You are on page 1of 12

REFLEKSI KASUS Juli, 2017

PSORIASIS VULGARIS

Disusun Oleh:

Nama : Nurul Muchlisa E. T.
NIM : N 111 16 050

Pembimbing Klinik
dr. Diany Nurdin, Sp.KK, M.Kes.

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
STATUS PASIEN

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

RSUD UNDATA PALU

I. IDENTITAS PASIEN
1) Nama Pasien : Nn. A
2) Umur : 17 Tahun
3) Jenis Kelamin : Perempuan
4) Alamat : BTN Bumi Roviga
5) Agama : Islam
6) Pekerjaan : Pelajar
7) Tanggal Pemeriksaan : 4 Juli 2017
8) Ruangan : Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin
RSUD Undata

II. ANAMNESIS
1) Keluhan utama :
Gatal pada bagian siku dan punggung
2) Riwayat penyakit sekarang :
Pasien perempuan usia 17 tahun datang ke poliklinik kulit dan
kelamin Rumah Sakit Undata Palu dengan keluhan gatal pada bagian
siku dan bagian punggung yang dirasakan sejak 3 minggu yang lalu.
Awalnya, muncul bentol kecil berwarna merah seperti gigitan nyamuk
dan terasa gatal yang ditemukan pada kedua siku. Bentol-bentol
semakin bertambah disekitar siku, lengan atas dan punggung.
Beberapa hari kemudian bentol semakin melebar, merah, berbentuk
bulat dengan ukuran yang bervariasi. Setelah itu, bentol berubah
warna menjadi putih dan terkelupas. Rasa gatal pada area lesi lebih
dirasakan saat saat terkena panas matahari. Pasien mengatakan
memiliki alergi makanan berupa kuning telur.
3) Riwayat penyakit dahulu:
Pasien sebelumnya pernah mengalami hal yang sama sekitar 5 tahun
yang lalu pada area siku dan lutut. Pasien tidak memiliki riwayat
hipertensi maupun diabetes melitus.
4) Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa seperti
pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
1) Keadaan umum : Sakit ringan
2) Status Gizi : Baik
3) Kesadaran : Kompos mentis

Tanda-tanda Vital
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 86 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5o C

Status Dermatologis
Ujud Kelainan Kulit :
Kepala : Tampak plak eritematosa, berbentuk lonjong,
berbatas tegas, dilapisi dengan skuama tebal berlapis
Wajah : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Leher : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Ketiak : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Perut punggung : Tampak plak eritematosa, berbentuk polimorf,
berbatas tegas, dilapisi dengan skuama tebal berlapis
Dada : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Bokong : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Genitalia : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Ekstremitas atas : Tampak plak eritematosa, berbentuk bulat dan
beberapa polimorf, berbatas tegas, dilapisi dengan
skuama tebal berlapis
Ekstremitas bawah : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit

IV. DOKUMENTASI KASUS

Gambar 1. Ujud kelainan kulit pada punggung dan tengkuk : tampak plak
eritematosa, berbentuk lonjong dan polimorf, berbatas tegas, ukuran
bervariasi dilapisi dengan skuama tebal berlapis-lapis
Gambar 2. Ujud kelainan kulit pada ante brachii sinistra bagian ekstensor
tampak plak eritematosa, berbentuk bulat dan beberapa polimorf, berbatas
tegas dilapisi dengan skuama tebal berlapis

Gambar 3. Ujud kelainan kulit pada ante brachii dextra bagian ekstensor
tampak plak eritematosa, berbentuk bulat, berbatas tegas dilapisi dengan
skuama tebal berlapis
V. RESUME
Pasien perempuan usia 17 tahun dengan keluhan gatal pada bagian siku
dan punggung sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya muncul lesi kecil seperti
gigitan nyamuk, pruritus (+), eritema (+). Lesi semakin melebar dan
bertambah di sekitar siku, lengan atas dan punggung.
Pada hasil pemeriksaan dermatologis ditemukan plak eritematosa, bentuk
polimorf dan bulat, berbatas tegas dilapisi dengan skuama tebal berlapis.

