PENETAPAN KADAR KAFEIN DALAM CAMPURAN PARASETAMOL, SALISILAMIDA, DAN KAFEIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF M.G.

Devi Wulandari, Regina Dinta Friamita, Christine Patramurti
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Intisari Telah dilakukan penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol, salisilamida, dan kafein secara spektrofotometri derivatif dengan menggunakan metode zero crossing dan peak-to-peak. Apliksi metode spektrofotometri derivatif dengan kedua cara tersebut dilakukan dengan membuat spektra serapan normal, spektra derivat pertama, spektra derivat kedua, maupun spektra derivat ketiga. Berdasarkan spektra yang didapat kemudian ditentukan panjang gelombang zero crossing parasetamol dan salisilamida terhadap kafein serta panjang gelombang peak-to-peak dari kafein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai recovery kafein dengan metode zero crossing adalah 95,153%-106,625% sedangkan dengan metode peak-to-peak adalah 92,639–100,503% dan nilai CV dengan metode zero crossing sebesar 1,895% sedangkan dengan metode peak-to-peak sebesar 1,34%. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol, salisilamida, dan kafein secara spektrofotometri derivatif dengan aplikasi metode zero crossing dan metode peak-topeak memiliki akurasi dan presisi yang baik. Kata kunci : kafein, spektrofotometri derivatif, zero crossing, peak-to-peak

Bab I. Pendahuluan Saat ini banyak beredar sediaan obat dengan lebih dari tiga komponen zat aktif, terutama sediaan analgesik. Salah satu kombinasi zat aktif yang sering digunakan adalah parasetamol, salisilamida dan kafein yang berkhasiat sebagai analgesik dan antipiretik dalam produk influenza dengan berbagai merek dagang misalnya: Anarin, Anaflu, Cold, Contra flu, Corexin dan Refagan (Anonim, 2003). Kafein dapat ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri ultraviolet (Clarke, 1969). Pada penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol, salisilamida, dan kafein secara spektrofotometri ultraviolet yang menjadi kendala adalah terjadinya tumpang tindih (overlapping) spektra karena ketiga senyawa tersebut dapat larut dalam pelarut yang sama yaitu etanol serta memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang yang berdekatan. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan metode spektrofotometri ultraviolet dalam penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol, salisilamida, dan kafein tanpa pemisahan terlebih dahulu yaitu secara derivatif dengan aplikasi metode

69

75 dan 3. (E. Penetapan kadar kafein. Bahan Kafein (Brataco Chemika). Metode zero crossing a. derivat kedua dan derivat ketiga dengan menggambarkan selisih absorban dua panjang gelombang terhadap harga ratarata dua panjang gelombang. Metode Penelitian A. C. Pembuatan spektra parasetamol. Tata Cara Penelitian 1. parasetamol (Wenzhou Pharmaceutical Factory).zero crossing dan metode peak-to-peak. Penentuan zero crossing.75. d. 2. Nilai d3A/dλ3 spektrum dan kadar dibuat dengan persamaan linier sehingga diperoleh persamaan y = bx + a (y = nilai d3A/dλ3. a = derau). D. encerkan dengan etanol sampai 100.25. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol. Merck). dan kafein secara spektrofotometri derivatif dengan aplikasi metode zero crossing dan peak-to-peak memiliki akurasi dan presisi yang baik ? Bab II. b. b = slope.75. Dari spektra derivat tersebut ditentukan panjang gelombang zero crossing parasetamol dan salisilamida. salisilamida. Larutan baku kafein dibuat seri konsentrasi 0. x = konsentrasi. Masing-masing senyawa dibuat tiga seri konsentrasi larutan baku dengan pelarut etanol kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 220-320 nm dan dibuat spektra serapan normal. kafein. 2. salisilamida dan kafein dibuat dengan menimbang lebih kurang 100 mg parasetamol. 100 mg salisilamida dan 25 mg kafein secara seksama. Kurva baku dibuat dengan mengukur seri kadar larutan baku kafein pada panjang gelombang zero crossing. 1. B. dan etanol p. Larutan sampel campuran parasetamol.a. timbangan analitik merk Scaltec. 70 . Spektra serapan normal salah satu konsentrasi dari masing-masing senyawa dibuat spektra derivat pertama. salisilamida (Brataco Chemika). timbangan elektrik merk Mettler dan alat-alat gelas. salisilamida. kuvet. Alat Spektrofotometer UV/VIS Lambda 20 merk Perkin-Elmer. dimana dA/dλ parasetamol dan salisilamida bernilai nol. 1.0 ml. Pembuatan kurva baku.25. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental deskriptif.25 mg%. c.

