN SEKUNDER


a. Atrofi sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan berakhir mioma uteri menjadi
kecil.
b. Degenerasi hialin, perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita usia lanjut.
Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen.Dapat meliputi sebagian besar
atau hanya sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut
otot dari kelompok lainnya.
c. Degenerasi kistik, dapat meliputi daerah kecil maupun luas, sebagian dari mioma
menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-
agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga
menyerupai limfangioma. Dengan konsistansi yang lunak tumor ini sukar dibedakan
dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
d. Degenerasi membatu ( calcireous degeneration ), terutama terjadi pada wanita berusia
lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan
garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan
bayangan pada foto rontgen.
e. Degenerasi merah ( carneous degeneration ), perubahan ini biasanya terjadi pada
kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan karena suatu nekrosis subakut akibat
gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat terlihat sarang mioma seperti daging
mentah berwarna merah disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin.
Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda yang disertai
emesis dan haus, sedikit demam dan kesakitan, tumor dan uterus membesar dan nyeri
pada perabaan.Penampilan klinik seperti ini menyerupai tumor ovarium terpuntir atau
mioma bertangkai.
f. Degenerasi lemak, keadaan ini jarang dijumpai, tetapi dapat terjadi pada degenerasi
4
hialin yang lanjut, dikenal dengan sebutan fibrolipoma.
VII. KOMPLIKASI
1. Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemuken hanya 0.32 – 0.6 % dari seluruh
mioma serta merupakan 50 – 75 % dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
2,6
pembesaran sarang mioma dalam menopause. Novak dan Woodruff melaporkan
insiden leiomiosarkoma adalah dibawah 0.5 %.
2. Torsi ( putaran tangkai )
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Keadaan ini dapat terjadi pada semua bentuk mioma
tetapi yang paling sering adalah jenis mioma submukosa pendinkulata.

VIII. GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS


1. Gejala klinis
Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung pada lokasi, arah
pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20 – 50 % saja
mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun.
Hipermenoroe, menometroragia adalah merupakan gejala klasik dari gejala mioma
uteri. Dari penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 pasien ditemukan 44%
gejala perdarahan, yang paling sering adalah jenis mioma submukosa, sekitar 65 %
wanita dengan mioma mengeluh dismeneroe, nyeri perut bagian bawah, serta
nyeri pinggang. Tergantung dari lokasi dan arah pertumbuhan mioma, maka kandung
kemih, ureter dan usus dapat terganggu, dimana peneliti melaporkan keluhan disuri
(14 %), keluhan obstipasi (13 % ). Mioma uteri sebagai penyebab infertilitas hanya
dijumpai pada 2 – 10 % kasus. Infertilitas terjadi sebagai akibat obstruksi mekanis
dari tuba fallopi. Abortus spontan dapat terjadi bila mioma menghalangi pembesaran
uterus, dimana menyebabkan kontraksi uterus yang abnormal, dan mencegah terlepas
2
atau tertahannya uterus didalam panggul.
2. Pemeriksaan fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemeriksaan bimanual rutin uterus. Diagnosis
mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih
massa yang licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah
bagian dari uterus.

3. Temuan laboratorium
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan
uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma
menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia.
Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan
mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan
kemudian menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.
4. Pemeriksaan penunjang
a. Ultrasonografi
adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus
yang kecil. Uterus atau massa yang paling besar paling baik diobservasi melalui
ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan gambaran
ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran
uterus. Adanya kalsifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik dengan bayangan
2
akustik. Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang hipoekoik.
b. Histeroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika
tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut sekaligus dapat diangkat.
c. MRI ( Magnetic Resonance Imaging )
MRI sangat akurat dalam menggambarkan jumlah,ukuran dan lokasi mioma, tetapi
jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas
dan dapat dibedakan dari miometrium yang normal. MRI dapat mendeteksi lesi
sekecil 3 mm dan dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma submukosa.
MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat
2
disimpulkan.
IX. PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Penderita dengan ukuran mioma yang kecil dari 12 minggu dan tanpa gejala tidak
memerlukan pengobatan, terutama pasien sudah memasuki fase menopause, akan
tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika mioma lebih besar dari kehamilan
10 – 12 minggu, tumor yang berkembang cepat, terjadi torsi pada tangkai, perlu
diambil tindakan operasi. Penderita seperti diatas tetap dilakukan follow up setiap 3
1,4,8
atau 6 bulan sekali untuk melihat ukuran rahim dan perkembangan tumor.
2. Terapi medikamentosa
Terapi medikamentosa yang dapat memperkecil volume atau menghentikan
pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Terapi
medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara
3,9
dari terapi operatif.
Adapun preparat yang sering digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analog
GnRH, progesteron, danazol, dan anti prostaglandin.
Analog GnRH .
Penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 pasien dengan mioma uteri yang
diberikan analog GnRH leuprorelin asetat selama 6 bulan, ditemukan pengurangan
volume uterus rata-rata 67 %, pada 90 wanita didapatkan pengecilan volume uterus
sebesar 20 % , dan 35 wanita ditemukan pengurangan volume mioma sebanyak 80 %.
Efek maksimal dari analog GnRH baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara kerjanya
menekan produksi estrogen dengan sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah
menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause. Setiap mioma uteri memberikan
2,10
hasil yang berbeda-beda terhadap pemberian analog GnRH.
Mioma submukosa dan mioma intramural merupakan mioma uteri yang paling
responsif terhadap pemberian analog GnRH. Sedangkan mioma subserosa tidak
responsif dengan pemberian analog GnRH ini.
2
Keuntungan pemberian pengobatan medikamentosa dengan analog GnRH adalah.
1. Mengurangi volume uterus dan volume mioma uteri
2. Mengurangi anemia akibat pendarahan
3. Mengurangi pendarahan pada saat operasi
4. Tidak diperlukan insisi yang luas pada uterus saat pengangkatan mioma
5. Mempermudah tindakan histerektomi vaginal
6. Mempermudah pengangkatan mioma submukosa dengan histeroskopi

