You are on page 1of 19

NAMA : MUHAMMAD ABDUL HABIIBI

NPM : 230110150133
TTD :

UJIAN AKHIR SEMESTER


MK : REKAYASA AKUAKULTUR 2018
PROGRAM STUDI : PERIKANAN
Jawablah pertanyaan soal di bawah ini dengan penjelasan dan teori yang benar!

1. Untuk membedakan teknologi budidaya tambak yang diterapkan di kawasan


sentra pertambakan di wilayah pesisir, coba saudara jelaskan pertanyaan di
bawah ini :
a) Gambarkan sketsa beberapa teknologi budidaya udang yang dikembangkan
untuk memberikan contoh budidaya udang yang benar pada para petambak di
sentra tersebut!

Jawab

b) Apa perbedaan masing-masing teknologi tersebut dan idealnya diterapkan pada


kawasan pertambakan yang bagaimana untuk masing-masing teknologi?

Jawab

1. Sistem Ekstensif
Budi daya udang sistem ekstensif atau tradisional masih mendominasi tambak-
tambak rakyat di Indonesia. Sistem ini memang sangat sederhana, sehingga pengelolaannya
tidak rumit namun hasilnya memang sangat rendah, antara 50-500 kg/ha/musim tebar.
Pengelolaannya bergantung pada kemurahan alam. Tambak berisi beragam spesies udang
dan ikan laut. Berkembang lebih lanjut, tambak tradisional mulai diberi pupuk dan udang di
tambak diberi pakantambahan secara tidak teratur. Pengelolaan tambak tradisional terus
mengalami perkembangan yang dikenal sebagai tambak tradisional plus, dimana persiapan
tambak sudah dilakukan dengan pengeringan, pengapuran, dan pemupukan. Penebaran
dengan menggunakan benih berukuran seragam dengan kepadatan 8-10 ekor/m2. Pemberian
pakan dilakukan tidak teratur. Namun, hasil panen dapat ditingkatkan hingga mencapai 500-
600 kg/ha/musim setelah pemeliharaan 7-8 bulan. Jika predator di tambak dapat dikurangi,
maka hasil panen dapat mencapai 700 kg.

2. Sistem Semi-Intensif
Budi daya udang sistem semi-intensif atau madya merupakan sistem yang sudah
maju. Persiapan tambak mengikuti pola umum yaitu: pengeringan, pembajakan, pemupukan,
dan pengapuran. Padat penaburan antara 15-20 ekor/m2 untuk udang windu dan 25-40
ekor/m2 untuk udang vanname. Untuk pengelolaan air, tambak dilengkapi dengan pompa air
dan kincir. Pemberian pakan dilakukan secara berkelanjutan sebanyak 2-3 kali sehari. Pakan
yang diberikan berupa pellet yang mengandung protein 30-40%. Udang juga diberi pakan
tambahan berupa udang rebon dan ikan rucah yang dicacah secukupnya. Dengan pengelolaan
yang lebih baik, hasil panen tambak intensif mencapai 2-3 ton/ha/musim.

3. Sistem Intensif
Budi daya udang secara intensif menerapkan padat penebaran tinggi dan pengelolaan
optimal. Padat penebaran udang windu antara 30-50 ekor/m2 dan udang vanname antara 40-
100 ekor/m2. Pemberian pakan dilakukan 4-6 kali sehari. Hasil panen yang diharapkan
adalah 4-8 ton/ha/musim untuk udang windu dan 10 ton untuk udang vanname.
Perkembangan budi daya udang intensif di Indonesia dimulai pada akhir tahun 1980-an. Pada
awal tahun 1990-an, tambak intensif di Indonesia sudah menerapkan padat penebaran antara
30-0 ekor/m2. Namun, padat penebaran yang tinggi tersebut mulai memunculkan masalah,
yaitu pencemaran perairan pantai, penyakit udang, dan rendahnya kelangsungan hidup
(survival rate).
Semakin tinggi padat penebaran makin lambat pertumbuhan udang. Pada padat
penebaran sampai 40.000 ekor/ha belum memerlukan kincir air, padat penebaran sampai
dengan 75.000 ekor/ha cukup 1 kincir air, sedangkan untuk padat penebaran di atas 30.000
ekor/ha perlu 8-10 unit kincir air/ha. Padat penebaran rendah umumnya udang tetap sehat
dan jarang terserang penyakit. Sebaliknya pada padat penebaran di atas 300.000/ha, kasus
gangguan fisik dan penyakit sangat tinggi.

