You are on page 1of 17

TUTORIAL KLINIK

PROLAPSUS UTERI

Pembimbing :
dr.H Ahmad Hidyat ,Sp.OG.M kes.

Disusun Oleh :
Addin Amrullah
20070310108

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD PKU MUHAMMDIYAH
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena
kelemahan otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya
uterus melalui dasar panggul atau hiatus genitalis.

B. KLASIFIKASI
Mengenai istilah dan klasifikasi prolapsus uteri terdapat perbedaan pendapat antara
para ahli ginekologi. Friedman dan Little (1961) mengemukakan beberapa macam
klasifikasi yang dikenal, yaitu:
1. Prolapsus uteri tingkat I : serviks uteri turun sampai introitus vagina.
Prolapsus uteri tingkat II : serviks uteri menonjol keluar dari introitus vagina.
Prolapsus uteri tingkat III: seluruh uterus keluar dari vagina. Prolaps ini juga
dinamakan Prosidensia Uteri.
2. Prolapsus uteri tingkat I : serviks masih berada dalam vagina.
Prolapsus uteri tingkat II : serviks mendekati atau sampai introitus vagina.
Prolapsus uteri tingkat III : serviks keluar dari introitus vagina.
Prosidensia Uteri : uterus seluruhnya keluar dari vagina.
3. Prolapsus uteri tingkat I : serviks mencapai introitus vagina.
Prolapsus uteri tingkat II: uterus keluar dari introitus kurang dari ½ bagian.
Prolapsus uteri tingkat III : uterus keluar dari introitus vagina lebih besar dari
½ bagian.
4. Prolapsus uteri tingkat I: serviks mendekati processus spinosus.
Prolapsus uteri tingkat II : serviks terdapat antara processus spinosus dan
introitus vagina.
Prolapsus uteri tingkat III : serviks keluar dari introitus vagina.
5. Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi 5, ditambah dengan prolapsus uteri
tingkat IV (Prosidensia Uteri).
Klasifikasi yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
o Desensus uteri : uterus turun tetapi serviks masih dalam vagina.
o Prolapsus uteri tingkat I : uterus turun dengan serviks uteri turun sampai
introitus vagina.
o Prolapsus uteri tingkat II : uterus untuk sebagian keluar sampai vagina.
o Prolapsus uteri tingkat III (Prosidensia Uteri) : uterus keluar seluruhnya dari
vagina, disertai inversion uteri.
C. FREKUENSI
Prolaspsus uteri lebih sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita
tua dan wanita dengan pekerjaan yang berat. Djafar Siddik pada penyelidikan selama 2
tahun (1969-1971) memperoleh 63 kasus prolaps dari 5.372 kasus ginekologi di RS Dr.
Pirngadi, Medan. Terbanyak pada grande multipara dalam masa menopause. Dari 63
kasus tersebut, 69 % berumur 40 tahun. Walaupun jarang sekali prolapsus uteri juga
ditemukan pada seorang nullipara.
Kehamilan pada prolapsus total sangat jarang terjadi, mengingat proses koitusnya
sukar berhasil, namun kehamilan pada uterus yang mengalami prolapsus parsial lebih
sering ditemukan.

D. ETIOLGI
 Dasar panggul yang lemah oleh kerusakan dasar panggul pada partus (rupture perinea
atau regangan) atau karena usia lanjut.
 Menopause, hormon estrogen telah berkurang sehingga otot dasar panggul menjadi
atrofi dan melemah.
 Tekanan abdominal yang meninggi karena ascites, tumor, batuk yang kronis atau
mengejan (obstipasi atau strictur dari tractus urinalis).
 Partus yang berulang dan terjadi terlampau sering.
 Partus dengan penyulit.
 Tarikan pada janin sedang pembukaan belum lengkap.
 Ekspresi menurut creede yang berlebihan untuk mengeluarkan placenta.
E. FISIOLOGIS

