You are on page 1of 2

By : Virda Kaka Oktaviani

Jum’at malam aku berangkat dari Surabaya menuju Kota Malang mengunjungi
kerabatku, retno, untuk mengisi hari liburanku. Namaku virda, minggu pagi ini
dimulai dari hal kecil dimana kami mencari makanan dan retno tempat yang sangat
tepat adalah Car Free day di Jalan Ijen. Disana sangat banyak pedangan dengan
berbagai aneka ragam yang mereka dagangkan. Mulai dari makanan sampai dengan
pakaian. Pedagang mulai dari mahasiswa sampai dengan orangtua.
Setelah berkeliling dan mendapatkan apa yang kami cari, aku ingin mengikuti
senam yang setiap minggu pagi diadakan di Simpang Balapan. “No, ikut senam yuk
sesekali” ajakku dan retno menyetujui ajakanku. Kami terus berjalan sampai dengan
aku melihat sebuah tanda palang yang mengartikan bahwa kendaraan tidak boleh
melewati jalan tersebut. Aku sedikit heran hingga bertanya pada retno, “No, di depan
gereja ada palang tidak seperti biasanya”, “Oh, jalanan hari ini ditutup dari Simpang
Balapan sampa depan gereja tapi entah, aku kurang tahu ada mereka memblokir jalan”
jawab retno. Dan aku mulai penasaran sebenarnya apa yang mereka lakukan sehingga
mereka harus memblokir jalan dengan palang tersebut. Kamipun kembali berjalan dan
melihat banyak stand yang didirikan pada sisi kiri dan kanan jalan. Aku tertegun
melihat apa yang berada didalam tiap stand serta tak lupa dengan musik tradisional
yang berada pada sisi kiri dan kanan sepanjang jalan ini dan tanpa ku sadari sebuah
lekungan menghiasi wajahku. Stand diisi dengan ke khasan tempo dulu seperti
pembuatan permen gulali, kopi khas dan disajikan dengan caara yang khas juga, dan
masih banyak lagi. Aku sangat menikmati musik tradisional dengan suara gamelang
yang sangat jelas di indera pendengaranku. Tapi ada satu menarik perhatianku, suara
beberapa orang sangat lantang nan tegas. Suara itu terdengar dekat dan semakin dekat,
musik menegang, suara gemuruh dan teriakan memenuhi indera pendengaranku. “No,
disana ada apa ya? Kok ramai dan kayaknya menarik ya?” tanyaku pada retno.
“Udah, ayo kita lihat aja kesana” jawab retno tanpa menjawab pertanyaanku.
Kami mulai mendekat dan betapa beruntungnya hari ini aku dapat melihat Drama
Musikalisasi Malang Tempoe Doeloe. Retno menjelaskan drama musikal ini baru
kembali diadakan setelah 9tahun lamanya. Drama musikal Malang Tempoe Doeloe
mengisahkan bagaimana kisah kehidupan tempo dulu masyarakat kota malang,
bagaimana tentramnya suasana kota malang tempo dulu, dan bagaimana perjuangan
masyakat tempo dulu pada zaman jajahan. “Keren” ya hanya itu yang dapat ku
katakan. Dan tanpa kami sadari kami mengikuti jalan drama musikal sampai
penghujung drama dengan diiringi lagu Kebyar-Kebyar dari band Cokelat. Lagu itu
membuat ku bergidik dan terharu.
“No, pulang yuk!” ajakku dan retno hanya tersenyum dan mengangguk sebagai
jawaban. Kami berjalan pulang dengan tanpa sepatah katapun. Entahlah apa yang
sedang dipikirkan retno, yang jelas retno terus bungkam dan enggan menatap ke
arahku atau kearah lain. Tatapannya hanya lurus kedepan. Sementara aku terus
memikirkan drama musikal yang telah usai kami ikuti tadi. Betapa indahnya budaya
saat tempo dulu. Budaya yang sangat kental, baik dari sandang, pangan, kerja, serta
transportasi yang menjadi andalan masyarakat tempo dulu. Betapa besar perjuangan
pahlawan untuk melawan jajahan, memerdekakan negara kami sampai kami dapat
hidup nyaman dan sejahtera seperti saat ini. Tapi aku merasa kami bangsa yang harus
meneruskan perjuangan hanya menyia-nyiakan dengan mudah tergoda teknologi
canggih tanpa menyaring dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Kami
mudah terjajah dengan hal-hal seperti lebih menyukai barang dari luar yang padahal
kami bisa memproduksi barang yang sama dengan menggunakan bahan lokal. Dan
aku sekarang aku harus semangat belajar dan melestarikan apa yang negara kami
miliki. Aku tidak ingin menjadi orang yang sia-sia. Mulai dari hal kecil saja bisa
membuat negara ini lebih baik lagi. Tapi aku merasakan tubuhku bergoyang dan
“Mau sampai kapan diam seperti patung? Dah sampai rumah ni” ucapan retno
membuatku tersadar dari pikiranku sedari tadi. Aku hanya tersenyum dan berjalan
mengikutinya masuk ke rumah dan kamipun beristirahat.