Progesteron
Peneliti Lipschutz tahun 1939, melaporkan perkembangan mioma uteri dapat dihambat

atau dihilangkan dengan pemberian progesteron.


Dimana progesteron yang diproduksi
oleh tubuh dapat berinteraksi secara sinergis dengan estrogen, tetapi mempunyai aksi
3,11,12
antagonis. Tahun 1946 Goodman melaporkan terapi injeksi progesteron 10 mg
dalam 3 kali seminggu atau 10 mg sehari selama 2 – 6 minggu, terjadi regresi dari
mioma uteri, setelah pemberian terapi. Segaloff tahun 1949, mengevaluasi 6 pasien
dengan perawatan 30 sampai 189 hari, dimana 3 pasian diberi 20 mg progesteron
intramuskuler tiap hari, dan 3 pasian lagi diberi 200 mg tablet. Pengobatan ini tidak
mempengaruhi ukuran mioma uteri.
Goldhiezer, melaporkan adanya perubahan degeneratif mioma uteri pada pemberian
progesteron dosis besar. Dengan pemberian medrogestone 25 mg pr hari selama 21
hari. Pada pemberian 2 mg norethindrone tiap hari selama 30 hari tidak mempengaruhi
perubahan ukuran volume mioma uteri. Perkiraan ukuran mioma uteri sebelum dan
sesudah terapi tidak dilakukan dan efektifitasnya dimulai berdasarkan temuan
histologis. Terapi progesteron mungkin ada berhasil dalam pengobatan mioma uteri,
2,3,12
hal ini belum terbukti saat ini.
Danazol
Danazol merupakan progestogen sintetik yang berasal dari testoteron, dan pertama kali
digunakan untuk pengobatan endometrosis. Prof. Maheux tahun 1983 pada pertemuan
tahunan perkumpulan fertilitas Amerika, mempresentasikan hasil studinya di
Universitas Yale, 8 pasien mioma uteri diterapi 800 mg danazol setiap hari, selama 6
bulan. Dosis substansial didapatkan hanya menyebabkan pengurangan volume uterus
sebesar 20 – 25 %, dimana diperoleh fakta bahwa danazol memiliki substansi
3
androgenik. Tamaya, dan rekan-rekan tahun 1979, melaporkan reseptor androgen
pada mioma terjadi peningkatan aktivitas 5 ∝ - reduktase dibandingkan dengan
miometrium dan endometrium normal. Yamamoto tahun 1984, dimana mioma uteri,
memiliki suatu aktifitas aromatase yang tinggi dan dapat membentuk estrogen dari
3,13
androgen.

Antiprostaglandin
Penghambat pembentukan prostaglandin dapat mengurangi perdarahan yang
berlebihan pada wanita dengan menoragia, dan hal ini beralasan untuk diterima atau
mungkin efektif untuk menoragia yang diinduksi oleh mioma uteri. Ylikorhala dan
rekan-rekan, melaporkan pemberian naproxen 500 – 1000 mg setiap hari untuk terapi
selama 5 hari tidak memiliki efek pada menoragia yang diinduksi mioma, meskipun
hal ini mengurangi perdarahan menstruasi 35,7 % wanita dengan menoragia idiopatik.
Studi ini didasarkan hanya penilaian secara simptomatik, sedangkan ukuran mioma
3
tidak diukur.
Embolisasi Arteri Uterina
Embolisasi arteri uterine adalah suatu tindakan yang menghambat aliran darah ke
uterus
dengan cara memasukkan agen emboli ke arteri uterina. Prosedur embolisasi
menggunakan angiografi digital subtraksi dan dibantu fluoroskopi. Hal ini dibutuhkan
untuk memetakan pengisian pembuluh darah atau memperlihatkan ekstravasasi darah
secara cepat. Digital Subtraction Angiography menawarkan keuntungan berupa
manipulasi gambaran yang memperlihatkan gambaran seketika, dan alat ini memiliki
sensitivitas yang tinggi terhadap gambaran dengan kontras yang rendah, dimana
medium kontras yang diinjeksikan jumlahnya lebih sedikit. Hal ini sangat berguna
pada pasien yang mempunyai resiko yang tinggi pada pemakaian kontras. Agen
emboli yang digunakan berupa Polivinyl alcohol. Polivinyl alkohol adalah partikel
plastik sintetis yang kecil seperti pasir dengan ukuran yang bervariasi. Ukuran ideal
belum dapat ditentukan. Ravina dkk memakai polivinyl alkohol berukuran antara 150
– 500 mikron. Goodwin dkk memakai partikel berukuran 500 – 710 mokron. Katz
dkk, memakai “gel form” sebagai agen emboli untuk embolisasi arteri uterina. 18
Indikasi untuk tindakan ini adalah :
1) Ada kontra indikasi terhadap pengobatan dan pembedahan yang mempunyai
keluhan belum dapat diatasi (menoragia, nyeri pelvis,penekanan mioma
terhadap organ disekitarnya).
2) Pasien yang ingin mempertahankan uterus.
3) Pasien yang tidak menghendaki tindakan pembedahan.

