You are on page 1of 18

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

KAJIAN KASUS UNTUK OTODA PEMAKALAH

DISUSUN OLEH :
NAMA : DE’OF ISLAMIC
NIM : 112018142
KELAS : 1D
PRODI : TEKNIK SIPIL

DOSEN PEMBIMBING : Dra . Nurhayati , Mpd

FAKULTAS TEKNIK PRODI TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas rahmat dan

hidayah-Nya sehingga saya dapat membuat dan menyelesaikan tugas ini dalam

keadaan sehat wal-afiat. Semoga limpahan ini rahmat dan karunia-Nya selalu

dilimpahkan kepada kita, Amin. Tak lupa shalawat serta salam senantiasa kita

curahkan kepada junjungan nabi kita Nabi Besar Muhammad SAW, Keluarga

beserta para sahabatnya yang dengan gigih untuk menyebarkan agama Islam ke

penjuru dunia.

Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Pendidikan

Kewargenagaraan dengan tema yaitu “Kajian Kasus Untuk OTODA

Pemakalah”. Harapan saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya

sendiri khususnya dan mendapat nilai yang terbaik sesuai kemampuan saya.

Demikianlah makalah ini saya buat, saya sadar bahwa makalah ini masih sangat

jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat

membangun sangat saya harapkan. Atas Perhatian Dosen Tuton Pendidikan

Kewarganegaraan, saya ucapkan terima kasih.

Palembang, 13 Desember 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 2
1.4 Manfaat ...................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 6


2.1 Penjelasan Tentang Otonomi Daerah ......................................................... 6
2.2 Tujuan otonomi daerah .............................................................................. 6
2.3 Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia................................................ 7
2.4 Pengaruh Sistem Otonomi Daerah terhadap Kewenangan
Pengelolaan Hutan di Bali.......................................................................... 10

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 13


3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 13
3.2 Saran ........................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indosesia yang terhimpun dari bermacam –


macam suku dan budaya dalam berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke
yang memliki banyak perbedaan atas potensi Sumber Daya Alam dan Sumber
Daya Manusia yang timbul karena perbedaan letak geografis suatu daerah atau
latar belakang sejarah daerah tertentu, tentunya berbagai daerah tersebut
membutuhkan penerapan kebijakan daerah yang berbeda pula. Dalam hal ini
bangsa Indonesia kini telah berhasil membentuk kebijakan Otonomi Daerah yang
memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengatur
daerahnya sendiri yang sesuai dengan karakter Sumber Daya Alam dan Sumber
Daya Manusia di daerahnya sendiri.

Kebijakan otonomi daerah yang memberikan kewenangan terhadap


pemerintah daerah tetap harus berpedoman pada undang – undang yang berlaku
secara nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada pertentangan
antara kebijakan hukum secara nasional dengan kebijakan hukum di daerah.
Adanya perbedaan diantaranya sangat dimungkinkan terjadi selama perbedaan
tersebut tidak bertentangan dengan undang – undang karena inti dari konsep
pelaksanaan otonomi daerah adalah upaya memaksimalkan daerah yakni,
memaksimalkan hasil yang akan dicapai dan sekaligus menghindari kerumitan
dan hal – hal yang dapat menghambat pelaksanaan otonomi daerah. Dengan
demikian, tuntutan masyarakat dapat terjawab secara nyata dengan penerapan
otonomi daerah yang luas dan kelangsungan pelayanan umum tidak diabaikan.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Otonomi Daerah!


2. Apa saja tujuan Otonomi Daerah?
3. Bagaimana pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia?
4. Bagaimanakah Pengaruh Sistem Otonomi Daerah terhadap Kewenangan
Pengelolaan Hutan di Bali ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui hakikat otonomi daerah dan kajian kasus otonomi daerah

1.4 Manfaat

 Supaya tidak terjadi pemusatan kekuasaan dipusat sehingga jalannya


penyelenggaraan pemerintahan dapat berjalan lancar
 Pemerintahan tidak hanya dijalankan oleh pemerintah pusat, tetapi oleh
pemerintah daerah
 Kesejahteraan masyarakat didaerah semakin meningkat karena
pembangunan didaerah disesuaikan dengan kebutuhan didaerah
 Daya kreasi dan inovasi masyarakat didaerah semakin meningkat karena
setiap daerah semakin meningkat karena setiap daerah berusaha untuk
menampilkan keunggulan daerah masing-masing
 Meningkatkan pemberdayaan lembaga kemasyarakatan didaerah dalam
rangka partisipasi otonomi daerah

2
BAB II
PEMBAHASAN

Artikel Asli

PENGARUH OTONOMI DAERAH TERHADAP KEWENANGAN


PENGELOLAAN HUTAN DI BALI

Seiring dengan perkembangan reformasi di Indonesia, Pembangunan


Nasional di Indonesia lebih menekankan pada prinsip-prinsip Demokrasi, peran
serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan
keanekaragaman Daerah.