Nilai d3A/dλ3 spektrum kafein pada panjang gelombang zero crossing parasetamol dan salisilamida dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku kafein. 1. b. b = slope. E. dan salisilamida secara spektrofotometri derivatif dapat ditentukan berdasarkan parameter berikut: 71 . lalu hitung jarak vertikal antara puncak maksimum dan puncak minimum pada panjang gelombang peak-to-peak yang telah ditentukan sebagai nilai amplitudo (amplitudo peak-to-peak). c.75. e. Penentuan panjang gelombang peak-to-peak. Pembuatan kurva baku kafein. Pembacaan serapan kafein dan sampel. Analisis Hasil Validitas metode yang digunakan dalam penetapan kadar kafein dalam campuran kafein.0 mg %. hitung jarak vertikal antara puncak maksimum dan puncak minimum pada panjang gelombang peak-to-peak yang telah ditentukan sebagai nilai amplitudo sampel.4 ml dan encerkan dengan etanol sampai 10. Buat persamaan linier antara konsentrasi vs amplitudo sehingga didapat persamaan y=bx+a (y = amplitudo peak-to-peak.9 mg % sedangkan larutan sampel dibuat dengan menimbang lebih kurang 100 mg parasetamol.5. Dari spektrum derivatif baku kafein dan sampel ditentukan panjang gelombang peak-to-peak. Dari spektra derivatif sampel. Penetapan kadar kafein dalam sampel campuran. Pembuatan larutan baku kafein dan larutan sampel.0 ml. Larutan sampel dibaca serapannya kemudian dibuat spektum serapan normal dan derivat pertama hingga kempat. lalu nilainya dimasukkan dalam persamaan kurva baku.4 ml dan encerkan dengan etanol sampai 10. 1. parasetamol. Buat larutan baku kafein dengan konsentrasi 0. Larutan baku kafein dan sampel dibaca serapannya pada panjang gelombang 220-320 nm dan buat spektrum serapan normal. a = derau). x = konsentrasi. 100 mg salisilamida dan 25 mg kafein secara seksama. 0.0 ml kemudian ambil sebanyak 0. Buat larutan baku kafein dengan konsentrasi 0.0 ml. d.Ambil sebanyak 0. Spektrum serapan baku kafein dan sampel dibuat derivat pertama hingga keempat dengan interval panjang gelombang sebesar 1 nm. Metode peak-to-peak a. dan 2. Seri konsentrasi larutan baku dibaca serapannya dan dibuat spektra derivat pertama hingga keempat.5. encerkan dengan etanol sampai 100. Larutan sampel campuran dibaca pada panjang gelombang zero crossing parasetamol dan salisilamida. 2.

Presisi. dan kafein berada pada panjang gelombang yang berdekatan. Hasil dan Pembahasan Serapan maksimum dari parasetamol. 2003). maka metode ini dinilai memiliki akurasi yang baik (Mulja dan Hanwar. A. Penentuan nilai dA/dλ diperoleh dengan membagi delta absorbansi (ΔA=Aλ2.3 mg% kafein (―—) 1. salisilamida. Metode ZeroCrossing Spektrum derivatif pertama dibuat dengan memplotkan dA/dλ dengan panjang gelombang. salisilamida dan kafein. Presisi metode analisis dinilai berdasarkan Coefficient of Variation (CV) yang dihitung dari simpangan baku dibagi dengan nilai rata-rata dikalikan 100%. Δλ yang digunakan adalah 3 nm. Akurasi metode analisis dinyatakan dengan nilai recovery yang dihitung dari kadar terukur dibagi dengan kadar diketahui dikalikan 100%.a. Hal ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih (overlapping) spektrum secara total seperti yang terlihat pada gambar berikut: Gambar 1.Aλ1) dengan delta panjang gelombang (Δλ). Jika CV kurang dari 2%. Bab III. Akurasi. Keterangan: (―—) 0.1 mg% salisilamida Spektrum yang tumpang tindih menyebabkan kesulitan dalam penetapan kadar kafein karena terganggu oleh serapan parasetamol dan salisilamida.6 mg% parasetamol (―—) 1. b. Metode spektrofotometri derivatif dapat digunakan untuk meningkatkan pemecahan puncak yang saling tumpang tindih tersebut sehingga kafein dapat ditetapkan kadarnya tanpa terganggu oleh serapan parasetamol dan salisilamida. Spektrum normal parasetamol. Jika nilai recovery berada pada rentang 90-110%. maka metode dinilai mempunyai presisi yang baik (Mulja dan Hanwar. 72 . 2003).

