You are on page 1of 87

Kementerian Perindustrian

Revolusi Industry 4.0


Indonesia

Making
Indonesia
4.0

Dokumen Peluncuran Resmi


2018
Making
Indonesia 4.0

Agenda

1 Latar Belakang

2 Aspirasi “Making Indonesia 4.0”

3 10 Prioritas Nasional untuk “Making Indonesia 4.0”

4 Lima Sektor Prioritas untuk “Making Indonesia 4.0”

5 Manfaat Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja

6 Rencana Implementasi

2
Making
Indonesia 4.0

Latar Belakang

3
Making
Indonesia 4.0

Indonesia telah berhasil membangun siklus ekonomi yang


sehat, sehingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia
Perbaikan siklus ekonomi Peringkat PDB
Global1 (Nominal)
Pendapatan tenaga Belanja konsumen
kerja 1 Amerika
Belanja konsumen
Tenaga kerja # 4 terbesar berkontribusi 55% PDB, 2 China
dunia, bertumbuh ~30 juta bertumbuh 8x dalam 15 tahun
dalam 15 tahun. Upah
3 Jepang
bertumbuh 2x dalam 10 thn1 Siklus
Ekonomi
4 Jerman
:
Investasi Aktivitas korporasi
Indonesia
Pembentunkan modal bruto Kapitalisasi pasar di BEI 16
di 2016
tumbuh 13x (dari 22% ke 34 mencapai USD 500 milyar,
% PDB) dalam 15 tahun tumbuh 15x dalam 15 tahun
:
Fondasi sosial
Stabilitas Tingkat Indonesia
Keamanan 27
politik pendidikan di 2000

1. Berdasarkan data ILO, rata rata pendapatan orang Indonesia naik 115% antara 2004-2015
Sumber: World Bank; IMF; A.T. Kearney 4
Making
Indonesia 4.0

Indonesia memiliki aspirasi untuk menjadi top 10 ekonomi dunia


di 2030; mesin pertumbuhan berikutnya adalah ekspor neto
Faktor-faktor kontributor pertumbuhan PDB Indonesia
(Index: 2000 = 1) Ranking PDB
Global1 (Nominal)
Growth
PDB di 2000 1.0 Contributions 1 Amerika

2 China
Belanja
4.3 +55%
konsumen 3 Jepang

Belanja 4 Jerman
0.8 +10%
Pemerintah :
Indonesia
+ Investasi 2.8 +36% 10
di 2030

Pendorong
+ Ekspor Neto 0.0 0% pertumbuhan :
selanjutnya

Indonesia
PDB di 2016 8.9 16
di 2016

1. Berdasarkan besaran PDB nominal dalam USD


Sumber: World Bank, A.T. Kearney 5
Making
Indonesia 4.0

15 tahun ke depan akan merupakan “masa emas” bagi


Indonesia yang akan menikmati bonus demografi

Bonus demografi Rata-rata pertumbuhan PDB

Selama bonus Setelah bonus


1920 1970 2000 2030 2050 demografi demografi
Saat ini
Bonus demografi

Jepang 1930 5.5%1 0.9%

China 1970 9.2% 6.7%

Singapore 1970 7.3% 2.0%

Thailand 1970 5.8% 3.2%

Indonesia 1975 5.4% ?

1.Dikarenakan ketidaktersediaan data, data ini hanya untuk tahun 1961 sampai 1995
2.Catatan: Periode bonus demografi adalah ketika rasio populasi angkatan kerja terhadap populasi non-angkatan kerja meningkat, yang
memiliki korelasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Rata-rata pertumbuhan PDB Indonesia tahun 1975 hingga 2016.
Sumber: World Bank; A.T. Kearney 6
Making
Indonesia 4.0

Ke depannya Indonesia harus menghindari jebakan ‘siklus


ekonomi’
x Backup di halaman-halaman
berikutnya
Produktivitas rendah
2
Produktivitas Produktivitas
tenaga kerja modal

Rendahnya kemampuan untuk


Investasi terbatas
mendapatkan uang dari luar
1
Teknologi SDM Infrastruktur Ekonomi 3 Ekspor neto
4 FDI / belanja Perolehan
asing modal
riil

Sumber pendanaan terbatas Kurangnya kekuatan finansial


Utang Kredit sektor Penanaman
Ekonomi Rasio mata Current account Pendapatan
pemerintah swasta modal asing keuangan uang balance pemerintah

Biaya modal tinggi

Biaya utang Biaya ekuitas

Catatan: Ekonomi riil adalah bagian dari ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa. Ekonomi keuangan difokuskan pada pembelian dan
penjualan di pasar keuangan.
Sumber: A.T. Kearney 7
Making
Indonesia 4.0

1Pengeluaran Indonesia untuk teknologi tergolong lebih


rendah dibandingkan dengan negara lainnya
Belanja untuk teknologi informasi dan komunikasi1 Belanja sebagai % dari PDB
Belanja sebagai $ per kapita
(2016, $ ribu)
4,000 7.0
3,900 6.6% 6.5
3,800 6.0
3,700 5.5
3,600
3,513 4.6% 4.5% 5.0
3,500
4.5
3,400
4.0
1,900
1,807 3.5
1,800
1,700 3.0
2.4%
2.2% 2.5
500
424 2.0
400 1.4% 1.3%
300 1.5
200 148 1.0
116
100 45 38 0.5
0 0.0

133 78 62 30 28 25 16
Produktivitas per Singapore Japan Malaysia Thailand China Indonesia India
pekerja2

1. Gartner "Forecast: Enterprise IT Spending by Vertical Industry Market, Worldwide, 2012-2018, 4Q14 Update“.
2. Dewan Konferensi “Output, Labor and Labor Productivity, 1950-2017”
Sumber: Gartner, Dewan Konferensi; A.T. Kearney 8
Making
Indonesia 4.0

Rasio produktivitas tenaga kerja terhadap biaya menjadi semakin


2
datar; memperlemah posisi Indonesia dalam kompetisi global
Perbandingan pertumbuhan biaya dengan produktivitas1
(Angka 2005 = Indeks 100)

Perbandingan Produktivitas Tenaga


Perbandingan Biaya Tenaga Kerja Perbandingan Produktivitas/Biaya
Kerja

China

-46%

India

+62% -6%
Peningkatan produktivitas
Indonesia lebih rendah
daripada peningkatan biaya
Indonesia tenaga kerja

2006 2008 2010 2012 2014 2016 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2006 2008 2010 2012 2014 2016

1.Biaya tenaga kerja satuan dan produktivitas didasarkan kembali pada 2005 – menjadi indeks
Sumber: Database Ekonomi Total “Output, Labor and Labor Productivity, 1950-2017”, Economist Intelligence Unit 9
Making
Indonesia 4.0

3Proporsi perdagangan terhadap PDB Indonesia lebih rendah


dibandingkan dengan negara ASEAN lain
Besaran perdagangan negara- Tren ekspor dan impor
negara ASEAN (% PDB)
(2016; % PDB)
Simple average: 118% 30.5 -9.7
41.0 19.1 18.3
Indonesia 10.5 0.8
Singapore 318

Vietnam 185

Malaysia 128 189.2 176.9 172.1 146.3 +13.6

Cambodia 127 Singapore 12.3 25.8

Thailand 123

56.5 54.2 +6.4


Brunei 83 64.8 68.9

Laos Thailand 8.3 14.7


68

Philippines 65

Myanmar 43 50.0 53.3 93.6 91.1 +5.8


Vietnam
Indonesia 37 -3.3 2.5
Ekspor Impor Net Ekspor Impor Net
Catatan: ASEAN singkatan dari Association of Southeast Asian Nations. 2000 2016
Sumber: World Bank; A.T. Kearney 10
Making
Indonesia 4.0

4 Investasi asing ke Indonesia mengalami stagnansi

Investasi Asing Langsung (FDI) ke Indonesia

40 5.0

FDI (% of GDP)
35
FDI ($ billion) 4.5

30 28.6 28.5 29.3 29.0


25
24.6 4.0

20
19.5 3.4%
16.2 3.1% 3.2%
3.1%
15
3.0

10
2.7%

5
2.2% 2.2%
0 2.0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Catatan: FDI adalah penanaman modal asing.


Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia, World Bank; A.T. Kearney 11
Making
Indonesia 4.0

Perekonomian Indonesia diperkirakan akan beralih menuju


sektor jasa, sementara sektor manufaktur relatif melemah
Sebagai base case, kontribusi
PDB manufaktur diperkirakan
PDB Indonesia1 berdasarkan sektor: historis & perkiraan akan menurun, jika tidak ada
(% kontribusi) perubahan
Digerakkan Digerakkan Digerakkan
Perubahan CAGR PDB
sumberdaya manufaktur jasa
poin Sektor
persentase (2015–2030)
Total ($ milyar) 78.9 180 861 3,254 (2015–2030)

10.5 -4 pp 7.2%
Pertanian / perikanan 14.5 14.1
22.1 -2 pp
7.2 7.5%
12.5 9.2
16.3 -5 pp 7.2%
Tambang & utilitas 23.0 21.7
25.2 10.2 +1 pp 9.6%
Manufaktur 12.4 9.8 +1 pp 9.8%
5.0 18.3
Konstruksi 4.8
17.0
19.7 10.0 +1 pp 10.1%
Perdagangan, Ritel & 18.6
Perhotelan dan Pariwisata 8.9
5.4
5.0
27.5 +8 pp 11.9%
Layanan lainnya 14.1 17.8 19.3

Jasa 1980 2000 2015 2030E


(Base case)
PDB1 / kapita (USD) 522 842 3,366 11,228

1. PDB Nominal
Sumber: World Bank, Reserve Bank of Australia, PBB, Economist Intelligence Unit, Badan Pusat Statistik Indonesia; A.T. Kearney 12
Making
Indonesia 4.0

Indonesia harus menciptakan pekerjaan yang lebih banyak;


sangatlah penting untuk merevitalisasi sektor manufaktur

Indonesia berada di 5 negara teratas dengan …sektor manufaktur perlu direvitalisasi untuk
pertumbuhan angkatan kerja paling pesat di 2030… menyerap pertumbuhan angkatan kerja

Pertumbuhan populasi angkatan kerja Populasi angkatan kerja di Indonesia


(2016-2030; juta orang) (Juta orang)

1 India 154
2 Nigeria 49 +30 juta
angkatan kerja
3 Pakistan 39 202
4 Ethiopia 28 28
5 Indonesia 28

10 Philippines 15
174

17 Brazil 9

39 United
States 5
2016 Tambahan 2030E

Sumber: World Bank, Badan Pusat Statistik Indonesia, A.T. Kearney 13


Making
Indonesia 4.0

Revolusi Industri ke-4 merupakan tren global di industri


manufaktur
Akhir abad Awal abad Awal tahun Saat ini
ke-18 ke-20 1970

Konektivitas manusia, mesin &


data waktu nyata dimana-mana

Revolusi industri ke-4


Pengontrol logika Sistem cyber-physical
terprogram pertama
(PLC) Modem 084- 969

Revolusi industri ke-3


Lini produksi pertama, Penggunaan elektronik dan TI untuk otomatisasi produksi
rumah potong hewan di
Cincinnati - 1870

Revolusi industri ke-2


Pengenalan produksi masal berdasarkan pembagian kerja
Alat tenun mekanis
pertama - 1784

Revolusi industri ke-1


Pengenalan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap

14
Making
Indonesia 4.0

Lima teknologi berikut akan menjadi teknologi inti dalam


Revolusi Industri ke-4
Lima teknologi inti untuk Revolusi Industri ke-4

3 Wearable 4 Advanced 5 3D Printing


(AR / VR) Robotics
Lapisan
Fisik

Lapisan IoT
2
Konektivitas (Internet of Things)

Lapisan 1 AI
Logis (Artificial Intelligence)

Catatan: Penjelasan lebih detail mengenai masing-masing teknologi dapat ditemukan di dokumen ‘baselining workshop’
Sumber: A.T. Kearney 15
Making
Indonesia 4.0

Evaluasi Country Readiness 4IR

Pemetaan awal – country readiness


Model Negara Asia Timur dan Pasifik Amerika Latin dan Karibia Asia Selatan
Skor kesiapan negara Eurasia Timur Tengah dan Afrika Utara Afrika Sub-Sahara
Eropa Amerika Utara

Pendorong
skor produksi
(0-10) Singapore
Pendorong Peringkat Produksi 2
Struktur Peringkat Produksi 11
Malaysia
Indonesia Pendorong Peringkat Produksi 22
Struktur Peringkat Produksi 20
59 Pendorong Peringkat Produksi
38 Struktur Peringkat Produksi

Vietnam
Thailand
53 Pendorong Peringkat Produksi
48 Struktur Peringkat Produksi Pendorong Peringkat Produksi 35
Struktur Peringkat Produksi 12

Kamboja Philippines
91 Pendorong Peringkat Produksi Pendorong Peringkat Produksi 66
81 Struktur Peringkat Produksi Struktur Peringkat Produksi 28

Struktur skor
produksi (0-10)

Catatan: Pendorong produksi menunjukkan potensi untuk mengadopsi 4IR - terdiri dari faktor Permintaan, Teknologi & Inovasi, Kerangka Kerja Lembaga, Perdagangan & Investasi Global,
Sumber Daya Berkesinambungan; sementara Struktur produksi menunjukkan faktor-faktor saat ini terkait kemampuan untuk 4IR – terdiri dari skala dan kompleksitas produksi
Sumber: A.T. Kearney, World Economic Forum 16
Making
Indonesia 4.0

Industri 4.0 dapat menjadi game changer bagi pertumbuhan


ekonomi Indonesia
Faktor-faktor kontributor pertumbuhan Dampak 4IR
PDB Indonesia (Index: 2000 = 1) Dampak langsung
Kontribusi Dampak tidak
PDB di 2000 1.0 Pertumbuhan langsung

Revolusi Industri
Belanja Revitalisasi
Konsumen 4.3 +55% Ke-4 sektor
manufaktur

Belanja Memba-
Pemerintah 0.8 +10% ngun
Ekonomi Pasar Meraih
yang Tenaga Kembali
Kokoh Kerja Posisi Net
+ Investasi +36% yang
2.8 Lebih
Export
Baik
Meningkat-
kan Investasi
Meningkat
+ Ekspor Neto 0.0 0% -kan
Meningkat- Kekuatan
kan Belanja Keuangan
Pendorong
Negara Negara
pertumbuhan
PDB di 2016 8.9 selanjutnya