Pada era reformasi saat ini, telah terjadi perubahan paradigma dalam
kehidupan politik dan sistem ketatanegaraan di Indonesia yaitu dari sistem
otoritarian kepada sistem demokrasi, dan dari sistem sentralistik ke sistem
desentralisasi/ otonomi. Perubahan paradigma ini sudah tentu berdampak kepada
sistem hukum yang dianut selama ini, yaitu yang menitikberatkan kepada produk-
produk hukum yang lebih banyak kepada kepentingan penguasa daripada
kepentingan rakyat, dan juga produk-produk hukum yang lebih mengedepankan
dominasi kepentingan pemerintah pusat daripada kepentingan pemerintah daerah.
Diawali dengan lahirnya Undang-undang Otonomi Daerah yaitu UU No.22 Tahun
1999 yang kemudian diubah dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. UU Otonomi Daerah memberikan kewenangan kepada Pemerintah
Daerah untuk mengatur dan mengurus semua urusan pemerintahan, kecuali yang
ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. UU No.32 tahun 2004, pasal 10
mengatur bahwa : Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan
Pemerintah (yang dimaksud Pemerintah Pusat) meliputi: politik luar negeri,
pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

3
Dalam urusan pemerintahan di bidang Kehutanan memasuki era reformasi
UU Pokok Kehutanan, yaitu UU No.5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Kehutanan diganti dengan UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Undang-undang Kehutanan ini senapas dengan Undang-undang Otonomi Daerah.
Dalam rangka penyelenggaraan Kehutanan, Pemerintah menyerahkan sebagian
kewenangan pengelolaan hutan kepada Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah
Provinsi Bali.

4
Ringkasan Artikel

Diawali dengan lahirnya Undang-undang Otonomi Daerah yaitu UU


No.22 Tahun 1999 yang kemudian diubah dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. UU Otonomi Daerah memberikan kewenangan kepada
Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus semua urusan pemerintahan,
kecuali yang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.

Dalam urusan pemerintahan di bidang Kehutanan memasuki era reformasi


UU Pokok Kehutanan, yaitu UU No.5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Kehutanan diganti dengan UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Undang-undang Kehutanan ini senapas dengan Undang-undang Otonomi Daerah.
Dalam rangka penyelenggaraan Kehutanan, Pemerintah menyerahkan sebagian
kewenangan pengelolaan hutan kepada Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah
Provinsi Bali.

Rumusan Masalah

5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Otonomi Daerah!


6. Apa saja tujuan Otonomi Daerah?
7. Bagaimana pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia?
8. Bagaimanakah Pengaruh Sistem Otonomi Daerah terhadap Kewenangan
Pengelolaan Hutan di Bali ?

5
Pembahasan

1. Penjelasan Tentang Otonomi Daerah

Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara harfiah, otonomi
daerah berasal dari kata otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi
berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan
atau undang-undang, sehingga dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk
mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah
tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah.

Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga


sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara
memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung
jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber
potensi yang ada di daerahnya masing-masing.

2. Tujuan otonomi daerah

Adapun tujuan pemberian otonomi daerah adalah sebagai berikut:

 Peningkatan pelayanan masyarakat yang semakin baik.


 Pengembangan kehidupan demokrasi.
 Keadilan nasional.
 Pemerataan wilayah daerah.
 Pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar
daerah dalam rangka keutuhan NKRI.
 Mendorong untuk memberdayakan masyarakat.

6
 Menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan peran serta
masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.