Uterus pada seorang dewasa bebentuk seperti buah advokat atau buah peer yang
sedikit gepeng. Ukuran panjang uterus adalah 7-7.5 cm, lebar ditempat yang paling lebar
5.25 cm, dan tebal 2.5 cm. Uterus terdiri dari korpus uteri (2/3 bagian atas) dan serviks
uteri (1/3 bagian bawah).
Uterus terletak di pelvis minor antara kandung kencing di sebelah depan dan
rektum di sebelah belakang. Lipatan peritoneum di sebelah depan adalah longgar yang
disebut plica vesico uterina. Di sebelah belakang lipatan peritoneum antara uterus dan
rektum membentuk kantong yang disebut cul-de-sac atau cavum douglas.

Uterus terdiri dari dua bagian utama yaitu cervix dan corpus, kedua bagian ini
dipisahkan oleh suatu penyempitan yang disebut isthmus. Pada waktu hamil isthmus ini,
membentuk bangunan yang disebut segmen bawah rahim. Uterus difiksasi di dalam
rongga pelvis minor oleh :
 Ligamentum cardinale uteri: ligamentum yang terpenting untuk mencegah
agar uterus tidak turun. Ligamentum ini terdiri atas jaringan ikat tebal dan
berjalan dari serviks dan puncak vagina ke arah lateral ke dinding pelvis. Di
dalamnya ditemukan banyak pembuluh darah a v uterina.
 Ligamentum sacro uterina : ligamentum yang juga menahan uterus supaya
tidak banyak bergerak, berjalan melengkung dari bagian belakang serviks
kiri dan kanan melalui dinding rektum ke arah os sacrum kiri dan kanan.
 Ligamentum rotundum (lig teres uteri) : ligamentum yang menahan uterus
dalam antefleksi dan berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan ke
daerah inguinal kiri dan kanan.
 Ligamentum latum : ligamentum yang berjalan dari uterus ke arah lateral
dan tidak banyak mengandung jaringan ikat. Sebetulnya ligamentum ini
adalah bagian peritoneum visceral yang meliputi uterus dan kedua tuba dan
berbentuk sebagai lipatan. Di bagian lateral dan belakang ligamentum ini
ditemukan indung telur (ovarium sinistrum dan dekstrum). Untuk
memfiksasi uterus ligamentum ini tidak banyak artinya.

F. PATOLOGI
Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat, dari yang paling ringan sampai
prolapsus uteri kompleta atau totalis. Sebagai akibat persalinan, khususnya persalinan
yang susah terdapat kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fascia
endopelvika dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. Dalam keadaan demikian
tekanan intraabdominal memudahkan penurunan uterus, terutama apabila tonus oto-otot
berkurang.

Kelemahan otot dasar panggul

Beban kerja ligamentum meningkat

Ligamentum lemah

Posisi uterus tidak dapat di pertahankan

Prolapsus Uteri

G. GEJALA KLINIK
Gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadang-kadang penderita yang
satu dengan prolapsus yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. Sebaliknya
penderita lain dengan prolapsus ringan mempunyai banyak keluhan. Prolapsus dapat
terjadi secara akut alam hal ini dapat timbul gejala nyeri yang sangat, muntah dan kolaps.
Keluhan-keluhan yang hampir dijumpai adalah:
o Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genitalia
eksterna.
o Rasa sakit dalam panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita
berbaring keluhan hilang atau berkurang.
o Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu berjalan
dan bekerja. Gesekan portio uteri terhadap celana dapat menimbulkan lecet
sampai luka dekubitus pada portio uteri.
o Leukorhea karena kongesti pembuluh darah vena daerah serviks dan area
infeksi serta luka pada portio uteri.

H. DIAGNOSIS
Keluhan-keluhan penderita dan pemeriksaan genikologi umumnya dengan mudah
dapat menegakkan diagnosis prolapsus uteri.Friedman dan Little (1961) mengajukan
pemeriksaan sebagai berikut:
 Penderita dalam posisi jongkok disuruh mengejan dan ditentukan dengan
pemeriksaan dengan jari, apakah portio uteri pada posisi normal, apakah
portio dibawah posisi normal, apakah portio sampai introitus vagina,
apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.
 Selanjutnya, dengan penderita berbaring dalam posisi litotomi. Ditentukan
pula panjangnya serviks uteri. Serviks uteri yang lebih panjang dari
biasanya dinamakan elongasio kolli.

