You are on page 1of 64

ASUHAN KEBIDANAN IBU PERSALINAN NORMAL

DI SUSUN OLEH:

1. Anggun Melasari (DB117005)

2. Rika Tutut Sudarsini (DB117020)

STIKES MAMBA’UL ULUM SURAKARTA

TAHUN 2018/2019

1
Lembar Persetujuan

Laporan Praktik ini telah disetujui oleh pembimbing institusi dan pembimbing lahan

praktik

Judul : Asuhan kebidanan ibu bersalin Ny…………………………….

Nama Mahasiswa :

1. Anggun Melasari (DB117005)

2. Rika Tutut Sudarsini (DB117020)

Sukoharjo, Januari 2019

Pembimbing lahan Pembimbing Institusi

( Titik Sri Suparti SST., M.Kes)

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia angka kematian maternal dan perinatal masih cukup tinggi. Padahal jumlah

pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan di Indonesia cukup banyak. Dari lima juta

kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal

akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Menurut data Survei Demografi dan

Kesehatan Indonesia tahun 2012 (SDKI 2012), Angka Kematian Ibu di Indonesia sebesar

mencapai 359/100.000 penduduk atau meningkat sekitar 57% bila dibandingkan dengan

kondisi pada 2007, yang hanya sebesar 228/100.000 penduduk.

Sejauh ini kematian bayi telah menurun sebebesar 44% selama 18 tahun terakhir, dari 57

kematian per 1000 kelahiran hidup di periode 1990-1994 ke 32 kematian per 1.000

kelahiran hidup di periode 2008-2012. Jumlah anak yang meninggal adalah salah satu

indikator kesehatan yang sangat penting. MDG 4 menargetkan penurunan angka kematian

anak (AKA) tahun 1990 sebanyak dua pertiganya. Hasil SDKI tahun 1991 menunjukkan

bahwa AKA adalah 97 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, target AKA di

Indonesia pada tahun 2015 adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran. Hasil sementara

SDKI tahun 2012 mengindikasikan bahwa AKA menurun menjadi 40 kematian per 1.000

kelahiran hidup. AKA mencakup Angka Kematian Bayi (AKB) di dalamnya.

Berdasarkan hasil SDKI tahun 1991, AKB mencapai 68 kematian per 1.000 kelahiran

hidup. Ini berarti pada tahun 2015 diharapkan AKB dapat diturunkan menjadi 22

kematian per 1.000 kelahiran hidup. Hasil sementara SDKI 2012 memperlihatkan bahwa

3
AKB menurun menjadi 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Diperkirakan pada tahun

2015 target AKA dan AKB akan dapat dicapai.

Sementara itu, salah satu target MDG 5 adalah menurunkan AKI atau maternal mortality

ratio (MMR) hingga tiga perempatnya dari tahun 1990. Berdasarkan Survei Demografi

dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1991, AKI adalah 390 kematian per 100.000

kelahiran hidup. Dengan demikian, target AKI di Indonesia pada tahun 2015 adalah 102

kematian per 100.000 kelahiran hidup. Namun, hasil SDKI tahun 2007 menunjukkan

bahwa AKI baru dapat diturunkan menjadi 228 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Ini

berarti diperlukan upaya keras semua pihak untuk mencapai target tersebut.

Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara berkembang terutama

disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia, sepsis, dan komplikasi keguguran.

Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat

dicegah melalui upaya pencegahan yang efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua

dasawarsa terakhir terfokus kepada : keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan

anggota masyarakat. Asuhan neonatal trfokus untuk memantau perkembangan kehamilan

mengenai gejala dan tanda bahaya, menyediakan persalinan dan kesediaan menghadapi

komplikasi. Asuhan pasca keguguran untuk penatalaksaan gawat darurat keguguran dan

komplikasinya.

Persalinan saat ini menjadi momok yang ditakutkan dikalangan ibu, khususnya ibu hamil.

Tidak sedikit ibu dan bayinya mengalami kegawatdaruratan dan sampai pada akhirnya tak

dapat terselamatkan yang pada akhirnya menyebabkan meningkatnya angak kematian ibu

dan anak. Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan asuhan persalinan.

Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting pada ibu selama

persalinan karena dapat membantu ibu dalam mempermudah proses persalinan, membuat

4
ibu lebih yakin untuk menjalani proses persalinan serta untuk mendeteksi komplikasi

yang mungkin terjadi selama persalinan dan ketidaknormalan dalam persalinan.

Persalinan yang aman yaitu memastikan bahwa semua penolong mempunyai

pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan

bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi (Saiffudin,dkk;2002).

Lima benang merah dalam asuhan persalinan dasar adalah :

1. Aspek pemecahan yang diperlukan untuk menentukan pengambilan keputusan

klinik (clinik decicion making),

2. Aspek sayang ibu yang berarti sayang anak

3. Aspek pencegahan infeksi,

4. Aspek pencatatan

5. Aspek rujukan.

1.2 Tujuan Penulisan

1) Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan dan mempraktikan pada ibu bersalin dengan

pendekatan 7 langkah Varney.

2) Tujuan Khusus

1. Mengkaji dan mengumpulkan data akurat dari berbagai sumber yang berhubungan

dengan kondisi pasien.

5
2. Mengidentifikasi dengan benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien

berdasarkan interprestasi yang benar atau data-data yang telah dikumpulkan.

3. Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian

masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi.

4. Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk

dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai

dengan kondisi klien.

5. Merencanakan asuhan yang menyeluruh untuk pasien berdasarkan masalah yang

ada dan langkah-langkah sebelumnya.

6. Melaksanakan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada perencanaan

dan dilaksanakan secara efisien dan aman.

7. Mampu mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi

pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan

kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa

1.3 Manfaat Penulisan

1.3.1 Bagi Bidan Praktek Mandiri

Dengan adanya presentasi kasus ini dapat meningkatkan pelayanan kebidanan tentang

asuhan persalinan normal serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayinya

1.3.2 Bagi Pendidikan

6
Bagi Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang diharapkan dapat menambah

pengetahuan mahasiswa akademi kebidanan untuk melakukan pelayanan asuhan

persalinan normal

1.3.3 Bagi Klien/Masyarakat

Bagi klien atau masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi

setelah dilakukan asuhan kebidanan persalinan normal

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Persalinan

Persalinan adalah Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin & uri), yang dapat hidup

ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. (Mochtar, 1998)

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + plasenta) yang telah cukup

bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain,

dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).(sulistyawati, 2007)

Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi persalinan sejati, yang ditandai dengan

perubahan serviks secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta. Jadi persalinan

adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) dari rahim yang telah cukup bulan

atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain. (sulistyawati, 2007)

2.2 Sebab-sebab mulainya persalinan

Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah

merupakan teori-teori yang kompleks antara lain dikemukakan faktor-faktor femoral,

struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi.

1. Teori penurunan hormon : 1 – 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan

hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot – otot polos

8
rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar

progesteron turun.

2. Teori plasenta menjadi tua : akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan

progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini akan menimbulkan

kontraksi rahim.

3. Teori distensi rahim : rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan

iskemia otot – otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero – plasenter.

4. Teori iritasi mekanik : dibelakang serviks terletak ganglion servikale (flexsus

frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin, akan

timbul kontraksi uterus.

5. Induksi Partus : (induction of labour). Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan

1) Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan ke dalam kanalis servikalis

dengan tujuan merangsang fleksus frankenhauser

2) Amniotomi : pemecahan ketuban

3) Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus

2.3 Tanda-Tanda Permulaan Persalinan

Sebelum terjadi persalinan beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya atau

minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan. Ini memberikan tanda-tanda

sebagai berikut:

9
1. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas

panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.

2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.

3. Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih

tertekan oleh bagian terbawah janin.

4. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah

dari uterus, kadang-kadang di sebut “false labor pains”

5. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa

bercampur (bloody show).

2.4 Tanda – tanda masuk persalinan

1. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.

2. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan –

robekan kecil pada serviks’

3. Kadang –kadang ketuban pecah dengan sendirinya

4. Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada

Seperti dikemukakan terdahulu, faktor – faktor yang berperan dalam persalinan adalah:

1. Kekuatan mendorong janin keluar (power) :

· His (kontraksi uterus)

· Kontraksi otot – otot dinding perut

10
· Kontraksi diafragma

· Dan ligmentous action terutama ligamentum rotundum

2. Faktor janin (passager)

3. Faktor jalan lahir (passage)

Pada waktu partus akan terjadi perubahan – perubahan pada uterus, serviks, vagina, dan

dasar panggul.

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persalinan

Menurut Manuaba (2010) menyatakan bahwa, persalinan ditentukan oleh 5 faktor “P”

utama yaitu:

1. Power (Tenaga atau kekuatan), yaitu his (kontraksi otot rahim), kontraksi otot

dinding perut atau kekuatan meneran, ketegangan kontraksi ligamentum rotundum.

2. Passenger, yaitu keadaan janin (letak, presentasi, ukuran / berat janin, ada/tidak

kelainan), dan plasenta.

3. Passage, yaitu keadaan jalan lahir yang terdiri dari bagian keras tulang panggul dan

bagian lunak yaitu otot-otot jaringan, dan ligament-ligament.

4. Psikologi, yaitu psikis ibu mempengaruhi proses persalinan dimana psikis sangat

mempengaruhi keadaan emosional ibu dalam proses persalinan.

5. Penolong, yaitu penolong mempengaruhi proses persalinan dimana persalinan yang

ditolong oleh dokter / bidan yang profesional.

11
2.6 Tahapan Persalinan

1. Persalinan kala I (fase pematangan dan pembukaan)

a. Definisi

Inpartu di tandai dengan keluarnya lendir darah, karena serviks mulai membuka (dilatasi)

dan mendatar (effacement) kala dimulai dari pembukaan nol sampai pembukaan lengkap

(10cm) lamanya kala I untuk primigravida berlangsung ± 12 jam, sedangkan pada

multigravida berlangsung ± 8 jam. Berdasarkan kurva friedman pembukaan primi 1

cm/jam, sedangkan padamulti 2cm/jam

Kala pembukaan dibagi dua fase :

1) Pembukaan laten : pembukaan serviks, sampai ukuran 3 cm, berlangsung dalam 7 –

8 jam

2) Fase aktif : berlangsung ± 6 jam, di bagi atas 3 sub fase yaitu :

a. Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm

b. Periode dilatasi maksimal selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9

cm

c. Periode deselerasi berlangsung lambat, selama 2 jam pembukaan menjadi 10 cm

atau lengkap.

b. Asuhan pada kala I

1) Menghadirkan orang yang di anggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga

pasien atau teman dekat

12
Dukungan yang dapat diberikan :

a) Mengusap keringat

b) Menemani atau membimbing jalan – jalan (mobilisasi)

c) Memberikan minum

d) Merubah posisi dan sebagainya

e) Memijat atau menggosok punggung

2) Mengatur aktivitas dan posisi ibu

a. Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya

b. Posisi sesuai dengan keinginan ibu, namun bila ibu ingin di tempat tidur sebaiknya

tidak dianjurkan tidur dalam posisi terlentang lurus

3) Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his

Ibu di minta menarik nafas panjang, tahan nafas sebentar, kemudian dilepaskan dengan

cara meniup sewaktu ada his

4) Menjaga privasi ibu

Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan, antara lain tanpa

sepengetahuan dan seizin pasien atau ibu

5) Penjelasan tentang kemajuan persalinan

Menjelaskan kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu, serat

prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil – hasil pemeriksa

13
6) Menjaga kebersihan diri

Membolehkan ibu mandi untuk mandi, menganjurkan ibu emmbasuh sekitar

kemaluannya sesuai buang air kecil atau besar

7) Mengatasi rasa panas

Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat, dapat di atasi dengan cara :

a. Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar

b. Menggunakan kipas biasa

c. Menganjurkan ibu untuk mandi

8) Massase

Jika ibu suka, lakukan pijatan atau massase pada punggung atau mengusap perut dengan

lembut

9) Pemberian cukup minum

Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah rehidrasi

10) Mempertahankan kandung kemih tetap kosong

Sraankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

11) Sentuhan

Disesuaikan dengan keinginan ibu, memberikan sentuhan pada salah satu bagian tubuh

yang bertujuan untuk mengurangi rasakesendirian ibu selama proses persalinan

14
2. Persalinan kala II (kala pengeluaran janin)

a. Definisi

Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm) dan berakhir dengan

lahirnya bayi. Kala II juga disbeut kala pengeluaran bayi (APN 2008)

Gejala dan tanda kala II persalinan :

1. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi

2. Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum/pada vaginanya

3. Perineum menonjol

4. Vulva – vagina dan sfingter ani membuka

5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah (APN 2008)

Pada kala ini his terkoordinir, cepat dan lebih lama, kira – kira 2 – 3 menit sekali kepala

janin telah masuk keruangan panggul sehingga terjadi tekanan pada otot dasar panggul

yang menimbulkan rasa ingin mengedan, karena tekanan pada rectum, ibu ingin seperti

mau buang air besar, dengan tanda anus membuka. Pada saat his, kepala janin mulai

kelihatan, vulva membuka, perineum meregang. Dengan kekuatan his dan mengejan lebih

mendorong kepala bayi sehingga terjadi kepala, membuka pintu, dahi, hidung, mulut dan

muka dan seluruhnya, diikuti oleh putaran paksi luar yaitu penyesuaian kepala dengan

punggung. Setelah itu sisa air ketuban. Lamanya kala II untuk primigravida 60 menit dan

multigravida 30 menit.

b. Asuhan pada kala II

1) Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu

15
Kehadiran seseorang untuk :

a. Mendampingi ibu agar merasa nyaman

b. Menawarkan minum, mengipasi dan memijat ibu.

2) Menjaga kebersihan diri

a) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar infeksi

b) Bila ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan

3) Mengipasi dan massase

Menambah kenyamanan pada ibu

4) Memberikan dukungan mental

Untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu dengan cara :

a) Menjaga privasi ibu

b) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan

c) Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu

5) Mengatur posisi ibu

Dalam memimpin mengedan dapat dipilih posisi berikut :

a) Jongkok

b) Menungging

c) Tidur miring

16
d) Setengah duduk

Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan, kurangnya

trauma vagina dan perineum dan infeksi

6) Menjaga kandung kemih tetap kosong

Ibu dianjurkan untuk berkemih sesering mungkin. Kandung kemih yang penuh dapat

menghalangi turunnya kepala kedalam rongga panggul

7) Memberikan cukup minum

Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi

8) Memimpin meneran

Ibu dipimpin mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil nafas.

Mengedan tanpa diselingi bernafas, kemungkinan dapat menurunkan pH pada arteri

umbilicus yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak normal

9) Bernafas selama persalinan

Minta ibu untuk bernafas selagi kontraksi ketika kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar

perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala serta mencegah robekan

10) Pemantauan denyut jantung janin

Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi

(<120) selama mengedan yang lama, akan terjadi pengurangan aliran darah dan oksigen

ke janin

11) Melahirkan bayi

17
a) Menolong kelahiran kepala

- Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat

- Menahan perineum dengan satu tangan lainnya bila diperlukan

- Mengusap kepala bayi untuk membersihkan dari kotoran/lendir

b) Periksa tali pusat

- Bila lilitan tali pusat terlalu ketat, di klem pada dua tempat kemudian di gunting

diantara kedua klem tersebut sambil melindungi leher bayi

c) Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya :

- Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi

- Lakukan tarikan lembut kebawah untuk melahirkan bahu depan

- Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang

- Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga

kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh

bayi seluruhnya

- Pegang erat bayi agar jangan sampai jatuh

12) Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh

Setelah bayi lahir segera keringkan dan selimuti dengan menggunakan handuk atau

sejenisnya, letakkan pada perut ibu dan berikan bayi untuk menyusui

13) Merangsang bayi

18
- Biasanya dengan melakukan pengeringan cukup memberikan rangsangan pada

bayi

- Dilakukan dengan cara mengusap – usap pada bagian punggung atau menepuk

telapak kaki bayi

3. Persalinan kala III (kala uri/plasenta)

a. Definisi

Kala III adalah waktu dari keluarnya bayi hingga pelepasan dan pengeluaran uri

(plasenta) yang bgerlangsung tidak lebih dari 30 menit(JNPK-KR 2008)