4. Sistem Super Intensif


Sistem super intensif merupakan sistem budi daya yang menerapkan padat
penebaran sangat tinggi. Pada sistem ini udang windu dapat ditebar 50-80 ekor/m2,
sedangkan udang vanname antara 100-150 ekor/m2. Hasil panen yang diharapkan adalah 6-
10 ton untuk udang windu dan 12-16 ton untuk udang vanname. Namun dengan pengelolaan
yang optimal, pada udang vanname padat penebarannya dapat ditingkatkan hingga mencapai
500 ekor/m2. Budi daya udang super intensif membutuhkan pengelolaan yang super dan
penggunaan teknologi yang memadai. Kontrol kualitas air dilakukan super ketat dengan
menggunakan peralatan-peralatan laboratorium yang maju. Perkerjaan tersebut harus
dilakukan oleh tenaga-tenaga terlatih dan berpengalaman.

c) Berikan uraian setiap tahap-tahap kegiatan budidaya tambak hingga panen dan
berikan teknik untuk panen udang per bulan !

Jawab

Tahap kegiatan persiapan tambak bervariasi sesuai dengan tingkat teknologi budidaya yang
diterapkan maupun kondisi lahan yang digunakan. Secara umum tahapan- tahapan kegiatan
budidaya tambak adalah :
1. Persiapan Tambak
a) Pengeringan Dasar Tambak
Pengeringan pada tambak diharapkan mampu dilakukan dan dianjurkan dilakukan
bagi para petambak, yang dapat dilakukan pada periode musim kemarau. Pengeringan
ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa – senyawa asam sulfide dan senyawa
beracun yang terjadi selama tambak terendam air, memungkinkan terjadinya
pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organic yang
diperlukan untuk pertumbuhan lengkap dan dapat berlangsung, serta untuk
membunuh hama lain yang akan menjadi predator bagi udang dan kompotitor udang
dalam konsumsi pakan.
Agar lebih mempermudah pelaksanaan pengeringan tambak dapat dilakukan pada
saat air laut surut. Pengeringan tambak berlangsung selama 1-2 minggu, sampai
keadaan tanah retak- retak, namun tidak terlalu kering atau berdebu. Tambak yang
terlalu kering kurang baik untuk pertumbuhan klekap. Untuk mengetahui tingkat
pengeringan tersebut yaitu dengan cara mengukur ketinggian lekukan yang terjadi
dalam tanah dasar yang retak- retak tersebut, apabila lapisan telah mencapai 1-2 cm,
maka pengeringan sudah dianggap cukup.
b) Kedok teplok
Pengangkatan Lumpur dasar sebaiknya dilakukan pada saat Lumpur dasar dapat
diangkat Kebanyakan petambak melakukan kedok teplok pada saat tergenang
sehingga partikel- partikel Lumpur yang halus bercampur dengan air, sehingga kadar
NH3 –N dan H2S tetap tinggi.
c) Pengolahan tanah dasar tambak
Pengolahan tanah dasar dilakukan menggunakan hand tractor atau dicangkul, dengan
kedalaman tidak lebih dari 30 cm. hal ini dilakukan sehubungan dengan pengaruh
unsur hara terhadap pertumbuhan plankton pada kedalaman tertentu, dan kemampuan
unsur toksis berpengaruh terhadap kehidupan udang didasar tambak. Pengolahan
tanah dasar dilakukn hanya pada tambak masam dan tambak yang sudah lama
beroperasi, dan dilakukan pada musim tertentu, dimana unsur- unsur toksis dalam
bongkahan tanah dapat teroksidasi dengan sempurna (musim kemarau). Setelah tanah
dasar tambak ditraktor, kemudian dibalik dan Lumpur yang ada didalam caren harus
diangkat sambil memperbaiki pematang. Selanjutnya direndam air (10 – 20) selama
± 7 hari, lalu dikeringkan kembali.
2. Pengapuran
Pengapuran adalah upaya peningkatan produktivitas tambak, utamanya tambak
masam yang bertujuan :
a. Memperbaiki struktur tanah yaitu meningkatkan daya sanggah (buffer) tanah dan air
sehingga tidak terjadi perubahan kemasaman (pH) yang ekstrim.
b. Menetralisasi unsur toksis yang disebabkan oleh aluminium dan zat besi dengan
ketersediaan kalsium dalam jumlah yang cukup, sehingga ketersediaan unsur hara
seperti posfat akan bertambah.
c. Menstimulir aktivitas organisme tanah sehingga dapat menghambat organisme yang
membahayakan kehidupan udang (desinfectan)
d. Dapat merangsang kegiatan jasad renik dalam tanah sehingga dapat meningkatkan
penguraian bahan organic dan nitrogen dalam tanah.
Pada tanah masam dengan pH<5, pengapuran dilakukan sesudah diadakan reklamasi
sehingga pH tanah tidak terjadi perubahan yang drastis. Sedangkan pada tanah dasar tambak
yang pH>7 tidak dilakukan pengapuran atau pengapuran dalam jumlah yang sedikit sebgai
desinfectan saja (poernomo 1992). Pengapuran dilakukan pada saat tanah dasar tambak
dalam keadaan lembab dan juga dilakukan pada saat pengolahan atau pembalikan tanah dasar
tambak. Setelah tanah dasar tambak dikapur dengan kaptan selanjutnya dibiarkan kering dan
terjemur.
3. Pemberantasan Hama
Pemberantasan hama (terutama trisipan, kepiting dan udang / ikan liar) yang paling
efektif adalah melalui pengeringan tambak secara sempurna. Sedangkan pengapuran dengan
menggunakan kapur hidrat dan kapur oksida pada suhu tinggi juga dapat berfungsi untuk
memberantas hama udang liar (Mustafa 1991). Pemberantasan hama ikan dapat dilakukan
dengan menggunakan saponin, dimana keampuhannya sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu
dan salinitas air tambak. Pada salinitas rendah yaitu salinitas <20 ppm sebaiknya diaplikasi
