You are on page 1of 15

NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

Pengaruh Pembelajaran Interprofessional Education (IPE) Terhadap


Persepsi dan Sikap Untuk Bekerjasama Mahasiswa Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

The Effect of Interprofessional Education (IPE) Toward the Perceptions and


Cooperating Attitudes of Students of Medicine and Health Science Faculty,
Muhammadiyah Yogyakarta University

Laksmi Putri Utami1, Salmah Orbayinah2


Pharmacy School, Faculty of Medicine and Health Science1
Department of Pharmacy, Faculty of Medicine and Health Science2
Muhammadiyah Yogyakarta University
laksmiputriutami@gmail.com

ABSTRACT
The lack of understanding of health profession toward the competence of
other health professions on health care in hospital is due to overlapping roles
among health professions. It causes health education should implementing about
collaborative learning early. IPE (Interprofessional Education) is a collaborative
learning among health professions in the effort of being promotive, preventive,
curative, and rehabilitative. Perceptions and attitudes in cooperating is very
important part in implementation of IPE.
This study aims to understand and determine The Effect of Interprofessional
Education (IPE) Toward the Perceptions and Cooperating Attitudes of Students of
Medicine and Health Science Faculty, Muhammadiyah Yogyakarta University.
This study uses descriptive analytic design with cross sectional approach.
The technique of sampling is using non probability sample technique in a
purposive sampling. The samples are ninety-four students consisting of 21
students from medical education profession, 25 students from dentist education
profession, 25 students from nursing profession and 21 undergraduates of
pharmacy major who met the inclusion criteria. The data are collected from
questinonaires referring to Interdisciplinary Education Perception Scale and
Attitudes toward Health Care Teams Scale. The comparative test used Kruskall
Wallis test.
The result of study showed that most of the students of Medicine and Health
Science Faculty of Muhammadiyah Yogyakarta University showed good
perceptions toward IPE specifically 75,5% (71 out of 94 students) and the
attitudes of cooperating students of FKIK UMY are mostly in the good category
which is 70,2% (66 out of 94 students). The results of the statistical test showed
there were no significant differences in perceptions in the using of IPE (p>0,05)
and there were no significant changes in the attitudes of cooperating (p>0,05).
Conclusion of study is Interprofessional Education (IPE) affects the
perceptions and cooperating attitudes of students of Medicine and Health Science
Faculty Muhammadiyah Yogyakarta University.

Keywords: Perceptions, cooperating attitudes, Interprofessional Education (IPE).

1 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

INTISARI
Kurangnya pemahaman suatu profesi kesehatan terhadap kompetensi profesi
kesehatan lainnya dalam pelayanan kesehatan di Rumah sakit terjadi karena
adanya tumpang tindih peran antar profesi kesehatan. Hal ini menyebabkan dunia
pendidikan kesehatan untuk dapat menerapkan pembelajaran kolaborasi sejak
dini. Interprofessional Education (IPE) adalah pembelajaran kolaborasi antar
profesi kesehatan dalam upaya diantara lain promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Persepsi dan sikap untuk bekerjasama merupakan bagian yang sangat
penting dalam pelaksanaan IPE.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran IPE
terhadap persepsi dan sikap untuk bekerjasama mahasiswa Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik
non probability sample secara purposive sampling. Sampel berjumlah Sembilan
puluh empat mahasiswa yang terdiri dari 21 mahasiswa Profesi Pendidikan
Dokter, 25 mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter Gigi, 25 mahasiswa Profesi
Ilmu Keperawatan dan 21 mahasiswa Strata Satu (S1) Farmasi yang memenuhi
kriteria inklusi. Pengambilan data melalui kuesioner mengacu pada
Interdiciplinary Education Perception Scale dan Attitudes Toward Health Care
Teams Scale. Uji komparatif dengan melakukan uji Kruskall-Wallis .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap IPE mahasiswa
FKIK UMY sebagian besar menunjukkan kategori baik yaitu 75,5% (71
mahasiswa dari 94 mahasiswa) dan sikap untuk bekerjasama Mahasiswa FKIK
UMY sebagian besar menunjukkan kategori baik yaitu 70,2% (66 mahasiswa dari
94 mahasiswa). Dan dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan nilai persepsi yang signifikan diantara mahasiswa FKIK UMY
terhadap IPE (p>0,05) dan tidak terdapat perbedaan nilai sikap untuk bekerjasama
yang signifikan diantara mahasiswa FKIK UMY (p >0,05).
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pembelajaran
Interprofessional Education (IPE) terhadap persepsi dan sikap untuk bekerjasama
mahasiswa FKIK UMY.

