You are on page 1of 5

JKK, Tahun 2018, Vol 7(1), halaman 48-52 ISSN 2303-1077

KARAKTERISASI SENYAWA STEROID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA


BATANG TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS
SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL HeLa

Ardji1*, Ari Widiyantoro1, Lia Destiarti1


1
Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura,
Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak
*
email: ardjieji@gmail.com

ABSTRAK
Tanaman andong (Cordyline fruticosa) merupakan tanaman obat yang banyak digunakan oleh
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik senyawa steroid dari fraksi
diklorometana batang tanaman andong dan aktivitas sitotoksiknya terhadap sel HeLa. Ekstraksi
dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol sehingga diperoleh ekstrak
kental metanol. Ekstrak kental metanol kemudian difraksinasi dengan menggunakan beberapa
pelarut sehingga diperoleh fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan fraksi metanol.
Semua ekstrak dan fraksi diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel HeLa menggunakan metode
MTT(3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2,5-difeniltetrazolium bromide). Nilai aktivitas sitotoksik (IC50) yang
diperoleh untuk ekstrak metanol, fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan fraksi metanol
berturut-turut adalah sebesar 282; 280; 256; 161 dan 177 µg/mL. Fraksi diklorometana
selanjutnya dilakukan pemisahan dan pemurnian sehingga diperoleh isolat B1. Isolat
menunjukkan nilai aktivitas sitotoksik IC 50 sebesar 280 µg/mL. Hasil analisis spektrum
ultraviolet-visible (UV-Vis) diperoleh absorbansi maksimum pada panjang gelombang 339,5 dan
220,5 nm yang menunjukkan adanya transisi elektronik π→π* dan n→π*. Spektrum infra red
(IR) menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 2954-2854; 1739; 1461 dan 1203-1172
cm-1 yang menunjukkan gugus C-H; C=O; C=C aromatik, dan C-O-C eter. Serapan pada
bilangan gelombang 1272 cm-1 merupakan serapan yang khas untuk senyawa steroid (-CH-
OH). Berdasarkan hasil spektrum UV-Vis dan IR menunjukkan adanya senyawa steroid dan
pada isolat B1.

Kata Kunci: Andong (Cordyline fruticosa), steroid, sitotoksik, sel HeLa

PENDAHULUAN udang (Artemia salina Leach) juga telah


dilakukan dan menunjukkan bahwa isolat
Tanaman andong (Cordyline fruticosa)
yang diperoleh adalah senyawa saponin
merupakan tanaman obat yang banyak
steroid spirostan (Bogoriani, dkk., 2007).
tumbuh di berbagai jenis tanah. Tanaman
Beberapa senyawa steroid khususnya
andong biasanya dipelihara sebagai
glikosida steroid diketahui mempunyai
tanaman hias, tanaman pagar dan
aktivitas biologi sebagai antitumor dan
pembatas perkebunan teh karena warnanya
menunjukkan aktivitas sitotoksik yang
yang mencolok (Wijayakusuma, 1992).
sangat kuat terhadap sel tumor pada
Berdasarkan beberapa penelitian
manusia. Di samping itu, ditemukan
diketahui bahwa ekstrak andong
beberapa senyawa steroid yang
mengandung senyawa-senyawa golongan
mempunyai aktivitas sebagai antitumor
fenolik, flavonoid, steroid dan saponin.
secara in vitro (Mimaki dan Sashida, 1996).
Menurut Putra, dkk., (2015) ekstrak daun
Dari beberapa penelitian dapat disimpulkan
tanaman andong mempunyai aktivitas
bahwa senyawa steroid bersifat sitotoksik
antibakteri dan antioksidan. Dyary, dkk.,
dan dapat digunakan sebagai obat
(2014) menemukan bahwa daun tanaman
antikanker, salah satunya kanker leher
andong bersifat sitotoksik terhadap sel vero
rahim (cervix). Salah satu sel turunan dari
dengan nilai IC 50 sebesar 48,1 µg/mL.
kanker leher rahim adalah sel HeLa.
Isolasi dan identifikasi senyawa dari fraksi
Penelitian ini bertujuan untuk
aktif sitotoksik daun andong terhadap larva

