You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi, terutama dalam bidang transportasi, mengakibatkan

meningkatnya jumlah dan jenis kendaraan bermotor dan hal ini berdampak pada

meningkatnya kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang menimbulkan korban

jiwa (National Highway Traffic Safety Administration, 2016). Menurut Pusat

Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sekitar 5,3 juta jiwa penduduk

Amerika, 2% sedikit lebih dari seluruh penduduk AS, saat ini hidup dengan cacat

akibat cedera otak. CDC juga melaporkan bahwa dari satu juta orang yang diobati

dan dipulangkan dari ruang gawat darurat rumah sakit setiap tahun (CDC, 2006).

Data di Indonesia pada tahun 2006 menunjukkan cedera dan luka berada di

urutan 6 dari total kasus yang masuk rumah sakit di seluruh Indonesia dengan

jumlah mencapai 340.000 kasus, namun belum ada data pasti mengenai porsi

cedera kepala (Depkes RI, 2009). Data rekam medik RSU Cipto Mangunkusumo,

Jakarta tahun 2003-2007. Jumlah sampel yang dianalisis adalah 577 kasus cedera.

Proporsi kasus cedera kepala yang meninggal sebesar 7,3%. Proporsi kasus

tertinggi pada laki-laki 86,3%, berusia 17-39 tahun. Hal ini dikarenakan usia

dewasa muda dan laki-laki cenderung lebih mobile atau lebih banyak

menggunakan kendaraan. Cedera yang paling banyak pada kasus adalah cedera

fraktur multiple dengan cedera otot dan tendon sebesar 53%, sedangkan 40,6%

lokasi cedera terletak pada kepala (Oktaviana, 2008).


Cedera kepala merupakan keadaan yang serius, sehingga diharapkan para

dokter mempunyai pengetahuan praktis untuk melakukan pertolongan pertama

pada penderita. Sebagai tindakan selanjutnya yang penting setelah primary survey

adalah identifikasi adanya lesi masa yang memerlukan tindakan pembedahan, dan

yang terbaik adalah pemeriksaan dengan CT Scan kepala (Iskandar, 2004). Pada

penderita dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3% -5% yang

memerlukan tindakan operasi dan sisanya dirawat secara konservatif. Prognosis

pasien cedera kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan dilakukan secara tepat

dan cepat (Priguna, 2009).

Menentukan prognosis pasien setelah cedera kepala merupakan hal yang

sulit dan kompleks. Heterogenitas dari status kesehatan pramorbid pasien, sifat

dan tingkat keparahan cedera, interval dari cedera hingga penanganan awal,

intervensi akut, dan perbedaan follow up menjadi penyulit untuk menyusun

sebuah sistem penilaian prognosis pasien (Sastrodiningrat, 2007).

Perdarahan intraserebral terjadi pada sekitar 13 sampai 35% pasien dengen

cedera kepala. Peningkatan volume dari perdarahan tersebut merupakan kejadian

yang telah banyak diteliti, karena dapat langsung berdampak pada prognosis

pasien. Beberapa peneliti telah melaporkan pembesaran ukuran lesi pada sekitar

38 sampai 59% kasus dan terutama terjadi pada beberapa jam setelah cedera

kepala. Walaupun sebagian besar kasus peningkatan volume lesi tidak

memerlukan intervensi bedah, pada beberapa kasus dimana progresi lesi dapat

menyebabkan defisit neurologis atau tanda-tanda peningkatan tekanan intra

kranial (TIK) atau efek massa yang terlihat pada CT scan, seluruhnya memerlukan
intervensi bedah. Pada beberapa studi cedera kepala, perdarahan intrakranial

merupakan alasan pembedahan pada sekitar 20% pasien. hasil-hasil penelitian

tersebut ini menunjukkan pentingnya untuk dapat mengidentifikasi kelompok

pasien-pasien yang akan mengalami peningkatan volume intraparenkim signifikan

(Oertel et al, 2002).

