You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

Asma merupakan salah satu keadaan klinis yang ditandai oleh terjadinya
penyempitan bronkus yang berulang namun reversible, dan diantara episode
penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih normal. Pada
penderita asma keadaan ini mudah ditimbulkan oleh alergen, infeksi virus, iritan
dan aktivitas dan menandakan suatu keadaan hipereaktivitas bronkus yang khas.1,2
Asma merupakan penyakit kronik yang mengenai hampir 6 juta anak
berusia kurang dari 18 tahun di Amerika Serikat. Pada 2003, Survei kesehatan
Nasional dari Center for Disease Control and Prevention mendapat prevalens
asma seumur hidup adalah 12,5 % dan prevalens asma saat itu adalah 8,5% pada
anak yang berusia kurang dari 18 tahun. Di Indonesia prevalens asma belum
diketahui secara pasti, namun hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun
dengan menggunakan kuesioner ISAAC (Internationla Study on Asthma and
Allergy in Children) tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada
tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%. Hasil survei asma pada anak sekolah di
beberapa kota di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang,
Yogyakarta, Malang dan Denpasar) menunjukkan prevalensi asma pada anak SD
(6 sampai 12 tahun) berkisar antara 3,7%-6,4%, sedangkan pada anak SMP di
Jakarta Pusat sebesar 5,8% tahun 1995 dan tahun 2001 di Jakarta Timur sebesar
8,6%. Berdasarkan gambaran tersebut di atas, terlihat bahwa asma telah menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian secara serius.2,3.4
Pada manifestasi asma akan tampak gejala batuk dan sesak napas atau
napas cepat. Selama episode akut pemeriksaan fisis dapat menunjukkan adanya
takipnea, batuk, mengi dan ekspirasi yang memanjang. Walaupun jarang asma
dapat menyebabakan terjadinya henti napas dan gangguan aktivitas harian,
sehingga tatalaksa asma harus segera dilakukan. Tatalaksana medis asma antara
lain mencakup beberapa hal yaitu kontrol lingkungan, terapi farmakologi dan
edukasi pasien. Serta diperlukan perhatian terhadap langkah-langkah untuk
meminimalisasi paparan terhadap alergen. Pengobatan asma dapat dibagi menjadi

1
pengobatan jangka panjang (kortikosteroid inhalasi, β² agonis kerja panjang,
teofilin, omalizumab) dan jangka pendek (β² agonis kerja pendek, obat
antikolinergik, kortikosteroid oral). Edukasi memegang peranan penting dalam
membantu pasien dan keluarganya untuk mematuhi terapi yang diberikan dan
perlu dimulai sejak diagnosis pertama kali ditegakkan.2

2
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. A.F
Umur : 5 tahun 9 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Macan No.13
Agama : Islam
Tanggal masuk : 18 Juli 2016
TempatPemeriksaan : Ruang Catelia RSUD Undata palu

II. ANAMNESIS
Keluhan utama : Sesak nafas

Riwayat penyakit sekarang :
Pasien anak laki-laki usia 5 tahun 9 bulan masuk ke RSUD Undata
dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari yang lalu.
Sesak dirasakan pada malam hari setelah beraktifitas. Saat sesak
berlangsung pasien lebih menyukai untuk duduk, sulit tidur, berbicara hanya
kata, dan disertai sensasi tertekan pada dada. Keluhan sesak berulang telah
dialami sejak 2 tahun lalu. Biasanya Sesak nafas timbul pada saat pasien
merasa terlalu capek. Terakhir kali pasien mengalami sesak napas pada 2
bulan yang lalu. Sesak nafas tidak dialami setiap bulan, dimana sesak nafas
dialami sudah 3 kali selama 1 tahun ini dan jarak antara sesak sekitar 2
bulan. Pasien juga mengeluhkan batuk berlendir sejak 3 hari lalu, disertai
dengan flu.
Pasien tidak Demam dan tidak ada riwayat kejang, tidak mengalami
mual dan muntah, buang air kecil lancar dan buang air besar biasa.