48
JKK, Tahun 2018, Vol 7(1), halaman 48-52 ISSN 2303-1077

mengidentifikasi struktur senyawa steroid (9:1). Fraksi diklorometana kemudian


dan aktivitas sitotoksiknya terhadap sel dipisahkan dengan menggunakan eluen
HeLa. diklorometana:etil asetat (9:1) dengan
metode kromatografi vakum cair (KVC).
METODOLOGI PENELITIAN Hasil dari proses KVC ini kemudian
dilakukan pemisahan kembali
Alat dan Bahan
menggunakan metode kromatografi kolom
Alat-alat yang digunakan pada
gravitasi (KKG). Dari proses KVC dan KKG
penelitian ini adalah seperangkat alat gelas
diperoleh isolat B1.
kimia, botol semprot, botol vial, corong
Semua fraksi dan isolat B1 kemudian
kaca, corong pisah, gunting, neraca analitik,
diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel
penggaris, pensil, pipa kapiler, pipet mikro,
HeLa menggunakan metode MTT
pipet tetes, plat KLT, rotary evaporator,
(tetrazolium (3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)2,5-
statif dan klem, spektrofotometer UV-Vis
difeniltetrazolium bromida). Pada isolat B1
(Variant Cary 100 Conc.) dan spektrometer
juga dilakukan karakterisasi menggunakan
inframerah Shimadzu IRTracer-100.
spektrofotometer UV-Vis dan
Bahan-bahan yang digunakan untuk
spektrofotometer inframerah.
penelitian ini adalah akuades, ammonia,
asam asetat, asam klorida, asam sulfat,
batang tanaman andong (Cordyline HASIL DAN PEMBAHASAN
fruticosa), besi (III) klorida, etil asetat teknis
Uji Fitokimia
dan p.a, diklorometana teknis dan p.a,
Hasil uji fitokimia ekstrak kental metanol
kloroform, metanol teknis dan p.a, n-
menunjukkan bahwa senyawa yang
heksana teknis dan p.a, padatan
terkandung dalam batang andong adalah
magnesium, pelet kalium bromida, reagen
senyawa golongan flavonoid,
Dragendorff, reagen Liebermann-Buchard,
steroid/triterpenoid, tanin, alkaloid dan
reagen Wagner, dan reagen Mayer.
saponin. Data uji fitokimia ekstrak kental
methanol dapat dilihat pada Tabel 1.
Prosedur Kerja
Batang tanaman andong (Cordyline
Tabel 1. Data Uji Fitokimia Ekstrak Kental
fruticosa) yang telah dihaluskan diekstraksi
Metanol Batang Andong
dengan cara maserasi menggunakan
No. Golongan Uji/ Hasil
pelarut metanol berulang-ulang sampai senyawa pereaksi pengamatan
terekstraksi sempurna. Ekstrak metanol
dipekatkan kemudian difraksinasi 1. Flavonoid HCl dan Positif
menggunakan pelarut n-heksana, pita Mg
2. Steroid/ Lieberman- Positif
diklorometana dan etil asetat. Diperoleh
triterpenoid Buchard
fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat 3. Tanin FeCl3 Positif
dan fraksi metanol, kemudian dipekatkan 4. Alkaloid Mayer Positif
menggunakan rotary evaporator. Semua Wagner Positif
fraksi dan ekstrak metanol dilakukan uji 5. Saponin Uji busa Positif
fitokimia. Fraksi diklorometana selanjutnya
dilakukan proses pemisahan dan
pemurnian lebih lanjut untuk mendapatkan Ekstrak kental metanol ini kemudian
isolat. Proses pemisahan dan pemurnian dilakukan proses partisi dengan
meliputi beberapa metode yaitu menggunakan beberapa pelarut. Hasil
kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi partisi ini disebut dengan fraksi. Keempat
vakum cair (KVC) dan kromatografi kolom fraksi yang diperoleh kemudian dilakukan uji
gravitasi (KKG). fitokimia, dan data hasil uji fitokimianya
Teknik KLT dilakukan untuk disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel
menentukan eluen yang memberikan pola 2 diketahui bahwa fraksi diklorometana,
pemisahan yang paling baik untuk fraksi etil asetat dan fraksi metanol memiliki
pemisahan dan pemurnian lanjutan. Fase kandungan senyawa steroid/triterpenoid,
diam yang digunakan adalah silika dan fase sedangkan untuk fraksi n-heksana
geraknya berupa diklorometana:etil asetat menunjukkan hasil yang negatif.