Kata kunci : Persepsi, Sikap Untuk Bekerjasama, Interprofessional Education


(IPE)

2 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

PENDAHULUAN mengembangkan pengetahuan, sikap


Kemajuan pelayanan kesehatan dan keterampilan yang dibutuhkan
telah membuat seorang tenaga untuk berkolaborasi interprofessional
kesehatan tidak mungkin bekerja secara efektif (Glen, 2003). Oleh
sendirian untuk memberikan karena itu, pada tahun 2007, WHO
pelayanan yang optimal (ACCP, mengadakan kelompok studi
2009). Peningkatan human error interprofessional education
yang dilakukan tenaga kesehatan (WHO,2007). Dan sejak saat itu
membuat sistem managemen berbagai program pendidikan
pengobatan pada pasien maupun kesehatan yang professional
sistem pendidikan kesehatan diseluruh dunia telah berusaha untuk
professional harus diperbaiki. Institut memperkenalkan IPE kedalam
of Medicine (IOM) dalam “Health kurikulum mereka.
Professions Education” Sebuah studi yang dilakukan
merekomendasikan untuk menata oleh staf ahli fakultas dari St. Louis
ulang proses pendidikan kesehatan College of Pharmacy pada tahun
sehingga dapat menyediakan 2007 menyebutkan bahwa lebih dari
pelayanan kesehatan yang 60% perguruan tinggi di Amerika
professional, baik dalam tatanan Serikat menerapkan IPE pada tahun
akademik maupun praktik, untuk ketiga atau keempat, sebanyak 25%
meningkatkan pengetahuan, dari perguruan tinggi tersebut
keterampilan, dan sikap untuk menerapkan IPE pada tahun pertama.
bekerja secara efektif dalam Interprofessional Education
lingkungan multidisiplin (ACCP, (IPE) menurut The Centre on
2009). Dengan sistem pembelajaran Advancement of Interprofessional
yang melibatkan adanya interaksi Education (CAIPE, 2002) adalah
profesi kesehatan yang lain, pembelajaran yang terjadi ketika dua
mahasiswa dapat mengamati dan atau lebih mahasiswa program studi
mendiskusikan bagaimana petugas kesehatan yang berbeda belajar
kesehatan professional bekerjasama bersama yang bertujuan untuk
sehingga mereka dapat meningkatkan kerjasama dan kualitas

3 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

pelayanan kesehatan. Dengan adanya mengetahui pengaruh pembelajaran


pembelajaran IPE diharapkan adanya IPE terhadap sikap untuk
reaksi, modifikasi sikap dan persepsi, bekerjasama mahasiswa FKIK UMY.
tambahan pengetahuan dan
METODE PENELITIAN
keterampilan, perubahan sikap,
Penelitian ini merupakan
perubahan dalam sebuah praktek
penelitian deskriptif analitik
berorganisasi serta manfaat untuk
pendekatan cross sectional, artinya
pasien (ACCP,2009).
pengukuran variabel hanya dilakukan
Di Indonesia IPE sendiri masih
satu kali pada satu saat.
dipandang sebagai sebuah konsep
Populasi dalam penelitian ini
baru dalam pendidikan kesehatan
adalah mahasiswa FKIK UMY tahap
professional sehingga terbukti
profesi program Pendidikan Dokter,
kolaborasi antar profesi masih jauh
Pendidikan Dokter Gigi, Ilmu
dari yang diinginkan. Masih terjadi
Keperawatan dan mahasiswa strata
tumpang tindih peran antar profesi
satu (S1) Farmasi yang berdasarkan
kesehatan dikarenakan kurangnya
dengan kriteria inklusi dan eksklusi
pemahaman suatu profesi kesehatan
peneliti tetapkan.
lainnya. Untuk itu perlu kiranya
Pengambilan sampel penelitian
pembelajaran IPE diberikan kepada
ini dilakukan dengan cara teknik Non
mahasiswa pada tahap pre-klinik dan
Probability Sample secara Purposive
tahap klinik.
Sampling yaitu pengambilan sampel
Tahun 2013 Fakultas
dilakukan hanya atas dasar
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
pertimbangan peneliti saja yang
(FKIK) Universitas Muhammadiyah
menganggap unsur-unsur yang
Yogyakarta (UMY) telah
dikendaki telah ada dalam anggota
menerapkan pembelajaran IPE pada
sampel yang diambil.
kurikulum pendidikannya.
Penelitian dilakukan pada bulan
Tujuan dari penelitian ini
Juni-September 2014 yang bertempat
adalah mengetahui pengaruh
di kampus Fakultas Kedokteran dan
pembelajaran IPE terhadap persepsi
mahasiswa FKIK UMY dan