1) Tanda – tanda pelepasan plasenta

a. Semburan darah

Semburan darah ini disebabkan karena penyumbatan retroplasenter pecah saat plasenta

lepas

b. Pemanjangan tali pusat

Hal ini disebabkan karena plasenta turun ke segmen uterus yang lebih bawah atau rongga

vagina

c. Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globular (bulat)

Perubahan bentuk ini disebabkan oleh kontraksi uterus

d. Perubahan dalam posisi uterus yaitu uterus naik ke dalam abdomen

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat setelah plasenta lepas TFU akan naik, hal

ini disebabkan oleh adanya pergerakan plasenta ke segmen uterus yang lebih bawah

19
b. Asuhan pada kala III

1) Pemberian suntik oksitosin

a) Letakkan bayi baru lahir di atas kain bersih yang telah disiapkan diperut bawah ibu

dan minta ibu atau pendampingnya untuk membantu memegang bayi tersebut

b) Pastikan tidak ada bayi lain di dalam uterus

c) Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik

d) Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin 10 unit IM

pada 1/3 bagian atas paha bagian luar

e) Dengan mengerjakan semua prosedur tersebut terlebih dahulu maka akan memberi

cukup waktu pada bayi untuk memperoleh sejumlah darah kaya zat besi dan setelah itu

(setelah dua menit) baru dilakukan tindkaan penjepitan dan pemotongan tali pusat

f) Serahkan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk inisiasi menyusui dini dan

kontak kulit dengan ibu

g) Tutup kembali perut bawah ibu dengan kain bersih

Alasan kain akan mencegah kontaminasi tangan penolong persalinan yang sudah

memakai sarung tangan dan mencegah kontaminasi oleh darah pada perut ibu.

2) Penegangan tali pusat terkendali

a) Berdiri di samping ibu

b) Pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat pada saat kala II) pada tali

pusat sekitar 5 – 10 cm dari vulva

20
c) Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat di atas simfisis

pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menekan uterus pada saat

melakukan penegangan tali pusat. Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali

pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus

ke arah lumbal dan kepala ibu (dorso – kranial). Lakukan secara hati – hati untuk

mencegah inversio uteri

d) Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali (sekita 2 – 3

menit berselang) untuk mengulangi kembali penegangan tali pusat terkendali

e) Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat menjulur) tegangkan tali

pusat ke arah bawah, lakukan dorso – kranial hingga tali pusat makin menjulur dan

korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan

f) Tetapi jika langkah 5 diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan plasenta tidak

turun setelah 30 – 40 detik dimulainya penegangan tali pusat dan tidak ada tanda – tanda

yang menunjukkan lepasnya plasenta, jangan lanjutkan penegangan tali pusat. (pegang

klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya. Jika perlu

pindahkan klem lebih dekat dengan perineum pada saat tali pusat memanjang.

Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta. Pada saat kontraksi berikutnya

terjadi, ulangi penegangan tali pusat terkendali dan tekanan dorso – kranial pada korpus

uteri secara serentak. Ikuti langkah – langkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa

plasenta terlepas dari dinding uterus)

g) Setelah plasenta lepas, anjurkan ibu untuk meneran agar plasenta terdorong keluar

melalui introitus vagina. Tetap tegangkan tali pusat dengan arah sejajar lantai (mengikuti

poros jalan lahir)

21
h) Pada saat plasenta terlihat pada intoritus vagina, lahirkan plasenta dengan

mengangkat tali pusat ke atas dan menopang tali pusat ke atas dan menopang plasenta

dengan tangan lainnya untuk diletakkan dalam wadah penampung. Karena selpaut

ketuban mudah robek, pegang plasenta dengan kedua tangan dan secara lembut putar

plasenta hingga selaput ketubah terpilin menjadi satu

i) Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan – lahan untuk melahirkan selaput

ketuban

j) Jika selaput robek dan tertinggal di jalan lahir saat melahirkan plasenta, dengan

hati – hati periksa vagina dan serviks dengan seksama. Gunakan jari – jari tangan

atauklem DTT atau forsep untuk keluarkan selaput ketuban yang teraba

3) Rangsangan taktil (massase) fundus uteri

Segera setelah plasenta lahir, lakukan massase fundus uterus :

a) Letakkan telapak tangan pada fundus uterus

b) Menjelaskan tindakan kepada ibu, bahwa ibu mungkin merasa agar tidak nyaman

karena tindakan yang diberikan. Anjurkan ibu untuk menarik nafas dalam dan perlahan

serta rileks

c) Dengan lembut tapi mantap gerakan tangan dengan arah memutar pada fundus uteri

supaya uterus berkontraksi. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik, lakukan

penatalaksanaan atonia uteri

d) Periksa plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya lengkap dan utuh

(periksa plasenta sisi maternal yang melekat pada dinding uterus untuk memastikan

bahwa semuanya lengkap dan utuh, tidak ada bagian yang hilang. Pasangkan bagian –

22
bagian plasenta yang robek atau terpisah untuk memastikan tidak adanya kemungkinan

lobus tambahan. Evaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya

e) Periksa kembali uterus setelah 1 – 2 menit untuk memastikan uterus berkontraksi.

Jika uterus masih belum berkontraksi baik, ulangi massase fundus uetri. Ajarkan ibu dan

keluarga cara melakukan massase fundus uterus sehingga mampu untuk segera

mengetahui jika uterus tidak berkontraksi dengan baik

f) Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan

setiap 30 menit selama 1 jam kedua psaca persalinan

4. Persalinan kala IV

a. Definisi

Kala IV adalah kala pengawasan dari 1- 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk

memantau kondisi ibu. Harus diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap

30 menit pada jam kedua

b. Asuhan pada kala IV

1) Lakukan rangsangan taktil (massase) uterus untuk merangsang uterus berkontraksi

baik dan kuat

2) Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang dengan

pusat sebagai patokan. Umumnya, fundus uterus setinggi atau beberapa jari di bawah

pusat

3) Perkiraan kehilangan darah secara keseluruhan

4) Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi) perineum

23
5) Evaluasi keadaan umum ibu

Pantau keadaan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan darah yang keluar setiap

15 menut selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat

6) Dokumentasi semua asuhan selama persalinan kala IV di bagian belakang partograf,

segera setelah asuhan dan persalinan dilakukan (APN. 2008)

2.7 PARTOGRAF

Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan.

Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:

1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan

serviks melalui pemeriksaan dalam.

2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian,

juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama

(Depkes RI, 2007).

Jika digunakan secara tepat dan konsisten, maka partograf akan membantu penolong

persalinan untuk:

1. Mencatat kemajuan persalinan.

2. Mencatat kondisi ibu dan janinnya.

3. Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.

24
4. Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya

penyulit.

5. Menggunakan informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan

tepat waktu

Penggunaan Partograf

1. Untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sebagai elemen penting

asuhan persalinan. Partograf harus digunakan, baik tanpa ataupun adanya penyulit.

Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan

membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulit.

2. Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan

swasta, rumah sakit, dll).

3. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu

selama persalinan dan kelahiran (Spesialis Obgin, bidan, dokter umum, residen dan

mahasiswa kedokteran).

4. Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya

mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu, juga mencegah terjadinya

penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka (Prawirohardjo, 2002).

Kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu:

1. Denyut jantung janin setiap 1/2 jam

2. Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus setiap 1/2 jam

25
3. Nadi setiap 1/2 jam

4. Pembukaan serviks setiap 4 jam

5. Penurunan kepala setiap 4 jam

6. Tekanan darah dan temperatur tubuh setiap 4 jam

7. Produksi urin, aseton dan protein setiap 2 sampai 4 jam

Pencatatan selama fase aktif persalinan

Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif

persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan

selama fase aktif persalinan, termasuk:

1. Informasi tentang ibu:

· Nama, umur.

· Gravida, para, abortus (keguguran).

· Nomor catatan medis/nomor puskesmas.

· Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu penolong

persalinan mulai merawat ibu).

· Waktu pecahnya selaput ketuban.