pada dosis 20-30kg/ha dan dilakukan pada siang hari, dan apabila salinitas >30 ppm, saponin
diaplikasikan dengan dosis 10-15 kg/ha.
4.Pemupukkan
Pemupukan dilakukan sesudah pemberantasan hama, dan pada kondisi sekarang ini
pemupukan dilakukan pada semua tingkat teknologi. Jenis dan dosis pupuk ditentukan oleh
tingkat kesuburan dari masing- masing tanah dasar tambak. Kesuburan suatu perairan
tergantung pada produktivitas tanaman berklorofil, dan ini merupakan interaksi dari berbagai
faktor diantaranya tersedianya zat hara dalam perairan (andarias 1991). Kesuburan perairan
juga ditandai dengan kelimpahan dan jenis nabati air baik berupa fitoplankton maupun yang
berupa fitobentos, dimana kedua kelompok ini merupakan primer utama dalam budidaya
udang dan ikan ditambak.
Pemupukan tambak dimaksudkan unutk merangsang pertumbuhan makanan alami yang
diperlukan oleh udang dan ikan selama pemeliharaan.
Didalam pemupukan tambak sebaiknya dalam satu kali masa panen dilakukan dua kali
pemupukan, yaitu :
5. Persiapan Air untuk Penebaran
Air dimasukkan kedalam petakan tendon yang telah diendapkan selama + 4 hari.
Persiapan tendon dilakukan sama dengan persiapan petak pembesaran, hanya tidak dilakukan
pemupukan. Apabila tambak tidak memakai petakan tendon, maka tambak sebaiknya diberi
kaporit 5 ppm sebelum ditebari udang dan tidak boleh ganti air sampai 1,5 bulan. Air yang
telh ditampung dikapuri secara rutin dn dialirkn ke petak pembesaran dengan pergantian air
dipetak pembesaran sebnyak 20-30 % pertiga hari.
6. Penebaran Tokolan
Tokolan PL 57-60 ditebar dipetak pembesaran dengan kepadatan disesuaikan dengan
luas lahan. Dibandingkan dengan Pl 11-17 , tokolan udang lebih toleran terhadap fluktuasi
salinitas yang lebar sehingga membutuhkan wktu yang singkat dalam proses aklimatisasi
(gambar 3). Penebaran sebiknya dilakukan pada waktu suhu udara dingin, yaitu pada jam
06.00 – 08.00 pagi atau jam 17.00 sore-22.00 malam. Hindari penebaran benur yang
terkumpul disatu tempat. Benur ditebar setelah air tidak berbau kaporit dan air sudah
berwarna coklat muda. Padat tebar 5 ekor/m2 atau 50.000 ekor/ha. Berikan gilingan ikan
segar/cumi-cumi 5 kg/ha dipinggirtambak atau disekitar benur ditebar. Jangan diberikan
daging, udang/rebon atau rajungan, dan juda berikan 1 kg pellet halus/ha/hari selama 3 hari
berturut-turut, dengan cara ini kehidupan udang biasa mencapai > 70 %.
7. Pemeliharaan
Keberhasilan usaha budidaya tambak tidak hanya ditentukan oleh konstruksi tambak, desai
dan tata letak tambak, pengolahan tanah dan pengadan benih saja, tetapi juga ditentukan oleh
proses pemeliharaan sejk penebaran smpi pemungutan hasil (panen).
PANEN DAN PASCA PANEN
1. Panen
Panen udang atau ikan dapat dilakukan setelah masa pemeliharaan 3-4 bulan. Pada
umur demikian ukuran udng berkisar antara 30-40 gram/ekor dan banding berkisar 500
gram/ekor. Pemanenan ikn atau udang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : panen
sebagian (selektif) dan panen total. Dalam pelaksanaan panen baik dilaksanakan panen total
ataupun selektif, sebaiknyaaikan dipanen terlebih dahulu kemudian udang.
a. Panen Selektif
Pada panen ini hanya udang atau ikan yang telah memenuhi syarat ukuran konsumsi
(pemasaran) yang ditangkap. Caranya : Menggunakan alat tangkap berupa jarring
atau jala lempar (gambar 6) dengan ukuran mata jarring yang lebih besar, sehingga
memungkinkan udang atau ikan yang masih kecil lolos.
Masukkan air yang baru, sehingga udang atau ikan berkumpul dipintu air, lalu
gunakan serok/seser untuk menangkapnya. Bila ada udang atau ikan yang tertangkap
dapat dilepaskan kembali.
b. Panen Total
Panen ini semua udang atau ikan yang dipelihara ditangkap (gambar 7) sehingga
pengelolaan tambak untuk penebaran berikutnya dapat dilakukan lagi caranya :
Keluarkan air secara perlahan-lahan pada malam hari, sehingga dinihari air ditambak
tinggl yang berada dalam caren (saluran). Udang atau ikan digiring menyusuri caren
menuju pintu air, kemudian dikurung dengan kere bamboo agar ruang geraknya
sempit. Setelah udang atau ikan terkumpul, lakukan penangkapan dengan jala, seser
atau menggunakan tangan.
2. Pasca Panen
Setelah pemanenan selesai, maka hasil panen harus ditangani secepatnya agar
kualitas dan kesegaran udang atau ikan tetap baik hingga ke pasar atau konsumen.
Penanganan ikan relative lebih sederhana dibanding dengan penanganan udang, karena
banding tidak sepeka udng yang mudah cacat. Cara penanganan banding sebelum sampai
kekonsumen adalah :
a. Setelah ditangkap, ikan atau udang disortir sesuai ukuran (gambar 8), kemudian
dicuci beberapa kali dengan air bersih atau air es.
b. Masukkan kedalam keranjang yang telah dilapisi daun pisang dan serpihan es batu
dengan perbandingan 1 kg es untuk 2 kg ikan banding.
Penanganan udang hasil panen harus dilakukan dengan cepat karena kualitas udang cepat
menurun setelah dipanen. Keterlambatan dalam penanganan udang mengakibatkan
udang tidak dapat diterima dipasaran sebagai komoditas ekspor.