Kontra Indikasi:
1) Karsinoma uteri
2) Penyakit radang panggul
3) Hamil
4) Gangguan fungsi ginjal
Keuntungan Embolisasi
Uterina:
- Tidak terjadi proses perlengketan
- Mengobati semua mioma secara bersamaan
- Tidak dijumpai pertumbuhan kembali mioma yang diobati
- Jika terjadi perdarahan pervaginam 87 – 90 %, berhenti dalam 24 jam
- Secara psikis, keuangan dan fisik, embolisasi memiliki keuntungan dibanding
prosedur lain (masa pemulihan yang lebih singkat, tidak dilakukan tindakan
anestesi umum).
Kerugian Embolisasi Uterina:
- Secara teknis sukses dilakukan, tetapi 10-15 % tidak respon
- Prosedur gagal secara teknis 5 %
- Terjadi komplikasi serius 2 % yang memerlukan histerektomi karena, iskemik
dan infeksi uterus
- Mengalami penurunan fungsi ovarium 1-2 %
Magnetic Resonance-dipandu dengan ultrasonografi yang terarah
Bulan Oktober 2004, FDA menyetujui pemakaian Magnetic Resonance Imaging
(MRI) yang dipandu dengan ultrasonografi sebagai suatu cara pengobatan terhadap
mioma uteri pada manusia, yang mana alat ini di Amerika Serikat telah dijual dengan
nama ExAblate. Kenaikan temperature dari jaringan yang menerima intensitas tinggi
dari ultrasonografi yang terarah dan hasil dari denaturasi protein dan kerusakan sel
yang irreversible merupakan bentuk dasar pengobatan ini. Metode ini menggunakan
banyak paparan dengan energi intensitas tinggi dari ultrasonografi yang terarah pada
target mioma untuk meningkatkan temperatur jaringan sampai ke derajat yang cukup
tinggi untuk menghancurkan mioma tersebut. MRI tidak saja memberikan suatu
gambaran tiga dimensi yang tepat dari target suatu jaringan tetapi juga menyediakan
secara kuantitatif, gambaran real time dari area yang sedang diterapi. Kebanyakan
mioma tampak sebagai area yang berbatas tegas dari intensitas yang rendah ke
menengah dimana sepertiganya dijumpai area yang tidak homogen dari sinyal
intensitas yang tinggi (merupakan hasil dari perdarahan, degenerasi, edema atau
kandungan selular yang tinggi) pada gambaran T2 weighted. Wanita bergejala yang
tidak mempunyai kelainan lain atau kontra indikasi lain terhadap MRI dan
menginginkan terapi non invasive merupakan pilihan yang tepat bagi pasien rawat
jalan yang menderita mioma. Pengurangan sampai 98% pada ukuran dan gejala mioma
telah dilaporkan dengan penggunaan terapi non invasive terhadap mioma yang
bergejala. Namun, efek dari MRgFUS berhubungan dengan intensitas sinyal dari T2-
weighted MRI. T2 weighted MRI dengan sinyal intensitas rendah pada gambaran
sebelum terapi lebih disukai untuk memperkecil daripada T2 weighted MRI dengan
sinyal intensitas tinggi. Semakn besar volume non perfusi segera setelah perawatan,
semakin besar volume yang berkurang dan gejala yang timbul. Jadi tipe 1 (intensitas
rendah) dan 2 ( intensitas sedang) mioma cocok dengan terapi ini, sementara tipe 3
(intensitas tinggi) mioma tidak cocok. Wanita yang mempunyai mioma dengan volume
lebih dari 500 cm3 sebaiknya diterapi sebelumnya dengan GnRHa selama 3 bulan
mencoba untuk mengurangi ukuran mioma agar meningkatkan efektivitas dari
penggunaan ablasi panas. Hal itu sudah direkomendasikan bahwa penggunaan GnRHa
berpotensi untuk meningkatkan efek panas dari MRgFUS, khususnya pada wanita
dengan diameter uterus 10 cm atau lebih. Mioma ukuran kecil, lokasinya intra mural,
jumlah sedikit, dan T2 hipodensitas merupakan prediktor yang penting dari
keberhasilan suatu terapi. Perbaikan gejala selama lebih dari 2 tahun, dan 16-20%
wanita membutuhkan terapi tambahan. Meskipun ada kekurangan dari RCTs antara
MRgFUS dan embolisasi arteri uterina (UAE), laporan awal menyatakan bahwa
MRgFUS sebanding terhadap UAE dalam hal efek, keamanan, dan biaya
keefektifannya.21