2. Kondisi janin:

· DJJ

· Warna dan adanya air ketuban

26
· Penyusupan (molase) kepala janin

3. Kemajuan persalinan:

· Pembukaan serviks

· Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin

· Garis waspada dan garis bertindak

4. Jam dan waktu:

· Waktu mulainya fase aktif persalinan

· Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian

5. Kontraksi uterus:

· Frekuensi dan lamanya

6. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:

· Oksitosin

· Obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan

7. Kondisi ibu:

· Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh

· Urin (volume, aseton atau protein)

8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalam kolom yang

tersedia di sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan).

27
Mencatat temuan Partograf

1. Informasi tentang ibu

· Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat memulai asuhan

persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai: "jam" pada partograf) dan perhatikan

kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah

ketuban.

2). Kesehatan dan kenyamanan janin

· Kolom, lajur dan skala angka pada partograf adalah untuk pencatatan denyut

jantung janin (DJJ), air ketuban dan penyusupan (kepala janin).

a). Denyut jantung janin

· Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian Pemeriksaan

fisik, nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada

tanda-tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian ini, menunjukkan waktu 30 menit.

Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi

tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian

hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis tidak terputus.

· Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka 180 dan

100. Tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160.

Untuk tindakan-tindakan segera yang harus dilakukan jika DJJ melampaui kisaran

nor¬mal ini. Catat tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah

satu dari kedua sisi partograf.

28
b). Warna dan adanya air ketuban

· Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air

ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di

bawah lajur DJJ. Gunakan lambang-lambang berikut ini:

1. U : Ketuban utuh (belum pecah)

2. J : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

3. M:Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium

4. D : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah

5. K : Ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban ("kering")

· Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin.

Jika terdapat mekonium, pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat

janin selama proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin <

100 atau >180 kali per menit), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai.

Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki asuhan

kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.

c). Molase (penyusupan kepala janin)

· Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat

menyesuai¬kan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang saling

menyusup atau tumpang tindih, menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang

panggul (CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar-benar terjadi jika tulang kepala

yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan.

29
· Apabila ada dugaan disproprosi tulang panggul, penting sekali untuk tetap

memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal

yang sesuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas

kesehatan yang memadai.

· Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin. Catat

temuan di kotak yang sesuai (Gambar 2-6) di bawah lajur air ketuban. Gunakan lambang-

lambang berikut ini:

· 0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi

· 1 : tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

· 2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat dipisahkan

· 3 : tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan

3). Kemajuan Persalinan

· Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan

persalinan. Angka 0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi

serviks. Masing-masing angka mempunyai lajur dan kotak tersendiri. Setiap angka/kotak

menunjukkan besarnya pembukaan serviks. Kotak yang satu dengan kotak yang lain pada

lajur diatasnya, menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm. Skala angka 1-5 juga

menunjukkan seberapa jauh penurunan janin. Masing-masing kotak di bagian ini

menya¬takan waktu 30 menit.

30
a. Pembukaan serviks

· Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan Fisik dalam

bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering dilakukan jika ada

tanda-¬tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf

hasil te¬muan dari setiap pemeriksaan. Tanda "X" harus ditulis di garis waktu yang

sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan-temuan dari

pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis

waspada. Hubungkan tanda "X" dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak

terputus).

b. Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin

· Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan fisik di bab

ini. Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada

tanda¬-tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah atau presentasi janin.

· Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks umumnya diikuti dengan

turunnya bagian terbawah atau presentasi janin. Tapi kadangkala, turunnya bagian

terbawah/presen¬tasi janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar 7 cm.

· Kata-kata "Turunnya kepala" dan garis tidak putus dari 0-5, tertera di sisi yang

sama dengan angka " pada garis waktu yang sesuai. pembukaan serviks. Berikan tanda "

" di Sebagai contoh, jika kepala bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda " " dari setiap

pemeriksaan dengan garis tidak nomor 4. Hubungkan tanda " terputus.

· Garis waspada dan garis bertindak

· Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik di

mana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1 cm per jam.

31
· Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. Jika

pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1

cm per jam), maka harus dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase aktif yang

memanjang, macet, dll.).

· Pertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya

persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang

mampu menangani penyulit dan kegawat daruratan obstetri.

· Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau

4 jalur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak,

maka tindakan untuk menyelesaikan per¬salinan harus dilakukan. Ibu harus tiba di

tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.

4). Jam dan waktu

a..Waktu mulainya fase aktif persalinan

· Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-kotak

yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase

aktif persalinan.

b..Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan

· Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk

mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan.

· Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu

tiga puluh menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di bawahnya.

32
· Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan pembukaan serviks di garis

waspada.

· Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.

Sebagai contoh, jika pemeriksaan dalam menunjukkan ibu mengalami pem¬bukaan 6 cm

pada pukul 15.00, tuliskan tanda "X" di garis waspada yang sesuai dengan angka 6 yang

tertera di sisi luar kolom paling kiri dan catat waktu yang sesuai pada kotak waktu di

bawahnya (kotak ketiga dari kiri).

5). Kontraksi uterus

Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan "kontraksi per

10 menit" di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi.

Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi

dalam satuan detik.

Nyatakan lamanya kontraksi dengan:

Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya kurang

dari 20 detik.

Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya 20-40

detik.

Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya lebih dari 40

detik.

33
6). Obat-obatan yang diberikan

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat

oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV

a). Oksitosin.

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit

oksi¬tosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.

b). Obat-obatan lain dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang

sesuai dengan kolom waktunya.

7). Kesehatan dan kenyamanan ibu

· Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan kesehatan dan

kenyamanan ibu.

a. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh

· Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah

ibu.

1. Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. (lebih sering

jika dicurigai adanya penyulit). Beri tanda titik pada kolom waktu yangsesuai)

2. Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih

sering jika dianggap akan adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom

waktu yang sesuai.

34
3. Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika meningkat, atau dianggap

adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh dalam kotak yang sesuai.

b. Volume urin, protein atau aseton

· Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu

berkemih). Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan pemeriksaan adanya

ase¬ton atau protein dalam urin.

8). Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

· Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom

partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga

tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.

· Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinik mencakup:

1. Jumlah cairan per oral yang diberikan.

2. Keluhan sakit kepala atau pengelihatan (pandangan) kabur.

3. Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter

umum).

4. Persiapan sebelum melakukan rujukan.

5. Upaya Rujukan.

Pencatatan pada lembar belakang Partograf

· Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi

selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak

persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir).

35
· Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai Catatan Persalinan.

· Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama

selama persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah

terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang se¬suai.

· Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutama pada

pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan). Selain itu,

catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat pula digunakan

untuk menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan

yang dan bersih aman.

Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut:

1. Data dasar

2. Kala I

3. Kala II

4. Kala III

5. Bayi baru lahir

6. Kala IV

Cara pengisian:

· Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan,

lembar belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara

36
pengisian catatan persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci

disampai¬kan menurut unsur-unsurnya sebagai berikut.

1). Data dasar

· Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat

persalinan, catatan, alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat merujuk.

Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan, atau dengan cara memberi

tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai.

2). Kala I

· Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis

waspada, masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil

penatalaksanaan tersebut.

3). Kala II

· Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu,

masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya.

4). Kala III

· Kala III terdiri dari lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat

terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit,

laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya,

isi jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di samping jawaban

yang sesuai.

37
5). Bayi baru lahir

· Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat dan panjang badan, jenis

kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta,

penatalaksanaan ter¬pilih dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan serta

beri tanda ada kotak di samping jawaban yang sesuai.

6). Kala IV

· Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi

uterus, kan¬dung kemih dan perdarahan. Pemantauan pada kala IV ini sangat penting

terutama untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pascapersalinan.

Pengisian peman¬tauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama setelah

melahirkan, dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya. Isi setiap kolom sesuai dengan

hasil pemeriksaan dan Jawab pertanyaan mengenai masalah kala IV pada tempat yang

telah disediakan (Depkes RI, 2007).

2.8 INISIASI MENYUSUI DINI

Inisiasi Menyusui Dini adalah proses memberikan kesempatan bayi yang baru lahir untuk

menyusu sendiri kepada ibunya dalam 1 jam pertama setelah bayi lahir. Sementara

manfaat IMD (Inisiasi Menyusu Dini) sendiri sangat berguna secara fisiologis maupun

psikologis, baik untuk bayi maupun ibu.Untuk ibu, sentuhan dan hisapan payudara ibu

bisa membantu mengeluarkan plasenta dan mencegah terjadinya perdarahan.Sementara

untuk bayi, selain memberikan rasa nyaman dan hangat, juga bermanfaat untuk

memberikan antibodi tubuh sehingga dapat menekan tingkat kematian bayi.