49
JKK, Tahun 2018, Vol 7(1), halaman 48-52 ISSN 2303-1077

Tabel 2. Hasil Uji Fitokimia Fraksi n-heksana, Fraksi Diklorometana, Fraksi Etil Asetat dan
Fraksi Metanol

Fraksi
No. Uji
Metanol n-heksana Diklorometana Etil asetat
1. Flavonoid + - + +
2. Steroid/ Terpenoid + - + +
3. Saponin + - + +
4. Alkaloid - - + +
5. Tanin + + + +

Pemisahan dan Pemurnian variasi eluen dengan KLT satu dan dua
Hasil maserasi 3 kg daun andong dimensi untuk menentukan noda yang
diperoleh ekstrak kental metanol sebanyak terbentuk. Berdasarkan hasil KLT isolat B1
315 gram dan berwarna hitam kecoklatan. dengan berbagai eluen pada satu dan dua
Pemisahan dan pemurnian dari fraksi dimensi menunjukkan bahwa isolat memiliki
diklorometana dilakukan menggunakan noda tunggal. Hal ini berarti bahwa isolat B1
metode KVC dan KKG. Pada proses KVC sudah relatif murni. Selanjutnya isolat ini
sampel yang digunakan sebanyak 15 gram dikarakterisasi menggunakan spektroskopi
dan dihasilkan 33 fraksi eluat dengan ultra violet-visible (UV-Vis) dan spektroskopi
kepolaran yang berbeda. Semua eluat diuji inframerah.
dengan KLT untuk mengetahui pola
distribusi senyawa sehingga dapat Uji Aktivitas Sitotoksik
digabungkan senyawa dengan nilai Rf yang Ekstrak dan fraksi-fraksi serta isolat B1
sama. Fraksi digabungkan menjadi 7 fraksi yang diperoleh selanjutnya dilakukan uji
berdasarkan kemiripan pola distribusi pada aktivitas sitotoksiknya terhadap sel HeLa
plat KLT seperti yang dapat dilihat pada menggunakan metode MTT (tetrazolium (3-
Tabel 3. (4,5-dimetiltiazol-2-il)2,5 difeniltetrazolium
bromida). Nilai IC50 yang diperoleh dapat
Tabel 3. Data Jumlah Setiap Fraksi dilihat pada Tabel 4.
Gabungan Hasil KVC
Kode Tabel 4. Nilai IC50 Uji Aktivitas Sitotoksik
Jumlah Rendemen
No Botol fraksi
(g) (%) Sampel IC50( g/mL)
gabungan
1. 1-2 A 0,60 4 Ekstrak metanol 282,24
2. 3-10 B 2,36 15,74 Fraksi n-heksana 280,18
3. 11-15 C 1,47 9,8
4. 16-21 D 1,76 11,73 Fraksi diklorometana 256,28
5. 22-25 E 1,18 7,87 Fraksi etil asetat 160,82
6. 26-30 F 1,50 10 Fraksi metanol 177,24
7. 31-33 G 0,90 6 Isolat B1 279,56

Fraksi dengan massa terbanyak yaitu Semakin rendah nilai IC50, maka
fraksi B (2,36 gram) diteruskan untuk aktivitas sitotoksik yang ditimbulkan
pemisahan lebih lanjut menggunakan semakin kuat. Berdasarkan Tabel 4 sampel
metode KKG. Proses KKG dilakukan yang memiliki aktivitas sitotoksik yang
menggunakan eluen bergradien dengan paling tinggi adalah fraksi etil asetat.
pelarut berturut-turut yaitu diklorometana:etil Menurut Prayong (2008), sitotoksisitas
asetat (1:9), etil asetat 100% dan metanol dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1)
100%. sitotoksik potensial jika nilai
Berdasarkan hasil KLT vial dengan IC50<100 g/mL, (2) sitotoksik sedang jika
nomor 3-5 memiliki pola pemisahan yang nilai 100 µg/mL<IC50<1000 µg/mL, dan tidak
sama. Vial-vial ini kemudian digabungkan toksik jika nilai IC50>1000 µg/mL. Fraksi
dan diberi kode fraksi B1 dan pelarutnya diklorometana dengan nilai IC 50 sebesar
diuapkan. Massa yang diperoleh sebanyak 256,28 µg/mL termasuk sitotoksik moderat.
10,97 mg. Isolat B1 kemudian diuji
kemurniannya menggunakan beberapa