3. Penanganan operatif.
Penanganan mioma uteri yang tidak dapat dilakukan dengan konservatif dapat
dilakukan dengan pembedahan (operatif).

Operati diperlukan bila :

 Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.

 Pertumbuhan tumor cepat.

 Mioma subserosa bertangkai dan torsi.

 Perdarahan uterus abnormal yang tidak respon dengan terapi konservatif.

 Pertumbuhan mioma setelah menopause.

 Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya atau adanya keguguran
berulang.

 Nyeri yang berlebihan dan penekanan pada organ sekitarnya.

Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :


a) Enukleasi Mioma/ Miomektomi.

Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman,
efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila
ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga
dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan
tangkai dan jelas yang dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila enukleasi/
miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan
endometrium, kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea.
Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) adalah sebagai berikut :

 Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.

 Terdapat mioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.

 Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan
keguguran yang berulang.

Miomektomi dapat dilakukan dengan beberapa cara berbeda. Tergantung pada


jumlah, ukuran dan lokasi mioma. Miomektomi dapat dilakukan perabdominal,
miomektomi laparoskopi, dan miomektomi histeroskopi.20,21,22
Miomektomi Perabdominal
Juga dikenal sebagai miomektomi "terbuka", sebuah miomektomi dengan prosedur
pembedahan. Miomektomi dengan sayatan melalui kulit di perut bagian bawah, yang
dikenal sebagai "potong bikini," dan menghilangkan mioma dari dinding rahim. Otot
rahim kemudian dijahit kembali bersama-sama menggunakan beberapa lapis jahitan.
Seperti prosedur bedah, miomektomi perabdominal memiliki beberapa risiko,
meskipun jarang. Sekitar 5 persen wanita mengalami infeksi pascaoperasi yang
mendapat terapi antibiotik.20,21,22
Laparoskopi Miomektomi
Laparoskopi adalah suatu tindakan pembedahan invasif minimal dibidang ginekologi
(minimal invasive surgery) yaitu dengan melakukan pembedahan hanya melalui suatu
irisan kecil (1/2-1 cm) di dinding perut (spt lubang). Biasanya lubang yang dibuat di
dinding perut berjumlah 3-4 lubang. Melalui lubang ini dimasukkan alat-alat seperti
teleskop/lensa yang dihubungkan dengan kamera dan monitor TV sehingga operator
melihat isi rongga perut wanita/organ kandungan wanita melalui monitor TV tersebut.
Kemudian lubang-lubang lainnya tempat memasukkan peralatan bedah seperti
gunting, penjepit jaringan, pemegang jarum (needle holder), dsb. Pada beberapa
mioma dapat dilakukan miomektomi melalui laparoskopi. Jika mioma yang besar,
banyak atau tertanam di dalam rahim, maka miomektomi abdominal mungkin
diperlukan.20,21,22
Histeroskopi Miomektomi.
Histeroskopi adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan dengan alat optik ke
dalam ruangan rahim untuk mel Hanya wanita dengan mioma submukosa yang
memenuhi syarat untuk miomektomi histeroskopi. Prosedur ini adalah prosedur rawat
jalan bedah. Cairan dimasukkan ke dalam rongga uterus untuk membuka kavum uteri.
Instrumen melewati hysteroscope yang digunakan untuk membuang mioma
submukosa.20,21,22

