You are on page 1of 26

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Suhu tubuh relatif konstan. Hal ini di perlukan untuk sel-sel tubuh agar dapat
berfungsi secara efektif. Normalnya suhu tubuh berkisar 36-37°C. Suhu tubuh dapat
diartikan sebagai keseimbangan antara panas yang di produksi dengan panas yang
hilang dari tubuh. Kulit merupakan organ tubuh yang bertanggung jawab untuk
memelihara suhu tubuh agar tetap normal dengan mekanisme tertentu.
Panas di produksi tubuh melalui proses metabolisme, aktivitas otot, dan sekresi
kelenjar. Produksi panas meningkat atau menurun dipengaruhi oleh suatu sebab,
misalnya karena penyakit ataupun stres. Suhu tubuh terlalu ekstrim, baik panas atau
dingin yang ekstrim, dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, perawat perlu
membantu klien apabila mekanisme homeostasis tubuh, untuk mengontrol suhu
tubuhnya, tidak mampu menanggulanginya perubahan suhu tubuh tersebut secara
efektif.
Secara fisiologi suhu tubuh merupakan perbedaan antara jumlah panas yang di
hasilkan tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Panas yang di
hasilkan – panas yang hilang = suhu tubuh. Nilai suhu tubuh di tentukan oleh lokasi
pengukuran (oral, rektal, aksila, membran timpani). Anda akan mempelajari kisaran
suhu pada klien individual di lahan praktik. Tidak ada satu nilai suhu tubuh tunggal
yang normal bagi semua orang. Pengaturan suhu tubuh bertujuan memperoleh nilai
suhu jaringan dalam pada tubuh. Lokasi yang mewakili suhu ini merupakan
indikator yang lebih terpercaya di bandingkan lokasi yang mewakili suhu
permukaan.
BAB II
PEMBAHASAN

Hipotermi
Pengertian

Hipotermi adalah keadaan di mana suhu tubuh inti (corebodytemperature) di bawah 35 ° c


tanpa adanya trauma lan, hipotermi di bagi menjadi ringan (35 - 32°C) Sedang 32 - 30°C Berat
di bawah 30°C. Manula lebih rentan terhadap hipotermi ini disebabkan terbatasnya
kemampuan menghasilkan panas dan mengurangi kehilangan panas melalui fasokontriksi.
Demikian pula pada anak anak yang luar permukaan tubuhnya relative lebih besar dan
terbatasnya sumber energy.

Tanda Tanda Hipotermi:


Selain penurunan suhu inti, tanda lain terjadinya hipotermi antara lain adalah:
a. Penurunan kesadaran
b. Penderita teraba dingin
c. Penderita tampak kelabu
d. Sianotik
e.
Penanganan
Lakukan penilaian ABCDE
Cegah hilangnya panas dengan memindahkan penderita dari lingkungan dingin dan lepaskan
baju yang basah dan dingin serta tutup dengan selimut hangat. Selalu berikan oksigen sesuai
kebutuhan.
Berat ringannya akibat trauma dingin tergantung pada
1. Suhu
2. Lamanya kontak
3. Keadaan lingkungan
4. Jumlah baju hangat
5. Dan keadaan kesehatan penderita. Makin dingin suhu imobilisasi kontak yang lama
lembab sudah adanya kelainan pembuluh darah perifer dan luka terbuka semua akan
memperberat trauma.

Ada 3 jenis trauma dingin


1. Frostnip (subfreezing) merupakan bentuk paling ringan trauma dingin, ditandai
dengan nyeri, pucat dan keemutan pada daerah yang terkena dengan penghangatan
daerah ini dapat pulih dengan sempurna tanpa kerusakan jaringan kecuali trauma ini
terjadi berulang dan dalam jangka waktu bertahun tahun dapat menyebabkan jaringan
lemak hilang atau atropi.
2. Frostbite di bagi menjadi 4 derajat:
a. Derajat 1: hyperemia dan ederma tanpa nekrosis di kulit.
b. Derajat 2: Pembentukan vesikel / bulla diseratai dengan hiperemia dan edema
nekrosis sebagian lapisan kulit.
c. Derajat 3 : Nekrosis seluruh lapisan kulit dan jaringan subkutan biasanya juga
disertai pembentukan vesikel hemoragik
d. Derajat 4 : Nekrosis seluruh jaringan kulit dan gangren otot dan tulang
3. Non freezing injury
Disebabkan kelainan endotel mikrovaskuler. Trench Foot adalah merupakan contoh
non freezing injury tangan dan kaki akibat terkena udara basah terus menerus yang
suhunya masih di atas titik beku yaitu suhunya 1,6 – 10 °C.

Penanganan
1. Proteksi diri dan lingkungan
2. Selalu mendahulukan hal yang mengancam ABC terlebih dahulu
3. Penanganan harus segera dilakukan untuk memperpendek berlangsungnya
pembekuan jaringan. Jangan menggosok daerah yang terkena frostbite karena kana
mencederai penderita.
4. Re Warning
a. Jangan lakukan pada frostbite dalam atau lanjut
b. Selalu memakai penghangatan lembab jangan kering misalkan memakai hairdryer.
c. Jika terdapat luka lakukan penanganan seperti luka bakar
d. Jangan menggerak gerkkan daerah yang terkena frostbite
e. Segera Rujuk ke rumah sakit.
Bila penderita di rumah sakit rendam tubuh penderita dengan air hangat 40 °C
yang berputar sampai warna kulit merah. Dan perfusinya kembali normal biasanya
di capai dalam waktu 10 – 30 menit.

Hipertermi
Pengertian Hipertermi

Hipertermia di definisikan sebagai suhu tubuh inti diatas 380 c. hipertermia umumnya
disebabkan oleh pemanasan yang berlebihan dari lingkungan, tetapi hipertermia juga menjadi
tanda klinis sepsis, cedera, otak, atau terapi obat. Jika bayi terlalu hangat mereka menjadi
gelisah dan mungkin memperlihatkan kemerahan di pipi. Bayi akan berupaya mengatur suhu
tubuh mereka dengan meningkatkan frekuensi pernafasan mereka, dan hal ini dapat
menyebabkan peningkatan kehilangan cairan dengan cara evaporasi melalui saluran nafas.
Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi
diletakkan di dekat api atau dalam ruangan yang berudara panas.
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh yang berhubungan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk menghilangkan panas ataupun mengurangi produksi panas. Hipertermi terjadi
karena adanya ketidakmampuan mekanisme kehilangan panas untuk mengimbangi produksi
panas yang berlebihan sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh.Hipertermi tidak berbahaya
jika dibawah 390C.Selain adanya tanda klinis, penentuan hipertermi juga didasarkan pada
pembacaan suhu pada waktu yang berbeda dalam satu hari dan dibandingkan dengan nilai
normal individu tersebut (Potter & Perry,2010).
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila
mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengaruhi oleh panas
eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik). Pengertian Demam adalah suhu tubuh yang
meningkat, dimana tubuh terasa panas dan suhunya naik sampai 380C, sementara suhu normal
berkisar 36,50C-37,50C.
Menurut Suriadi (2006, hlm. 63) demam adalah meningkatnya temperatur tubuh secara
abnormal. Dan menurut Rudolfh (2006, hlm. 592) Berdasarkan pengukuran suhu bayi normal,
suhu rektal sebesar 38°C atau lebih harus digunakan sebagai defenisi batas bawah demam.
Demam pada suhu 37,80C-400C tidak berbahaya dan tidak mengakibatkan kerusakan otak,
kecuali jika suhunya melebihi 41,70C yang berlangsung dalam jangka lama. Lebih lanjut,
demam yang disebabkan oleh infeksi tidak cepat naik dan suhu tidak akan melebihi 41,20C
(Schwartz, 2005, hlm. 336).

