You are on page 1of 20

TUGAS

MAKALAH
GENESA ENDAPAN BATUBARA

OLEH :

NAMA : HASNA
NIM : R1D116094

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas segala karunia nikmatnya
sehingga makalah yang berjudul “Genesa Endapan Batubara” ini dapat diselesaikan
dengan maksimal, tanpa ada halangan yang berarti. Makalah ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak
yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Untuk itu kami ucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penyusunan makalah


ini, baik dari segi EYD, kosa kata, tata bahasa, etika maupun isi. Oleh karenanya
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sekalian untuk kami jadikan sebagai bahan evaluasi. Demikian, semoga makalah
ini dapat diterima sebagai ide/gagasan yang menambah kekayaan intelektual
bangsa.

Kendari, November 2018

Penulis

Daftar Isi

i
Halaman Sampul ..................................................................................

Kata Pengantar ................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................. ii

BAB I Pendahuluan ............................................................................ 1

1.1. Latar Belakang................................................................... 1


1.2. Rumusan Masalah ............................................................. 2
1.3. Tujuan ................................................................................ 2

BAB II. Pembahasan ........................................................................... 3

2.1. Pengertian Batubara ......................................................... 3


2.2. Proses Pembentukan Batubara ........................................ 4
2.3. Lingkungan Penendapan .................................................. 7
2.4. Analisis Dan Uji Kualitas Batubara ................................ 10
2.5. Metode Eksplorasi Batubara ............................................ 13

BAB III. Penutup ................................................................................ 16


3.1. kesimpulan ............................................................................ 16
3.2 Saran....................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan


Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk
Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara tersebut
tergolong usia muda, yang dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Tersier
Bawah dan Tersier Atas. Potensi batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama
di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat
dijumpai batubara walaupun dalam jumlah kecil, seperti di Jawa Barat, Jawa
Tengah, Papua, dan Sulawesi.
Di Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel)
yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara
jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar
Rp 0,74/kilo calori sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilocalori, (berdasarkan
harga solar industri Rp. 6.200/liter). Coal gasification adalah sebuah proses untuk
merubah batu bara padat menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible
gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini CO (karbon monoksida), karbon
dioksida (CO2), hidrogen (H), methane (CH4), dan nitrogen (N2) – dapat
digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai
reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara
nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat didalamnya
adalah sulfur dan nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan
dilepaskan ke udara, bila mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung
dengan uap air (seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk
bentuk sulfuric dan nitric acid, disebut sebagai “acid rain”. Disini juga ada noda
mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur dengan batu bara, partikel
kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor,

1
beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama
dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini
adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah –masalah yang di bahas dapat
dirumuskan sebagai berikut :
 Apa itu batubara ?
 Bagamaiana proses pembantukan batubara?
 Bagamana lingkungan pengendapan batubara ?
 Bagaimana analisis dan ujikualitas batubara?
 Apa saja metode eksplorasi batubara ?
1.3. Tujuan Penulisan
Dalam menyusun makalah ini penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
 Mengetahui pengertian batubara
 Mengetahui proses pembantukan batubara
 Mengetahui lingkungan pengendapan batubara ?
 Mengetahui analisis dan ujikualitas batubara?
 Mengetahui metode eksplorasi batubara ?

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Batubara

Kent.A.J (1993) mengertikan bahwa definisi batubara merupakan suatu


jenis mineral yang tersusun atas karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, dan
senyawa- senyawa mineral. Oleh karena itulah batubara digunakan sebagai sumber
energi alternatif untuk menghasilkan listrik.

Gambar 2.1 batubara

Dari ulasan atas pengertian batubara di atas dapat duikatakan bahwa pada
saat ini sudah dapat kita lihat bahwa tidak semua dalam aspek kehidupan masyrakat
tidak berorientasi terhadap lingkungan sehingga kita tidak pernah mencermati
akibat yang ditimbulkan di kemudian hari, Oleh karena itu kita perlu melakukan
sebuah tindakan pencegahan untuk mengurangi kerusakan lingkungann di
kemudian hari.

3
Dalam hal ini masyrakat Indonesia belum memlki kesadaram akan hal
mengenai masalah lingkungan dan tidak memiliki pengetahuan tentang masalah
lingkungan. Pada saat ini yang menjadi pandangan negatif mengenai pertambangan
batubara dimana pertambangan batubara pada umumnya hanya meguras semua
sumber material yang dimiliki di daerah itu sehingga pandangan masyrakat
terhadap pertambangn batubara perspektif masih negatif baik karena tidak berpihak
lingkungan sekitar masyrakat dan alam di sekitarnya.