b) Histerektomi

Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang
memiliki mioma yang sudah bergejala seperti menorrhagia, metrorrhagia, keluhan
obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus lebih dari 12 minggu. Saat ini
terdapat 3 macam histerektomi yaitu abdominal, vaginal dan laparoskopik.
Histerektomi abdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total abdominal
histerektomi dan subtotal abdominal histerektomi. Pemilihan jenis operasi ini
memerlukan keahlian seorang ahli bedah yang bertujuan untuk kepentingan pasien.
Histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan vagina, dimana tindakan
operasi tidak melalui insisi pada abdomen sehingga tidak terlihat parut bekas operasi
sehingga memuaskan pasien dari segi kosmetik. Dengan berkembangnya tehnik dan
alat-alat kedokteran, maka tindakan histerektomi kini dapat dilakukan dengan
menggunakan laparoskopi. Prosedur operasi dengan laparoskopi dapat berupa
miolisis. Miolisis adalah prosedur operasi invasif yang minimal dengan jalan
menghantarkan sumber energy yang berasal dari laser Neodynium : Yttrium
Aluminiun Garnet (Nd : YAG) ke jaringan mioma, dimana akan menyebabkan
denaturasi protein sehingga menimbulkan proses koagulasi dan nekrosis didalam
jaringan yang diterapi. Ada beberapa tehnik histerektomi laparoskopi. Pertama adalah
histerektomi vaginal dengan bantuan laparoskopi (Laparoscopically assisted vaginal
hysterectomy/LVAH). Pada prosedur ini tindakan laparoskopi dilakukan untuk
memisahkan adneksa dari dinding pelvik dan memotong mesosalfing ke arah
ligamentum kardinale di bagian bawah. Pemisahan pembuluh darah uterine dilakukan
dari vagina.22

DAFTAR PUSTAKA

1. Thomas EJ. The aetiology and phatogenesis of fibroids. In : Shaw RW. eds. Advences
in reproduktive endocrinology uterine fibroids. England – New Jersey : The
Phartenon Publishing Group, 1992 ; 1 – 8
2. Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH. Dalam :
Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2003:; 151
- 156
3. Sivecney G.Mc, Shaw RW. Attempts at medical treatment of uterine fibroids. In : R.W.
Shaw, eds. Advences in reproductive endocrinology uterine fibroids. England – New
Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 95 – 101
4. Joedosaputro MS. Tumor jinak alat genital.Dalam: Sarwono Prawiroharjo,edisi
kedua.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta:1994;338-345
5. Friedman AJ, Rein MS, Murugan R, Pandian, Barbieri RL.Fasting serum growth
hormone and insulin_like growth factor – I and –II concentrations in women with
leiomyomata uteri treated with leuprolide acetate or placebo. Fertility and Sterility,
1990 ; 53 : 250 – 253
6. Crow J. Uterine febroids : Histological features. In : Shaw RW, eds. Advances in
reproductive endocrinology uterine febroids. England – New Jersey : The Parthenon
Publishing Group, 1992; 21 – 33
7. Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomyomata. In : Chesmy M, Heather, Whary
eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia : Lippincott Williams and
Willkins, 2001 ; 316 – 318
8. Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids, In : Marie
Chesmy,Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology. Philadelphia :
Lippincott Williams and Wilkins, 2001 ; 314 – 315
9. Chaves, Stewart, Medical treatment of uterine fibroids. In : Marie Chesmy, Heather
Whary eds. Clinical Obstetric and Gynecologi. Philadelphia : Lippincott Williams and
Wilkins, 2001 ; 374 – 379
10. Schweppe KW. GnRH analogues in the treatment uterine fibroids:results of clinical
studies. In: Shaw RW, eds. Advences in reproductive endocrinology uterine fibroids.
England – New Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 103-105
11. Lumsden MA. The role of oestrogen and growth factors in the control of the growth
of uterine leiomyomata. In : R.W. Shaw, eds. Advances in reproductive endokrinology
uterine fibroids. England-New Jersey: The Parthenon Publishing Group, 1992; 9 – 20
12. Baziad A. Pengaruh hormon seks terhadap genitalia dan ekstragenitalia. Dalam :
Endokrinologi genikologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2003 ; 131
– 132
13. Friedman AJ, Harrison D, Atlas CNM, Barbieri R, Benacerraf B, Gleason R, Schiff I.
A randomized, placebo – controlled, double - blind study evaluating the efficacy of
leuprolide acetate depot in the treatment of uterine leiomyomata. Fertility and
Sterility, 1989 ; 51 : 251 – 256
14. Perl V, Marquez J, Schally AV et al. Treatment of leiomyomata uteri with D – Trp 6 –
luteinizing hormone – releasing hormone. Fertility and Sterility, 1987 ; 48 : 383 – 389
15. Maheux R.. Treatment of fibroids with the combination of the GnRH agonist
gosereline (zoladex) and hormone replacement therapy. In : Shaw RW, eds. Advances
in reproductive endocrinology uterine fibroids. England – New Jersey : The Parthenon
Publishing Group, 1992; 135 – 146
16. Matta WHM, Stabile I, Shaw RW. Campbell S. Doppler assessment of uterine blood
flow changes in patients with fibroids receiving the gonadotropin – releasing hormone
agonist gosereline. Fertility and Sterility, 1988 ; 49 ; 1083 – 1085
17. Friedman AJ, Barbieri RL, Benacerraf BR, Schiff I. Treatment of leiomyomata with
intranasal or subcutaneous leuprolide, Agonadotropin releasing hormone agonist.
Fertility and sterility, 1987; 48 : 560 – 564
18. Rein MS, Friedman AJ, Stuart JM, David T, Laughlin M. Fibroid dan myometrial
steroid receptors in women treated with gonadotropin-releasing hormone agonist
leuprolide acetate. Fertility and Sterility, 1990 ; 53 : 1018 – 1021
19. Lumsden MA. The role of Oestrogen and growth factors in the control of the growth
of uterine leiomyomata. In: Shaw RW, eds. Advances in reproductive endocrinology
uterine fibroids. England-New Jersey: The Parthenon Publishing Group, 1992: 9-20.
20.Edward E,Wallach, Nikos F, Uterine Myomas: An Overview of Development, Clinical
Features and Management, In: Journal American College of Obstetricians and
Gynecologist.Baltimore-Maryland, Lippincott William&Wilkins,2004:393-403
21.Duhan Nirmala, Current and emerging treatment for uterine myoma-an update, In:
International Journal Womens Health 2011;3:231-241
22. Hadibroto Budi R, Mioma Uteri. Dalam : Majalah Kedokteran Nusantara. Jakarta,
Vol 38, No.3, 2005 ; 254 – 258
STATUS ORANG SAKIT