B. Tanda dan Gejala Hipertermi


Gejala Sebelumnya kita sudah banyak mengetahui tentang demam yang sering terjadi.
Kalau demam tubuh teraba panas, bayi agak rewel, dan biasanya minum kurang. Gejala
/demam pada bayi baru lahir yaitu: suhu tubuh bayi lebih dari 37,5°C, Frekuensi pernafasan
bayi lebih dari 60/menit, terlihatnya tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor
kulit kurang, banyaknya air kemih berkurang (Sudarti – Afroh Fauziah, 2013,122)
Gejala hipertermi bayi baru lahir:
1. Suhu tubuh bayi >37,50celsius
2. Frekuensi pernafasan bayi >60/menit
3. Denyut jantung > 160/menit
4. Letargi (suatu keadaan di mana terjadi penurunan kesadaran dan pemusatan perhatian serta
kesiagaan. Kondisi ini juga seringkali dipakai untuk menggambarkan saat seseorang tertidur
lelap, dapat dibangunkan sebentar namun kesadaran yang ada tidak penuh, dan berakhir dengan
tertidur kembali).
5. Tanda-tanda dehidrasi (berat badan menurun, turgor kulit kurang, banyaknya air kemih
berkurang, mata dan ubun-ubun besar cekung, lidah dan membran mucosa kering).

C. Klasifikasi Hipertermia
1. Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas
a. Hipertermia maligna
Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia. Hipertermia ini
merupakan miopati akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal dominan. Pada
episode akut terjadi peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka sehingga terjadi
kekakuan otot dan hipertermia. Pusat pengatur suhu di hipotalamus normal sehingga pemberian
antipiretik tidak bemanfaat.
b. Exercise-Induced hyperthermia (EIH)
Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar/remaja yang melakukan aktivitas
fisik intensif dan lama pada suhu cuaca yang panas. Pencegahan dilakukan dengan pembatasan
lama latihan fisik terutama bila dilakukan pada suhu 300C atau lebih dengan kelembaban lebih
dari 90%, pemberian minuman lebih sering (150 ml air dingin tiap 30 menit), dan pemakaian
pakaian yang berwarna terang, satu lapis, dan berbahan menyerap keringat.
c. Endocrine Hyperthermia (EH)
Kondisi metabolic/endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai pada
anak dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan endokrin yang sering dihubungkan dengan
hipertermia antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus, phaeochromocytoma, insufisiensi
adrenal dan Ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui sering berhubungan dengan demam
(merangsang pembentukan pirogen leukosit).
2. Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas.
a. Hipertermia neonatal
Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga kehidupan bisa disebabkan
oleh:
1) Dehidrasi

Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan atau paparan oleh suhu
kamar yang tinggi. Hipertermia jenis ini merupakan penyebab kenaikan suhu ketiga setelah
infeksi dan trauma lahir. Sebaiknya dibedakan antara kenaikan suhu karena hipertermia dengan
infeksi. Pada demam karena infeksi biasanya didapatkan tanda lain dari infeksi seperti
leukositosis/leucopenia, CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan pemberian cairan, dan
riwayat persalinan prematur/resiko infeksi.
2) Overheating
Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi terpapar sinar matahari
langsung dalam waktu yang lama.
3) Trauma lahir
Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada 24% dari bayi yang lahir
dengan trauma. Suhu akan menurun pada 1-3 hari tapi bisa juga menetap dan menimbulkan
komplikasi berupa kejang. Tatalaksana dasar hipertermia pada neonatus termasuk menurunkan
suhu bayi secara cepat dengan melepas semua baju bayi dan memindahkan bayi ke tempat
dengan suhu ruangan. Jika suhu tubuh bayi lebih dari 390C dilakukan tepid sponged 350C
sampai dengan suhu tubuh mencapai 370C.
4) Heat stroke
Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40.50C atau sedikit lebih rendah, kulit teraba
kering dan panas, kelainan susunan saraf pusat, takikardia, aritmia, kadang terjadi perdarahan
miokard, dan pada saluran cerna terjadi mual, muntah, dan kram. Komplikasi yang bisa terjadi
antara lain DIC, lisis eritrosit, trombositopenia, hiperkalemia, gagal ginjal, dan perubahan
gambaran EKG. Anak dengan serangan heat stroke harus mendapatkan perawatan intensif di
ICU, suhu tubuh segera diturunkan (melepas baju dan sponging dengan air es sampai dengan
suhu tubuh 38,50C kemudian anak segera dipindahkan ke atas tempat tidur lalu dibungkus
dengan selimut), membuka akses sirkulasi, dan memperbaiki gangguan metabolic yang ada.
5) Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)
Gambaran klinis mirip dengan heat stroke tetapi tidak ada riwayat penyelimutan
berlebihan, kekurangan cairan, dan suhu udara luar yang tinggi. HSE diduga berhubungan
dengan cacat genetic dalam produksi atau pelepasan serum inhibitor alpha-1-trypsin. Kejadian
HSE pada anak adalah antara umur 17 hari sampai dengan 15 tahun (sebagian besar usia < 1
tahun dengan median usia 5 bulan). Pada umumnya HSE didahului oleh penyakit virus atau
bakterial dengan febris yang tidak tinggi dan sudah sembuh (misalnya infeksi saluran nafas
akut atau gastroenteritis dengan febris ringan). Pada 2 – 5 hari kemudian timbul syok berat,
ensefalopati sampai dengan kejang/koma, hipertermia (suhu > 410C), perdarahan yang
mengarah pada DIC, diare, dan dapat juga terjadi anemia berat yang membutuhkan transfusi.
Pada pemeriksaan fisik dapat timbul hepatomegali dan asidosis dengan pernafasan dangkal
diikuti gagal ginjal..Pada HSE tidak ada tatalaksana khusus, tetapi pengobatan suportif seperti
penanganan heat stroke dan hipertermia maligna dapat diterapkan. Mortalitas kasus ini tinggi
sekitar 80% dengan gejala sisa neurologis yang berat pada kasus yang selamat. Hasil CT scan
dan otopsi menunjukkan perdarahan fokal pada berbagai organ dan edema serebri.
6) Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)
Definisi SIDS adalah kematian bayi (usia 1-12 bulan) yang mendadak, tidak diduga, dan
tidak dapat dijelaskan. Kejadian yang mendahului sering berupa infeksi saluran nafas akut
dengan febris ringan yang tidak fatal. Hipertermia diduga kuat berhubungan dengan
SIDS. Angka kejadian tertinggi adalah pada bayi usia 2- 4 bulan.
Hipotesis yang dikemukakan untuk menjelaskan kejadian ini adalah pada beberapa bayi
terjadi mal-development atau maturitas batang otak yang tertunda sehingga berpengaruh
terhadap pusat chemosensitivity, pengaturan pernafasan, suhu, dan respons tekanan darah.
Beberapa faktor resiko dikemukakan untuk menjelaskan kerentanan bayi terhadap SIDS, tetapi
yang terpenting adalah ibu hamil perokok dan posisi tidur bayi tertelungkup. Hipertermia
diduga berhubungan dengan SIDS karenadapat menyebabkan hilangnya sensitivitas pusat
pernafasan sehingga berakhir dengan apnea.