3
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien pernah dirawat di rumah sakit 2 bulan yang lalu dengan
keluhan yang sama.

Riwayat penyakit keluarga :
Ibu pasien memiliki riwayat asma, ayah pasien (-), Saudara kandung
pasien memiliki riwayat asma.

Riwayat sosial-ekonomi : Menengah

Riwayat Kehamilan dan persalinan :
Pasien lahir normal dirumah sakit dibantu oleh dokter, BBL 3100
gram, PB 49 cm, pasien anak ketiga dari lima bersaudara. Pada saat
kehamilan ibu pasien kontrol kedokter sebanyak 4 kali.

Kemampuan dan Kepandaian Bayi :
Pasien mulai membalikkan badannya sejak umur 6 bulan, duduk saat
berusia 7 bulan, merangkak saat berusia 8 bulan, berdiri saat berusia 10
bulan, berjalan saat berusia 11 bulan, dan mulai mengucapkan kata dengan
jelas saat berusia 12 bulan. Anak tidak mengalami keterlambatan
perkembangan saat ini.

Anamnesis Makanan :
ASI diberikan sampai usia 1 tahun, bubur saring diberikan saat usia 5
bulan sampai 11 bulan, diberikan makanan keluarga saat berusia 1 tahun.

Riwayat Imunisasi :
Lengkap

4
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Sakit Berat
Kesadaran : Compos mentis
2. Pengukuran Tanda vital :
Nadi : 120 kali/menit, reguler
Suhu : 36,8 °C
Respirasi : 40 kali/menit

Berat badan : 15 kg
Tinggi badan : 115 cm
Status gizi : gizi kurang, DCD 71%
3. Kulit :
Warna : Sawo matang
Turgor : Cepat kembali (< 2 detik)
Sianosis : (+)
4. Kepala:
Bentuk : Normocephal
Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut, tebal,
alopesia (-)
5. Mata :
Palpebra : edema (-/-)
Konjungtiva : hiperemis (-/-)
Sklera : ikterik (-/-)
Reflek cahaya : (+/+)
Refleks kornea : (+/+)
Cekung : (-/-)
6. Hidung :
Epistaksis : tidak ada
Sekret : tidak ada
7. Mulut :
Bibir : sianosis (+)

5
Gigi : tidak ada karies
Gusi : tidak berdarah
8. Lidah : Tidak kotor
9. Leher
 Pembesaran kelenjar leher : Getah bening -/-,
 Pembesaran thyroid : tidak ada pembesaran -/-
 Faring : Tidak hiperemis
 Tonsil : T1/T1 tidak hiperemis
10. Toraks
a. Dinding dada/paru :
Inspeksi : Tampak retraksi dinding dada
Palpasi : Vokal fremitus meningkat kiri dan kanan
Perkusi : Hipersonor +/+
Auskultasi : Bronchovesikular+/+, Rhonki (-/-), Wheezing (+/+)
b. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula sinistra
Perkusi :
 Batas jantung kanan : pada SIC V linea Parasternal dextra
 Batas jantung kiri : pada SIC V linea midclavicula sinistra
 Batas jantung atas : pada SIC II linea midclavicula dextra dan
parasternal sinistra
 Batas Jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung S1, S2 murni regular, Murmur (-),
Gallop (-)
11. Abdomen
Inspeksi : Bentuk tampak datar
Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal
Perkusi : Bunyi Tympani
Palpasi : Nyeri tekan : (-)
Hati : Hepatomegali(-)

6
Lien : Splenomegali(-)
Ginjal : tidak teraba
12. Ekstremitas atas : Akral hangat +/+, edema (-/-),
13. Ekstremitas bawah : Akral hangat +/+, edema (-/-),
14. Genitalia : Dalam batas normal
15. Otot-otot : Eutrofi (+), kesan normal
16. Refleks : Fisiologis ++/++, patologis -/-