1. Berdasarkan besaran PDB nominal dalam USD


Sumber: World Bank, A.T. Kearney 17
Making
Indonesia 4.0

Aspirasi

18
Making
Indonesia 4.0

Industri 4.0 dapat merevitalisasi sektor manufaktur; ini adalah


momentum yang tepat untuk memulai “Making Indonesia 4.0”
Aspirasi “Making Indonesia 4.0”

Making
Top 10 Ekonomi Dunia tahun 2030
Indonesia
4.0

Kontribusi ekspor neto Kembali ke posisi net eksporter (seperti di tahun


sebesar 10% dari PDB 2000)

2x rasio produktivitas Meningkatkan produksi sembari menekan biaya


dan biaya1 (Kecepatan peningkatan serupa dengan India)

Pengeluaran Litbang Membangun kapabilitas inovasi lokal (Berada di


sebesar 2% dari PDB tingkat yang serupa dengan China2)
1. Tahun 2016 sebagai base
2. Pengeluaran Litbang Indonesia saat ini sebesar 0.1-0.3% dari GDP
Sumber: World Bank, A.T. Kearney 19
Making
Indonesia 4.0

10% ekspor neto: “Making Indonesia 4.0” dapat membantu


Indonesia meningkatkan daya saingnya di pasar ekspor
Aspirasi Ekspor Neto
Benchmark Ekspor Neto – ASEAN Ekspor Neto - target PDB untuk
(2016) Indonesia (2016 & 2030;%)
Porsi Ekspor Neto terhadap PDB Bagian ekspor neto terhadap PDB
(%) (%) Indonesia dapat ... atau beraspirasi
menargetkan rata-rata mencapai rasio ekspor
25.9% benchmark Malaysia & neto yang sama di tahun
Vietman saat ini… 2000

~6x ~13xt
10+%
14.7% 13x
10.5% ekspor neto positif
8.7% ekspor neto negatif 5+%
6.4%

2.6%
0.8% KH 0.8%
PH LA MM

2016 2030 - 2030 -


SG TH ID BN MY VN ID -4.4% Moderat Aspiratif
Kontribusi
20001 Manufaktur 30% 60% 65+%
-9.0% -9.8% terhadap
-10.0%ekspor neto
1. Indonesia di tahun 2000
Sumber: EIU, IMF, WITS, World Bank, A.T. Kearney 20
Making
Indonesia 4.0

2x rasio produktivitas dan biaya: Implementasi teknologi 4IR


akan membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja
Aspirasi terkait produktivitas
Benchmark produktivitas – Beberapa Target produktivitas
negara di Asia Indonesia (2016 & 2030)
Produktivitas tenaga kerja /biaya CAGR Produktivitas tenaga kerja/biaya
(indeks; 2009= 100) ’09-’16 (indeks; 2016 = 100)
Indonesia dapat menargetkan
1.5 ...atau beraspirasi
meningkatkan produktivitas biaya
India
5% tingkat kecepatan yang sama
meningkatkan
1.4 seperti India (5%
China 4% dengan benchmark Malaysia
CAGR)
1.3 saat ini…
Japan 4%
1.2 Malaysia 3% ~1.5x ~2x
Vietnam 1%
1.1
Thailand 1% 2.00
1.0
Indonesia -1% 1.50
0.9

0.8
1.00
0.7

0.6

0.5

0.4
2008 2010 2012 2014 2016
2016 2030 2030
1. Biaya dalam USD untuk perbandingan global Moderat Aspiratif
2. Negara-negara G20 tidak termasuk Arab Saudi
Sumber: EIU, IMF, World Bank, UNESCO, A.T. Kearney 21
Making
Indonesia 4.0

2% Pengeluaran Litbang: inovasi dapat menstimulasi


pertumbuhan ekonomi
Aspirasi terkait Litbang Didiskusikan lebih lanjut
Target pengeluaran Litbang untuk
Benchmark pengeluaran Litbang – 40 Indonesia
negara terbesar dunia (2016, %) (2016 & 2030, %)
ASEAN
Pangsa Litbang terhadap PDB Lain-lain Pangsa Litbang terhadap …atau beraspirasi
(%) PDB (%) menargetkan pengeluaran
Litbang China & memper-
xx Ranking berdasarkan dari pengeluaran USD Litbang Indonesia dapat menargetkan cepat kemajuan bagi Visi
4.0% tolok ukur MY Litbang saat ini target 2030 Litbang

3.4%
~4x ~7x
2.6%
2.0
2.0%

1.1% 1.1
0.6%
0.3%
0.3
JP SG CH MY TH

S. Korea Japan Singapore China Malaysia Thailand Indonesia


2016 2030 - 2030 -
1 3 20 2 28 NA 37 Moderat Aspiratif

Sumber: Industrial Research Institute, Litbang Magazine, EIU, A.T. Kearney 22


Making
Indonesia 4.0

10 Prioritas Nasional
untuk “Making
Indonesia 4.0”

23
Making
Indonesia 4.0

Indonesia harus mampu memanfaatkan keunggulannya untuk


membangun sektor industri yang tangguh
Keunggulan Indonesia

Angkatan kerja yang besar

Permintaan domestik yang kuat

“Making Indonesia 4.0” Pertumbuhan ekonomi stabil

Ekonomi terbesar di ASEAN

Sumber daya melimpah

Sumber: A.T. Kearney 24


Making
Indonesia 4.0

Seluruh sektor industri di Indonesia menghadapi 10 tantangan


fundamental sebagai berikut…
10 Tantangan utama industri di Indonesia (1/2)
Upstream dan • Bahan baku dan komponen inti sangat tergantung
dari impor, sebagai contoh:
midstream yang
kurang 1 – >50% petrokimia, 74% logam dasar
– Semua bagian penting di bidang elektronik dan
berkembang otomotif
Potensi geografis • Belum optimalnya zona industri yang komprehensif
contoh: migas vs. petrokimia
yang kurang
dioptimalkan
2 • Zona ekonomi kurang dikembangkan dan digunakan
contoh: Batam, Karawang, Bekasi dan Jawa Tengah
Tren global • Tren Sustainability kini semakin diwajibkan
sustainability
yang tidak 3 – Ekspor perlu memenuhi syarat, contoh: EUROx
– Perubahan peluang bisnis, contoh: solar, biomaterials
terelakan

UMKM yang • 62% pekerja Indonesia bekerja pada UMKM dengan


tertinggal 4 produktivitas yang masih rendah

Infrastruktur • Platform digital yang belum optimal


– Seluler: saat ini mengadopsi 4G (belum siap 5G)
Digital yang
belum memadai
5 – Fiber: kecepatan rata-rata <10Mbps (bukan 1Gbps)
– Cloud: infrastruktur cloud yang terbatas
Sumber: IHS Market, BPS, articles, A.T. Kearney 25
Making
Indonesia 4.0

Seluruh sektor industri Indonesia menghadapi 10 tantangan


fundamental sebagai berikut…
10 Tantangan utama industri di Indonesia (2/2)
Pendanaan
domestik dan • Saat ini, aliran FDI ke Indonesia tidak tumbuh (0%
teknologi yang 6 selama 2013-2016), walaupun Indonesia kekurangan
pendanaan dan akses terhadap teknologi baru
terbatas
Tenaga kerja yang • Indonesia memiliki angkatan kerja terbesar ke-4 di
banyak, namun
belum terlatih
7 dunia, namun sangat kekurangan talenta, contoh:
anggaran pendidikan pemerintah hanya $114 per kapita

Belum adanya • Anggaran litbang negara sangat terbatas; hanya 0.1-


0.3 % dari PDB
pusat-pusat
inovasi
8 • Belum adanya pusat litbang yang kuat yang
disponsori pemerintah maupun swasta

Kebutuhan untuk • Insentif yang komprehensif dibutuhkan untuk adopsi


insentif yang
komprehensif
9 teknologi 4IR contoh: pengecualian pajak, subsidi,
dukungan dana, dll.

Peraturan & • Peraturan dan kebijakan yang berpotensi tumpang


kebijakan yang tindih, ditangani oleh beberapa kementrian, contoh:
masih tumpang 10 upstream oleh Kementerian ESDM, midstream oleh
Kementerian Perindustrian, pemerintah pusat & daerah
tindih
26
Making
Indonesia 4.0

Indonesia telah menetapkan 10 prioritas nasional untuk “Making


Indonesia 4.0” 10 Prioritas Nasional

1 Perbaikan alur aliran material 6 Menarik investasi asing


• Menargetkan perusahaan manufaktur terkemuka
• Memperkuat produksi material sektor hulu; contoh
global melalui penawaran yang menarik dan insentif
50% dari bahan baku petrokimia yang masih impor
untuk percepatan transfer teknologi
2 Mendesain ulang zona industri 7 Peningkatan kualitas SDM
• Membangun peta jalan zona industri nasional • Desain kembali kurikulum Pendidikan
(mis. industry belts); mengatasi permasalahan menyesuaikan era Industri 4.0
yang dihadapi di beberapa zona industri • Program talent mobility untuk profesional
3 Akomodasi standar sustainability 8 Pembentukan ekosistem inovasi
• Kesempatan daya saing melalui tren
• Pengembangan sentra R&D&D2 oleh Pemerintah,
sustainability global, contoh: EV, biofuel, energi
swasta, publik, maupun universitas
terbarukan
4 Pemberdayaan UMKM 9 Menerapkan insentif investasi teknologi
• Memberdayakan 3.7 juta UMKM1 melalui
• Memperkenalkan tax exemption/subsidi untuk
teknologi; misalnya e-commerce UMKM,
adopsi teknologi dan dukungan pendanaan
pendanaan teknologi
5 Membangun infrastruktur digital nasional 10 Harmonisasi aturan dan kebijakan
• Pembangunan jaringan dan platform digital,
• Melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan
contoh: 4G menjadi 5G, Serat optik 1Gbps, Data
lintas kementrian
center dan Cloud
1. Termasuk usaha mikro 2. Research & Development & Design
Sumber: Kementerian Perindustrian, A.T. Kearney 27
Making
Indonesia 4.0

10 Prioritas Nasional untuk “Making Indonesia 4.0” (1/5)

1 Perbaikan aliran
material
• Indonesia masih tergantung impor
bahan baku dan komponen bernilai Makanan & minuman
tinggi Otomotif
Tekstil
• Meningkatkan suplai bahan baku Elektronik
Kimia
dasar domestik Migas & energi
• Membangun kemampuan Infrastuktur
manufaktur komponen bernilai
tinggi
Bahan baku mentah
industrial – Petrokimia,
Komponen bernilai
tinggi
•Terdapat potensi besar
untuk perbaikan zona
industri secara nasional
2
Logam Dasar (komponen elektronik, •Membuat zona baru Desain
dll.)
sejalan dengan Sektor
Prioritas dan membangun ulang
konektivitas diantara Zona
zona industri
Industri
Sumber: A.T. Kearney 28
Making
Indonesia 4.0

10 Prioritas Nasional untuk “Making Indonesia 4.0” (2/5)

3 Mengakomodir 2017 2035

Standar sustainability Kendaraan Beremisi Karbon Rendah

Motor bertenaga minyak dan listrik

• Adanya tantangan sustainability EV beserta komponennya


karena perubahan standar emisi Euro Kendaraan bertenaga biofuel & gas
• Mengidentifikasi peluang pertumbuhan
Meningkatkan konten minimal biofuel di bensin
serta promosi investasi lingkungan
kondusif yang ramah lingkungan Mendorong penggunaan bioplastik

Mikro
70%
4 Hampir
Besar
Membangun platform
32%
pekerja Indonesia e-commerce secara
berada nasional,
Berdayakan 46% di perusahaan mengembangkan
UKM 5% mikro, kecil technology bank,
16% Menengah dan menengah serta fondasi bisnis
in 2015 bagi UMKM
Kecil
Sumber: A.T. Kearney 29
Making
Indonesia 4.0

10 Prioritas Nasional untuk “Making Indonesia 4.0” (3/5)

Indonesia kekurangan infrastruktur digital inti untuk

5 Membangun
Infrastruktur
Digital Nasional
implementasi “Making Indonesia 4.0”

Fiber 5G
Data
center/
• Mempercepat pembangunan broadband
Cloud
speed dan kemampuan digital nasional
• Menyelaraskan standar digital dengan
norma dunia 6 Menarik Minat
Investasi Asing
• Bekerja sama dengan
manufaktur besar
FDI di Indonesia dunia serta menawarkan
tidak berkembang insentif menarik
29 29 29 29 • Membuka dialog dengan
(Milyar USD) 25 pemerintah asing untuk
19 berkolaborasi tingkat
16 nasional
2010 2013 2016
Sumber: A.T. Kearney 30
Making
Indonesia 4.0

10 Prioritas Nasional untuk “Making Indonesia 4.0” (4/5)


Indonesia menghadapi
tantangan
pengembangan SDM
Keikutsertaan pendidikan
2.1x
8 Menerapkan Ekosistem
Inovasi
tersier Indonesia kekurangan pusat inovasi/litbang
78% 2.5x (R&D&D) pemerintah/swasta yang kuat
24% 37% 27%
11%

2015 1990 2000 2005 2015


Optimalisasi
Membuat
Peme- peraturan

7 Peningkatan
Kualitas SDM
satu cetak
biru pusat
inovasi
nasional
rintah
Membuat
Ekosistem
Industri

• Ubah kurikulum dengan adopsi


R&D&D
pendidikan STEAM (Science, Indonesia
Technology, Art, Engineering and
Univer- Akselerasi
Math) sitas
Memulai kolaborasi
• Kurikulum sekolah kejuruan pilot project lintas sektor
• Penggunaan bakat asing sementara
Sumber: A.T. Kearney 31
Making
Indonesia 4.0