I. PENANGANAN
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan terapi prolapsus adalah:
 Keadaan umum
 Umur
 Keinginan punya anak
 Tingkat prolapsus
 Adanya keluhan

Terapi prolapsus uteri dapat dibagi:

1. Terapi Kuratif atau Non Operatif


Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan dan hanya memberikan hasil
sementara. Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, jika yang
bersangkutan masih ingin punya anak. Jika penderita menolak untuk dilakukan
operasi atau jika kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.

Yang termasuk pengobatan tanpa operasi:


1) Latihan-latihan otot dasar panggul
Latihan ini sangat berguna pada prolaps yang ringan yang terjadi pasca
persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya adalah untuk menguatkan otot
dasar panggul atau otot uang mempengaruhi mictio. Latihan ini dilakukan
selama beberapa bulan.
Caranya: penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan panggul, seperti
biasanya setelah BAB, atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah
sedang mengeluarkan air kencing dan tiba-tiba menghentikannya.
Latihan ini bias menjadi lebih efektif dengan menggunakan perineometer
menurut Kegel. Alat ini terdiri dari obsturator yang dimasukkan ke dalam
vagina dengan selaput pipa dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan
demikian kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur.
2) Stimulasi otot-otot dengan alat-alat listrik
Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat ditimbulkan dengan alat listrik,
elektrodenya dapat dipasang dalm pessarium yang dimasukkan dalam vagina.
3) Pengobatan dengan Pessarium
Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni
menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Jika Pessarium diangkat timbul
prolaps lagi. Prinsip pemakaian pessarium ialah bahwa alat tersebut
mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas sehingga bagian dari
vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian
bawah. Kerugian pessarium ini adalah perasaan rendah diri dan pessarium
harus dibersihkan sebulan sekali. Indikasi penggunaan pessarium adalah
kehamilan, penderita belum siap untuk dilakukan operasi, sebagai terapi tes
yang menyatakan bahwa operasi harus dilakukan, penderita menolak dioperasi
yang lebih suka terapi konservatif, serta untuk menghilangkan simptom yang
ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan. Kontraindikasinya ialah
adanya radang pelvis akut atau subakut dan karsinoma.
Pessarium diberi zat pelicin dan dimasukkan miring sedikit ke dalam vagina.
Setelah bagian atas masuk ke dalam vagina, bagian tersebut ditempatkan ke
forniks vaginae posterior. Untuk mengetahui setelah dipasang apakah
ukurannya cocok, penderita disuruh batuk atau mengejan. Jika pessarium tidak
keluar, penderita disuruh jalan-jalan, apabila ia tidak merasa nyeri pessarium
dapat dipakai terus.
Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja penderita diawasi
secara teratur. Periksa ulang sebaiknya dilakukan 1-3 bulan sekali; vagina
diperiksa inspekulo untuk menentukan ada tidaknya perlukaan; pessarium
dibersihkan dan disucihamakan, kemudian dipasang kembali. Pada kehamilan,
reposisi prolapsus dengan pemasangan pessarium berbentuk cincin dan kalu
perlu ditambah tampon kasa serta tidur baring, mungkin sudah menolong.
Apabila pessarium dibiarkan dalam vagina tanpa pengawasan yang teratur,
dapat timbul komplikasi ulserasi, dan terpendamnya sebagian dari pessarium
dalam dinding vagina, malahan bisa terjadi fistula vesikovaginalis atau fistula
rektovaginalis.
2. Terapi Operatif
1. Ventrofiksasi
Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih menginginkan anak
dilakukan operasi untuk membuat uterus Ventrofiksasi, dengan cara
memendekkan ligamentum Rotundum atau mengikatkan ligamentum rotundum
ke dinding perut atau dengan cara operasi Purandare.
2. Hysterektomi vagina
Hysterektomi vaginal sebagai terapi prolaps uteri tingkat lanjut, dan pada wanita
yang telah menopause. Setelah uterus diangkat, puncak vagina digantungkan
pada ligamentum rotundum kanan kiri, atas pada ligamentum infundibulo
pelvikum, kemudian operasi akan dilakukan dengan kolporafi aterior dan
kolpoperineorafi untuk mencegah prolaps vagina di kemudian hari.
3. Manchester – Fothergill
Dasarnya ialah memendekkan ligamentum kardinale. Disamping itu dasar
panggul diperkuat ( Perineoplasty ) dan karena sering ada elongasio coli
dilakukan amputasi dari portio.
4. Kolpocleisis ( Neugebauer – Le Fort )
Pada wanita tua yang seksual tidak aktif lagi dapat dilakukan operasi sederhana
dengan menghubungkan dinding vagina depan dengan bagian belakang,
sehingga lumen vagina ditiadakan dan uterus terletak diatas vagina yang
tertutup itu. Akan tetapi operasi ini dapat mengakibatkan tarikan pada dasar
kandung kemih kebelakang, sehingga dapat menimbulkan inkontinensia urine,
atau menambah inkontinensia yang telah ada.
5. Operasi transposisi dari Watkins ( interposisi operasi dari Wertheim )
Prinsipnya ialah menjahit dinding depan uterus pada dinding depan vagina,
sehingga korpus uteri dengan demikian terletak antara dinding vagina dan
vesika urinaria dalam hiperantefleksi dan ekstra peritoneal. Disambing itu
dilakukan amputasi portio dan perineoplasty. Setelah operasi ini wanita tidak
boleh hamil lagi, maka sebaiknya dilakukan dalam menopause.