4 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas HASIL DAN PEMBAHASAN


Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Berdasarkan data yang diambil
Variabel penelitian ini terbagi di FKIK UMY periode Juni –
menjadi dua yaitu variabel bebas September 2014 didapatkan 94
adalah IPE dan variabel tergantung responden mewakili masing-masing
adalah persepsi dan sikap untuk keempat program studi di FKIK
bekerjasama. UMY yang sedang mengikuti
Instrument yang digunakan program pembelajaran IPE.
dalam penelitian ini berupa Karakteristik masing – masing
kuesioner. Kuesioner tersebut responden yang mengikuti program
mengacu pada Interdiciplinary pembelajaran IPE di FKIK UMY
Education Perception Scale (IEPS) dapat dilihat di Tabel 1 berikut ini :
dan Attitudes Toward Health Care Tabel 1. Karakteristik responden
mahasiswa FKIK UMY
Teams Scale (ATHCT) yang
yang mengikuti
menggunakan tingkatan skala likert. pembelajaran IPE
Karakteristik Frekuensi Persentase
Analisis data pada penelitian (%)
Program Studi
ini dilakukan dengan cara analisis
Pendidikan
23 24,5 %
univariat dan analisis bivariat. Dokter
Pendidikan
25 26,6 %
Analisis univariat dilakukan dengan Dokter Gigi
Ilmu
cara membuat tabel distribusi 25 26,6 %
Keperawatan
frekuensi dan persentase, sedangkan Farmasi 21 22,3 %
Angkatan
analisis univariat dilakukan dengan 2007 1 1,1 %
2008 47 50,00 %
cara uji normalitas data terlebih 2009 25 26,6 %
2011 21 22,3 %
dahulu menggunakan Kolmogorof
Total
94 Orang 100%
Smirnov dan Shapiro Wilk. Responden

Selanjutnya dilakukan uji komparatif Berdasarkan tabel diatas dapat


menggunakan One Way ANOVA diketahui bahwa terdapat 94
jika data menunjukkan terdistribusi responden yang mengikuti penelitian
normal dan Kruskall-Wallis jika data ini dan berdasarkan program studi
menunjukkan terdistribusi tidak responden terbanyak adalah program
normal. studi pendidikan dokter gigi (26,6%)