10 Prioritas Nasional untuk “Making Indonesia 4.0” (5/5)

Barang produksi Indonesia

9 Insentif Investasi
Teknologi
Negara yang memberi insentif agresif
Produk lokal
kehilangan daya
Biaya tinggi (energi, tenaga
kerja, suku cadang tarif, dll)
Pasar Indonesia
saing Tidak ada tarif barang
untuk adopsi teknologi jadi
• €400Mn dana untuk sistem fisik siber, IoT,
dan penelitian teknologi 4IR lainnya Barang produksi ASEAN
• Subsidi pemerintah untuk industri pilihan,
khsnya. robotika dan and New Energy Vehicles Indonesia perlu Perlu
• Komitmen pemerintah sebesar SGD 3.2 menyederhanakan kebijakan koordinasi lebih
miliar selama 2016-2020 erat
dengan koordinasi antar
kementerian
Indonesia berkomitmen memberi
insentif di berbagai industri
Insentif
Subsidi
Dukungan
10 Harmonisasi
Peraturan &
Pajak pendanaan
• Tax holiday • Dukungan • Jaminan Kebijakan
• Pengurangan pemerintah • Suntikan Industri
pajak (Impor) • Hibah modal
Sumber: A.T. Kearney 32
Making
Indonesia 4.0

Lima Sektor Prioritas


untuk “Making
Indonesia 4.0” Food &
Beverage

Textile &
Chemical
Apparel

Electronics Automotive

33
Making
Indonesia 4.0

Sejalan dengan aspirasi Indonesia, pemilihan sektor prioritas


difokuskan pada pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh ekspor
Implikasi ekonomi Indonesia/lingkungan industri bagi Industri 4.0

Pernyataan Aspirasi Kriteria pemilihan sektor

Berdasarkan nilai
10 Besar kontribusi & potensi
ekonomi perdagangan
global Apa saja sektor industri Ukuran industri
utama untuk ekspor dan
Dua digit perdagangan? Potensi ekspor neto
ekspor
neto PDB

Bagaimana tingkat kesiapan


Kelayakan penerapan
…di & potensi gangguan industri
thn tersebut?
Berdasarkan kemudahan
2030 pelaksanaan

1. Pembentukan Modal Bruto


Sumber: World Bank; A.T. Kearney 34
Making
Indonesia 4.0

Kami mengevaluasi 16 industri menggunakan 10 kriteria utama


mencakup dampak ekonomi, daya tarik, serta kelayakan
Pendekatan Prioritisasi xx Keseluruhan beban kriteria

Lingkup Industri Bobot sektor


(n = 16)
Dampak & Daya Tarik (50%)
Obat-obatan Kelayakan (50%)
Logam dasar farmasi dan
tradisional Saat ini (25%) Potensi Net. Eks (25%)
Elektronik, Optik
Pengolahan 7
& Alat-alat 4
tembakau 1
Pilihan 8.3% Investasi yang 12.5%
Batubara, Tingkat dibutuhkan
Kimia minyak kilang & Kontribusi PDB pertumbuhan pasar [Capex sektoral ke penjualan]
Gas domestik
Barang-barang 8
Barang-barang 12.5%
logam karet & plastik 12.5%
Titik kontrol
2 Output multiplier [# perusahaan besar
5 8.3% berdasarkan nilai dalam sektor]
Transportasi Tingkat
peralatan- Perabotan kayu PDB 1 (pengaruh
Otomotif & Furnitur
sektor untuk mendo- pertumbuhan
ekspor Indonesia 9
Mesin-mesin & rong pertumbuhan Kecepatan penetrasi 12.5%
Produk-produk
peralatan
dari kertas
ekonomi) [Pangsa karyawan perusahaan
industri besar]
Tekstil, pakaian 6 8.3%
Makanan & 3 12.5%
minuman & barang- Input multiplier3 10
barang kulit Ukuran (sektor kritis untuk Kelebihan struktural 12.5%
Perhiasan & Perdagangan2 produksi lainnya) [mis. logistik, ketergantungan
barang Barang-barang utilitas; gesekan di bagian hulu]
berharga non-logam

1. Output multiplier mencakup dampak peningkatan permintaan akhir di satu sektor, pada hasil keluaran dari sektor lain (misalnya rasio menunjukkan nilai tambah di sektor lain, yang
dihasilkan dari USD tambahan di sektor khusus yang disukai)
2. Ekspor Bruto + Impor Bruto
3. Input multiplier mempertimbangkan kekritisan sektor untuk sektor lain - mis. Logam Dasar banyak masuk ke Barang Logam, Otomotif, Elektronika
Sumber: A.T. Kearney 35
Making
Indonesia 4.0

5 sektor dipilih untuk dijadikan sektor prioritas dalam program


“Making Indonesia 4.0”
Matriks Prioritisasi Sektor
Tinggi
5 Sektor Terbesar

Makanan &
Makanan & Minuman
Minuman

Kimiawi
Tekstil & Busana ~60%
PDB mnfkt
Elektronik, dll.
Tekstil, pakaian
Dampak ~65%
Barang LogamIndustri Mesin ekspor
Kayu & Furnitur Otomotif mnfkt.
Logam Dasar Barang Non-Logam Industri Alat
Industri Kertas Trans. (Oto) ~60%
pekerja
Farmasi Elektronik mnfkt.
Pengolahan Barang
Tembakau karet & plastik
Batubara, kilang
minyak & Gas Perhiasan &
Barang berharga Kimia
Rendah
Rendah Tinggi
Sumber: A.T. Kearney, World Bank, BPS
Kelayakan 36
Making
Indonesia 4.0

“Making Indonesia 4.0” harus memicu tindakan sigap untuk


mencapai aspirasi jangka panjang untuk setiap sektor prioritas
Aspirasi Sektor Prioritas
1
Makanan & Menjadi kekuatan besar di sector makanan &
Minuman minuman di ASEAN (ASEAN F&B powerhouse)
2
Tekstil &
Busana
Menjadi produsen functional clothing terkemuka

Otomotif Menjadi pemain terkemuka dalam ekspor ICE dan EV

4
Kimia Menjadi pemain terkemuka di industri biokimia

5
Mengembangkan kemampuan pelaku industri
Elektronik
domestik

Sumber: A.T. Kearney 37


Making
Indonesia 4.0

Sektor Makanan dan Minuman di 2030

Makanan & minuman di Indonesia – menuju ke 2030


Saat ini 2030
Produktivitas Sektor pertanian
sektor yang sangat
pertanian yang produktif dengan Dukungan yang
rendah hasil yang dapat kuat terhadap
diprediksi UMKM dalam
Food loss rantai nilai
makanan dan
minuman

Belum adanya
Makanan
konsistensi
untuk bahan
&
dasar makanan Minuman
Rantai supply
yang tidak 4.0
efisien Pusat
Makanan &
Minuman di
pasar regional
Produsen makanan
kemasan terkemuka
Sumber: A.T. Kearney 38
Making
Indonesia 4.0

Makanan dan Minuman 4.0: Peluang dan Tantangan

Kebutuhan Utama untuk menuju Makanan &


Peluang
Minuman 4.0
• Pasar domestik terbesar regional
– 30% total pasar ASEAN 1
Meningkatkan produktivitas agri-sektor hulu
• Sumber daya pertanian yang berlimpah dengan teknologi, contoh: yield mgmt (IoT/ Big data)
No. 5 di dunia dalam total volume produksi pertanian
• Konsumen beralih ke makanan kemasan Memberdayakan segmen UMKM didukung
2 dengan pendanaan & teknologi, contoh: technology
modern
bank, e-commerce
• Munculnya pemain yang bersaing secara
global
– mis. Indofood, Mayora, Wings 3
Meningkatkan efisiensi value chain contoh:
membangun jaringan cold-chain yang lebih baik

Tantangan Meningkatkan produksi makanan kemasan


4 modern dengan inovasi produk contoh : insentif untuk
• Industri sangat terfragmentasi Litbang
– 80% tenaga kerja di UMKM Membangun skala ekonomi dan meningkatkan
• Penerapan teknologi terbatas terutama bagi 5 kemampuan dengan memanfaatkan pasar
UMKM domestik yang besar
• Produktivitas yang rendah di hulu (pertanian) Mempercepat ekspor dan menjadi kekuatan no.1
• Infrastruktur cold-chain yang tidak optimal 6
industri makanan & minuman regional
• Meningkatnya masalah keamanan pangan
1. 2014
Sumber: A.T. Kearney 39
Making
Indonesia 4.0

Makanan dan Minuman 4.0: Teknologi Inti 4.0

Jenis teknologi yang dapat digunakan pada value chain Value chain Mfg
Makanan Minuman

Pertanian / Peternakan / Perikanan Pengolahan / Pengemasan Perdagangan / Ritel


Yield management Advanced factory automation Retail management
• Teknologi Braintree • Tomra’s advan- • Trax’s IoT Suite memungkinkan retailer
drones ced automated merespon secara cepat terhadap masalah
menggunakan sorting machines di outlet melalui kamera dan analytics
kamera untuk mampu
mendeteksi infeksi • Trax’s advanced
memeriksa setiap analytics membantu
hama dan sasaran Produk per jam, meningkatkan yield,
pestisida yang tepat retailer menganalisa
produktivitas dan konsistensi kualitas kinerja Pemasok dan
• SCR’s intelligence memungkinkan mereka
systems dapat • Google’s AI Tensor- meningkatkan penjualan
memonitor Flow digunakan untuk E-commerce
kesehatan ternak, memeriksa kualitas • Berkembangnya platform
reproduksi, dan kandungan e-commerce untuk
kebutuhan nutrisi makananan sebelum produk agri untuk
menggunakan diolah lebih lanjut menghilangkan
penanda dan ID Tenaga manusia tetap dibutuhkan ketergatungan pada
setelahnya middlemen

Logistik
Transportasi Penyimpanan – termasuk cold chain
• Maersk mengembangkan remote container management • Orbcomm menawarkan analytics yang
systems yang memberi data secara langsung lokasi, suhu, dan memungkinkan monitoring secara langsung dan
kondisi catu daya. Teknologi diharapkan dapat mengurangi mengelola asset dalam infrastruktur cold-chain
biaya, kemampuan operasional kendaraan dan mencegah sehingga kualitas dan kualitas operasional dapat
kerusakan produk terjaga
Sumber: Bloomberg, Forbes, Situs perusahaan, A.T. Kearney 40
Making
Indonesia 4.0

Teknologi dapat membantu penelusuran sumber makanan,


mencegah pemalsuan & meningkatkan akses UMKM ke pasar
Teknologi dalam sektor makanan dan minuman - Illustratif

Dari petani mana


saya harus memberi We are best carrot adalah spesialis
wortel? producer from dalam hal wortel dan
Australia mendapat banyak review
atau Organic Baby Rainbow positif
carrot carrot carrot

We are best
vegetable grower
from Australia
Tomato Cabbage Carrot
cherry

Pemain – Tingkat kemampuan untuk ditelusuri


High

Low
Sumber: BMI, Situs perusahaan, A.T. Kearney 41
Making
Indonesia 4.0

Seluruh segmen dalam value chain makanan & minuman harus


berusaha untuk mengadopsi teknologi industry 4.0 di 2030
Milestone adopsi teknologi
Value chain Mfg
Makanan Minuman
Pertanian / Peternakan /
Pengolahan / Pengemasan Perdagangan / Ritel
Perikanan
tradisional
Pemain

Current 2030 Current 2030 Current 2030


Industry 1.0 Industry 1.0 Industry 1.0 Industry 4.0

Industry 4.0
Current 2030
Industry 4.0 Industry 2.0 Industry 1.0 Industry 4.0

Current 2030 Current 2030


Industry 2.0 Industry 4.0 Industry 3.0 Industry 4.0
Current 2030
Industry 3.0
Pemain
modern

Industry4.0
Industry 4.0 Industry 4.0 Industry 3.0 Industry 4.0
Sumber: A.T. Kearney 42
Making
Indonesia 4.0

Makanan dan Minuman 4.0: Menjadi pemain terkemuka di


ASEAN
To be finalized by Task Force
Peta Jalan menuju Makanan & Minuman 4.0
Horizon 3 2030
Halal-
Horizon 2 2025 10-15 10-15 tahun
certified Horizon 1 2021 5-10 5-10 tahun Memperkuat kemampuan di pasar
Membangun kemampuan makanan global untuk makanan kemasan
3-5 3-5 tahun modern/lebih kompleks
minuman di regional ASEAN untuk
Mengurangi ketergantungan impor produk kemasan yang sederhana
Inisiatif produk pertanian dan bahan baku dan menengah
utama manufaktur

• Penguatan kemampuan secara • Memperkuat daya saing produk • Memperkuat kemampuan produksi
menyeluruh fokus pada perbaikan makanan kemasan sederhana – dan memperkuat posisi Indonesia di
Aktivitas sektor hulu pertanian menengah di pasar ASEAN pasar global untuk makanan kemasan
utama • Familiarisasi sektor pertanian & • Meningkatkan kemampuan teknis modern dan lebih kompleks
mamin dengan teknologi 4IR dan teknologi di sektor pertanian dan • Mengembangkan penggunaan
makanan minuman teknologi 4IR di sektor pertanian dan
mamin

Palm oil Rice Chicken Sugar Bottled Water Noodle


Fokus
produk Baby food Packaged pre- Food
prepared supplement
Processed Starch Cocoa Processed meals
fruits & RTD Tea Coffee
seafood
veggies
Halal-certified
Menjadi eksportir makanan
Meningkatkan ekspor neto Menjadi pemain makanan dan
Aspirasi sebesar 50% minuman terkemuka di ASEAN
minuman global nomor 5 di
dunia
Sumber: A.T. Kearney 43
Making
Indonesia 4.0

Sektor Tekstil dan Busana di 2030

Tekstil dan Busana di Indonesia – menuju ke 2030


Saat ini 2030
Ketergantungan
tinggi terhadap Membangun kemampuan
barang mentah pengolahan hulu dengan
impor Biaya produksi materi berkualitas tinggi
yang tinggi,
kurang
kompetitif

Fokus kepada
Tekstil &
produksi
massal & pasar
Busana
kelas bawah Industri padat 4.0
karya
berkemampuan Peningkatan Memperbaiki
rendah produksi untuk daya saing biaya
memenuhi melalui
permintaan pasar peningkatan
domestik & produktivitas &
ekspor zonasi industri
yang efektif