38
Sehubungan dengan manfaat IMD yang begitu besar, dalam rangka menurunkan angka

kematian bayi baru lahir di Indonesia dan sekaligus pemenuhan hak anak, Kementerian

Kesehatan RI sudah memberikan pedoman pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini sesaat

setelah bayi lahir. Pedoman ini berlaku untuk tenaga medis yang bertugas di seluruh

puskesmas dan jaringannya, dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bayi

baru lahir di Indonesia.

Teknisnya, sesaat setelah bayi lahir dan dipotong tali pusatnya, bayi segera diletakkan di

dada ibu dengan posisi tengkurap, di mana antara kulit bayi dengan kulit ibu kontak

langsung. Proses Inisiasi Menyusu Dini ini bisa dilakukan, jika proses persalinan ibu

dilakukan secara normal, sehingga memungkinkan ibu untuk melakukan IMD sesuai yang

dianjurkan. Sedangkan, bagi ibu yang melahirkan secara caesar, peluang untuk

melakukan IMD lebih kecil, mengingat kondisi kesehatan ibu pasca operasi belum

memungkinkan untuk melakukan itu.

Berikut adalah pedoman pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang dikeluarkan oleh

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

1. Dianjurkan ada pendamping persalinan yang mendampingi ibu di kamar bersalin,

bisa suami atau anggota keluarga yang lain.

2. Bayi lahir segera dikeringkan seluruh tubuhnya, kecuali tangannya tanpa

menghilangkan vernix, kemudian tali pusat diikat.

3. Apabila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu di mana

kulit bayi melekat kulit ibu (skin to skin contact) dengan posisi mata bayi setinggi puting

susu ibu. Keduanya diselimuti dan tak lupa bayi diberi topi.

39
4. Biarkan bayi sendiri yang mencari puting susu ibu, sementara ibu dianjurkan untuk

merangsangnya dengan sentuhan lembut.

5. Tenaga kesehatan mendukung dan membantu ibu dalam mengenali perilaku bayi

sebelum proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

6. Biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibu minimal 1 jam, meskipun bayi

sudah selesai menyusu kurang dari 1 jam.

7. Apabila dalam waktu 1 jam bayi belum menemu

40
kan puting susu ibu, dekatkan mulut bayi dengan puting susu ibu dan biarkan kontak kulit

bayi dengan kulit ibu terjadi selama 30 menit atau 1 jam sesudahnya.

Setelah proses IMD ini selesai dilakukan, barulah bayi dilakukan penanganan lebih lanjut

oleh tenaga kesehatan, seperti: ditimbang, diukur, dicap/diberi tanda identitas, diberi

salep mata dan penyuntikan vitamin K1 pada paha kiri. Satu jam kemudian, bayi

diberikanimunisasi Hepatitis B (HB 0) pada paha kanannya.

41
FORMAT ASUHAN KEBIDANAN
PRODI DIII KEBIDANAN STIKES MAMBA’UL ‘ULUM SURAKARTA
Jl Ring Road Utara Tawangari Mojosongo Jebres Surakarta Telp (0271) 858172

ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN


PADA NY R USIA 21 Thn G1P0A0 UK 37 MINGGU
Di KLINIK BERSALIN PERMATA HATI
TAHUN 2019

Tanggal / Jam Masuk : 07 januari 2019/20.00

Tempat : KLINIK BERSALIN PERMATA HATI


I. PENGKAJIAN
A. DATA SUBYEKTIF (S)
Tanggal/ Jam Pengkajian :07 januari 2019
1. Identitas :
Nama Klien : Ny R Nama Suami : Tn E
Umur : 21 tahun Umur : 31 tahun
Suku Bangsa : Indonesia Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMK Pendidikan : SMK
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh
Alamat : Magorejo rt 04/05 Jatingarang
2. Alasan Datang / Keluhan :
Ibu mengatakan perut kenceng-kenceng sejak tadi pagi jam 10.00 wib

3. Data kebidanan :
a) Haid :
- Menarche : 12 Lamanya : 7 Hari
tahun
- Siklus : 28 hari Banyaknya : ganti pembalut ..3.. x/hr
- Dismenorea : Tidak ada Keputihan : Normal
- Keluhan : Tidak ada
b) Riwayat kehamilan sekarang :
GPA : G1P0A0 Umur kehamilan : 37 minggu
HPHT : 23 April 2018 HPL : 30 Januari 2019
Pergerakan janin : kali / hari
Pergerakan janin terakhir : kali/ 2 jam
Frekuensi ANC : 6x teratur
Tempat ANC :

42
 Imunisasi TT :
Imunisasi Tanggal
TT 1 SD kelas 1
TT 2 SD kelas 6
TT 3 Calon pengantin agustus 2017
TT 4 Hamil TM II
TT 5

 Keluhan :
Trimester Keluhan
TM 1 Pusing,mual,muntah
TM 2 Tidak ada keluhan
TM 3 Pegel-pegel,sering kencing
c) Riwayat kehamilan / persalinan / nifas /menyusui yang lalu
NO KEHAMILAN PERSALINAN BAYI
Hamil Umur Tgl/ Jenis Tempat Kompli Penolong JK BB( Keadaan Umur skrg
Ke Kehamil Thn Partus Partus kasi (P/L) gra lahir
(GPA) an Part m)
(bulan) us PB
(cm
)

NO NIFAS MENYUSUI
Lact Perdarahan Infeksi IMD ASI Masalah PASI/ MP-
Eksklusif Payudara ASI

4. Data Kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
- Tanda Persalinan
1) Kontraksi : Sejak tanggal 07 januari 2019 jam 10.00 WIB
Frekuensi : 3 x/ 10 menit, teratur
2) Pengeluaran Pervaginam
Lendir darah :
Air Ketuban : Belum / Sudah Pecah, Sejak Tanggal jam
Warna :
Darah :
-

43
Riwayat penyakit Sistemik :
Jantung TBC
DM Asma
Hipertensi Epilepsi
Hepatitis IMS
Lain-lain, Jelaskan: tidak
ada

- Pengobatan yang pernah didapat :


-Alergi terhadap obat : Tidak ada
b) Riwayat kesehatan yang lalu :
- Riwayat penyakit yang diderita :
Jantung TBC
DM Asma
Hipertensi Epilepsi
Hepatitis IMS
Lain-lain, Jelaskan: tidak
ada................................................................................
- Operasi yang pernah dialami : tidak ada...................................................................
c) Riwayat kesehatan keluarga
- Riwayat penyakit yang diderita
Jantung TBC
DM Asma
Hipertensi Epilepsi
Hepatitis IMS
Lain-lain, Jelaskan: tidak ada
- Operasi yang pernah dialami : .tidak ada...........................................................................
- Keturunan Kembar : Ada Tidak Ada
No Penyulit Ya Tidak
1 Riwayat bedah sesar 
2 Perdarahan pervaginam 
3 Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu) 
4 Ketuban pecah dengan mekonium yang kental 
5 Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam) 
6 Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kurang dari 37 minggu 
usia kehamilan)
7 Ikterus 
8 Anemia berat 
9 Tanda/gejala infeksi 
10 Preeklampsia/Hipertensi dalam kehamilan 
11 Tinggi fundus 40 cm atau lebih 
12 Gawat janin 

44
13 Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin 
masih 5/5
14 Presentasi bukan belakang kepala 
15 Presentasi majemuk 
16 Kehamilan gemeli 
17 Tali pusat menumbung 
18 Syok 

5. Kebiasaan sehari-hari :
Kebutuhan Yang Terakhir
 Pola makan
 Makan
Frekuensi 3x sehari
Porsi 1 piring
Jenis nasi lauk sayur
Pantangan Tidak ada
 Minum .
Frekuensi 3x sehari
Jenis
 Keluhan Tidak ada
 Merokok Tidak merokok
 Minuman keras Tidak minuman keras
 Minum Jamu
 Istirahat
Lama Tidur 6-7 jam/hari
Keluhan Tidak ada
 Personal Hygiene
Mandi 2x sehari
Keramas 3x seminggu
Sikat gigi 2x sehhari
Ganti pakaian 2x sehari
Keluhan Tidak ada
 Kehidupan Sexual
Frekuensi 2x seminggu.
Keluhan tidak ada
 Eliminasi
Frekuensi BAK
Warna jernih kuning
Bau khas
Konsistensi cair
Keluhan Tidak ada
Frekuensi BAB
Warna Kuning lunak
Bau khas
Konsistensi padat
Keluhan Tidak ada

45
6. Riwayat KB
No Jenis Kontrasepsi Lama Kapan Alasan
Penggunaan Drop Out drop out
Belum pernah Belum pernah Belum pernah Belum pernah

Rencana KB : Ada
Jenis Kontrasepsi : Kb suntik
Kapan : Setelah menyusui 6 bulan
Tanggapan Suami : Suami mendukung
Jumlah anak yang diinginkan : 2 anak
7. Riwayat Psiko Sosial
a) Status perkawinan
- Kawin : Tahun 2017
- Usia kawin pertama : 19 tahun Usia suami : 29
- Lama perkawinan : 2 tahun
b) Data Psikososial Budaya
- Pengetahuan ibu tentang tanda – : Ibu mengetahui tanda-tanda keluar lendir
tanda persalinan & proses darah dan kenceng-kenceng semakin sering
persalinan dan teratur

- Perasaan ibu menghadapi proses : Ibu tampak cemas


persalinan
- Dukungan keluarga terhadap : Keluarga mendukung persalinan Ny
proses persalinan yang dihadapi R,keluarga berharap agar proses
persalinannya berjalan dengan lancar
- Keluarga Lain yg tinggal serumah : Keluarga mendukung oersalinan Ny R
- Kebiasaan adat istiadat dalam : Tidak ada
kehamilan
- Pengambil keputusan dalam :
keluarga

B. DATA OBYEKTIF (O)


1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Composmentis
b) Vital Sign : T: 110/70 R: 23
mmHg x/mnt
: N:82 x/mnt S: 36,6 C
c) BB Sebelum hamil : 48 Kg TB : 155 Cm
BB Sekarang : 61 kg LILA : 27
(sebelum partus)
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala dan Wajah
- Rambut : Warna : Hitam Pertumbuhan : Rata
rambut
Lesi : Tidak ada Oedem kepala : Tidak ada
Kotor : Tidak kotor Bau : Tidak bau

46
- Muka : Cloasma : Tidak ada Oedem : Tidak ada
gravidarum
- Mata : Sklera : Putih Konjungtiva : Merah muda
Sekret : Tidak ada
- Hidung : Sekret : Tidak ada Perdarahan : Tidak ada
Polip : Tidak ada
- Telinga : Simetris : Simetris Sekret : Tidak ada
Nyeri : Tidak ada Bau : Tidak ada
- Mulut : Kotor : Tidak ada Simetris : Simetris
Warna : Merah
- Gigi : Caries : Tidak ada Karang Gigi : Tidak ada
- Gusi : Warna : Merah Oedema : Tidak ada
muda
Lesi : Tidak ada
- Bibir : Warna : Merah Kelembapan : Tidak ada
muda
Lesi : Tidak ada Simetris : Simetris
b) Leher Simetris : Simetris Kekakuan : Tidak kaku
Kelenjar Tiroid : Tidak ada Kelenjar Parotis : Tidak ada
c) Dada Type Pernapasan : :
- Payudara Pembesaran : Sesuai Simetris : Simetris
Warna : Puting susu : Menonjol
Benjolan/masa : Tidak ada Retraksi :
Nyeri : Tidak nyeri Hyperpigmentasi :
Pengeluaran : Jenis pengeluaran :
- KGB Axila :Pembesaran : Tidak ada
d) Ekstremitas : Oedema : Tidak ada Kuku Jari : Ujung kuku
kemerahan,tidak
pucat
Varices : Tidak ada Reflek Patella : Normal
e) Abdomen :Pembesaran : Sesuai/Tidak sesuai dengan tuanya kehamilan
Simetris : Simetris Linea Alba/nigra : Ada
Bekas luka OP : Tidak ada Striae : Tidak ada
Leopold I : Dibagian teratas perut ibu teraba bagian janin
bulat,tidak melenting yaitu bokong

Leopold II : Perut ibu sebelah kanan teraba bagian yang memanjang


dank eras seperti tahanan (punggung janin) bagian kiri
teraba bagian kecil janin ( ekstremitas)
Leopold III : Perut ibu bagian bawah teraba bulat,keras dan
melenting (kepala janin) kepala suda masuk panggul
(tidak bisa digoyangkan)
Leopold IV : Bagian terbawah janin sebagian besar suda masuk PAP
2/5 bagian

TFU Mc Donald : 32
TBJ : (32-11) x 155=3.255
Gerakan Janin : Aktif
- Kontraksi Frekuensi : 3x Durasi : 10 menit

47
Intensitas : Sedang
- Palpasi supra pubik (kandung :
Kemih)
- Pemeriksaan Osborn :
f) DJJ Frekuensi : 144x/menit Teratur / Tidak : Teratur
Punctum :
maksimum
g) Genetalia Eksterna
- Vagina : Varices : Tidak ada Pengeluaran :
Infeksi : Tidak ada Bekas Luka : Tidak ada
Tanda Chadwick : Tidak ada Oedem : Tidak ada
- Kelenjar Oedema : Tidak ada Cairan : Tidak ada
Bartholini
Massa/ kista : Tidak ada
h) Anus & Rectum : Ada / Tidak Ada Haemoroid
i Pemeriksaan Dalam (VT) Tanggal 07 januari 2019 jam 21.00
- Vagina : Licin,tidak ada massa
- Portio : Tipis
- Pembukaan : 2 cm
- Kulit Ketuban : Positif
- Air Ketuban : Positif
- Presentasi : Kepala
- Penurunan (bidang Hodge) : Hodge III

Penunjuk di jam :
- Kesan Panggul Dalam : Normal

3. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laborat : Hb 11,4 gr/dl tanggaal 2
januari 2019
HbsAg negative
-USG :
- Rontgen : Tidak ada
- Pemeriksaan lain : Tidak ada

4. Pengobatan Yang sudah didapat

Sangotonik,kalk,asam folat

48
II. INTERPRETASI DATA
Tanggal 07 januari 2019 , Jam 20.30 WIB
Diagnosa Kebidanan/ Masalah/ Kebutuhan

A. Diagnosa
DS :
G1P0A0 UK 37 mgg janin tunggal,hidup,intauteri,presentasi kepala
dalam persalinan kala 1 fase laten.

DO :

a) Keadaan Umum:Baik Kesadaran : Composmentis


b) Vital Sign :
TD: 110/70 mmHg R: 23 x/mnt
N:82 x/mnt S: 36,6 C
c) BB Sebelum hamil : 48 Kg
TB :155 Cm
BB Sekarang (sebelum partus) :61 kg
LILA :27 cm
B. Masalah
Tidak ada

III. DIAGNOSA POTENSIAL DAN ANTISIPASI (Bila ada)


Tidak ada

IV. TINDAKAN SEGERA (Bila perlu)


Tidak ada

V. RENCANA TINDAKAN
Tanggal 7 januari 2019 , Jam 20.45 WIB
1. Observasi KU dan tekanan darah setiap 4 jam/bila ada indikasi
2. Observasi kontraksi uterus dan DJJ setiap 30 menit
3. Observasi nadi setiap 30 menit
4. Observasi suhu setiap 2 jam
5. Observasi pembukaan setiap 4 jam/ bila ada indikasi
6. Jelaskan pada ibu mengenai keadaannya dan bayinya
7. Anjurkan ibu untuk miring ke kiri
8. Massase daerah oinggang dan perut ibu
9. Anjurkan pada ibu untuk nafas panjang jika ada his
10. Berikan makan dan minum disela his

49
VI. PELAKSANAAN TINDAKAN
Tanggal 08 januari 2019 , Jam 20.50 WIB
1. Memberitahukan pada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan,bahwa kondisi
ibu saat ini telah memasuki proses persalinan dengan tanda-tanda persalinan yaitu
mulas-mulas pada perut bagian bawah keluar lendir berwarna kecoklatan
bercampur sedikit darah,proses persalinannya telah memasuki pembukaan 2cm
2. Mempersiapkan ruangan untuk bersalin,perlengkapan alat-alat untuk bersalin
(partus set,heating set),alat resusitasi,pakaian bayi,dan alat penanganan syok serta
perdarahan.
3. Menganjurkan suami/keluarga untuk mendampingi ibu saat bersalin
4. Menganjurkan ibu untuk mencoba posisi yang nyaman selama persalinan

VII. EVALUASI
Tanggal 08 Januari 2019 , Jam 21.00 WIB
1. KU : baik kesadaan : composmentis
Vital sign : TD : 110/70 mmHg
S : 36,5
N : 80x/ menit
R : 24x/ menit
2. DJJ : 144x/menit
His : 4x dalam 10 menit,durasi 45 detik intensitas kuat,sering
PPV : ketuban positif lender darah (+)

50
LAMPIRAN
Pengawasan Kemajuan Persalinan Kala I
No Hari/ KU & TTV HIS DJJ VT Pengeluaran Keterangan (Tindakan
Tanggal/ (T: mmHg, (Frek: x/mnt, (Frek: x/mnt, (Dinding vagina, portio, pervaginam /Pengobatan/ Lain-lain)
Jam N: x/mnt, Intensitas Intensitas pembukaan, KK, AK, (bloodshow/ air
R: x/mnt, :kuat/sedang/lemah, :kuat/sedang/lemah, presentasi, penurunan ketuban/ darah)
S: ºC) Teratur/tidak) Teratur/tidak) bid.hodge) dan waktu/jam
1.Senin/07 Ku : Baik 3x/10menit lama 30 144 Dinding vagina +/O

januari TD : 110/70 detik,intensitas x/menit,intensitas licin,portio

2019/21.00 N : 82x/menit sedang,sering sedang,teratur tipis,pembukaan

R : 23x/menit 2cm,presentasi

S : 36,6 kepala,penurunan 2/5

51
Senin/07 Ku : Baik 3x/10 menit lama 142 Dinding vagina +/O

januari TD:110/70 30 detik,intensitas x/menit,intensitas licin,portio

2019/21.30 mmHG sedang,sering sedang,teratur tipis,pembukaan

N : 82x/menit 2cm,presentasi

R : 24x/menit kepala,penurunan 3/5

S : 36,3

Senin/07 Ku : Baik 3x/10 menit lama 142x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/70 30 detik,intensitas sedang,teratur

2019/22.00 N : 82x/menit sedang,teratur

R : 22x/menit

52
S : 36,3

Senin/07 Ku : Baik 3x/10 menit lama 144x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/70 35 detik,intensitas sedang,teratur

2019/22.30 N : 82x/menit sedang,teratur

R : 24x/menit

S : 36,5

Senin/07 Ku : Baik 4x/10 menit lama 142x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/80 40 detik,intensitas kuat teratur

2019/23.00 N : 88x/menit kuat,teratur

S : 36,6

53
Senin/07 Ku : Baik 4x/10 menit lama 144x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/80 45 detik,intensitas kuat teratur

2019/23.30 N : 84x/menit kuat,teratur

S : 36,4

Selasa/08 Ku : Baik 4x/10 menit lama 145x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/70 35 detik,intensitas kuat,teratur

2019/00.00 N : 87x/menit kuat,teratur

S : 36,6

Selasa/08 Ku : Baik 4x/10 menit lama 144x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/70 45 detik,intensitas kuat,teratur

54
2019/00.30 N : 88x/menit kuat,teratur

S : 36,6

Selasa/08 KU : Baik 5x/10 menit lama 142x/menit,intensitas Dinding vagina +/O

januari TD : 110/70 45 detik,intensitas kuat,teratur licin,portio

2019/01.00 N : 88x/menit kuat,teratur tipis,pembukaan

S : 36,4 7cm,presentasi

kepala,penurunan 2/5

55
Selasa/08 Ku : Baik 5x/10 menit lama 144x/menit,intensitas - +/O

januari TD : 110/70 40 detik,intensitas kuat,teratur

2019/01.30 N : 84x/menit kuat,teratur

S36,6

Selasa /08 Ku : Baik 5x/10 menit lama 142x/menit,intensitas Dinding vagina +/O

januari TD : 110/80 45 detik,intensitas kuat,teratur licin,portio

2019/02.00 N : 87x/menit kuat teratur tipis,pembukaan

S : 36,6 lengkap,presentasi

kepala,penurunan 2/5

56
DATA PERKEMBANGAN

Tanggal/ Jam : 08 januari 2019/02.30

I. DATA SUBJEKTIF (S)

ibu mengatakan perut mules semakit kuat ingin meneran seperti BAB

II. DATA OBJEKTIF (O)


Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis, terlihat tanda gejala
kala II yaitu adanya dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, perineum
menonjol dan vulva membuka, his 5 x dalam 10 menit lamanya 50 detik, DJJ
130x/menit, teratur. Pemeriksaan dalam pembukaan lengkap (10cm). Portio tidak
teraba. Dilakukan amniotomi, presentasi kepala, posisi ubun – ubun kecil depan,
penurunan kepala hodge III, kandung kemih teraba kosong, perdarahan kala II : ±
150 cc.

III. ASSESMENT (A)

Diagnosa : Ny.R usia 21 tahun G1 P0 A0 hamil 37 minggu inpartu kala II,


janin tunggal hidup intra uterine, punggung kiri, presentasi kepala, sudah masuk
PAP. Hodge III
Masalah : tidak ada Kebutuhan : tidak ada

IV. PENATALAKSANAAN (P)


Tanggal/ Jam : 08 januari 2019/02.35
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu telah pembukaan
lengkap sehingga ibu segera melahirkan.
Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan
2. Mendekatkan partus set, hecting set, obat uterotonika.
Obat sudah di dekatkan
3. Membimbing ibu meneran pada saat his (mulas), anjurkan ibu meneran pada
saat his.
Ibu akan meneran pada saat his
4. Mengobservasi DJJ di sela – sela his setiap 5 menit sekali
Sudah diobservasi DJJ
5. Menolong persalinan sesuai dengan langkah asuhan persalinan normal
Sudah dilakukan asuhan persalinan normal
Bayi lahir spontan pukul 02.50 WIB. Neonatus cukup bulan, bayi menangis kuat,
warna kulit kemerahan, pergerakan aktif, jenis kelamin perempuan, Bayi lahir
tidak ada cacat bawaan. BB : 3255 gram PB : 50 cm
6. Mengeringkan tubuh bayi di atas perut ibu dengan handuk bersih.
Bayi sudah dikeringkan di atas perut ibu

57
DATA PERKEMBANGAN

Tanggal 8 januari 2019 pukul :03.00 WIB


I. DATA SUBJEKTIF

Ibu mengatakan masih merasa mulas dan senang bayinya sudah lahir

II. DATA OBYEKTIF


Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, bayi lahir pukul 02.50 WIB,
kontraksi baik, TFU sepusat, kandung kemih kosong, tali pusat tampak di depan
vulva, adanya tanda pelepasan plasenta, uterus globular, semburan darah tiba–tiba
dan tali pusat memanjang. Perdarahan ± 100 cc

III. Assesment :
Diagnosa = Ny. R umur 21 tahun P0 A0 partus kala III

IV. Planning of action :


Tanggal 8 januari 2019 pukul : 03.01 WIB

1. Menginformasikan pada ibu bahwa plasentanya belum lahir Ibu sudah


mengetahuinya
2. Memastikan tidak ada janin kedua Tidak ada janin kedua
3. Memberitahu pada ibu bahwa akan di berikan suntikan oksitosin di paha
ibu secara IM Ibu telah mengetahui bahwa ia akan di suntikkan oksitosin
secara IM
4. Memberikan oksitosin 10 unit secara IM pada 1/3 bagian atas paha luar
dengan sudut 90º dan di aspirasi terlebih dahulu,Ibu sudah disuntikkan
oksitosin
5. Melakukan IMD segera setelah pemotongan tali pusat dan berlangsung 60
menit,Sudah dilakukan IMD
6. Melakukan penegangan tali pusat terkendali. Pindahkan klem tali pusat
sekitar 5 – 10 cm, tangan kiri menekan uterus ke arah lumbal dorso
kranial. Sudah dilakukan penegangan tali pusat terkendali. Plasenta lahir
pukul 03.00 WIB. amnion dan korion utuh, kotiledon lengkap, dengan
jumlah 20 buah, tebalnya ±2 cm, diameternya ±20 cm. Insersi tali pusat
sentralis, panjang tali pusat ±53 cm, jumlah 2 arteri 1 vena. Plasenta sudah
dilahirkan
7. Melakukan massase fundus uetri sampai globular/±15 detik.Sudah
dilakukan massase fundus uteri
8. Memeriksa kelengkapan plasenta.Amnion dan korion utuh, kotiledon
lengkap, dengan jumlah 20 buah, tebalnya ±2 cm, diameternya ±20 cm.
Insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat ±53 cm, jumlah 2 arteri 1
vena.
9. Mengobservasi jumlah darah yang keluar selama kala III ± 150 cc
Observasi telah dilakukan

58
DATA PERKEMBANGAN

I. DATA SUBYEKTIF
Ibu merasa lega karena plasenta (ari – ari) telah lahir spontan, dan ibu
merasa mulas pada perutnya dan merasa lelah

II. DATA OBYEKTIF

Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis, pemeriksaan tanda –


tanda vital : TD 120/80 mmHg, Nadi : 68x/menit, RR : 20x/menit, Suhu :
36,8ºc, kontraksi : baik, TFU : 2 jari di bawah pusat, kandung kemih : kosong,
perineum : terjadi robekan perineum derajat 2 perdarahan 150 ml.

III. ASSESMENT

Diagnosa : Ny. R umur 21 tahun P0 A0 partus kala IV


Masalah : tidak ada
Kebutuhan : tidak ada

IV. PLANNING

1. Menginformasikan kepada ibu hasil pemeriksaan TTV : TD : 120/80mmHg,


Nadi : 78x/menit, RR : 18x/menit, Suhu : 36,9ºc, TFU : 2 jari di bawah pusat.
Ibu mengalami robekan pada perineum derajat 2.Ibu telah mengetahuinya.
2. Melakukan tindakan hecting pada daerah luka robekan di perineum.Ibu telah
dilakukan proses penjahitan luka pada perineum.
3. Membersihkan ibu dengan air DTT dari daerah yang sedikit terkontaminasi
darah sampai seluruh bagian perut ke bawah dan memakaikan celana dalam
dan kain.Ibu sudah dibersihkan dan sudah berpakaian rapi.
4. Merendam alat bekas pakai seperti alat partus set, hecting set, sarung tangan ke
dalam larutan clorin 0,5% selama 10 menit, mencuci dengan sabun, bilas dan
keringkan.Alat bekas pakai sudah di proses sterilisasi.
5. Mengajari ibu massase fundus uteri dengan cara memutara searah jarum jam
agar kontraksi uetrus ibu baik dan rahim mengecil seperti semula.Ibu sudah
mengerti cara massase fundus uteri.
6. Memberikan pada ibu 1 porsi nasi, 1 potong ayam semur, 1 mangkok sayur
asem, 1 potong tempe, 1 potong buah pepaya, dan 1 gelas susu.Ibu sudah
makan dan minum.
7. Memberikan obat kepada ibu yaitu vitamin A 200.000 UI 1dd1, amoxicilline
500 gr 3dd1, asam mefenamat 3dd1, parasetamol 500mg diminum 3 kali sehari
setelah makan.Ibu sudah meminum obatnya sesuai dengan petunjuk bidan
8. Mengobservasi kala IV pada 1 jam pertama setiap 15 menit sekali, dan 1 jam
kedua setiap 30 menit sekali yaitu tekanan darah, nadi, suhu, TFU, kontraksi
uterus, kandung kemih, jumlah perdarahan

59
Pembimbing Lahan Mahasiswa

( ) ( )
Mengetahui
Pembimbing Institusi

( )

60
61
CATATAN PERSALINAN
1. Tanggal: ..................................................................
2. Nama Bidan: ...........................................................
3. Tempat Persalinan:
Rumah Ibu Puskesmas
Polindes Rumah Sakit
Klinik Lainnya:....................
Swasta
4. Alamat tempat persalinan: .........................................
5. Catatan: Rujuk, Kala I/ II/ III/ IV
6. Alasan Merujuk : .......................................................
7. Tempat Rujukan: .......................................................
8. Pendamping pada saat merujuk:
bidan teman suami dukun keluarga tidak ada
9. Masalah dalam kehamilan/persalinan ini:
Gawat darurat Perdarahan HDK Infeksi PTMCT

KALA I
10. Partograf, melewati garis waspada : Y / T
11. Masalah lain, sebutkan : .......................................................
...............................................................................................
12. Penatalaksanaan masalah tersebut: ........................................
...............................................................................................
13. Hasilnya : ..............................................................................

KALA II
14. Episiotomi:
Ya, indikasi :..........................................................
Tidak
15. Pendamping pada saat persalinan:
Suami teman tidak ada
keluarga dukun
16. Gawat janin:
Ya, tindakan yang dilakukan:
a. ................................................................
b. ................................................................
Tidak
Pemantauan DJJ setiap 5-10 menit selama kala II,hasil ...
17. Distosia Bahu
Ya, tindakan yang dilakukan: ................................................
................................................................................................
Tidak
18. Masalah lain, penatalaksanaan masalah tsb dan hasilnya
................................................................................................
KALA III
19. Inisiasi Menyusu Dini
Ya
Tidak, alasannya ............................................................
20. Lama Kala III : ....................................menit
21. Pemberian Oksitosin 10 U IM?
Ya, waktu: ............... menit sesudah persalinan

62
Tidak, alasan .....................................................................
Penjepitan tali pusat ............... menit setelah bayi lahir
22. Pemberian ulang Oksitosin (2x)?
Ya, alasan ............................................................
Tidak
23. Penegangan tali pusat terkendali?
Ya
Tidak

PEMANTAUAN PERSALINAN KALA IV


Jam ke waktu Tekanan Nadi Suhu Tinggi fundus Kontraksi Kandung Darah yang
darah uteri Uterus Kemih keluar

24. Masase fundus uteri?


Ya
Tidak, alasan ....................................................................
25. Plasenta Lahir lengkap (infact) Ya /Tidak
Jika tidak lengkap, tindakan yang dilakukan:
a. ..............................................................................
b. ..............................................................................
26. Plasenta tidaklahir > 30 menit:
Tidak
Ya, tindakan ....................................................................
..........................................................................................
27. Laserasi
Ya, dimana ...........................................................
Tidak
28. Jika laserasi perineum, derajat: 1 / 2 / 3 / 4
Tindakan:
Penjahitan, dengan / tanpa anestesi
Tidak dijahit, alasan .......................................................
29. Atoni uteri:
Ya, tindakan: ..................................................................
Tidak
30. Jumlah darah yang keluar/ perdarahan:150.............ml
31. Masalah dan penatalaksaan masalah tersebut :......................
...............................................................................................
Hasilnya : ..............................................................................

KALA IV
32. Kondisi ibu: KU: .baik... TD: 110/70.mmHg Nadi: 80x/mnt Napas: 23x/mnt
33. Masalah dan penatalaksanaan masalah: ................................

BAYI BARU LAHIR


34. Berat badan : .3100............... gram
35. Panjang badan .50............cm
36. Jenis Kelamin : L / P

63
37. Penilaian bayi baru lahir : baik / ada penyulit
38. Bayi lahir :
 Normal, tindakan:
 mengeringkan
 menghangatkan
 rangsangan taktil
 memastikan IMD atau naluri menyusu segera
 Asfiksia ringan/pucat/biru/lemas, tindakan:
 mengeringkan bebaskan jalan napas
 rangsangan taktil menghangatkan
 bebaskan jalan napas lain-lain, sebutkan:.................
 pakaian/selimuti bayi dan tempatkan di sisi ibu
Cacat bawaan, sebutkan:Tidak ada.......................................
Hipotermi, tindakan:
a. ................................................................................
b. ................................................................................
c. ................................................................................
39. Pemberian ASI setelah jam pertama bayi lahir
 Ya, waktu: 1 jam setelah bayi lahir
 Tidak, alasan ...................................................................
40. Masalah lain, sebutkan : Tidak ada .....................................
Hasilnya: ...............................................................................

64