Secara konseptual, di Indonesia dilandasi oleh tiga tujuan utama yang


meliputi: tujuan politik, tujuan administratif dan tujuan ekonomi. Hal yang ingin
diwujudkan melalui tujuan politik dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah
upaya untuk mewujudkan demokratisasi politik melalui partai politik dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah. Perwujudan tujuan administratif yang ingin dicapai
melalui pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya pembagian urusan
pemerintahan antara pusat dan daerah, termasuk sumber kuangan, serta
pembaharuan manajemen birokrasi pemerintahan di daerah. Sedangkan tujuan
ekonomi yang ingin dicapai dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia
adalah terwujudnya peningkatan Indeks pembangunan manusia sebagai indikator
peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia

3. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia

Sejak diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan


Daerah, banyak aspek positif yang diharapkan dalam pemberlakuan Undang-
Undang tersebut. Otonomi Daerah memang dapat membawa perubahan positif di
daerah dalam hal kewenangan daerah untuk mengatur diri sendiri. Kewenangan
ini menjadi sebuah impian karena sistem pemerintahan yang sentralistik
cenderung menempatkan daerah sebagai pelaku pembangunan yang tidak begitu
penting atau sebagai pelaku pinggiran. Tujuan pemberian otonomi kepada daerah
sangat baik, yaitu untuk memberdayakan daerah, termasuk masyarakatnya,
mendorong prakarsa dan peran serta masyarakat dalam proses pemerintahan dan
pembangunan.

Pada masa lalu, pengerukan potensi daerah ke pusat terus dilakukan


dengan dalih pemerataan pembangunan. Alih-alih mendapatkan manfaat dari

7
pembangunan, daerah justru mengalami proses pemiskinan yang luar biasa.
Dengan kewenangan yang didapat daerah dari pelaksanaan Otonomi Daerah,
banyak daerah yang optimis bakal bisa mengubah keadaan yang tidak
menguntungkan tersebut.

Selain membawa dampak positif bagi suatu daerah otonom, ternyata


pelaksanaan Otonomi Daerah juga dapat membawa dampak negatif. Pada tahap
awal pelaksanaan Otonomi Daerah, telah banyak mengundang suara pro dan
kontra. Suara pro umumnya datang dari daerah yang kaya akan sumber daya,
daerah-daerah tersebut tidak sabar ingin agar Otonomi Daerah tersebut segera
diberlakukan. Sebaliknya, bagi daerah-daerah yang tidak kaya akan sumber daya,
mereka pesimis menghadapi era otonomi daerah tersebut. Masalahnya, otonomi
daerah menuntut kesiapan daerah di segala bidang termasuk peraturan perundang-
undangan dan sumber keuangan daerah. Oleh karena itu, bagi daerah-daerah yang
tidak kaya akan sumber daya pada umumnya belum siap ketika Otonomi Daerah
pertama kali diberlakukan.

Selain karena kurangnya kesiapan daerah-daerah yang tidak kaya akan


sumber daya dengan berlakunya otonomi daerah, dampak negatif dari otonomi
daerah juga dapat timbul karena adanya berbagai penyelewengan dalam
pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut.

Berbagai penyelewengan dalam pelaksanan otonomi daerah:

1. Adanya kecenderungan pemerintah daerah untuk mengeksploitasi rakyat


melalui pengumpulan pendapatan daerah.
Keterbatasan sumberdaya dihadapkan dengan tuntutan kebutuhan dana
(pembangunan dan rutin operasional pemerintahan) yang besar. Hal
tersebut memaksa Pemerintah Daerah menempuh pilihan yang
membebani rakyat, misalnya memperluas dan atau meningkatkan objek
pajak dan retribusi. Padahal banyaknya pungutan hanya akan menambah
biaya ekonomi yang akan merugikan perkembangan ekonomi daerah.
Pemerintah daerah yang terlalu intensif memungut pajak dan retribusi

8
dari rakyatnya hanya akam menambah beratnya beban yang harus
ditanggung warga masyarakat.
2. Penggunaan dana anggaran yang tidak terkontrol
Hal ini dapat dilihat dari pemberian fasilitas yang berlebihan kepada
pejabat daerah. Pemberian fasilitas yang berlebihan ini merupakan bukti
ketidakarifan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah.
3. Rusaknya Sumber Daya Alam
Rusaknya sumber daya alam ini disebabkan karena adanya keinginan dari
Pemerintah Daerah untuk menghimpun pendapatan asli daerah (PAD), di
mana Pemerintah Daerah menguras sumber daya alam potensial yang
ada, tanpa mempertimbangkan dampak negatif/kerusakan lingkungan dan
prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Selain
itu, adanya kegiatan dari beberapa orang Bupati yang menetapkan
peningkatan ekstraksi besar-besaran sumber daya alam di daerah mereka,
di mana ekstraksi ini merupakan suatu proses yang semakin
mempercepat perusakan dan punahnya hutan serta sengketa terhadap
tanah. Akibatnya terjadi percepatan kerusakan hutan dan lingkungan
yang berdampak pada percepatan sumber daya air hampir di seluruh
wilayah tanah air. Eksploitasi hutan dan lahan yang tak terkendali juga
telah menyebabkan hancurnya habitat dan ekosistem satwa liar yang
berdampak terhadap punahnya sebagian varietas vegetasi dan satwa
langka serta mikro organisme yang sangat bermanfaat untuk menjaga
kelestarian alam.
4. Bergesernya praktik korupsi dari pusat ke daerah
Praktik korupsi di daerah tersebut terjadi pada proses pengadaan barang-
barang dan jasa daerah (procurement). Seringkali terjadi harga sebuah
barang dianggarkan jauh lebih besar dari harga barang tersebut
sebenarnya di pasar.
5. Pemerintahan kabupaten juga tergoda untuk menjadikan sumbangan yang
diperoleh dari hutan milik negara dan perusahaan perkebunaan bagi
budget mereka.