d) Tambak yang dibangun pada lahan mangrove memiliki kendala dalam hal
kemasaman tanah, keterbatasan jangkauan pasang surut, dan pasokan jumlah
air yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan pergantian air setiap hari
dalam budidaya udang, berikan solusi untuk 3 kendala tersebut, bagaimana
teknis pemecahan di lapangan !

Jawab
 Penangan Keasaman Tanah
Pertama adalah mengukur pH tanah pada beberapa titik yang berbeda menggunakan
alat ukur pH (pH soil tester) untuk mengetahui tingkat pH pada tanah dan menentukan
apakah tanah tersebut tingkat kemasamannya tinggi atau rendah.
Penangan kemasaman pada pH dapat dilakukan dengan cara pengapuran. Pengapuran
dilakukan untuk menaikkan pH minimal 6. Agar lebih akurat, dapat menggunakan
pH fox (penambahan hidrogen peroksida sebanyak 5 tetes). Jika perbedaan antara pH
fresh dan pH fox lebih tinggi dari empat (4), maka harus segera dilakukan reklamasi.
Untuk memperbaiki pH tanah dapat digunakan kapur CaOH untuk pH tanah kurang
dari 6 atau menggunakan CaCO3 jika pH telah lebih dari 6. Jika pH tanah rendah atau
di bawah 6 diharuskan melakukan pencucian tambak terlebih dahulu, dengan cara:

1. Memasukkan air ke dalam tambak dan mendiamkannya selama 1 – 2 hari.

2. Membuang air yang telah didiamkan, kemudian memeriksa kembali pH tanah.

3. Lakukan pencucian air secara berulang hingga pH tanah mendekati 7.

 Penangan keterbatasan jangkauan pasang surut


Di lapangan seorang teknisi harus paham tipe/jenis pasang surut yaitu Diurnal (satu
kali pasang, satu kali surut) dan Semi-Diurnal (dua kali pasang dan dua kali surut),
dimana pemilihan dijatuhkan pada tipe pasang surut Semi-Diurnal karena lebih
memudahkan dan menguntungkan dalam pergantian air.
 Penanganan pasokan jumlah air yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan
pergantian air setiap hari dalam budidaya udang
Dilakukan pengembangan jaringan irigasi tambak untuk merehabilitasi jaringan
irigasi yang sudah ada dan untuk meningkatkan kualitas air. Selain itu, perlu
dilakukan penampungan air pada tandon sebagai antisipasi ketika musim kemarau
yang menyebabkan pasokan air laut ke dalam petakan tambak.