5 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

dan program studi ilmu keperawatan UMY dapat dilihat pada tabel 1
(26,6%), sedangkan berdasarkan berikut :
angkatan responden terbanyak Tabel 1. Distribusi frekuensi persepsi terhadap
IPE pada mahasiswa tahap profesi
berasal dari angkatan 2008 (50,00%).
dan atau strata satu (S1) FKIK UMY
Semua responden merupakan Frekuensi Persentase
No Kategori
mahasiswa tahap pendidikan profesi (f) (%)
yaitu program studi pendidikan 1 Baik 71 75,5
2 Cukup 22 23,4
dokter, program studi pendidikan 3 Kurang Baik 1 1,1
dokter gigi dan program studi ilmu 4 Tidak Baik 0 0
keperawatan, sedangkan untuk
Berdasarkan tabel diatas dapat
program studi farmasi yaitu
diketahui bahwa 71 dari 94
mahasiswa tahap pendidikan strata
mahasiswa FKIK UMY (75,5%)
satu (S1) karena mahasiswa program
mempunyai persepsi terhadap IPE
studi farmasi yang diikutkan pada
dalam kategori baik dan hal tersebut
pembelajaran IPE belum
dikarenakan mahasiswa sudah
mendapatkan program profesi.
memiliki pengalaman berkolaborasi
Persepsi terhadap IPE.
dengan mahasiswa profesi lain.
Penelitian ini menggunakan
Menurut Morison (2003) mahasiswa
instrument berupa kuesioner yaitu
yang mempunyai persepsi terhadap
kuesioner IEPS (Interdiciplinary
IPE yang baik pada saat kuliah akan
Education Perception Scale) yang
dapat meningkatkan hubungan
berfungsi untuk mengukur persepsi
interprofesi dalam memberikan
terhadap IPE yang dimiliki
perawatan kesehatan pasien ketika
responden dan dikategorikan menjadi
mereka telah bekerja sebagai petugas
4 tingkatan yaitu baik, cukup, kurang
kesehatan professional.
baik dan tidak baik.
Untuk mengetahui lebih
1. Nilai persepsi mahasiswa FKIK
dalam tentang persepsi mahasiswa
UMY terhadap IPE.
FKIK UMY terhadap IPE dilakukan
Hasil pengukuran persepsi
analisis terhadap komponen persepsi
terhadap IPE pada mahasiswa FKIK
terhadap IPE yang meliputi

6 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

kompetensi dan otonomi, kebutuhan 2. Nilai persepsi terhadap IPE


untuk bekerjasama, bukti mahasiswa FKIK UMY
bekerjasama dan pemahaman berdasarkan program studi
terhadap profesi lain. Berdasarkan Hasil pengukuran persepsi
analisis terhadap komponen- mahasiswa terhadap IPE berdasarkan
komponen persepsi terhadap IPE program studi dapat diketahui bahwa
dihasilkan bahwa sebagian besar keempat program studi yaitu 17 dari
masuk dalam kategori baik. 23 mahasiswa PSPD (73,91%), 22
Persentase kategori baik terbanyak dari 25 mahasiswa PSPDG (88%),
yaitu pada komponen bukti 19 dari 25 mahasiswa PSIK (76%)
bekerjasama (81,1%) dan persentase dan 13 dari 21 mahasiswa PSF
kategori baik terendah yaitu pada (61,90%) mempunyai persepsi
pemahaman terhadap profesi lain terhadap IPE dalam kategori baik.
Tabel 3. Distribusi frekuensi komponen persepsi terhadap IPE pada mahasiswa
FKIK UMY
Baik Cukup Kurang Tidak
No Komponen Baik Baik
F % F % F % F %
1 Kompetensi dan otonomi 72 76,6 22 23,4 0 0 0 0
2 Kebutuhan Bekerjasama 75 79,8 18 19,1 1 1,1 0 0
3 Bukti Bekerjasama 77 81,1 15 16,0 2 2,1 0 0
Pemahaman terhadap
4 47 50,0 46 48,9 0 0 1 1,1
profesi lain

(50,0%). Menurut Parsell (1998) Tingginya persentase tersebut


dengan adanya pemahaman yang menggambarkan sebagian besar
baik terhadap peran profesi mahasiswa keempat program studi
kesehatan yang lain dapat mencegah siap untuk mendapatkan
adanya peran yang over-lap dari pembelajaran IPE. Secara lengkap
petugas kesehatan dalam tim hasil pengukuran persepsi terhadap
interprofesi. Secara lengkap analisis IPE berdasarkan program studi
terhadap komponen persepsi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.
terhadap IPE dapat dilihat pada tabel
3.