Berbagai penelitian telah melaporkan berbagai faktor yang berkontribusi

pada peningkatan volume lesi, yaitu faktor-faktor radiologis seperti jenis

perdarahan hematoma subdural (SDH), perdarahan subarachnoid (SAH), volume

awal lesi, juga faktor-faktor klinis seperti usia tua, fraktur, hiperglikemia,

penurunan nilai trombosit, status koagulasi, onset pemeriksaan CT scan pertama,

dan hipoksia.

McHugh et al, menggunakan Glasgow Outcome Scale (GOS) pada bulan

ke-6 sebagai parameter, mengidentifikasi hipotensi arterial, hipoksemia dan

hipotermia pada saat admisi rumah sakit sebagai faktor risiko preburukan

independen dengan dasar metaanalisis dari 7 penelitian acak terkontrol (McHugh,

2007).

Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa usia di atas 60 secara signifikan

berhubungan dengan CT scan abnormal akut. Oleh karena itu, pasien-pasien

dengan usia tua memerlukan perhatian khusus dan observasi yang lebih lama.

Penelitian lain melaporkan bahwa usia ≥ 57 tahun menjadi faktor risiko

progresivitas cedera otak (Yuan et al, 2012).


Yuan et al (2012) juga melaporkan bahwa nilai INR (International

Normalized Ratio) > 1,2, fraktur tengkorak linear, nilai GCS yang lebih rendah

menjadi faktor risiko untuk perburukan lesi pada cedera otak.

Usaha untuk mencari kemungkinan berkembangnya proses desak ruang

adalah dengan melakukan deteksi dini, oleh karena itu perlu identifikasi faktor-

faktor yang menunjukkan terjadinya penambahan suatu lesi akut.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut maka dapat dirumuskan masalah

penelitian sebagai berikut:

1. Apakah faal hemostasis merupakan prediktor perkenbangan ukuran

lesi pada penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP

Sanglah, Denpasar?

2. Apakah fraktur merupakan prediktor perkenbangan ukuran lesi pada

penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP Sanglah,

Denpasar?

3. Apakah lesi CT scan merupakan prediktor perkenbangan ukuran lesi

pada penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP

Sanglah, Denpasar?

4. Apakah umur merupakan prediktor perkenbangan ukuran lesi pada

penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP Sanglah,

Denpasar?
5. Apakah GCS merupakan prediktor perkenbangan ukuran lesi pada

penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP Sanglah,

Denpasar?

6. Apakah hipoksia merupakan prediktor perkenbangan ukuran lesi pada

penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP Sanglah,

Denpasar?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui prediktor peningkatan volume lesi intrakranial pada

penderita cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP Sanglah,

Denpasar

1.3.2. Tujuan Khusus

Mengetahuai apakah usia, nilai GCS awal, jenis lesi, nilai GDS,

dan jumlah trombosit sebagai faktor risiko peningkatan volume lesi

pada pasien cedera kepala yang dirawat konservatif di RSUP

Sanglah, Denpasar

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Akademis

Memberikan masukan kepada pihak rumah sakit dalam manajemen

pasien-pasien cedera kepala yang dirawat konservatif

1.4.2. Manfaat Klinis


Memberikan masukan bahwa ada faktor-faktor yang perlu

diperhatikan dalam memprediksi apakah pasien-pasien cedera

kepala akan mengalami peningkatan ukuran lesi.

DAFTAR PUSTAKA

Centers for Disease Control and Prevention, QuickStats (2010). Injury and

Traumatic Brain Injury (TBI)-Related Death Rates, by Age Group – United

States, 2006. MMWR 59: 303.

Chang, E.F., Meeker, M., and Holland, M.C. (2006). Acute traumatic

intraparenchymal hemorrhage: risk factors for progression in the early post-

injury period. Neurosurgery 58, 647–656.

Chieregato, A., Fainardi, E., Morselli-Labate, A.M., Antonelli, V., Compagnone,

C., Targa, L., Kraus, J., and Servadei, F. (2005). Factors associated with

neurological outcome and lesion progression in traumatic subarachnoid

hemorrhage patients. Neurosurgery 56, 671–680; discussion 671–680.