D. Penyebab terjadinya Hipertermi

Hipertermi disebabkan karena berbagai faktor. Jika tidak di manajemen dengan baik,
hipertermi dapat menjadi hipertermi berkepanjangan. Hipertermi berkepanjangan merupakan
suatu kondisi suhu tubuh lebih dari 380C yang menetap selama lebih dari delapan hari dengan
penyebab yang sudah atau belum diketahui. Tiga penyebab terbanyak demam pada anak yaitu
penyakit infeksi (60%-70%), penyakit kolagen-vaskular, dan keganasan.Walaupun infeksi
virus sangat jarang menjadi penyebab demam berkepanjangan, tetapi 20% penyebab adalah
infeksi virus (Sari Pediatri,2008).
Kesulitan dalam mencari penyebab timbulnya demam berkepanjangan disebabkan oleh
banyak faktor terutama penyebab yang beraneka ragam.Menurut Diane M. Fraser (2012)
Penyebab hipertermi Terpapar lingkungan yang hangat, Terpapar sinar matahari, Paparan
panas yang berlebihan dari incubator atau alat pemancaran panas, Terpapar sinar matahri,
Berada di incubator atau dibawah pemancar panas.
Disebabkan oleh infeksi, suhu lingkungan yang terlalu panas atau campuran dari
gangguan infeksi dan suhu lingkungan yang terlalu panas. Keadaan ini terjadi bila bayi
diletakkan di dekat api atau ruangan yang berudara panas. Selain itu, dapat pula disebabkan
gangguan otak atau akibat bahan toksik yang dapat mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat
yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga
menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan
protein dan zat lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen
yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan
sakit.
Fase – fase Terjadinya Hipertermi

Fase II ( awal ) Fase II ( proses demam ) Fase III (pemulihan )


1.Peningkatan denyut 1. Kulit terasa 1. kulit tampak merah dan
jantung hangat/panas hangat
2.Peningkatan laju dan 2. Peningkatan nadi 2. Berkeringat
kedalaman pernafasan dan laju pernafasan 3. Menggigil ringan
3.Kulit pucat dan dingin 3. Dehidrasi ringan 4. Kemungkinan
karena vasokonstrik sampai berat mengalami dehidrasi
4. Dasar kuku mengalami 4. Proses menggigil
sianosis karena lenyap
vasokonstriksi 5. Mengantuk, kejang
5. Rambut kulit berdiri akibat iritasi sel saraf
6. Pengeluaran keringat 6. mulut kering
berlebih 7. bayi Tidak mau minum,
7. Peningkatan suhu lemas
tubuh

E. Penanganan hipertermi
1. Bayi di pindah keruangan yang sejuk dengan suhu kamar seputar 260-280C
2. Berikanlah cairan dekstore : NaCL = 1:4 secara intra vena sampai dehidrasi teratasi.
3. Antibiotika diberikan apabila ada infeksi
4. Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu
5. Perikasa suhu aksila setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal
6. Bila suhu sangat tinggi (lebih dari 39ºC), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15
menit dalam suhu air 4ºC, lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Jangan menggunakan air dingin
atau air yang suhunya lebih rendah dari 4ºC dibawah suhu bayi
7. memastikan bayi mendapat cairan adekuat
a. Izinkan bayi mulai menyusu
b. Jika terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata atau fontanel cekung, kehilangan elastisitas kulit,
atau lidah atau membran mukosa kering)
1) Pasang slang IV dan berikan cairan IV dengan volume rumatan sesuai dengan usia bayi
2) Tingkatkan volume cairan sebanyak 10% berat badan bayi pada hari pertama dehidrasi
terlihat
3) Ukur glukosa darah, jika glukosa darah kurang dari 45 mg/dl (2,6 mmol/l), atasi
glukosa darah yang rendah
8. Cari tanda sepsis atau infeksi yang terjadi pada bayi dalam 28 hari pertama setelah kelahiran.
(Mochtar, 2005).
9. Setelah keadaan bayi normal :
a. Lakukan perawatan lanjutan
b. Pantau bayi selama 12 jamberikutnya, periksa suhu setiap 3 jam
10. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik, serta tidak ada masalah
lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan dan Nasehati ibu cara
menghangatkan bayi dirumah dan melindungi dari pemancar panas yang berlebihan
11. mengatasi hipertermia bisa dengan melakukan kompres (Alves & Almeida,2008,dalam
Setiawati,2009). Kompres adalah salah satu metode fisik untuk menurunkan suhu tubuh bila
anak mengalami demam. Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normal
(jangan menggunakan air es) Selama ini kompres dingin atau es menjadi kebiasaan para ibu
saat anaknya demam. Selain itu, kompres alkohol juga dikenal sebagai bahan untuk
mengompres. Namun kompres menggunakan es sudah tidak dianjurkan karena pada kenyataan
demam tidak turun bahkan naik dan dapat menyebabkan anak menangis, menggigil, dan
kebiruan. Tindakan dengan memberikan es/air es ini dapat menyebabkan vasokontriksi dan
menggigil yang dapat memperburuk hipertermia (Alpers,Ann, 2006).
Metode kompres yang lebih baik adalah kompres tepid sponge (Kolcaba,2007).
a. Kompres tepid sponge merupakan kombinasi teknik blok dengan seka. Teknik ini
menggunakan kompres blok tidak hanya disatu tempat saja, melainkan langsung dibeberapa
tempat yang memiliki pembuluh darah besar. Selain itu masih ada perlakuan tambahan yaitu
dengan memberikan seka diseluruh area tubuh sehingga perlakuan yang diterapkan terhadap
klien ini akan semakin kompleks dan rumit dibandingkan dengan teknik yang lain. Namun
dengan kompres blok langsung diberbagai tempat ini akan memfasilitasi penyampaian sinyal
ke hipotalamus lebih gencar. Selain itu pemberian seka akan mempercepat pelebaran pembuluh
darah perifer akan memfasilitasi perpindahan panas dari tubuh kelingkungan sekitar yang akan
semakin mempercepat penurunan suhu tubuh (Reiga, 2010).
b. Munurut Suprapt i(2008) tepid sponge efektif dalam mengurangi suhu tubuh pada anak
hipertermia yang mendapatkan terapi antipiretik ditambah tepid sponge sebesar 0,530C dalam
waktu 30 menit. Sedangkan yang mendapatkan terapi tepid sponge saja rata-rata penurunan
suhu tubuhnya sebesar 0,970C dalam waktu 60 menit.