7 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

Tabel 4. Distribusi frekuensi persepsi terhadap IPE pada mahasiswa FKIK UMY
berdasarkan program Studi
PSPD PSPDG PSIK PSF
No Kategori
F (%) F (%) F (%) F (%)
1 Baik 17 73,9 22 88 19 76 13 61,90
2 Cukup 6 26,1 2 8 6 24 8 38,1
3 Kurang baik 0 0 1 4,0 0 0 0 0
4 Tidak Baik 0 0 0 0 0 0 0 0

Hasil persentase yang Dilakukan juga analisis


diperoleh dari data diatas, dilakukan terhadap komponen persepsi
uji komparatif menggunakan uji non terhadap IPE berdasarkan komponen
parametrik Kruskall-Wallis. yang persepsi terhadap IPE berdasarkan
bertujuan untuk mengetahui apakah program studi dengan hasil dapat
terdapat perbedaan yang signifikan dilihat pada tabel 5 bahwa semua
persepsi terhadap IPE diantara komponen persepsi terhadap IPE
mahasiswa keempat program FKIK pada mahasiswa FKIK UMY
UMY. diantara keempat program studi yaitu
Berdasarkan uji Kruskall- PSPD, PSPDG, PSIK dan PSF dalam
Wallis didapatkan hasil nilai p = kategori baik. Persentase kategori
0,285 (p>0,05) sehingga dapat baik terbanyak yaitu pada komponen
disimpulkan bahwa tidak terdapat bukti bekerjasama, sedangkan
perbedaan yang signifikan persepsi kategori baik terendah yaitu pada
terhadap IPE diantara mahasiswa komponen pemahaman terhadap
keempat program studi yaitu PSPD, profesi lain untuk mahasiswa FKIK
PSPDG, PSIK dan PSF. Sesuai UMY yaitu PSPD (56,5%),
dengan penelitian lain oleh Hawk et. mahasiswa PSPDG (60,0%),
al, (2002) bahwa tidak ada perbedaan mahasiswa PSIK (40,0%) dan
persepsi terhadap IPE antara mahasiswa PSF (42,9%). Hal ini
mahasiswa kedokteran dan dikarenakan keterbatasannya waktu
keperawatan karena keduanya sama- untuk memahami peran antar
sama mempunyai persepsi yang baik. mahasiswa profesi lain, sehingga
mereka kurang memiliki

8 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

pengetahuan yang baik terhadap terhadap IPE diantara keempat


peran profesi yang lain. program studi yaitu PSPD, PSPDG,
Menurut Hall (2005) dalam PSIK dan PSF dengan tujuan untuk
penelitiannya mengatakan bahwa mengetahui apakah terdapat
kurang maksimalnya pemahaman perbedaan yang signifikan persepsi
terhadap profesi lain disebabkan terhadap IPE berdasarkan komponen.
masih adanya kerancuan peran Berdasarkan hasil analisis
Tabel 5. Distribusi persentase komponen persepsi terhadap IPE pada mahasiswa
FKIK UMY berdasarkan program studi
PSPD PSPDG
No Komponen B C KB TB B C KB TB
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Kompetensi dan otonomi 73,9 26,1 0 0 72,0 28,0 0 0
2 Kebutuhan Bekerjasama 78,3 21,7 0 0 88,0 8,0 4,0 0
3 Bukti Bekerjasama 82,6 13,1 4,3 0 92,0 4,0 4,0 0
4 Pemahaman terhadap profesi lain 56,5 43,5 0 0 60,0 36,0 0 4,0

PSIK PSF
No Komponen B C KB TB B C KB TB
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Kompetensi dan otonomi 84,0 16,0 0 0 76,2 23,8 0 0
2 Kebutuhan Bekerjasama 72,0 28 0 0 81,0 19,0 0 0
3 Bukti Bekerjasama 92,0 8,0 0 0 57,1 42,9 0 0
4 Pemahaman terhadap profesi lain 40,0 60,0 0 0 42,9 57,1 0 0

profesi diantara tenaga medis. Oleh


non parametrik Kruskall-Wallis
karena itu beberapa responden
perbedaan persepsi terhadap IPE
menganjurkan penerapan IPE dalam
diantara mahasiswa keempat
sistem pembelajaran untuk
program studi dalam komponen-
memperjelas peran dan tanggung
komponen persepsi yang ada dapat
jawab masing-masing profesi.
diperoleh yaitu empat komponen
Dari hasil data diatas dilakukan
sikap untuk bekerjasama yaitu
uji komparatif menggunakan
kompetensi dan otonomi memiliki
Kruskall-Wallis pada aspek
nilai p=0,621, kebutuhan untuk
komponen - komponen persepsi
bekerjasama memiliki nilai p=0,621