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
Hemoglobin 11.7 11,7-15,5 g/dl
Leukosit 15.45 3,6-11,0 103/ul
Eritrosit 4.67 3,8-5,2 106/ul
Hematokrit 35.7 35-47 %
Trombosit 374 150-440 103/ul
Differential:
Basofil 0.1 0-1 %
Eosinofil 8.2 1-6 %
Limfosit 9.6 30-45 %
Monosit 1.8 2-8 %
Neutrofil 80.3 50-70 %

V. RESUME
Pasien anak laki-laki usia 5 tahun 9 bulan masuk ke RSUD Undata
dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari yang lalu.
Sesak dirasakan pada malam hari setelah beraktifitas (bermain bola). Saat
sesak berlangsung pasien lebih menyukai untuk duduk, sulit tidur, berbicara
hanya kata, dan disertai sensasi tertekan pada dada. Keluhan sesak berulang
telah dialami sejak 2 tahun lalu. Biasanya Sesak nafas timbul pada saat
pasien merasa terlalu capek. terakhir kali pasien mengalami sesak napas

7
pada 2 bulan yang lalu. Sesak nafas tidak dialami setiap bulan, dimana sesak
nafas dialami sudah 3 kali selama 1 tahun ini dan jarak antara sesak sekitar
2 bulan. Pasien juga mengeluhkan batuk berlendir sejak 3 hari lalu, disertai
dengan flu.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan, Pemeriksaan Kepala dan leher
DBN, pemeriksaan thorax : terlihat retraksi dinding dada, vokal fremitus
meningkat, hipersonor, suara nafas tambahan Wheezing (+), Pemeriksaan
Abdomen DBN, Extremitas DBN. Pemeriksaan darah rutin tampak
peningkatan WBC 15.45 ribu/uL, eosinofil 8.2%, neutrofil 80.3%.

VI. DIAGNOSIS : Asma bronchial Intermiten

VII. TERAPI
- Nebulizer β2 agonist (salbutamol nebule 2.5 mg )
- O2 2 LPM
- IVFD RL 10 gtt/m
- Inj. Dexametasone 3 x 2.5 mg (0.5 ml)
- ambroxol 6 mg
3x1 pulv
- Salbutamol 1 mg

VIII. ANJURAN
- Spirometri

IX. FOLLOW UP
19-07- 2016
Subjek (S) : Sesak (-), Batuk berlendir (+), sianosis (-)
Objek (O) :
Tanda Vital
- Denyut Nadi : 88 kali/menit
- Respirasi : 28 kali/menit
- Suhu : 36,50C

8
Toraks
- Dinding dada/paru :
Inspeksi : ekspansi dada simetris bilateral,
Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri dan kanan sama
Perkusi : Sonor +/+
Auskultasi : Bronchovesikular+/+, Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
- Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula sinistra
Perkusi :
 Batas jantung kanan : pada SIC V linea Parasternal dextra
 Batas jantung kiri : pada SIC V linea midclavicula sinistra
 Batas jantung atas : pada SIC II linea midclavicula dextra dan
parasternal sinistra
 Batas Jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung S1, S2 murni regular, Murmur (-), Gallop (-)
- Abdomen
Inspeksi : Bentuk tampak cembung
Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal
Perkusi : Bunyi timpani
Palpasi : Nyeri tekan : (-)
Hati : Hepatomegali(-)
Lien : Splenomegali (-)
Ginjal : tidak teraba
Ekstremitas atas :Akral hangat +/+, edema (-/-).
Ekstremitas bawah :Akral hangat +/+, edema (-/-).

Assesment (A) :Asma Bronchial intermiten

9
Plan (P) :
- IVFD RL 10 gtt/m
- Inj. Dexametasone 3 x 2.5 mg (0.5 ml)
- ambroxol 5 mg
3x1 pulv
- Salbutamol 1 mg

10
BAB III
DISKUSI

Asma adalah penyakit saluran respiratori dengan dasar inflamasi kronik
yang mengakibatkan obstruksi dan hiperreaktivitas saluran respiratori dengan
derajat bervariasi. Manifestasi klinis asma dapat berupa batuk, wheezing, sesak
napas, dada tertekan yang timbul secara kronik dan atau berulang, reversible,
cendrung memberat pada malam atau dini hari, dan biasanya timbul jika ada
pencetus.5
Klasifkasi asma sangat diperlukan karena berhubungan dengan tatalaksana
lanjutan (jangka panjang). GINA membagi asma menjadi 4 klasifikasi yaitu asma
intermiten, asma persisten ringan, asma persisten sedang, dan asma persisten
berat. Berbeda dengan GINA, PNAA membagi asma menjadi 3 yaitu asma
episodik ringan, asma episodik sedang, dan asma persisten. Dasar pembagian ini
karena pada asma anak kejadian episodik lebih sering dibanding persisten
(kronisitas). Dasar pembagian atau klasifikasi asma pada anak adalah frekuensi
serangan, lamanya serangan, aktivitas diluar serangan dan beberapa pemeriksaan
penunjang.5
Derajat asma berdasarkan derajat serangan dapat dikelompokkan menjadi
:Intermitten, persisten ringan, persisten sedang dan persisten berat.

Tabel. 3.1 Derajat asma berdasarkan derajat serangan
No Derajat asma Uraian kekerapan gejala asma
1 Intermitten Episode gejala asma <6x/tahun atau jarak antar
serangan>6 minggu
2 Persisten ringan Episode gejala asma>1x/bulan, <1x/minggu
3 Persisten sedang Episode gejala asma>1x/minggu, namun tidak setiap
hari
4 Persisten berat Episode gejala asma terjadi hampir setiap hari
(Rahajoe, 2004)

11
Tabel 3.2 Klasifikasi derajat asma pada anak
Parameter klinis,
Asma episodik Asma episodik
kebutuhan obat Asma persisten
jarang sering
dan faal paru asma
Frekuensi
1 <1x/bulan >1x/bulan Sering
serangan
Hampir
sepanjang tahun,
2 Lama serangan <1minggu >1minggu tidak ada
periode bebas
serangan
Intensitas
3 Biasanya ringan Biasanya sedang Biasanya berat
serangan
Sering ada Gejala siang dan
4 Diantara serangan Tanpa gejala
gejala malam
Tidak Sering Sangat
5 Tidurdanaktifitas
tergganggu tergganggu tergganggu
Mungkin
Normal ( tidak
Pemeriksaan fisik tergganggu Tidak pernah
6 ditemukan
diluar serangan (ditemukan normal
kelainan)
kelainan)
Obat pengendali
7 Tidak perlu Perlu Perlu
(anti inflamasi)
Uji faal
PEF atau PEF atau PEV atau
8 paru(diluar
FEV1>80% FEV1<60-80% FEV<60%
serangan)
Variabilitas 20-
Variabilitas faal
Variabilitas>15 Variabilitas>30 30%.
9 paru(bila ada
% % Variabilitas>50
serangan)
%

12
PEF=Peak expiratory flow (aliran ekspirasi/saat membuang napas puncak),
FEV1=. Forced expiratory volume in second (volume ekspirasi paksa dalam 1
detik). (Rahajoe, 2004)

DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis asma ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Anamnesis memegang peranan sangat penting mengingat
diagnosis asma pada anak sebagian besar ditegakkan secara klinis.5