F. Pencegahan Terhadap Hipertermia

1. Kesehatan lingkungan.
2. penyediaan air minum yang memenuhi syarat.
3. Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.
4. Pemberantasan lalat.
5. Pembuangan sampah pada tempatnya.
6. Pendidikan kesehatan pada masyarakat.
7. Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.
8. Makan makana yang bersih dan sehat
9. Jangan biasakan anak jajan diluar
G. Komplikasi berkelanjutan dari Hipertermi
Terapi hipertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan jaringan
normal/sehat jika suhunya tidak melebihi 43,8oC. Tetapi perbedaan karakter jaringan dapat
menimbulkan perbedaan suhu atau efek samping pada jaringan tubuh yang berbeda-beda.
Hal yang sering terjadi adalah rasa panas (seperti terbakar), bengkak berisi cairan, tidak
nyaman, bahkan sakit.
Teknik perfusi dapat menyebabkan pembengkakan jaringan, penggumpalan darah,
perdarahan, atau gangguan lain di area yang diterapi. Tetapi efek samping ini bersifat
sementara. Sedang whole body hyperthermia dapat menimbulkan efek samping yang lebih
serius –tetapi jarang terjadi– seperti kelainan jantung dan pembuluh darah. Kadang efek
samping yang muncul malah diare, mual, atau muntah.

Heat Exhaustion Dan Heat Stroke

Pengertian
Kelelahan panas (heat exhaustion) adalah suatu bentuk penyakit yang berhubungan
dengan panas yang lebih parah dari kram panas dan akibat dari hilangnya air dan garam dalam
tubuh. Hal ini terjadi dalam kondisi panas yang ekstrim dan berkeringat berlebihan tanpa cairan
yang cukup dan penggantian garam. Kelelahan panas terjadi ketika tubuh tidak mampu untuk
mendinginkan diri dengan benar.
Jika tidak diobati, kelelahan panas dapat berkembang menjadi stroke panas (heat
stroke). Heat stroke adalah bentuk yang paling parah dari penyakit panas dan merupakan
keadaan darurat yang mengancam jiwa. Ini adalah hasil dari paparanpanjang dan ekstrim
matahari, di mana seseorang tidak cukup berkeringat untuk menurunkan suhu tubuh. Penyakit
jiwa mengacu pada semua diagnosa gangguan kejiwaan atau mental dan ditandai oleh
kelainan dalam pemikiran, perasaan, atau perilaku.

Beberapa jenis yang paling umum dari penyakit jiwa termasuk ansietas
(kecemasan), depresi, gangguan perilaku dan penyalahgunaan zat terlarang.

Tidak ada penyebab tunggal untuk penyakit mental. Sebaliknya, biasanya


merupakan hasil yang kompleks dari faktor genetik, psikologis, dan lingkungan. Tidak
ada satu tes yang secara pasti menunjukkan apakah seseorang memiliki penyakit mental. Oleh
karena itu, praktisi kesehatan mendiagnosis gangguan mental dengan mengumpulkan secara
komprehensif informasi kesehatan mental dari diri dan keluarga pasien. Panas kelelahan
adalah penyakit yang berhubungan dengan panasyang dapat terjadi setelahAnda telahterkena
suhu tinggiselama beberapa hari dantelah menjadi dehidrasi.

Ada dua jenis kelelahan panas :


a. Deplesi air. Tanda-tanda termasuk kehausan berlebihan, lemah, sakit kepala,dan
kehilangan kesadaran.
b. Saltdeplesi. Tanda termasuk mual dan muntah, kram otot sering,dan pusing.
Meskipun kelelahan panas tidak begitu serius seperti stroke panas, itu bukan sesuatu
yang bisa dianggap enteng. Tanpa intervensi yang tepat, kelelahan panas dapat
berkembang menjadi stroke panas, yang dapat merusak otak dan organ vital lainnya, dan
bahkan menyebabkan kematian.

Etiologi
Penyebabnya adalah deplesi volume dan elektrolit. Gabungan dari hiperpireksia(40,6ºC)
dan gejala-gejala neurologis heat stroke disebabkan oleh kegagalan mekanisme pengaturan
panas tubuh.
Disfungsi hipotalamus sehingga menyebabkan:
1. Kegagalan termoregulasi, misal pada usia lanjut, bayi dan anak-anak.
2. Volume intravaskuler yang tidak memadai.
3. Disfungsi jantung.
4. Gangguan pada kulit yang mengganggu pelepasan keringat.
5. Konsumsi obat-obatan yang dapat mengganggu pembuangan panas.

Patofisiologi
Meskipun variasi dalam suhu lingkungan , manusia dan mamalia lainnya dapat
mempertahankan suhu tubuh yang konstan dengan menyeimbangkan keuntungan panas
dengan kehilangan panas. Ketika mendapatkan panas menguasai mekanisme tubuh kehilangan
panas, suhu tubuh meningkat, dan sakit panas besar terjadi kemudian. Panas berlebih protein
denatures, mendestabilkan fosfolipid dan lipoprotein, dan mencairkan lipid membran,
menyebabkan kolaps kardiovaskular, kegagalan multiorgan, dan akhirnya, kematian. Suhu
yang tepat di mana kolaps kardiovaskular terjadi bervariasi antara individu karena hidup
bersama penyakit, obat-obatan, dan faktor lainnya dapat menyebabkan disfungsi organ atau
menunda. Kendali pemulihan telah diamati pada pasien dengan suhu setinggi 46°C, dan
kematian telah terjadi pada pasien dengan temperatur yang lebih rendah. Suhu melebihi 106°F
atau 41,1°C umumnya bencana dan membutuhkan terapi agresif segera.
Panas mungkin akan diakuisisi oleh sejumlah mekanisme yang berbeda. Pada saat
istirahat, proses metabolisme basal menghasilkan sekitar 100 kkal panas per jam atau 1 kkal/
kg/ jam. Reaksi ini dapat meningkatkan suhu tubuh sebesar 1,1° C/jam jika panas mekanisme
menghamburkan yang berfungsi. Aktivitas fisik yang berat dapat meningkatkan produksi panas
lebih dari 10 kali lipat ke tingkat melebihi 1000 kkal / jam. Demikian pula, demam, menggigil,
tremor, kejang, tirotoksikosis, sepsis, obat simpatomimetik, dan kondisi lainnya dapat
meningkatkan produksi panas, sehingga meningkatkan suhu tubuh.
Tubuh juga dapat memperoleh panas dari lingkungan melalui beberapa mekanisme yang
sama yang terlibat dalam pembuangan panas, termasuk konduksi, konveksi, dan radiasi.
Mekanisme ini terjadi pada tingkat kulit dan memerlukan permukaan berfungsi kulit, kelenjar
keringat, dan sistem saraf otonom, tetapi mereka juga dapat dimanipulasi oleh respon perilaku.
Konduksi mengacu pada transfer panas antara 2 permukaan dengan suhu yang berbeda yang
berada dalam kontak langsung. Konveksi mengacu pada transfer panas antara permukaan tubuh
dan gas atau cairan dengan suhu yang berbeda. Radiasi mengacu pada transfer panas dalam
bentuk gelombang elektromagnetik antara tubuh dan sekitarnya. Kemanjuran radiasi sebagai
sarana perpindahan panas tergantung pada sudut matahari , musim , dan adanya awan , di antara
faktor-faktor lain . Sebagai contoh , selama musim panas , berbaring di bawah sinar matahari.
Dalam kondisi fisiologis normal, keuntungan panas menetral oleh kehilangan panas
sepadan. Hal ini diatur oleh hipotalamus, yang berfungsi sebagai termostat, membimbing tubuh
melalui mekanisme produksi panas atau pembuangan panas, sehingga mempertahankan suhu
tubuh pada kisaran fisiologis konstan. Dalam model disederhanakan, thermosensors terletak di
kulit, otot, dan saraf tulang belakang mengirim informasi mengenai suhu inti tubuh ke
hipotalamus anterior, di mana informasi tersebut diproses dan respon fisiologis dan perilaku
yang sesuai dihasilkan. Respon fisiologis untuk memanaskan mencakup peningkatan aliran
darah ke kulit (sebanyak 8 L/menit), yang merupakan organ panas menghamburkan utama,
dilatasi sistem vena perifer, dan stimulasi dari kelenjar keringat ekrin untuk menghasilkan lebih
berkeringat.
Sebagai organ panas menghilang besar, kulit dapat mentransfer panas ke lingkungan
melalui konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Radiasi adalah mekanisme yang paling
penting perpindahan panas saat istirahat di daerah beriklim sedang, akuntansi untuk 65 % dari
disipasi panas, dan dapat dipengaruhi oleh pakaian. Pada suhu lingkungan yang tinggi,
konduksi menjadi yang paling penting dari mekanisme 4, sedangkan penguapan, yang mengacu
pada konversi cairan ke fase gas,menjadi mekanisme yang paling efektif kehilangan panas.
Kemanjuran penguapan sebagai mekanisme kehilangan panas tergantung pada kondisi
kulit dan kelenjar keringat, fungsi paru-paru, suhu, kelembaban, pergerakan udara, dan apakah
atau tidak orang tersebut menyesuaikan diri dengan suhu tinggi. Misalnya, penguapan tidak
terjadi ketika kelembaban ambien melebihi 75% dan kurang efektif pada individu yang tidak
terbiasa. Individu Nonacclimated hanya dapat menghasilkan 1 liter keringat per jam, yang
hanya menghalau 580 kkal panas per jam, sedangkan individu menyesuaikan diri dapat
menghasilkan 2-3 liter keringat per jam dan dapat menghilangkan sebanyak 1740 kkal panas
per jam melalui penguapan. Aklimatisasi untuk lingkungan panas biasanya terjadi selama 7-10
hari dan memungkinkan individu untuk mengurangi ambang di mana berkeringat dimulai,
meningkatkan produksi keringat, dan meningkatkan kapasitas kelenjar keringat untuk
menyerap keringat natrium, sehingga meningkatkan efisiensi pembuangan panas.
Ketika mendapatkan panas melebihi kehilangan panas , suhu tubuh meningkat. Klasik
pitam panas terjadi pada individu yang tidak memiliki kapasitas untuk memodulasi lingkungan
( misalnya, bayi, orang lanjut usia, orang yang sakit kronis ). Selanjutnya, orang tua dan pasien
dengan cadangan kardiovaskular berkurang tidak dapat menghasilkan dan mengatasi respon
fisiologis terhadap stres panas dan, karena itu, beresiko pitam panas. Pasien dengan penyakit
kulit dan mereka yang mengonsumsi obat yang mengganggu berkeringat juga berada pada
peningkatan risiko karena serangan panas karena mereka tidak mampu untuk mengusir panas
secara memadai. Selain itu, redistribusi aliran darah ke pinggiran, ditambah dengan hilangnya
cairan dan elektrolit dalam keringat, menempatkan beban besar pada jantung, yang pada
akhirnya mungkin gagal untuk mempertahankan cardiac output yang memadai, menyebabkan
morbiditas dan mortalitas tambahan.
Faktor-faktor yang mengganggu pembuangan panas meliputi volume intravaskular yang
tidak memadai, disfungsi kardiovaskular, dan kulit normal. Selain itu, suhu tinggi ambien,
kelembaban lingkungan yang tinggi, dan banyak obat-obatan dapat mengganggu pembuangan
panas, sehingga penyakit panas utama. Demikian pula, disfungsi hipotalamus dapat mengubah
pengaturan suhu dan dapat mengakibatkan kenaikan dicentang suhu dan penyakit panas.
Pada tingkat sel, banyak teori telah dihipotesiskan dan diteliti secara klinis. Secara umum,
panas langsung mempengaruhi tubuh pada tingkat sel dengan mengganggu proses seluler
bersama dengan denaturasi protein dan membran sel. Pada gilirannya, berbagai sitokin
inflamasi dan heat shock protein (Hsp) (HSP-70 pada khususnya, yang memungkinkan sel
untuk bertahan dari tekanan dari lingkungan), yang dihasilkan. Jika stres berlanjut, sel akan
menyerah pada stres (apoptosis) dan mati. Faktor yang sudah ada sebelumnya tertentu, seperti
usia, genetik, dan individu nonacclimatized, memungkinkan perkembangan dari stres panas ke
heatstroke, sindrom disfungsi multiorgan- (MODS), dan akhirnya kematian. Pengembangan
menjadi heatstroke dapat terjadi melalui kegagalan termoregulasi, seorang diperkuat respon
fase akut, dan perubahan dalam ekspresi Hsp. Sebuah indeks yang digunakan oleh beberapa,
termasuk American College of Sports Medicine , adalah Wet Bulb Globe Temperature (ISBB).
Ini adalah indeks stres panas lingkungan digunakan untuk mengevaluasi risiko panas penyakit
yang berhubungan dengan panas pada individu. Hal ini dihitung dengan menggunakan 3
parameter: suhu, kelembaban, dan panas radiasi. Ada resiko rendah jika ISBB adalah < 65ºF,
risiko sedang jika antara 65-73ºF, berisiko tinggi jika antara 73-82ºF, dan risiko yang sangat
tinggi > 82 º F.

Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
dan hiponatremia (jika deplesi natrium menjadi masalah primer).
2. Elektrokardiogram dapat menunjukkan disritmia tanpa bukti-bukti infark.
3. Pada heat stroke, analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis matabolik.
4. Jika keadaan itu berkembang, tes laboratorium mencerminkan gagal jantung dan
komplikasi lainnya.
Tanda Dan Gejala
1. Tanda-tanda dan gejala kelelahan panas yang paling umum termasuk (Heat
Exhaustion):
a) Kebingungan
b) Urin berwarna gelap (tanda dehidrasi)
c) Pusing
d) Pingsan
e) Kelelahan
f) Sakit kepala
g) Kram otot
h) Mual
i) Kulit pucat
j) Berkeringat banyak
k) Detak jantung yang cepat

2. Tanda-tanda dan gejala serangan panas (Heat Stroke)


a) Demam tinggi (104°F atau lebih tinggi)
b) Sakit kepala parah
c) Pusing
d) Sebuah penampilan memerahatau merah pada kulit
e) Kurangnya berkeringat
f) Kelemahan otot atau kram
g) Mual
h) Muntah
i) Detak jantung cepat
j) Napas cepat
k) Merasa bingung, cemas atau bingung
l) Kejang

Faktor Resiko
1. Faktor Risiko untuk Heat Kelelahan
Panas kelelahan sangat berkaitan dengan indeks panas, yang merupakan pengukuran
seberapa panas yang rasakan ketika efek dari kelembaban relatif dan suhu udara
digabungkan. Sebuah kelembaban relatif 60% atau lebih menghambat penguapan keringat,
yang menghambat kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri.
Risiko penyakit yang berhubungan dengan panas secara dramatis meningkat ketika heat
index naik ampai 90° atau lebih. Jadi penting terutama selama gelombang panas untuk
memperhatikan indeks panas dilaporkan, dan juga untuk di ingat bahwa indeks panas
bahkan lebih tinggi ketika berdiri di bawah sinar matahari penuh.
Jika tinggal di daerah perkotaan, mungkin sangat rentan untuk mengembangkan
kelelahan panas selama gelombang panas yang berkepanjangan, terutama jika adakondisi
atmosfer stagnan dan kualitas udara yang buruk. Dalam apa yang dikenal sebagai "efek
pulau panas," aspal dan beton menyimpan panas siang hari dan hanya secara bertahap
melepaskannya di malam hari, sehingga suhu malam hari lebih tinggi.
Faktor risiko lain yang terkait dengan penyakit yang berhubungan dengan panas
meliputi:
a. Umur
Bayi dan anak sampai usia 4, dan orang dewasa di atas usia 65, sangat rentan karena
mereka menyesuaikan diri dengan panas lebih lambat dari orang lain.
b. Kondisi kesehatan tertentu
Ini termasuk jantung, paru-paru, atau penyakit ginjal, obesitas atau berat badan,tekanan
darah tinggi, diabetes, penyakit mental, sifat sel sabit, alkoholisme,terbakar sinar
matahari, dan kondisi papun yang menyebabkan demam. Orang dengan diabetes
memiliki peningkatan risiko kunjungan gawat darurat, rawat inap, dan kematian dari
penyakit ang berhubungan dengan panas dan mungkin terutama cenderung
meremehkan risiko mereka selama gelombang panas.
Obat-obatan ini termasuk diuretik, obat penenang, obat penenang, stimulan,beberapa
obat jantung dan tekanan darah, dan obat untuk kondisi kejiwaan.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis
Heat exhaustion dan heat stroke perlu mendapatkan penanganan yang baik untuk
mencegah komplikasi lebih lanjut.
1. Pendinginan tubuh dengan cepat merupakan pengobatan pilihan pada heat
exhaustion atau heat stroke. Pada heat stroke, suhu inti (internal) harus diturunkan secepat
mungkin menjadi 39ºC.
2. Pada heat exhaustion, terapi oksigen dimulai untuk menyuplai kebutuhan jaringan yang
berlebihan karena kondisi hipermetabolik. Berikan oksigen dengan
menggunakan nonrebreathing mask (100%) atau intubasi jika perlu untuk memperbaiki
kegagalan sistem kardiopulmunal.
3. Segera lakukan penggantian cairan untuk memperbaiki sirkulasi dan mempermudah
pendinginan.
a. Larutan rehidrasi oral seperti “Gatorade” dapat digunakan pada heat exhaustion jika
klien sadar penuh dan tanda vital stabil.
b. Lakukan terapi cairan Ringer Laktat (RL) ata normal saline (NS) hingga elektrolit
seimbang.
c. Pada heat stroke, sebaiknya dilakukan pemberian cairan melalui vena pusat (paling
sedikit satu jalur).
d. Jumlah penggantian cairan didasarkan pada respons klien dan hasil laboratorium.
4. Resusitas Jantung-Paru (RJP) mungkin diperlukan setiap saat jika terjadi penghentian
sistem kardiopulmonal.
5. Pemberian terapi:
a. Diuretik untuk meningkatkan diuresis.
b. Obat antikonvulsi untuk mengendalikan kejang
c. Kalium untuk mengoreksi hipokalemia dan natrium bikarbonat untuk mengoreksi
asidosis metabolik, sesuai hasil pemeriksaan laboratorium
d. Obat antipiretik tidak bermanfaat dalam pengobatan heat stroke. Obat antipiretik
dapat menimbulkan komplikasi koagulapati dan kerusakan hati
e. Menggigil hebat dapat dikendalikan dengan deazepam (valium). Menggigil akan
menyebabkan panas dan meningkatkan laju metabolisme
f. Klien dengan deplesi faktor pembekuan dapat diobati dengan trombosit atau plasma
beku yang segar.

Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pada heat exhaustion, perkirakan bahwa klien sadar tanpa penurunan kardiopulmunal dan
status neurologis.
a. Gejala-gejala: sakit kepala, lelah, pusing, kram otot, dan mual
b. Kulit biasanya pucat, abu-abu, dan lembap
c. Hipotensi, perubahan ortostatik
d. Takikardia, takipnea
e. Suhu tubuh normal, sedikit meningkat, atau sekitar 40ºC.
2. Pada heat stroke, awalnya klien menunjukkan perilaku yang aneh atau tidak stabil.
Berkembang menjadi bingung, menyerang, mengigau, dan koma.
a. Gangguan SSP seperti tremor, kejang, pupil tenang dan dilatasi, serta deserebrasi dan
dekortikasi postur
b. Suhu tubuh >40,6ºC
c. Hipotensi, takikardi, dan takipnea
d. Kulit dapat tampak kemerahan, panas. Tahap awal heat stroke adalah kulit kering
karena tubuh kehilangan kemampuan berkeringat.

Terapi Supportif
1. Heat Exahaustion
Jika memiliki gejala kelelahan panas, sangat penting untuk segeraneluar darinpanasndan
istirahat, terutama diruang ber-AC. Jika tidak bisa masuk ke dalam,mencoba untuk
menemukan tempat yang sejuk dan teduh terdekat. Strategi yang direkomendasikan lainnya
termasuk:
a. Minumlah banyak cairan (hindari kafein dan alkohol).
b. Hindari semua pakaian ketat atau tidak perlu.
c. Ambil air dingin, mandi, atau mandi spons.
d. Terapkan langkah-langkah pendinginan lain seperti kipas atau es handuk.
Jika langkah-langkah tersebut gagal untuk memberikan bantuan dalam waktu 30
menit, hubungi dokter karena kelelahan panas tidak diobati dapat berkembang menjadi
panas stroke. Setelah sudah pulih dari kelelahan panas,mungkin akan lebih sensitif
terhadap suhu tinggi selama minggu berikutnya. Jadi yang terbaik untuk menghindari cuaca
panas dan olahraga yang berat sampai dokter memberitahu bahwa itu aman untuk
melanjutkan kegiatan normal.
Mencegah panas kelelahan. Bila indeks panas yang tinggi, yang terbaik untuk tinggal
didalam AC. Jika harus pergi di luar ruangan, dapat mencegah kelelahan panas dengan
mengambil langkah-langkah: Kenakan baju ringan,berwarna terang, pakaian yang
longgar, dan topi bertepi lebar. Gunakan tabir surya dengan SPF30 atau lebih. Minum
cairan tambahan. Untuk mencegah dehidrasi, itu biasanya dianjurkan untuk minum
setidaknya delapan gelas air, jus buah, atau jus sayuran per hari. Karena penyakit yang
berhubungan dengan panas juga bisa terjadi akibat penipisan garam, mungkin disarankan
untuk mengganti minuman olah raga kaya elektrolit untuk air selama periode panas yang
ekstrimdan kelembaban.
Ambil tindakan pencegahan tambahan saat berolahraga atau bekerja di luar
ruangan. Rekomendasi umum adalah minum 24 ons cairan dua jam sebelum latihan,dan
mempertimbangkan menambahkan delapan ons airatau minuman olah raga yang tepat
sebelum latihan. Selama latihan, harus mengkonsumsindelapannons air setiap 20 menit
bahkan jika tidak merasa haus.
Hindari cairan yang mengandung kafein atau alkohol baik, karena kedua zat dapat membuat
kehilangan lebih banyak cairan dan memperburuk kelelahan panas. Jika memiliki epilepsi
atau jantung, ginjal, atau penyakit hati, berada di diet cairan dibatasi, atau memiliki
masalah dengan retensi cairan, cek dengan dokter sebelum meningkatkan asupan cairan.
2. Heat Stroke
Dapatkan bantuan medis segera jika memiliki tanda-tanda peringatan heat stroke:
a. Kulit yang terasa panas dan kering, tapi tidak berkeringat
b. Kebingungan atau kehilangan kesadaran
c. Sering muntah
d. Sesak napas atau kesulitan bernapas
Berikut ini adalah beberapa obat yang dapat menempatkan dalam bahaya serangan
panas karena mereka mempengaruhi cara tubuh bereaksi terhadap panas:
a. Obat alergi (anti histamin)
b. Beberapa tekanan darah dan obat jantung (beta-blocker dan vasokonstriktor)
c. Pil diet dan obat-obatan terlarang seperti kokain (amfetamin)
d. Pencahar
e. Beberapa obat yang mengobati kondisi kesehatan mental (antidepresan dan
antipsikotik)
f. Penyitaan obat-obatan (antikonvulsan)
g. Pilair (diuretik)
BAB III
Asuhan Keperawatan Heat Exhaustion dan Heat Stroke
3.1. Pengkajian
a. Aktivitas/ Istirahat
Gejala : Merasa lemah, lemas akibat penurunan nafsu makan, aktivitas berkurang karena suhu tubuh
meningkat
Tanda : Penurunan pola istirahat akibat gelisah yang ditimbulkan oleh suhu tubuh
b. Eleminasi
Gejala :Inkontenensia kandung kemih/ usus atau mengalami gangguan fungsi.
Tanda : Pengeluaran urine menurun.
c. Makanan
Gejala :Mual, muntah dan mengalami perubahan selera, penurunan berat badan.
Tanda : Gangguan menelan.
d. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Ketidaknyamanan atau gelisah dikarenakan suhu tubuh naik
Tanda : Wajah menyeringai, gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih.
3.2. Diagnosa
1. Hipertermi yang b.d. kegagalan mekanisme pengaturan panas
2. Gangguan perfusi jaringan b.d. perubahan respon motorik/sensori, gelisah
3. Risiko tinggi cidera b.d. kejang berulang
4. Intoleransi aktivitas b.d. ketidak seimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan
kebutuhan
5. b.d. trauma jaringan

3.3. Intervensi
1. Hipertermi yang berhubungan dengan kegagalan mekanisme pengaturan panas
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x23 jam menunjukan temperatur dalam batas
normal
Kriteria hasil :
1. Bebas dari kedinginan
2. Suhu tubuh stabil 36-37° C
Intervensi Rasional
Mandiri
Pendinginan tubuh dengan Dapat membantu pendinginan didalam
menggunakan selimut hiportemia tubuh agar kembali normal
(hypothermia blanket) dan tanggalkan
pakaian klien.
Beri deazepam jika menggigil hebat Dapat meredakan tubuh dari rasa
kedinginan akibat suhu tubuh tidak
stabil
Pada heat exhaustion, pantau Agar mengetahui terjadi suatu
perubahan irama jantung dan tanda- komplikasi atau normal
tanda vital setiap 15 menit atau hingga
klien stabil
2. Gangguan perfusi jaringan b.d. perubahan respon motorik/sensori, gelisah
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam bebas dari gelisah
Kriteria hasil :
1. Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan, kognisi, dan fungsi motorik/sensori
2. Mendemonstrasikan tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK
Intervensi Rasional
Mandiri
Catat ada/tidaknya refleks-refleks Penurunan refleks menandakan adanya
tertentu seperti refleks menelan, batuk kerusakan pada tingkat otak tengah
dan babinski dan sebagainya) atau batang otak dan sangat
berpengaruh langsung terhadap
keamanan pasien. Tidak adanya refleks
batuk atau refleks gag menunjukkan
adanya kerusakan pada medulla.
Pantau suhu dan atur suhu lingkungan Demam dapat mencerminkan
sesuai indikasi kerusakan pada hipotalamus
Catat turgor kulit dan keadaan Gangguan ini dapat mengarahkan pada
membran mukosa masalah hipotermia atau pelebaran
pembuluh darah yang pada akhirnya
akan berpengaruh negatif terhadap
tekanan serebral
Bantu pasien untuk Aktivitas ini akan meningkatkan
menghindari/membatasi batuk, tekanan intoraks da intra abdomen
muntah, pengeluaran feses yang yang dapat meningkatkan TIK
dipaksakan/mengejan jika mungkin
Perhatikan adnya gelisah yang Petunjuk nonerbal ini mengindikasi
meningkat, peningkatan keluhan dan adanya peningkatan TIK atau
tingkah laku yang tidak sesuai lainnya menandakan adanya nyeri ketika
pasien tidak dapat mengungkapkan
keluhannya secara verbal. Nyeri yang
tidak hilang dapat menjadi pemacu
munculnya TIK saat berikutnya
Kolaborasi
Batasi pemberian cairan sesuai Pembatasan cairan mungkin
indikasi. Berikan cairan melalui IV diperlukan untuk menurunkan edema
dengan alat kontrol serebral; meminimalkan fluktuasi
aliran vaskuler tekanan darah (TD) dan
TIK
Berikan oksigen tambahan sesuai Menurunkan hipoksemia, yang mana
indikasi dapat meningkatkan vasodilatasi dan
volume darah serebral yang
meningkatkan TIK.
3. Risiko tinggi cidera b.d. kejang berulang
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien bebas dari cidera
Kriteria hasil :
1. Menunjukan homeostatis
2. Tidak ada perdarahan mukosa dan bebas dari komplikasi lain
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji tanda-tanda komplikasi lanjut Mengetahui komplikasi lain yang
terjadi didalam tubuh
Kaji status kardiopulmonar Agar tidak kekurangan oksigen didalam
tubuh, menjaga pola aktivitas yang
berlebihan
Kolaborasi untuk pemantauan Dapat menjelaskan kondisi yang terjadi
laboratorium: monitor darah rutin agar selalu dipantau dan dapat
dimengerti
KKolaborasi untuk pemberian antibiotik Mengidentifiksi hal yang mungkin akan
muncul jika tidak diberi antibiotik
4. Intoleransi aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien bebas dari intoleransi
aktivitas
Kriteria hasil :
1. Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari)
2. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi, mis; nadi, pernapasan, dan TD masih
dalam rentang normal pasien
Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji kemampuan pasien untuk Mepengaruhi pilihan intervensi/bantuan
melakukan tugas/AKS normal, catat
laporan kelelahan, keletihan, dan
kesulitan menyelesaikan tugas
Kaji kehilangan / gangguan Menunjukkan perubahan neurologi
keseimbangan gaya jalan, kelemahan karena defisiensi vitamin
otot B12 mempengaruhi keamanan
pasien/resiko cidera
Awasi TD, nadi, pernapasan, selama dan Meningkatkan istirahat untuk
sesudah aktivitas menurunkan kebutuhan oksigen tubuh
dan menurunkan regangan jantung dan
paru
Ubah posisi pasien dengan perlahan dan Hipotensi postural atau hipoksia serebral
pantau terhadap pusing dapat menyebabkan pusin, berdenyut,
dan peningkatan resiko cidera
Rencanakan kemajuan aktivitas dengan Meningkatkan secara bertahap tingkat
pasien, termasuk aktivitas yang pasien aktivitas sampai normal dan
pandang perlu. Tingkatkan tingkat memperbaiki tonus otot/stamina tanpa
aktivitas sesuai intoleransi kelemahan. Meningkatkan harga diri
dan rasa terkontrol
Gunakan teknik penghematan energi, Mendorong pasien melakukan banyak
mis; mandi dengan duduk, duduk untuk dengan membatasi penyimpangan
melakukan tugas-tugas energi dan mencegah kelemahan

5. Gangguan eliminasi urine b.d trauma jaringan


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien bebas dari gangguan eliminasi
urine
Kriteria hasil :
1. Menunjukkan aliran urine terus-menerus
2. Haluaran urine tepat secara individu
Intervensi Rasional
Mandiri
Catat keluaran urine: selidiki Penurunan aliran urine tiba-tiba
penurunan/penghentian aliran urine dapat mengindikasikan
tiba-tiba obstruksi/disfungsi (contoh
hambatan oleh edema atau
mukus) atau dehidrasi. Catatan:
penurunan haluaran urine (tidak
berhubungan dengan
hipovolemia) berhubungan
dengan distensi abdomen,
demam, dan keluaran jernih/cair
dari drainase insisi diduga fistula
urine juga memerlukan
intervensi cepat
Observasi dan catat warba urine Urine dapat agak kemerah
mudaan, yang seharusnya jernih
sampai 2-3 hari
Kolaborasi
Awasi elektrolit, GDA, kalsium Gangguan fungsi ginjal pada pasien
dengan saluran usus meningkatkan
resiko beratnya masalah elektrolit
dan/atau asm/basa

3.4. Evaluasi
1. Klien sudah mengatakan tidak kedinginan dan suhu kembali normal
2. Klien sudah tidak mengatakan tidak ada gejal untuk mual
3. Klien sudah tidak mengatakan tidak terjadi kejang
4. Klien dapat menjalani aktivitas seperti biasa
5. Klien sudah tidak mengalami perubahan eliminasi urine
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kelelahan panas (heat exhaustion) adalah suatu bentuk penyakit yang berhubungan
dengan panas yang lebih parah dari kram panas dan akibat dari hilangnya air dan garam dalam
tubuh. Hal ini terjadi dalam kondisi panas yang ekstrim dan berkeringat berlebihan tanpa cairan
yang cukup dan penggantian garam. Kelelahan panas terjadi ketika tubuh tidak mampu untuk
mendinginkan diri dengan benar. Jika tidak diobati, kelelahan panas dapat berkembang
menjadi stroke panas (heat stroke). Heat stroke adalah bentuk yang paling parah dari penyakit
panas dan merupakan keadaan darurat yang mengancam jiwa. Ini adalah hasil dari paparan
panjang dan ekstrim matahari, di mana seseorang tidak cukup berkeringat untuk menurunkan
suhu tubuh.
Meskipun kelelahan panas tidak begitu serius seperti stroke panas, itu bukan sesuatu
yang bisa dianggap enteng. Tanpa intervensiyang tepat, kelelahan panas dapat berkembang
menjadi stroke panas, yang dapat merusak otak dan organ vital lainnya, dan bahkan
menyebabkan kematian.
4.2. Saran
a. Belajarlah dengan giat untuk mendapatkan banyak informasi
dan pengetahuanuntuk mencapai cita-citamu.
b. Jadilah calon perawat yang professional, berwawasan dan berpengetahuan luas,
serta mempunyai keterampilan yang baik.
c. Berikanlah pelayanan yang baik bagi klien dalam bidang kesehatan,
untukmencapai tujuan kesehatan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, Fransisca B. (2008), Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Salemba Medika. Jakarta
Doenges. E,Merlynn dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
http://kamuskesehatan.com/arti/kelelahan-panas/08.33
http://www.webmd.com/fitness-exercise/heat-exhaustion?page=2Kimball Johnson, MDon
September 30, 2012
JL Glazer, M.D. (2005),Management of Heatstroke and Heat Exhaustion, Amerikan Family
Physicianhttp://www.aafp.org/afp/20050601/2133.html)http://familydoctor.org/familydoctor/
en/prevention-wellness/staying-healthy/first-aid/heat-exhaustion-an-heatstroke.html
http://herrysetyayudha.wordpress.com/2012/03/16/sengatan-panas-heat-stroke-dan-pengananannya/
http://health.kompas.com/read/2012/04/27/16311289/.Heatstroke.atau.Sengatan.Panas.Ini.Cara.Me
ncegahnya
http://www.scribd.com/doc/46552793/Heatstroke-Fixed