9 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

dan pemahaman terhadap profesi lain Tabel 6. Distribusi frekuensi sikap untuk
bekerjasama pada mahasiswa tahap
memiliki nilai p=0,504 maka dapat
profesi dan atau strata satu (S1)
diinterpretasikan bahwa tidak FKIK UMY
terdapat pebedaan secara signifikan Frekuensi Persentase
No Kategori
(f) (%)
antara mahasiswa keempat program
1 Baik 66 70,2
studi dikarenakan nilai p value > 2 Cukup 28 29,8
0,05. Namun berbeda dengan 3 Kurang Baik 0 0
4 Tidak Baik 0 0
komponen persepsi bukti kerjasama
dimana p value < 0,05 yaitu 0,011 Berdasarkan tabel diatas dapat
atau terdapat perbedaan antara diketahui bahwa sebagian besar
mahasiswa keempat program studi. mahasiswa FKIK UMY mempunyai
Sikap untuk bekerjasama. sikap untuk bekerjasama dalam
Penelitian ini menggunakan kategori baik (70,2%).
instrument berupa kuesioner yaitu Sikap untuk bekerjasama
kuesioner ATHCT (Attitudes Toward dapat dibagi berdasarkan
Health Care Teams Scale) yang komponennya yaitu sikap terhadap
berfungsi untuk mengukur sikap nilai dalam tim, sikap terhadap
untuk bekerjasama yang dimiliki efisiensi sebuah tim, dan sikap
responden dan dikategorikan menjadi terhadap berbagi peran dalam sebuah
kategori baik, cukup, kurang baik tim. Distribusi frekuensi sikap untuk
dan tidak baik. bekerjasama berdasarkan program
1. Nilai sikap untuk bekerjasama studi dapat dilihat pada Tabel 7 yaitu
mahasiswa FKIK UMY semua komponen sikap untuk
Hasil pengukuran nilai sikap bekerjasama terhadap IPE pada
untuk bekerjasama pada mahasiswa mahasiswa FKIK UMY sebagian
FKIK UMY dapat dilihat pada tabel besar masuk dalam kategori baik.
6 berikut ini : Persentase kategori baik yang paling
tinggi yaitu pada sikap terhadap nilai
dalam tim (88,3%). Hal tersebut
terjadi karena responden sudah
mempelajari terhadap bagaimana

10 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

cara berkolaborasi yang baik dengan 23 mahasiswa PSPD (78,3%), 16


profesi lain dalam perkuliahan dari 25 mahasiswa PSPDG ( 64,0%),
sehingga mereka paham tentang 17 dari 25 mahasiswa PSIK (68,0%)
sikap terhadap nilai dalam dan 15 dari 21 mahasiswa PSF
interprofesi. Persentase terendah (71,4%) mempunyai sikap untuk
pada kategori baik adalah komponen bekerjasama dengan kategori baik
sikap terhadap berbagai peran (Tabel 8).
(52,1%). Hal tersebut dikarenakan Hasil persentase yang
Tabel 7. Distribusi frekuensi komponen sikap untuk bekerjasama pada mahasiswa
FKIK UMY
Baik Cukup Kurang Baik Tidak Baik
No Komponen
F % F % F % F %
1 Sikap terhadap nilai
83 88,3 11 11,7 0 0 0 0
dalam tim
2 Sikap terhadap efisiensi
51 54,25 29 30,85 12 12,8 2 2,1
sebuah tim
3 Sikap terhadap berbagai
49 52,2 21 22,3 14 14,9 10 10,6
peran dalam tim