Anamnesis
Keluhan mengi dan atau batuk berulang merupakan manifestasi klinis yang
diterima luas sebagai titik awal diagnosis asma. Gejala respiratori asma berupa
kombinasi dari batuk, wheezing, sesak nafas, rasa dada tertekan, produksi sputum.
Gejala dengan karakteristik yang khas diperlukan untuk menegakan diagnosis
asma. Karakteristik yang mengarah ke asma adalah :
1) gejala timbul secara episodic atau berulang.
2) Gejala timbul bila ada faktor pencetus misalnya iritan (asap obat nyamuk,
udara dingin, makanan dan minuman dingin, penyedap rasa, pengawet
makanan, pewarna makanan); alergen (debu, tungau debu rumah, serbuk
sari); infeksi respiratori akut (karena virus, salesma, common cold,
rinofaringitis); aktifitas fisik (berlarian, berteriak, atau tertawa berlebihan).
3) Ada riwayat alergi pada pasien dan keluarganya.
4) intensitas gejala bervariasi dari waktu ke waktu, bahkan dalam 24 jam.
Biasanya gejala juga dapat lebih berat pada malam hari.
5) reversibilitas, yaitu gejala dapat membaik secara spontan atau dengan
pemberian obat pereda asma.5
Dari hasil Anamnesis terhadap pasien : pasien datang dengan keluhan
sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari. Sesak dirasakan pada malam
hari setelah beraktivitas. Sesak disertai batuk berlendir, flu, rasa dada
tertekan, sulit tidur, berbicara hanya kata. Gejala serupa telah sering
berulang, dalam tahun ini telah 3 kali terjadi, jarak antara sesak sekitar 2
bulan. Hal ini terutama timbul bila pasien telah melakukan aktivitas berlebih

13
atau kelelahan. Adanya riwayat ibu kandung dan saudara pertama pasien
mengalami hal serupa.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik pasien dalam keadaan sedang bergejala batuk atau sesak
dapat terdengar wheezing, baik yang terdengar langsung (audible wheeze) atau
yang terdengar dengan stetoskop. Perlu dicari gejala lain alergi pada pasien seperti
dermatitis atopik atau rinitis alergi5. Dari Pemeriksaan fisik yang dilakukan,
didapatkan pada pemeriksaan thorax terdengar suara nafas tambahan wheezing
(+).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan ini untuk menunjukkan adanya variabilitas gangguan aliran napas
akibat obstruksi, hiperreaktifitas, dan inflamasi saluran respiratori, atau adanya
atopi pada pasien. Pemeriksaan meliputi :
 Uji fungsi paru dengan spirometri sekaligus uji reversibilitas dan
variabilitas. Pada fasilitas terbatas dapat dilakukan pemeriksaan dengan
peak flow meter
 Uji cukit kulit ( skin prickt tes), eosinophil total darah, IgE spesifik
 Uji inflamasi respiratori :FeNO . eosinophil sputum
 Uji provokasi bronchus dengan exercise, metakolin, hipertoniksalin5

TATALAKSANA ASMA

Tujuan tata laksana asma adalah terkendalinya asma anak secara umum untuk
mencapai kendali asma sehingga menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang
anak secara optimal. Secara lebih rinci, tujuan yang ingin dicapai adalah :

1. Aktivitas pasien berjalan normal, termasuk bermain dan berolahraga
2. Gejala tidak timbul pada siang maupun malam hari
3. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan
4. Efek samping obat dapat dicegah untuk tidak atau sesedikit mungkin
terjadi, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak5

Apabila tujuan ini belum tercapai maka tata laksananya perlu dievaluasi kembali

14
Tujuan tata laksana serangan asma antara lain sebagai berikut :

1. Mengatasi penyempitan saluran respiratori secepat mungkin
2. Mengurangi hipoksemia
3. Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya
4. Mengevaluasi dan memperbaharui tata laksana jangka panjang untuk
mencegah kekambuhan5

15
Alur Tatalaksana Serangan Asma pada Anak

Klinik / IGD
Nilai derajat serangan

Tatalaksana awal
 nebulisasi -agonis 1-3x, selang 20 menit (2)
 nebulisasi ketiga + antikolinergik
 jika serangan berat, nebulisasi. 1x
(+antikolinergik)