Disisi lain juga dari hal ini akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang
berpotensi mencemari lingkungan di sekitar area sekitar pertambangan. Air asam
tambang (Acid Mine Drainage) merupakan salah satu potensi pencemaran
lingkungan yang diakibatkan kegiatan pertambangan batubara.

2.2. Proses Pembentukan Batubara

Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan


waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari sisa-sisa
tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan
mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia,
maupun geologi. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar
fosil.

4
Gambar 2.2. proses pembentukan batubara

Proses pembentukan batubara dari tumbuhan melalui dua tahap, yaitu :

 Tahap diagenesa gambut merupakan tahap awal pembentukan batubara,


yaitu mencakup perubahan oleh mikroba dan proses kimia. Dimulai dari
pembusukan tumbuhan sampai terbentuk gambut (peat). Pada tahap ini
dicirikan oleh aktivitas bakteri aerob (membutuhkan oksigen) dan anaerob
(tidak membutuhkan oksigen). Jika tumbuhan tumbang di suatu rawa, maka
dapat terjadi proses biokimia yang secara vertikal dapat dibagi menjadi dua
zone, yaitu zone permukaan yang umumnya perubahan berlangsung dengan
bantuan oksigen dan zone tengah sampai kedalaman 0,5 m yang disebut
dengan peatigenic layer (Teichmuller, 1982). Pada zone peatigenic terdapat
bakteri aerob, lumut, dan actinomyces yang aktif. Bakteri aerob akan
menyebabkan oksidasi biologi pada komponen-komponen tumbuhan yang
material utamanya adalah cellulose. Senyawa-senyawa protein dan gula

5
cenderung terhidrolisa. Cellulose akan diubah menjadi glikose dengan cara
hidrolisis:

C6H10O5 + H2O Þ C6H12O6

Jika suplai oksigen berlangsung terus, maka proses ini akan menuju pada
penguraian lengkap dari senyawa organik, yaitu:

C6H10O5 + 6 O2 Þ 6 CO2 + 5 H2O

Bagian-bagian dari material tumbuhan tersebut cenderung membentuk


koloid dan umumnya disebut dengan asam humus (humic acid). Lemak dan
material resin umumnya hanya mengalami perubahan sedikit. Apabila
kandungan oksigen air rawa sangat rendah dan dengan bertambahnya
kedalaman, sehingga tidak memungkinkan bakteri-bakteri aerob hidup,
maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan
penghancuran yang sempurna, dengan kata lain tidak terjadi proses oksidasi
yang sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri-bakteri anaerob saja
yang berfungsi melakukan proses pembusukan yang kemudian membentuk
gambut (peat).

2. Tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut


proses coalification. Lapisan gambut yang terbentuk kemudian ditutupi
oleh suatu lapisan sediment, maka lapisan gambut tersebut mengalami
tekanan dari lapisan sediment di atasnya. Tekanan yang meningkatakan
mengakibatkan peningkatan temperature. Disamping itu temperature juga
akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman, disebut gradient
geotermik. Kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh
aktivitas magma, proses pembentukan gunung api serta aktivitas tektonik
lainnya.

6
2.3. Lingkungan Penendapan
Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi
dari material dasar menjadi material sedimen. Lingkungan pengendapan ini sendiri
dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut:
a. Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar
diendapkan. Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada
kondisi dan posisi geotektonik.
b. Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat
cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan
pada saat pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran
rawa-rawa di mana batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat
dipengaruhi oleh proses geotektonik.
c. Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses
pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau
tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh
kondisi topografi setempat.

Pembentukan batubara terjadi pada kondisi reduksi di daerah rawa-rawa


lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk pada lingkungan paralik. Daerah seperti
ini dapat dijumpai di dataran pantai, laguna, delta, dan fluviatil. Di dataran pantai,
pengendapan batubara terjadi pada rawa-rawa di lelakang pematang pasir pantai
yang berasosiasi dengan sistem laguna ke arah darat.

Di daerah ini tidak berhubungan dengan laut terbuka sehingga efek oksidasi
au laut tidak ada sehingga menunjang pada pembentukan batubara di daerah rawa-
rawa pantai. Pada lingkungan delta, batubara terbentuk di backswamp clan delta
plain. Sedangkan di delta front dan prodelta tidak terbentuk batubara disebabkan
oleh adanya pengaruh air laut yang besar clan berada di bawah permulcaan air laut.

Pada lingkungan fluviatil terjadi pada rawa-rawa dataran banjir atau ,th.-
alplain dan belakang tanggul alam atau natural levee dari sistem sungai yang are-

7
ander. Umumnya batubara di lingkungan ini berbentuk lensa-lensa karena membaii
ke segala arah mengikuti bentuk cekungan limpahnya.

Gambar 2.3 Lingkungan Pengendapan Batubara

2.3.1. Endapan Batubara Paralik


Lingkungan paralik terbagi ke dalam 3 sub lingkungan, yakni endapan
lmuhara belakang pematang (back barrier), endapan batubara delta, endapan
Dwubara antar delta dan dataran pantai (Bustin, Cameron, Grieve, dan Kalkreuth,
Ketiganya mempunyai bentuk lapisan tersendiri, akan tetapi pada , wnumnya tipis-
tipis, tidak menerus secara lateral, mengandung kadar sulfur, abu dar. nitrogen yang
tinggi.
2.3.2. Endapan Batubara Belakang Pematang (back barrier)
Batubara belakang pematang terakumulasi ke arah darat dari pulau-pulau
pcmatang (barrier island) yang telah ada sebelumnya dan terbentuk sebagai ai.:hat
dari pengisian laguna. Kemudian terjadi proses pendangkalan cekungan antar

8
pulau-pulau bar sehingga material yang diendapkan pada umumnya tergolong ke
dalam klastika halus seperti batulempung sisipan batupasir dan batugamping.
Selanjutnya terbentuk rawa-rawa air asin dan pada keadaan ini cn.iapan sedimen
dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga moluska dapat berkembang dengan
baik sebab terjadi pelemparan oleh ombak dari laut terbuka le laguna yang
membawa materi organik sebagai makanan yang baik bagi penghuni laguna.
Sedangkan endapan sedimen yang berkembang pada umumnya tcrdiri dari
perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara dan batugamping.
Struktur sedimen yang berkembang ialah lapisan bersusun, silang siur dan laminasi
halus. Endapan batubara terbentuk akibat dari meluasnya permukaan rawa dari
pulau-pulau gambut (marsh) yang ditumbuhi oleh tumbuhan air tawar.

2.3.3. Endapan Batubara Delta


Berdasarkan bentuk dataran deltanya, batubara daerah ini terbentuk pada
beberapa sub lingkungan yakni delta yang dipengaruhi sungai, gelombang pasang
surut. dataran delta bawah dan atas, dan dataran aluvium. Kecepatan pengendapan
sangat berpengaruh pada penyebaran dan ketebalan endapan batubara. Batubara
daerah ini tidak menerus secara lateral akibat dari perubahan fasies yang relatif
pendek dan cepat yang disebabkan oleh kemiringan yang tajam sehingga ketebalan
dan kualitasnya bervariasi. Pada umumnya batubara tersebut berasal dari alang-
alang dan tumbuhan paku.

2.3.4. Endapan Batubara Antar Delta dan Dataran Pantai


Batubara daerah ini terbentuk pada daerah rawa yang berkembang di :jerah
pantai yang tenang dengan water table tinggi dan pengaruh endapan liaaik sangat
kecil. Daerah rawa pantai biasanya banyak ditumbuhi oleh :umbuhan air tawar dan
air payau. Batubara ini pada umumnya tipis-tipis dan secara lateral tidak lebih dari
1 km. Batubara lingkungan ini kaya akan abu, sulfur, nitrogen, dan mengandung
fosil laut. Di daerah tropis biasanya terbentuk dari bakau dan kaya sulfur.
Kandungan sulfur tinggi akibat oleh naiknya ion sulfat dari air laut dan oleh
salinitas bakteri anaerobik.

9
2.4. Analisis Dan Uji Kualitas Batubara
2.4.1. Metode Analisis

Analisis dan pengujian batubara digunakan untuk kualitas terhadap contoh


batubara yang mewakili selama tahapan eksplorasi dan kelayakan dari proses
penambangan batubara hingga tahapan preparasi dan contoh siap di analisis.

Gambar 2.4. analisis kualitas batubara

2.4.1.1. Analisis Gravimetri

Gravimetri merupakan analisis konvensional yang penentuan jumlah zatnya


berdasarkan pada jumlah penambangan. Selain penimbangan contoh dilakukan
pula penimbangan hasil reaksi, baik berupa endapan maupun gas yang terjadi.
Berdasarkan dasar dan analisisnya gravimetri di bagi menjadi :

10
1. Cara pengendapan
2. Cara Penguapan
3. Cara Elektrogravimetri
2.4.1.2. Analisis Titrimetri
Merupakan analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan yang
diketahui kepekatannya secara teliti dan direaksikan dengan larutan contoh yang
akan ditetapkan kadarnya. Penggolongan metode titrasi :

1. Reaksi Metatetik, meliputi :


a. Titrasi Asidi-Alkalimetri
b. Titrasi Pengendapan
c. Titrasi Kompleksometri
2. Reaksi Redoks, meliputi :
a. Titrasi Permanganatometri
b. Titrasi Yodo/Yodimetri
c. Titrasi Serimetri
d. Titrasi Dikromatometri
2.4.1.3. Analisis Instrumen
Merupakan suatu cara analisis kuantitatif atau kualitatif yang menggunakan
detektor sebagai pengganti ketajaman mata sehingga hasilnya lebih baik dan lebih
teliti.

1. Spektofotometer
Merupakan analisis jumlah berdasarkan tua-mudanya warna larutan
yang tergantung pada kepekatannya itu sendiri dan didasari oleh
hukum Lambert-Beer, yakni Bila suatu cahaya monokromatis melalui
suatu media yang transparan maka bertambah turunnya intensitas
cahaya yang dipancarkan sebanding dengan bertambah tebalnya dan
kepekatan media.

2. Spektrofotometer Serapan Atom


Merupakan suatu teknik analisis zat yang berdasarkan pada absorbsi
sinar oleh atom bebas.

11
2.4.2. PROSEDUR ANALISIS
 PREPARASI DAN PENENTUAN AIR BEBAS

Preparasi merupakan persiapan contoh yang dilakukan sedemikian rupa


seihngga menjadi contoh yang siap di analisis. Beberapa tahap dalam preparasi
contoh batubara. Pengamatan contoh dilakukan untuk mengetahui ciri khas dari
batubara, meliputi :

a. bentuk contoh : bongkahan atau halus


b. warna contoh : coklat, hitam atau coklat kehitaman
c. kilap : mengkilap, campuran mengkilap atau kusam
d. kotoran : resin, clay atau pirit
e. kekerasan : keras atau lunak
 PENGERINGAN DAN PENENTUAN AIR BEBAS

Pengeringan dilakukan pada suhu kamar atau pada oven pengering dengan
suhu maksimal 40oC dan air bebas dapat ditentukan bersama-sama pada saat
pengeringan.

Metode : ASTM Designation D.2013-86

Prinsip : Kadar air bebas di dapat dari selisih bobot contoh batubara asal
dengan batubara yang telah dikeringkan pada suhu kamar.

Alat dan bahan :

a. pan pengering
b. neraca analitik
c. contoh batubara
Prosedur :

a. Ditimbang batubara asal pada pan pengering yang telah


diketahui bobotnya.
b. Dibiarkan di udara terbuka atau pada suhu kamar sampai
bobotnya konstan (A).

12
c. Di timbang sampai bobot tetap dengan selisih penimbangan
0,1% per jam.
d. Di gerus sampai dengan lolos saringan 8 mesh dan dibiarkan
pada suhu kamar sampai beratnya konstan (B).
e. Di timbang sampai selisih penimbangan 0,1% per jam.
Perhitungan :

B (100  A)
Kadar air bebas = +A%
100

Keterangan : A = kadar air bebas pada contoh asal

B = kadar air bebas pada contoh 8 mesh

 PENGGERUSAN

Di bagi menjadi dua tahap, yaitu :

a. Penghancuran, yaitu menggerus contoh sampai lolos saringan nomor 4 atau


nomor 8 menggunakan alat “Jaw Crusher” atau “Roll Mill” kemudian
dilakukan pembagian berat.
b. Penghalusan, yaitu contoh di gerus pada alat “cofffe Mill” atau “Cup Mill”
untuk mendapatkan contoh yang lolos 60 mesh.
 PEMBAGIAN CONTOH

Alat-alat yang digunakan adalah “Machanical Divider” atau “Splitter” atau


kombinasi keduanya. Sedangkan yang paling sederhana dengan cara “Coning”
atau “Quartering”.