terbatasnya kesempatan untuk saling Diperoleh diatas, dilakukan uji


bekerjasama melakukan pelayanan komparatif menggunakan uji non
kesehatan pasien. Menurut parametrik Kruskall-Wallis. yang
MacDonald (2009) bahwa bertujuan untuk mengetahui apakah
mahasiswa yang kurang mengerti terdapat perbedaan yang signifikan
tentang profesi kesehatan yang lain sikap untuk bekerjasama diantara
akan sulit untuk berbagi peran mahasiswa keempat program FKIK
dengan profesi lain. UMY.
2. Nilai sikap untuk bekerjasama Berdasarkan uji Kruskall-
mahasiswa di FKIK UMY Wallis didapatkan hasil nilai p =
berdasarkan program studi 0,745 (p>0,05) sehingga dapat
Hasil pengukuran sikap untuk disimpulkan bahwa tidak terdapat
bekerjasama yang dimiliki setiap perbedaan yang signifikan diantara
mahasiswa berdasarkan program diantara mahasiswa keempat
studi dapat diketahui bahwa 18 dari program studi.

11 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

Tabel 8. Distribusi frekuensi sikap untuk bekerjasama pada mahasiswa FKIK


UMY berdasarkan program studi
PSPD PSPDG PSIK PSF
No Kategori
F (%) F (%) F (%) F (%)
1 Baik 18 78,3 16 64,0 17 68,0 15 71,4
2 Cukup 5 21,7 9 36,0 8 32,0 6 28,6
3 Kurang baik 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Tidak Baik 0 0 0 0 0 0 0 0

Untuk mengetahui lebih (60,0%). Hal ini dikarenakan


dalam tentang sikap untuk sebagian besar mahasiswa farmasi
bekerjasama mahasiswa diantara ada yang belum mengerti dengan
keempat program studi di FKIK peran profesi kesehatan yang lain
UMY dilakukan analisis terhadap sehingga hal tersebut menyebabkan
komponen sikap untuk bekerjasama sebagian besar mahasiswa farmasi
yang meliputi sikap terhadap nilai kurang memahami tentang sikap
dalam tim, sikap terhadap efisiensi untuk berbagi peran. Dalam
sebuah tim dan sikap terhadap penelitiannya Leaviss (2000)
berbagai peran dalam tim dapat menyebutkan bahwa responden yang
dilihat pada Tabel 9 yaitu semua mempunyai sikap untuk berbagi
komponen sikap terhadap nilai dalam peran yang lebih positif dikarenakan
tim mahasiswa FKIK UMY pada responden mempunyai pengetahuan
mahasiswa PSPD, PSPDG, PSIK yang baik tentang peran profesi
dan PSF dalam kategori baik. kesehatan yang lain
Namun terdapat hal yang menarik Dari hasil data diatas dilakukan
dan menonjol yaitu persentase pada uji komparatif menggunakan
komponen sikap terhadap berbagai Kruskall-Wallis pada aspek
dalam tim mahasiswa PSF (23,8%) komponen-komponen sikap untuk
memiliki nilai dalam kategori baik bekerjasama diantara mahasiswa
persentase sangat terendah keempat program studi yaitu PSPD,
dibandingkan dengan mahasiswa PSPDG, PSIK dan PSF dengan
PSPD (69,6%), mahasiswa PSPDG tujuan untuk mengetahui apakah
(52,0%) dan mahasiswa PSIK terdapat perbedaan yang signifikan