Pemimpin dalam produksi & inovasi


functional clothing
Sumber: A.T. Kearney 44
Making
Indonesia 4.0

Tekstil dan Busana 4.0: Peluang dan Tantangan

Peluang Kebutuhan Utama untuk Tekstil 4.0

• Pertumbuhan konsumsi terbesar di ASEAN


– Proyeksi 9% ’16-’25 CAGR 1 Meningkatkan kemampuan hulu lokal i.e. serat
kimia/kain yang murah dan berkualitas tinggi
• Meningkatnya peluang pada functional
clothing, contoh: Pakaian olahraga, pakaian dalam
fungsional Meningkatkan produktivitas dengan menerapkan
2 teknologi misalnya sistem pengatur limbah berbasis sensor,
• Pasar domestik terbesar di regional
digital proto typing
Tantangan

3
Membangun desain pakaian fungsional dan
• Terbatasnya akses ke input bahan mentah & kemampuan produksi
ketergantungan tinggi pada impor
• Meningkatnya biaya tenaga kerja & biaya Mendirikan kelompok industri tekstil dan
energi yang lebih tinggi antar wilayah 4 mempromosikan integrasi vertikal misalnya
– Biaya listrik $10sen/kwh di Indonesia vs $7sen/kwh di perbaikan zonasi industri
Vietnam dan $6sen/kwh Bangladesh
– Upah tenaga kerja diperkirakan meningkat +9,5%/th
hingga 2020 5
Memperkuat dan memanfaatkan skala ekonomi
agar dapat bersaing di pasar global
• Pemain domestik terfragmentasi dengan
banyaknya UMKM
Sumber: A.T. Kearney 45
Making
Indonesia 4.0

Tekstil dan Busana 4.0: Teknologi Inti

Potensi teknologi – berdasarkan rantai nilai Rantai nilai produksi tekstil/pakaian


Bahan baku pengolahan Pengolahan barang Jaringan ekspor, ritel &
Produksi (hilir)
(hulu) menengah (di tengah) pemasaran
Pengolahan multi bahan, Pemprototipean cepat dari RFID untuk logistik
Serat Generasi Berikutnya sensor-driven desain tersuai

Bahan baru AI IoT AI IoT Dpt Dipakai IoT


• Sintetis laba-laba sutra - • Sistem kontrol limbah
Menciptakan kualitas terba- berbasis sensor -
ik dari serat alami & buatan: memungkinkan pembukaan,
lembut, ringan, tahan lama, pembersihan & campuran
dll serat secara efisien, & • Tag RFID yang melekat
• Tekstil digital - waktu lebih memungkinkan transparansi
• Serat nano - penghalang meminimalisasi hilangnya
singkat ke pasar dengan dalam rantai pasokan,
efektif terhadap penetrasi serat serta kerusakan serat
kualitas lebih tinggi, desain kemulusan dan ketertelusuran
mikro-organisme, banyak yang tidak diinginkan.
digunakan di sektor lebih unik pada skala dan ulang artikel khusus di seluruh
kesehatan mis: baju bedah, variasi kaya warna yang rantai pasokan, peningkatan
• Sistem Pengisaran
gorden, dll. lebih besar dalam siklus akurasi inventori, serta
Terpadu - Mempertahankan
perputaran yang lebih cepat. peningkatan perlindungan
• Serat bio - serat ramah pakaian yang tajam secara
lingkungan, sepenuhnya permanen, mempertahan- anti-pencurian
biodegradable & alami, mis. kan jaring kartu berkualitas
Serat pisang untuk tas tinggi, memperpanjang umur
tangan, kain kasual, dll. kabel kartu

Sumber: Penelitian tekstil-dunia, Desktop, wawancara ahli, A.T. Kearney 46


Making
Indonesia 4.0

Tekstil dan Busana 4.0: Menjadi pemimpin dalam produksi


pakaian “fungsional”
Peta Jalan menuju Tekstil dan Busana 4.0 To be finalized by Task Force

Horizon 2 2025 Horizon 3 2030


Horizon 1 2021 10-15 10-15 tahun
5-10 5-10 tahun
3-5 3-5 tahun
Membangun rangkaian industry Menanamkan posisi sebagai pusat
Meningkatkan kemampuan produksi tekstil/busana di nusantara &
manufaktur pakaian fungsional
Inisiatif serat sintesis dan membangun menghubungkan mereka melalui dengan membina ekosistem sembari
ekosistem hulu untuk functional memanfaatkan teknologi
utama teknologi industri 4.0
clothing
• Investasi di produksi serat sintesis, • Mengalihkan fokus manufaktur • Meningkatkan produktivitas
pemintalan, & penenunan garmen dari CMT (cut, make, & trim) dengan memperbaiki Litbang dan
ke FOB (free on board) pelatihan
Key • Bekerja sama dengan pemain utama • Menjalin hubungan dengan kelompok
serat untuk memproduksi serat • Pengalihan dari pasar bawah ke
pengonsumsi tekstil terbesar di
activities berkualitas tinggi kualitas yang lebih tinggi secara
dunia
bertahap
• Mempromosikan kesadaran global
• Proses sourcing yang lebih efisien sebagai pusat manufaktur functional
melalui integrasi vertikal clothing
Synthetic fibers Technical multi-fabric
textiles Functional clothing
Aktivitas High quality yarn Leather fabrics Smart footwear
utama
Specialty & industrial
fabrics Apparel with embedded technology

Mengurangi impor bahan baku, Memenuhi sebagian besar Top 5 manufaktur tekstil di
menjadi sumber utama produksi permintaan lokal, pertumbuhan dunia, spesialisasi di functional
serat sintesis di region ekspor sebesar 15% tiap tahun clothing
Sumber: A.T. Kearney 47
Making
Indonesia 4.0

Sektor Otomotif di 2030

Sektor Otomotif – menuju ke 2030


Saat ini 2030
Ketergantungan tinggi pada Produksi sendiri
impor bahan baku bahan baku dan
komponen utama

Fokus lokal pada komponen


dengan nilai tambah rendah

Otomotif
4.0
Optimisasi
Pemimpin
Biaya logistik yang tinggi produktivitas
regional dalam
sepanjang
produksi EV
rantai nilai

Pemimpin pusat
ekspor otomotif
Sumber: A.T. Kearney 48
Making
Indonesia 4.0

Otomotif 4.0: Peluang dan Tantangan

Peluang Kebutuhan Utama untuk Industri Otomotif 4.0

• Pergeseran 2W ke 4W
1 Meningkatkan produksi bahan baku dan komponen kunci,
contoh: baja, plastik, komponen elektronik
• Produksi terbesar ke-2 di ASEAN production
• Pasar domestik terbesar secara regional
2 Improve productivity by adopting technology mis. Zona
• Pergeseran industri ke EV industri

Membangun ekosistem industri dan rantai pasokan


Tantangan 3 melalui implementasi automotive industry belt mis. Utara
Jawa
• Tergantung dengan impor bahan baku dan
komponen inti 4 Sejajar dengan OEM dunia untuk meningkatkan ekspor
– 90% baja dan 50% plastik masih impor jenis kendaraan tertentu mis: MPV, SUV, Trucks
– Manufaktur besar masih bermain di low-value add
components Membangun kemampuan R&D&D2 melalui percepatan
5
• Biaya tenaga kerja tinggi dan produktivitas investasi dan transfer teknologi
rendah
– Kenaikan biaya tenaga kerja > penjualan: 21% di Mulai membangun kemampuan produksi EV dengan e-
6
Cikarang-Karawang vs. 1-3 % di Bangkok tahun 2012- motorcycle contoh: produksi baterai kecil
2017
– Produktivitas tenaga kerja : $25.6ribu per tenaga kerja Membangun ekosistem industri EV contoh: produksi
7
vs. $30.6ribu di Thailand tahun 2016) baterai mobil, perakitan EV, dan charging station
• Biaya logistik dan dwell time lebih tinggi
Sumber: A.T. Kearney 49
Making
Indonesia 4.0

Otomotif 4.0: Teknologi Inti

Kemampuan teknologi terdepan sepanjang rantai nilai


Rantai nilai manufaktur otomotif
Manufaktur Suku
Bahan mentah Manufaktur Perakitan Penjualan / Ritel
Cadang
Peningkatan produksi Optimalisasi proses Advanced factory Retail and aftermarket
manufaktur automation innovation
• Utilisasi pabrik secara • IoT sensors • Robot terhubung • Digital showroom
optimal dengan otomatisasi membantu sense melalui jaringan yang
mesin (turbin, kompresor, dll.), dan self diagnose cloud dan dapat memungkinkan
mengenali dan memprediksi issues mendeteksi potensi calon pembeli
potensi kerusakan alat kerusakan, untuk membuat
dibantu dengan AI dan IoT sehingga dapat
ditangani dengan
konfigurasi mobil
• Manajemen biaya bahan cepat yang diiningikan
bakar menggunkan IoT untuk • 3D printing • Exo-skeletons • Meningkatkan safety di semua
memonitor temperatur matrial, suku cadang untuk bisnis dengan predictive
pH, dll., secara dekat. skala besar memperbaiki analytics dalam melakukan
• Manajemen risiko keamanan untuk membuat postur dan maintenance
dengan advanced robotics suku cadang mencegah
untuk area berbahaya dan ringan dan cidera dalam
dapat di melakukan
tidak terjangkau.
customized assembly tasks

Logistik
Peningkatan Produksi
• Platform manufaktur dan logistik terpadu; pekerja dapat melacak waktu produksi logistik secara cepat, optimalisasi
palletization dan mengurangi waktu pengerjaan manual, sehingga produktivitas pabrik (shop-floor) meningkat.

Sumber: Desk Research, Company’s websites, A.T. Kearney 50


Making
Indonesia 4.0

Otomotif 4.0: Menjadi pemimpin ekspor di ICE dan EV

Peta Jalan menuju Otomotif 4.0 To be finalized by Task Force

Horizon 2 2025
Horizon 3 2030
Horizon 1 2021 10-15 10-15 tahun
5-10 5-10 tahun
3-5 3-5 tahun
Memulai produksi lokal
Memulai produksi lokal sepeda kendaraan listrik
Inisiatif Memperkuat produksi lokal motor listrik
utama kendaraan ICE1
• Meningkatkan kemampuan • Membuat rencana penghapusan • Membuat rencana penghapusan
produksi bahan baku (baja, kimia, motor berbahan bakar yang jelas; kendaraan berbahan bakar yang
dll) membangun infrastruktur & jelas; membangun infrastruktur &
• Meningkatkan produktivitas memberi insentif untuk adopsi memberi insentif untuk adopsi EV
kendaraan ICE dengan sepeda motor listrik • Mendukung perbaikan produksi
Aktivitas mengadopsi teknologi • Mendirikan pusat Litbang untuk komponen EV secara
utama • Memperkuat kemampuan komponen EV, terutama baterai, & berkelanjutan
manufaktur komponen local melakukan prototyping dengan • Membangun kemampuan
dengan mempercepat FDI dan cepat produksi domestik 4W EV di
transfer teknologi • Membangun kemampuan sepanjang rantai nilai
produksi domestik sepeda motor
listrik di sepanjang rantai nilai

Fokus ICE Vehicles Electric Vehicles


produk
Mempercepat ekspor, dimulai dari Memulai ekspor 2W sepeda motor Memulai ekspor 4W EV ke negara
MPV & LCGC listrik ke negara berkembang berkembang
1. Internal Combustion Engine
Sumber: A.T. Kearney 51
Making
Indonesia 4.0

Sektor Kimia di 2030

Kimia di Indonesia – menuju ke 2030


Saat ini 2030
Peningkatan produksi
Pabrik tidak
dasar kimia
efisien

Adopsi teknologi
yang rendah

Kimia
Kurangnya
kemampuan
Litbang
4.0
Pemimpin Optimisasi
Supply chain manufaktur pengunaan
yang mendasar biokimia bahan baku
dan zonasi
industri

Perbaikan produktivitas
Sumber: A.T. Kearney
disepanjang rantai nilai 52
Making
Indonesia 4.0

Kimia 4.0: Peluang dan Tantangan

Peluang Kebutuhan Utama untuk Industri kimia 4.0

• Sumber daya pertanian yang melimpah


– Volume produksi terbanyak ke-5 di dunia 1 Meningkatkan kapasitas petrokimia domestik dan
mengurangi ketergantungan impor
• Pasar domestik terbesar secara regional

Optimalkan zona industri untuk mengangkat


Tantangan 2
sumber daya migas domestik
• Kap. Produksi terbatas, termasuk bahan
kimia dasar . Cth: ~50% ethylene dan polyethylene Memperbaiki produktivitas dengan adopsi
masih impor 3
teknologi 4IR contoh. Asset mgmt., Resource mgmt.
• Sangat tergantung dengan impor bahan
baku contoh. >90% Naftha diimpor, penggunaan
domestik gas alam terbatas untuk petrokimia
4 Mempercepat aktifitas litbang untuk membangun
• Zona industri pabrik kimia belum optimal kemampuan biofuel & bioplastik generasi baru
cth. Persediaan energi domestik vs. Pabrik kimia
• Terbatasnya insinyur dan kemampuan
litbang; industri masih di tahap industri kimia 5 Membangun posisi ekspor untuk meningkatkan
mendasar skala ekonomi

Sumber: A.T. Kearney 53


Making
Indonesia 4.0

Kimia 4.0: Teknologi Inti

Adopsi teknologi industri kimia

Manajemen Aset Manajemen Sumber Daya Manajemen Tenaga Kerja


Optimalisasi utilisasi Pabrik Manajemen biaya energi Manajemen risiko keamanan
• IoT  Data alur • IoT  Monitor • Advanced robotics 
peralatan utama aliran, PH, suhu, Membuat tenaga kerja dapat
dikumpulkan tekanan, memeriksa peralatan/lokasi
(turbin, kompresor, kekentalan, dll. pabrik yang berbahaya cth.
extruders, etc.) Jalur kabel, pipa tanki kimia
Employee training
• AI  Menebak dan mendiagnosa potensi • AI  Melakukan data mining & modelling
kerusakan; membuat jadwal perawatan agar membuat nilai target yang dinamis • VR wearables 
dan rencana pengadaan komponen untuk untuk konsumsi energi pabrik dan Melatih pekerja secara
meminimalisir biaya perawatan & membuat strategi manajemen energi virtual untuk
memaksimalkan output yang paling efisien demi menghemat menangani berbagai
biaya situasi di lokasi