J. PENCEGAHAN
 Pemendekan waktu persalinan, terutama kala pengeluaran dan kalau perlu
dilakukan elektif (ekstraksi forseps dengan kepala sudah di dasar panggul)
 Membuat episiotomi, memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan lahir
dengan baik
 Memimpin persalinan dengan baik agar dihindarkan penderita meneran sebelum
pembukaan lengkap betul
 Menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta (perasat Crede)
 Mengawasi involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat
 Mencegah dan mengobati hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan
intraabdominal seperti batuk-batukyang kronik
 Menghindari mengangkat benda-benda yang berat
 Menganjurkan agar penderita jangan terlalu banyak punya anak atau sering
melahirkan

K. KOMPLIKASI
1. Keratinisasi Mukosa Vagina dan Portio Uteri
Procidentia uteri disertai keluarnya dinding vagina ( inversion ) karena itu
mukosa vagina dan serviks uteri menjadi tebal serta berkerut dan berwarna
keputuh-putihan.
2. Dekubitus
Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan paha dan
pakaian dalam, hal itu dapat menyebabkan luka dan radang dan lambat laun
timbul ulcus dekubitus. Dalam keadaan demikian perlu dipikirkan kemungkinan
karsinoma, lebih-lebih pada penderita berumur lanjut. Biopsi perlu dilakukan
untuk mendapatkan kepastian ada tidaknya karsinoma insitu.
3. Hipertrofi Serviks Uteri dan Elongasio Koli
Jika serviks uteri menurun sedangkan jaringan penahan dan penyokong uterus
masih cukup kuat, maka kerana tarikan ke bawah dari bagian uterus yang turun
serta pembendungan pembuluh darah, serviks uteri mengalami hipertrofi dan
menjadi panjang pula. Hal yang terakhir ini dinamakan Elongasio Kolli.
Hipertrofi ditentukan dengan periksa lihat dan periksa raba sedang pada
elongasio kolli serviks uteri pada pemeriksaan raba lebih panjang dari biasa.
4. Gangguan miksi dan stress incontinensia
Turunnya uterus bisa juga menyempitkan ureter, sehingga bias menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis.
5. Kemandulan
Karena menurunnya serviks uteri sampai dekat pada introitus vagina atau keluar
sama sekali dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan.
6. Kesulitan Pada Waktu Partus
Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada waktu persalinan bias
timbul kesulitan pada pembukaan serviks, sehingga kemajuan persalinan
terhalang.
BAB II
PRESENTASI KASUS