Ny.S, 34 thn, Virgo, Jawa, Muslim, wiraswasta, datang ke Ruang Ginekologi


RS.Pirngadi Medan tgl 08 Maret 2013 pukul 11.00 wib dengan :

Keluhan Utama : Benjolan di perut

Telaah : Hal ini disadari pasien sejak 5 tahun ini, awalnya sebesar telur ayam
dan dirasakan semakin membesar. Riwayat keluar darah di luar
siklus haid (-), Riwayat koitus berdarah (-), Riwayat keputihan (+), bau
(-), gatal (-). Penurunan nafsu makan (-), Penurunan berat badan (-).
Riwayat BAK dan BAB (+) normal. Pasien merupakan pasien rawat
jalan Poli Ginekologi RSPM dengan Dx: Mioma Uteri + Adenomiosis
dan telah mendapat terapi injeksi Endrolin 3 siklus.

RPT : HT (-), DM (-), Asma (-)

RPO : Endrolin injeksi 3 siklus


Riw. Haid : Menarche 12 thn, siklus teratur, lama 3-4 hari, vol. 2-3x ganti doek /hari,

nyeri haid (+), HT : 18-02-2013.

Riw. KB : (-)

Riw.Operasi : (-)

SP : Sens : CM anemis : (-)

TD : 120/80 mmHg ikterik : (-) BB : 80 kg

HR : 88x/i sianosis : (-) TB : 168 cm

RR : 20x/i dispnu : (-) IMT : 28 kg/m²

T : 36,5 °C oedema : (-)

Status Generalisata :

Kepala : Mata : Konjungtiva palpebra inf. anemis (-)

T/H/M : dbn

Leher : dbn

Thorax : Paru : SP : Vesikuler, ST : (-)

Jantung: BJ normal

Abdomen : soepel, teraba massa padat, permukaan berbenjol - benjol, ukuran

sesuai dengan kehamilan 28 – 30 minggu, dengan pole atas

pertengahan Px-pusat, pole bawah setentang simphisis, immobile,

nyeri tekan (-), peristaltik (+) normal.

Status Ginekologi :
Inspekulo : tidak dilakukan pemeriksaan (virgo)

VT :

RT : - sphingter ani ketat, mukosa rekti licin, ampula rekti kosong

- Uterus sulit dinilai, teraba massa padat, permukaan berbenjol-benjol,


sebesar kepala orang dewasa, immobile, nyeri tekan (-).

USG TVS Ginekologi oleh Supervisor :

- Uterus sulit dinilai

- Tampak massa hiperechoic dan hipoechoic bentuk kumparan dan tidak terukur
kaliper kesan berasal dari uterus.

- E line sulit dinilai

- Adnexa kanan dan kiri : sulit dinilai.

- Cairan bebas : tidak dijumpai.

Kesimpulan : Mioma uteri + Adenomiosis

Laboratorium :

Haemoglobin : 11,0 gr/dl

Haematokrit : 33 %

Leukosit : 13.400/ mm³

Trombosit : 199.000/mm³

LFT  SGOT : 22 IU/L

 SGPT : 17 IU/L

RFT Ureum : 13 mg/dl


 Creatinin : 0.5 mg/dl

HST : PT 15,6 “ aPTT : 32,4” TT : 12,8 “

KGD Ad Random/Puasa : 110 mg/dl / 90 mg/dl

Urinalisa : dalam batas normal

Profil Lipid :

- Kolesterol Total : 182 mg/dl

- Trigliserida : 141 mg/dl

- Kolesterol HDL : 34 mg/dl

- Kolesterol LDL : 110 mg/dl

Elektrolit :

- Natrium : 140 mEq/L

- Kalium : 3,2 mEq/L

- Klorida : 98 mEq/L

Albumin : 4,1 gr/dl

Pap Smear : Tidak dilakukan pemeriksaan (virgo)

Kuretase Bertingkat : Tidak dilakukan pemeriksaan (virgo)

EKG : Sinus Ritme, normoaxis, 88 x/I, reguler

Foto Toraks : Tidak tampak kelainan radiologis pada Cor dan Pulmo

BNO-IVP : Fungsi kedua ginjal baik, tidak tampak tanda- tanda

pembendungan.