Manajemen Supply chain


Prakiraan permintaan Pengembangan Produk Visibiltas pengiriman produk
• AI  membuat model • 3D Printing  • IoT  Monitor kondisi
prakiraan berdasarkan Perusahaan dapat bahan kimia selama
faktor penimbang cth: membuat, secara pengiriman & mengirim
dampak musim, data digital, desain peringatan bahan tersebut
makro secara reaktor yang dapat menjadi tidak optimal
domestik/regional, dikontrol/diarahkan • AI  Melakukan proses troubleshooting
perubahan regulasi & ke reaksi kimia selama pengiriman
strategi perusahaan tertentu
Sumber: IBM, Libelium, Deloitte, A.T. Kearney 54
Making
Indonesia 4.0

Kimia 4.0: Mengembangkan manufaktur biokimia terkemuka

Peta Jalan menuju Kimia 4.0 To be finalized by Task Force

Horizon 3 By 2030
Horizon 1
Horizon 2 By 2025
By 2021 10-15 10-15 tahun
5-10 5-10 tahun
3-5 3-5 tahun
Meningkatkan produksi barang Menetapkan posisi sebagai pusat
Inisiatif kimia perantara bahan kimia khusus bio
Mengurangi ketergantungan
utama terkemuka
terhadap impor bahan kimia dasar
• Meningkatkan kapasitas produksi • Terus menguatkan produksi serat • Mengoptimalkan hasil biokimia
pemurnian nafta & bahan kimia sintesis untuk memenuhi permintaan
dasar (contoh: olefin & aromatik), • Memperkuat produksi produk domestik & ekspor
untuk menyalurkan industri hilir perantara (contoh: resin sintesis) • Konsolidasi industri kimia
Aktivitas • Meningkatkan efisiensi pabrik yang digunakan sebagai bahan baku spesialis untuk bersaing dengan
utama menggunakan teknologi 4IR di industri lain perusahaan multinasional
• Memperkuat produksi serat sintesis • Meningkatkan kemampuan untuk
untuk mendukung industri tekstil mengubah biomassa menjadi
biokimia dasar

Ethylene Synthetic fiber Bioplastic


Fokus
Propylene Synthetic resin Biofuel
produk
Butadiene Synthetic rubber Biocomposite

Meningkatkan kontribusi
Mengurangi impor bahan penjualan resin & serat sintesis
Menjadi produsen biofuel &
kimia dasar (<30%) sebesar >1.5x1
bioplastic top 5 di dunia
1. Dari total kontribusi resin & fiber sintesis terhadap total penjualan kimia sebesar ~5% di tahun 2016
Sumber: A.T. Kearney 55
Making
Indonesia 4.0

Sektor Elektronik di 2030

Elektronik di Indonesia – Hari ini menuju ke 2030


Saat ini 2030
Menarik manufaktur
Kemampuan terkemuka di dunia
pengembang-
an produk
yang terbatas

Kurangnya
tenaga
terampil
Electronics
Aktivitas
dengan nilai 4.0
tambah rendah
(contoh:
assembly) Juara-juara
domestik yang Kemampuan
sangat berbakat manufaktur
Ketergantung-
an tinggi
terdepan
terhadap impor selain
komponen assembly

Tenaga kerja yang sangat


terampil & inovatif
Sumber: A.T. Kearney 56
Making
Indonesia 4.0

Elektronik 4.0: Peluang dan Tantangan

Peluang Kebutuhan Utama untuk Industri Elektronik 4.0

• Pasar domestik terbesar secara regional Menarik manufaktur top kelas dunia contoh:
1 mentargetkan 100 manufaktur terbaik dan menawarkan
• Produk elektronik adalah kunci dalam lintas
insentif yang menarik
sektor dibawah era 4IR

Tantangan Lebih dari sekedar assembly, membangun


2 kemampuan manufaktur kelas atas contoh:
komponen ponsel, baterai untuk EV
• Sangat tergantung terhadap impor
komponen utama, contoh komponen elektronik,
semikonduktor, advanced ceramics Mengembangkan tenaga kerja terampil contoh:
3
• Kemampuan desain/pengembangan rendah peningkatan sekolah juruan, program foreign talent mobility
– Jumlah insinyur dan investasi litbang terbatas
• Biaya tenaga kerja semakin tinggi Peningkatan kemampuan inovasi lokal contoh:
4
• Biaya logistik dan utilitas tinggi bangun litbang nasional, pemberian insentif litbang swasta
• Tidak adanya domestic champion; pelaku
industri lokal yang terbagi-bagi dan tidak efisien
Mengembangkan andalan lokal contoh: dukunagn
• Struktur tarif tidak seimbang; bea komponen 5 ekspor via kesepakatan dagang, transfer teknologi dari
yang tinggi namun tidak ada tarif untuk barang jadi dari perusahaan kelas dunia
negara ASEAN
Sumber: A.T. Kearney 57
Making
Indonesia 4.0

Elektronik 4.0: Teknologi Inti

Kemampuan teknologi terdepan sepanjang rantai nilai Rantai nilai manufaktur otomotif

Litbang / Desain Manufaktur dan perakitan komponen Penjualan / Ritel

Pabrik pintar terpadu untuk manufaktur PLCs, dimana Smart stores


lebih dari 75% dari rantai nilai berjalan tanpa campur terhubung dengan
tangan manusia; produk dan mesin berkomunikasi via Sensor IoT untuk
barcode dan data produksi realtime dapat diakses di menyediakan
seluruh rantai nilai analisa konsumen

Percetakan Aditif Advanced


Rethink Predictive
untuk multilayer PCB, robots untuk
Robotics, analytics dan AI
mengurangi waktu perakiran
membuat solutions to memperkirakan
desain dan siklus tes elektronik rumit
cobot Sawyer, permintaan untuk manajemen
Simulasi integrasi untuk machine inventori yang lebih baik
pengembangan tending, circuit board
produk & produksi testing,serta pekerjaan presisi
prototype cepat yang berulang

Logistik

Solusi IoT untuk industri termasuk lacak Augmented reality & drones mendukung
jarak jauh, monitor, dan kontrol armada manajemen gudang – dengan analisa big
transportasi data pada proses/kategori yang sederhana

Sumber: A.T. Kearney 58


Making
Indonesia 4.0

Elektronik 4.0: Mengembangkan para pemain lokal andalan


yang berkemampuan tinggi
To be finalized by the Electronics Task Force
Jalur menuju Elektronik 4.0
Horizon 3 By 2030
Horizon 2 By 2025 10-15 10-15 tahun
Horizon 1 By 2021 5-10 5-10 tahun
Membangun kemampuan lokal
3-5 3-5 tahun Mendorong kemampuan untuk manufaktur komponen
manufaktur skala besar di area lanjutan
Mengundang investasi luar yang difokuskan & kemampuan
Inisiatif negeri secara agresif sembari software
utama mendorong transfer keterampilan
& investasi
• Mengundang pemain elektronik • Memfasilitasi program • Membina pemipin manufaktur
Aktivitas terkemuka untuk beinvestasi pengembangan produsen produk elektronik lokal
utama • Mempercepat pengembangan fokus (contoh: komponen IoT)
keterampilan bagi para insinyur • Memanfaatkan teknologi &
investasi asing
Smart Smartphone Comp. Smartphone
phone (Screen, Charger) Components (Camera) Semiconductor
Fokus produk

manufacturing
4IR (Foundry)
prod. IoT Manufacturing

Batteries for Electric Batteries for industrial


EV Vehicles usage, homes

Mengurangi rasio impor untuk Memilik daya saing regional (top Mengembangkan para
komponen elektronik sebesar 3 di ASEAN) untuk produk fokus pengusaha nasional (2 – 3) yang
20% utama (contoh: IoT, EV) bernilai puluhan milyar
Sumber: A.T. Kearney 59
Making
Indonesia 4.0

Manfaat Ekonomi dan


Penciptaan Lapangan
Kerja

60
Making
Indonesia 4.0

“Making Indonesia 4.0” akan meningkatkan PDB, kontribusi


manufaktur, & lapangan kerja secara signifikan
Perkiraan manfaat1 implementasi Industri 4.0

Penciptaan lapangan Kontribusi PDB dari


Pertumbuhan PDB
kerja manufaktur

+1-2% p.a. >10 juta3 >25% kontribusi


pertambahan tambahan lapangan
pertumbuhan PDB pekerjaan dari manufaktur
dari baseline 2018- kondisi saat ini terhadap PDB pada
2030 per tahunnya pada 2030 2030

•Peningkatan •Peningkatan lapangan •Peningkatan kontribusi


pertumbuhan PDB riil dari kerja dari +20 juta menjadi manufaktur terhadap
~5%2 menjadi 6~7% YoY >30 juta lapangan kerja PDB dari ~16%2 menjadi
antara 2018-2030 pada tahun 2030 ~25% pada tahun 2030

1. Manfaat dihitung berdasarkan perbedaan antara scenario aspirasional dengan scenario baseline dengan menggunakan model ekonomi A.T. Kearney
2. Dalam skenario baseline, petumbuhan PDB ril diperkirakan ~5% YoY antara 2018-2030, jumlah lapangan kerja tambahan di tahun 2030 diperkirakan sekitar 22 juta dengan manufaktur
berkontribusi sekitar ~16% dari total PDB Indonesia pada 2030
3. Implementasi Industri 4.0 diharapkan mampu menyerap 30~50% dari 30 juta angkatan kerja pada tahun 2030; Tenaga kerja lainnya telah diserap dalam scenario baseline
Sumber: World Bank, Badan Pusat Statistik Indonesia, Kementrian Perindustrian, A.T. Kearney 61
Making
Indonesia 4.0

Pertumbuhan PDB: Indonesia dapat meningkatkan


pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2% p.a. di periode 2018-2030
Proyeksi PDB riil Indonesia di periode 2018-20301
(IDR Ribu Tn) CAGR
(‘18-30)
23.0

Aspirasi ~7%
5.0
19.2
2.2 Dipercepat ~6%

4.9
2.4
13.2
1.3 18.0 Baseline ~5%
0.8

10.0 14.3
11.9
Making
Indonesia
2018 2022 2026 2030 4.0

1. PDB riil menggunakan tahun 2010 sebagai dasar, dengan asumsi inflasi sebesar 4-6%
Sumber: Pusat Badan Statistik, Kementrian Perindustrian, A.T. Kearney 62
Making
Indonesia 4.0

Penciptaan Lapangan Kerja: “Making Indonesia 4.0” dapat


menambah 7-19 juta lapangan kerja pada tahun 2030
Estimasi tenaga kerja Indonesia Pertambahan tenaga kerja di luar sektor manufaktur1
(Juta pekerja) Pertambahan tenaga kerja di sektor manufaktur

Making
Indonesia 163
4.0 9
6 2
1
25 32 44

Melalui “Making Indonesia 4.0”, total lapangan


kerja yang diciptakan di 2030 adalah sebesar
32-44 juta, memungkinkan Indonesia untuk
119 sepenuhnya menyerap tambahan 30 juta
angkatan kerja

2016 2030 Tambahan 2030 Tambahan 2030 Tambahan 2030


Baseline yang Dipercepat Aspirasional

1. Dikarenakan efek multiplier output, pertumbuhan ekspor neto di sektor manufaktur juga menyebabkan penambahan PDB di sektor lainnya, sehingga menghasilkan lapangan pekerjaan
di sektor-sector tersebut
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia, Kementrian Perindustrian, A.T. Kearney 63
Making
Indonesia 4.0

Kontribusi Manufaktur ke PDB: Kontribusi sektor Manufaktur


dapat bertambah sebanyak 5-10%
Prediksi kontribusi setiap sektor terhadap PDB Indonesia
(% proporsi setiap sektor; Total dalam IDR Ribu Tn) Making
Indonesia
4.0
Total = 12.0 53.4 60.1 68.5

Pertambangan 17.7 17.6 17.8


& Pertanian 22.7

61.0 56.2
Jasa 56.0 66.0

+5pp +10pp
Manufaktur 21.3 21.4 26.1
16.3

2016 2030 2030 Dipercepat 2030 Aspirasi


Baseline
64
Sumber: World Bank, UN Data, EIU, Badan Pusat Statistik Indonesia, A.T. Kearney
Making
Indonesia 4.0

Rencana
Implementasi

65
Making
Indonesia 4.0

Kerja sama lintas Kementerian adalah kunci utama


keberhasilan implementasi “Making Indonesia 4.0”
Model fungsional Komite Industri Nasional (KINAS)

Pembelajaran dari Presiden Republik Indonesia


kesuksesan Korea Selatan
Making
Menteri Koordinator Bidang
Ekonomi Indonesia
Rencana ekonomi 5 tahunan Korea 4.0
Selatan
KINAS Menteri Perindustrian
1967-
1971
1977-
1981
… sebagai Ketua KINAS Sekretariat KINAS dan
Prog Mgmt Office
1962-
1966
1972-
1967
… 2017-
2021

Presiden Mendag Men ESDM Menkeu Menristek Menpupera Menkop Menhub Mendagri
Korsel Dikti UKM

Komite Presiden untuk 4IR

Industry
Tenaga ahli
atau mitra
20 ahli dari 5 Pejabat Mentan Ka Ka BKPM Menaker Menkominfo Men KKP Menkes Perwakilan kelemba-
swasta pemerintah Bappenas bisnis gaan
(KADIN/API
NDO)

Working Groups
Kelompok Kerja

Sumber: A.T. Kearney 66


Making
Indonesia 4.0

Komite Industri Nasional (KINAS) akan menjadi titik pusat


implementasi “Making Indonesia 4.0”
Tata kelola implementasi “Making Indonesia 4.0”

Presiden

KINAS

5 Sektor
10 Prioritas Nasional Prioritas
Makanan & Tekstil &
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Minuman Busana
Otomotif Elektronik Kimia

Anggota
K/L

Industri1 Pendidikan1

1. Ilustrasi, tidak menyeluruh dan tidak merepresentasikan pemangku kepentingan yang nantinya akan duduk di KINAS
Sumber: A.T. Kearney 67
Making
Indonesia 4.0

Setiap Kementerian memiliki peran yang penting (1/2)


Peran setiap Kementerian pada “Making Indonesia 4.0” # Prioritas nasional terkait