2.5. Metode Eksplorasi Batubara


Kegiatan eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk
memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk dimensi,
sebaran, kualitas, dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi
mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. Menentukan suatu daerah
prospek adalah tahapan yang penting dalam kegiatan eksplorasi. Dalam kaitan
dengan Batubara, ekplorasi Batubara merupakan suatu proses kegiatan untuk

13
menentukan lokasi endapan Batubara yang prospek untuk dikembangkan, dimana
selama pelaksanaan program akan dilakukan pengambilan contoh Batubara (Coal
Sampling) untuk dievaluasi dan dianalisis di laboratorium baik dengan pendekatan
analisis kimia maupun analisis fisika agar kualitas dan kuantitas Batubara tersebut
dapat diketahui dengan pasti
 Pembuatan Sumur Uji (Test Pit)
Sumur Uji (Test Pit) adalah salah satu usaha untuk memperoleh
ketebalan secara absolut. Teknis pembuatan test pit ini adalah dengan membuat
lubang penggalian (sumuran) secara vertikal dan memotong tegak lurus strike
atau searah dipping, berdimensi panjang x lebar = 1 m x 1 m, sedangkan
kedalaman disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Gambar 2. Sumur Uji
(Test Pit)
 Pembuatan Parit Uji (Trenching)
Parit Uji (Trenching) adalah salah satu metode lain untuk memperoleh
ketebalan secara absolut. Teknis pembuatan trenching ini tidak jauh berbeda
dengan pembuatan test pit yaitu dengan cara membuat puritan
sepanjang/searah dengan down dip singkapan batubara (secara horizontal),
berdimensi lebar ± 50 cm dengan kedalaman parit tergantung dari posisi kontak
antara lapisan penutup (soil) dengan batubara, sedangkan panjang paritan
disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
 Pemboran
Kegiatan pemboran dimaksudkan untuk melacak secara spesifik
mengenai penyebaran batubara baik ke arah down strike maupun down dip
dari masingmasing singkapan yang telah ditemukan. Hasil data pemboran
diharapkan dapat mengetahui mengenai bentukan batubara bawah permukaan
(coal modellling sub-surface) sehingga dapat diketahui sumberdaya
(resources) batubara yang ada. Proses pemboran dilakukan dengan 2 unit
mesin bor jenis portable yang sangat popular yakni “Tone” dan “Bell”. Dua
cara pemboran yang dilakukan selama pelaksanaan program ini adalah
pemboran putar (Rotary Drilling) lubang terbuka (Open Hole Drilling) dan
pemboran inti pemboran dengan bor besar di lokasi penyelidikan akan

14
dilakukan pemboran dengan sistim Touch Coring (TC) dengan total kedalam
800 meter dengan rincian 612,16 meter dilakukan dengan pemboran Open
Hole dan 187,84 meter dengan pemboran Coring.)

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, maka dapa diketahui bahwa batubara merupakan


suatu jenis mineral yang tersusun atas karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur,
dan senyawa- senyawa mineral. Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba
yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses
pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia, maupun geologi.
Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Pembentukan
batubara terjadi pada kondisi reduksi di daerah rawa-rawa lebih dari 90% batubara
di dunia terbentuk pada lingkungan paralik. Daerah seperti ini dapat dijumpai di
dataran pantai, laguna, delta, dan fluviatil. Di dataran pantai, pengendapan batubara
terjadi pada rawa-rawa di lelakang pematang pasir pantai yang berasosiasi dengan
sistem laguna ke arah darat.

3.2 Saran
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini

16
DAFTAR PUSTAKA

http://methdimy.blogspot.com/2008/06/genesa-batubara.html (Diakses minggu,


11 november 2018).

https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara ((Diakses minggu, 11 november 2018).

https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara#Pembentukan_batu_bara ((Diakses
minggu, 11 november 2018).

Prof .Dr. Ir. Irwandi Arif, M.Sc. 2014, Batubara Indonesia. Gramedia Pustaka
Utama. Indonesian.

Rr. Harminuke Eko Handayani, ST, MT. 2014. ANALISIS KUALITAS


BATUBARA. Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Sumatra Sewlatan.

17