Diagnosa : Mioma Uteri


Rencana : Miomektomi dengan pertimbangan Histerektomi (TAH + BSO)

Senin / 11 Maret 2013

Lapor supervisor Dr. Hj. Suty Nasution, SpOG(K)  ACC

LAPORAN PEMBEDAHAN

Tindakan : TAH + BSO a/i Multiple Mioma Uteri Intraligamenter

Tanggal : 11 Maret 2013.

- Ibu dibaringkan di meja operasi dengan infus dan kateter terpasang baik
- Dibawah general anastesi dilakukan insisi midline dari 2 jari dari batas atas
simfisis hingga 2 jari di atas pusat, lapis demi lapis pada cutis, subcutis, fascia,
otot dan peritoneum.
- Evaluasi uterus, tuba dan ovarium kiri dan kanan tampak bentuk kontur uterus
yang tidak jelas dijumpai massa mioma yang berbenjol-benjol kesannya
multiple berada pada sisi sebelah kanan uterus didaerah intraligamenter sebesar
kepala orang dewasa, batas tidak jelas kesan berasal dari uterus, tuba dan ova
rium sebelah kanan sulit di identifikasi sedangkan tuba dan ovarium sebelah kiri
masih baik dan didaerah fundal dijumpai mioma sub serosa
- Evaluasi bagian posterior ke arah cavum douglass perlengketan ke
rektosigmoid tidak ada.
- Evaluasi ligamentum rotundum dan latum sebelah kiri baik sedangkan sebelah
kanan sulit di identifikasi
- Lapor Supervisor  Advise: Supervisor datang menemani operasi di COT
- Setelah evaluasi uterus dan massa diputuskan untuk melakukan total abdominal
histerektomi dan bisalphingooferektomi.
- Dilakukan pembebasan antara lapisan mioma uteri dan ligamentum rotundum
dan infundibulo pelvikum sebelah kanan sehingga identifikasi ligamentum
rotundum dan infundibulo pelvikum sebelah kanan dapat dilakukan.
- Ligamentum rotundum kanan dan kiri  di klem, di gunting dan di ikat
- Ligamentum infundibulo pelvikum kanan dan kiri di klem, di gunting dan di ikat.
- Arteri uterina sebelah kanan dan kiridi klem, di gunting dan di ikat.
- Ligamentum kardinale dan sakrouterina kanan dan kiridi klem, di gunting dan
di ikat.
- Dilanjutkan dengan kontrol perdarahan  kesan terkontrol baik.
- Identifikasi serviks uteri diklem pada kedua sisi kemudian dipancung setinggi
serviks uteri  punctum serviks dijahit secara simple hecting
- Perdarahan di kontrol ulang.
- Cavum abdomen dicuci dengan aquadest sampai bersih
- Fascia di tutup  subkutis dijahit secara simple hecting
- Kutis ditutup secara subkutikuler
- KU ibu post operasi : baik
Gambaran mioma durante dan post operatif

Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi :

- Cervik : nabothyan cyst


- Endometrium : fase proliferasi
- Miometrium : fibromioma
- Tuba I & II : dalam batas normal
- Ovarium I&II : kista lutein berdarah
Terapi :

 Puasa s/d peristaltik (+)


 IVFD RL 30 gtt/i
 Inj. Ceftriaxon 1gr/12 jam/iv
 Metronidazol drips/8 jam /iv
 Inj. Transamin 1 amp/8 jam/iv
 Inj.Ketorolac 1 amp/8jam/iv

FOLLOW UP

Hari Selasa/12-03-2013

KU : nyeri bekas luka operasi

Status Present :

Sens : CM Anemis : (-)

TD : 120/80 mmHg Ikterik :(-)

HR : 98 x/I Dispnoe :(-)

RR : 22 x/I Sianosis :(-)

T : 36,8◦C Oedem :(-)

Status Lokalisata :

Abdomen : soepel, tampak verband terpasang di atas luka  kesan kering,

peristaltik (+) normal

P/ V : (-)
BAK : terpasang kateter, vol 50 cc /jam, kunig jernih.

BAB : (-), flatus : (+)

Dx : Post TAH+BSO a/i Multiple Mioma Uteri intraligamenter + H1

Th/ : - Diet MI

- IVFD RL 30 gtt/i
- Ceftriaxon 1gr/ 12 jam
- Metronidazol drips/ 8 jam
- Ketorolac 1 amp/ 8 jam
- Mobilisasi di tempat tidur (miring kanan/kiri)
 Hb post transfusi durante ops = 10 g/dl

Hari Rabu/13-03-2013

KU : nyeri bekas luka operasi <<

Status Present :

Sens : CM Anemis : (-)

TD : 120/70 mmHg Ikterik :(-)

HR : 96 x/I Dispnoe :(-)

RR : 20 x/I Sianosis :(-)

T : 36,7◦C Oedem :(-)

Status Lokalisata :

Abdomen : soepel, tampak verband terpasang di atas luka  kesan kering,

peristaltik (+) normal

P/ V : (-)

BAK : terpasang kateter, vol 70 cc /jam, kunig jernih.