2. Dalam perencanaan teknis pembangunan tambak baru, beberapa ketentuan


yang perlu dikerjakan terlebih dahulu sebelum penggalian petakan tambak:
(a) Uraikan dan gambarkan dengan sketsa apa yang perlu dikerjakan terlebih
dahulu oleh seorang sarjana perikanan dalam awal pembanguan fisik
(konstruksi fisik) tambak ?

Jawab
Pertambakan di Indonesia saat ini sudah mengalami perkembangan sehingga dalam
pembangunnnya terus dilakukan inovasi baik dari segi konstruksi lahan atau dari
inovasi teknologinya. Kegiatan usaha budidaya di tambak merupakan proses produksi
yang memerlukan kendali dan keberhasilannya akan sangat tergantung pada faktor
teknis maupun nonteknis (Cholik & Arifudin, 1989). Faktor teknis, seperti
perencanaan terpadu sangat penting dalam mata rantai kegiatan budidaya tambak.
Dengan demikian, perencanaan harus diarahkan pada kemampuan untuk
menciptakan kondisi yang sesuai dengan keadaan alami yang dituntut oleh organisme
akuatik yang dibudidayakan. Rekayasa tambak yang mencakup disain, tata letak, dan
konstruksi (DTK) adalah salah satu faktor yang dominan dalam menentukan
keberhasilan budidaya di tambak. Oleh karena itu, rekayasa tambak terkait erat
dengan berbagai faktor dari mata rantai proses produksi usaha budidaya sejak awal
hingga panen. Rekayasa tambak yang baik dapat digunakan untuk mengatasi
keterbatasan lahan dan mencegah atau mengurangi dampak negative sosial dan
lingkungan (Boyd, 1999). Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai rekayasa tambak
yang tepat secara praktis dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas tambak
secara berkelanjutan dan efisien secara ekonomis.

Dalam pembuatan hal pertama dan penting adalah

1. pengurusan izin pembuatan tambak di lokasi tersebut


2. penentuan lokasi lahan tambak yang akan di gunakan
3. pembuatan denah dan struktut tambak yang akan dibuat
4. perhitungan anggaran (analisis biaya) pembuatan tambak
5. pengerjaan atau eksekusi
(b) Setelah pengerjaan awal selesai, tahap pekerjaan berikutnya, apa? Dan
bagaimana anda mengimplementasikan tahapan fisik pekerjaan tersebut,
jelaskan secara rinci!

Jawab :
Pengerjaan selanjutnya adalah pengerjaan dilapangan yaitu dengan membangun
konstruksi tambak, dalam membangun sunan rencana kerja yang matang agar dicapai
efisiensi dan penggunaan dana serta daya sehingga memperoleh hasil yang
maksimum (Cholik & Arifudin, 1989). Di dalam rencana kerja harus tercantum
tahapan pekerjaan yang akan dilaksanakan, kebutuhan tenaga kerja, waktu yang
diperlukan, pengaturan pekerjaan dan jenis serta jumlah alat yang diperlukan.
Tahapan pekerjaan meliputi pembersihan lahan dari vegetasi yang ada, pembangunan
rumah jaga, gudang, dan sebagainya. beberapa hal yang diperlukan dalam kegiatan
membangun konstruksi tambak adalah seperti berikut.

a. Konstruksi pemattang

dalam unit tambak harus dilaksanakan sesuai dengan disain dan tata letak yang telah
ditetapkan sebelumnya. Konstruksi pematang utama dilaksanakan mendahului
bagian-bagian lainnya. Hal ini diperlukan untuk memudahkan di dalam pekerjaan
penebangan vegetasi. Setelah pematang utama dibangun dan pintu utama dipasang,
maka tanah dasar di dalamnya dapat dikeringkan sehingga memudahkan pekerjaan
pemotongan batang-batang vegetasi dan penggunaan alat berat jika diperlukan.
Konstruksi pematang harus dilaksanakan secara cermat. Konstruksi pematang utama
biasanya didahului dengan penebangan vegetasi sepanjang jalur yang akan dilalui
pematang. Kemudian pada jalur tersebut dibuat “selokan” yang lebarnya 0,5 m dan
dalamnya 0,5—0,6 m (Wheaton, 1977). Selanjutnya selokan tersebut diisi dengan
tanah yang dipadatkan yang nantinya merupakan pasak bagi pematang utama dan
apabila dilaksanakan dengan baik akan membantu mengurangi kebocorankebocoran.
Pekerjaan berikutnya adalah membuat profil pematang dari kayu atau belahan bambu
yang menggambarkan bentuk pematang yang akan dikonstruksi. Profil pematang ini
dibuat pada setiap jarak 5--10 m yang saling dihubungkan dengan tali. Tanah yang
digunakan untuk pematang digali dan dibentuk sehingga membentuk balok tanah dan
bersih dari sisa-sisa akar atau batang vegetasi. Pada pembuatan pematang, tanah
berbentuk balok itu harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak terbentuk. Dalam
pembuatan pematang diusahakan diatasnya ajab

b. Konstruksi saluran utama

Konstruksi saluran utama atau sekunder harus dilaksanakan sesuai dengan disain
yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaan konstruksi saluran biasanya
dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan pematang yang berdekatan dengan
saluran tersebut, yang dimaksudkan agar tanah galian saluran yang telah bebas dari
sisa-sisa vegetasi dapat langsung digunakan untuk membangun pematang. Saluran
tambak pada umumnya termasuk tipe terbuka dengan penampang berbentuk
trapesium terbalik dan airnya mengalir secara gravitasi. Namun ada kalanya berupa
saluran tipe tertutup seperti yang banyak dipakai pada tambak intensif. Tipe tertutup
biasanya dipakai untuk menyalurkan air yang dipompa dari laut Karena
menggunakan pompa, maka debit air yang diperoleh tergantung pada kapasitas
pompa yang digunakan. Pada umumnya cara seperti ini diterapkan bila sumber air
yang ada di sekitar tambak sangat kotor, sehingga terpaksa harus mengambil air dari
tengah laut yang kondisi airnya masih bersih. Cara tersebut membutuhkan biaya
operasional tinggi dan hanya mampu memasok air tambak untuk beberapa hektar
saja. Untuk unit-unit tambak yang luasnya mencapai puluhan hektar, pemakaian
saluran tertutup sangat mahal dan tidak efisien. Untuk itu, lebih sesuai bila
menggunakan saluran tipe terbuka. Disain saluran meliputi: penentuan kemiringan
saluran, lebar dasar saluran, dan kemiringan dinding saluran. Di samping itu, perlu
pula dipertimbangkan kegunaan lain, misalnya untuk penampungan sementara udang
yang akan ditebar ke petakan lain. Bila diperuntukkan untuk tujuan ini, maka dasar
saluran perlu diperdalam sekitar 0,3 m lebih rendah dari dasar tambak. Salah satu
prinsip pengelolaan tambak adalah tambak harus dapat dikeringkan tuntas secara
gravitasi. Agar dapat dikeringkan tuntas, maka dasar saluran harus lebih rendah dari
dasar tambak. Berarti, saluran tambak harus dibuat landai kearah pintu utama.
Dengan demikian, lantai pintu utama merupakan titik terendah di seluruh hamparan
tambak. Selanjutnya semakin mendekati tambak, elevasi dasar saluran semakin
tinggi. Kemiringan saluran ditentukan oleh kondisi pasang surut air laut dan jarak
antara sumber air dengan daerah tambak. Di lokasi yang kisaran pasang surutnya
rendah, kemiringan saluran cenderung landai. Di daerah seperti ini diperlukan dasar
saluran yang lebih rendah agar saluran masih terisi air pada saat surut atau pasang
rendah, sehingga memungkinkan untuk mengisi air dengan bantuan pompa.
Kapasitas saluran direncanakan agar dapat memenuhi kebutuhan air bagi seluruh
hamparan tambak (debit air masuk) dan mampu membuang air tambak sesuai yang
diperlukan (debit air keluar). Bila pemasukan dan pengeluaran air dilakukan pada
saluran yang sama, maka kapasitas saluran harus didasarkan pada debit air yang
paling besar. Bila sistem irigasinya terpisah, maka disain kapasitas saluran didasarkan
pada debit air masing-masing. Perlu diingat, bahwa kebutuhan air untuk seluruh
hamparan tambak belum tentu dapat dipenuhi seluruhnya secara gravitasi, karena
adanya faktor pembatas berupa kisaran pasang surut.

c. Pembentukan tanah dasar

Tanah dasar tambak harus diratakan dan dibuat miring ke arah pintu pembuangan.
Pada prinsipnya tambak harus dapat dikeringkan tuntas secara gravitasi. Oleh karena
itu, elevasi dasarnya harus lebih tinggi dari rata-rata surut rendah atau minimal lebih
tinggi dari zero datum. Agar tambak mudah dikeringkan, paling tidak harus ada
perbedaan tinggi sekitar 0,15 m antara dasar tambak dengan dasar pintu air dan antara
dasar pintu air dengan dasar saluran. Penentuan elevasi dasar tambak sangat kritis
pada tanah sulfat masam yang mengandung pirit sehubungan dengan kebutuhan
remediasi tanah sulfat masam yang berkali-kali untuk mengurangi pengaruh
asamnya. Dalam proses remediasi ini dilakukan pengeringan, penggenangan, dan
pembilasan tambak berkali-kali (Mustafa & Sammut, 2007). Bila tambak tidak dapat
dikeringkan, maka proses remediasi tanah sulfat masam menjadi tidak sempurna.
Akibatnya pertumbuhan udang dan ikan bandeng yang dipelihara menjadi lambat dan
sintasannya menjadi rendah. Selain itu, lapisan pirit pada tambak tanah sulfat masam
perlu pula diwaspadai, sebab bila lapisan pirit ini teroksidasi pada saat penggalian
tambak akan menyebabkan penurunan pH tanah.Perataan tanah dasar tambak
meliputi pekerjaan pembersihan dari sisa-sisa vegetasi, menetapkan ketinggian dasar,
menimbun lekukan-lekukan, menggali tanah yang menonjol tinggi, dan membuat
kemiringan kearah pintu pembuangan. Pekerjaan membersihkan dari sisa-sisa
vegetasi memakan waktu dan tenaga yang cukup lama. Bila lahan tambak udang yang
tersedia merupakan lahan baru dan belum berbentuk suatu hamparan tambak, maka
disain tambak sebaiknya menerapkan sistem budidaya dengan saluran pemasukan
dan pengeluaran air terpisah. Dengan sistem ini sirkulasi air dijamin lancar, sehingga
kualitas air yang merupakan kunci utama dalam budidaya udang juga terjamin. Bila
dalam lahan tersebut sudah ada sungai, diusahakan agar sungai tersebut menjadi
saluran dan tata letak tambaknya disesuaikan dengan jalur sungai. Bila lahan yang
tersedia sudah dalam bentuk hamparan tambak, maka tata letak tambak harus didisain
sesuai dengan teknologi yang diterapkan.

(c) Bilamana wilayah tambak di hulu sungai mengalami keterbatasan pasok air
asin ketika musim hujan, bagaimana teknis pemecahannya, dan berikan 2
alternatif pengelolaan blok jaringan irigasi air tambak untuk mengairi seluruh
hamparan tambak ketika musim hujan dan musim kemarau ?
Jawab :

3. Letak dasar saluran pembuangan ataupun saluran air terhadap unit petakan
tambak sangat menentukan distribusi pasokan air asin ataupun tawar. Pada
tambak intensif, perbedaan dasar tambak dengan dasar saluran pembuangan
setidak 50 cm agar pengeluaran air dapat dilakukan secara gravitasi. Demikian
pula lebar diameter gorong-gorong saluran air menentukan waktu penggantian
air tambak. Sebagai contoh, bila petak tambak luasnya 5.0 ha, tinggi air dalam
tambak 1.1 m, penggantian air setiap hari 25 % serta debit pompa 15 m3 per
menit dan diameter gorong-gorong 1 (D1) 55 cm dan D2 65 cm, berapa lama
(jam) penggantian air untuk D1 dan D2?

Jawab :

Diketahui :
Luas Tambak (5 ha) = 50000 m3
Diameter Gorong : D1 = 55 cm
D2 = 65 cm
Tinggi tambak = 1.1 m
Penggantian Air = 25 %
Debit air pompa = 15 m3

Ditannyakan :
Lama Pergantian Air = ?
D1 :
Luas Gorong-gorong (A2) = 55 cm =
= 0,25 x 3.14 x 0,55
= 0,237 m2
2 𝑥 50000 𝑥 (1,10,5 ) 𝑥 (0,50,5 )
Lama Pergantian Air = 0,62 𝑥 0,237 𝑥 (2 𝑥 𝑔)0,5 𝑥 36000
100.000 𝑥 0,3417
= 0,62 𝑥 0,237 𝑥 (2 𝑥 9,8)0,5 𝑥 50000

Lama Pergantian Air = 1,43 jam


D2 :
Luas Gorong-gorong (A2) = 65 cm =
= 0,25 x 3.14 x 0,65
= 0,331 m2
2 𝑥 50000 𝑥 (1,10,5 ) 𝑥 (0,50,5 )
Lama Pergantian Air = 0,62 𝑥 0,331 𝑥 (2 𝑥 𝑔)0,5 𝑥 36000
100.000 𝑥 0,3417
= 0,62 𝑥 0,331 𝑥 (2 𝑥 9,8)0,5 𝑥 50000

Lama Pergantian Air = 1,04 jam


4. Pompa air tambak sebaiknya menggunakan pompa air dengan total head
rendah, agar debit yang dicapai lebih besar, misalnya pompa tipe Axial. Sebagai
ketentuan, penyediaan air untuk 1 ha tambak minimal 6 m3 per menit. Sebagai
contoh, misalnya luas petakan tambak 3 ha, kedalam air tambak yang
dibutuhkan 1.5 m, pergantian air setiap hari 25% dan debit pompa air 6 m3 per
menit per ha. Bila kemampuan pasang air laut 12 jam serta air pasang mampu
masik melalui pintu setinggi 60 cm, maka berapa lama (jam) waktu penggantian
air?

Jawab :

5. Coba saudara gambarkan sketsa sistem resirkulasi yang dioperasikan pada :


a) pemeliharaan elver sidat, menggunakan filter biologis dan jelaskan
mekanisme sirkulasinya!

Jawab :
Sistem resirkulasi adalah suatu wadah pemeliharaan ikan yang menggunakan sistem
perputaran air, yang mengalirkan air dari wadah pemeliharaan ikan ke wadah filter
(treatment), lalu dialirkan kembali ke wadah pemeliharaan (Timmons et al. 1994).
Sistem resirkulasi ini berfungsi untuk membantu keseimbangan biologis dalam air,
menjaga kestabilan suhu, mambantu distribusi oksigen serta menjaga akumulasi atau
mengumpulkan hasil metabolit beracun sehingga kadar atau daya racun dapat ditekan
(Lesmana 2001). Komponen sistem resirkulasi yang digunakan pada penelitian ini
terdiri dari filter biologi, filter fisik dan filter kimia. Filter biologi terdiri dari pecahan
karang dan bioball yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya nitrifikasi dari
amonia menjadi nitrit yang selanjutnya diubah menjadi nitrat (Diansyah 2014).
Secara umum, ada dua jenis mikroorganisme aerobik yang mengkolonisasi
biofilter untuk akuakultur. Bakteri heterotrofik memanfaatkan bahan karbon terlarut
sebagai sumber makanan mereka. Bakteri kemotrofik seperti Nitrosomonos sp.
Bakteri memanfaatkan amonia sebagai sumber makanan dan menghasilkan nitrit
sebagai produk limbah. Bakteri kemotrofik seperti Nitrospira sp. menggunakan nitrit
sebagai sumber makanan dan menghasilkan nitrat sebagai produk limbah.
Nitrosomonos dan Nitrospira akan tumbuh dan mengkolonisasi biofilter selama ada
sumber makanan yang tersedia. Sayangnya, kedua jenis bakteri ini relatif lambat
tumbuh. Bakteri heterotrofik tumbuh sekitar 5 kali lebih cepat dan akan keluar
bersaing dengan dua jenis lain untuk ruang jika makanan tersedia. Karena
kebanyakan sistem biofiltrasi akuakultur dirancang untuk tujuan mengubah dan
menghilangkan amonia dari air
Biasanya biofilter mengandung medium yang memiliki rasio luas permukaan
terhadap volume yang tinggi, sehingga menyediakan area yang luas untuk perlekatan
bakteri. prinsip yang terlibat dalam biofiltrasi adalah nitrifikasi amonia terhadap nitrit
dan nitrat oleh bakteri yang diikat ke substrat filter. Produk akhir ini relatif lebih tidak
beracun dibandingkan dengan amonia yang ada dalam limbah. dalam sebagian besar
aplikasi praktis, tingkat nitrat dan nitrat dikontrol dengan mengatur jumlah air baru
sehingga kadar nitrat dipertahankan di bawah tingkat kritis. Laju penambahan air baru
merupakan metode yang digunakan untuk mencegah pH air turun terlalu rendah.
ketika tidak ada air baru yang digunakan, akan mungkin dalam kondisi tertentu pH
turun di bawah 6 karena pelepasan NO3 dan CO2 ke dalam air. kadang-kadang, bahan
penyangga seperti batu kapur yang dihancurkan atau kerang laut digunakan sebagai
bagian dari biofilter. Setelah melewati biofilter, air limbah mungkin disterilisasi
biasanya dengan menggunakan metode ozon atau UV. Kemudian, air diaerasi atau
diberi oksigen untuk menggantikan oksigen terlarut yang dibuang oleh belut dan
biofilter.

b) pemeliharaan benur udang, menggunakan filter biologis serta filter


mekanis, jelaskan pula mekanisme sirkulasinya!

Jawab:

c) pemeliharaan benih gurame, menggunakan sirkulasi model tunggal dan seri


serta sistem sirkulasi airnya!

Jawab :