Spektrum derivatif ketiga parasetamol. Spektrum ketiga senyawa perlu derivatisasi yang lebih tinggi supaya spektra pemisahan kafein menjadi lebih jelas. Spektrum derivatif pertama parasetamol. Gambar 3. Gambar 4. salisilamida dan kafein 73 . salisilamida. Spektrum ketiga senyawa perlu diderivatisasi yang lebih tinggi supaya pemisahan masing-masing senyawa lebih jelas.Gambar 2. dan kafein Pada gambar 3 ini belum tampak adanya pemisahan kafein. Spektrum derivatif kedua parasetamol. dan kafein Pada spektra derivatif pertama ini belum menunjukkan pemisahan yang jelas. salisilamida.

Dari data 6 kali replikasi sampel diperoleh data recovery dan presisi sebagai berikut: Tabel 3.15 Rata-rata SD SE %CV Rentang recovery Kadar Terukur (mg%) 24.2302 -4.889x10-4 r -0.7682 -4x10-4 2.43 25.7892 2.26x10-4 -0.2214 -7.568809x10-5 Kadar terukur kafein diperoleh dengan memasukkan nilai d3A/dλ3 serapan sampel campuran pada panjang gelombang zero crossing ke dalam persamaan kurva baku kafein.2301 2.1x10-4 -2.1005x10-4 Kadar (mg%) 0. Sampel 1 2 3 4 5 6 Kadar Benar (mg%) 25.22x10-4 1.43024x10-4X – 7. Konsentrasi dan nilai d3A/dλ3 serapan kafein dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier.0434x10-4 Replikasi 2* Kadar d3A/dλ3 (mg%) 0.1x10-4 -4.168 0.535 104.4x10-4 -3.2838 -6.628 95.3227x10-4 Dari ketiga persamaan ini digunakan persamaan kedua yang memiliki nilai koefisien korelasi r = 0.2780 1.Pada gambar 4 merupakan gabungan dari spektra derivat ketiga dari larutan murni parasetamol.3 nm maka seri kadar larutan baku kafein yang telah dibuat diukur nilai d3A/dλ3 serapan derivat ketiga pada panjang gelombang tersebut.297 24.7258 -5.7434 -1.455 97.4x10-4 3.477 1.175 1.19 24.41662x10-4 3.34x10-4 1.8x10-4 -6x10-4 -7.26x10-4 r -0.075 25.568809x10-5 SD 2.67 25.854285x10-5 2. Data Persamaan Kurva Baku Kafein Replikasi 1 Kadar d3A/dλ3 (mg%) 0.302 26.2630 -2.817 25.811.588 99.153 96.99744.15x10-4 1.99744 B -2.895% Recovery (%) 95.8116 3.3 nm dimana parasetamol dan salisilamida memiliki d3A/dλ3 bernilai nol sedangkan kafein memiliki d3A/dλ3 bernilai negatif.74x10-4 2.43024x10-4 A 7.99103 B -2.7346 -3.6x10-4 2. Data linieritas ini dapat diterima karena koefisien korelasinya melebihi nilai r tabel dengan taraf kepercayaan 95% yaitu sebesar 0. Persamaan kurva baku yang diperoleh adalah Y = -2.3228 r B A SD Replikasi 3 d3A/dλ3 -1. Tabel 1.7786 -5.63x10-4 3. Berdasarkan panjang gelombang zero crossing yang diperoleh pada 271.628 74 .48 25.2734 -4.05 25.245 24. Pada gambar ini terlihat zero crossing parasetamol dan salisilamida pada 271. Data Perolehan Kembali dan Koefisien Korelasi Kafein.4x10-4 2.1425x10-4 A 2.185x10-4 1.7668 1.153-106.7578 -1. salisilamida dan kafein.5488x10-5 SD 2.312 26.99645 -2.998 106.2390 -2.