BAB : (-), flatus : (+)


Dx : Post TAH+BSO a/i Multiple Mioma Uteri intraligamenter + H2

Th/ : - Diet MII

- IVFD RL 30 gtt/i
- Ceftriaxon 1gr/ 12 jam
- Metronidazol drips/ 8 jam
- Ketorolac 1 amp/ 8 jam
- Mobilisasi di tempat tidur (duduk)
R/ : Aff kateter

Hari Kamis/14-03-2013

KU : (-)

Status Present :

Sens : CM Anemis : (-)

TD : 130/80 mmHg Ikterik :(-)

HR : 94 x/I Dispnoe :(-)

RR : 20 x/I Sianosis :(-)

T : 36,6◦C Oedem :(-)

Status Lokalisata :

Abdomen : soepel, tampak verband terpasang di atas luka  kesan kering,

peristaltik (+) normal

P/ V : (-)

BAK : (+)

BAB : (-), flatus : (+)

Dx : Post TAH+BSO a/i Multiple Mioma Uteri intraligamenter + H3


Th/ : - Diet MB

- IVFD RL 30 gtt/i
- Ceftriaxon 1gr/ 12 jam
- Metronidazol drips/ 8 jam
- Ketorolac 1 amp/ 8 jam
- Mobilisasi jalan
R/ : Aff infus

Hari Jumat/15-03-2013

KU : (-)

Status Present :

Sens : CM Anemis : (-)

TD : 120/80 mmHg Ikterik :(-)

HR : 94 x/I Dispnoe :(-)

RR : 20 x/I Sianosis :(-)

T : 36,7◦C Oedem :(-)

Status Lokalisata :

Abdomen : soepel, tampak verband terpasang di atas luka  kesan kering,

peristaltik (+) normal

P/ V : (-)

BAK : (+)

BAB : (+)

Dx : Post TAH+BSO a/i Multiple Mioma Uteri intraligamenter + H4

Th/ : - Diet MB
- Cefadroksil 2 x 500 mg
- Metronidazol 3 x 500 mg
- Asam Mefenamat 3 x 500 mg

R/ : GV  Luka kering  Pasien boleh PBJ dan Kontrol Poli Ginekologi


Tgl 19-03-2013 dan membawa hasil PA untuk penanganan lebih lanjut.

RESUME:

Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 34 tahun dan virgo datang ke Ruang 4
RS.Pirngadi Medan tgl 11 Maret 2013 dengan rencana operasi, merupakan pasien
kiriman dari Poli Ginekologi dengan Dx : Mioma Uteri + Adenomiosis dan telah
mendapat injeksi endrolin selama 3 siklus.

Pasien mengeluhkan benjolan pada perut yang telah disadari selama 5 tahun. Benjolan
pada perut terasa semakin membesar. Tidak pernah mengeluhkan perdarahan di luar
haid. Perawakan tubuh gemuk dan tinggi dan nafsu makan baik.

Dari hasil anamnesis terhadap pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan ginekologi
dijumpai suatu tumor ginekologi, didukung pemeriksaan penunjang ultrasound
ditegakkan diagnosis mioma uteri dan adenomiosis. Dengan hasil penjajakan
laboratorium dalam batas normal.

Dari segi umur, status, dan paritas maka saran dan penanganan terbaik adalah
pengangkatan mioma ( miomectomy) tetapi mengingat kondisi tumor pasien sebesar
usia kehamilan 28-30 minggu dan batasnya yang tidak jelas dengan kontur uterus yang
tidak jelas lagi maka diputuskan oleh supervisor untuk melakukan histerektomi totalis.
Pada pasien ini dilakukan histerektomi abdominal totalis dan pengangkatan kedua
adneksa.

Uterus beserta kedua adneksa dan tumor diperiksa histopatologinya untuk penanganan
lanjutan pascaoperatif. Pasien dirawat selama 4 hari di ruangan kemudian di
perbolehkan pulang kemudian kontrol secara rutin ke poliklinik ginekologi sebagai
kelanjutan penanganan pascaoperatif.
PERMASALAHAN :

1. Pada pasien-pasien dengan mioma seperti ini sering kita jumpai datang
berobat ke RSPM. Tampaknya mereka belum pernah mendapatkan
edukasi mengenai pentingnya mengenal sedini mungkin keluhan yang
timbul di organ reproduksi mereka sehingga mereka sering datang
dengan keadaan penyakit yang sudah lanjut / berat.

2. Mungkinkah dalam penanganan mioma uteri kita dapat melakukan


penanganan sekaligus seperti embolisasi arteri uterine dan MRgFUS?