A. IDENTITAS
Nama : Ny.P.
Umur : 63 tahun
Agama : Islam
Alamat : Melikan Lor Bantul
Pendidikan : Belum tamat SD
Pekerjaan :-
Nama Suami : Bp.T
Tanggal Masuk :

B. ANAMNESA
Keluhan Utama
Mengeluh adanya benjolan yang keluar dari jalan lahir
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien P3A2 usia 63 tahun datang ke poli obsgyn untuk kontrol irigasi vagina
dan cuci pessarium yang telah dipasang sejak 5 April 2011 silam.
Riwayat Penyakit Dahulu
Sejak tahun 2010, pasien sudah merasa ada benjolan yang keluar dari jalan lahir
sebesar telur ayam. Awalnya benjolan hanya keluar ketika pasien BAB dan
dapat dimasukan lagi. Pasien tidak pergi berobat. Setahun kemudian benjolan
bertambah besar dan tidak dapat dimasukan lagi. Pasien juga mengeluhkan
benjolan terasa nyeri saat berjalan dan bergesekan dengan pakaian serta keluar
keputihan, sehingga pasien pergi berobat.
Riwayat Penyakit Jantung, Diabetes Melitus, Hipertensi, Asma & alergi obat
disangkal pasien.
Riwayat Haid
Menarche : 13 tahun
Menepouse : 15 tahun yang lalu
Riwayat perkawinan
Menikah satu kali dengan suami sekarang >40tahun
Riwayat Obstetri P3A2
1. Abortus
2. Laki-laki / normal / 53th
3. Perempuan / normal / 52th
4. Abortus
5. Laki-laki / normal /48th

Penyakit dan Operasi yang Pernah Dialami


Tidak pernah mendapat tindakan operasi
Riwayat Keluarga Berencana
-
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Pasien
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Vital Sign : TD : 140/90 mmHg N : 83x/menit
S : 36,20 R : 24x/menit
Berat Badan : 45 kg
Tinggi Badan : 143 cm
Gizi : baik
Kulit : turgor dan elastisitas cukup, ujud kelainan kuli tidak
ada
Kepala : mesochepal
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung: tidak ada epistaksis, tidak ada sekret
Mulut : bibir tidak sianosis, tidak ada epulis
Leher : JVP tidak meningkat, deformitas tidak ada
Thorax : Inspeksi : simetris, defrmitas tidak ada, tidak ada
ketinggalan gerak
Palpasi :vokal fremitus kanan=kiri, iktus kordis tak teraba
Perkusi: sonor
Auskultasi: Paru: suara dasar vesikuler, tidak ada suara
tambahan; COR: suara jantung I-II murni reguler, gallop dan
bising tidak ada
Abdomen : Inspeksi : datar, striae, venektasi tidak ada
Auskultasi: peristaltik normal
Palpasi: supel, hepar danlien tidak teraba
Perkusi : tympani
Genetalia : perempuasn
Ekstremitas : refrek fisiologis positif, reflek patologis negatif, oedema
dan varises tidak ada

2. Status Ginekologi
Pemeriksaan Luar
Inspeksi : keadaan umum baik, terdapat masa keluar dari jalan lahir
sebesar buah advokat, terlihat mencucu
Pemeriksaan Dalam
Tidak dilakukan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

E. DIAGNOSA
P3A2, 63 tahun
Prolaps Uteri Grade III

F. TERAPI

Telah dilakukan pemasangan pessarium a/i prolaps uteri grade III.