05 -0.5 294. dibuat derivatisasi yang lebih tinggi untuk memperoleh spektrum yang saling berhimpitan satu sama lain secara total. Oleh karena itu. CV yang diperoleh yaitu 1. Dari hasil penggabungan spektrum derivatif tersebut.5 274. dalam hal ini Δλ adalah 1 nm. Spektrum derivatif pertama dibuat dengan memplotkan dA/dλ terhadap panjang gelombang (λ).168% dan nilai ini kurang dari 2%. 75 . B. Metode Peak-to-Peak Spektrum serapan larutan baku kafein dan sampel dibuat spektrum derivatif pertama.2 panjang gelombang (nm) Gambar 5.5 282.1 -0. Recovery kafein yang diperoleh yaitu 95.Kadar terukur kafein dalam campuran dengan parasetamol dan salisilamida adalah 25.5 dA/dλ -0.15 -0. Dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol.5 286. nilai ini memenuhi rentang recovery 90-110%.5 290.175 mg%.628%. dicari daerah panjang gelombang dimana terdapat spektrum yang saling berhimpitan satu sama lain secara total yang menghasilkan puncak maksimum dan puncak minimum.05 0 266.5 270. Spektrum derivatif pertama kafein (―) dan sampel (―) Pada gambar tersebut belum ditemukan adanya spektrum yang berhimpitan satu sama lain secara total. Panjang gelombang peak-to-peak ditentukan dari penggabungan spektrum derivatif larutan baku kafein dan sampel.5 278. Amplitudo diperoleh dari selisih serapan 2 panjang gelombang yang berderet teratur dibagi Δλ. salisilamida dan kafein secara spektrofotometri derivatif aplikasi metode zero crossing memiliki akurasi dan presisi yang baik. Spektrum derivatif pertama larutan baku kafein dan sampel dapat dilihat pada gambar berikut : 0.153-106.

01 -0.04 panjang gelombang (nm) Gambar 8.5 290.02 -0.04 0.06 panjang gelombang (nm) 2 269.5 281 .05 0. Spektrum derivatif keempat kafein (―) dan sampel (―) Pada spektrum derivatif keempat (gambar 8) dapat dilihat ada spektrum yang saling berhimpitan satu sama lain secara total dan menghasilkan puncak maksimum dan puncak minimum.5 284.02 -0.03 -0.02 panjang gelombang (nm) 266 268 270 272 274 276 278 280 282 284 286 288 290 292 294 Gambar 6. Spektrum derivatif ketiga kafein (― ) dan sampel (― ) Pada spektrum derivatif kedua dan ketiga larutan baku kafein dan sampel.04 -0.5 287.05 -0.03 d A/dλ 2 0. terlihat bahwa pemecahan puncak lebih terinci dan jelas namun belum ditemukan adanya spektrum yang berhimpitan satu sama lain secara total sehingga dibuat spektrum derivatif keempat untuk menentukan panjang gelombang peak-to-peak.5 272.0.5 275. 0.01 0 -0. Spektrum derivatif kedua kafein (―) dan sampel (―) 0.08 0.5 293.5 278.06 d A/dλ 4 4 d A/dλ 3 3 0.04 0.01 0 266.01 -0.5 Gambar 7.02 0 -0.02 0. yaitu pada panjang gelombang 281 nm sebagai puncak maksimum 76 .02 0.5 -0.