50
JKK, Tahun 2018, Vol 7(1), halaman 48-52 ISSN 2303-1077

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa pada bilangan gelombang 2954-2854 cm-1


isolat B1 memiliki nilai IC50 sebesar 279,56 dengan bentuk intensitas yang sangat kuat
µg/mL, sedangkan fraksi diklorometana menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H
memiliki nilai IC50 sebesar 256,28 µg/mL. alifatik. Serapan yang tajam dan kuat pada
Dari nilai tersebut, dapat diketahui bahwa bilangan gelombang 1739,7 cm-1
kemampuan sitotoksik isolat lebih rendah menunjukkan regangan dari gugus fungsi
dibandingkan dengan fraksi diklorometana. C=O karbonil. Pada bilangan gelombang
Hal ini disebabkan karena pada fraksi 1461,9 cm-1, pita serapan yang terbentuk
diklorometana masih terdapat senyawa adalah tajam dengan intensitas yang kuat
lainnya seperti terpenoid, tannin, flavonoid menunjukkan ikatan C=C (sp2).
dan saponin yang dapat bersinergis Serapan pada daerah bilangan
-1
sehingga memiliki kemampuan sitotoksik gelombang 1272 cm dengan bentuk pita
yang tinggi dibandingkan dengan tajam dan intensitas sedang menunjukkan
kemampuan sitotoksik yang hanya terdapat serapan alkohol sekunder (-CH-OH). Pada
pada senyawa steroid. bilangan gelombang 1203-1172 cm-1
dengan bentuk pita tajam dan intensitas
Karakterisasi Senyawa kuat menunjukkan adanya ikatan C-O-C
Hasil spektrum UV-Vis memperlihatkan eter dari struktur.
bahwa isolat B1 memberikan serapan pada Dari data ini dapat disimpulkan bahwa
panjang gelombang 339,5 dan 220,5 nm senyawa isolat B1 mengandung gugus
yang merupakan ciri khas transisi π→π* hidroksil (OH), alkil (CH3 dan CH2), alkohol
dan n→π*. Serapan pada panjang sekunder (-CH-OH) dan ikatan C rangkap
gelombang tersebut menunjukkan bahwa dua (C=C). Spektrum IR dari isolat B1 dapat
senyawa ini merupakan suatu senyawa dilihat pada Gambar 2.
aromatik. Transisi elektronik n→π* terjadi
dari gugus yang mempunyai pasangan
elektron bebas, sedangkan transisi
elektronik π→π* terjadi dari gugus yang
mempunyai ikatan rangkap dua dari cincin
senyawa steroid. Spektrum UV-Vis dari
isolat B1 dapat dilihat pada Gambar 1.
Hasil spektrum infra merah
memperlihatkan bahwa isolat yang
Gambar 1. Spektrum UV-Vis Isolat B1
diperoleh menunjukkan serapan melebar

Gambar 2. Spektrum IR Isolat B1

51
JKK, Tahun 2018, Vol 7(1), halaman 48-52 ISSN 2303-1077

SIMPULAN Nuclear and Kinetoplast Replication.


Pak Vet J. 34(4): 444-445.
Berdasarkan spektrum UV-Vis dan
Mimaki, Y., Kuroda, M., Takaashi, Y., dan
spektrum IR menunjukkan adanya senyawa
Sashida, Y. 1996. Steroidal
steroid pada fraksi B1. Aktivitas sitotoksik
Saponisrom the Leaves of Cordyline
yang ditimbulkan oleh isolat B1 termasuk
stricta. Phytochemistry. 47(1): 79-83.
sitotoksik moderat.
Putra, C.P., Kuspradini, H., & Wijaya, I.
2015. Antioxidant and Antibacteries of
DAFTAR PUSTAKA
Leaves Extracts of Cordyline fruticosa
Bogoriani, N.W., Santi, S.R., & Asih, Sarsiti, Back. Pure and Applied Chemistry
I.A.R. 2007. Isolasi Senyawa Sitotoksik International Conference. 120-121.
dari Daun Andong (Cordyline terminalis Prayong, P., Barusrux, S., Weerapreeyakul,
Kunth). J. Kim. 1(1): 2-4. N. 2008. Cytotoxic Activity Screening of
Dyary, H.O., Arifah, A.K., Sharma, R.S.K., & Some Indigenous Thai Plants.
Rasedee, A. 2014. Antitrypanosomal Fitoterapia, 79(7):598-601.
and Cytotoxic Activities of Selected Wijayakusuma, H. 1992. Tanaman
Medicinal Plants and Effect of Berkhasiat Obat di Indonesia. Jilid 2.
Cordyline terminalis on Trypanosomal Pustaka Kartini. Jakarta.

52