Choudhry, O.J., Prestigiacomo, C.J., Gala, N., Slasky, S. and Sifri, Z.C., 2013.

Delayed neurological deterioration after mild head injury: cause, temporal

course, and outcomes. Neurosurgery, 73(5), pp.753-760.

Depkes RI., 2009. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008

Engstrom, M., Romner, B., Schalen, W., and Reinstrup, P. (2005).

Thrombocytopenia predicts progressive hemorrhage after head trauma. J.

Neurotrauma 22, 291–296.


Fakhry, S.M., Trask, A.L., Waller, M.A. and Watts, D.D., 2004. Management of

brain-injured patients by an evidence-based medicine protocol improves

outcomes and decreases hospital charges. Journal of Trauma and Acute

Care Surgery, 56(3), pp.492-500.

Faul, M. and Coronado, V., 2015. Epidemiology of traumatic brain injury.

Handbook of clinical neurology, 127, pp.3-13.

Godoy, D.A., Rubiano, A., Rabinstein, A.A., Bullock, R. and Sahuquillo, J., 2016.

Moderate traumatic brain injury: The grey zone of neurotrauma.

Neurocritical care, 25(2), pp.306-319.

Golden, N., Niryana, W., Mahadewa, T.G.B., Maliawan, S. and Chandra, A., 2013.

Two Different Approaches in Obtaining Head Computerized Tomography

Scan in Minor Head Injuries. Journal of Neurology Research, 3(3-4),

pp.114-121.

Heller, J.L., 2015. Head injury-first aid. MedlinePlus. [Online] Available at:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000028.htm [Accessed 5

August 2017]

Idris, G., Florence, D., Aladdin, S., Abdulkadir, T.M., Abba, S.M. and Lawal, Y.,

2017. Mild head injury: Criteria for computed tomography scan. Journal of

Medicine in the Tropics, 19(1), p.11.

Japardi, Iskandar. 2004. Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. Artikel:

Universitas Sumatera Utara.

Karibe, H., Hayashi, T., Narisawa, A., Kameyama, M., Nakagawa, A. and

Tominaga, T., 2017. Clinical characteristics and outcome in elderly patients


with traumatic brain injury: for establishment of management strategy.

Neurologia medico-chirurgica, pp.st-2017.

Manley, G.T. and Maas, A.I., 2013. Traumatic brain injury: an international

knowledge-based approach. Jama, 310(5), pp.473-474.

Narayan, R.K., Maas, A.I., Servadei, F., Skolnick, B.E., Tillinger, M.N., and

Marshall, L.F. (2008). Progression of traumatic intracerebral hemorrhage: a

prospective observational study. J. Neurotrauma 25, 629–639.

National Highway Traffic Safety Administration, 2016. 2015 motor vehicle

crashes: overview. Traffic safety facts research note, 2016, pp.1-9.

Oertel, M., Kelly, D.F., McArthur, D., Boscardin, W.J., Glenn, T.C., Lee, J.H.,

Gravori, T., Obukhov, D., McBride, D.Q. and Martin, N.A., 2002.

Progressive hemorrhage after head trauma: predictors and consequences of

the evolving injury. Journal of neurosurgery, 96(1), pp.109-116.

Oktaviana, Firma, 2008. Pola Cedera Kecelakaan Lalu Lintas pada Kendaraan

Bermotor Dua Berdasarakan Data RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Tahun 2003-2007.

Post, A., Hoshizaki, T.B., Gilchrist, M.D., Brien, S., Cusimano, M. and Marshall,

S., 2015. The dynamic response characteristics of traumatic brain injury.

Accident Analysis & Prevention, 79, pp.33-40.

Pineda, J.A., Lewis, S.B., Valadka, A.B., Papa, L., Hannay, H.J., Heaton, S.C.,

Demery, J.A., Liu, M.C., Aikman, J.M., Akle, V. and Brophy, G.M., 2007.