12 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

sikap untuk bekerjasama berdasarkan komponen lain yaitu sikap terhadap


komponen. berbagai peran dalam tim dimana
Berdasarkan hasil analisis nilai p value < 0,05 yaitu p=0,011
non parametrik Kruskall-Wallis atau terdapat perbedaan antara
perbedaan sikap untuk bekerjasama mahasiswa keempat program studi.
mahasiswa diantara keempat Hal ini terlihat dari hasil sebelumya
program studi dalam komponen- bahwa komponen sikap terhadap
komponen sikap untuk bekerjasama berbagai peran dalam tim pada
yang ada dapat diperoleh bahwa tiga mahasiswa FKIK UMY termasuk
komponen sikap untuk bekerjasama, kategori baik namun mahasiswa PSF
yaitu sikap terhadap nilai dalam tim (23,8%) termasuk kategori baik
(p=0,767) dan sikap terhadap paling rendah, dapat dikatakan
efesiensi sebuah tim (p=0,621) tidak mahasiswa PSF masih kurang
terdapat pebedaan secara signifikan memahami peran profesi yang lain
antara mahasiswa keempat program sehingga mereka kurang memiliki
studi dikarenakan nilai p value > sikap yang baik untuk berbagai peran
0,05. Namun berbeda dengan dengan profesi lain.
Tabel 9. Distribusi persentase komponen sikap untuk bekerjasama pada
mahasiswa FKIK UMY berdasarkan program studi
PSPD PSPDG
No Komponen B C KB TB B C KB TB
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Sikap terhadap nilai dalam tim 78,3 21,7 0 0 88,0 12,0 0 0
2 Sikap terhadap efisiensi sebuah tim 56,5 39,2 4,3 0 40,0 28,0 24,0 8,0
3 Sikap terhadap berbagai peran
69,6 21,7 8,7 0 52,0 12,0 4,0 32,0
dalam tim

PSIK PSF
No Komponen B C KB TB B C KB TB
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Sikap terhadap nilai dalam tim 92,0 8,0 0 0 95,2 4,8 0 0
2 Sikap terhadap efisiensi sebuah tim 60,0 20,0 20,0 0 61,9 38,1 0 0
Sikap terhadap berbagai peran
3 60,0 12,0 20,0 8,0 23,8 47,6 28,6 0
dalam tim

13 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

education- A definition.
KESIMPULAN
London:CAIPE.
Dari hasil penelitian di atas,
Glen, S., & Revees, S. (2003).
dapat ditarik beberapa kesimpulan
Developing interprofessional
penelitian, yaitu :
education in the pre-registration
1. Pembelajaran Interprofessional
curricula: mission imposible?.
Education (IPE) mempunyai
Nurse Education in Practic, 4,
pengaruh terhadap persepsi dan
45-52
sikap untuk bekerjasama
Hall, P. (2005). Interprofessional
mahasiswa FKIK UMY.
teamwork: Professional cultures
2. Mahasiswa FKIK UMY
as barriers. Journal of
mempunyai persepsi yang baik
Interprofessional Care, 19: 188-
terhadap Interprofessional
196
Education dan mempunyai sikap
Hawk, C., Buckwalter, K., Byrd, L.,
untuk bekerjasama yang baik
Cigelman, S., Dofman, L.,
dengan adanya pembelajaran
Ferguson, K., (2002). Health
Interprofessional Education.
professions students’

DAFTAR PUSTAKA perceptions of interprofessional

American College of Clinical relationships. Academic

Pharmacy. (2009). Medicine, 77(04): 354-357.

Interprofessional Education: Leaviss, J. (2000). Exploring The

Principles and Application, a Perceived Effect Of An

Faramework for Clinical Undergraduate

Pharmacy. Pharmacotherapy, Multiprofessional Education

29(3), 145-164. Diakses dari Intervention. Medical

http://www.accp.com/docs/posit Education, 34: 483-486

ionswhitePapers/InterProfEduc. MacDonald, M. B., Bally, J. M.,

pdf pada tanggal 18 mei 2014 Ferguson, L. M., Murray, B. L.,

Centre for the Advancement of Fowler-Kerry., & Anonson, J.

Interprofessional Education. M. S. (2009). Nurse Education

2002. Interprofessional in Practic,10: 238-242.

14 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY


NASKAH PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH 24 Februari 2015

Morison, S., Boohan, M., Moutray,


M., Jenkins, J. (2003).
Developing Pre-Qualification
Interprofessional Education For
Nursing and Medical Student:
Sampling Student Attitude To
Guide Development. Nursing
Education in Practice, 4: 20-29.
Parsell, G., Spalding, R., Bligh, J.
(1998). Shared Goals, Shared
Learning: Evaluation Of A
Multiprofessional Course Of
Undergraduate Student. Medical
Education Journal, 32: 304-311.
World Health Organization, 2007.
World Health Organization
Study Group on
Interprofessional Education and
Collaborative Practice.

15 LAKSMI PUTRI UTAMI (20110350087) I FARMASI FKIK UMY