• Dukungan finansial untuk seluruh Kementerian • Penyelarasan peta jalan dan


aktivitas Making Indonesia 4.0 mis. Pekerjaan proyek infrastruktur dengan
Kementerian Insentif Litbang, CAPEX, 9 10 Umum dan Making Indonesia 4.0 (terintegrasi 2
Keuangan pengembangan SDM, FDI, tarif + All the Perumahan dengan peta jalan zona industri
impor, pendanaan untuk UMKM initiative Rakyat nasional)
budgeting
• Penyelarasan peta jalan
• Peluncuran Making Indonesia infrastruktur transportasi dengan
Kementrian
4.0 Perhubungan
Making Indonesia 4.0 (terintegrasi 2
• Detail peta jalan 5 Sektor All the
dengan peta jalan zona industri
Kementerian national nasional)
Perindustrian Prioritas Making Indonesia 4.0
priorities
• Menetapkan kebutuhan industri • Penyelarasan peta jalan energi
untuk seluruh prioritas nasional Kementerian nasional dengan peta jalan zona
Energi dan industri nasional 1 2
Sumber Daya • Program peningkatan 3
Mineral produktivitas untuk energi dan
• Penyelarasan kesepakatan sumber daya
Kementerian
Perdagangan perdagangan dengan peta jalan 6 10 • Program peningkatan
Making Indonesia 4.0 Kementerian
produktivitas sektor kelautan dan
Kelautan dan
perikanan – sebagai bagian inisiatif 1 3
Perikanan
industri hulu
• Penyelarasan kebijakan antar • Program peningkatan
Kementerian K/L dalam lingkup 2 10 produktivitas sektor pertanian,
Koordinator koordinasinya
Bidang
+ other Kementerian hortikultura, tanaman pangan, 1 3
• Melakukan Debottleneck cross-
Pertanian peternakan, dan perkebunan –
Ekonomi ministry
koordinasi dengan kementerian coordination sebagai bagian inisiatif industri
koordinasi lainnya hulu
Sumber: A.T. Kearney 68
Making
Indonesia 4.0

Setiap Kementerian memiliki peran yang penting (2/2)


Peran setiap K/L pada “Making Indonesia 4.0” # Related National priorities

• Penyelarasan peta jalan • Penyelarasan kurikulum


infrastruktur digital dan kejuruan misalnya untuk BLK
Kementerian teknologi dengan Making 5 Kementerian • Program upskilling-reskilling
Komunikasi Indonesia 4.0 dan menjadi Tenaga Kerja tenaga kerja sesuai dengan 7
dan Informasi pelaksana atas program tersebut keterampilan dan kompetensi
Making Indonesia 4.0

• Penyelarasan RJPMN dan RKP


dengan inisiatif Making Indonesia • Penyelarasan program
Badan pemberdayaan UMKM, contoh:
4.0 All the Kementerian
Perencanaan
Pembangunan • Penyelarasan Visi Indonesia planning
coordination
Koperasi dan Pendanaan teknologi, e-commerce 4
2045 dengan Making Indonesia 4.0 UMKM untuk UMKM
Nasional

Badan • FDI roadshows kepada investor


Koordinasi pilihan (100 manufaktur global Kementerian • Penyelarasan standar dan
Penanaman terkemuka) 6 Kesehatan 1
kebutuhan bahan baku obat
Modal

• Redesain kurikulum Pendidikan • Harmonisasi kebijakan dan


Kementerian nasional untuk mendukung komunikasi dengan pemerintah All the
provincial &
Riset dan Making Indonesia 4.0 (misalnya Kementerian daerah di seluruh Indonesia untuk local
Pendidikan Pendidikan STEAM) 7 8 Dalam Negeri memastikan inisiatif Making government
Tinggi • Penyelarasan program riset Indonesia 4.0 diterjemahkan related issue
coordination
nasional secara benar ke dalam peraturan
pemerintah daerah
Sumber: A.T. Kearney 69
Making
Indonesia 4.0

Tahun 2018 adalah tahun yang penting untuk implementasi


“Making Indonesia 4.0”
Peta jalan implementasi “Making Indonesia 4.0”
Review tiap semester
2018 1H 2018 2H 2019-2021 2022-2025 2026-2030

KINAS melakukan
• Evaluasi berkala untuk inisiatif
Pembentukan endorsemen desain
yang diimplementasikan
Keseluruhan KINAS dan inisiatif, melakukan
• Pengambilan keputusan lintas
kelompok kerja sosialisasi dan peta
sektoral
jalan secara detil

Menunjuk anggota
10 Prioritas kelompok kerja 10 Desain detail inisiatif
prioritas nasional misalnya Desain program, • Implementasi penuh
Nasional dan menentukan insentif, masterplan, dsb.
tata kerjanya

Menunjuk anggota
Detail peta jalan industri
Inisiatif 5 kelompok kerja
dan menentukan
sektoral dan • Implementasi penuh
Sektor Prioritas menentukan tata program untuk setiap
sektor
kelolanya

Sumber: A.T. Kearney 70


Making
Indonesia 4.0

“Making Indonesia 4.0” harus dimulai dengan langkah-langkah


segera dengan aspirasi jangka panjang untuk sektor prioritas
Aspirasi sektor fokus Langkah aksi segera (quick wins )
1
Menuju kekuatan Insentif Insentif RD&D dan CAPEX
Makanan & untuk investasi teknologi
besar makanan teknologi
Minuman (sudah in-progress)
minuman di ASEAN
2
Menuju produsen Investor Roadshow;
Tekstil & menyasar manufaktur global
functional clothing Roadshow
Busana terkemuka
terkemuka
3
Menjadi pemain Pendidikan Up-skilling & Re-skilling
Otomotif terkemuka dalam Vokasi untuk seluruh sektor (memilih 1-2
sector sebagai pilot)
ekspor ICE dan EV
4 Pembentukan pusat
Menjadi pemain Pusat inovasi
Kimia terkemuka di inovasi untuk teknologi 4.0. show case,
percobaan peningkatan produktivitas
industri biokimia (termasuk pelatihan)
5
Mengembangkan Dukungan
E-commerce dan
Elektronik kemampuan pelaku pendanaan teknologi untuk
untuk UMKM
industri domestik UMKM

Source: A.T. Kearney 71


Making
Indonesia 4.0

Kantor KINAS Office Charter


Misi Garis Besar Organisasi
• Memastikan pencapaian aspirasi “Making Indonesia 4.0” • 1 Sekretaris KINAS
• Memantau kemajuan semua program “Making Indonesia 4.0” • 5-10 staff
• Mendukung keputusan kunci untuk program lintas sektor / menteri

Inisiatif kunci (MOI harus memimpin hingga kantor KINAS didirikan) Waktu

• Merancang pengambilan keputusan dan mekanisme


pengawasan untuk semua program “Membuat Indonesia 4.0”
Rancangan Tata –Format pelaporan
Kelola Making ’18 1H
Indonesia 4.0 –KPI untuk setiap program
• Membantu membangun satuan petugas untuk setiap program,
baik untuk Prioritas Nasional dan 5 Inisiatif Sektor Fokus
• Memastikan peluncuran program utama, contoh: 10 Program
Prioritas Nasional & 5 Inisiatif untuk Sektor Fokus
• Melaporkan kemajuan program kepada anggota KINAS
(triwulan)
Berkelan-
• Memfasilitasi pertemuan KINAS (setiap semester)
Program Management jutan hingga
• Mensosialisasikan “Making Indonesia 4.0” di tingkat domestik 2030
dan global
• Memberi dukungan administratif bagi anggota KINAS dan
kelompok kerja, termasuk membuat dokumen legal, menyiapkan
informasi bagi publik.
Sumber: A.T. Kearney 72
Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

1 Perbaikan Alur Aliran Material: Initiative Charter Quick win program

Misi
Pemim-
• Meningkatkan kemampuan suplai pin
komponen / komponen domestik Kemenperin Men ESDM Mentan Men KKP Men Kes
untuk mencapai target ekspor neto
(10% dari PDB pada tahun 2030) • Minyak & Gas • Logam Dasar • Elektronik
Industri Kunci
• Kimia • Pertanian/Perikanan

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana
Mengembangkan Peta Jalan Alur • Mengembangkan target keseimbangan material tahunan pada tahun 2030 per produk sepanjang rantai nilai
Aliran Material 2030 untuk 5 sektor fokus manufaktur
• Mengembangkan peta jalan investasi pada tahun 2030 dan business case (perhitungan dampak ekonomi)
• Mengembangkan rencana implementasi untuk Roadmap Alur Aliran Material Indonesia 2030

• Menganalisa bahan baku masa depan dan kebutuhan komponen utama untuk 5 sektor fokus, contoh:
Analisia permintaan – Bahan baku: kebutuhan kimia untuk tekstil, elektronik dan sektor otomotif, logam untuk sektor otomotif dan ’19 1H
yang mendatang elektronik, pertanian / perikanan untuk sektor makanan & minuman
– Komponen utama: kebutuhan komponen listrik dan logam untuk sektor otomotif

• Menganalisa potensi daya saing harga; patokan harga (domestik vs impor)


Analisis detail mengenai
• Meninjau tarif impor / ekspor untuk rancangan keseimbangan material termasuk FTA yang berlaku
kesenjangan sepanjang
• Menyelaraskan dengan pemain industri tentang rencana kemampuan dan kapasitas mereka untuk memenuhi
rantai nilai
kebutuhan material di masa depan
• Mendesain ulang enabler kunci (tarif, FTA, insentif, dll.) untuk mencapai Peta Jalan Alur Aliran Material
Tarif, FTA, Rancangan Insentif Indonesia 2030 ’19 2H

• Merancang database alur aliran material nasional termasuk kapasitas produksi, volume, harga, tarif, dll.
Mengembangkan database – Menyelaraskan pengkodean kategori produk ’19 2H
nasional untuk alur aliran – Menentukan sumber data dan protokol pembaruan data
material • Mengembangkan alat IT untuk pembaruan data secara berkala /’20
• Mulai memantau pasokan material / rasio suplai komponen inti setiap bulan

• Mengembangkan persyaratan utama / permintaan tarif, skema FTA, peraturan dan kebijakan; diserahkan ke
Implementasi satuan petugas prioritas nasional # 9 / # 10
‘20
Sumber: A.T. Kearney 73
Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

2 Mendesain Ulang Zona Industri: Initiative Charter Quick win program

Misi
Pem-
• Membangun sebuah peta jalan zonasi
impin Kemenperin
industri nasional secara BPN Menpupera Men ESDM Menhub Menkominfo Menko Ekonomi

komprehensif di seluruh industri untuk


meningkatkan produktivitas di sepanjang Industri • Semua Sektor • Energi • Konstruksi
rantai nilai (2x rasio produktivitas-ke- Kunci Manufaktur • ICT • Transportasi
biaya)
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Memetakan jejak manufaktur saat ini dan proyek investasi skala besar yang sedang berlangsung untuk 5
sektor fokus; lokasi, hasil produksi, dll.
• Memetakan kapasitas infrastruktur saat ini untuk zona manufaktur utama dan proyek infrastruktur skala besar
Memetakan dan meninjau jejak yang sedang berjalan; transportasi (jalan, pelabuhan, bandara), utilitas (listrik, gas, air, telekomunikasi) dan
dan infrastruktur manufaktur fasilitas produksi sumber daya (minyak & gas, pertambangan, perkebunan, dll.) ’19/’20
saat ini • Meninjau zona ekonomi industri yang berlaku saat ini; dampak ekonomi, kesenjangan insentif terhadap
negara-negara ASEAN lainnya
• Mengidentifikasi isu-isu kunci dari rencana zonasi nasional saat ini untuk membangun 5 sektor manufaktur
fokus yang kompetitif

• Mengembangkan peta jalan untuk 5 sektor fokus menuju tahun 2030; misalnya membangun sabuk industri
baru atau zona manufaktur
• Menentukan persyaratan utama untuk pembangunan infrastruktur termasuk transportasi dan utilitas; proyek
Mengembangkan peta jalan
baru dan revisi proyek yang sedang berlangsung
zonasi industri baru 2030 untuk ’19/’20
• Mengidentifikasi calon investor untuk zona manufaktur baru termasuk investor asing (berkolaborasi dengan
5 sektor fokus manufaktur
prioritas nasional # 6 TF)
• Menentukan kebutuhan investasi dan dampak ekonomi
• Mengembangkan rencana implementasi untuk peta jalan 5 sektor fokus

• Mengalokasikan anggaran proyek infrastruktur nasional


Implementasi • Merancang ulang insentif untuk mempercepat investasi untuk zona manufaktur baru; diserahkan kepada satuan ’19/’20
petugas prioritas nasional # 9

Sumber: A.T. Kearney 74


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

3 Mengakomodir Standar Sustainability: Initiative Charter Quick win program

Misi
• Meraih peluang di dalam Pemi-
sustainability global dan tren mpin
Kemenperin Men LHK Men ESDM Mentan
teknologi bersih sembari memitigasi
risiko; misalnya EV, Biofuel / Bioplastik, Industri • Semua Sektor • Energi • Pertanian
energi terbarukan, teknologi emisi Kunci Manufaktur
rendah, dll.
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Meninjau tren dan dampak sustainability global pada 5 sektor fokus (Makanan & Minuman, Tekstil & Pakaian,
Otomotif, Elektronik, Kimia)
Meninjau tren sustainability – Analisis peraturan / skema kebijakan utama; Perjanjian Paris, CDM (Mekanisme Pengembangan Karbon, JI
global yang terkait dengan 5 (Implementasi Bersama), EUROX, FIT (Feed In Tarif) untuk energi terbarukan dan peraturan sustainability ’19/’20
sektor manufaktur lainnya (misalnya melarang penggunaan minyak sawit, Insentif ZEV (Zero Emisi Vehicle))
– Identifikasi risiko utama untuk setiap sektor
– Identifikasi peluang dan persyaratan utama untuk menangkap peluang untuk masing-masing sektor

• Mengembangkan strategi kesesuaian untuk masing-masing 5 sektor fokus


– Rencana mitigasi risiko untuk bisnis / produk yang saat ini berada di 5 sektor fokus
– Menetapkan area investasi prioritas untuk peluang sustainability (mis. Biokimia, EV, dll.) dan menentukan
Mengembangkan strategi
investasi yang diperlukan dan dampak ekonomi
sustainability dan peta jalan ’19/’20
– Mengembangkan strategi CDM / JI dan mengidentifikasi calon mitra
untuk 5 sektor fokus
– Mengembangkan strategi untuk melobi peraturan global; misalnya standing points untuk COP (Conference
of the Parties)
• Memperbaiki peta jalan sustainability menuju 2030; menentukan milestones dan KPI

• Merancang ulang insentif untuk mempercepat investasi untuk bisnis sustainability dan diserahkan kepada
satuan petugas prioritas nasional # 9
Implementasi ’19/’20
• Mengembangkan rancangan kebijakan baru / draft amendemen kebijakan untuk bisnis sustainability;
diserahkan kepada satuan petugas prioritas nasional # 10

Sumber: A.T. Kearney 75


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

4 Membudayakan UMKM: Initiative Charter Quick win program

Misi
• Memperkuat 3,6 juta UMKM di nusantara Pemimpin
untuk meningkatkan produktivitas dan Kemenperin Menkop UKM
menciptakan peluang kerja dengan
mendirikan platform e-commerce dan Industri • Pertanian • Tekstil
technology bank untuk UMKM Kunci • Makanan & Minuman

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18 1H
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Mengembangkan skema platform e-commerce UMKM nasional


– Mendefinisikan model bisnis; peran pemerintah dan pemain industri, model monetisasi, nilai tambah untuk
model e-commerce yang berlaku sekarang
’18 2H
Mengembangkan platform e- – Menentukan model operasi: struktur ekuitas, tata kelola proses utama, dll.
/ ’19
commerce untuk UMKM – Memperkirakan investasi yang diperlukan dan dampak ekonominya
nasional • Melakukan uji lapangan dan menyesuaikan model baru; mengumpulkan masukan dari pengguna dan calon
mitra, penyaringan mitra potensial; misalnya kontes kecantikan untuk proses seleksi

• Mengembangkan konsep program log digital (sertifikat) UMKM; misalnya membangun database untuk merekam
SME digital log ’18 2H
jejak digital UMKM (misalnya masukan pengguna dari berbagai platform) dan memanfaatkan jejak digital
(certificate) program / ’19
UMKM untuk penilaian kredit untuk pembiayaan, sertifikat untuk referensi konsumen, dll.