008 1.0184 0.328 93.010 1.018 A = -0.503%.34 Recovery (%) 99. CV yang diperoleh 77 .9036 r = 0.015 1.007 0. Tabel I.020 1.589 92.011 1.639 – 100.008 0. Persamaan kurva baku kafein yang diperoleh adalah Y = 0. Recovery kafein yang diperoleh yaitu 92.030 2. Data persamaan kurva baku kafein Replikasi 1 * Replikasi 2 Replikasi 3 Kadar Kadar Kadar d4A/dλ4 d4A/dλ4 d4A/dλ4 (mg %) (mg %) (mg %) 0.4832 0.7416 0.007 1.944 0.4944 0.639 94.503 Kadar terukur kafein adalah 0. Panjang gelombang inilah yang menjadi panjang gelombang peak-to-peak.0152 0.006 0.9776 0. nilai ini memenuhi rentang recovery 90-110%. nilai r yang digunakan adalah nilai r yang lebih besar dari nilai r tabel untuk lima data dengan derajat bebas (db) = 3 yaitu sebesar 0.5092 0 0.0178x – 0.002 0.0069 r = 0.995 1.0026 B = 0.5038 0.837 92. amplitudo diukur dengan cara menghitung jarak vertikal antara puncak maksimum di 281 nm dan puncak minimum di 282 nm pada spektrum derivatif keempat. Persamaan kurva baku menyatakan hubungan linier antara konsentrasi dan 4 4 amplitudo peak-to-peak (d A/dλ ).017 1. Pada penetapan kadar kafein dalam sampel campuran.944 0.006 1.998 Kadar terukur (mg %) 1 1 1 0.0178 B = 0.019 0.5114 0.008 0.900 100.001 0.5276 0.018 2.0076 0.7638 0.878 (pada taraf kepercayaan 95 %).639-100.013 1.9716 r = 0.0078.503 98.944 0.0368 0.0122 B = 0. Sebagai parameter linieritasnya digunakan koefisien korelasi (r). Kadar kafein dalam sampel campuran Sampel 1 2 3 4 5 6 Rata-rata SE %CV Rentang recovery Kadar sebenarnya (mg %) 1. Dalam penelitian ini.972 mg%. Dari 6 kali replikasi pengukuran diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel II.972 0.9888 0.9149 * = persamaan kurva baku yang digunakan Persamaan kurva baku pada replikasi pertama menunjukkan nilai r yang terbaik.dan 282 nm sebagai puncak minimum.0078 A = -0.0037 A = 0.7557 0. sehingga persamaan tersebut yang digunakan untuk menghitung kadar kafein.

2. 234. Clarke. 2006. ISFI. Chem. The United States Pharmacopeia 28 The National Formulary 25. Kesimpulan Penetapan kadar kafein dalam campuran parasetamol. G. Educ. 2005. 22-23. ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia. 793-795. E. J.34%. 1969.. 78 . No. salisilamida. 300-303.C.. 538.pdf. Alpdogan. The Pharmaceutical Press. Prinsip-Prinsip Cara Berlaboratorium yang Baik (Good Laboratory Practice). 2003. 2001. and Sungur.iupac. 2000.yaitu 1. M. http://www. UV-Visible FirstDerivative Spectrophotometry Applied to an Analysis of a Vitamin Mixture.I. S. F. Jimenez. Anonim. Vol.. inc. dan kafein secara spektrofotometri derivatif memiliki akurasi dan presisi yang baik. Turk. 308.J. London. K. 465..G.. Mulja.6. Diakses pada 27 Maret 2006. and Arias. No.. Jimenez..org/publications/analytical_compendium/Cha10sec352 . United States Pharmacopeial Convention. 1395. Daftar Pustaka Aberasturi. 295-302. Chem. Vol.. Jakarta. D. nilai ini kurang dari 2%. dan Hanwar.. Karabina. rockville Anonim. 78. Anonim... 2003. Derivative Spectrophotometric Determination of Caffeine in Some Beverages. A.J. Majalah Farmasi Airlangga. Bab IV. 26. F. III. Isolation and Identification of Drugs. J. 71-76. Metode spektrofotometri derivatif dengan aplikasi peak-to-peak yang digunakan untuk menetapkan kadar kafein dalam campuran memiliki akurasi dan presisi yang baik..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful