You are on page 1of 2

Gagal Ginjal Kronis Dan Penanganannya

Gagal Ginjal Kronis (GGK) adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible, dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit
menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddarth, 2002).
Sebesar 75-85% batas penurunan fungsi ginjal sudah mulai menyebabkan timbul gejala. Ini artinya
apabila fungsi ginjal sudah di bawah 25%, maka gejala akan muncul dengan jelas. Beberapa diantara
gejala dari gagal ginjal kronis meliputi jumlah urin, pucat/anemia, mual dan muntah lalu tidak nafsu
makan, nafas berat, sangat lemah, sering cegukan/sedakan, serta rasa gatal di kulit. Dilihat dari segi
etiologi gagal ginjal kronik, urutan dari yang paling banyak yaitu glomerulonefritis (25%), diabetes
mellitus (23%), hipertensi (20%), dan ginjal polikistik (10%). Untuk itu, pada pasien gagal ginjal kronis
disarankan untuk melakukan beberapa terapi seperti terapi konservatif hingga terapi pengganti ginjal.1

Penyakit gagal ginjal kronis mempunyai 5 stadium, diantaranya stadium 1, stadium 2, stadium 3, stadium
4, hingga stadium 5. Stadium 1 jika glomerulo filtrasi rate normal yaitu lebih dari 90 ml/min, kadar
ureum/kreatinin berada diatas normal, dan di dalam urin terdapat darah atau protein. Pada stadium 2
ciri-cirinya hampir sama namun pada stadium ini terdapat salah satu keluarganya memiliki penyakit
ginjal polikistik dan mempunyai glomerulo filtrasi rate ringan/sekitar 60-89 ml/min. Pada stadium 3, jika
mengalami penurunan glomerulo filtrasi rate moderat, yaitu berkisar antara 30-59 ml/min. Biasanya
pada stadium 3 ini selain ditandai dengan adanya glomerulo filtrasi rate 30-59 ml/min juga muncul
komplikasi tekanan darah tinggi, anemia serta keluhan pada tulang. Pada stadium 4, jika mengalami
penurunan glomerulo filtrasi rate yang parah/berkisar 15-29 ml/min, serta mempunyai masalah pada
jantung dan kardiovaskulernya. Kemudian pada stadium terakhir/stadium 5, jika glomerulo filtrasi rate-
nya kurang dari 15 ml/min.1

Diet merupakan suatu terapi yang diperlukan bagi pasien gagal ginjal stadium awal. Pada stadium ini,
dianjurkan untuk melakukan diet sehat seperti mengkonsumsi roti dan sereal gandum whole grain,
buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar.1 Diet bisa dikatakan baik jika pola makannya dapat
menurunkan kadar protein, kalium, natrium, sodium, dan cairan. Sekitar 2/3 dari protein, pada pasien
gagal ginjal kronis harus mengkonsumsi berbagai sumber protein tinggi seperti protein kedelai. Pada
fosfor, pasien gagal ginjal juga harus mengkonsumsi makanan dengan rendah fosfor seperti tahu dan
telur. Pada kalium, pasien gagal ginjal menghindari makanan yang berkalium tinggi seperti alpukat,
kentang, tomat. Dan pada pasien gagal ginjal kronis juga harus menghindari makanan yang bersodium
tinggi, salah satunya adalah makanan olahan dan kalengan.2

Selain terapi diet, juga terdapat terapi pengganti ginjal, salah satunya adalah terapi hemodialisis.
Hemodialisis adalah sebuah terapi yang biasanya dilakukan pada pasien gagal ginjal dengan stadium 4,
dimana pada stadium ini fungsi ginjal hanya 15-30% saja.1 Hemodialisis merupakan suatu prosedur
dimana darah dikeluarkan dari tubuh pasien yang kemudian beredar dalam sebuah mesin di luar tubuh,
yang disebut dialiser. Frekuensi tindakan hemodialisis bervariasi tergantung banyaknya fungsi ginjal yang
tersisa, rata-rata penderita menjalani terapi ini 3x dalam seminggu, dan lamanya paling sedikit 3-4
jam/kali tindakan terapi (Brunner dan Suddath, 2002; Yang et al., 2011).3 Tujuan dilakukan terapi
hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronis yaitu untuk membuang ureum dan sisa metabolism lainnya
yang ada di dalam tubuh. Hal ini membawa dampak terjadinya penurunan respons imun pada pasien
gagal ginjal kronis. Ada beberapa jenis respons membran dialisis yang mempengaruhi adanya penurunan
respons imun yaitu cuprophan dan polymethylmetacrylate (PMMA), poliakrilnitril, polisulfon.