• Mengembangkan skema technology bank untuk UMKM


Mengembangkan technology – Mendefinisikan model bisnis; peran pemerintah dan pelaku industri, monetisasi model, nilai tambah untuk
bank (SME Technology Bank) model pembiayaan yang berlaku sekarang
’18 2H
untuk UMKM – Menentukan model operasi: struktur ekuitas, tata kelola proses kunci, dll.
/ ’19
– Memperkirakan investasi yang diperlukan dan dampak ekonominya
• Melakukan uji lapangan dan menyesuaikan model baru; mengumpulkan masukan dari pengguna dan calon
mitra, penyaringan mitra potensial; misalnya kontes kecantikan untuk proses seleksi

• Mengamankan anggaran untuk platform e-commerce UMKM nasional dan technology bank untuk UMKM
• Merancang insentif dan mengakomodir peraturan; diserahkan kepada satuan petugas prioritas nasional #
Implementasi ’19/’20
9/10
• Menyiapkan entitas / organisasi dan meluncurkan program perdana di '19
Sumber: A.T. Kearney 76
Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce Quick win program


5 Membangun Infrastruktur Digital Nasional: Initiative Charter
Misi
• Memperbaiki infrastruktur broadband
nasional (mis. Serat dan 4G / 5G) dan
Pemimpin
kemampuan platform digital (misalnya
Kemenperin Menkominfo
pusat data dan cloud, manajemen keamanan,
e-payment, dll.) sebagai enabler utama
Industri • ICT
untuk teknologi Industri 4.0
Kunci • Finansial

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Menentukan persyaratan utama platform digital untuk 5 sektor fokus manufaktur melalui perbandingan dengan
negara lain dan masukan dari para pemain industri; misalnya
Menentukan persyaratan utama
– Area prioritas dan persyaratan kualitas peluncuran fiber ’19/’20
untuk platform digital
– Persyaratan teknologi 4G / 5G & M2M / IOT berdasarkan waktu
– Kapasitas digital platform dan persyaratan fungsional mis. standar keamanan

• Memperbarui peta jalan pembangunan infrastruktur digital nasional dengan memasukkan berbagai
persyaratan industri
Memperbarui peta jalan – Memasukkan persyaratan untuk 5 sektor fokus manufaktur untuk platform digital
pembangunan infrastruktur – Memperbarui pencapaian penyebaran Fiber, 4G / 5G ’19/’20
digital nasional menuju 2030 – Menentukan standar utama dan deregulasi yang diperlukan untuk platform digital
– Mengidentifikasi investasi yang dibutuhkan dan manfaat ekonomi untuk mengimplementasikan peta jalan
– Menentukan dukungan pemerintah yang diperlukan untuk penyebaran infrastruktur yang optimal

• Merancang insentif untuk pencepatan investasi infrastruktur digital (termasuk FDI) dan menyusun
Implementasi amendemen / pembentukan kebijakan / peraturan yang diperlukan; diserahkan kepada satuan petugas prioritas ’19/’20
nasional # 9/10

Sumber: A.T. Kearney 77


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

6 Menarik Investasi Asing: Initiative Charter Quick win program

Misi
• Meningkatkan investasi asing (yang Pemim-
masuk ke Indonesia) dengan menarik pin
produsen global terkemuka; misalnya Kemenperin Ka BKPM Mendag
menumbuhkan FDI 10% p.a.
Industri • Elektronik • Otomotif
Kunci • Kimia

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18 1H
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

Mengembangkan strategi • Mengembangkan strategi percepatan FDI dengan menyelaraskan peta jalan untuk 5 sektor fokus
percepatan FDI untuk – Menentukan area prioritas untuk FDI; produk, teknologi, dll.
’18 2H
mendorong Making Indonesia – Mengidentifikasikan target investor untuk mendukung area prioritas FDI
4.0 – Mendefinisikan berbagai pilihan insentif yang berpotensi untuk menarik investor asing

• Melakukan beberapa roadshow untuk para investor, mis. AS, Jepang, China, Korea, Eropa untuk mendukung
Making Indonesia 4.0 ’18 2H/
Roadshow untuk para investor – Mengembangkan daftar target perusahaan; misalnya 100 manufaktur global teratas ’19 1H/
– Memprioritaskan perusahaan target berdasarkan strategi percepatan FDI ’19 2H
– Mengembangkan materi negosiasi dan promosi

• Merancang dan melegalkan insentif untuk FDI; diserahkan kepada satuan petugas prioritas nasional # 9 ’18 2H/
Merancang insentif dan
• Menentukan penyesuaian kebijakan yang diperlukan mis. daftar negatif; diserahkan kepada satuan petugas ’19 1H/
penyesuaian kebijakan
prioritas nasional # 10 ’19 2H

Sumber: A.T. Kearney 78


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

7 Meningkatkan Kualitas SDM: Initiative Charter Quick win program

Misi
• Meningkatkan keterampilan tenaga kerja secara Pem-
signifikan untuk beradaptasi dengan teknologi impin
Industri 4.0, dengan cara: Kemenperin Kemendikbud Menristek Dikti Menaker
– Meningkatkan sekolah kejuruan Industri 4.0
– Memperbaiki kurikulum pendidikan nasional Industri • Semua Sektor
– Memperkenalkan program mobilitas global Kunci
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18 1H
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Mengembangkan sekolah kejuruan dengan konsep “Making Indonesia 4.0”


– Menetapkan area fokus; misalnya EV, biokimia, rekayasa proses, dll.
– Menentukan misi dan kurikulum utama sekolah kejuruan
Memperbaharui sekolah
– Mengembangkan perusahaan mitra dan menentukan skema pendanaan ’18 2H/
kejuruan untuk mendukung
• Mempersiapkan pembentukan sekolah baru ‘19
Industri 4.0
– Pengembangan fasilitas; dijadikan satu lokasi dengan pusat inovasi “Making Indonesia 4.0” (prioritas nasional #
8)
– Merekrut guru / staf dan sistem kerja sama yang diperlukan

• Meninjau kurikulum pendidikan nasional saat ini dari sekolah dasar ke universitas
– Membandingkan dengan negara lainnya mis. Singapura, Malaysia, Korea, India
Memperbaiki kurikulum
– Menganalisa kesenjangan antara praktik global dan Indonesia
pendidikan nasional untuk
– Mendefinisikan isu-isu dan solusinya ’19/’20
mendukung Making Indonesia
• Mengembangkan konsep rancangan kurikulum pendidikan nasional yang baru; misalnya pendidikan STEAM
4.0
• Mengembangkan peta jalan implementasi dan diserahkan kepada kementerian masing-masing yaitu
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi

• Mengembangkan program mobilitas bakat global untuk membawa talenta asing untuk mempercepat transfer
teknologi untuk mendukung Making Indonesia 4.0
Memperkenalkan program
– Membandingkan dengan negara lainnya mis. Singapura, AS ’19/’20
mobilitas global
– Menentukan elemen utama dari program mobilitas; misalnya insentif, izin kerja, dll.
• Mengembangkan peta jalan implementasi dan berkoordinasi dengan kementerian masing-masing

Sumber: A.T. Kearney 79


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

8 Membentuk Ekosistem Inovasi: Initiative Charter Quick win program

Misi
• Meningkatkan kemampuan RD&D1 Pemimpin
dengan membangun ekosistem yang
melibatkan pemerintah, sektor swasta, Kemenperin Menristek Dikti
dan universitas
Industri • Semua Sektor
Kunci
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18 1H
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Mengembangkan pusat inovasi dengan konsep “Making Indonesia 4.0”


– Menentukan ruang lingkup untuk pusat inovasi; misalnya memamerkan teknologi Industri 4.0, menyediakan lab
percobaan, memfasilitasi lokakarya untuk adopsi teknologi baru, menyediakan fungsi sekolah kejuruan
– Menentukan misi dari pusat inovasi
Mendirikan pusat inovasi – Mengembangkan perusahaan mitra dan menentukan skema pendanaan ’18 2H/
“Making Indonesia 4.0” • Mempersiapkan pendirian pusat inovasi baru ‘19
– Pengembangan fasilitas; dijadikan satu lokasi dgn pusat inovasi “Making Indonesia 4.0” (prioritas nasional #7)
– Mempersiapkan teknologi / mesin inti (Printer 3D, perangkat yang dapat dikenakan (VR / AR), robotika canggih)
– Merancang tata kelola (peraturan dan proses-proses inti)
– Mempekerjakan staf dan sistem perusahaan yang dibutuhkan

• Meninjau pusat penelitian publik dan swasta Indonesia yang berfokus pada 5 sektor fokus
– Meninjau bidang penelitian, ukuran investasi, pencapaian
– Membandingkan dengan praktik global
Mengembangkan peta jalan – Mengidentifikasi isu-isu dan solusinya
’19/’20
ekosistem RD&D1 • Mengembangkan peta jalan ekosistem RD&D1 nasional menuju 2030 dengan berfokus pada 5 sektor fokus
– Mendefinisikan kembali peran universitas, perusahaan, dan pusat penelitian publik
– Mendefinisikan tambahan investasi yang dibutuhkan dan dampak ekonominya
– Menentukan target-target pencapaian untuk membangun ekosistem RD&D1

1. Research & Development & Design


Sumber: A.T. Kearney 80
Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce Quick win program


9 Menerapkan Insentif Investasi Teknologi: Initiative Charter
Misi
• Memberikan insentif kepada pemain Pemimpin
industri dan investor asing untuk
mempercepat penerapan “Making Kemenperin Menkeu
Indonesia 4.0”
Industri • Semua Sektor
Kunci
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18 1H
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Meninjau insentif yang berlaku sekarang (pajak / fiskal dan lainnya) yang berkaitan dengan adopsi dan inovasi
Meninjau insentif yang sedang teknologi ’18
berlaku pada saat ini – Melakukan perbandingan terhadap praktek negara-negara lainnya /’19
– Meninjau insentif yang sedang berlaku sekarang dan mengidentifikasi masalah / solusinya

• Meninjau permintaan dari satuan petugas untuk prioritas nasional # 1-8 dan satuan petugas untuk sektor fokus
Meninjau dan menyelaraskan – Meninjau sisi ekonomi, contohnya dampaknya terhadap total anggaran (biaya pemerintah) vs. dampak ekonomi Aktivitas
permintaan insentif dari satuan Berkelanjutan
• Menyelaraskan permintaan dan memberikan masukan yang diperlukan
petugas (taskforce) lainnya
• Memprioritaskan permintaan berdasarkan urgensi dan dampak ekonomi

Formalisasi dan pengeluaran Aktivitas


• Formalisasi insentif di bawah proses standar kementerian keuangan Berkelanjutan
insentif

Aktivitas
Pemantauan • Memantau dampak dari insentif dan menunda / mempercepat beberapa insentif berdasarkan realisasi dampak Berkelanjutan

Sumber: A.T. Kearney 81


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

10 Mengoptimisasi Aturan & Kebijakan: Initiative Charter Quick win program

Misi
• Mendorong pelaku industri dan Pem-
investor asing untuk mempercepat impin
pelaksanaan Indonesia 4.0 dengan cara Kemenperin Menko Ekonomi Menkeu Mendag
menyelaraskan dan menyederhanakan
peraturan & kebijakan industri Industri • Semua Sektor
Kunci
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
Membangun Satuan Petugas • Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
(taskforce) dan Rencana 3 • Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap triwulan ’18 1H
tahun • Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Meninjau peraturan dan kebijakan yang sedang berlaku terkait dengan 5 sektor fokus
Meninjau peraturan dan ’18 /
– Melakukan perbandingan terhadap praktek negara-negara lainnya
kebijakan industri yang berlaku ‘19
– Meninjau peraturan dan kebijakan yang sedang berlaku sekarang dan mengidentifikasi masalah / solusinya

Meninjau dan menyelaraskan • Meninjau permintaan dari satuan petugas untuk prioritas nasional # 1-8 dan satuan petugas untuk sektor fokus;
peraturan dengan masukan termasuk tarif, perjanjian perdagangan, daftar negatif FDI, pengaturan harga, dll. Aktivitas
dari satuan petugas (taskforce) • Menyelaraskan permintaan dan memberikan masukan yang diperlukan Berkelanjutan
yang lain • Memprioritaskan permintaan berdasarkan urgensi, dampak ekonomi dan risiko terhadap sektor lain

Aktivitas
Formalisasi insentif • Mendukung formalisasi peraturan & kebijakan di bawah proses hukum standar Berkelanjutan

• Memantau dampak perubahan peraturan & kebijakan. Jika diperlukan, melakukan perubahan terhadap Aktivitas
Pemantauan peraturan & kebijakan Berkelanjutan

Sumber: A.T. Kearney 82


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

Initiative Charter Makanan & Minuman 4.0 – Horizon 1 (per 2021)


Misi untuk 2021 Produk Fokus
• Meningkatkan kemampuan E2E dengan fokus untuk mengubah Agriculture Livestock Fishery
sektor pertanian / peternakan / perikanan hulu dengan bantuan
teknologi Industri 4.0
• Memperbaiki ekspor neto produk fokus1 sebesar 50% pada tahun Rice Sugar Starch Cocoa Processed
fruits & Palm Chicken Processed
2021 veggies oil seafood

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


• Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
Membangun Satuan Petugas • Memperbaiki peta jalan secara detail untuk sektor Makanan & Minuman menuju 2030
(taskforce) dan Rencana 3 ’18
• Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap tiga bulan
tahun
• Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana
• Memberikan masukan untuk satuan petugas Prioritas Nasional, misalnya:
– NP # 1: Meningkatkan produktivitas hulu (pertanian / perikanan) dengan adopsi teknologi
– NP # 2: Mengoptimalkan kembali jejak produksi dan supply chain makanan dan minuman
– NP # 3: Menentukan peluang bisnis untuk biomassa, biokimia, dll.
– NP # 4: Mendukung petani dan produsen makanan kecil melalui e-commerce UMKM dan technology bank
– NP # 5: Menentukan persyaratan utama untuk platform penelusuran untuk rantai nilai makanan ’18 2H
Mengerjakan inisiatif prioritas /’19
nasional – NP # 6: Menarik produsen makanan kemasan modern untuk berinvestasi di Indonesia
– NP # 7: Menentukan keterampilan teknologi yang dibutuhkan untuk bidang Makanan & Minuman dan kurikulum /’20
sekolah kejuruan Makanan & Minuman
– NP # 8: Mendefinisikan tema RD&D untuk sektor Makanan & Minuman misalnya teknologi bio, teknologi daur ulang
makanan
– NP # 9: Membuat draft insentif untuk adopsi teknologi sektor Makanan & Minuman misalnya mesin proses makanan
– NP # 10: Mendefinisikan inefisiensi peraturan / kebijakan untuk sektor Makanan & Minuman

• Mengembangkan peta jalan adopsi teknologi sektor Makanan & Minuman


– Meninjau kembali proses inti untuk proses supply chain Makanan & Minuman dan proses manufaktur
Mengembangkan peta jalan ’18 2H
– Mengembangkan katalog teknologi untuk peningkatan produktivitas bersama, supply chain, dan proses
untuk mengadopsi teknologi /’19
– Menentukan daftar penyedia teknologi
dan program implementasinya /’20
– Menampilkan dampak ekonomi pengenalan teknologi
• Mengembangkan dan meluncurkan program penerapan adopsi teknologi

1. Including processed products; in 2016: rice,(-USD 525 mn), sugar (USD 46 mn), starch (-USD 308 mn), cocoa (USD 698 mn), processed fruits & veggies (USD 255 mn), palm oil
(USD 14.4 bn), chicken, proxied by poultry (-USD 17 mn), processed seafood (USD 3.4 bn); 2. MSME entrepreneurs in agriculture and F&B sectors
Sumber: UN Comtrade, MIT, A.T. Kearney 83
Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

Initiative Charter Tekstil & Busana – Horizon 1 (per 2021)


Misi untuk 2021 Produk Fokus
• Meningkatkan kemampuan produksi serat sintetis
sembari membangun kembali ekosistem hulu untuk High Specialty &
functional clothing Synthetic
quality industrial
fibers
• Mengurangi impor bahan baku dan menjadi produsen yarn fabrics
serat sintetis terbesar di ASEAN pada tahun 2021
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
• Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
Membangun Satuan Petugas • Memperbaiki peta jalan secara detail untuk sektor Tekstil & Busana menuju 2030
(taskforce) dan Rencana 3 ’18
• Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap tiga bulan
tahun
• Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Memberikan masukan untuk satuan petugas Prioritas Nasional, misalnya:


• NP # 1: Meningkatkan produktivitas hulu (sektor kimia) dengan mengadopsi teknologi
• NP # 2: Mengoptimalkan kembali jejak manufaktur dan supply chain tekstil & busana
• NP # 3: Menentukan peluang bisnis untuk bahan biokimia, dll.
• NP # 4: Mendukung perusahaan tekstil kecil melalui e-commerce UMKM dan technology bank
’18 2H
Mengerjakan inisiatif prioritas • NP # 5: Menentukan persyaratan utama untuk database supply chain tekstil & busana domestik /’19
nasional • NP # 6: Menarik perusahaan pakaian & kain mereka ternama di dunia untuk berinvestasi di Indonesia
/’20
• NP # 7: Menentukan kurikulum sekolah kejuruan tekstil & busana
• NP # 8: Mendefinisikan tema RD & D untuk sektor tekstil & busana, mis. serat sintetis dan kain
• NP # 9: Membuat draft insentif untuk adopsi teknologi sektor tekstil & busana misalnya, instalasi fasilitas
produksi kain yang memiliki produktivitas tinggi
• NP # 10: Menetapkan inefisiensi dalam peraturan / kebijakan untuk sektor tekstil & busana

• Mengembangkan peta jalan adopsi teknologi sektor Tekstil & Busana


– Meninjau kembali proses inti untuk proses supply chain Tekstil & Busana dan proses manufaktur
Mengembangkan peta jalan ’18 2H
– Mengembangkan katalog teknologi untuk peningkatan produktivitas bersama, supply chain, dan proses
untuk mengadopsi teknologi /’19
– Menentukan daftar penyedia teknologi
dan program implementasinya /’20
– Menampilkan dampak ekonomi pengenalan teknologi
• Mengembangkan dan meluncurkan program penerapan adopsi teknologi

Sumber: A.T. Kearney 84


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

Initiative Charter Otomotif 4.0 – Horizon 1 (per 2021)


Misi untuk 2021 Produk Fokus
• Meningkatkan penggunaan konten lokal dengan Auto Key
ICE Vehicles
meningkatkan kemampuan hulu (logam dan bahan kimia) Comp. (e.g. (esp. MPV, Van,
engine, brake, LCGC, Trucks)
dan kemampuan midstream transmission system)
• Meningkatkan kemampuan ekspor dengan memperbaiki EV Comp.
zonasi industri dan produktivitas manufaktur &Technology
(investment phase)

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


• Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
Membangun Satuan Petugas • Memperbaiki peta jalan secara detail untuk sektor Otomotif menuju 2030
(taskforce) dan Rencana 3 ’18
• Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap tiga bulan
tahun
• Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Memberikan masukan untuk satuan petugas Prioritas Nasional; misalnya


– NP # 1: Meningkatkan produktivitas hulu (sektor logam dasar / bahan kimia) dengan mengadopsi teknologi
– NP # 2: Mengoptimalkan kembali jejak manufaktur otomotif (misalnya sabuk industri otomotif)
– NP # 3: Mendefinisikan peluang bisnis untuk EV, E-sepeda motor, dll.
– NP # 4: Mendukung pemasok komponen mobil kecil melalui e-commerce UMKM dan technology bank
’18 2H
Mengerjakan inisiatif prioritas – NP # 5: Menentukan persyaratan utama untuk database supply chain otomotif domestik /’19
nasional – NP # 6: Menarik OEM otomotif global untuk memperluas investasi di Indonesia
/’20
– NP # 7: Menentukan kurikulum SMK otomotif
– NP # 8: Mendefinisikan tema RD&D untuk sektor otomotif mis. EV, biofuel, dll.
– NP # 9: Membuat draft insentif untuk adopsi teknologi sektor otomotif mis. EV, siklus E-motor
– NP # 10: Menetapkan inefisiensi peraturan / kebijakan untuk sektor otomotif mis. Pendaftaran plat nomor EV,
EV stasiun pengisian, dll.

• Mengembangkan peta jalan adopsi teknologi sektor Otomotif


– Meninjau kembali proses inti untuk proses supply chain Otomotif dan proses manufaktur
Mengembangkan peta jalan ’18 2H
– Mengembangkan katalog teknologi untuk peningkatan produktivitas bersama, supply chain, dan proses
untuk mengadopsi teknologi /’19
– Menentukan daftar penyedia teknologi
dan program implementasinya /’20
– Menampilkan dampak ekonomi pengenalan teknologi
• Mengembangkan dan meluncurkan program penerapan adopsi teknologi
Sumber: A.T. Kearney 85
Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

Initiative Charter Kimia 4.0 – Horizon 1 (per 2021)


Misi untuk 2021 Aspirasi

• Membangun fondasi industri kimia Indonesia dengan Propy- Buta-


Ethylene
lene diene
memperkuat produksi dalam negeri
• Mengurangi rasio impor bahan kimia dasar menjadi Synthetic rubber
<30% pada tahun 2021 Synthetic fiber
Bio-plastic

Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu


• Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
Membangun Satuan Petugas • Memperbaiki peta jalan secara detail untuk sektor Kimia menuju 2030
(taskforce) dan Rencana 3 ’18
• Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap tiga bulan
tahun
• Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Memberikan masukan untuk satuan petugas Prioritas Nasional; misalnya


– NP # 1: Meningkatkan produktivitas sektor hulu (minyak & gas) dan mengurangi impor nafta, dan meningkatkan
kapasitas produksi petrokimia untuk sektor hilir lainnya
– NP # 2: Mengoptimalkan kembali jejak pabrik kimia (misalnya menjadi satu dengan lokasi produksi gas alam)
– NP # 3: Menentukan peluang bisnis untuk bahan bakar bio, bio plastik, dll.
– NP # 4: Mendukung pemain kimia lokal kecil melalui e-commerce UMKM dan technology bank ’18 2H
Mengerjakan inisiatif prioritas /’19
nasional – NP # 5: Menentukan persyaratan utama untuk database supply chain kimia domestik
– NP # 6: Menarik perusahaan-perusahaan kimia global untuk berinvestasi di Indonesia
/’20
– NP # 7: Menentukan kurikulum kimia SMK
– NP # 8: Mendefinisikan tema RD&D untuk sektor bahan kimia misalnya biofuel, bioplastik, dll.
– NP # 9: Membuat draft insentif untuk adopsi teknologi sektor kimia misalnya pengelolaan sumber daya
– NP # 10: Menetapkan inefisiensi peraturan / kebijakan untuk sektor bahan kimia misalnya. harga gas alam

• Mengembangkan peta jalan adopsi teknologi sektor Kimia


– Meninjau kembali proses inti untuk proses supply chain Kimia dan proses manufaktur
Mengembangkan peta jalan ’18 2H
– Mengembangkan katalog teknologi untuk peningkatan produktivitas bersama, supply chain, dan proses
untuk mengadopsi teknologi /’19
– Menentukan daftar penyedia teknologi
dan program implementasinya /’20
– Menampilkan dampak ekonomi pengenalan teknologi
• Mengembangkan dan meluncurkan program penerapan adopsi teknologi

Sumber: A.T. Kearney 86


Making
Indonesia 4.0

To be finalized by the taskforce

Initiative Charter Elektronik 4.0 – Horizon 1 (per 2021)


Misi untuk 2021 Produk Fokus
• Mengurangi rasio impor sebesar 20% dengan Smartphone IoT
meningkatkan aktivitas manufaktur domestik Components Components
(e.g. screen, charger)
• Pada tahun 2021, menarik 2 produsen elektronik / listrik EV
100 teratas di dunia untuk berinvestasi (masing-masing batteries
USD 1 miliar) - melalui transfer teknologi kepada para (investment
phase)
insinyur Indonesia
Inisiatif Kunci (2018 - 2020) Waktu
• Menetapkan satuan petugas dan menetapkan anggota tim dan 1 pemimpin tim yang berdedikasi penuh
Membangun Satuan Petugas • Memperbaiki peta jalan secara detail untuk sektor Elektronik menuju 2030
(taskforce) dan Rencana 3 ’18
• Detail rencana 3 tahun dengan hasil dan KPI triwulanan yang jelas; melapor ke KINAS setiap tiga bulan
tahun
• Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelaksanaan rencana

• Memberikan masukan untuk satuan petugas Prioritas Nasional; misalnya


– NP # 1: Meningkatkan produktivitas sektor hulu (bahan kimia) dan meningkatkan kemampuan produksi
komponen elektronik utama di luar assembly
– NP # 2: Mengoptimalkan kembali jejak manufaktur elektronik (misalnya hub manufaktur elektronik)
– NP # 3: Menentukan peluang bisnis untuk komponen EV dan teknologi bersih lainnya dll.
– NP # 4: Mendukung pemain elektronik lokal kecil melalui e-commerce UMKM dan technology bank ’18 2H
Mengerjakan inisiatif prioritas /’19
nasional – NP # 5: Menentukan persyaratan utama untuk keamanan IoT
/’20
– NP # 6: Mempersiapkan roadshow untuk para investor untuk manufaktur elektronik 100 teratas secara global
– NP # 7: Menentukan kurikulum SMK elektronik misalnya, EV, IoT
– NP # 8: Mendefinisikan tema RD&D untuk sektor elektronik mis. Baterai EV, komponen IoT, dll.
– NP # 9: Membuat draft insentif untuk adopsi teknologi sektor elektronik mis. pengelolaan sumber daya
– NP # 10: Menetapkan inefisiensi peraturan / kebijakan untuk sektor elektronik mis. FTA

• Mengembangkan peta jalan adopsi teknologi sektor Elektronik


– Meninjau kembali proses inti untuk proses supply chain Elektronik dan proses manufaktur
Mengembangkan peta jalan ’18 2H
– Mengembangkan katalog teknologi untuk peningkatan produktivitas bersama, supply chain, dan proses
untuk mengadopsi teknologi /’19
– Menentukan daftar penyedia teknologi
dan program implementasinya /’20
– Menampilkan dampak ekonomi pengenalan teknologi
Source: A.T. Kearney • Mengembangkan dan meluncurkan program penerapan adopsi teknologi 87