VI. PEMERIKSAAN FISIK
- Pemeriksaan Tetesan Lilin
- Pemeriksaan Auspitz

VII. DIAGNOSIS KERJA
Psoriasis Vulgaris

VIII. DIAGNOSIS BANDING
1. Pitiriasis Rosea
2. Dermatitis Numular

IX. ANJURAN PEMERIKSAAN
- Pemeriksaan Histopatologi

X. PENATALAKSANAAN
1. Non-medikamentosa
- Menjaga kondisi tubuh agar tetap bersih
- Mengurangi stres
- Tidak menggaruk
2. Medikamentosa
- Sistemik
Metotrexat 2,5 mg, pemberian 3 kali (setiap 12 jam/minggu)
Cetirizin 10 mg 1x1
- Topikal
Desoxymethasone cream 0,05% 2 kali sehari
- Fototerapi

XI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungtionam : bonam
Qua ed cosmetican : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
PEMBAHASAN

Seorang pasien perempuan usia 17 tahun datang ke poliklinik kulit dan
kelamin Undata Palu dengan keluhan gatal pada bagian siku dan bagian punggung
yang dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya, muncul bentol kecil berwarna
merah seperti gigitan nyamuk dan terasa gatal yang ditemukan pada kedua siku.
Bentol-bentol semakin bertambah disekitar siku, lengan atas dan punggung.
Pasien mengatakan memiliki alergi makanan berupa kuning telur. Keluhan yang
sama sudah dirasakan sejak 5 tahun yang lalu.
Pada hasil pemeriksaan dermatologis ditemukan plak eritematosa, bentuk
polimorf dan bulat, berbatas tegas dilapisi dengan skuama tebal berlapis.
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan
residif. Ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin,
Auspitz dan kobner.[1]
Kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak
menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih
mengingat perjalanannya menahun dan residif. Secara etiopatogenesis, faktor
imunologik berperan dalam terjadinya psoriasis. Defek genetik pada kasus
psoriasis dapat di ekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel, yakni limfosit T,
sel APC atau keratinosit. Selain itu diduga psoriasis juga dapat diturunkan
(herediter).[1,2]
Berbagai faktor pencetus pada kasus psoriasis berdasarkan teori antara lain
stress psikis, infeksi fokal, trauma (fenomena Kobner), endokrin, gangguan
metabolik, obat dan juga alkohol dan merokok. Stress psikis merupakan faktor
pencetus yang utama. Faktor endokrin mempengaruhi perjalanan penyakit.
Puncak insiden terjadinya psoriasis adalah semasa pubertas dan menopause.Pada
waktu kehamilan umumnya membaik. Gangguan metabolisme contohnya
hipokalsemia dan dialisis telah dilaporkan sebagai faktor pencetus. Obat yang
umumnya menimbulkan residif ialah beta-adrenergic blocking agent, lithium,
antimalarial, dan penghentian mendadak kortikosteroid sistemik.[1,3]
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada kasus psoriasis umumnya tidak
mempengaruhi keadaan umum pasien, sebagian penderita mengeluhkan gatal
ringan. Tempat predileksi pada scalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka,
ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah lumbosacral.
Kelainan kulit yang ditemukan berupa bercak-bercak eritema yang meninggi
(plak) dengan skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada
stadium penyembuhan sering eritema yang ditengahnya menghilang dan hanya
terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika,
serta transparan. Besar kelainan bervariasi: lentikular, numular atau plakat, dapat
berkonfluensi. Jika separuhnya atau seluruhnya bersifat lentikular disebut
psoriasis gutata, biasanya pada anak-anak dan dewasa muda dan terjadi pasca
infeksi akut streptococcus.[2,4]
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner
(isomorfik). Fenomena Tetesan Lilin dimana bila lesi yang berbentuk skuama
dikerok maka skuama akan berubah warna menjadi putih yang disebabkan oleh
karena perubahan indeks bias. Auspitz Sign ialah bila skuama yang berlapis-lapis
dikerok akan timbul bintik-bintik pendarahan yang disebabkan papilomatosis
yaitu papilla dermis yang memanjang tetapi bila kerokan tersebut diteruskan maka
akan tampak pendarahan yang merata. Fenomena Kobner ialah bila kulit penderita
psoriasis terkena trauma misalnya garukan maka akan muncul kelainan yang sama
dengan kelainan psoriasis umumnya akan muncul setelah 3 minggu.[5]
Psoriasis Vulgaris adalah bentuk psoriasis umum yang lazim ditemukan dan
memiliki lesi-lesi yang berbentuk plak. Adapun tempat predileksinya seperti yang
telah dituliskan diatas. Pada pemeriksaan histopatologis psoriasis memberikan
gambaran yang khas, yakni parakeratosis dan akantosis. Pada stratum spinosum
terdapat kelompok leukosit yang disebut abses munro. Selain itu terdapat pula
papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis.[5]
Dalam kepustakaan terdapat banyak cara pengobatan. Secara umum
pengobatan psoriasis dapat menggunakan obat-obat golongan kortikosteroid baik
yang bersifat topikal maupun sistemik dan menyingkirkan faktor etiologi apabila
jelas, seperti mengobati infeksi causa bakterial dengan menggunakan antibiotik.
Jika gambaran klinisnya khas, tidaklah sukar membuat diagnosis.[1]
Diagnosis psoriasis berdasarkan anamnesis dan manifestasi klinis yang
didapatkan, adapun diagnosis banding dari psoriasis vulgaris yaitu dermatitis
numularis, pitiriasis rosea, kandidiasis kutis dan dermatitis atopic. Dermatitis
numularis atau eksim numular adalah gangguan alergi dengan pruritus patch
berbentuk koin pada kulit. Pria biasanya mendapatkan eksim nummular akhir
hidup mereka sementara wanita mendapatkannya pada usia lebih muda. Eksim
Numular yang paling sering terjadi pada ekstremitas, terutama kaki, tapi mungkin
terjadi di mana saja pada badan, tangan, atau kaki. Patofisiologi eksim ini tidak
jelas, itu sering terkait dengan kekeringan pada kulit, yang dapat memungkinkan
rusaknya epidermis dan perembesan alergen ke kulit.[6]
Pitiriasis Rosea Merupakan peradangan yang ringan dengan penyebab yang
belum diketahui. Banyak diderita oleh wanita yang berusia antara 15 dan 40 tahun
terutama pada musim semi dan musim gugur. Gambaran klinisnya bisa
menyerupai dermatitis numular. Tetapi umumnya terdapat sebuah lesi yang besar
yang mendahului terjadinya lesi yang lain. Lesi tambahan cenderung mengikuti
garis kulit dengan distribusi pohon cemara dan biasanya disertai dengan rasa gatal
yang ringan. Lesi-lesi tunggal berwarna merah muda terang dengan skuama halus.
Bisa juga lebih eritematus. Pitiriasis rosea berakhir antara 3-8 minggu dengan
penyembuhan spontan.[7]
Sampai saat ini pengobatan psoriasis hanya bersifat remitif, kekambuhan
yang boleh dikatakan hampir selalu ada mengakibatkan pemakaian obat dapat
berlangsung seumur hidup. Menjaga kualitas hidup pasien dengan efek samping
yang rendah menjadi seni pengobatan psoriasis yang akan terus berkembang.[8]
Diagnosis Banding:

Dermatitis Numularis Pitiriasis Rosea
Gambar

Definisi Peradangan kulit kronik, Erupsi kulit akut yang sembuh
lesi berbentukmata uang sendiri, dimulai dengan sebuah
(koin) atau agak lonjong. lesi inisial berbentuk eriema dan
skama halus
Etiologi Belum diketahui Tidak diketahui, diduga berkaitan
dengan reaktivasi virus HHV 7
dan HHV 6
Gejala Sangat gatal, lesi akut Gatal ringan, lesi pertama (herald
Klinis berupa plak eritematosa patch) dibadan, soliter, berbentuk
berbentuk koin dengan oval dan anular, ruam eritema dan
batas tegas yang terbentuk skuama halus di pinggir.
dari papul dan
papulovesikel yang
berkonfluens.
Predileksi Aspek ekstensor Badan, lengan atas bagian
ekstremitas, punggung proksimal, tungkai atas.
tangan, badan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hamzah, M & Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ketujuh.
Jakarta: BP-FKUI; 2013
2. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: EGC; 2007.
3. Richard D.J & Pandya A.G. Dermatology Atlas for skin of color. New York:
Spinger; 2014
4. Amirudin, M. Ilmu Penyakit Kulit. Makassar: BIPKK-FKUNHAS; 2003.
5. Bolognia J.L, Jorizzo J.L, Rapin R.P. Dermatology vol 1. Mosby. 2003
6. Poudel RR. Clinical imaging nummular eczema. Journal Of Community
Hospital Internal Medicine Perspectives. Nepal; 2015.
7. Daili ES. Menaldi SL.Wisnu IM. Penyakit kulit yang umum di Indonesia. PT
Medical multimedia indonesia. Jakarta;2005.
8. Menaidi SL. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta; 2015.