9
4. Pengaruh Sistem Otonomi Daerah terhadap Kewenangan Pengelolaan
Hutan di Bali.

Apabila dicermati secara teliti, maka sesungguhnya urusan bidang Kehutanan


pada awalnya bersifat sentralistik. Dalam UU No.41 tahun 1999 tentang
Kehutanan, pasal 4 ayat (2) huruf a disebutkan bahwa : Penguasaan hutan oleh
Negara memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk mengatur dan
mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil
hutan. Pemerintah di sini maksudnya adalah Pemerintah Pusat (Pasal 1, ayat 14).
Disini jelas amanat undang-undang bahwa kewenangan asli (atribusi)
untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan,
kawasan hutan dan hasil hutan diberikan kepada Pemerintah Pusat, dalam hal ini
Departemen Kehutanan.

Menurut Teori Kewenangan, cara memperoleh kewenangan dapat dilakukan


melalui 3 cara yaitu atribusi, delegasi dan mandat. Atribusi merupakan wewenang
untuk membuat keputusan yang langsung bersumber kepada undang-
undang. Kewenangan yang di dapat melalui atribusi oleh organisasi pemerintah
adalah kewenangan asli, karena kewenangan itu diperoleh langsung dari peraturan
perundang-undangan yang melibatkan peran serta rakyat sebagai pemegang asli
kewenangan. Delegasi diartikan sebagai penyerahan kewenangan untuk membuat
suatu keputusan oleh pejabat pemerintahan kepada pihak lain. Dalam penyerahan
kewenangan ini terjadi perpindahan tanggung jawab dari yang memberi delegasi
kepada yang menerima delegasi. Pengertian mandat adalah suatu pelimpahan
wewenang kepada bawahan. Dalam mandat, tanggung jawab tetap berada di
tangan pemberi mandat.

Selanjutnya Pasal 66 ayat (1) UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan


disebutkan: “Dalam rangka penyelenggaraan Kehutanan, Pemerintah
menyerahkan sebagian kewenangan kepada Pemerintah Daerah”. Pada ayat (2)
disebutkan “ Pelaksanaan penyerahan sebagian kewenangan sebagaimana

10
dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengurusan
hutan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Dari pasal 4 dan 66 UU
No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan disimpulkan bahwa Urusan Pemerintahan di
Bidang Kehutanan bersifat “Concurrent” artinya urusan pemerintah yang dapat
dilaksanakan bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Kemudian dalam ketentuan pelaksanaannya yaitu dalam PP No.6 tahun 2007


tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan serta Pemanfaatan
Hutan diatur bahwa : tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan serta
pemanfaatan hutan merupakan bagian dari pengelolaan hutan (pasal 3) dan
menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (pasal 4). Untuk
mengelola serta memanfaatkan hutan secara optimal dan lestari perlu dibentuk
suatu lembaga atau organisasi pemerintahan yang memiliki tugas dan kewenangan
mengelola kawasan hutan, yaitu satuan kerja yang bernama Kesatuan
Pengelolaan Hutan (KPH). Menurut PP No.6 tahun 2007, pasal 9, Organisasi
KPH mempunyai tugas dan fungsi:

1. Menyelenggarakan pengelolaan hutan yang meliputi :

a. tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan;


b. pemanfaatan hutan
c. penggunaan kawasan hutan;
d. rehabilitasi hutan dan reklamasi; dan
e. perlindungan hutan dan konservasi alam.

2. Menjabarkan kebijakan Kehutanan Nasional, Provinsi dan


Kabupaten/Kota bidang Kehutanan untuk diimplementasikan;
3. Melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan diwilayahnya mulai dari
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan serta
pengendalian;
4. Melaksanakan pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan kegiatan
pengelolaan hutan di wilayahnya;

11
5. Membuka peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan
pengelolaan hutan.

Organisasi KPH ini bisa dibentuk oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini
Depatemen Kehutanan maupun Pemerintah Daerah yaitu Pemerintah Provinsi.
Provinsi Bali merupakan satu kesatuan ekosistem pulau yang merupakan satu
kesatuan wilayah, ekologi, sosial budaya, sehingga kebijakan pengelolaan
kawasan hutan yang diperlukan mengacu pada kelestarian ekosistem.
Pembentukan KPH di Provinsi Bali merupakan kebutuhan nyata dalam rangka
pengelolaan hutan di Provinsi Bali agar hutan Bali dapat memberikan manfaat
yang optimal dari segi ekologi, sosial budaya dan ekonomi.

Pemerintah Provinsi kemudian membentuk 4 Unit Pelaksana Teknis (UPT)


Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari
Dinas Kehutanan Provinsi Bali dengan Peraturan Daerah (Perda) No.2 Tahun
2008, tanggal 8 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
Provinsi Bali, yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub)
No.48 tahun 2008, tanggal 22 Juli 2008 tentang Rincian Tugas Pokok Dinas
Kehutanan Provinsi Bali, dan kemudian dikukuhkan/ ditetapkan dengan SK
Menteri Kehutanan No. 800/Menhut-II/2009, tanggal 7 desember 2009tentang
Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Provinsi Bali. Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dibentuk
adalah :

- UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Barat.


- UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Tengah
- UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur
- UPT Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai, yang khusus mengelola
kawasan hutan bakau (mangrove) di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.

Pembentukan KPH di Provinsi Bali diharapkan agar hutan Bali dapat memberikan
manfaat yang optimal dari segi ekologi, sosial budaya dan ekonomi.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penerapan model demokrasi dalam sistem Pemerintahan Daerah yang
sekarang diterapkan belum mencapai hasil yang diharapkan. Perilaku birokrasi
dan kinerja Pemerintah Daerah belum dapat mewujudkan keinginan dan pilihan
publik untuk memperoleh jasa pelayananyang memuaskan untuk meningkatkan
kesejahteraan. Upaya peningkatan kualitas pelayanan publik oleh Pemerintah
Daerah dalam hal ini dapatdilakukan dengan berbagai strategi, diantaranya :
perluasan institusional dan mekanisme pasar, penerapan manejemen publik
modern, dan perluasan makna demokrasi. Upaya ini dapat terwujud apabila
terdapat konsistensi dari sikap Pemerintah Daerah bahwa keberadaannya adalah
semata-mata mewakili kepentingan masyarakat di daerahnya, otonomiadalah
diberikan kepada masyarakat. Sehingga keberadannya harus memberikan
pelayananyang berkualitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang
memiliki otonomi tersebut. Perangkat birokrasi yang ada baru dapat memberikan
pelayanan publik yang berkualitas apabila kinerjanya selalu didasarkan pada nilai-
nilai etika pelayanan publik.Kualitas pelayanan publik secara umum ditentukan
oleh beberapa aspek, yaitu : sistem,kelembagaan, sumber daya manusia, dan
keuangan. Dalam hal ini pemerintah harus benar- benar memenuhi keempat aspek
tersebut, karena dengan begitu, masyarakat akan ikut berpartisipasi dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
Dari berbagai uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa otonomi
daerah dibentuk sebagai jalan pintas pemerintah pusat untuk melaksanakan
pengontrolan dan pelaksanaan pemerintahan secara langsung di daerah yang
sesuai dengan karakteristik masing – masing daerah dan kemudian semua
kebijakan atau hukum yang akan dibentuk di daerah tersebut adalah merupakan
bentuk aplikasi langsung terhadap sistem demokratisasi yang mengikutsertakan
rakyat melalui lembaga atau partai politik di daerah. Tujuan daripada pengadaan

13
kebijakan otonomi daerah adalah untuk pengembangan daerah dan masyarakat
daerah menuju kesejahteraa dengan cara dan jalannya masing – masing.

3.2 Saran
Makalah ini ditulis dengan keterbatasan penulis atas pengalaman dan ilmu
pengetahuan, sehingga makalah ini tercipta jauh dari hasil yang sempurna,
semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://lawyersinbali.wordpress.com/2012/10/23/pengaruh-otonomi-daerah-
terhadap-kewenangan-pengelolaan-hutan-di-bali/

http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah

http://kotajabung.blogspot.com/2012/09/conto-makalah-otonomi-daerah.html

15