Clinical significance of α II-spectrin breakdown products in cerebrospinal


fluid after severe traumatic brain injury. Journal of neurotrauma, 24(2),

pp.354-366.

Priguna, S. 2009. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Dian Rakyat. Jakarta.

Saboori, M., Ahmadi, J. and Farajzadegan, Z., 2007. Indications for brain CT scan

in patients with minor head injury. Clinical neurology and neurosurgery,

109(5), pp.399-405.

Sanus, G., Zihni, N., Tanriverdi, T., Alver, I., Aydin, S., and Uzan, M. (2004).

Evolving traumatic brain lesions: predictors and results of ninety-eight

head-injured patients. Neurosurg. Q. 14, 97–104.

Sastrodiningrat, A.G., 2007. Pemahaman Indikator-Indikator Dini Dalam

Menentukan Prognosa Cedera Kepala Berat. Karya Tulis Ilmiah: Universitas

Sumatera Utara.

Schnuriger, B., Inaba, K., Abdelsayed, G.A., Lustenberger, T., Eberle, B.M.,

Barmparas, G., Talving, P., and Demetriades, D. (2010). The impact of

platelets on the progression of traumatic intracranial hemorrhage. J. Trauma

68, 881–885.

Seifman, M.A., Lewis, P.M., Rosenfeld, J.V., and Hwang, P.Y. (2011).

Postoperative intracranial haemorrhage: a review. Neurosurg. Rev. 34, 393–

407.

Servadei, F., Murray, G.D., Penny, K., Teasdale, G.M., Dearden, M., Iannotti, F.,

Lapierre, F., Maas, A.J., Karimi, A., Ohman, J., Persson, L., Stocchetti, N.,

Trojanowski, T., and Unterberg, A. (2000). The value of the ‘‘worst’’

computed tomographic scan in clinical studies of moderate and severe head


injury. European Brain Injury Consortium. Neurosurgery 46, 70–75;

discussion 75–77.

Stiell, I.G., Wells, G.A., Vandemheen, K., Clement, C., Lesiuk, H., Laupacis, A.,

McKnight, R.D., Verbeek, R., Brison, R., Cass, D. and Eisenhauer, M.A.,

2001. The Canadian CT Head Rule for patients with minor head injury. The

Lancet, 357(9266), pp.1391-1396.

Suehiro, E., Koizumi, H., Fujiyama, Y., Yoneda, H. and Suzuki, M., 2014.

Predictors of deterioration indicating a requirement for surgery in mild to

moderate traumatic brain injury. Clinical neurology and neurosurgery, 127,

pp.97-100.

Teasdale, G., Maas, A., Lecky, F., Manley, G., Stocchetti, N. and Murray, G.,

2014. The Glasgow Coma Scale at 40 years: standing the test of time. The

Lancet Neurology, 13(8), pp.844-854.

Tong, W.S., Zheng, P., Xu, J.F., Guo, Y.J., Zeng, J.S., Yang, W.J., Li, G.Y., He, B.,

and Yu, H. (2011). Early CT signs of progressive hemorrhagic injury

following acute traumatic brain injury. Neuroradiology 53, 305–309.

Young, S.P. and Manara, A.R., 2005. Reduction in mortality from severe head

injury following introduction of a protocol for intensive care management.

British journal of anaesthesia, 94(4), pp.543-543.

McHugh GS, Engel DC, Butcher I, Steyerberg EW, Lu J, Mushkudiani N,

Hernandez AV, Marmarou A, Maas AI, Murray GD: Prognostic value of

secondary insults in traumatic brain injury: results from the IMPACT study.

J Neurotrauma 2007, 24:287–293.


Yuan, F., Ding, J., Chen, H., Guo, Y., Wang, G., Gao, W.W., Chen, S.W. and Tian,

H.L., 2012. Predicting progressive hemorrhagic injury after traumatic brain

injury: derivation and validation of a risk score based on admission

characteristics. Journal of neurotrauma, 29(12), pp.2137-2142.