(Tgl 5-4-2011)

G. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

H. FOLLOW UP POLI
Pasien rutin datang ke poli kebidanan setiap bulan untuk kontrol irigasi vagina
dan cuci pesarium.
BAB III
PEMBAHASAN

Seorang P3A2 dengan keluhan utama ada benjolan keluar dari jalan lahir, datang ke
poli kebidanan untuk kontrol irigasi vagina dan cuci pesarium. Pasien merasakan gejala
tersebut kira-kira dua tahun yang lalu. Pada awalnya benjolan sering keluar hanya ketika
pasien mengejan saat BAB dan dapat dimasukkan kembali serta tidak terasa sakit ketika
berjalan. Namu setahun kemudian (pada tahun 2011) benjolan bertambah besar dan tidak
dapat dimasukan lagi. Pasien juga mengeluhkan benjolan terasa nyeri saat berjalan dan
bergesekan dengan pakaian serta keluar keputihan. Setelah dilakukan pemeriksaan pasien
didiagnosis mengalami Prolapsus Uteri derajat III, kemudian dilakukan pemasangan
pesarium.
Pada pasien ini, kemungkinan yang menyebabkan terjadinya prolaps uteri ialah riwayat
obstetri multipara, karena pasien pernah melahirkan sebanyak 3 kali. Pada persalinan yang
terjadi berkali-kali akan membuat ligamen-ligamen penggantung uteri tidak sekencang saat
pasien belum melahirkan sebanyak ini. Kemungkinan penyebab dari prolapsus lainnya adalah
pasien sudah menopause, dimana pada menopause terjadi penurunan produksi hormon
esrogen yang menyebabkan berkurangnya elastisitas dari ligamentum-ligamentum dan otot-
otot panggul mengalami atrofi sehingga menyebabkan melemahnya sokongan pada rahim.
Pengobatan yang dilakukan pada pasien ini adalah pemasangan pessarium. Selain
pemasangan pesarium, pengobatan prolaps uteri juga dapat dilakukan dengan tindakan
operatif. Tindakan operatif histerektomi merupakan pengobatan paling baik dalam mengobati
prolaps uteri karena dapat menghilangkan kausa dari penyakit tersebut. Setelah dlakukan
histerektomi tidak adan terjadi prolaps uteri lagi.
Tindakan yang dilakukan pada pasien ini ialah pemasangan pessarium karena keadaan
pasien yang sudah berusia lanjut sehingga tidak mungkin dilakukan operasi hosterektomi.
Sebenarnya pemasangan pessarium hanyalah merupakan pengobatan paliatif saja yaitu hanya
mengurangi gejalanya, yang jika pessarium dilepas maka akan kembali terjadi prolaps.
BAB IV
KESIMPULAN

Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena kelemahan
otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya uterus melalui
dasar panggul atau hiatus genitalis.
. Penyebab prolapsus uteri seperti akibat persalinan, khususnya persalinan pervaginam
yang susah, dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligamen-ligamen yang tergolong dalam
fasia endopelvic, dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. Juga dalam keadaan tekanan
intra abdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus,terutama
apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause.
Pengobatan prolapsus uteri dibagi menjadi terapi operatif dan nonoperatif. Terapi
operatif dengan cara ventrofiksasi, hysterektomi vagina, Manchester – Fothergill,
Kolpocleisis, dan operasi transposisi dari Watkins. Sedangkan terapi non operatif dengan cara
Latihan-latihan otot dasar panggul, stimulasi otot-otot dengan alat-alat listrik, dan pengobatan
dengan Pessarium.
Keadaan ini dapat menyebabkan komplikasi seperti keratinisasi mukosa vagina dan
portio uteri, dekubitus, hipertrofi serviks uteri dan elongasio kolli, gangguan miksi dan stress
incontinensi, infeksi saluran kemih, kemandulan,dan kesulitan pada waktu partus.
DAFTAR PUSTAKA

Liewollyn, Jones. 2002. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Hipokrates. Jakarta

Lindsey, J.L. 2007. Obstetrics and Gynecology; Emedicine.

Ronald. S, 2008. Danforth's Obstetrics and Gynecology, 10th Edition, Lippincott Williams
& Wilkins.

Wiknjosastro Hanifa, Prof, dr. DSOG. 1999. Ilmu Kandungan, Cetakan Ke III. PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta