You are on page 1of 16

REFLEKSI KASUS JANUARI 2015

“ASMA BRONCHIAL PERSISTEN RINGAN”

Nama : Aditya Febriansyah Putra
No. Stambuk : N 111 15 014
Pembimbing : dr.Kartin Akune, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2015

1
BAB I

PENDAHULUAN

Asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas
yang ditandai adanya mengi episodik, batuk, dan rasa sesak di dada akibat
penyumbatan saluran napas, termasuk dalam kelompok penyakit saluran
pernapasan kronik. Asma mempunyai tingkat fatalitas yang rendah namun jumlah
kasusnya cukup banyak ditemukan dalam masyarakat. Badan kesehatan dunia
(WHO) memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia menderita asma, jumlah ini
diperkirakan akan terus bertambah sebesar 180.000 orang setiap tahun. Sumber
lain menyebutkan bahwa pasien asma sudah mencapai 300 juta orang di seluruh
dunia dan terus meningkat selama 20 tahun belakangan ini. Apabila tidak di cegah
dan ditangani dengan baik, maka diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi
yang lebih tinggi lagi pada masa yang akan datang serta mengganggu proses
tumbuh kembang anak dan kualitas hidup pasien. 3 5

Berdasarkan hasil suatu penelitian di Amerika Serikat hanya 60% dokter
ahli paru dan alergi yang memahami panduan tentang asma dengan baik,
sedangkan dokter lainnya 20%-40%. Tidak mengherankan bila tatalaksana asma
belum sesuai dengan yang diharapkan. Di lapangan masih banyak dijumpai
pemakaian obat anti asma yang kurang tepat dan masih tingginya kunjungan
pasien ke unit gawat darurat, perawatan inap, bahkan perawatan intensif. 2 4 7

Studi di Asia Pasifik baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat tidak masuk
kerja akibat asma jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat dan
Eropah. Hampir separuh dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit
dan melakukan kunjungan ke bagian gawat darurat setiap tahunnya. Hal ini
disebabkan manajemen dan pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman yang
direkomendasikan Global Initiative for Asthma (GINA). Dengan melihat kondisi
dan kecenderungan asma secara global, GINA pada kongres asma sedunia di
Barcelona tahun 1998 menetapkan tanggal 7 Mei 1998 sebagai “Hari Asma
Sedunia” untuk pertama kalinya. 27

2
Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun hasil
penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner
ISAAC (Internationla Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995
prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi
5,2%. Hasil survei asma pada anak sekolah di beberapa kota di Indonesia (Medan,
Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpasar)
menunjukkan prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun) berkisar antara
3,7%-6,4%, sedangkan pada anak SMP di Jakarta Pusat sebesar 5,8% tahun 1995
dan tahun 2001 di Jakarta Timur sebesar 8,6%. Berdasarkan gambaran tersebut di
atas, terlihat bahwa asma telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu
mendapat perhatian secara serius. 2 7

Pengamatan di 5 propinsi di Indonesia (Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan) yang dilaksanakan oleh Subdit
Penyakit Kronik dan Degeneratif Lain pada bulan April tahun 2007, menunjukkan
bahwa pada umumnya upaya pengendalian asma belum terlaksana dengan baik
dan masih sangat minimnya ketersediaan peralatan yang diperlukan untuk
diagnosis dan tatalaksana pasien asma difasilitas kesehatan.5 4 7

3
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. R.S
Umur : 12 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl.Tanggul utara no 29
Agama : Islam
Tanggal masuk : 6 Januari 2016
Tempat Pemeriksaan : Ruang Poli Anak RSU Wirabuana Palu

II. ANAMNESIS
Keluhan utama : Sesak nafas

Riwayat penyakit sekarang :
Pasien anak perempuan usia 12 tahun berobat ke poli RSU Wirabuana Palu
dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari. Sesak
dirasakan pertama kali pada malam hari dan pasien mengeluhkan susah tidur.
Pasien lebih menyukai untuk duduk dibandingkan berbaring untuk
mengurangi sesak nafas yang dialami. Sesak nafas timbul pada saat pasien
merasa terlalu capek dan juga meminum air dingin. Dalam sebulan biasanya
pasien mengeluhkan mengalami sesak nafas sebanyak 2 kali dan kadang
tidak menentu akan tetapi tidak dirasakan setiap hari. Pasien juga
mengeluhkan adanya batuk berlendir (+), Demam(-), kejang (-), Menggigil(-
), muntah (-), mual (-) BAB lancar dan BAK lancar

Riwayat penyakit dahulu :
Pasien pernah dirawat di rumah sakit 6 bulan yang lalu dengan
keluhan yang sama.

4
Riwayat penyakit keluarga :
Ibu pasien memiliki riwayat alergi seafood, ayah pasien (-), Saudara
kandung pasien (-)

Riwayat sosial-ekonomi :
Menengah
Riwayat Kehamilan dan persalinan :
Pasien lahir normal di rumah sakit dibantu oleh dokter, BBL 3400 g,
PB 49 cm, pasien anak ketiga dari empat bersaudara. Pada saat kehamilan ibu
pasien kontrol ke dokter sebanyak 4 kali.
Kemampuan dan Kepandaian Bayi :
Berjalan usia 1 tahun 5 bulan
Anamnesis Makanan :
ASI diberikan sejak lahir hingga usia 2 tahun . susu formula usia 1
tahun-5 tahun. Nasi diberikan 2 tahun-sekarang
Riwayat Imunisasi :
Lengkap

III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Sakit Berat
Kesadaran : Compos mentis
2. Pengukuran Tanda vital :
Nadi : 112 kali/menit, reguler
Suhu : 36,7 °C
Respirasi : 40 kali/menit
Berat badan : 27 kg
Tinggi badan : 97 cm
Status gizi : Gizi Kurang, CDC 83%
3. Kulit : Warna : Sawo matang
Turgor :Cepat kembali (< 2 detik)
Sianosis (-)

5
4. Kepala: Bentuk :Normocephal
Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut, tebal,
alopesia (-)
5. Mata : Palpebra : edema (-/-)
Konjungtiva : hiperemis (-/-)
Sklera : ikterik (-/-)
Reflek cahaya : (+/+)
Refleks kornea : (+/+)
Cekung : (-/-)
6. Hidung : Epistaksis : tidak ada
Sekret : tidak ada
7. Mulut : Bibir : sianosis (+)
Gigi : tidak ada karies
Gusi : tidak berdarah
8. Lidah : Tidak kotor
9. Leher
 Pembesaran kelenjar leher : Getah bening -/-,
 Pembesaran thyroid : tidak ada pembesaran -/-
 Faring : Tidak hiperemis
 Tonsil : T1/T1 tidak hiperemis

10. Toraks
a. Dinding dada/paru :
Inspeksi : Retraksi dinding dada,
Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri dan kanan sama
Perkusi : Sonor +/+
Auskultasi : Bronchovesikular +/+, Rhonki (-/-), Wheezing (+/+)
b. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

6
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula
sinistra
Perkusi :
 Batas jantung kanan : pada SIC V linea Parasternal
dextra
 Batas jantung kiri : pada SIC V linea midclavicula
sinistra
 Batas jantung atas : pada SIC II linea midclavicula
dextra dan parasternal sinistra
 Batas Jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni regular. Murmur (-),
Gallop (-)
11. Abdomen
Inspeksi :Bentuk : tampak datar
Auskultasi :Bising usus (+) kesan normal
Perkusi :Bunyi : Tympani
Palpasi : Nyeri tekan : (-)
Hati : Hepatomegali (-)
Lien : Splenomegali (-)
Ginjal : tidak teraba
12. Ekstremitas atas : Akral hangat +/+, edema (-/-),
13. Ekstremitas bawah : Akral hangat +/+, edema (-/-),
14. Genitalia : Dalam batas normal
15. Otot-otot : Eutrofi (-), kesan normal
16. Refleks : Fisiologis +/+, patologis -/-

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
(-)

7
V. RESUME
Pasien anak perempuan usia 12 tahun berobat ke poli RSU
Wirabuana Palu dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1
hari. Sesak dirasakan pertama kali pada malam hari dan pasien
mengeluhkan susah tidur. Pasien lebih menyukai untuk duduk dibandingkan
berbaring untuk mengurangi sesak nafas yang dialami. Sesak nafas timbul
pada saat pasien merasa terlalu capek dan juga meminum air dingin. Dalam
sebulan biasanya pasien mengeluhkan mengalami sesak nafas sebanyak 2
kali dan kadang tidak menentu akan tetapi tidak dirasakan setiap hari.
Pasien juga mengeluhkan adanya batuk berlendir (+), Demam(-),BAB
lancar dan BAK lancar
Pada pemeriksaan fisik didapatkan, Pemeriksaan Kepala dan leher
DBN, pemeriksaan thorax : terlihat retraksi dinding dada, suara nafas
tambahan Wheezing (+), Pemeriksaan Abdomen DBN, Extremitas DBN,
.
VI. DIAGNOSIS : Asma bronchial Persisten Ringan

VII. TERAPI

- Nebulizer β2 agonist (salbutamol nebule 2.5 mg )

- GG 1 tab
3x1 pulv
- Salbutamol 2 mg

VIII. ANJURAN
- Spirometri

8
IX. FOLLOW UP
Tanggal : 7-01- 2015
Subjek (S) : Sesak (-), Batuk (+), lendir (+), sianosis (-),
Objek (O) :
Tanda Vital
- Denyut Nadi : 88 kali/menit
- Respirasi : 28 kali/menit
- Suhu : 36,5 0C
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula
sinistra
Perkusi : Batas Jantung Normal
Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 murni regular.
Abdomen
Inspeksi :Bentuk : tampak cembung
Auskultasi :Bising usus (+) kesan normal
Perkusi :Bunyi : timpani
Palpasi : Nyeri tekan : (-)
Hati : Hepatomegali (-)
Lien : Splenomegali (-)
Ginjal : tidak teraba
Ekstremitas atas : Akral hangat +/+, edema (-/-),
Ekstremitas bawah : Akral hangat +/+, edema (-/-),

9
Assesment (A) : Asma Bronchial Persisten sedang
Plan (P) :
- GG 1 tab
3x1 pulv
- Salbutamol 2 mg

- Metyhlprednisolon 4x1 tab 4mg

10
DISKUSI

Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran napas
dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil dan limfosit T.
Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak
nafas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam hari atau dini hari.
Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas
namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat reversibel baik secara
spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan dengan
hiperaktivitas jalan napas terhadap berbagai rangsangan.

Klasifkasi asma sangat diperlukan karena berhubungan dengan tatalaksana
lanjutan (jangka panjang). GINA membagi asma menjadi 4 klasifikasi yaitu asma
intermiten, asma persisten ringan, asma persisten sedang, dan asma persisten berat
Berbeda dengan GINA, PNAA membagi asma menjadi 3 yaitu asma episodik
ringan, asma episodik sedang, dan asma persisten. Dasar pembagian ini karena
pada asma anak kejadian episodik lebih sering dibanding persisten (kronisitas).
Dasar pembagian atau klasifikasi asma pada anak adalah frekuensi serangan,
lamanya serangan, aktivitas diluar serangan dan beberapa pemeriksaan penunjang.

DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI ASMA

Penegakan diagnosis asma ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Anamnesis memegang peranan sangat penting mengingat
diagnosis asma pada anak sebagian besar ditegakkan secara klinis. 6

ANAMNESIS

Keluhan mengi dan atau batuk berulang merupakan manifestasi klinis yang
diterima luas sebagai titik awal diagnosis asma. Gejala respiratori asma berupa
kombinasi dari batuk, wheezing, sesak nafas, rasa dada tertekan, produksi sputum.
Gejala dengan karakteristik yang khas diperlukan untuk menegakan diagnosis
asma. Karakteristik yang mengarah ke asma adalah gejala timbul secara episodic
atau berulang. Gejala timbul misalnya ada faktor pencetus misalnya iritan, asap

11
obat nyamuk, udara dingin, makanan dan minuman dingin, aktifitas fisik.
Seringkali ada riwayat alergi pada pasien dan keluarganya. Biasanya gejala juga
dapat lebih berat pada malam hari. Dari hasil Anamnesis terhadap pasien :
pasien datang dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari.
Sesak dirasakan pertama kali pada malam hari dan pasien mengeluhkan susah
tidur. Pasien lebih menyukai untuk duduk dibandingkan berbaring untuk
mengurangi sesak nafas yang dialami. Sesak nafas timbul pada saat pasien merasa
terlalu capek dan juga meminum air dingin. Dalam sebulan biasanya pasien
mengeluhkan mengalami sesak nafas sebanyak 2 kali dan kadang tidak menentu
akan tetapi tidak dirasakan setiap hari. Pasien juga mengeluhkan adanya batuk
berlendir (+), orang tua pasien mengalami alergi seafood

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik pasien dalam keadaan sedang bergejala batuk atau sesak
dapat terdengar wheezing, baik yang terdengar langsung atau yang terdengar
dengan stetoskop. Perlu dicari gejala lain alergi pada pasien seperti dermatitis
atopik atau rinitis alergi. Dari Pemeriksaan fisik yang dilakukan, didapatkan pada
pemeriksaan thorax terdengar suara nafas tambahan wheezing (+)

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan ini untuk menunjukkan adanya variabilitas gangguan aliran napass
akibat obstruksi, hiperreaktifitas, dan inflamasi saluran respiratori, atau adanya
atopi pada pasien. Pemeriksaan meliputi :

 Uji fungsi paru dengan spirometri sekaligus uji reversibilitas dan
variabilitas. Pada fasilitas terbatas dapat dilakukan pemeriksaan dengan
peak flow meter
 Uji cukit kulit ( skin prickt tes), eosinophil total darah, IgE spesifik
 Uji inflamasi respiratori : FeNO . eosinophil sputum
 Uji provokasi bronchus dengan exercise, metakolin, hipertonik salin 1

12
Klasifikasi derajat asma

Derajat asma berdasarkan derajat serangan dapat dikelompokkan menjadi :
Intermitten, persisten ringan, persisten sedang dan persisten berat.

No Derajat asma Uraian kekerapan gejala asma
1 Intermitten Episode gejala asma <6x/tahun atau jarak antar
serangan >6 minggu
2 Persisten ringan Episode gejala asma>1x/bulan, <1x/minggu
3 Persisten sedang Episode gejala asma >1x/minggu, namun tidak setiap
hari
4 Persisten berat Episode gejala asma terjadi hampir setiap hari 1

Klasifikasi derajat asma pada anak

Parameter klinis, Asma episodik Asma episodik Asma persisten
jarang sering
kebutuhan obat

dan faal paru asma

1 Frekuensi <1x/bulan >1x/bulan Sering
serangan

2 Lama serangan <1minggu >1minggu Hampir
sepanjang tahun,
tidak ada
periode bebas
serangan

3 Intensitas Biasanya ringan Biasanya sedang Biasanya berat
serangan

4 Diantara Tanpa gejala Sering ada Gejala siang dan
serangan gejala malam

5 Tidur dan Tidak tergganggu Sering Sangat
aktifitas tergganggu tergganggu

13
6 Pemeriksaan Normal ( tidak Mungkin Tidak pernah
fisik diluar ditemukan tergganggu normal
serangan kelainan)
(ditemukan
kelainan)

7 Obat Tidak perlu Perlu Perlu
pengendali(ant
i inflamasi)

8 Uji faal PEFatauFEV1>80 PEFatauFEV1<6 PEVatauFEV<6
paru(diluar % 0-80% 0%
serangan)

9 Variabilitas Variabilitas>15% Variabilitas>30 Variabilitas 20-
faal paru(bila % 30%.
ada serangan)
Variabilitas
>50%

PEF=Peak expiratory flow (aliran ekspirasi/saat membuang napas puncak),
FEV1=Forced expiratory volume in second (volume ekspirasi paksa dalam 1
detik)7

Tata laksana Asma

Tujuan tata laksana asma adalah terkendalinya asma anak secara umum untuk
mencapai kendali asma sehingga menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang
anak secara optimal. Secara lebih rinci, tujuan yang ingin dicapai adalah :

1. Aktivitas pasien berjalan normal, termasuk bermain dan berolahraga
2. Gejala tidak timbul pada siang maupun malam hari
3. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan
4. Efek samping obat dapat dicegah untuk tidak atau sesedikit mungkin
terjadi, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak 1 6

Apabila tujuan ini belum tercapai maka tata laksananya perlu dievaluasi kembali

Tujuan tata laksana serangan asma antara lain sebagai berikut :

1. Mengatasi penyempitan saluran respiratori secepat mungkin
2. Mengurangi hipoksemia
3. Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya
4. Mengevaluasi dan memperbaharui tata laksana jangka panjang untuk
mencegah kekambuhan 1 6

14
Alur Tatalaksana Serangan Asma pada Anak

Klinik / IGD
Nilai derajat serangan

Tatalaksana awal
 nebulisasi -agonis 1-3x, selang 20 menit (2)
 nebulisasi ketiga + antikolinergik
 jika serangan berat, nebulisasi. 1x
(+antikoinergik)

Serangan berat

Serangan ringan Serangan sedang (nebulisasi 3x,
(nebulisasi 1-3x, respons (nebulisasi 1-3x,
baik, gejala hilang) respons buruk)
respons parsial)
 observasi 2 jam
 sejak awal berikan
 jika efek bertahan, O2 saat / di luar
boleh pulang  berikan oksigen (3)

 nilai kembali derajat nebulisasi
 jika gejala timbul  pasang jalur
lagi, perlakukan serangan, jika
sesuai dgn serangan parenteral
sebagai
sedang, observasi di  nilai ulang klinisnya,
serangan
Ruang Rawat jika sesuai dengan
sedang serangan berat,
Sehari/observasi
 pasang jalur rawat di Ruang
parenteral Rawat Inap
 foto Rontgen toraks

Boleh pulang
 bekali obat -agonis
(hirupan / oral)
 jika sudah ada obat Ruang Rawat Sehari/observasi Ruang Rawat Inap
pengendali, teruskan
 oksigen teruskan  oksigen teruskan
 jika infeksi virus sbg.
 berikan steroid oral  atasi dehidrasi dan
pencetus, dapat diberi
steroid oral  nebulisasi tiap 2 jam asidosis jika ada
 bila dalam 12 jam perbaikan  steroid IV tiap 6-8 jam
 dalam 24-48 jam kon-
trol ke Klinik R. Jalan, klinis stabil, boleh pulang,  nebulisasi tiap 1-2 jam
untuk reevaluasi
tetapi jika klinis tetap  aminofilin IV awal,
belum membaik atau lanjutkan rumatan
meburuk, alih rawat ke  jika membaik dalam 4-
Ruang Rawat Inap 6x nebulisasi, interval
jadi 4-6 jam
 jika dalam 24 jam
Catatan: perbaikan klinis stabil,
boleh pulang
1. Jika menurut penilaian serangannya berat, nebulisasi cukup  jika dengan steroid dan
1x langsung dengan -agonis + antikolinergik aminofilin parenteral
tidak membaik, bahkan
2. Bila terdapat tanda ancaman henti napas segera ke Ruang
timbul Ancaman henti
Rawat Intensif napas, alih rawat ke
3. Jika tidak ada alatnya, nebulisasi dapat diganti dengan Ruang Rawat Intensif
DAFTAR
adrenalin subkutan 0,01ml/kgBB/kali maksimalPUSTAKA
0,3ml/kali
4. Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2-4

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Bektiwibowo,S. 2015. Bogor Pediatric Update 2015. IDAI : Jakarta
2. Kepmenkes 1023/MENKES/SK, 2008. Pedoman pengendalian penyakit
asma. Menteri Kesehatan RI. Indonesia
3. IDAI.2009. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jakarta
4. Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi, IDAI. 2000. Konsensus Nasional
Asma Anak. Sari pediati vol 2(1).
5. IDAI. 2013. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta.
6. Supriyatno, B. 2005. Diagnosis dan Penatalaksanaan Terkini Asma pada
Anak. Majalah KedokteNran Indonesia, vol 55(3).
7. Rahajoe N, dkk. Pedoman Nasional Asma Anak, UKK Pulmonologi, PP
IDAI, 2004

16