Serangan berat

Serangan ringan Serangan sedang (nebulisasi 3x, respons
(nebulisasi 1-3x, respons (nebulisasi 1-3x, respons buruk)
baik, gejala hilang) parsial)
 sejak awal berikan
 observasi 2 jam
 Berikan oksigen(3) O2 saat / di luar
 jika efek bertahan, nebulisasi
boleh pulang  Nilai kembali derajat
 pasang jalur
 jika gejala timbul serangan, jika
parenteral
lagi, perlakukan sesuai dgn serangan
sedang, observasi di  nilai ulang klinisnya,
sebagai
Ruang Rawat jika sesuai dengan
serangan
Sehari/observasi serangan berat,
sedang
 Pasang jalur rawat di Ruang
parenteral Rawat Inap
 foto Rontgen toraks

Boleh pulang
 Bekali obat -agonis
(hirupan / oral)
 jika sudah ada obat Ruang Rawat Sehari /observasi RuangRawatInap
pengendali, teruskan
 Oksigen teruskan  Oksigen teruskan
 jika infeksi virus sbg.
 berikan steroid oral  Atasi dehidrasi dan
pencetus, dapat diberi
steroid oral  nebulisasi tiap 2 jam asidosis jika ada
 bila dalam 12 jam perbaikan  steroid IV tiap 6-8 jam
 dalam 24-48 jam kon-
trol ke Klinik R. Jalan, klinis stabil, boleh pulang,  nebulisasi tiap 1-2 jam
untuk reevaluasi
tetapi jika klinis tetap belum  aminofilin IV awal,
membaik atau meburuk, alih lanjutkan rumatan
rawat ke Ruang Rawat  jika membaik dalam 4-
Inap 6x nebulisasi, interval
jadi 4-6 jam
 jika dalam 24 jam
Catatan: perbaikan klinis stabil,
boleh pulang
1. Jika menurut penilaian serangannya berat, nebulisasi cukup  jika dengan steroid dan
1x langsung dengan -agonis + antikolinergik aminofilin parenteral
tidak membaik, bahkan
2. Bila terdapat tanda ancaman henti napas segera ke Ruang
timbul Ancaman henti
Rawat Intensif napas, alih rawat ke
3. Jika tidak ada alatnya, nebulisasi dapat diganti dengan Ruang Rawat Intensif
adrenalin subkutan 0,01ml/kgBB/kali maksimal 0,3ml/kali
4. Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen 2-4
L/menit diberikan sejak awal, termasuk saat nebulisasi

16
PROGNOSIS
Untuk sebagian anak, gejala mengi pada infeksi saluran respiratori
berkurang pada usia prasekolah, sedangkan anak lain dapat mempunyai gejala
asma yang lebih persisten. Indikator prognostik untuk anak usia di bawah 3 tahun
untuk mengalami asma adalah eksema; asma pada orang tua; atau adanya dua dari
hal berikut: rinitis alergi, mengi pada saat dingin, atau eosinofilia lebih dari 4%.
Prediktor paling kuat untuk mengi berlanjut menjadi asma persisten adalah atopi.2
PENCEGAHAN
Edukasi memegang peranan sangat penting dalam memebantu asien dan
keluargnaya untuk mematuhi terapi yang diberikan dan perlu dimulai sejak
diagnoss pertama kali ditegakkan. Edukasi yang sukses mencakup pengajaran
tetang fakta mendasar asam, menjelaskan tentang peran obat-obatan , pengajaran
kontrol lingkungan.2

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Price & Wilson., Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Vol.2.
EGC: 2015
2. Marcdante, K.J., Kliegman, R.M., Jenson.H.B., Behrman, R.nNelson Ilmu
Kesehatan Anak. Edisi bahasa Indonesia , diterjemahkan, didapatkan dan diedit
oelh Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014.
3. Kepmenkes 1023/MENKES/SK, 2008. Pedoman pengendalian penyakit asma.
Menteri Kesehatan RI. Indonesia
4. Rahajoe N, dkk. Pedoman Nasional Asma Anak, UKK Pulmonologi, PP IDAI,
2004
5. Rahajoe N, dkk. Pedoman Nasional Asma Anak, UKK Pulmonologi, PP IDAI,
2004.

18